Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya


☁️ Takziah Atas Wafatnya asy-Syaikh Ubaid al-Jaabiri أُعزي نفسي وعموم أهل السّنّة في وفاة شيخنا ووالدنا ومعلمنا الخير العلامة الفقيه العابد النبيل الزاهد عبيد بن عبدالله الجابري،اللهم ا…


Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan, لا يطلب هذا العلم من يطلبه بالتملل وغنى النفس فيفلح ولكن من طلبه بذلة النفس وضيق العيش، وخدمة العلم، أفلح “Tidak akan berhasil menuntut ilmu agama orang yang mudah bosan dan merasa puas dengan jiwanya. Namun seseorang yang menuntut ilmu dengan kerendahan jiwa, kesempitan hidup dan pengabdian diri untuk […]


Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullah menyatakan, الإنسان وقته ثمين لا يضيعه لمشاهدة المباريات لأنها تشغله عن ذكر الله “Waktu seorang manusia itu sangat berharga. Maka janganlah dia menyia-nyiakan waktunya untuk menonton pertandingan-pertandingan sepakbola. Sungguh perbuatan tersebut akan melalaikannya dari dzikir kepada ALLAH ta’ala.” [Al-Ajwibah al-Mufidah 76-77.]

BELAJAR HADITS ARBAʼIN NAWAWIYYAH (BAG. 4) 📚 Serial: Hadits 4 || Sudah Tertulis عنْ أبي عبدِ الرَّحمنِ عبدِ اللهِ بنِ مسعودٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ: . إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذلِكَ، ثمَّ يُرْسَلُ إلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فيهِ الرُّوحَ، وَيُؤمَرُ بأرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أوْ سَعِيدٌ. فَوَاللَّهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ، فيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. رواه البخاريُّ ومسلمٌ. Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepada kami dan beliau seorang yang jujur lagi diakui kejujurannya, “Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berupa setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian diutus seorang malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan empat kalimat: menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amal penghuni surga hingga jarak antaranya dan surga hanya sejengkal, lalu ketetapan takdir terjadi padanya; ia melakukan perbuatan penduduk neraka, lalu ia memasukinya. Dan sungguh, juga ada di antara kalian yang beramal dengan amal penduduk neraka, hingga jarak antaranya dengan neraka hanya sejengkal, lalu ketetapan takdir terjadi padanya, ia beramal dengan amal penduduk surga, maka ia pun memasukinya.” H.R. Al-Bukhari [3208] dan Muslim [2643]. _________ Petikan Hikmah dalam Hadits 1. Manusia tidak layak untuk sombong. Berawal dari setetes mani yang hina. Dan tidak akan berubah menjadi apa pun jika Allah tidak menciptakannya. Lalu kenapa angkuh dan berpaling dari perintah-Nya! Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi al-Madani rahimahullah berkata, “Orang yang berakal harusnya sering mengingat asal mulanya; tentang proses dirinya diciptakan dengan melewati beberapa tahap. Hal ini membuat hamba sadar; bahwa ia lemah, hina, dan sangat perlu kepada Dzat yang menciptakan dirinya. Ia akan ingat betapa agung Penciptanya, perhatian-Nya, lalu tergerak menjalankan kewajiban bersyukur kepada Sang Pencipta.” (Tuhfatul Muhibbin, hlm. 58) 2. Anjuran berbakti kepada orang tua, terlebih ibu. Setiap tahapan awal hidup kita yang disebutkan dalam hadits: setetes mani, lalu segumpal darah, hingga akhirnya berbentuk manusia sempurna dan ditiupkan ruh; semuanya terjadi di rahim ibu. [Taʼliqat Tarbawiyah]. Sebelum kita dapat “merasakan” perhatian dan kehangatan sentuhan ibu, beliau telah menjadi tempat berlindung pertama kita hingga terus tumbuh. Sampai waktunya siap keluar ke dunia. Untuk lupa atau meremehkan bagian penting ini, jelas tidak selayaknya . 3. Membuat sadar dan takut dengan suʼul khatimah: meninggal dengan masih berselimut dosa. Karena tidak ada manusia yang tahu -termasuk kita- amalan dan keadaan apa yang menjadi penutup akhir usia kita. Padahal keadaan terakhir adalah penentu. “... sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amal penghuni surga hingga jarak antaranya dan surga hanya sejengkal, lalu ketetapan takdir terjadi padanya; ia melakukan perbuatan penduduk neraka, lalu ia pun memasukinya.” Sebagian ulama salaf berkata, “Yang paling membuat air mata bercucuran adalah mengingat yang telah diputuskan dalam catatan takdir.” Sufyan ats-Tsauri paling sedih jika mengingat dua hal: yang awal (ketetapan takdir) dan yang akhir (penutup amalan). Beliau sering menangis sambil berkata, “Aku betul-betul takut jika dalam catatan takdir tertulis sebagai orang yang celaka.” Dengan air mata yang mengalir, beliau juga berkata, “Aku sungguh takut jika iman dicabut dari hatiku saat berpisah dengan dunia.” [Jamiʼul ‘Ulum wal Hikam, hlm. 181]. Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi berkata, “Akhir kehidupan yang masih misteri untuk setiap orang membuatnya tidak merasa aman dengan amalan baiknya, menjadikan kaum yang shalih hidup dengan rasa takut dan khawatir hingga datang kematian.” (Tuhfatul Muhibbin, hlm. 60) 4. Jadilah peka dan perasa dengan tanda-tanda bahaya. Kadang, ada penyakit hati yang rasanya kita bersih darinya. Tapi sikap atau ucapan kita seolah berkata bahwa penyakit itu ada. Mungkin itu dendam. Mungkin riyaʼ. Mungkin dengki. Mungkin gampang berburuk sangka. Atau apa saja. Jika ada tanda-tandanya, segera perbaiki hati kita dengan terus memperdalam ilmu agama, mudah-mudahan bertemu dengan obat dan solusinya. Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah mengingatkan, “Kebusukan-kebusukan yang tersembunyi adalah sebab terjadinya suʼul khatimah.” (Jamiʼul ‘Ulum wal Hikam, hlm. 181) 5. Membiasakan diri dengan amal kebaikan. Semoga amal baik itu melekat sampai akhir. Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi berkata, غالب الناس يموتون على ما يعيشون. “Seringnya, manusia meninggal di atas kebiasaannya.” (Tuhfatul Muhibbin, hlm. 60) ✍ -- Hari Ahadi @ Kota Raja _____________________________________________ Mari ikut berdakwah dengan turut serta membagikan artikel ini, asalkan ikhlas insyaallah dapat pahala. https://t.me/nasehatetam


Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan, “واعلم أنّ السبب في طول الأمل شيئان، أحدهما حُب الدنيا والثاني الجهل .” “Ketahuilah bahwa sebab seseorang itu panjang angan-angannya ada dua, yaitu cinta dunia dan kebodohan.” 📓 Mukhtashar Minhajil Qashidin 368


Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menegaskan, إن الله تعالى لا يُعذّبُ العامة بذنب الخاصّة ولكن إذا عُمِل المُنكرُ جهارًا، استحقُّوا العقوبة كلهم . “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menimpakan siksaan kepada manusia secara umum karena disebabkan dosa yang dilakukan oleh individu secara khusus (diam-diam). Namun jika kemungkaran telah dilakukan secara terang-terangan, mereka semuanya berhak untuk […]


AUDIO TANYA JAWAB ————————————- 📼 BAGAIMANA HUKUM SHOLAT BAGI SEORANG AKHWAT YANG BERMAKMUM DENGAN IMAM…


🔊💽 Daurah Telelink MTS – Ushulus Sunnah Lil Imam Al-Humaidi (Sesi 1 – 3) 💺Al-Ustadz Muhammad Rijal حفظه الله 📅 Daurah Telelink MTS ll Malaysia ll 25 Rabi…

Serial: Hadits 3 || Lima Amalan Besar dalam Islam عَنْ أَبِي عبدِ الرَّحمنِ عَبدِ اللَّهِ بنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: {بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقامِ الصَّلاَةِ، وإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ} . رواه البخاريُّ ومسلمٌ. Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Islam dibangun di atas lima amalan: syahadat laa ilaaha illallaah dan muhammadur rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” H.R. Al-Bukhari [8] dan Muslim [16]. _________ Petikan Hikmah dalam Hadits 1. Orang yang sengaja meninggalkan salah satu rukun Islam berada dalam bahaya besar. Karena rukun Islam ialah pondasi Islam seseorang. 2. Rukun Islam adalah ujian untuk mengukur tingkat keislaman (ketundukan) hamba kepada Allah. Apakah sudah tunduk sepenuhnya kepada Allah atau belum?! Karena itu, lima rukun Islam ini adalah amalan yang jenisnya berbeda-beda. Ada orang yang ringan berpuasa, tapi berat untuk shalat. Ada yang mudah berzakat, tapi susah untuk berpuasa. Ada yang mudah dalam mengerjakan shalat, tapi malas berzakat. [Lihat: Syarah al-‘Utsaimin, hlm. 96-98]. Yang kualitas Islam-nya baik dan hatinya sungguh-sungguh tunduk kepada Allah, maka ringan dalam melaksanakan seluruh rukun ini. 3. Shalat adalah ibadah agung. Rukun kedua setelah kalimat syahadat. Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Urusan shalat ini besar. Orang yang di hatinya ada keislaman tidak akan menganggap sepele shalat.” (Al-Minhah ar-Rabbaniyyah, hlm. 91) 4. Pelaksanaan shalat tidak sekedarnya. Bukan yang penting shalat. Tidak aneh jika setiap ayat atau hadits tentang perintah shalat selalu dengan lafazh “tegakkanlah shalat”. Arti menegakkan shalat: shalat dengan rukun yang sempurna, kewajiban yang lengkap, disertai sunnah-sunnahnya. Shalat yang bersih dari pembatal-pembatalnya dan amalan makruh di dalamnya. [Tuhfatul Muhibbin, hlm. 44]. Hal ini sekaligus bimbingan untuk belajar agama. Karena penegakan shalat baru terlaksana bila seseorang telah memahami ilmunya. ✍️ -- Hari Ahadi @ Kota Raja Mari ikut berdakwah dengan turut serta membagikan artikel ini, asalkan ikhlas insyaallah dapat pahala. https://t.me/nasehatetam


Muhammad bin Wasi’ rahimahullah apabila hendak tidur senantiasa mengatakan kepada keluarganya sebelum berbaring di tempat tidurnya, ﺃﺳﺘﻮﺩﻋﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻠﻌﻠﻬﺎ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﻨﻴَّﺘﻲ التي لا أقوم فيها ‘Aku titipkan kalian kepada Allah. Barangkali malam ini adalah kematianku yang aku tidak bisa bangun lagi.’ Demikianlah kebiasaan beliau ketika hendak tidur.” [Qoshr al-Amal 1/147]


{ مَن كَانَ یُرِیدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِیعًاۚ } ‘Siapa saja yang mengharapkan kemuliaan, maka seluruh kemuliaan adalah milik Allah.’ (QS. Fathir: 10) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy rahimahullah menjelaskan, “يا من يريد العزة، اطلبها ممن هي بيده، فإن العزة بيد اللّه، ولا تنال إلا بطاعته.” “Wahai siapa saja yang menginginkan kemuliaan, maka mintalah kepada […]

 .(167) Semangat Thalabul Ilmi Syaikh Ubaid Al Jabiri Di sini, di Mekkah, 400 km lebih dari arah utara sana, di kota Madinah, saya hanya bisa berdoa lalu terdiam. Tak bisa mensalatkan dan tak dapat turut memakamkan beliau di Pekuburan Baqi'. Entah disebut apa rasa di hati ini. Dibilang dekat, namun jauh dan terkendala. Dikata jauh, tetapi masih dalam jarak tempuh. Berita wafatnya Syaikh Ubaid Al Jabiri tersebar cepat dalam waktu singkat. Menyebar ke berbagai penjuru dunia. اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيه ْراَجِعُوْنَ ...اللهُمَّ، اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ - أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ Kurang lebih 10 tahun yang lalu, Syaikh Ubaid Al Jabiri yang telah lanjut usia, kisaran 70 tahun, rela menempuh jarak jauh dari Arab Saudi untuk mengunjungi umat Islam di Indonesia. Tidak ada sama sekali mengeluh lelah. Tidak terucap satu kata pun yang menunjukkan capek. Di usia yang lanjut, Syaikh Ubaid mengajarkan untuk kita bagaimana cara merawat semangat berdakwah. Syaikh Ubaid Al Jabiri lahir pada tahun 1357 H. Di sebuah desa bernama Al Faqir di Lembah Al Far'i, provinsi Madinah. Ayah beliau yang bergabung perusahaan tambang emas di wilayah lain, mau tak mau membuat Syaikh Ubaid yang masih berusia 7 atau 8 tahun ikut berpindah. Setelah 8 tahun, perusahaan tersebut berhenti beroperasi atau dinyatakan bangkrut. Syaikh Ubaid beserta keluarga pulang kampung di Lembah Al Far'i. Karena alasan keluarga dan hal yang lain, pendidikan Syaikh Ubaid sempat terhenti bertahun-tahun. Namun, semangat belajar beliau tidak menguap. Tahun 1381, di usia yang ke- 24, Syaikh Ubaid melanjutkan pendidikan agama di Darul Hadis Kota Madinah. Setelah 2 tahun, thalabul Ilmi beliau lanjutkan di Ma'had Al Ilmi selama 5 tahun. Di usia 31 tahun, Syaikh Ubaid memilih untuk kuliah di Universitas Islam Madinah dan lulus 4 tahun kemudian. Semasa menjadi dosen di Universitas Islam Madinah - di kurun tahun 1407-1414 H -, semangat thalabul ilmi beliau tidak pudar. Program magister beliau selesaikan. Andaikan dihitung dari tahun pertama beliau menjadi dosen, paling tidak di usia 47 tahun beliau baru mengambil program magister. Usia yang tak lagi muda. Tetapi, bukan alasan surut langkah thalabul ilmi. Beliau yang telah puluhan tahun berdakwah dan menjadi pengajar, seperti tak kenal henti untuk belajar. Walaupun telah pensiun sebagai dosen Universitas Islam Madinah di usia 60 tahun, Syaikh Ubaid tetap aktif dan produktif dalam berkarya. Dakwah tetap berjalan. Kajian-kajian beliau di berbagai masjid selalu penuh oleh para penuntut ilmu. Tidak hanya di Arab Saudi, Syaikh Ubaid juga menyempatkan diri untuk memenuhi undangan Kajian di berbagai negara, termasuk Indonesia. t.me/anakmudadansalaf