Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya


Seseorang pernah berkata kepada Imam Ahmad rahimahullah, “Berilah aku wasiat.’ Beliau pun mengatakan, أَعِزَّ أمر الله حيثما كنت يُعُزِّك الله . Muliakanlah perintah Allah Ta’ala dimanapun engkau berada, pasti Allah akan memuliakanmu.” ✍️ Al-Adab asy-Syar’iyyah 2/86 #faedah #mulia


Al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah mengatakan bahwa sebagian ulama menulis dalam kitabnya, “ليس من أهل العلم من أضاع كتاب علم.” “Bukan termasuk orang berilmu siapa saja yang menyia-nyiakan kitab (buku) ilmu agama.” 📓 Taqyid al-Ilm 148 #nasehat #kitab

 .(148) Karakter Ideal Pemuda : Antara Harapan dan Kenyataan. Berikut ini keterangan ringkas dari Ibnu Qudamah Al Maqdasi (wafat 682 H) dalam Mukhtasar Minhajul Qashidin hal.146-147. Ibnu Qudamah melukiskan untuk kita figur dan sosok Rasulullah ﷺ secara singkat namun padat. Tidak banyak…


? Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah ta’ala berakata: “Ketika sedang menunggu shalat di masjid, janganlah engkau larut dalam pembicaraan masalah dunia. Telah disebutkan dalam hadits bahwa yang demikian akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Juga disebutkan dalam hadits yang lain bahwasanya seorang hamba dianggap dalam keadaan shalat selama dia menunggu shalat, dan para […]

 .(147) Remaja Kabur Kabur yang dimaksud adalah melarikan diri. Selepas kajian Zuhur, siang kemarin, saya bertanya kepada satu per satu siswa, " Pernah kabur dari pondok? ". 80% menjawab pernah. Saya mengajukan beberapa kemungkinan faktor yang membuat mereka kabur. Urutan pertama yang menjadi alasan kabur adalah pengajar yang galak. Selain itu, kesulitan beradaptasi, kangen orangtua, dan konflik dengan teman, menjadi faktor lain yang menyebabkan mereka kabur. Pengajar galak menjadi momok yang menakutkan bagi santri. Seharusnya disayang, justru santri tertekan. Ia seakan hidup dalam teror, karena pengajarnya yang berpembawaan marah-marah dan mencaci-maki. Itulah fakta pahit pendidikan yang mesti didiskusikan. Kasus santri kabur, mengingatkan kita pada firman Allah Ta'ala : فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (QS Ali Imran 159) Ibnu Katsir dalam At Tafsir, menerangkan, " Andaikan engkau berbahasa kasar dan berhati kaku terhadap mereka, pasti mereka akan lari menyingkir dan meninggalkanmu " Nabi Muhammad ﷺ adalah pribadi yang lembut, penyayang, dan menyenangkan. Gaya berbicara beliau menyejukkan. Bahasa yang dipilih tidak menyinggung perasaan. Sulit untuk dilupakan kata-kata beliau, saking ademnya. Jangankan kawan, kepada lawan pun Nabi Muhammad ﷺ berbahasa dengan sopan. Musuh sekalipun diperlakukan dengan baik. Betapa penyayangnya beliau kepada kaum penentang, sampai-sampai mendoakan mereka dengan hidayah. Kepada orang-orang badui yang belum mengerti tata krama, Nabi Muhammad ﷺ sabarnya luar biasa. Bahasa beliau tetap lembut. Sikap beliau selalu halus. Sebab, kepada orang-orang yang beriman, Nabi Muhammad ﷺ adalah pribadi yang penyayang. Memang benar Nabi Muhammad ﷺ jika berkhutbah, kedua mata beliau memerah, suaranya meninggi, dan marahnya bertambah.Sahabat Jabir dalam riwayat Muslim meriwayatkan demikian. Namun, hal itu tidak setiap saat. Bukan selalu tiap waktu. Sebelum dan setelah khutbah, Nabi Muhammad ﷺ tidak demikian. Al Utsaimin dalam Syarah nya menjelaskan, " Nabi Muhammad ﷺ demikian keadaannya karena sebuah maslahat. Sebab, sama-sama diketahui bahwa beliau adalah pribadi yang paling baik akhlaknya dan paling lembut perangainya. Namun, setiap kondisi ada hukumnya tersendiri" Tidak kalah penting diingat bahwa yang dimaksud adalah kemampuan seorang orator. Suaranya tinggi dan lantang, namun menyenangkan. Walau mata memerah dan seperti sedang marah, pendengar merasa nyaman dan tenang. Lain halnya jika pembicara memang membentak-bentak, menghentak-hentak. Pendengar bisa merasakan jika pembicara tengah meluapkan amarah, mengalirkan emosi. "Memberi nasihat atau sedang marah-marah?", pikirnya. Bahasanya tidak indah. Kata-kata tidak tersusun baik. Kalimat-kalimatnya tak beraturan. Tidak karuan. Pendengar kurang simpati. Lagi-lagi, " Ini nasihat atau marah-marah?", pikirnya lagi. Apalagi, hal itu memang identik dengan pribadinya. Sehari-hari seperti itu. Kepada siapa saja demikian. Itulah sifat dan karakternya. Bukan hanya saat khutbah saja! Wajar jika santri-santri berusia remaja itu kabur. Pantas anak-anak belum berusia baligh lebih memilih lari. Sebab, mereka tidak memperoleh kasih sayang yang diinginkan. Mereka selalu ketakutan karena pengajar yang galak, kasar, dan suka marah-marah. Maka, bagaimana caranya, dengan bijak dan hikmah, pengajar semacam itu diberi pengarahan dan pencerahan. Sebab, mempertahankan pengajar seperti itu hanya akan merugikan lembaga pendidikan. Parahnya lagi, memunculkan stigma negatif dan mencoreng nama baik pesantren. Lendah, 18 Oktober 2022 t.me/anakmudadansalaf


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, الشَّيْخُ يَكْبَرُ و يَضْعُفُ جِسْمُهُ و قلبُهُ شَابٌّ على حُبِّ اثْنَتَيْنِ طولِ الحَياةِ ، و حُبِّ المالِ “Orang tua berumur dan fisiknya lemah namun kalbunya tetap muda untuk menyukai dua perkara, yaitu hidup yang panjang dan menyukai harta.” [Ash-Silsilah ash-Shahihah 1906] #hadits #ambisi


🔈💽 Kepentingan Ilmu & Barometer Kebenaran Sesuatu Ilmu 🎙Al-Ustadz Usamah Mahri حفظه الله 📥 Pautan audio rakaman (03:16): https://drive.google.com/file/d/1AW6keLmePp2xZDI-VOCLNNX1Bg4fVwIG/view?usp=drivesdk…


Al-Hafidz Ibnu Hibban rahimahullah menyatakan, فسُبحَانَ من رفعَ من شاءَ بالعلم اليَسِير حتى صَارَ عَلَمًا يُقتدَى به ، ووَضَعَ من شَاء مَعَ العلم الكَثِير حتى صَارَ لا يُلتَفَتُ إليه “Maha Suci Allah yang telah mengangkat (derajat) siapa saja yang Dia kehendaki dengan ilmunya yang sedikit sehingga menjadi orang mulia yang diteladani. Allah pun menghinakan siapa […]


Al-Mundziri rahimahullah menyatakan, «ناسـخ العلـم النـافـع له أجرُه وأجـرُ مَن قـرَأه أو كَتَبه أو عَمـِلَ به ما بقىَ خطـُّه. » “Penulis ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan pahalanya dan pahala siapa saja yang membacanya, menulisnya atau mengamalkannya selama tulisannya tersebut ada.” 📓 At-Targhib wa at-Tarhib 1/62 #faedah #ilmu


Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, ليس كل من قال: “الشكر لله، والحمد لله” يكون شاكرًا؛ لأن الشكر هو العمل الصالح، ولهذا قال بعض الفقهاء: الشكر طاعة المُنعِم، أي: القيام بطاعته. “Tidak setiap orang yang mengucapkan, asy-syukru lillah (rasa syukur kepada Allah) dan alhamdulillah, maka dia menjadi hamba yang bersyukur. Karena sejatinya syukur adalah […]