Artikel Islami

Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Hukum Ucapan "Shadaqallahul 'adzim" Setelah Membaca Al-Quran
Atsar.id
Atsar.id

Hukum Ucapan "Shadaqallahul 'adzim" Setelah Membaca Al-Quran

Fatwa Asy syaikh Muhammad bin Saleh Al utsaimin rahimahullah HUKUM UCAPAN :" SHODAQOLLOOHUL 'ADZIIM " SETELAH SELESAI MEMBACA AL QUR'AN&nbsp. BAARAKALLAHU FIIKUM ,( penanya) berkata: " Ketika selesai dari membaca surat Al fatihah dan surat setelahnya apakah boleh mengucapkan " shodaqolloohul 'adziim"(Maha Benar Allah Yang maha Agung) ?" JAWAB : " Ucapan shodaqolloohul 'adziim setelah selesai membaca di dalam shalat atau selainnya adalah BID'AH , karena hal itu tidaklah datang dari Nabi shalallaahu 'alaihi wa sallam tidak pula dari para shahabat beliau bahwasanya mereka apabila selesai membaca (Al Qur'an) mengucapkan "shodaqolloohul 'adziim " Dan telah di ketahui bahwasanya ucapan seseorang : "shodaqolloh" merupakan ย IBADAH , karena dia memuji Allah dengan bersyukur , apabila hal itu merupakan IBADAH maka sesungguhnya TIDAK BOLEH bagi kita untuk mensyariatkan ibadah - ibadah yang tidak ย di syariatkan oleh Allah dan RasulNya , jika kita mengerjakan hal itu adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat . Berdasarkan hal ini maka orang yang membaca apabila selesai dari bacaannya ia diam dan tidak mengucapkan "shodaqolloohul 'adziim" tidak pula mengucapkan selainnya , karena yang demikian tidak pernah datang (perintah) dari Nabi shallallahu 'alaihi wa salam tidak pula dari para shahabat beliau radhiyallohu 'anhum .Sungguh Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu telah membacakan kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa salam ย sebuah ayat dari surat An Nisa hingga sampai pada ayat : ููŽูƒูŽูŠู’ููŽ ุฅูุฐูŽุง ุฌูุฆู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุจูุดูŽู‡ููŠุฏู ูˆูŽุฌูุฆู’ู†ูŽุง ุจููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุคูู„ุงูŽุกู ุดูŽู‡ููŠุฏู‹ุง {Bagaimanakah jika Aku datangkan saksi untuk setiap umat, Aku datangkan kamu sebagai saksi bagi mereka semua.} Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam bersabda :" CUKUP !" Ia berkata : Ternyata kedua mata beliau berlinangan semoga sholawat dan salam atas beliau .Dan Ibnu Mas'ud tidak mengucapkan : Shodaqollooh , dan tidak pula Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam memerintahkan beliau dengan hal itu .Demikian juga Zaid Bin Tsabit pernah membaca di sisi beliau-sholallohu 'alaihi wa sallam ย surat An Najm hingga selesai dan Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam tidak berkata kepada beliau : " Ucapkanlah shodaqolloohul 'adziim." dan (Zaid bin tsabit) juga tidak mengucapkannya . Maka hal ini menunjukan bahwasanya ย bukan termasuk petunjuk Nabi sholallohu 'alaihi wa salam dan juga bukan petunjuk para shahabat beliau seseorang ketika selesai membaca mengucapkan : shodaqollohul 'adziim tidak didalam sholat maupun di luar sholat ." Sumber: Silsilah fatawa nur 'alad darb ,kaset no 237 BACA : Sunnah Yang Ditinggalkan Setelah Membaca Al-Quran =========== ๐Ÿ”ต ุงู„ุณุคุงู„ : ุจุงุฑูƒ ุงู„ู„ู‡ ููŠูƒู… ุชู‚ูˆู„ : ุนู†ุฏ ุงู„ุงู†ุชู‡ุงุก ู…ู† ู‚ุฑุงุกุฉ ุณูˆุฑุฉ ุงู„ูุงุชุญุฉ ูˆุงู„ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุชูŠ ุชู„ูŠู‡ุง ู‡ู„ ูŠุฌูˆุฒ ู‚ูˆู„ ุตุฏู‚ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุธูŠู…ุŸ ๐Ÿ”ด ุงู„ุฌูˆุงุจ : ุงู„ุดูŠุฎ : ู‚ูˆู„ ุตุฏู‚ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุธูŠู… ุจุนุฏ ุงู†ุชู‡ุงุก ุงู„ุชู„ุงูˆุฉ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉุŒ ุฃูˆ ููŠ ุบูŠุฑู‡ุง ุจุฏุนุฉุŒ ูˆุฐู„ูƒ ู„ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠุฑุฏ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู„ุง ุนู† ุฃุตุญุงุจู‡ ุฃู†ู‡ู… ูƒุงู†ูˆุง ุฅุฐุง ุงู†ุชู‡ูˆุง ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉุŒ ู‚ุงู„ูˆุง : ุตุฏู‚ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆู…ู† ุงู„ู…ุนู„ูˆู… ุฃู† ู‚ูˆู„ ุงู„ู‚ุงุฆู„ : ุตุฏู‚ ุงู„ู„ู‡ ุนุจุงุฏุฉุ› ู„ุฃู†ู‡ ุซู†ุงุก ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุจุงู„ุดูƒุฑุŒ ูˆุฅุฐุง ูƒุงู† ุนุจุงุฏุฉุŒ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ู†ุดุฑุน ู…ู† ุงู„ุนุจุงุฏุงุช ู…ุง ู„ู… ูŠุดุฑุนู‡ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ุŒ ูุฅู† ูุนู„ู†ุง ุฐู„ูƒ ูƒุงู† ุจุฏุนุฉุŒ ูˆูƒู„ ุจุฏุนุฉ ุถู„ุงู„ุฉุŒ ูˆุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ูุงู„ู‚ุงุฑุฆ ุฅุฐุง ุงู†ุชู‡ู‰ ู…ู† ู‚ุฑุงุกุชู‡ ูŠุณูƒุชุŒ ูˆู„ุง ูŠู‚ูˆู„: ุตุฏู‚ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุธูŠู… ูˆู„ุง ุบูŠุฑู‡ุงุ› ู„ุฃู† ุฐู„ูƒ ู„ู… ูŠุฑุฏ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ูˆู„ุง ุนู† ุฃุตุญุงุจู‡ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุŒ ูˆู‚ุฏ ู‚ุฑุฃ ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุดูŠุฆุงู‹ ู…ู† ุณูˆุฑุฉ ุงู„ู†ุณุงุก ุญุชู‰ ุฅุฐุง ุจู„ุบ ู‚ูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ๏ดฟููŽูƒูŽูŠู’ููŽ ุฅูุฐูŽุง ุฌูุฆู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ูƒูู„ูู‘ ุฃูู…ูŽู‘ุฉู ุจูุดูŽู‡ููŠุฏู ูˆูŽุฌูุฆู’ู†ูŽุง ุจููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุคูู„ุงุกู ุดูŽู‡ููŠุฏุงู‹๏ดพ. ู‚ุงู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ยซุญุณุจูƒยป. ู‚ุงู„: ูุฅุฐุง ุนูŠู†ุงู‡ ุชุฒุฑูุงู† ุตู„ูˆุงุช ุงู„ู„ู‡ ูˆุณู„ุงู…ู‡ ุนู„ูŠู‡. ูˆู„ู… ูŠู‚ู„ ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ: ุตุฏู‚ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆู„ุง ุฃู…ุฑู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุจุฐู„ูƒุŒ ูˆูƒุฐู„ูƒ ู‚ุฑุฃ ุนู†ุฏู‡ ุฒูŠุฏ ุจู† ุซุงุจุช ุณูˆุฑุฉ ุงู„ู†ุฌู… ุญุชู‰ ุฎุชู…ู‡ุงุŒ ูˆู„ู… ูŠู‚ู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู‡ุŒ ู‚ู„: ุตุฏู‚ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุธูŠู…. ูˆู„ุง ู‚ุงู„ู‡ุง ุฃูŠุถุงู‹ุŒ ูุฏู„ ู‡ุฐุง ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ู…ู† ู‡ุฏูŠ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ูˆู„ุง ู‡ุฏูŠ ุฃุตุญุงุจู‡ ุฃู† ูŠู‚ูˆู„ูˆุง ุนู†ุฏ ุงู†ุชู‡ุงุก ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ: ุตุฏู‚ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุธูŠู… ู„ุง ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆู„ุง ุฎุงุฑุฌ ุงู„ุตู„ุงุฉ. ๐Ÿ“šุงู„ู…ุตุฏุฑ : ุณู„ุณู„ุฉ ูุชุงูˆู‰ ู†ูˆุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุฏุฑุจ > ุงู„ุดุฑูŠุท ุฑู‚ู… [237]. โ•โ•โ•โ•โ•โ• โโœฟโ โ•โ•โ•โ•โ•โ• โœ๏ธ https://telegram.me/washayasalaf

bid'ah
Feb 10, 2016โ€ข5 min read
Jika dengan Melihat Seseorang Tidak Bisa Memberimu Manfaat, Maka Ucapannya Pun Tidak Akan Memberimu Manfaat
Atsar.id
Atsar.id

Jika dengan Melihat Seseorang Tidak Bisa Memberimu Manfaat, Maka Ucapannya Pun Tidak Akan Memberimu Manfaat

JIKA DENGAN MELIHAT SESEORANG TIDAK BISA MEMBERIMU MANFAAT, MAKA UCAPANNYA PUN TIDAK AKAN MEMBERIMU MANFAAT Asy-Syaikh Muhammad Saโ€™id Ruslan hafizhahullah Kaedah-kaedah semacam ini โ€“wahai hamba-hamba Allahโ€“ kita ambil dari Kitabullah dan dari Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, serta dari bimbingan Masayikh Kibar yang mereka mengajari manusia tidak hanya dengan ucapan mereka saja, tetapi mereka mengajari manusia juga dengan akhlak dan kepribadian mereka. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah. Beliau jika para muridnya mengadakan sebuah majelis maka terkadang mereka menghabiskan waktu yang lama untuk saling mengingat keutamaan sifat-sifat beliau. Jadi sebuah majelis saja bisa berakhir tanpa bisa menyelesaikan untuk menyebutkan semua keutamaan beliau. Dan beliau adalah seorang yang terkenal dermawan, pemurah, seorang mujahid, suka memberi, zuhud, juga seorang muhaddits, ahli tafsir, dan seorang ulama yang banyak hafalannya, dan katakan apa yang engkau inginkan tentang beliau. Semoga Allah merahmati beliau. Namun bersamaan dengan semua itu, beliau mengatakan: ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู’ููุถูŽูŠู’ู„ูŽ ุจู’ู†ูŽ ุนููŠูŽุงุถู ุฌูุฏู‘ูุฏูŽ ู„ููŠู’ ุงู„ู’ุญูุฒู’ู†ู ูˆูŽุฃูŽุจู’ุบูŽุถู’ุชู ู†ูŽูู’ุณููŠู’. โ€œJika aku melihat Al-Fudhail bin Iyadh, maka muncullah kesedihan yang baru dan aku jadi membenci diriku sendiri.โ€ Beliau mengatakan: โ€œJika aku melihat Al-Fudhail bin Iyadh โ€“maksudnya: jika saya melihat wajahnyaโ€“ maka muncullah kesedihan yang baru โ€“maksudnya pada diri beliauโ€“ dan aku jadi membenci diriku sendiri.โ€ Lalu beliau mengatakan: ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู†ู’ููŽุนู’ูƒูŽ ู„ูŽุญู’ุธูู‡ู ููŽู„ูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ููŽุนูŽูƒูŽ ู„ูŽูู’ุธูู‡ู. โ€œDan barangsiapa yang penampilannya tidak memberimu manfaat, maka ucapannya pun tidak akan memberimu manfaat.โ€ Barangsiapa yang penampilannya tidak memberimu manfaat, maksudnya: jika engkau melihatnya, seharusnya engkau menjadi teringat kepada Allah dan memperbaiki diri. Jadi jika dengan memperhatikan penampilan seseorang tidak bisa memberimu manfaaat, maka ucapannya pun tidak akan memberimu manfaat. Maka kita memohon kepada Allah yang Maha Mulia Keagungan-Nya agar menjadikan ini semua sebagai sesuatu yang benar-benar kita perhatikan dengan serius dan menjadikan kita selalu mengingatnya, juga semoga Allah menyatukan tercerai berainya umat kita, menghilangkan penderitaan mereka, serta menghimpun mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yaa Allah, tuntunlah kami menuju keridhaan-Mu dan hadapkanlah hati kami kepada-Mu. Yaa Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang engkau beri hidayah, masukkan kami ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang Engkau berikan perhatian, bimbingan, dan pertolongan, dan lindungilah kami dan selamatkanlah kami dari keburukan yang Engkau tetapkanโ€ฆ ูˆูŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽุจููŠู‘ูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ูู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ. Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=147847 Alih Bahasa: Abu Almass Sabtu, 24 Dzulqaโ€™dah 1435 H

Adab & Akhlak
Feb 10, 2016โ€ข3 min read
Kisah yang Menakjubkan : "Buah dari Menunaikan Amanah"
Atsar.id
Atsar.id

Kisah yang Menakjubkan : "Buah dari Menunaikan Amanah"

KISAH MENAKJUBKAN NAN MENGHARUKAN Kisah ini terjadi pada salah satu ulama ahli hadits, beliau adalah Al Qadhi Muhamad bin Abdul Baqi Al Anshari Al Bazzar, beliau dikenal dengan julukan Qadhi Al Marastan, beliau meninggal pada tahun 535 Hijriyah. Kisah ini benar-benar menakjubkanku dan juga mengharukan. Padanya terdapat pelajaran yang banyak yang bisa kita petik dari kisah tersebut. Nah, penasaran kan? Ayo kita simak bersama-sama kisah ini! โ€œBUAH DARI MENUNAIKAN AMANAHโ€ Dikisahkan, pada suatu hari beliau sedang berada di Mekkah,&nbsp. bertepatan dengan musim haji. Pada saat itu, beliau kehabisan bekal, tidak memiliki harta sedikitpun dari harta dunia. Suatu hari, beliau ditimpa oleh rasa lapar yang luar biasa. Beliau akhirnya keluar untuk mencari sepotong roti atau sesuatu yang dapat mengganjal perutnya dari rasa lapar. Tiba-tiba beliau menemukan sebuah bungkusan dari kain sutra berwarna merah yang terjatuh di tanah. Beliau mengambil bungkusan tersebut dan membukanya. Beliau mendapatkan didalamnya sebuah kalung yang berharga terbuat dari permata, diperkirakan kalung tersebut senilai 50 ribu dinar. Beliau pun segera mengikatnya kembali dan menyimpannya. Tatkala beliau sedang menyusuri perjalanannya, tiba-tiba ada seorang laki-laki berteriak-teriak kehilangan kalung. Dia berteriak-teriak kepada manusia bahwa dia telah kehilangan bungkusan yang terbuat dari kain sutra. Dia menjanjikan bahwa barangsiapa yang menemukannya maka akan diberi hadiah 50 dinar. Al Qadhi pun bertanya kepada orang tersebut tentang isi bungkusan tersebut. Dia pun menjawab bahwa didalamnya terdapat sebuah kalung permata yang mahal. Kemudian beliau bertanya tentang ciri-ciri bungkusannya kepada orang tersebut. Ketika orang tersebut telah mengkabarkan ciri-ciri bungkusan kalung tersebut dengan benar, maka Al Qadhi bersegera mengembalikan bungkusan yang ia temukan kepada orang tersebut. Orang tersebut kemudian mengeluarkan 50 dinar dan diserahkan kepada Al Qadhi, namun beliau enggan menerimanya, sembari berkata: โ€œTidak sepantasnya bagiku mengambil upah dari barang temuan yang aku temukan dan aku kembalikan kepada pemiliknya. Sesungguhnya aku mengembalikan kalung ini kepadamu bukan karena aku berkeinginan besar untuk mendapatkan hadiah, tetapi aku berkeinginan besar untuk mendapatkan keridhoan Rabb-ku. Sungguh luar biasa! Beliau enggan menerima hadiah tersebut,ย  padahal beliau sedang dalam keadaan ditimpa kelaparan dan belum mendapatkan sepotong roti yang kering yang bisa mengganjal perutnya dari kelaparan. Pemilik bungkusan tersebut akhirnya mendoakan kebaikan untuk beliau, lalu pergi meninggalkannya. Al Qadhi Al Muhaddits menetap beberapa hari di Mekkah, kemudian beliau putuskan untuk pergi naik kapal, barangkali bisa menemukan sesuatu yang bisa dijadikan modal. Tatkala beliau berada ditengah laut, tiba-tiba datanglah badai, mengombang-ambingkan kapal beliau, sampai akhirnya badai tersebut menghantam dan menghancurkan kapal serta menenggelamkannya. Al Qadhi bertaut pada sebuah papan pecahan perahu. Beliau terus bertautan dengannya, sedangkan ombak terus mengombang-ambingkan beliau selama beberapa hari ditengah laut, sampai akhirnya menghempaskan beliau ke daratan. Sungguh-sungguh beliau telah kehabisan tenaga dan tertimpa keletihan yang sangat. Beliau berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya dan menyeret tubuhnya hingga sampai di sebuah masjid. Setelah tiba didalam masjid, beliau tersungkur jatuh karena keletihan dan kelaparan. Beliau tidak tahu tempat apa yang dia singgahi ini, dan tidak pula mengenal seorang pun dari penduduk tempat tersebut. Datanglah seorang penduduk dan masuk kedalam masjid, dan tatkala dia melihat Al Qadhi, lalu dia mendekatinya dan bertanya tentang keadaan beliau. Beliau pun menceritakan apa yang telah menimpa beliau. Setelah beliau menceritakan kisahnya, orang tersebut menghidangkan makanan dan minuman serta pakaian untuk menghangatkan badan. Orang tersebut mengkabarkan bahwa penduduk negeri ini sedang mencari orang yang bisa dipekerjakan sebagai imam shalat di dalam masjid ini. Dan ketika Al Qadhi menyampaikan bahwa dia telah hafal Al Quran, maka bersegera penduduk negeri tersebut mempekerjakan beliau untuk menjadi imam masjid. Dan ketika mereka tahu bahwa beliau pintar menulis, maka mereka bersegera mempekerjakan beliau untuk juga menjadi guru untuk mengajari anak-anak mereka. Beliau berkata: โ€œAkhirnya aku pun mendapatkan uang dari pekerjaan tersebut, kini keadaanku jauh lebih baikโ€. Suatu hari, penduduk negeri datang menemuiku, mereka berkata: โ€œSesungguhnya kami memiliki anak perempuan yang yatim, kami ingin menikahkan dia denganmu.โ€ Mereka terus mendesakku, dan akhirnya aku pun setuju. Tatkala mereka membawaku masuk untuk menemui anak perempuan tersebut, aku melihat sebuah kalung mutiara yang indah melingkar di lehernnya. Aku tidak dapat mengedipkan mataku memandangi kalung tersebut, aku benar-benar dalam keadaan bingung dan heran. Kalung tersebut adalah kalung yang aku temukan di Mekkah. Tatkala aku masih terus memandang kalung tersebut, tiba-tiba saja anak perempuan tersebut lari keluar sambil menangis terisak-isak. Ia berkata kepada penduduk negeri,ย  โ€œSesungguhnya dia (Al Qadhi) tidak ingin melihat wajahku, dia hanya mengangkat pandangannya ke kalung yang tergelantung didadaku.โ€ Keesokan harinya, ketika aku selesai mengimami mereka shalat Shubuh, mereka menyampaikan kepadaku tentang keluhan anak perempuan itu. Aku pun menceritakan kepada mereka,ย  bahwa dulu aku menemukan kalung itu tergeletak di tanah di Al Masjidil Haram terbungkus oleh kain sutra berwarna merah, kemudian aku kembalikan kepada pemiliknya. Tiba-tiba saja mereka semua bertakbir, โ€œAllahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!โ€, Masjid bergema, sampai-sampai masjid terasa bergetar disebabkan oleh takbir-takbir mereka. Kemudian mereka menceritakan kepadaku, bahwa pemilik kalung tersebut adalah ayah dari anak perempuan yang yatim tersebut, dia tidak memiliki anak selain dia. Dahulu ayahnya menjadi imam shalat di masjid ini. Dia sudah meninggal dunia pada tahun yang lalu. Semenjak dia pulang dari ibadah haji, dia tidak pernah berhenti berdoa dengan doa ini, dan kami pun men-amin-kan dibelakangnya: โ€œWahai Rabb-ku, aku tidak pernah mendapatkan seorang pun semisal orang yang menemukan kalungku, Wahai Rabb-ku, pertemukanlah aku dengannya, sehingga aku bisa menikahkan dia dengan anak perempuanku satu-satunya!โ€ โ€œSungguh Allah telah mengkabulkan doanya, Allah telah mendatangkanmu kesini dan menikahkanmu dengan anak perempuannya, meskipun setelah ayahnya meninggal.โ€ INILAH BALASAN DARI PENUNAIAN AMANAH DANย  KEMURNIAN DIRI. Sumber: โ€œMirโ€™aatuz Zamaan Fi Tarikhul Aโ€™yanโ€. Diringkas oleh Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah. Kemudian Ibnu Rajab rahimahullah berkata: โ€œSungguh kisah ini terkandung didalamnya faedah bahwa tidak boleh menerima hadiah dari penunaian sebuah amanah, karena wajib baginya mengembalikan suatu amanah tanpa upah balasan, hal ini jika dia mengambil barang temuan tersebut tidak diniatkan untuk mendapatkan upah yang telah dipersyaratkan. Telah ternukil dari Imam Ahmad -semoga Allah meridhoinya- bahwa termasuk yang semisal ini adalah wadhiโ€™ah (barang titipan). Tidak boleh bagi orang yang mengembalikan barang titipan kepada pemiliknya mengambil hadiahnya, kecuali jika memang dia niatkan (dari amalannya) untuk mendapatkan upah.โ€ Berkata Ibnu Rajab rahimahullah: โ€œDemikian pula dikisahkan kisah ini oleh Yusuf bin Khalil Al Hafizh dalam kitabnya โ€˜Al Muโ€™jamโ€. Semoga kisah ini banyak memberikan faedah yang bermanfaat untuk kita semua. Barakallahu fikum. Lihat: Dzail Thabaqat Al Hanabilah: 1/434. Siyar Aโ€™lam An Nubala: 20/23. Syadzarat Adz Dzahab 4/108. Alih bahasa: Abu Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi. ~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~ WA. Permata Muslimah Salafiyyah ุฅุชุจุงุน ุงู„ุณู†ุฉ Ittibaโ€™us Sunnah http://ittibaus-sunnah.net/kisah-menakjubkan-nan-mengharukan/ Kajian terkait :

Inspiratif
Feb 9, 2016โ€ข11 min read
Jalan Golongan yang Selamat (Firqatun Najiyah) & Kelompok yang Mendapat Pertolongan (Thaifah al-Manshurah)
Atsar.id
Atsar.id

Jalan Golongan yang Selamat (Firqatun Najiyah) & Kelompok yang Mendapat Pertolongan (Thaifah al-Manshurah)

BAGIAN 1 GOLONGAN YANG SELAMAT 1. Allah berfirman: โ€œDan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.โ€ (Ali Imran: 103) โ€œDan janganlah kamu termasuk orang-orang yang memperse-kutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap go-longan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan me-reka.โ€ (Ar-Ruum: 31-32) 2. Nabi bersabda: โ€œAku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan taโ€™at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu, berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafaโ€™ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang di-ada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu ada-lah bidโ€™ah, sedangkan setiap bidโ€™ah adalah sesat (dan setiap yang sesat tempatnya di dalam Neraka).โ€ (HR. Nasaโ€™i dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih). 3. Dalam hadits yang lain Nabi bersabda: โ€œKetahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tem-patnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jamaโ€™ah.โ€ (HR. Ahmad dan yang lain. Al-Hafidh menggo-longkannya hadits hasan) 4. Dalam riwayat lain disebutkan: โ€œSemua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku meniti di atasnya.โ€ (HR. At-Tirmidzi, dan di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jamiโ€™ 5219) 5. Ibnu Masโ€™ud meriwayatkan: โ€œRasulullah membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, โ€˜Ini jalan Allah yang lurus.โ€™ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, โ€˜Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau mem-baca firman Allah , โ€˜Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mence-raiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintah-kan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.โ€ (Al-Anโ€™am: 153) (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasaโ€™i) 6. Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam kitabnya Al-Ghunyah berkata, โ€œโ€ฆ adapun Golongan Yang Selamat yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah. Dan Ahlus Sunnah, tidak ada nama lain bagi mereka kecuali satu nama, yaitu Ashhabul Hadits (para ahli hadits).โ€ 7. Allah memerintahkan agar kita berpegang teguh kepada Al-Qurโ€™anul Karim. Tidak termasuk orang-orang musyrik yang memecah belah agama mereka menjadi beberapa golongan dan kelompok. Rasulullah mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani telah berpecah belah menjadi banyak golongan, sedang umat Islam akan berpecah lebih banyak lagi, golongan-golongan tersebut akan masuk Neraka karena mereka menyimpang dan jauh dari Kitabullah dan Sunnah NabiNya. Hanya satu Golongan Yang Selamat dan mereka akan masuk Surga. Yaitu Al-Jamaah , yang berpegang teguh kepada Kitab dan Sunnah yang shahih, di samping melakukan amalan para sahabat dan Rasulullah . Ya Allah, jadikanlah kami termasuk dalam golongan yang selamat (Firqah Najiyah). Dan semoga segenap umat Islam termasuk di dalamnya. BAGIAN 2 MANHAJ (JALAN) GOLONGAN YANG SELAMAT 1. Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah dalam hidupnya, serta manhaj para sahabat sesudahnya. Yaitu Al-Qurโ€™anul Karim yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yang beliau jelaskan kepada para sahabatnya dalam hadits-hadits shahih. Beliau memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh kepa-da keduanya: โ€œAku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga kedua-nya menghantarku ke telaga (Surga).โ€ (Di-shahih-kan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jamiโ€™) 2. Golongan Yang Selamat akan kembali (merujuk) kepada Kalamullah dan RasulNya tatkala terjadi perselisihan dan pertentangan di antara mereka, sebagai realisasi dari firman Allah: โ€œKemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembali-kanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibat-nya.โ€ (An-Nisaaโ€™: 59) โ€œMaka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.โ€ (An-Nisaaโ€™: 65) 3. Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan RasulNya, realisasi dari firman Allah: โ€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguh-nya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.โ€ (Al-Hu-jurat: 1) Ibnu Abbas berkata: โ€œAku mengira mereka akan binasa. Aku mengatakan, โ€˜Nabi bersabda, sedang mereka mengatakan, โ€˜Abu Bakar dan Umar berkataโ€™.โ€ (HR. Ahmad dan Ibnu โ€˜Abdil Barr) 4. Golongan Yang Selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid. Mengesakan Allah dengan beribadah, berdoโ€™a dan memohon pertolongan โ€“baik dalam masa sulit maupun lapangโ€“, menyembelih kurban, bernadzar, tawakkal, berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dan berbagai bentuk ibadah lain yang semuanya menjadi dasar bagi tegaknya Daulah Islamiyah yang benar. Menjauhi dan membasmi berbagai bentuk syirik dengan segala simbol-simbolnya yang banyak ditemui di negara-negara Islam, sebab hal itu merupakan konsekuensi tauhid. Dan sungguh, suatu golongan tidak mungkin mencapai kemenangan jika ia meremehkan masalah tauhid, tidak memben-dung dan memerangi syirik dengan segala bentuknya. Hal-hal di atas merupakan teladan dari para rasul dan Rasul kita Muhammad . 5. Golongan Yang Selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya. Karena itu mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaum-nya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi : โ€œSesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.โ€ (HR. Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: โ€œDan keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang yang (tetap) berbuat baik ketika manusia sudah rusak.โ€ (Al-Albani berkata, โ€œHadits ini diriwayatkan oleh Abu Amr Ad-Dani dengan sanad shahihโ€) 6. Golongan Yang Selamat tidak berpegang kecuali kepada Kalamullah dan Kalam RasulNya yang maksum, yang ber-bicara dengan tidak mengikuti hawa nafsu. Adapun manusia selainnya, betapapun tinggi derajatnya, terkadang ia melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi : โ€œSetiap bani Adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.โ€ (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad) Imam Malik berkata, โ€œTak seorang pun sesudah Nabi &nbsp.melain-kan ucapannya diambil atau ditinggalkan (ditolak) kecuali Nabi (yang ucapannya selalu diambil dan diterima).โ€ 7. Golongan Yang Selamat adalah para ahli hadits. Tentang mereka Rasulullah bersabda: โ€œSenantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghina-kan mereka sehingga datang keputusan Allah.โ€ (HR. Muslim) Seorang penyair berkata, โ€œAhli hadits itu, mereka ahli (keluarga) Nabi, sekalipun mereka tidak bergaul dengan Nabi, tetapi jiwa mereka bergaul dengannya. 8. Golongan Yang Selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang di antara mereka. Golongan Yang Selamat mengambil fiqih (pemahaman hukum-hukum Islam) dari Al-Qurโ€™an, hadits-hadits yang shahih, dan pendapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih. Hal ini sesuai dengan wasiat mereka, yang menganjurkan agar para pengikutnya mengambil hadits shahih, dan meninggalkan setiap pendapat yang bertentangan dengannya. 9. Golongan Yang Selamat menyeru kepada yang maโ€™ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka melarang segala jalan bidโ€™ah dan sekte-sekte yang meng-hancurkan serta memecah belah umat. Baik bidโ€™ah dalam hal agama maupun dalam hal sunnah Rasul dan para sahabatnya. 10. Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan para sahabatnya. Sehingga mereka mendapatkan pertolongan dan masuk Surga atas anugerah Allah dan syafaโ€™at Rasulullah โ€“dengan izin Allahโ€“. 11. Golongan Yang Selamat mengingkari peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia apabila undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Golongan Yang Selamat mengajak manusia berhukum kepada Kitabullah yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Allah Maha Mengetahui sesuatu yang lebih baik bagi mereka. Hukum-hukumNya abadi sepanjang masa, cocok dan relevan bagi penghuni bumi sepanjang zaman. Sungguh, sebab kesengsaraan dunia, kemerosotan, dan mundur-nya khususnya dunia Islam, adalah karena mereka meninggalkan hukum-hukum Kitabullah dan sunnah Rasulullah. Umat Islam tidak akan jaya dan mulia kecuali dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam, baik secara pribadi, kelompok maupun secara pemerintahan. Kembali kepada hukum-hukum Kitabullah, sebagai realisasi dari firmanNya: โ€œSesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.โ€ (Ar-Raโ€™ad: 11) 12. Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam ber-jihad di jalan Allah. Jihad adalah wajib bagi setiap Muslim sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya. Jihad dapat dilakukan dengan: Pertama, jihad dengan lisan dan tulisan: Mengajak umat Islam dan umat lainnya agar berpegang teguh dengan ajaran Islam yang shahih, tauhid yang murni dan bersih dari syirik yang ternyata banyak terdapat di negara-negara Islam. Rasu-lullah telah memberitakan tentang hal yang akan menimpa umat Islam ini. Beliau bersabda: โ€œHari Kiamat belum akan tiba, sehingga kelompok-kelompok da-ri umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sehingga kelom-pok-kelompok dari umatku menyembah berhala-berhala.โ€ (Ha-dits shahih , riwayat Abu Daud, hadits yang semakna ada dalam riwayat Muslim) Kedua, jihad dengan harta: Menginfakkan harta buat penyebaran dan peluasan ajaran Islam, mencetak buku-buku dakwah ke jalan yang benar, memberikan san-tunan kepada umat Islam yang masih lemah iman agar tetap memeluk agama Islam, memproduksi dan membeli senjata-senjata dan peralatan perang, memberikan bekal kepada para mujahidin, baik berupa ma-kanan, pakaian atau keperluan lain yang dibutuhkan. Ketiga , jihad dengan jiwa:Bertempur dan ikut berpartisipasi di medan peperangan untuk kemenangan Islam. Agar kalimat Allah ( Laa ilaaha illallah) tetap jaya sedang kalimat orang-orang kafir (syirik) menjadi hina. Dalam hu-bungannya dengan ketiga perincian jihad di atas, Rasulullah r meng-isyaratkan dalam sabdanya: โ€œPerangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisanmu.โ€ (HR. Abu Daud, hadits shahih) Adapun hukum jihad di jalan Allah adalah: Pertama , fardhu โ€˜ain:Berupa perlawanan terhadap musuh-musuh yang melakukan ag-resi ke beberapa negara Islam wajib dihalau. Agresor-Agresor Yahudi misalnya, yang merampas tanah umat Islam di Palestina. Umat Islam yang memiliki kemampuan dan kekuatan โ€“jika berpangku tanganโ€“ ikut berdosa, sampai orang-orang Yahudi terkutuk itu enyah dari wilayah Palestina. Mereka harus berupaya mengembalikan Masjidil Aqsha ke pangkuan umat Islam dengan kemampuan yang ada, baik dengan harta maupun jiwa. Kedua, fardhu kifayah: Jika sebagian umat Islam telah ada yang melakukannya maka sebagian yang lain kewajibannya menjadi gugur. Seperti dakwah mengembangkan misi Islam ke negara-negara lain, sehingga berlaku hukum-hukum Islam di segenap penjuru dunia. Barangsiapa meng-halangi jalan dakwah ini, ia harus diperangi, sehingga dakwah Islam dapat berjalan lancar. BAGIAN 3 TANDA TANDA GOLONGAN YANG SELAMAT 1. Golongan Yang Selamat jumlahnya sangat sedikit di tengah banyaknya Umat Manusia . Tentang keadaan mereka, Rasulullah bersabda, โ€œKeuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang shalih di lingkungan orang banyak yang berperangai buruk, orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada orang yang mentaโ€™atinya.โ€ (HR. Ahmad, hadits shahih) Dalam Al-Qurโ€™anul Karim, Allah memuji mereka dengan firman-Nya, โ€œDan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.โ€ (Sabaโ€™: 13) 2. Golongan Yang Selamat banyak dimusuhi oleh manusia, difitnah dan dilecehkan dengan gelar dan sebutan yang buruk. Nasib mereka seperti nasib para nabi yang dijelaskan dalam firman Allah, โ€œDan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).โ€ (Al-Anโ€™am: 112) Rasulullah misalnya, ketika mengajak kepada tauhid, oleh kaumnya beliau dijuluki sebagai โ€œtukang sihir lagi sombongโ€. Padahal sebelumnya mereka memberi beliau julukan โ€œash-shadiqul aminโ€, yang jujur dan dapat dipercaya. 3. Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang Golongan Yang Selamat, beliau menjawab, โ€œMereka adalah orang-orang salaf dan setiap orang yang mengikuti jalan para salafush shalih (Rasulullah, para sahabat dan setiap orang yang mengikuti jalan petunjuk mereka).โ€ Hal-hal di atas adalah sebagian dari manhaj dan tanda-tanda Golongan Yang Selamat. Pada pasal-pasal berikut akan dibahas masalah akidah Golongan Yang Selamat yaitu golongan yang mendapat pertolongan. Semoga kita termasuk mereka yang berakidah Firqah Najiyah (Golongan Yang Selamat) ini, Amin. BAGIAN 4 THAโ€™IFAH MANSHURAH (KELOMPOK YANG MENDAPAT PERTOLONGAN) Untuk mendapat jawaban, siapakah Thaโ€™ifah Manshurah yang bakal mendapat pertolongan Allah, marilah kita ikuti uraian berikut: 1. Rasulullah bersabda, โ€œSenantiasa ada sekelompok dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghina-kan mereka, sehingga datang keputusan Allah.โ€ (HR. Muslim) 2. Rasulullah bersabda, โ€œJika penduduk Syam telah rusak, maka tak ada lagi kebaikan di antara kalian. Dan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang mendapat pertolongan, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka, sehingga datang hari Kiamat.โ€ (HR. Ah-mad, hadits shahih) 3. Ibnu Mubarak berkata, โ€œMenurutku, mereka adalah ashha-bul hadits (para ahli hadits).โ€ 4. Imam Al-Bukhari menjelaskan, โ€œMenurut Ali bin Madini mereka adalah ashhabul hadits.โ€ 5. Imam Ahmad bin Hambal berkata, โ€œJika kelompok yang mendapat pertolongan itu bukan ashhabul hadits maka aku tidak mengetahui lagi siapa sebenarnya mereka.โ€ 6. Imam Syafiโ€™i berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, โ€œEngkau lebih tahu tentang hadits daripada aku. Bila sampai kepadamu hadits yang shahih maka beritahukanlah padaku, sehingga aku bermadzhab dengannya, baik ia (madzhab) Hejaz, Kufah maupun Bashrah.โ€ 7. Dengan spesialisasi studi dan pendalamannya di bidang sunnah serta hal-hal yang berkaitan dengannya, menjadikan para ahli hadits sebagai orang yang paling memahami tentang sunnah Nabi r, petunjuk, akhlak, peperangannya dan berbagai hal yang berkaitan dengan sunnah. Para ahli hadits โ€“semoga Allah mengumpulkan kita bersama merekaโ€“ tidak fanatik terhadap pendapat orang tertentu, betapa pun tinggi derajat orang. tersebut. Mereka hanya fanatik kepada Rasulullah . Berbeda halnya dengan mereka yang tidak tergolong ahli hadits dan mengamalkan kandungan hadits. Mereka fanatik terhadap pendapat imam-imam mereka โ€“padahal para imam itu melarang hal tersebutโ€“ sebagaimana para ahli hadits fanatik terhadap sabda-sabda Rasulullah. Karenanya, tidaklah mengherankan jika ahli hadits adalah kelompok yang mendapat pertolongan dan Golongan Yang Selamat. Khatib Al-Baghdadi dalam kitab Syarafu Ashhabil Hadits menulis, โ€œJika shahibur raโ€™yi disibukkan dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya, lalu dia mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah , niscaya dia akan mendapatkan sesuatu yang membuatnya tidak membutuhkan lagi selain sunnah. Sebab sunnah Rasulullah mengandung pengetahuan tentang dasar-dasar tauhid, menjelaskan tentang janji dan ancaman Allah, sifat-sifat Tuhan semesta alam, mengabarkan perihal sifat Surga dan Neraka, apa yang disediakan Allah di dalamnya buat orang-orang yang bertaqwa dan yang ingkar, ciptaan Allah yang ada di langit dan di bumi. Di dalam hadits terdapat kisah-kisah para nabi dan berita-berita orang-orang zuhud, para kekasih Allah, nasihat-nasihat yang menge-na, pendapat-pendapat para ahli fiqih, khutbah-khutbah Rasulullah dan mukjizat-mukjizatnyaโ€ฆ Di dalam hadits terdapat tafsir Al-Qurโ€™anul โ€˜Azhim kabar dan peringatan yang penuh bijaksana, pendapat-pendapat sahabat tentang berbagai hukum yang terpelihara โ€ฆ Allah menjadikan ahli hadits sebagai tiang pancang syariโ€™at. Dengan mereka, setiap bidโ€™ah yang keji dihancurkan. Mereka adalah pemegang amanat Allah di tengah para makhlukNya, perantara antara nabi dan umatnya, orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam me-melihara kandungan (matan) hadits, cahaya mereka berkilau dan ke-utamaan mereka senantiasa hidup. Setiap golongan yang cenderung kepada nafsu โ€“jika sadarโ€“ pasti kembali kepada hadits. Tidak ada pendapat yang lebih baik selain pendapat ahli hadits. Bekal mereka Kitabullah, dan Sunnah Rasulullah r adalah hujjah (argumentasi) mereka. Rasulullah kelompok mereka, dan kepada beliau nisbat mereka, mereka tidak mengindahkan berbagai pendapat, selain merujuk kepada Rasulullah. Barangsiapa menyusahkan mereka, niscaya akan dibinasakan oleh Allah, dan barangsiapa memusuhi mereka, niscaya akan dihinakan oleh Allah.โ€ Ya Allah, jadikanlah kami termasuk kelompok ahli hadits. Beri-lah kami rizki untuk bisa mengamalkannya, cinta kepada para ahli hadits dan bisa membantu orang-orang yang mengamalkan hadits. (Dikutip dari terjemah kitab Jalan Golongan Yang Selamat, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu) http://salafy.or.id/blog/2003/07/07/jalan-golongan-yang-selamat-bagian-i-iv/

Aqidah
Feb 9, 2016โ€ข15 min read
Tanda / Ciri Hati yang Selamat (Qolbun Salim)
Atsar.id
Atsar.id

Tanda / Ciri Hati yang Selamat (Qolbun Salim)

TANDA-TANDA HATI YANG SELAMAT Cover Buku Bismillah Allah Taโ€™ala berfirman, mengabarkan tentang doa Khalil-Nya Ibrahim alaihissalam yang memohon agar Allah tidak menghinakannya di hari ketika manusia dibangkitkan, yaitu (asy syuโ€™ara 88-89): ูŠูˆู… ู„ุง ูŠู†ูุน ู…ุงู„ ูˆู„ุง ุจู†ูˆู† (88) ุฅู„ุง ู…ู† ุฃุชู‰ ุงู„ู„ู‡ ุจู‚ู„ุจ ุณู„ูŠู… โ€œHari ketika tiada lagi berguna harta dan anak-anak kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah membawa hati yang selamat.โ€ ** Hati yang selamat adalah hati yang bersih dari syirik (besar ataupun kecil). Bersih (selamat) dari kecurangan, dendam, dengki, kikir, kibir, hubbuddunia (cinta dunia) dan kedudukan. Jadi, dia selamat dari semua kotoran yang menjauhkannya dari Allah. Selamat dari semua syubhat yang menyanggah beritaNya. Selamat dari semua syahwat yang menantang perintahNya. Selamat dari semua keinginan yang bersaing dengan apa yg di kehendakiNya. Selamat dari penghalang yang menghentikannya dari Allah. Hati yang selamat ini ada dalam surga dunia,alam barzakh dan akhirat. Tidaklah mutlak keselamatan itu &nbsp.sampai hati itu bersih dari 5 hal : 1. Dari syirik,yang berlawanan dengan tauhid. 2. Dari bidโ€™ah yang berlawanan dengan sunnah 3.Dari syahwat, yang menyelisihi perintah 4. Dari kelalaian, yang berlawanan dengan dzikir 5.Dari hawa nafsu, yang berlawanan dengan upaya pemurnian dan keikhlasan. Diantara tanda-tanda Qalbun Saliim adalah : A. Dia selamat/bersih dari rasa suka kepada hal2 yang tidak disukai oleh Allah. B. Hati itu selalu mnggerakkan pemiliknya agar senaniasa kembali kepada Allah dan bergantung kepadaNya. C. Hati itu tidak pernah putus mengingat Allah. D. Apabila disodorkan kepadanya sesuatu yg buruk,dia dengan naluri dan fitrahnya lari menjauh dan tidak menoleh kepadanya, bahkan membencinya E. Jika satu saja amal taat luput dikerjakannya, dia merasa kehilangan dan sakit. F.Dia selalu rindu ingin bertemu dengan Allah. G.Setiap mulai shalat, hilang darinya kesedihan dan cemas terhadap urusan dunia. H.Selalu menjaga waktunya untuk hal2 yg berguna,jauh dari yang sia-sia. I. Perhatian untuk memperbaiki amal lbh besar drpada mengerjakan amalan itu sendiri. ุงู„ู„ู‡ู… ุงุฑุฒู‚ู†ุง ู‚ู„ุจุง ุณุงู„ู…ุง Faidah dari Al Ustadz Idral Harits Hafizhahulloh Forward dari WhatsApp Salafy Indonesia Menghadap Allah dengan Hati yang Selamat Allah Azza Wa Jalla berfirman: ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ููŽุนู ู…ูŽุงู„ูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุจูŽู†ููˆู†ูŽ . ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุจูู‚ูŽู„ู’ุจู ุณูŽู„ููŠู…ู pada hari (kiamat) saat harta dan anak-anak tidak bermanfaat. Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (Q.S asy-Syu'araa' ayat 88-89). Penjelasan: Pada hari itu, seseorang tidak bisa menghindar dari adzab Allah. Dia tidak bisa membayar dgn hartanya sebagai ganti agar ia terhindar dari adzab Allah. Seandainya ia memiliki harta berupa emas sepenuh bumi, hal itu tidak bisa dijadikan tebusan dirinya agar terhindar dari adzab Allah. Hartanya tidak bisa memberi manfaat sedikitpun. Demikian juga anaknya. Apakah yang dimaksud dengan hati yang selamat? Sahabat Nabi Ibnu Abbas menjelaskan: itu adalah hati yang hidup yang mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah. Mujahid dan al-Hasan menyatakan: hati yang selamat dari kesyirikan. Said bin Musayyib berkata: itu adalah hati yang sehat, hatinya orang beriman. Sedangkan hati orang kafir dan munafiq adalah hati yang sakit. Abu Utsman anNaisabuuriy menyatakan: itu adalah hati yang kosong dari kebid'ahan, (penuh) ketenangan menuju Sunnah. (Disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah menyatakan: Hati yang selamat artinya adalah selamat dari kesyirikan, keraguan, kecintaan terhadap keburukan, terus menerus dalam kebid'ahan dan dosa. Justru sebaliknya hati itu berisi ikhlas, ilmu, keyakinan, cinta pada kebaikan, menghiasinya dalam hatinya. Kehendak dan cintanya mengikuti kecintaan Allah. Hawa nafsunya (ditundukkan) untuk mengikuti (ajaran) yang datang dari Allah. (Taisiir Kariimir Rahmaan fii Tafsiirri Kalaamil Mannaan (1/593)). (Abu Utsman Kharisman) WA al I'tishom Dikutip dari channel @alistiqomah HATI YANG SELAMAT Al-Imam al-โ€˜Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah, Hati yang sehat : adalah Hati yang Selamat, yang tidak akan selamat pada hari Kiamat kelak kecuali barangsiapa datang menghadap Allah dengan membawanya. Allah Taโ€™ala berfirman, โ€œPada hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali barangsiapa datang menghadap kepada dengan membawa hati yang selamat.โ€ (asy-Syuโ€™ara : 88-89) Hati yang Selamat adalah : hati yang selamat dari : semua syahwat yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah, dan semua semua syubhat yang menentang berita-berita dari-Nya. Jadi, hati tersebut selamat dari peribadatan kepada selain Allah, dan selamat dari berhukum kepada selain Rasul-Nya.โ€ Ighatsatu al-Lahfan, hlm 7. โ€œSeseorang tidak akan meraih keselamatan hati secara mutlak, hingga dia selamat dari lima hal : 1. Syirik, yang membatalkan Tauhid. 2. Bidโ€™ah, yang bertentangan dengan Sunnah. 3. Syahwat, yang bertangan dengan perintah. 4. Kelalaian, yang bertentangan dengan Dzikir. 5. Hawa nafsu, yang bertentangan dengan kemurnian dan keikhlasan. Kelima hal tersebut merupakan tirai penghalang dari Allah. Di bawah masing-masing hal tersebut ada banyak macam, masing-masing mengandung contoh-contoh yang tak terbatas. ad-Daaโ€™ wa ad-Dawaaโ€™, hlm. 138 Majmuโ€™ah Manhajul Anbiya https://telegram.me/ManhajulAnbiya QALBUN SALIM (HATI YANG SELAMAT) Mutiara Nasehat al-Imam Rabiโ€™ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah โ€œHarus ada perhatian terhadap perbaikan hati, dengan cara senantiasa konsisten di atas : โ–ช kejujuran, โ–ช ikhlash, โ–ช taubat, โ–ช inabah (selalu kembali kepada Allah, pen), โ–ช selalu merasa diawasi oleh Allah, โ–ช waspada dari riyaโ€™ , waspada dari hasad dan dengki, serta waspada dari semua yang merusak hati. Maka harus MEMBERSIHKAN hati. Karena tidak akan masuk Jannah (surga) kecuali barangsiapa berjumpa Allah dengan membawa Qalbun Salim (Hati yang Selamat). Hati yang Selamat adalah Hati yang selamat dari berbagai penyakit: Syirik, dusta, sombong, kufur nikmat, hasad, benci di jalan syaithan, dan berbagai sifat-sifat tercela lainnya.โ€ Sumber : al-Majmuโ€™ ar-Raaโ€™iq min al-Washaya wa az-Zuhdiyyaat wa ar-Raqaaโ€™iq Majmuโ€™ah Manhajul Anbiya TIDAK ADA YANG SELAMAT DI HARI ESOK (KIAMAT) KECUALI YANG DATANG DENGAN MEMBAWA HATI YANG BERSIH. Berkata Imam Ibnu Rojab ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ุชุนุงู„ู‰: โ€ู„ุง ูŠู†ุฌูˆ ุบุฏุง ุฅู„ุง ู…ู† ู„ู‚ูŠ ุงู„ู„ู‡ ุจู‚ู„ุจ ุณู„ูŠู… ู„ูŠุณ ููŠู‡ ุณูˆุงู‡ ุŒ ู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ {ูŠูˆู… ู„ุง ูŠู†ูุน ู…ุงู„ ูˆู„ุง ุจู†ูˆู† ุฅู„ุง ู…ู† ุฃุชู‰ ุงู„ู„ู‡ ุจู‚ู„ุจ ุณู„ูŠู…} โ€œTidak akan ada yang selamat esok hari kecuali orang-orang yang berjumpa dengan Alloh dengan (membawa) hati yang bersih yang tidak ada di dalamnya selain darinya, (karena) Alloh taโ€™ala berfirman: (ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ููŽุนู ู…ูŽุงู„ูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุจูŽู†ููˆู†ูŽ * ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุจูู‚ูŽู„ู’ุจู ุณูŽู„ููŠู…ู) [ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุดุนุฑุงุก 88 โ€“ 89] โ€ (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.โ€ [Qs. As-Syuโ€™aro: 88-89]โ€ Kalimatul Ikhlas [236]. Alih Bahasa: Muhammad Sholehuddin Abu โ€˜Abduh ุนูŽููŽุง ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู. WA Ahlus Sunnah Karawang. Ya Rabb Janganlah Engkau Hinakan Aku Pada Hari Kebangkitan Termasuk Rukun Iman yang enam, adalah beriman dengan adanya hari akhir. Dimana Allah akan bangkitkan seluruh manusia dari kubur-kubur mereka. Dan akan diadakan perhitungan amal masing-masing kita. Pada hari itu tidak ada lagi amal perbuatan, yang ada hanyalah perhitungan amal. Bergembiralah orang-orang yang bergembira. Yaitu mereka yang ketika didunia telah menggunakan modal yang telah diberikan oleh Allah, mereka pergunakan, mereka manfaatkan benar-benar untuk beribadah kepada Allah. Akan bersedih orang-orang yang bersedih. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa, tidak benar memanfaatkan modal yang telah Allah berikan kepada mereka untuk menempuh kehidupan dunia. Harta yang mereka kumpulkan semasa didunia tidak bermanfaat, anak-anak yang mereka banggakan, dielu-elukan tidak bermanfaat dihadapan Allah ุนุฒูˆุฌู„. Allah ุชุนุงู„ู‰ berfirman: ๏ปญูŽ๏ปฃูŽ๏บ‚๏บƒูŽ๏ปฃู’๏ปฎูŽ๏บ๏ปŸู๏ปœู๏ปขู’ ๏ปญูŽ๏ปต๏บƒูŽ๏ปญู’๏ปปูŽ๏บฉู๏ป›ู๏ปข ๏บ‘ู๏บŽ๏ปŸู‘ูŽ๏บ˜ู๏ปฒ ๏บ—ู๏ป˜ูŽ๏บฎู‘ู๏บ‘ู๏ปœู๏ปขู’ ๏ป‹ู๏ปจ๏บชูŽ๏ปงูŽ๏บŽ ๏บฏู๏ปŸู’๏ป”ูŽ๏ปฐ ๏บ‡ู๏ปปู‘ูŽ ๏ปฃูŽ๏ปฆู’ ๏บ€ูŽ๏บ๏ปฃูŽ๏ปฆูŽ ๏ปญูŽ๏ป‹ูŽ๏ปคู๏ปžูŽ ๏บปูŽ๏บŽ๏ปŸู๏บคู‹๏บŽ ๏ป“ูŽ๏บ„ู๏ปญู’๏ปŸูŽ๏บŒู๏ปšูŽ ๏ปŸูŽ๏ปฌู๏ปขู’ ๏บŸูŽ๏บฐูŽ๏บ๏บ€ู ๏บ๏ปŸ๏ป€ู‘ู๏ปŒู’๏ป’ู ๏บ‘ู๏ปคูŽ๏บŽ ๏ป‹ูŽ๏ปคู๏ป ู๏ปฎ๏บ ๏ปญูŽ๏ปซู๏ปขู’ ๏ป“ู๏ปฒ ๏บ๏ปŸู’๏ปู๏บฎู๏ป“ูŽ๏บŽ๏บ•ู ๏บ€ูŽ๏บ๏ปฃู๏ปจู๏ปฎ๏ปฅูŽ {37} โ€Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa ditempat-tempat yang tinggi (dalam surga)." (QS. Saba': 37) Lalu apakah modal yang harus kita jaga dan kita manfaatkan untuk menghadap kepada Allah ุชุนุงู„ู‰โ“ Disebutkan dalam hadist yang sohih dari sahabat Nu'man bin Basyir ๏ป‹ูŽ๏ปฆู’ ๏บƒูŽ๏บ‘ู๏ปฒ ๏ป‹ูŽ๏บ’ู’๏บชู ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏บ๏ปŸ๏ปจูู‘๏ปŒ๏ปคูŽ๏บŽ๏ปฅ ๏บ‘ู’๏ปฆู ๏บ‘ูŽ๏บธู๏ปด๏บฎ ๏บญูŽ๏บฟู๏ปฒูŽ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹ูŽ๏ปจ๏ปฌู๏ปคูŽ๏บŽ ๏ป—๏บŽ๏ป: ๏บณูŽ๏ปคู๏ปŒู’๏บ–ู ๏บญูŽ๏บณู๏ปฎ๏ปูŽ ๏บ๏ปŸ๏ป ูŽู‘๏ปชู ูŠู‚ูˆู„ูˆ (โ€ฆโ€ฆ๏บƒูŽ๏ปปูŽ ๏ปญูŽ๏บ‡ู๏ปฅูŽู‘ ๏ป“ู๏ปฒ ๏บ๏ปŸ๏บ ูŽ๏บดูŽ๏บชู ๏ปฃู๏ป€ู’๏ปูŽ๏บ”ู‹: ๏บ‡ู๏บซูŽ๏บ ๏บปูŽ๏ป ูŽ๏บคูŽ๏บ–ู’ ๏บปูŽ๏ป ูŽ๏บขูŽ ๏บ๏ปŸ๏บ ูŽ๏บดูŽ๏บชู ๏ป›ู๏ป ูู‘๏ปชูุŒ ๏ปญูŽ๏บ‡ู๏บซูŽ๏บ ๏ป“ูŽ๏บดูŽ๏บชูŽ๏บ•ู’ ๏ป“ูŽ๏บดูŽ๏บชูŽ ๏บ๏ปŸ๏บ ูŽ๏บดูŽ๏บชู ๏ป›ู๏ป ูู‘๏ปชู ุŒ ๏บƒูŽ๏ปปูŽ ๏ปญูŽ๏ปซู๏ปฒูŽ ๏บ๏ปŸ๏ป˜ูŽ๏ป ู’๏บูโ€ยป . ๏บญ๏ปญ๏บ๏ปฉ ๏บ๏ปŸ๏บ’๏บจ๏บŽ๏บญ๏ปฑ ๏ปญ๏ปฃ๏บด๏ป ๏ปข "Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya, ketahuilah itu adalah hatiโ€ (HR Bukhari dan Muslim) Hati menjadi sumber seorang hamba, bisa jadi hati itu baik, selamat, sehat, yang dengannya akan memerintahkan jasad ini melakukan perkara-perkara yang baik, yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. Bisa juga hati itu menjadi rusak, sakit, sehingga akan nampak pada pemilik hati yang rusak ini perilaku, perbuatan yang jelek, yang bisa semakin menjauhkan dia dari Allah ุชุนุงู„ู‰. Oleh karena itulah, Nabi kita berdoa dalam sholatnya kepada Allah ย ุชุนุงู„ู‰: ๏ปญูŽ๏บƒูŽ๏บณู’๏บ„ูŽ๏ปŸู๏ปšูŽ ๏ป—ูŽ๏ป ู’๏บ’ู‹๏บŽ ๏บณูŽ๏ป ู๏ปด๏ปคู‹๏บŽ aku memohon kepadaMu hati yang selamat. (Dari Sadad bin Aus, HR Nasai) Karena pada hari kiamat kelak hanya orang-orang yang ย memiliki hati yang selamat yang diterima oleh Allah ุชุนุงู„ู‰. ๏ปญูŽ๏ปŸูŽ๏บŽ ๏บ—ู๏บจู’๏บฐู๏ปงู๏ปฒ ๏ปณูŽ๏ปฎู’๏ปกูŽ ๏ปณู๏บ’ู’๏ปŒูŽ๏บœู๏ปฎ๏ปฅูŽ "dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan" (88). ๏ปณูŽ๏ปฎู’๏ปกูŽ ๏ปŸูŽ๏บŽ ๏ปณูŽ๏ปจู’๏ป”ูŽ๏ปŠู ๏ปฃูŽ๏บŽ๏ปูŒ ๏ปญูŽ๏ปŸูŽ๏บŽ ๏บ‘ูŽ๏ปจู๏ปฎ๏ปฅูŽ "(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna." (89). ๏บ‡ู๏ปŸูŽู‘๏บŽ ๏ปฃูŽ๏ปฆู’ ๏บƒูŽ๏บ—ูŽ๏ปฐ ๏บ๏ปŸูŽู‘๏ปชูŽ ๏บ‘ู๏ป˜ูŽ๏ป ู’๏บู ๏บณูŽ๏ป ู๏ปด๏ปขู "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu-'ara: 87-89), Disusun oleh: Abu Zain Iding WA Berbagi Faedah Sumber : * https://catatanmms.wordpress.com/2013/11/15/tanda-tanda-hati-yang-selamat/ *ย http://www.manhajul-anbiya.net/hati-yang-selamat/ *ย http://www.manhajul-anbiya.net/qalbun-salim-hati-yang-selamat/ *ย http://salafymedia.com/blog/2015/06/21/tidak-ada-yang-selamat-di-hari-esok-kiamat-kecuali-yang-datang-dengan-membawa-hati-yang-bersih/ *ย http://ahlussunnahkendari.com/wa/WA%20Berbagi%20Faedah/Ya%20Rabb%20Janganlah%20Engkau%20Hinakan%20Aku%20Pada%20Hari%20Kebangkitan.html

Adab & Akhlak
Feb 9, 2016โ€ข10 min read
Waspada Ghurur (Sifat yang Menipu Empunya)
Atsar.id
Atsar.id

Waspada Ghurur (Sifat yang Menipu Empunya)

Wahai Daโ€™i dan Penuntut Ilmu Waspadai Ghurur ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA Ghurur adalah suatu sifat yang menipu penyandangnya. Dia adalah suatu kebodohan yang membuat seseorang menilai sesuatu yang jelek sebagai sesuatu yang baik dan kesalahan sebagai sesuatu kebenaran. Demikian dijelaskan Ibnul Jauzi rahimahullah dalam bukunya Talbis Iblis. Sifat ini muncul karena bercokolnya syubhat atau kerancuan berpikir yang membuatnya salah dalam menilai. Iblispun masuk untuk menggoda manusia seukuran kemampuannya dan akan semakin mantap cengkramannya terhadap seseorang atau semakin melemah seiring dengan ukuran kesadaran atau kelalaian orang tersebut, juga sebatas kebodohan atau keilmuannya. Demikian beliau jelaskan dalam kitab tersebut. Allah telah mencela sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur`an. Karena sifat ini telah membuat sekian banyak manusia terjerembab dalam kubang kehinaan dan kerugian, yang tentunya murka Allah akan mereka rasakan. Orang kafir dan para munafik adalah sebagian contoh dari sekian banyak contoh korban sifat ghurur. Allah berfirman: โ€œOrang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: โ€˜Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?โ€™ Mereka menjawab: โ€˜Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah. dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipuโ€™.โ€ (Al-Hadid: 14) Yakni kalian tertipu oleh setan sehingga kalian tidak mengagungkan Allah ย dengan seagung-agungnya. Sehingga kalian tidak mengetahui kemampuan Allah ย terhadap kalian. Akhirnya kalianpun mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian lakukan. (Zubdatut Tafsir) Allah juga menerangkan tentang kondisi orang kafir yang tertimpa ghurur sehingga tertipu oleh gemerlapnya kehidupan dunia: โ€œYang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.โ€ (Al-Jatsiyah: 35) Demikian mereka dihancurkan oleh ghurur, sehingga mereka menuai hasil yang teramat getir di akhirat. Janganlah mengira bahwa hanya mereka yang tertimpa ghurur. Ternyata kaum muslimin pun, dari berbagai macam status sosial mereka, bahkan para ulama, para daโ€™i, dan para penuntut ilmu juga banyak yang tertimpa ghurur. Sungguh realita yang menyedihkan. Ibnu Qudamah menjelaskan bagaimana ghurur ini menimpa orang-orang yang berilmu. Di antara mereka ada orang-orang yang menekuni ilmu syarโ€™i akan tetapi mereka melalaikan pengawasan terhadap amal anggota badan mereka dan penjagaan dari perbuatan-perbuatan maksiat, serta lalai untuk menekan diri mereka agar senantiasa taat. Mereka tertipu dengan ilmu yang ada pada mereka sehingga mereka menyangka bahwa mereka punya tempat di sisi Allah. Padahal bila mereka melihat dengan ilmu mereka tentu akan tahu bahwa ilmu tidak dimaksudkan dengannya kecuali amal. Kalaulah bukan karena amal tentu ilmu tersebut tidak bernilai, Allah ta'ala berfirman: โ€œSesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.โ€ (Asy-Syams: 9) Allah tidak mengatakan: telah beruntung orang yang mempelajari ilmu bagaimana cara menyucikannya. Orang yang tertimpa ghurur semacam ini, bila setan membisikkan kepadanya tentang keutamaan para ulama, maka hendaknya mengingat ayat-ayat yang menerangkan kepada kita tentang orang-orang yang berilmu tapi bermaksiat. Semacam firman Allah : โ€œDan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.โ€ (Al-Aโ€™raf: 175-176) โ€œPerumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.โ€ (Al-Jumuโ€™ah: 5) Di antara mereka ada sekelompok yang menekuni ilmu dan amal lahiriah tapi tidak mengawasi kalbu mereka agar menghapus dari diri mereka sifat-sifat yang tercela, semacam sombong, hasad atau iri dan dengki, riya` dalam amal, mencari popularitas, ingin lebih unggul dari yang lain. Mereka telah menghiasi lahiriah mereka, akan tetapi melupakan batin mereka dan mereka lupa terhadap hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ุตููˆูŽุฑููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ููƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ู‚ูู„ููˆุจููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ููƒูู…ู’ โ€œSesungguhnya Allah tidak melihat kepada penampilan-penampilan dan harta benda kalian. Akan tetapi melihat kepada kalbu dan amal kalian.โ€ (Shahih, HR. Muslim dan Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu) Sekelompok yang lain mengetahui bahwa akhlak-akhlak batin tersebut tercela. Namun karena sifat bangga diri yang tersimpan pada mereka, mereka merasa aman bahkan merasa telah terbebas dari sifat-sifat tercela itu. Mereka merasa lebih tinggi untuk Allah timpakan pada mereka sifat-sifat itu, bahkan โ€“menurut merekaโ€“ yang tertimpa itu adalah mereka yang masih awam. Bila muncul dalam diri mereka percik kesombongan, merekapun mengatakan dalam diri mereka, โ€˜Ini bukan sombong. Bahkan ini adalah demi kemuliaan agama dan untuk menampakkan kemuliaan ilmu, serta merendahkan ahli bidโ€™ah.โ€™ Enggan berteman dengan orang-orang yang lemah, maunya dengan orang yang berpangkat atau berduit, merasa hina bila berteman dengan kaum dhuafa. Mereka tertipu oleh ghurur. Mereka lupa bahwa Nabi ย dan para sahabatnya dahulu adalah orang-orang yang tawadhuโ€™. Mereka bergaul dengan kaum dhuafa, bahkan mereka mengutamakan kefakiran dan kemiskinan. Diriwayatkan bahwa โ€˜Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu, dahulu ketika pergi menuju Syam beliau mendapati sungai yang mesti diseberangi. Maka turunlah beliau dari untanya dan melepaskan dua sandalnya lalu membawanya sembari mencebur dan menyeberangi sungai itu dengan untanya. Saat itu berkatalah Abu โ€˜Ubaidah kepadanya: โ€œSungguh pada hari ini engkau telah melakukan sesuatu yang besar di mata penduduk bumi.โ€ Umar pun menepuk dadanya dan mengatakan: โ€œDuhai seandainya selainmu yang mengatakan kata-kata ini, wahai Abu Ubaidah. Sesungguhnya kalian (bangsa Arab) dahulu adalah orang-orang yang paling hina dan rendah, lantas Allah angkat kalian dan muliakan kalian dengan sebab mengikuti Rasul-Nya. Maka bagaimanapun kalian mencari kemuliaan dengan selain jalan itu niscaya Allah akan menghinakan kalian.โ€ Sekelompok yang lain juga tertimpa ghurur, mereka mencari kesenangan dunia, kemuliaan, fasilitas, kecukupan dengan memperalat penampilan kealiman atau keshalihannya. Bila muncul pada mereka percikan riya`, iapun mengatakan dalam dirinya: โ€œSaya hanya bermaksud menampakkan ilmu dan amal agar orang mengikuti saya, agar orang mendapat hidayah kepada ajaran ini.โ€ Padahal jika tujuan mereka benar-benar untuk memberi jalan hidayah untuk manusia, tentu ia akan merasa senang ketika manusia mendapat hidayah melalui selain tangannya. Sebagaimana senangnya ketika manusia mendapat hidayah melalui tangannya. Karena siapa saja yang tujuan dakwahnya adalah memperbaiki manusia, maka ia akan merasa senang ketika manusia menjadi baik melalui tangan siapapun. Masih ada sekelompok yang lain. Mereka menekuni ilmu, membersihkan amal anggota badan mereka, serta menghiasinya dengan ketaatan, dan mengawasi amal kalbu mereka agar bersih dari riya, hasad, dan sombong. Akan tetapi masih tersisa di sela-sela kalbunya, tipu daya setan yang tersembunyi dan bahkan tipu daya jiwanya yang juga tersembunyi. Ia tidak tanggap akan keberadaannya. Engkau lihat mereka berupaya sungguh-sungguh dalam beramal dan memandang bahwa faktor pendorongnya adalah menegakkan agama Allah. Tapi pada kenyataannya terkadang pendorongnya adalah mengharap sebutan orang terhadapnya. Sehingga terkadang muncul sikap merendahkan yang lain melalui sikapnya menyalah-nyalahkan yang lain, merasa dirinya lebih mulia dari yang lain. Ini dan yang sejenisnya merupakan cacat yang tersembunyi. Tidak terdeteksi kecuali oleh mereka yang kuat dan cermat serta tentunya mendapat taufiq dari Allah. Adapun orang-orang semacam kami yang lemah ini maka kecil harapannya. Namun paling tidaknya seseorang mengetahui aib dirinya dan berusaha untuk memperbaikinya. Nabi sendiri pernah bersabda: ู…ูŽู†ู’ ุณูŽุฑูŽู‘ุชู’ู‡ู ุญูŽุณูŽู†ูŽุชูู‡ู ูˆูŽุณูŽุงุฆูŽุชู’ู‡ ูุณูŽูŠูู‘ุฆูŽุชูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ู…ูุคู’ู…ูู†ูŒ โ€œBarangsiapa yang kebaikannya menyenangkannya dan kejelekannya menyusahkannya maka dia seorang mukmin.โ€ (Shahih, HR Ath-Thabarani dari sahabat Abu Musa z dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jamiโ€™ Ash-Shaghir) Orang yang semacam itu masih bisa diharapkan. Berbeda dengan mereka yang menganggap suci dirinya dan merasa dirinya termasuk orang-orang yang terpilih. Inilah ghurur yang menimpa orang-orang yang memperoleh ilmu agama. Bagaimana kiranya dengan mereka yang puas dengan ilmu yang tidak penting dan meninggalkan yang penting? Wallahul mustaโ€™an. Sumber :ย http://asysyariah.com/wahai-dai-dan-penuntut-ilmu-waspadai-ghurur/

Adab & Akhlak
Feb 8, 2016โ€ข7 min read
ยซยป
HomeRadioArtikelPodcast