Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya


🔈💽 Ilmu Itu Berlembah-Lembah 🎙Al-Ustadz Usamah Mahri حفظه الله 📥 Muat turun audio rakaman di bawah (0.9MB) – durasi [04:02] atau dari pautan berikut: shorturl.at/…


📕📚☝🏻 NGAJI KITAB TAUHID (BAG.13) 📚 Serial: Pembahasan Kitab Tauhid || Bab Keistimewaan Tauhid 🖊…


📕📚☝🏻 NGAJI KITAB TAUHID (BAG.12) 📚 Serial: Pembahasan Kitab Tauhid || Bab Keistimewaan Tauhid 🖊…

Pertanyaan: Bolehkah kita mengaminkan doa dari orang yang mengucapkan selamat ulang tahun? Kita tidak berterima kasih atas ucapan ultahnya, hanya mengaminkan doanya. Terkadang juga ada perkataan, “Semoga panjang umur.” Apakah boleh kita mengaminkan? Jawab: Wallahu a’lam, sebaiknya tidak perlu dijawab atau diamini. Sebab, jawaban yang datang dari kita tersebut akan dianggap sebagai bentuk persetujuan atas […]

Pertanyaan: Bolehkah menjual baju pengantin muslimah (baju pengantin seperti gamis dan baju lengan panjang) kepada khalayak umum? Berhubung kami menjual baju pengantin muslimah di market place, jadi kami tidak bisa mengatur siapa saja yang dapat membeli. Jawab: Menjual baju pengantin muslim atau muslimah, merujuk pada hukum asal jual beli adalah mubah. Sebab, produk yang ditawarkan […]

 .Harga Diri Anak Muda Al Fudhail bin Iyadh agak heran bertanya kepada Ibnul Mubarok,"Kamu aneh. Kamu mengajak hidup zuhud, apa adanya dan secukupnya" "Lalu engkau sendiri belanja barang dagangan dari Khurasan untuk dijual di Mekkah?", lanjut Al Fudhail. Apa jawab Ibnul Mubarak? Beliau menjelaskan,"Kawanku Abu Ali, saya lakukan itu untuk menjaga wajahku, merawat kehormatanku dan membantuku beribadah kepada Rabb-ku" (Tarikh Baghdad 10/160) Salaf kita, mereka semangat dalam bekerja. Ada usaha yang digeluti. Punya profesi yang ditekuni. Mereka tidak duduk berpangku tangan. Siapa yang tak kenal Ibnul Mubarak? Ulama besar di masanya. Ahli ibadah terkenal di zamannya. Singkat kata, sampai dikatakan, tidak ada amal ketaatan melainkan beliau menjadi ahlinya. Ibnul Mubarak menjelaskan bahwa usaha dagangnya dilakukan untuk 3 tujuan ; menjaga wajah agar tidak malu karena berharap diberi dan tidak ingin bergantung pada pemberian orang. Kehormatan dan harga diri juga dipertimbangkan, kenapa mesti bekerja. Bukankah dengan berpenghasilan sendiri, kehormatan dan harga diri kita tidak akan diusik? Tidak akan disinggung-singgung? Alasan ketiga yang disampaikan Ibnul Mubarak harus diingat, yaitu agar bisa ber-ibadah kepada Allah. Diakui dan disadari bahwa banyak bentuk ibadah yang barulah dapat terlaksana jika memiliki kemampuan finansial. Bukankah banyak program ibadah dan dakwah yang terikat dengan pembiayaan? Memerlukan dana. Namun, pesan Ibnul Mubarak juga tidak boleh diabaikan. Bekerja itu agar bisa beribadah. Sehingga, jika bekerja justru mengganggu ketenangan ibadah, mengurangi dan merusak ibadah, jangan dilanjutkan. Lakukan evaluasi. Beranilah ambil keputusan untuk berhenti pada titik yang tidak mengganggu ibadah. Dek, Islam tidak membenarkan pengangguran. Tidak ada istilah berdiam diri. Apalagi menunggu dengan pasif. Lebih-lebih lagi berharap bantuan, bantuan dan bantuan. Kenapa hidup berpikir untuk dibantu? Kapan membantu? Berharap diberi, kapan memberi? Berharap dibagi, kapan berbagi? Nabi Muhammad bersabda, لأن يأخذ أحدكم حبله فيحتطب على ظهره خير من أن يأتي رجلا أعطاه الله من فضله فيسأله ، أعطاه أو منعه Artinya : Sungguh! Lebih baik kalian membawa seutas tali lalu mencari kayu bakar, dipanggul di punggung untuk dijual, daripada mendatangi seseorang yang Allah luaskan rezekinya untuk meminta bantuan. Diberi ataukah tidak" HR Bukhari Muslim Itulah, Dek! Jiwa petarung seorang pemuda. Proporsional dalam segala hal. Ibadah semangat. Thalabul ilmi tidak kenal lelah. Aktif dan kreatif dalam bekerja. Semua jalan kebaikan ditempuh. Apalagi bagimu yang memiliki tanggungan. Beban keluarga. Jangan malu untuk bertanya kepada yang lebih berpengalaman. Amanah dan terpercaya. Jangan lupa juga untuk berdoa. Bertawakkal kepada Allah Ta'ala. Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah lah yang memberi kecukupan untuknya. Di Pendopo Lendah 31 Januari 2021 Abu Nasim Mukhtar https://t.me/anakmudadansalaf/82


🔈💽 Al-Hilm VS Emosional 🎙Al-Ustadz Usamah Mahri حفظه الله 📥 Muat turun audio rakaman di bawah (1.3MB) – durasi [05:33] atau dari pautan berikut: shorturl.at/bhkDL…

Pertanyaan: Saya pernah shalat, kemudian ketika saya membaca doa tasyahud awal, tiba-tiba ada anak-anak mengganggu saya. Saya pun berhenti membaca doa tasyahud awal. Setelah anak-anak pergi, karena waswas, saya mengulang lagi membaca doa tasyahud dari awal lagi. Gerakan saya tidak berubah. Hanya bacaan yang saya ulang dari awal. Itu hukumnya bagaimana? Jawab: Terganggunya shalat seseorang […]

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya jika seorang ayah selalu ingin berniat menceraikan istri anak laki-lakinya karena tidak suka kepada menantu perempuannya? Jawab: Kasus semisal ini pernah ditanyakan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Di antara jawaban beliau adalah sebagai berikut. Seandainya seorang ibu memaksa agar anaknya menceraikan istrinya tanpa ada sebab yang dibolehkan syariat, sedangkan si […]

 .HUKUM MENCELA ULAMA DAN DAI-DAI SUNNAH? Oleh Asy Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali hafidzahullah Soal : Apa hukum mencela Ulama dan Dai-dai Sunnah? Jawab: Ini perkara yang berbahaya sekali yakni mencela Pembela kebenaran dan mencaci mereka ini dapat menyeret kepada celaan terhadap agama Allah. Karena sesungguhnya ini menghalangi dari jalan Allah. Karena sebenarnya orang ini mencela Pembela kebenaran, dai-dai pengajak kepada kebenaran, dai-dai pengajak kepada tauhid, dai-dai pengajak kepada memerangi kesyirikan, kebidahan, dan kesesatan, sehingga mencela mereka berarti membuat lari dari jalan Allah tabaraka wata'ala. Dan sungguh kalian sudah mengetahui tentang firman Allah yaitu mengenai keadaan orang-orang yang menentang dan mencela para Nabi dan mencela seruan dakwahnya, mereka itu tidaklah mencela terhadap pribadinya. Mereka mengatakan: Pendusta, Penyihir, Orang gila, sampai akhir celaan-celaan. Jadi apabila mencela terhadap individunya, akan menjadi sempitlah dakwahnya mereka. Begitupula sekarang. Para Ulama pewaris para Nabi, apabila keadaan sekelompok orang itu menyeru mengajak kepada Manhaj Salafy, kepada Al Kitab, kepada Sunnah Rasulullah, kepada Manhaj para Nabi dalam bidang Aqidah, untuk memerangi kesyirikan di atas Manhajnya para Nabi, lalu datang sekelompok orang lain mencelanya, maka maknanya bahwasanya mereka itu menghalangi dari jalan Allah. Oleh karena itu, kami memohon kepada Allah agar memberikan mereka rejeki berupa taubat, dan agar mau kembali kepada kebenaran, dan supaya mengetahui kadar kemuliaan pembela kebenaran, dan membiarkan ruang jalan di hadapan para pencari kebenaran, dan jangan menghalang-halangi mereka dari jalan Allah. Kaset dengan judul: Wajibnya mengikuti bukan membuat-buat bid'ah Sumber: http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=27&id=82 Mift@h_Udin✍️ Kawunganten, 19 Jumadal Akhirah 1442 H MEMBUNGKAM ORANG-ORANG YANG SUKA MENCELA PARA ULAMA, TERKHUSUS ASY-SYAIKH RABI’ DAN ASY-SYAIKH UBAID AL-JABIRY Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhary hafizhahullah Pertanyaan: Sebagian penuntut ilmu ada yang mengulang-ulang ungkapan-ungkapan celaan terhadap asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah dan bahwasanya beliau dikelabui oleh sebagian para penuntut ilmu, dan hal itu disebarluaskan oleh para penuntut ilmu dan telah membuat gelisah ikhwah di negeri ini, maka bagaimana kita menyikapi mereka? Jawaban: Celaan itu sama saja terhadap asy-Syaikh al-Allamah Rabi’ bin Hady, atau asy-Syaikh al-Allamah Ubaid al-Jabiry, atau asy-Syaikh al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad, atau asy-Syaikh al-Allamah Shalih al-Fauzan, atau terhadap ulama Ahlus Sunnah yang lainnya, ini adalah sebagaimana dikatakan: شَنْشَنَةٌ ﺃَﻋْﺮِﻓُﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺧْﺰَﻡِ Ini adalah sifat yang aku ketahui dari Akhzam (1) Saya bertanya kepada kalian dengan sebuah pertanyaan: Celaan terhadap asy-Syaikh Rabi’ secara khusus, siapakah yang mendahului bayi-bayi dan anak-anak yang tertipu itu?! Siapa yang mendahului mereka untuk melontarkan celaan semacam ini?! Bukankah pendahulu mereka yang melontarkan celaan terhadap asy-Syaikh Rabi’ dengan menyatakan bahwa beliau dikelabui dan dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di sekitar beliau dan celaan-celaan yang lainnya, bukankah pendahulu mereka dalam hal ini adalah ahlul ahwa’ dari kelompok Quthbiyyah, Sururiyyah, Haddadiyyah, dan ahli bid’ah yang lainnya?! Lalu mereka disusul oleh beberapa orang dari kelompok Abul Fitan (si pengobar fitnah dan kekacauan dalam dakwah, yaitu Abul Hasan Musthafa bin Ismail al-Ma’riby –pent) dan selain mereka dari orang-orang yang menunggangi gelombang (fitnah) ini. Mereka inilah pendahulu mereka dan dari mereka inilah mereka mencontoh!! Ucapan ini mengandung celaan langsung terhadap asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah, yaitu ungkapan bahwa beliau tidak mengerti, tidak memahami, dan tidak menyadari konspirasi atau rencana buruk yang mengepung beliau!! Ini merupakan kedustaan yang sudah sekian lama, dan pendahulu mereka adalah ahlul ahwa’ dan ahli bid’ah, sebagaimana yang telah saya katakan tadi. Termasuk ciri-ciri ahli bid’ah adalah suka mencela Ahlus Sunnah, engkau telah paham? Jadi ini adalah sifat yang aku ketahui dari Akhzam. Jangan sampai pendengaranmu dikotori oleh mereka, buanglah ucapan mereka sejauh-jauhnya sebagaimana ucapan para pendahulu mereka telah dibuang sehingga mereka terbuang ke tempat sampah sejarah, dan orang-orang (yang sekarang suka mencela ulama) mereka ini akan hilang juga jika mereka tidak bertaubat. Mereka akan lenyap jika tidak bertaubat dan kembali ke jalan yang benar, maka berhati-hatilah!! Asy-Syaikh Rabi’ salah seorang ulama kaum muslimin, beliau bisa benar dan bisa juga keliru, seperti ulama yang lain. Mengapa para ruwaibidhah (orang dungu yang lancang berbicara tentang urusan yang besar) tidak mengucapkan ucapan semacam ini terhadap para ulama yang lain?! Mengapa mereka takut mengatakan terhadap sebagian ulama yang telah saya sebutkan namanya di awal jawaban ini?! Mereka tidak mengucapkannya selain terhadap asy-Syaikh Rabi’ dan asy-Syaikh Ubaid!! Benar kan?! Jika perkaranya sampai kepada guru kita al-Allamah al-Abbad atau asy-Syaikh al-Allamah Shalih al-Fauzan, atau para ulama yang lain, atau Mufti (asy-Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad Alus Syaikh), para pencela itu tidak mengucapkan ucapan ini!! Kalaupun sebagian mereka mengucapkannya maka dia mengucapkannya secara rahasia dan pelan-pelan, dia mungkin hanya merahasiakan kepada dirinya sendiri!! Waspadalah terhadap ucapan semacam ini. وَلا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لا يُوقِنُونَ. “Dan janganlah sekali-kali engkau dibuat gelisah oleh orang-orang yang tidak yakin.” (QS. Ar-Rum: 60) Adapun tentang diulang-ulangnya ucapan tersebut di negeri ini maka sungguh orang-orang sebelum mereka sebagaimana yang telah kami sebutkan telah mengulang-ulangnya, namun tidak benar kecuali yang benar. Kesalahan wajib untuk bertaubat darinya, dan jika sebuah kesalahan muncul dari salah seorang ulama maka tetap dijaga kehormatannya, dijaga kedudukannya, namun kesalahannya tidak boleh diterima, (kita katakan) semoga Allah memaafkan beliau, beliau berijtihad namun keliru, selesai perkaranya. Al-Imam Malik pernah keliru, al-Laits bin Sa’ad mengatakan, “Saya menghitung kesalahan Malik ada 70 masalah yang padanya beliau menyelisihi nash hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” Apakah Malik dicela dalam ucapan semacam ini?! Apakah al-Laits dicela karena ucapan beliau ini?! مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ. “Bagaimana kalian dalam memutuskan perkara?!” (QS. Al-Qalam: 36) Kedudukan dari kedua imam tersebut tetap terjaga, sedangkan kesalahan tidak diterima, selesai perkaranya, titik. Kehormatan dan kedudukan tetap dijaga, namun kesalahan tidak boleh diambil. Kengawuran dan perancuan perkara macam apa ini, dan mengibarkan bendera al-wala’ wal bara’ (loyalitas dan permusuhan) berdasarkan ucapan yang rusak?! Tidak ada padanya tanda-tanda keilmuan, dan tidak ada petunjuk dari Allah padanya?! Sampai kapan kita akan menyibukkan diri dengan hal yang sia-sia semacam ini?! Apakah setiap kali datang kepada kalian seseorang yang lebih pintar ngomong dibandingkan yang lain kalian akan meninggalkan agama Muhammad shallallahu alaihi wa sallam hanya gara-gara ucapannya?! Jika demikian apa manfaatnya menuntut ilmu?! Apa manfaatnya duduk menimba ilmu di hadapan para ulama?! Kegoncangan semacam apa ini?! Kekacauan semacam apa ini?! Kenapa tidak bersikap tenang seperti ini?! Sampai kapan kita akan terus seperti ini?! Laa haula walaa quwwata illa billah, kita memohon keselamatan kepada Allah. Sumber transkrip : https://t.me/Nataouan/6458 https://forumsalafy.net/akibat-mencela-ulama/