Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

 .ANJURAN MERAHASIAKAN MIMPI عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي ﷺ أنه كان يقول: «لا تقصوا الرؤيا إلا على عالم أو ناصح». Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda, ❝Janganlah kalian menceritakan mimpi kecuali kepada seorang 'alim atau seorang …


Mereka tidak berhak mendapatkan zakat kecuali jika mereka fakir. Pelunasan mereka atas utang saudaranya dianggap pemberian, bukan utang yang membuat berhak mendapat zakat untuk melunasinya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Tidak ada larangan zakat diberikan kepada orang yang memiliki utang dan tidak mampu membayarnya dalam rangka membantu atau melepaskannya dari utang karena orang tersebut termasuk dalam firman Allah ta’ala, وَالْغَارِمِينَ “Dan orang-orang yang berhutang” (QS. At-Taubah: 60) Inilah orang yang mempunyai utang dan tidak mampu membayarnya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa […]


Jika realitanya seperti yang dijelaskan penanya di atas, maka tidak ada larangan ia diberi zakat sesuai dengan utangnya karena ia termasuk pemiliki utang yang menjadi bagian dari orang-orang yang menerima zakat. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Karena saat ini amil-amil pemerintah dapat mencapai semua tempat dan mengumpulkan zakat secara langsung dari orang yang terkena kewajiban dan bahwa para pembesar, wakil, dan utusan suku tidak melakukan pekerjaan apa pun untuk menghasilkan dana zakat, maka mereka tidak berhak menerima uang zakat itu sedikit pun karena dahulu mereka boleh mengambil bagian sebagai kompensasi atas […]


Pemilik ternak wajib membayar zakat kepada petugas yang ditentukan sang pemimpin dan tidak boleh membayar kepada selainnya. Jika ia tidak menemukan petugas zakat dan sulit membayar kepadanya, maka ia boleh langsung membayar zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Yang disyari’atkan kepada Anda adalah mengeluarkan dan mendistribusikan sendiri zakat kepada orang-orang yang berhak karena hal tersebut adalah ibadah dan dapat melepas tanggungan kewajiban. Zakat boleh diberikan kepada orang yang agama dan keamanahannya dapat dipercaya untuk membagikannya kepada orang-orang yang berhak. Jika wakil tersebut tidak dapat dipercaya, maka zakat tidak boleh diberikan kepadanya dan belum […]


Zakat adalah proses ibadah kepada Allah ta’ala dan niat adalah salah satu syaratnya. Seseorang yang membayar zakat harus menyertakan niat. Namun, jika Anda telah mewakilkan kepada orang yang telah mengeluarkan zakat uang Anda dan Anda telah mengizinkannya untuk mewakili Anda membayar zakat kepada orang yang berhak menerimanya, maka hal tersebut dibolehkan dan Anda telah bebas […]

KHATIB DAN IMAM SHALAT JUM'AT ORANG YANG BERBEDA Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah Pertanyaan: في بعض المناطق يجعلون أحد الشباب يخطب الخطبة ، ويصلي الصلاة رجل آخر ، ومستمرون على هذا، فما حكم صلاتهم؟ Di beberapa wilayah menjadikan khatib dan imam pada shalat Jum'at dari orang yang berbeda, dan mereka selalu melakukannya. Apa hukum shalat mereka? . Jawab: ليس فيه بأس إذا كان الشاب يحسن الخطبة أكثر والإمام لا يحسنها إلا قليلا واستعملت الجهات المسئولة من يخطب بالناس خطبة أكثر فائدة فلا بأس ، ولا يلزم أن يتولى الصلاة والخطبة شخص واحد ؛ لأن الصلاة مستقلة عن الخطبة ، ولكن الأفضل والأولى أن يتولاهما شخص واحد ، وأن تختار الجهات المسئولة من يصلح لذلك تأسيًا بالنبي ﷺ وبخلفائه الراشدين وبأتباعهم بإحسان ، والله ولي التوفيق. Hal tersebut tidaklah mengapa apabila khatib memang mahir berkhutbah namun kurang mahir menjadi imam, sehingga lembaga pengurus masjid menunjuknya sebagai khatib saja karena demikian lebih baik, dan ini tidak mengapa. Tidak harus yang menjadi imam dan khatib adalah orang yang sama. Karena shalat dan khutbah adalah dua ibadah yang berbeda. Namun yang afdhal adalah keduanya dilakukan oleh satu orang. Dan lembaga pengurus sebuah masjid hendaknya memilih orang yang benar-benar pantas untuk melakukannya, dalam rangka meniru Nabi ﷺ, para Khulafaur Rasyidin, dan para pengikut setia mereka. Wallahu waliyyut taufiq. Majmu' Fatawa wa Maqalat Asy-Syaikh Ibnu Baz: 12/383 https://binbaz.org.sa/fatwas/5130/أحد-الشباب-يخطب-الخطبة-ويصلي-الصلاة-رجل-آخر 📲Join & Share Channel: https://t.me/salafy_sorowako https://t.me/assunnahsorowako --------- BOLEHKAH IMAM DAN KHOTIB BERBEDA? Pertanyaan, Alhamdulillaah. Mau bertanya ustadz, bagaimana hukum sholat ied dgn imam dan khotib yang berbeda. Termasuk ada larangan tidak..? Baarokallohu fiikum.. Jawaban, al-Ustadz Abu Fudhail 'Abdurrahman bin 'Umar hafizhahullah, Ini termasuk permasalahan yang terjadi perbedaan pandangan di kalangan ulama. Kita nukilkan secara ringkas penjelasan syekh Abdulaziz Ibnu Baz. Beliau rahimahullah berkata, فالأفضل والسنة أن يتولى الخطابة من يتولى الإمامة فيكون هو الإمام وهو الخطيب يوم الجمعة، وهكذا العيد، لكن لو قدر أن الخطيب لم يتيسر له ذلك بأن أصابه مانع أو حيل بينه وبين ذلك فالصلاة صحيحة، وهكذا لو صلى باختياره ولم يخطب بل استناب من يخطب عنه فلا بأس... فالصواب في هذا أنه لا بأس أن يتولى الإمامة غير من تولى الخطبة هذا هو الصواب؛ لأن هذه عبادة مستقلة وهذه عبادة مستقلة ولكن الأفضل والأولى أن يتولاهما واحد كما فعله النبي ﷺ والخلفاء بعده، السنة أن يكون الإمام هو الخطيب، لكن لو عرض عارض ومنع مانع فصلى غير الخطيب فلا بأس. "Yang afdal dan sunnah adalah yang berkhotbah, dialah yang menjadi imam sehingga dia menjadi imam dan khotib di hari Jumat, demikian pula ini berlaku pada hari Id. Namun, jika ternyata khotibnya tidak dimudahkan untuk itu, seperti ada sesuatu yang menjadi penghalang akan hal itu, salatnya sah. Demikian pula kalau memang keinginannya untuk menjadi imam saja dan tidak berkhotbah bahkan dia mencari ganti orang untuk berkhotbah, tidak mengapa. Pendapat yang benar dalam hal ini adalah tidak mengapa orang yang menjadi imam bukan orang yang berkhotbah, inilah pendapat yang benar. Karena khotbah merupakan ibadah tersendiri dan salat juga ibadah tersendiri. Namum, yang afdal dan lebih utama adalah satu orang yang menjalankan kedua tugas tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para khulafa' setelah beliau. Yang sesuai dengan sunnah adalah yang menjadi imam, dialah yang menjadi khotib, namun, jika ada kendala tertentu sehingga dia menjadi imam saja bukan khotib, tidak mengapa." (https://binbaz.org.sa/fatwas/6847/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D8%B4%D8%AA%D8%B1%D8%A7%D8%B7-%D8%A7%D9%86-%D9%8A%D9%83%D9%88%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B7%D9%8A%D8%A8-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%A7%D). Wallahu A'lam 📃 𝐒𝐮𝐦𝐛𝐞𝐫: 𝐌𝐚𝐣𝐦𝐮'𝐚𝐡 𝐚𝐥-𝐅𝐮𝐝𝐡𝐚𝐢𝐥 ✉️ 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢: https://t.me/TJMajmuahFudhail

Pertanyaan: Mayoritas Jamah haji indonesia melakukan haji tamattu’. Setelah selesai Umroh jamaah menanti datangnya hari tarwiyah untuk memulai ihrom haji. Pada hari tarwiyah (8 Dzulhijjah), keumuman jamaah indonesia diberangkatkan ke Arafah dan tidak melakukan Mabit di Mina pada hari tarwiyah.Ketika kami mengajukan kepada pihak Maktab untuk tanazul (berpisah sementara) dengan jamaah yang lain untuk bisa […]

UNTAIAN KALIMAT HIKMAH ABUL FATH AL-BUSTY RAHIMAHULLAH [ 01 Hakikat Harta Seorang ] زيـادَةُ المَرء فـي دُنيـاهُ نقصـانُ * * * وربْحُـهُ غَيرَ محض الخَير خُسـرانُ وكُل وِجـدانِ حَظٍّ لا ثَبـاتَ لَـهُ* * * فإنَّ مَعنـاهُ فـي التَّحقيق فُقْـدانُ Seorang yang hartanya bertambah sejatinya justru berkurang.¹ Pendapatannya bila murni dihabiskan bukan pada kebaikan adalah kerugian.² Setiap perolehan yang didapat namun tidak menetap, maka hakikat sebenarnya adalah kehampaan. ³ 📚 Unwānul Hikam: bait 1-2 . PENJELASAN 1. Seorang yang hartanya bertambah sejatinya justru berkurang. Karena masing-masing orang telah ditentukan jatah rezkinya. Sebagaimana disebut dalam sebuah hadits, ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الـْمَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ "Kemudian diutus malaikat kepada janin itu, lalu meniupkan ruh padanya dan diperintahkan untuk menulis empat kalimat; menulis rezkinya, ajalnya, amalannya, dan (apakah) dia sengsara atau bahagia". HR. Bukhari dan Muslim. Jadi, ketika seorang bertambah hartanya di dunia ini, hakikatnya itu mengurangi jatah rezki yang ditentukan untuknya. Seperti umur; manakala seorang bertambah umurnya, hakikatnya umurnya berkurang dan semakin mendekati ajal. 2. Pendapatannya bila murni dihabiskan bukan pada kebaikan adalah kerugian. Yakni, ketika harta dihabiskan untuk perkara sia-sia maka itu berbalik menjadi kerugian bagi pemiliknya. Allah Ta'ala berfirman, وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا عَلَى النَّارِۗ اَذْهَبْتُمْ طَيِّبٰتِكُمْ فِيْ حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَاۚ فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُوْنَ "Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (seraya dikatakan kepada mereka), “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu dan kamu telah bersenang-senang (menikmati)nya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran dan karena kamu berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah).” Qs. Al-Ahqaf: 20 3. Setiap perolehan yang didapat namun tidak menetap, maka hakikat sebenarnya adalah kehampaan. Harta seorang yang sebenarnya adalah yang dia membelanjakannya untuk perkara kebaikan, maka itulah harta simpanan yang kekal hingga sampai akhirat. عن عائشة رضي اللَّه عنها: أَنَّهُمْ ذَبَحُوا شَاةً، فقالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَا بَقِيَ مِنها؟ قالت: مَا بَقِيَ مِنها إِلَّا كَتِفُهَا، قَالَ:بَقِي كُلُّهَا غَيرَ كَتِفِهَا رواه الترمذي وقال: حديث صحيح. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya mereka menyembelih kambing (dan meyedekahkannya). Nabi ﷺ berkata, “Apa yang tersisa darinya (kambing)?” Aisyah berkata, "Tidak tersisa darinya kecuali bahunya". Nabi ﷺ berkata, “Tersisa seluruhnya kecuali bahunya.” HR. at-Tirmidzi dan berkata, hadis ini shahih. Maksudnya, harta yang disedehkan itulah yang tersisa; kekal hingga di akhirat nanti. Adapun harta yang tidak dibelanjakan untuk kebaikan, maka itu akan lenyap. Harta yang ia tumpuk, hakikatnya bukan harta miliknya, namun harta ahli warisnya; ketika datang ajal, semua hartanya akan ia tinggalkan. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Ta'ala berfirman, ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺲَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻰ ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻓَﺎﻗْﺘَﻨَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺫَﺍﻫِﺐٌ ﻭَﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ “Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberikan kepada orang-orang yang ia tinggalkan.” HR. Muslim no. 2959. --------------------- [ 02 Dunia Itu Fana ] يا عامِـراً لخَـرابِ الدَّارِ مُجتهِـداً* * * باللهِ هـل لخَـرابِ العمر عُمـرانُ "Wahai yang menghuni dunia yang akan sirna, yang bersungguh-sungguh (menumpuk harta dan membangun bangunan), dengan menyebut Allah (daku bertanya padamu), apakah orang yang habis usianya dia memiliki dua umur (punya kesempatan hidup kedua)?" 📚Unwānul Hikam, bait ke-3 PENJELASAN Dunia itu fana. Semuanya akan sirna; bangunannya akan hancur, dan para penghuninya akan dikembalikan kepada Allah. Pun demikian, banyak manusia melalaikan hal ini. Mereka sibuk mengisi harinya dengan menumpuk harta dan membangun tempat-tempat tinggal yang megah. Berinvestasi untuk masa depan. Seperti akan tinggal selamanya di dunia. Seakan dunialah tempat tinggal yang sesungguhnya. Tentulah hal ini merupakan kesia-siaan. Mereka terluputkan dari perkara terpenting di kehidupan dunia ini; yaitu beribadah kepada Allah, sebagai bekal menuju akhirat; kehidupan sesungguhnya, yang kekal nan abadi. Rasulullah ﷺ bersabda, اللهم لا عيش إلا عيش الآخرة "Ya Allah, tidak ada kehidupan (yang yang hakiki) kecuali kehidupan di akhirat". HR. Bukhari 4098 Penggambaran tentang dunia juga sangat gamblang diterangkan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها. "Apa urusanku dengan dunia. Aku di dunia tidak lain seperti seorang musafir yang bernaung di bawah pohon, untuk istirahat, kemudian meninggalkannya" HR. Tirmidzi 2377. Demikianlah, dunia ini hanyalah sementara. Sebagai jembatan menuju kehidupan selanjutnya; akhirat. Tentulah orang yang dia bernaung di bawah pohon untuk istirahat dari melakukan perjalanan, ia tidak akan bertinggal lama-lama di situ, apalagi membangun istana. Ia hanya berhenti secukupnya, kemudian melanjutkan perjalanan. Maka orang yang berakal, dia tidak akan terlena dengan kesenangan dunia. Tidak akan menjadikan dunia sebagai fokus utamanya, namun ia jadikan sebagai perantara menuju akhirat, kehidupan yang sesungguhnya. Allah ta'ala berfirman, وما الحياةُ الدّنيا إلا لَعِبٌ ولهوٌ وللدّارُ الآخرةُ خيرٌ للذينَ يتّقونَ أفلا تَعقلونَ "Dan kehidupan dunia hanyalah kehidupan yang penuh permainan dan hiburan yang memperdayakan. Dan sungguh kehidupan akhirat jauh lebih baik, bagi orang-orang yang bertaqwa. Tidakkah kalian tidak berpikir?" [QS. Al-An'am: 32] Al-Imam Muhammad Al-Munbajja menukil dari sebagian pujangga, يحسب الجاهل الشيء الذي هو لا شيء شيئا و الشيء الذي هو الشيء لا شيء Orang jahil menganggap sesuatu yang bukan sesuatu adalah sesuatu (yang hakiki), dan (menganggap) sesuatu yang itu sesuatu (yang hakiki) itu bukan sesuatu. [ Tasliyatu Ahlil Mashaa-ib: 21 ] Maksudnya: orang jahil memandang kehidupan dunia yang semu; bukan kehidupan sesungguhnya, dianggapnya sebagai kehidupan yang hakiki. Sedangkan kehidupan akhirat yang itu merupakan kehidupan hakiki, dianggapnya tidak nyata. Berkata Al Imam Asy Syafi'i rahimahullah, dalam bait syairnya: إن لله عبادا فطنا تركوا الدنيا وخافوا الفتنا... نظروا فيها فلما علموا أنها ليست لحي وطنا... جعلوها لجة واتخذوا صالح الأعمال فيها سفنا... "Sesunggunnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas... Mereka meninggalkan dunia, dan takut tertimpa fitnah... Mereka melihat dunia, maka ketika mereka tahu... Bahwasanya dunia bukanlah tempat tinggal yang hakiki. Merekapun meninggalkannya... Mereka menjadikannya seumpama samudra... Dan mereka menjadikan amal sholeh sebagai bahteranya... [Dhiwan Al Imam Asy Syafi'i. Hal: 10]. ------------------------- [ 03 Ambisi Harta Dunia Merusak Akhirat ] ويا حَريـصاً على الأموالِ تَجمَعُهـا* * * أُنْسِيـتَ أنَّ سُرورَ المـالِ أحْـزانُ "Wahai yang berambisi menumpuk-numpuk harta, engkau telah lupa, bahwasannya kesenangan harta sejatinya adalah kesedihan" PENJELASAN Ambisi terhadap harta dunia merupakan perkara tercela dan bisa merusak akhirat seorang. Rasulullah ﷺ bersabda, لو أن لابنِ آدمَ واديًا من ذَهَبٍ أَحَبَّ أن يكونَ له واديانِ، ولَنْ يملأَ فَاهُ إلا الترابُ، ويَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ "Seandainya anak keturunan Adam (manusia) itu memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin punya dua. Padahal (akhir hidupanya) tenggorokannya tidaklah terisi selain tanah. Dan Allah menerima taubat mereka yang bertaubat." HR. Bukhari 6439 Ambisi terhadap harta dunia ada dua keadaan: Pertama: sangat menyukai harta yang diiringi dengan berlebihan dalam mencarinya dan masih dari jalur yang mubah. Hal ini bisa merusak akhirat seorang, karena dengan itu dia akan mencurahkan waktu-waktunya yang berharga untuk mencari harta, dan melalaikan bekal akhiratnya. Semestinya bagi seorang dia menjadikan dunia sebagai perantara menuju akhirat. Sebagian salaf mengatakan, "Jadikan dunia di tanganmu, jangan kamu masukkan ke dalam hatimu". Karena kalau cinta harta dunia sudah masuk ke dalam hati, niscaya itu yang akan menjadi prioritas hidupnya, sehingga menjadi sibuk mengejar harta dunia dan melupakan akhirat. Namun, begitulah keadaan kebanyakan orang. Mereka memandang dengan sebelah mata. Dunia yang akan mereka tinggalkan, mereka terus mengejarnya. Sementara untuk perkara akhirat yang kekal abadi, mereka lalaikan. Kedua: ambisi yang mendorong seorang untuk mencari harta dunia dengan segala cara; tanpa perduli halal dan haram. Di samping itu, dia juga menghalangi hak wajib hartanya. Tentulah hal ini akan melunturkan agama dan keimanan seorang. Sebagian salaf mengatakan, "Kebakhilan adalah ambisi yang sangat yang mendorong seorang untuk mengambil segala sesuatu meski dengan cara yang tidak halal, dan menghalangi hak-hak harta". Setiap kesenangan harta dunia yang tidak digunakan dalam ketaatan kepada Allah, maka akan berbalik menjadi siksa di akhirat nanti. Pun demikian harta dunia itu akan lenyap. Hampir-hampir tidak didapati orang yang kaya di dunia ini merasa tenang hatinya. Ia akan selalu berpikir apa yang akan aku gunakan dengan harta ini? Ke mana aku belanjakan? Bagaimana kalau habis? Karenanya, hal itu menjadikan kesenangannya berubah menjadi kesedihan. Mencari harta dunia tidaklah tercela secara muthlak. Namun, yang tercela manakala dia menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya hingga melalaikan Allah, dan bekal akhirat. Allah Ta'ala berfirman, فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung". Qs. Al-Jumu'ah: 10 Sungguh berbeda keadaan orang yang mementingkan akhirat dengan orang yang mementingkan dunia. Orang yang mementingkan akhirat, dia tidur dan terbangun dengan tenang diiringi dengan berdzikir kepada Allah. Tentram hati dan jiwanya. Ia pasrahkan kepada Allah dengan tawakkal, tanpa mencemaskan dunia. Sedangkan orang yang mementingkan dunia, diliputi kegelisahan saat hendak tidur. Tidak tenang. Tatkala bangun, dibayang kecemasan, ini-itu. Dan hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan. ---------------- [04 Dunia Itu Keruh] Berkata Al-Imam Abul Fath Al-Busty rahimahullah; زَعِ الفـؤادَ عـنِ الدُّنيـا وزينتهـا * * * فصَفْوُها كَدَرٌ والوَصـلُ هِجْـرانُ "Palingkanlah hati dari dunia dan perhiasannya, karena jernihnya itu keruh, dan menyambungnya sejatinya terputus" 📚Unwanul Hikam, bait 5. PENJELASAN Dunia ( الدنيا ) terambil dari kata ( الدني ) yang artinya rendah. Dinamakan demikian karena memang dunia itu rendah. Kamu tidaklah menjumpai dunia disebut di dalam Al-Qur'an dan hadits melainkan disebut dengan kerendahan. Dunia itu fana, kesenangan memperdaya, dunia itu terlaknat dan semisal itu. Allah Ta'ala berfirman, وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” QS. Ali Imran 185 Allah ta'ala juga berfirman; وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”. QS. Al An’am:32. وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ "Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” QS. Ar Ra’d: 26 Nabi ﷺ bersabda: أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلا ذكرُ الله وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ “Ketahuilah sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat apa saja yang ada didalamnya kecuali dzikir kepada Allah, amalan yang mendekatkan kepada Allah, orang yang berilmu atau orang yang belajar ilmu” [HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah dihasankan oleh Al-Albani dalam Misykah al-Mashabih 3/1431] Imam Ibnu Rajab dalam Jami'ul Ulum Wal Hikam menerangkan, “Dunia itu dan apa saja yang ada di dalamnya terlaknat. Yang dimaksud terlaknat adalah dunia itu menjauhkan dari Allah karena dunia menyibukkan (manusia) dari (ingat kepada) Allah Ta’ala kecuali; Ilmu yang bermanfaat yang menuntun kepada Allah dan mengenal-Nya serta ilmu yang mendekatkan kepada-Nya dan mendapatkan ridha-Nya. Dan dzikir kepada Allah dan setiap amalan yang mendekatkan diri kepada Allah". Demikian hakikat dunia. Jernihnya adalah keruh. Kesenangannya menipu. Hanya sementara kemudian lenyap. Allah Ta'ala berfirman; مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ "Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal". Qs. An-Nahl: 96 Dunia akan sirna. Maka kerugian akan didapat bagi siapa yang mencurahkan hidupnya hanya untuk dunia. Ia akan terhalang dari bagiannya di akhirat. Inilah makna ucapan Abul Fath Al-Busty, "menyambungnya sejatinya l terputus". Yakni; terputus dari Allah dan negeri akhirat. Allah ta'ala berfirman; مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُو۟لَٰئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبَٰطِلٌ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan" Qs. Hud: 15-16. Allah Ta'ala juga berfirman; فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ "Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat." Qs. Al-Baqarah: 200 Inilah hakikat dunia. Maka sepatutnya seorang yang beriman tidak terperdaya dengannya. Para salaf terdahulu menasihatkan, "Jadikan dunia di tanganmu, dan jangan kamu masukkan ke dalam hatimu". Sumber : https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN UNTUK MENUJU KEBAHAGIAAN  .Oleh Al-Ustadz Abdulmu’thi Sutarman, Lc حفظه الله Suatu hal yang tiada keraguan padanya bagi orang yang memiliki akal sehat, bahwa umat mana saja tentu sangat membutuhkan orang yang membimbing dan menunjukkan kepada jalan yang lurus. Umat I…