Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

 .Berpikir Dingin, Berhati Sejuk Ringkas saja, bahwa karakter seorang pemimpin yang baik memang tidak sesederhana yang dimaukan. Sebab, seni memimpin sangatlah kompleks, yaitu mengandung beberapa unsur yang pelik, rumit, sulit dan saling berhubungan. Minimal, seorang pemimpin me…

 .Buatnya Yang Setahun Menikah Jika rumah tangga sering dianalogikan mengayuh biduk di tengah samudra, sebenarnya masih ringan. Sebab, rumah tangga lebih luas dari samudra, tidak sekecil biduk, dan gelombangnya lebih tidak beraturan. Namun, sebagai pendekatan, sah-sah saja. Tidak semua suami istri menyadari dari awal, bahwa rumah tangga bukanlah drama cerita yang alurnya telah ditentukan sampai akhir. Sayangnya banyak yang terbuai oleh drama-drama cengeng buatan khayal manusia. Rumah tangga pun bukan sinetron cinta yang dapat ditebak arahnya yang ujung-ujungnya tertawa bahagia. Walaupun banyak juga yang terbawa angan-angan sinteron. Tinggalkan mimpi-mimpi buruk itu! Engkau harus bangun dari tidur nyenyakmu. Hidup tak seindah mimpi. Hidup tak sedramatis novel fiktif. Hadapilah kenyataan yang ada di depanmu! Memang, lintasan rumah tangga amat berat. Ego harus disingkirkan. Mesti berdamai dengan idealisme. Perfeksionis tidaklah tepat, yang menuntut segala-galanya sesuai rencana. Berpikir bebas konflik tidaklah bijak. Jangan berharap pasangan hidupmu komplit serba bisa dan serba ada. Sebab, cacatmu sendiri terpampang jelas di depan mata. Meskipun, tidak mau mengakui itu namun fakta lah yang bercerita. Wajahmu yang cemberut. Hatimu yang kesal. Dadamu yang sesak. Itu semua sudah cukup memberitakan bahwa engkau lupa bercermin pada diri sendiri. Engkau yang tersinggung. Engkau yang marah. Engkau yang kecewa. Bukankah itu semua adalah bukti bahwa engkau kurang sadar diri? Hanya karena sepatah kata, hatimu bagai tersayat-sayat. Hanya karena satu tekuk wajah, engkau sudah tenggelam dalam prasangka buruk. Hanya karena satu menit terlambat, bagai engkau dikhianati. Hanya karena salah menempatkan tertawa, engkau sudah merasa terhina. Ada apa denganmu? Coba dan teruslah mencoba untuk mengingat! Apa tujuanmu menikah? Bukankah untuk beribadah bersama? Sadarlah, bahwa ibadah itu harus ikhlas. Menikah itu seperti ibadah-ibadah lainnya, yaitu harus mengharap ridha Allah. Bukan puja puji istri. Bukan sanjungan suami. Lupakah engkau tentang hal ini? Engkau merasa tidak dihargai. Engkau anggap kurang dimengerti. Engkau kira tidak diapresiasi. Engkau pandang tidak bernilai. Sebenarnya, ridha siapa yang engkau cari? Sudahlah, tidak ada yang lebih indah dari sabar. Sabar dalam arti yang sesungguhnya! Sabar luar dalam. Senyummu tetap terpancar. Bahasamu tetap santun. Sikapmu tetaplah lembut. Dan doa-doamu untuk kebaikan pasangan hidupmu selalu mengalir. Yakinlah bahwa di akhirat kelak, Allah Ta'ala memberi pahala berlimpah. Apa yang tidak engkau dapatkan di dunia, niscaya berlipat-ganda engkau akan memperolehnya. Asalkan engkau sabar! Untukmu suami, Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم bersabda ; لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ “ Jangan sampai seorang suami membenci istrinya. Jika ada satu hal yang ia benci, bukankah ia menerima hal lainnya” (HR Muslim dari sahabat Abu Hurairah 1469) Untukmu istri, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda ; الْمَرْأَةُ إِذَا صَلَّتْ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَأَحْصَنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا فَلْتَدْخُلْ مِنْ أَيّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ “Seorang istri; jika ia mengerjakan salat lima waktu, puasa Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat pada suaminya, silahkan ia masuk surga dari pintu manapun yang ia suka” (Hadits Anas bin Malik dan disahihkan Al Albani dalam Al Misykah no .3254) Semoga prahara segera berlalu berganti bahagia. Badai segera berlalu berubah angin sejuk. Toh, di dunia hanya beberapa saat saja. Kenapa engkau tidak bersabar untuk meraih surga? Semoga Allah karuniakan istiqomah untuk kita. Ya Allah, wafatkanlah kami dengan husnul khatimah. Pendopo Lama, Lendah 09.26 WIB 28 September 2021 t.me/anakmudadansalaf

Dalil Nama Allah Asy-Syakir & Asy-Syakur Asy-Syakir (الشَّاكِرُ) adalah salah satu nama Allah yang agung, Asmaul Husna. Nama tersebut termaktub pada beberapa ayat dalam kitab suci Al-Qur’an. Di samping itu, hadits Nabi-Nya yang mulia juga menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat tersebut. Al-Qur’an juga menyebutkan nama Allah yang mulia, asy-Syakur (الشَّكُورُ). وَمَن تَطَوَّعَ […]


⛵️⛵️ KESELAMATAN ADALAH DENGAN BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH ✅ Memang, berpegang teguh terhadap sunnah bak…

ADAKAH AMALAN KHUSUS SAAT ISTRI MAU MELAHIRKAN? Pertanyaan Bismillah. Assalamu'alaikum Ustadz . Afwan ini ana ada titipan pertanyaan, Apakah ada seputar amalan saat istri mau lahiran ?Mohon faedah dan penjelasannya ustadz. Jaazaakumullahu khoiron wa barakallahufiikum Jawaban al-U…


MUTIARA HIKMAH ➖➖➖➖➖➖ 🔊 Jenis-Jenis Kelompok Sesat Yang Menyimpang Tentang Wahyu Alloh (Part 1) 🎙…


🔈💽 Merupakan Kebodohan Jika Masih Mahu Berteman Dengan Orang Yang Tidak Setia Kepadamu 🎙Al-Ustadz Usamah Mahri حفظه الله 📥 Pautan audio rakaman (4:06): https://drive.google.com/file/d/1yaRqrdCps5iOUmwCQrmDJAAPA9jscS1x/view?usp=drivesdk…

Dalil Nama Allah As-Sayyid Di antara nama Allah subhanahu wa ta’ala adalah as-Sayyid. Nama yang mulia ini tidak terdapat dalam Al-Qur’an, tetapi terdapat dalam beberapa hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Di antaranya adalah hadits dari Mutharrif sebagai berikut. قَالَ أَبِي: انْطَلَقْتُ فِى وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا: أَنْتَ […]


📕📚☝🏻 NGAJI KITAB TAUHID (BAG. 69) 📚 Serial: Pembahasan Kitab Tauhid || Bab 14 🖊…

TAKHRIJ HADIS MERAPATKAN TUMIT KETIKA SUJUD DALAM SALAT Pertanyaan Bismillah. Izin bertanya ustadz, apa benar hadits tentang merapatkan tumit ketika sujud itu lemah dan tidak bisa amalkan, mohon penjelasannya. Jazakumullahu khairan Jawaban Oleh al-Ustadz Abu Fudhail 'Abdurrahman Bin Umar hafizhahullah, Disebutkan di dalam hadis, . فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصَّا عَقِبَيهِ مُسْتَقْبِلًا بِأَطرَافِ أَصَابِعِهِ لِلقِبْلَة "Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebelumnya bersamaku di tempat tidur. Lalu aku dapati beliau sedang sujud, merapatkan kedua tumitnya, menghadapkan jari-jari kaki ke kiblat." Hadis ini dikeluarkan oleh at-Thahawi di dalam al-Musykil, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim dan dishahihkan oleh al-Allaamah al-Albani di dalam al-'Ashl 2/732. Beliau berkata, إنما هو صحيح على شرط مسلم "Hanya saja hadis ini shahih sesuai dengan syarat imam Muslim." Sebagian ulama melemahkan riwayat ini karena di dalam sanadnya terdapat Yahya bin Ayyub al-Ghaffaaqiy. Syekh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata, يحيى بن أيوب الغافقي وإن كان من رجال الشيخين ففيه كلام، فالظاهر أن لفظة "ضم العقبين"في هذا الحديث شاذة والله أعلم. "Yahya bin Ayyub al-Ghaffaaqii walaupun termasuk dari rawi al-Imam al-Bukhari dan Muslim, namun padanya terdapat pembicaraan. Yang nampak adalah bahwa lafaz 'menggabungkan kedua tumit,' di dalam hadis ini merupakan lafaz yang aneh(mengganjal) wallahua'lam." Syekh Abdul Aziz bin Baz berkata, فهذا فيه نظر، الظاهر أنه شاذ ومخالف للأحاديث الصحيحة "Hadis ini padanya terdapat kritikan. Yang nampak adalah ini riwayat yang aneh (lemah). Menyelisihi hadis-hadis yang shahih." (Fatāwā Nūrun 'alā ad-Darb, 8/294). Oleh karena itu sebagian ulama berpendapat, ketika sujud, tumit direnggangkan dan tidak dirapatkan. Ini adalah pendapat al-Imam asy-Syafi'i. Al-Imam an-Nawawi berkata, قال الشافعي والاصحاب يستحب للساجدان يُفَرِّجَ بَيْنَ رُكْبَتَيْهِ وَبَيْنَ قَدَمَيْهِ "Al-Imam asy-Syafi'i dan yang bersamanya berpendapat dianjurkan bagi orang yang sujud di dalam salat untuk merenggangkan kedua lutut dan tumitnya." (al-Majmū', jilid 3, hlm. 431). Dan pendapat ini dipilih oleh asy-Syaukani, syekh Abdul Aziz ibnu Baz dan yang lainnya. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz berkata, والمحفوظ أنه صلى الله عليه وسلم كان يقيم قدميه، كل واحدة منفردة عن الأخرى. "Yang shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah beliau menegakkan kedua tumitnya. Masing-masing terpisah dari yang lainnya." (Fatāwā Nūrun 'alā ad-Darb, 8/294). Pendapat yang kuat adalah merapatkan ke dua tumit yakni pendapat yang dipegang oleh syekh al-Albani rahimahullah. Pendapat ini juga dipilih oleh syekh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin. Anggaplah hadis di atas lemah. Namun, kisah tersebut disebutkan oleh al-Imam Muslim di dalam shahihnya, Aisyah radhiyallahu 'anha bercerita, فقَدْتُ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَلَيْلَةً مِنَ الفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي علَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وهو في المَسْجِدِ وهُما مَنْصُوبَتَانِ "Suatu malam, aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat tidur. Lalu aku mencari-cari, dan tanganku mengenai kedua telapak kaki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sujud di masjid (Muslim no. 486). Yang nampak di sini Aisyah mencari Rasulullah dalam keadaan berbaring dan beliau menjumpai telapak kaki Nabi yang sedang sujud di masjid karena memang demikian keadaannya, tempat tinggal beliau berdampingan dengan masjid. Tidaklah mungkin satu telapak tangan Aisyah mengenai kedua telapak kaki Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melainkan kedua telapak kaki tersebut dalam keadaan merapat dan sangat tidak mungkin tumit beliau ketika itu renggang dan terpisah karena satu telapak tangan tidaklah cukup untuk kedua telapak kaki jika renggang dan terpisah. Syekh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin berkata, واليد الواحدة لا تقع على القدمين إلا في حال التَّراصِّ... وعلى هذا؛ فالسُّنَّةُ في القدمين هو التَّراصُّ بخلاف الرُّكبتين واليدين "Satu tangan yang mengenai kedua tumit tidaklah mungkin terjadi melainkan keadaan kedua tumit tersebut merapat. Atas dasar ini, maka yang sesuai dengan sunah pada kedua tumit ketika sedang sujud adalah merapat berbeda dengan kedua lutut dan tangan." (as-Syarhul Mumti', jilid 3, hlm. 122). Wallahua'lam 📃 Sumber: Majmu'ah al-Fudhail ✉️ Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail