Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

ADZAB BAGI Seorang SYIAH Rafidhah . Adz Dzahabi rahimahullah berkata: Al Imam Ibnu Mantaab mengabariku bahwa Izzuddin Yusuf Al Maushily menulis suatu tulisan untuknya. Ia memperlihatkan sendiri tulisan itu padaku. Izzuddin Al Maushily berkata, "Dahulu aku punya teman yang bernama As…

TAKBIR DALAM SHALAT Fatwa Nomor 3655 Pertanyaan: Harap beri kami fatwa tentang cara melakukan takbir dalam salat. Apakah sebaiknya membedakan takbir pada tasyahud awal dan akhir dari takbir lainnya dengan memanjangkan kalimat "Allahu Akbar" untuk memberitahu saat untuk duduk tasyahud kep…

HATI-HATI DARI OPERASI CAESAR Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata : Pada kesempatan ini saya ingin menunjukkan sebuah fenomena yang disebutkan kepada kita, yakni: Sesungguhnya banyak para ahli kebidanan laki-laki ataupun perempuan di rumah sakit- rumah sakit …

HUKUM BERMUAMALAH DENGAN PENGANUT SYIAH Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah Pertanyaan: Saya seorang pengajar. Bersama kami juga ada beberapa pengajar penganut Syiah. Saya bekerja bersama mereka. Saya memohon nasihat Anda tentang bermuamalah dengan mereka. Jawaban: Anda hendaknya menasihati dan mengarahkan mereka kepada kebaikan. Anda ajari mereka bahwa menganut agama Rafidhah itu tidak diperbolehkan. memang kita wajib mencintai dan meridhai Ali radhiallahu ‘anhu, tetapi kita tidak boleh ghuluw (melampaui batas). Tidak boleh dikatakan bahwa Ali mengetahui perkara gaib dan maksum. Tidak boleh pula Ali dijadikan tujuan dipanjatkannya doa—bersama Allah—dan tidak boleh beristighatsah dengannya atau dengan Fathimah radhiallahu ‘anha, al-Hasan, al-Husain, Ja’far ash-Shadiq, dan selainnya. Anda ajari mereka bahwa inilah yang wajib dilakukan. Anda nasihati mereka. Jika mereka bersikeras di atas bid’ah tersebut, Anda wajib meng-hajr (memboikot) mereka, meski mereka bekerja bersama dengan Anda. Anda meng-hajr mereka dengan tidak menjawab salam, tidak pula memulai mengucapkan salam kepada mereka. Akan tetapi, apabila mereka tidak menampakkan bid’ah mereka dan secara lahiriah menampakkan kesamaan dengan Anda, mereka dihukumi sebagai munafik. Anda bermuamalah dengan mereka sebagaimana muamalah dengan orang munafik, tidak mengapa. Hal ini seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermuamalah dengan kaum munafik di Madinah yang menampakkan keislaman dan tidak berbuat jahat (kepada kaum muslimin); Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan mereka layaknya kaum muslimin sedangkan urusan batin mereka diserahkan kepada Allah‘azza wa jalla. Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, 28/265 Majalah Asy Syariah online Majmu'ah Ashhaabus Sunnah Channel telegram : http://bit.ly/ashhabussunnah

Al-‘Allamah Ibnu Baaz Rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa (4/54) berkata, “Dan disyari’atkan bagi seorang muslim apabila mendengar sebuah faedah agar menyampaikannya kepada orang lain. Demikian pula seorang muslimah agar menyampaikan kepada (muslimah) yang lainnya ilmu yang telah ia dengar. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

 .إنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28) Asy-Syaikh bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang tafsir ayat ini, Beliau menjawab: “Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa ulama itu adalah orang yang tahu tentang AllahSubhanahu wa ta’ala, agama, kitab (al-Qur’an) yang agung, dan sunnah Rasul-Nya yang mulia. Mereka adalah manusia yang sempurna takutnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, sempurna takwanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dan sempurna ketaatannya kepada-Nya. Yang terdepan dari mereka adalah para rasul dan nabi.” Maka dari itu, yang dimaksud dengan “sesungguhnya yang takut kepada Allah” adalah rasa takut yang sempurna dari hamba-Nya, yaitu para ulama. Mereka adalah orang-orang yang mengenal Rabbnya dengan nama dan sifat-Nya serta keagungan hak-Nya. Mereka memahami syariat-Nya, mengimani apa yang ada di sisi-Nya, yaitu kenikmatan bagi yang bertakwa kepada-Nya serta azab bagi yang durhaka dan menyelisihi perintah-Nya. Karena kesempurnaan ilmu tentang Allah Subhanahu wa ta’ala dan kesempurnaan pemahaman tentang kebenaran, mereka menjadi manusia yang paling takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Manusia yang banyak rasa takutnya dan pengagungannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Ayat ini tidaklah bermakna bahwa tidak ada yang takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala selain para ulama. Sebab, setiap muslim laki-laki dan perempuan serta setiap mukmin laki-laki dan perempuan memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Namun, rasa takut tersebut berbeda, tidak sama. Setiap orang mukmin yang lebih mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala, lebih paham terhadap agama, tentu ia akan memiliki lebih banyak rasa takut dan lebih sempurna khasyahnya. Demikian pula halnya dengan seorang wanita yang beriman, jika keadaannya seperti itu. Setiap orang yang berkurang ilmu dan bashirahnya, akan berkurang pula rasa takut dan khasyahnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Manusia tidak sama dalam hal ini. Bahkan, keadaan para ulama pun demikian. Setiap alim yang lebih mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala, lebih menjalankan hak dan agama-Nya, lebih berilmu tentang nama dan sifat-Nya, rasa takutnya kepada AllahSubhanahu wa ta’ala tentu lebih sempurna daripada alim yang lain. Semakin sedikit ilmunya, semakin sedikit pula rasa takutnya. Namun, setiap mukmin laki-laki dan perempuan memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, sebatas ilmu dan derajat mereka dalam hal iman. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ {} جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada- Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (al-Bayyinah: 7—8) إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (al- Mulk: 12) وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua surga.” (ar-Rahman: 46) Jadi, mereka adalah orang-orang yang mendapatkan balasan sebatas rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, meskipun mereka bukan para ulama, melainkan kalangan orang biasa. Akan tetapi, kesempurnaan rasa takut hanya ada pada ulama karena kesempurnaan pengetahuan dan ilmu mereka terhadap AllahSubhanahu wa ta’ala. Dengan demikian, rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wa ta’ala lebih agung. Wallahu waliyyu at-taufiq. Majmu' Fatawa, 24/268-270 Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin hafizhahullah - Majalah Asy Syariah online Majmu'ah Ashhaabus Sunnah Channel telegram : http://bit.ly/ashhabussunnah

Kebaikan Dan Kejelekan Adalah Ujian Kebaikan dan kejelekan, kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan, tauhid dan kesyirikan, sunnah dan bid’ah, serta keimanan dan kekafiran, sesungguhnya adalah ujian dari Allah subhanahu wa ta’ala. وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَ…

FIKIH RINGKAS SHALAT JUM'AT DAN HUKUMNYA Berikut ini kami kumpulkan ahkam (hukum-hukum) shalat jum'at secara ringkas, semoga menjadi tambahan ilmu di hari Jum'at ini. Hukum Shalat Jum'at Wajib 'ain bagi kaum pria. Dalilnya QS. Al-Jumu'ah ayat 9. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sal…

Apakah Doa Memiliki Pengaruh Mengubah Takdir Asy-Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya “Apakah doa memiliki pengaruh mengubah catatan takdir manusia yang telah ada sebelum ia diciptakan?” Beliau menjawab : "Tidak diragukan lagi, doa dapat memberika…

Pembicaraan Mengenai Ahlul Bid'ah Dan Tahdzir Terhadap Mereka Berkata Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : "Pembicaraan mengenai ahlul bid'ah dan orang-orang yang mempunyai pemikiran yang tidak benar atau manhaj yang tidak lurus, ini adalah termasuk nasehat dan bukanlah termasuk ghibah. Bahkan hal ini adalah termasuk nasehat bagi Allah, kitabNya, rasulNya, dan bagi kaum muslimin.  .Maka jika kita melihat seorang ahlul bid'ah yang menyebarkan bid'ahnya, maka wajib atas kita untuk menjelaskan bahwasanya dia adalah seorang ahlul bid'ah, hingga manusia selamat dari kejelekannya. Dan jika kita melihat seseorang yang mempunyai pemikiran-pemikiran yang menyelisihi pemahaman salaf; wajib atas kita menjelaskan akan hal itu hingga manusia tidak terpedaya dengannya. Dan jika kita melihat seorang manusia yang memiliki manhaj tertentu yang (manhaj tersebut) mengakibatkan kejelekan, maka wajib atas kita menjelaskan hal itu, hingga manusia selamat dari kejelekannya. Dan hal ini merupakan bagian dari bab nasehat bagi Allah, kitabNya, rasulNya, dan bagi para pemimpin kaum muslimin serta bagi mereka (kaum muslimin) secara umum. Sama saja apakah pembicaraan (mengenai ahlul bid'ah) itu di antara para penuntut ilmu ataukah di dalam majelis-majelis yang lain, maka hal ini bukanlah ghibah. Selama kita khawatir akan tersebarnya kebid'ahan tersebut atau pemikiran tersebut atau manhaj yang menyelisihi manhaj salaf tersebut, (maka) wajib bagi kita untuk menjelaskan, hingga manusia tidak tertipu dengan hal tersebut." (Liqo Al-Bab Al-Maftuh 120/8) ﺍﻟﻜﻼﻡُ ﻓﻲ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ والتحذير منهم قـالـ الشيـخ ابـن عـثـيـمـيـن رحـمـه الله ﺍﻟﻜﻼﻡُ ﻓﻲ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﻣﻦ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺃﻓﻜﺎﺭ ﻏﻴﺮ ﺳﻠﻴﻤﺔ ﺃﻭ ﻣﻨﻬﺞ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﺘﻘﻴﻢ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻨَّﺼﻴﺤﺔ ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﻐِﻴﺒﺔ؛ ﺑﻞ ﻫﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨَّﺼﻴﺤﺔ ﻟﻠﻪِ ﻭﻟﻜﺘﺎﺑِﻪِ ﻭﻟﺮﺳُﻮﻟِﻪِ ﻭﻟﻠﻤﺴﻠﻤِﻴﻦ . ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺃﺣﺪًﺍ ﻣﺒﺘﺪﻋًﺎ ﻳﻨﺸﺮ ﺑﺪﻋﺘﻪ , ﻓﻌﻠﻴﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺒﻴِّﻦ ﺃﻧَّﻪ ﻣﺒﺘﺪﻉ؛ ﺣﺘﻰ ﻳَﺴﻠَﻢ ﺍﻟﻨَّﺎﺱ ﻣﻦ ﺷﺮِّﻩ, ﻭﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺷﺨﺼًﺎ ﻋﻨﺪﻩ ﺃﻓﻜﺎﺭ ﺗﺨﺎﻟﻒ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴَّﻠﻒ؛ ﻓﻌﻠﻴﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺒﻴِّﻦ ﺫﻟﻚ؛ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﻐﺘﺮ ﺍﻟﻨَّﺎﺱ ﺑﻪ , ﻭﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺇﻧﺴﺎﻧًﺎ ﻟﻪ ﻣﻨﻬﺞ ﻣﻌﻴَّﻦ ﻋﻮﺍﻗﺒﻪ ﺳﻴِّﺌﺔ؛ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺒﻴِّﻦ ﺫﻟﻚ؛ ﺣﺘﻰ ﻳَﺴﻠَﻢ ﺍﻟﻨَّﺎﺱ ﻣﻦ ﺷﺮﻩ, ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻨَّﺼﻴﺤﺔ ﻟﻠﻪ ﻭﻟﻜﺘﺎﺑﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻭﻷﺋﻤﺔ ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻋﺎﻣﺘﻬﻢ . ﻭﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻓﻲ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻄﻠﺒﺔ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﺍﻷﺧﺮﻯ ﻓﻠﻴﺲ ﺑﻐﻴﺒﺔ, ﻭﻣﺎ ﺩﻣﻨﺎ ﻧﺨﺸﻰ ﻣﻦ ﺍﻧﺘﺸﺎﺭ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺃﻭ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻔﻜﺮ ﺃﻭ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻒ ﻟﻤﻨﻬﺞ ﺍﻟﺴَّﻠﻒ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺒﻴِّﻦ؛ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﻐﺘﺮَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱ ﺑﺬﻟﻚ . ﻟﻘﺎﺀ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﺍﻟﻤﻔﺘﻮﺡ【120/8 » ﻣﻦ ﻣﻔﺎﺳﺪ ﺍﻟﺒﺪﻉ !.. ☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆ Reza Al Jakarty - Editor : Ibnu abi Humaidi hafizhahullah Majmu'ah Ashhaabus Sunnah ©hannel telegram : http://bit.ly/ashhabussunnah

Pilih Temanmu Sebelum Datang Sesalmu Sebagai mahluk sosial, kita tentunya membutuhkan teman karib atau sahabat. Tapi satu hal yang perlu kita ketahui, bahwa diantara prinsip islam adalah prinsip selektif dalam memilih teman. Teman atau sahabat memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk, mengubah, dan menanamkan segala hal kepada temannya. Termasuk dalam hal keyakinan atau agama. Rasulullah shallallahu alaihi wa shallam bersabda : “Seseorang itu akan mengikuti agama teman karibnya. Maka hendaknya salah seorang diantara kalian melihat dengan siapa ia menjalin pertemanan.” [H.R. At Tirmidzi] Teman-teman yang jahat akan mengenalkan kepada kemaksiatan dan dosa. Selanjutnya mereka mengajak kita untuk melakukannya. Jika kita terjatuh dalam dosa, mereka menganggap ringan apa yang kita lakukan. Atau malah justru mereka akan bertepuk tangan mendukung dan memotivasi kita untuk terus berada dalam gelapnya dosa yang kita lakukan. Allah ta’ala berfirman, وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا “Di hari orang-orang yang zalim menggigit jari-jari mereka seraya mengatakan, ‘Aduhai andaikan aku dahulu mengikuti jalannya Rasul. Aduhai, celaka aku, andaikan aku dahulu tidak menjadikan dia sebagai temanku. Sungguh dia telah memalingkanku dari petunjuk ketika ia mendatangiku. Dan adalah setan itu suka membiarkan manusia terjatuh dalam dosa dan kemaksiatan.” (QS. al-Furqan : 27-29) Teman yang baik laksana pintu kebaikan. Bagaimana tidak, jika ia berucap, maka ucapannya adalah ucapan yang baik atau mengandung kebaikan. Jika ia bertindak, yang ia lakukan juga kabaikan. Jika ia datang, ia datang membawa kabaikan. Jika ia pergi, yang ia tinggalkan pun kebaikan. Bahkan, ketika ia diam, diamnya pun karena kabaikan. [Dikutip dari Tashfiyah edisi 47 vol.4] https://pemudasalafy.wordpress.com/2015/06/01/pilih-temanmu-sebelum-datang-sesalmu/ Majmu'ah Ashhaabus Sunnah Channel telegram : http://bit.ly/ashhabussunnah LIHATLAH SIAPA TEMANNYA, BUKAN BERTANYA TENTANG SIAPA TEMANNYA Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu mengatakan: اعتبروا الرجل بمن يصاحب، فإنما يصاحب من هو مثله. "Nilailah seseorang dengan siapa yang dia jadikan sebagai teman, karena dia hanya akan berteman dengan orang yang semisal dengannya." Hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibanah no. 500. Abu Umar mengatakan: Saya mendengar asy-Syaikh Muhammad bin Hady mengatakan: "عن المرء لا تسأل وأبصر قرينه، هذا هو الصحيح وليس سل عن قرينه" والله أعلم. "Tentang seseorang jangan bertanya (siapa temannya), tetapi lihatlah siapa temannya. Inilah yang tepat, dan bukan: tanyalah siapa temannya." Wallahu a'lam. Akun twitter Arafat al-Muhammady hafizhahullah WhatsApp Salafy Indonesia Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

Siapakah (sekte) Haddadiyyah itu? Dan kepada siapa mereka dinisbatkan? Haddadiyyah : Mereka adalah sebuah jamaah yang dinisbatkan kepada seseorang yang bernama Mahmud Al-Haddad. Al-'Allamah An-Najmi rahimahullah menjelaskan manhaj jemaah ini dengan mengatakan : "Perlu diketahui, bah…