Artikel Islami

Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Cinta : Tak Bisa Melihatnya Terluka
Atsar.id
Atsar.id

Cinta : Tak Bisa Melihatnya Terluka

Cinta : Tak Bisa Melihatnya Terluka Urwah bin Mas'ud, pemuka kabilah Tsaqif, yang sempat terdepan memusuhi Nabi Muhammad&nbsp. ﷺ lalu akhirnya masuk Islam, bersaksi : " Demi Allah, wahai kaumku, aku pernah menemui raja-raja. Aku temui Kaisar. Aku temui Kisra. Aku temui Najasyi. Demi Allah, tidak pernah saya menyaksikan seorang raja dihormati sedemikian rupa sebagaimana Nabi Muhammad dihormati sahabat-sahabatnya" Cinta yang luar biasa! Cinta yang melebihi cinta apapun. Cinta para sahabat kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah cinta nyata yang begitu istimewa. Cinta yang membuat tak rela bila Nabi Muhammad  ﷺ terluka! Ibnu Hisyam dalam As Siroh, Ibnu Katsir dalam Al Bidayah dan banyak pakar sejarah menyebutkan riwayat wanita dari kabilah Dinar.  Suaminya gugur di perang Uhud. Saudara laki-laki dan ayahnya pun turut gugur. Saat berita gugurnya mereka disampaikan, wanita tersebut justru menanyakan kabar Rasulullah ﷺ. Walau sudah dijawab bahwa Rasulullah  ﷺ baik-baik saja, wanita itu masih belum puas.  Setelah melihat sendiri kondisi Rasulullah ﷺ, barulah wanita itu mengatakan,  كُلُّ مُصِيبَةٍ بَعْدَكَ جَلَلٌ " Semua musibah amatlah ringan, asalkan Anda selamat" Subhanallah! Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad menyebutkan kisah gugurnya sahabat Khubaib bin Adi.  Sebelum dieksekusi mati dengan cara disalib oleh kaum musyrikin, Khubaib sempat ditanya, " Apakah kamu setuju jika Muhammad saja yang ada di sini untuk dipenggal lehernya, sementara engkau senang-senang di tengah keluargamu?".  لَا وَاللَّهِ، مَا يَسُرُّنِي أَنِّي فِي أَهْلِي، وَأَنَّ مُحَمَّدًا فِي مَكَانِهِ الَّذِي هُوَ فِيهِ تُصِيبُهُ شَوْكَةٌ تُؤْذِيهِ " Tidak! Demi Allah. Saya tidak rela bersenang-senang di tengah keluargaku, sementara Nabi Muhammad di tempatnya merasa sakit tercucuk duri", tegas Khubaib. Begitulah cinta kepada Rasulullah ﷺ! Apapun dilakukan, apapun dikorbankan, bagaimanapun akan diperjuangkan, untuk membela Rasulullah ﷺ. Untuk menyebarkan dan membela ajaran-ajaran beliau. Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq menangis dan mengatakan,  فدَيْناك بآبائِنا وأمَّهاتِنا " Kami siap menebus Anda dengan ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami". Para sahabat terheran-heran kenapa Abu Bakar demikian?  " Lihat orang tua ini! Rasulullah sekadar bercerita tentang seorang hamba yang diberi Allah 2 pilihan : kesenangan dunia ataukah apa yang ada di sisi -Nya, kenapa dia malah bilang : Kami siap menebus Anda dengan ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami " Rupanya, yang dimaksud Rasulullah  ﷺ  seorang hamba itu adalah beliau sendiri. Dan hanya Abu Bakar yang paham di antara kami"  (HR Bukhari 3904 Muslim 2382) Lihatlah! Abu Bakar menangis karena mengerti bahwa kebersamaan Nabi Muhammad ﷺ akan segera berakhir. Ajal beliau telah dekat. Abu Bakar merasakan beratnya! Apapun siap diberikan sebagai ganti dan tebusan, walau orang tua kandung sendiri, demi Rasulullah  ﷺ. Namun, setiap manusia pasti meninggal dunia. Tak terkecuali Rasulullah ﷺ. Jika di dunia tak sempat bertemu, bukankah seharusnya berjuang dan berkorban agar besok di hari kiamat dapat berjumpa Rasulullah ﷺ? King Saud Gate, 19 November 2022 https://t.me/anakmudadansalaf

Anak Muda dan Salaf
Nov 19, 20223 min read
Manifestasi Cinta
Atsar.id
Atsar.id

Manifestasi Cinta

Manifestasi Cinta Cinta harus terwujud nyata. Tidak hanya kata. Bukan sebatas retorika. Bukan karena terampil berbahasa. Ada bukti, ada aksi. Itulah manifestasi! Duduk di hamparan karpet Masjid Nabawi, langsung hadir dalam benak, bagaimana para sahabat memuliakan dan menghormati Nabi Muhammad ﷺ. Pasti hari-hari dilalui penuh cinta. Tentu mereka tak mau berpisah! Anas bin Malik (Sahih Tirmidzi 2433) memohon Rasulullah untuk memberinya syafaat kelak hari kiamat. Beliau mengabulkan. يا رسولَ اللَّهِ فأينَ أطلبُكَ " Wahai Rasulullah, di manakah esok aku mencari Anda? ", tanya Anas. " Carilah aku pertama kali di Shirat (Jembatan)", Nabi Muhammad menjawab. Anas bertanya lagi, " Bila aku tidak bisa berjumpa Anda di Shirat? ". Nabi Muhammad menjawab, " Carilah aku di Al Mizan (Timbangan Amal)" " Bila aku tidak bisa berjumpa Anda di Al Mizan?", Anas bertanya. Nabi Muhammad bersabda, " Maka, carilah aku di Al Haudh (Telaga). Sungguh, aku tidak akan meninggalkan tiga tempat ini" Di situ, setiap muslim harus berpikir, " Dengan bekal apa yang dibawa jika hendak berjumpa Nabi Muhammad ﷺ ? " Ditanya tentang sejarah hidup Nabi ﷺ , tak bisa menjawab. Apalagi bercerita rinci. Ditanya mengenai sabda-sabda beliau, terdiam seribu bahasa. Tidak tahu, katanya. Bahasa arab sebagai bahasa Nabi ﷺ tidak dikuasai. Justru dihabiskan waktunya untuk belajar bahasa-bahasa lainnya. Praktek beribadahnya masih belum sesuai benar dengan ibadah yang dikerjakan Nabi Muhammad ﷺ, lalu bagaimana? Mana rindunya untuk berziarah ke Masjid Nabawi?&nbsp. Kenapa dia diam ketika sunnah-sunnahnya dicela? Kenapa tak bersalawat dan bersalam ketika nama beliau disebut? Nabi Muhammad ﷺ yang selalu membaca Al Qur'an, kenapa tidak diteladani? Masalahnya, ia tidak tertarik bahkan tidak terbetik di hati untuk belajar membaca Al Qur'an. Kapan ia berdoa agar mendapat syafaat Nabi Muhammad ﷺ? Ah, hidupnya sangat jauh dari Nabi Muhammad ﷺ. Ia habiskan waktu untuk foya-foya. Ia kuras tenaga demi hawa nafsu. Ia kejar ambisi duniawi hingga habis nafas. Sahabat Rabi'ah bin Ka'ab pernah ditawari permohonan oleh Rasulullah ﷺ, " Mintalah sesuatu!" أسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ في الجَنَّةِ " Aku meminta agar tetap bisa menemani Anda kelak di surga" , pinta Rabi'ah. ( HR Muslim 489) Inilah cita-cita! Inilah masa depan! Bukan jabatan! Bukan puncak karir! Bukan kekayaan! Bukan harta! Bukan status di masyarakat! Bukan titel dan gelar sarjana! Bukan! Cita-cita itu adalah bagaimana agar bisa bersama-sama Nabi Muhammad ﷺ di surga. Caranya? Pelajarilah kehidupan beliau, lalu terapkan. Kota Madinah, 19 November 2022 t.me/anakmudadansalaf

Anak Muda dan Salaf
Nov 19, 20222 min read
«»
HomeRadioArtikelPodcast