Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Penyusun: Al-Ustadz Abu Amina Aljawy ح.فظه الله …

Permisalan tentang para penyeru persatuan kaum muslimin secara umum tanpa memperhatikan kelurusan akidah dan manhaj mereka. Berkata asy-Syaikh al-Allamah Muhammad Aman al-Jaami rahimahullah:  . “Permisalan mereka seperti seorang yang masuk ke dalam suatu pasar yang penuh berjubel manusia padanya, lelaki maupun wanita, dengan tujuan mengajak mereka untuk shalat. Diapun mulai menyeru: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kami telah membangun untuk kalian satu masjid yang sangat luas, cukup untuk menampung kalian semua. Maka marilah bersama-sama kita melaksanakan shalat padanya, jangan sampai ada yang tertinggal. Silahkan kalian datang dalam kondisi kalian masing-masing. Bagi yang masih punya wudhu’ silahkan dengan wudhu’nya, bagi yang berhadats silahkan datang dengan hadatsnya, bagi yang junub silahkan dengan janabahnya, bahkan wanita haidh dan nifas pun silahkan datang ke masjid, karena kami tidak akan menolak seorangpun. Seruan kami ini berlaku bagi kalian semua secara umum. Dan seluruh kita adalah saudara, sesama muslim. Tidak perlu sikap kaku, (harus begini harus begitu sebelum shalat). Sikap kaku seperti itu hanya akan memecah belah barisan shaf kaum muslimin! ” . Disaat dia berteriak-teriak dengan igauannya yang tidak karuan tersebut tiba-tiba dia dikejutkan oleh keberadaan seorang penyeru (lainnya) sekaligus seorang pemberi nasehat dari kalangan orang-orang yang diberi pemahaman dalam agama. Sang Pemberi nasehat ini berkata kepada orang-orang (yang berada di pasar tersebut) : “Saudara-saudaraku kaum muslimin, telah tiba waktu shalat. Bangkitlah kalian. Ambillah air wudhu’, kemudian shalatlah dengan shalat yang kalian diseru padanya”. Sang Penyeru pertama mendengarkan (seruan sang Penasehat ini) dengan tercengang. Dia pun mulai memikirkan cara bagaimana menghadapi sang Penyeru (kedua) ini. Dia merenung sambil memikirkan. Kemudian dia berteriak dengan kesetanan, sembari mengucapkan: “Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, janganlah kalian dengarkan ucapan orang ini. Buatlah kegaduhan agar kalian mengalahkan suaranya, suara orang yang ekstrim ini, serta membungkamnya! “..dan seterusnya dari teriakan keputusasaannya. Wahai para pembaca sekalian, saya sumpah kalian atas nama Allah, siapakah diantara dua penyeru di pasar tersebut yang berada dalam kebenaran? Salah satu dari penyeru tersebut mengajak manusia agar menjalankan shalat dengan berwudhu’ dan dengan bersuci secara sempurna, menjelaskan kepada manusia bahwa bersuci (baik dari hadats besar maupun kecil) merupakan syarat sahnya shalat. Dan sungguh, dia telah memberikan nasehat. Adapun penyeru yang lain, dia berusaha memberikan gambaran kepada manusia bahwa yang paling pokok adalah bagaimana bisa mengumpulkan manusia dalam satu wadah yang luas dibawah satu predikat yaitu sama-sama sebagai kaum muslimin, menjalankan shalat sesuai kondisi masing-masing, sembari berargumentasi: “Kita dilarang dari memberat-beratkan diri. Agama ini mudah. Allah tidak menjadikan bagi kita dalam agama kita ini kesulitan. Mudahkanlah, jangan dipersulit. Berikan kabar-kabar gembira, jangan bikin lari “..dan seterusnya Aku serahkan jawabannya kepada para pembaca”. Selesai ucapan beliau. Dinukil dari kutaib: “al-Hukmu ‘alasy Syai’ Far’un ‘an Tashawwurihi”. Hal 72-73, cetakan Darul Minhaj Mengambil pelajaran dari permisalan yang beliau sampaikan. Membuat permisalan dalam rangka mendekatkan pemahaman merupakan metode pengajaran yang sangat baik. Hal ini dicontohkan oleh Allah didalam al-Quran dan juga Rasulullah didalam sunnah beliau. Setiap pembaca dari permisalan yang dibuat oleh asy-Syaikh al-Jaami tersebut pasti sepakat bahwa penyeru kedua-lah yang berada dalam kebenaran. Beliau menyontohkan dalam permisalan ini sisi ibadah, yakni shalat. Hal ini berlaku pula pada sisi ibadah yang lain, seperti puasa, zakat, haji dan yang lainnya. Karena pada prinsipnya pesan yang hendak beliau sampaikan bukan pada sisi jenis ibadahnya, akan tetapi penggambaran dari suatu permasalahan. Dengan penggambaran tersebut setiap orang akan mudah memahami perkara lain yang serupa, dimana tanpa adanya penggambaran ini akan sulit untuk memahaminya (baca: menentukan mana yang benar mana yang salah) Perkara-perkara lain yang serupa, contohnya: Ada seorang penyeru mengatakan: “Wahai seluruh kaum muslimin.., marilah kita bersatu.., jangan bercerai berai. Bukankah Tuhan kita satu.., kitab kita satu.., nabi kita satu.., dan agama kita satu. Marilah bergabung bersama kami.., sunninya, syiahnya, shufinya, jihadinya, mu’tazilahnya, qadariyahnya, jabriyahnya…dan seterusnya”. Penyeru lain mengatakan: “Wahai kaum muslimin, marilah kita bersatu dalam agama Allah ini, jangan kita berpecah belah. Persatuan diatas islam yang lurus”. Kemudian sang penyeru kedua ini menjelaskan kepada umat, seperti apa islam yang lurus tersebut. Wajibnya berpegang dengan alQuran dan Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Memperingatkan dari berbagai penyimpangan agama. Memberitakan bahwa kaum muslimin akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang selamat. Dan mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah…dan seterusnya. Menjelaskan prinsip-prinsip ahlus sunnah dengan metode al-ardh wa ar-radd, dimulai dengan yang terpenting dan yang terpenting berikutnya. Menjelaskan tauhid serta para pelakunya (al-‘ardh) dan bahaya syirik serta para pelakunya (ar-radd). Menjelaskan Sunnah dan para pelakunya (al-‘ardh) dan bahaya bid’ah dan para pelakunya (ar-radd). Menjelaskan ketaatan dan para pelakunya (al-‘ardh) dan bahaya kemaksiyatan dan para pelakunya (ar-radd). Sang penyeru pertama mendengarkannya dengan penuh kerisauan. Orang ini akan membawa kepada perpecahan. Diapun merenung sambil memikirkan, langkah apa yang mesti dilakukan untuk menghalangi manusia dari ajakan penyeru kedua. Sontak dia berkata dengan lantangnya: “Wahai kaum muslimin, jangan kalian dengarkan ucapannya. Buatlah kegaduhan agar kalian mengalahkan suaranya, suara orang yang ekstrim ini. Dia tidak menghendaki kepada kalian kecuali perpecahan”…dan seterusnya. Masuk dalam kelompok penyeru pertama adalah: ~ Orang yang meneriakkan: “Marilah kita saling tolong menolong pada apa yang kita sepakati dan saling memberi udzur pada apa yang kita berselisih”. Masuk didalamnya perselisihan masalah akidah dan manhaj. ~ Orang yang berkata: “Semuanya baik.. walaupun shufi .. itu masih shufi kita, syi’ah..itu masih syi’ah kita, khawarij.. itu masih khawarij kita..” dan seterusnya. Semuanya dirangkul dalam satu wadah.. tong sampah. ~ Orang yang berbicara: “Dalam perkara tandhim (organisasi) kita bisa belajar kepada ikhwanul muslimin. Dalam perkara hikmah dakwah kita bisa belajar kepada jamaah tabligh. Dalam akidah kita bisa belajar kepada salafy..”. ~ Orang yang berucap: “Ya.., kalo mau menyebutkan kesalahan seseorang, supaya adil.., harus juga menyebutkan kebaikan-kebaikannya. Siapa orang yang tidak punya salah..”. Masuk didalamnya kebaikan ahlul bid’ah. Itulah manhaj muwazanah, entah diistilahkan dengan harus adil, inshof atau yang semisalnya. ~ Orang yang berkata: “Ayo.., ngaji kesini saja.., disini tidak ada tahdzir-tahdziran.. adem..ayem..tentrem..mak nyes. Kalo disana.., panas.. gerah.. orang-orangnya ekstrim. Sedikit-sedikit tahdzir..”. Meskipun yang ditahdzir adalah ikhwanul muslimin, hizbut tahrir, sururiyyun, haddadiyyun, hajuriyyun dan segala macam hizbiyyun. ~ Orang yang mengatakan: “Dakwah kita adalah dakwah silmiyyah .. damai.. kita diatas nikmah wahai saudaraku.. jangan ada perang, pedang, senjata. Orang yang menyeru kepada jihad dengan senjata, tidaklah menghendaki kepada kita kecuali kehancuran”. Meskipun yang menyeru itu adalah para ulama kibar dan yang diperangi adalah orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin di negri mereka. Jiwa itu ibarat tentara tentara yang dikerahkan. Maka siapa yang saling mengenal akan akur, dan siapa yang tidak saling kenal akan liar. Maka jangan heran apabila sebentar lagi antum lihat mereka berjejer rapi dalam satu barisan, karena sesungguhnya burung itu akan senantiasa hinggap pada yang sejenisnya. Maka dari itu.., wahai saudaraku.., jangan engkau merasa ragu.. tetapilah selalu.. bimbingan ulama kibar-mu. Camkanlah selalu ucapan Fudhail bin Iyadh: عليك بطرق الهدى ولا يضرك قلة السالكين وإياك والطرق الضلالة ولا تغتر بكثرة الهالكين “Wajib atasmu untuk selalu berpegang dengan jalan-jalan hidayah, tidak akan memadharatimu sedikitnya orang yang menempuh. Dan hati-hatilah kamu dari jalan-jalan kesesatan, jangan engkau terpedaya dengan banyaknya orang yang binasa”. Juga ucapan al-Auza’i: عليك بآثار من سلف وان رفضك الناس وإياك وآراء الرجال وان زخرفوه لك بالقول “Wajib atasmu untuk berpegang dengan atsar salaf walaupun manusia menolakmu. Dan hati-hatilah kamu dari pendapat-pendapat orang, meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah”. Wallahu a’lam **Faidah dari al Ustadz Syafi’i Al-Idrus hafizhahullah

Baginda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita tuntunan syariat yang mulia ketika terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan, yaitu ada tujuh hal (sebagaimana dalam hadits-hadits tentang gerhana): Shalat gerhana Berdoa Beristighfar Bertakbir Berdzikir …

Oleh : Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah Pertanyaan: Fadhilatusy Syaikh, apa hukum melakukan safar sebelum shalat jum’at? Jawaban: Safar pada hari jum’at apabila setelah adzan kedua, maka ini tidak boleh. Berdasarkan firman Allah ta’ala: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ) “Wahai orang-orang yang beriman apabila diseru untuk melakukan shalat jum’at, maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (Al Jumu’ah : 9). Maka tidak boleh bagi seseorang untuk melakukan safar pada waktu tersebut. Dikarenakan Allah ta’laa berfirman : (فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ) “Maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” Adapun kalau safar sebelum itu dan ia meniatkan untuk shalat di perjalanan. Sebagai contoh ia safar dari daerahnya dan ia mengetahui akan melewati suatu daerah di perjalanannya, kemudian ia singgah di tempat tersebut dan shalat jum’at di sana. Maka ini tidak mengapa. Adapun ketika ia tidak bisa singgah di sebuah tempat yang seorang bisa shalat di sana, maka ada beberapa pendapat para ulama: Sebagian mereka memakruhkannya Sebagian yang lain mengharamkannya Sebagian lainnya membolehkannya, dan mengatakan bahwa Allah tidak mewajibkan atas kita untuk mendatangi shalat kecuali setelah adzan. Maka yang terbaik adalah seseorang tidak melakukan safar , kecuali apabila keadaannya yang memang mengharuskannya. Seperti tertinggal rombongan atau jadwal penerbangan pesawat yang tidak bisa ditunda atau yang semisalnya. Atau yang lebih utama untuk tetap tinggal dan tidak melakukan safar di hari jum’at. Silsilah Liqaat Bab al Maftuh (Liqa 50). Alih bahasa : Ibrohim Abu Kaysa Sumber : Whatsapp Salafy Indonesia

Oleh : Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar -hafizhahullah- Sungguh hebat dan memukau! Subhanallah. Berulang kali mendengar dan membaca kisah nabi Nuh 'alaih salam, baru kali ini penulis menemukan pintu sekaligus kunci-kunci pembuka ruang luas bernama kesabaran. Nampaknya, kita mesti menambah frekuensi…

Oleh : Ustadz Abu Abdirrahman Huda Sebelum kematian beliau, sebenarnya telah ada pengganti yang telah beliau tunjuk. Umar pernah berkata dalam suatu riwayat, “Jika ajal menemuiku sedang Abu Ubaidah ibnul Jaraah masih hidup maka akan aku jadikan dia sebagai penggantiku, dan jika Rabbku bertanya ke…

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah) Menundukkan pandangan di tengah bertebarnya kerusakan di sekitar kita memang bukan soal mudah. Keimanan lah yang kemudian menjadi filter terhadap apa-apa yang dilihat oleh mata. Saudariku muslimah… Tercatat dalam lembaran musha…


Bismillahirrahmmanirrahiim Dengan Mengharap Ridha Allah Subhanahu Wata’ala Hadirilah Kajian Ilmiah Islamiah Bertema: Al-Mujaddid (Sang Pembaru) Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah- Ulama Umat yang Dizalimi Bersama: Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh -hafidzahullah- (Pengasuh PonPes As-Salafy Jember) Waktu: Ahad, 22 Jumadil Akhir 1436H/12 April 2015 Pukul 09.00 WIB s.d. Selesai Tempat: Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq […]


Apa yang dilakukan mukmin ketika terjadinya gerhana, hikmah terjadinya gerhana dan tentang sholat gerhana.


April MOP dalam Pandangan Islam Pembicara: Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali حفظه الله Tanggal: 12 Jumada II 1436 https://ia601509.us.archive.org/17/items/AsySyaikhMuhammadBinHadi_/April%20MOP%20dalam%20Pandangan%20Islam.mp3 April Mop diperingati setiap tanggal 1 April setiap tahun. Pada hari itu, orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap keluarga, musuh, […]

Disampaikan oleh: Al-Ustadz Muhammad As-Sewed -hafidzahullah- Diantara HAQ seorang SUAMI atas istrinya adalah: 1. MENTAATI suami dalam perkara yang ma’ruf. Termasuk didalamnya perkara yg mubah dan mentaati suaminya bukan dalam perkara kemaksiatan. ketika istrinya sudah mentaati sua…