Salafy Temanggung
Salafy Temanggung oleh Abu Ubay Afa

khutbah jum’at : ulama salaf bersama al qur’an

11 jam yang lalu
baca 9 menit
Khutbah Jum’at : Ulama Salaf Bersama Al Qur’an

Khutbah pertama

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
أَمَّا بَعْدُ

Ma’syiral muslimin, rahimakumullah. Jama’ah salat Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada kesempatan mulia ini marilah kita bersama-sama berusaha untuk selalu memantapkan kalbu kita dalam ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Takwa dalam pengertian menjalankan segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Tidak lupa kita ingatkan segenap hadirin agar senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahkan nikmat dan karunia-Nya. Dengan takwa dan syukur, seorang hamba akan meraih kemuliaan yang hakiki di dunia dan akhirat.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ:

Wahai kaum Muslimin:

Al-Qur’an yang mulia adalah sumber segala kebaikan, lambang keberkahan, cahaya kehidupan, dan penuntun menuju taman-taman kebahagiaan serta obat bagi penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengannya;

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ)[يُونُسَ:57].

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman” (Yunus: 57).

Ketika para pendahulu kita yang saleh mengetahui keutamaan ini, mereka bersikap kepada Al-Qur’an dengan sikap yang benar dengan mempelajari dan mengajarkannya, menghafal ayat-ayatnya, mencari penjelasan terhadap berbagai maknanya, kemudian mengajarkannya kepada orang lain serta menjelaskan makna dan pelajaran-pelajarannya.

Teladan mereka dalam hal ini adalah Nabi kita Muhammad ﷺ; beliau menerima wahyu dari Jibril عليه السلام, bersemangat untuk menghafalnya, dan mempelajarinya.

Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما tentang firman Allah Ta‘ala:

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

“Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk (membaca Al-Qur’an) karena ingin cepat-cepat menguasainya” (Al-Qiyamah: 16)

beliau berkata: Rasulullah ﷺ merasa berat ketika menerima wahyu, dan beliau menggerakkan kedua bibirnya (untuk menghafalnya).

Maka Allah menurunkan:

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ * إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

“Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya Kamilah yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya” (Al-Qiyamah: 16–17). Ibnu ‘Abbas berkata: “Mengumpulkannya di dadamu dan membacakannya (adalah urusan Kami).”

[18:الْقِيَامَةِ](فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ) قَالَ: فَاسْتَمِعْ لَهُ وَأَنْصِتْ:

“Maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya” (Al-Qiyamah: 18), yakni dengarkanlah dan diamlah.”

[19:الْقِيَامَةِ](ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ)

“Kemudian sesungguhnya atas Kamilah penjelasannya” (Al-Qiyamah: 19), yakni Kami akan menjelaskannya melalui lisanmu. Setelah itu, setiap kali Jibril datang, Rasulullah ﷺ mendengarkannya, lalu ketika Jibril pergi, beliau membacanya sebagaimana yang dibacakan kepadanya” (HR. Bukhari).

عباد الله

Sebagaimana para pendahulu kita yang saleh bersungguh-sungguh dalam mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya, mereka juga bersungguh-sungguh dalam membacanya dan mentadabburinya. Mereka banyak membaca Al-Qur’an, hingga ada di antara mereka yang khatam dalam satu malam atau tiga malam. Mereka pun banyak bertadabbur, sehingga terkadang satu ayat membuat mereka berhenti, menangis karenanya, lalu bersegera melakukan ketaatan yang disebutkan dalam ayat tersebut.

فَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ لِي النَّبِيُّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: “اقْرَأْ عَلَيَّ”، قُلْتُ: آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ: “فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي”، فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ، حَتَّى بَلَغْتُ: (فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا)[النِّسَاءِ:41] قَالَ: “أَمْسِكْ” فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ”(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi ﷺ bersabda kepadaku, “Bacakanlah Al-Qur’an kepadaku.” Aku berkata, “Apakah aku membacakannya kepadamu, padahal ia diturunkan kepadamu?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dari selain diriku.” Maka aku membacakan kepada beliau surah An-Nisa, hingga aku sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu” (QS. An-Nisa: 41), beliau bersabda, “Berhenti,” dan ternyata kedua mata beliau meneteskan air mata. HR. Bukhari Muslim

Perhatikan pula bagaimana Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma mentadabburi surah Al-Baqarah ketika menghafalnya. Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ bahwa Abdullah bin Umar menghabiskan waktu selama delapan tahun untuk mempelajari surah Al-Baqarah.

adalah Tamim Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu yang membaca satu ayat dan mentadabburinya, lalu beliau berdiri malam itu mengulanginya hingga pagi:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ)[الْجَاثِيَةِ:21].

“Apakah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka putuskan itu.” (QS. Al-Jatsiyah: 21)

فَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ هَؤُلَاءِ فِي تِلَاوَتِهِمْ وَتَدَبُّرِهِمْ؟!

Maka di manakah posisi kita dibandingkan mereka dalam membaca dan mentadabburi Al-Qur’an?!

Sesungguhnya tilawah Al-Qur’an yang bermanfaat bagi pemiliknya adalah tilawah yang diikuti dengan ketaatan dan amal. Betapa banyak perintah dan larangan dalam Al-Qur’an.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Apabila engkau mendengar Allah berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman’, maka perhatikanlah dengan seksama; karena itu adalah kebaikan yang engkau diperintahkan untuk melakukannya atau keburukan yang engkau dilarang darinya.”

Dan sesungguhnya para pendahulu kita yang salih adalah sebaik-baik orang yang mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an, mereka melaksanakan perintah-perintahnya, menjauhi larangan-larangannya, dan berhenti pada batas-batas yang telah ditetapkannya.

Perhatikanlah teladan gemilang dari Umar ini; dari Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridai keduanya– ia berkata:

“Uyaynah bin Hishn datang lalu singgah di rumah keponakannya, Al-Hurr bin Qais bin Hishn –dan ia termasuk orang-orang yang Umar dekatkan, sedangkan para qari (penghafal dan ahli Al-Qur’an) adalah teman duduk dan penasihat Umar, baik yang tua maupun yang muda. Maka Uyaynah berkata kepada keponakannya, “Wahai keponakanku, apakah engkau punya kedudukan di sisi amir ini, sehingga engkau bisa memintakan izin agar aku bisa menemuinya?” Ia menjawab, “Aku akan memintakan izin untukmu.”

Ibn Abbas berkata: Maka ia pun memintakan izin untuk Uyaynah. Ketika ia masuk, Uyaynah berkata, “Wahai putra Al-Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kami pemberian yang banyak, dan engkau tidak memutuskan hukum di antara kami dengan adil.” Maka Umar marah hingga hampir saja menyerangnya. Namun Al-Hurr berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ

‘Jadilah engkau pemaaf, perintahkan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh’ [Al-A’raf: 199], dan sesungguhnya orang ini termasuk dari orang-orang bodoh.”

فَوَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلَاهَا عَلَيْهِ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ”(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ).

Demi Allah, Umar tidak akan berani menentang ayat itu ketika dibacakan kepadanya, dan beliau adalah orang yang selalu berhenti patuh pada Kitab Allah.” (HR. Al-Bukhari).

Maka apakah kita seperti itu –wahai hamba-hamba Allah–, sebuah ayat mampu menghentikan langkah kita? Sebuah ayat mampu mencegah kita dari dosa? Dan sebuah ayat lain mendorong kita untuk mengerjakan amal saleh dengan merenunginya?

Betapa sering kita melihat sebagian kaum Muslimin hari ini tetap bertahan dalam dosa-dosa besar, lalu mereka dinasihati dengan ayat-ayat Al-Qur’an namun tidak juga berhenti, bahkan terkadang mereka membaca ayat-ayat yang melarang apa yang mereka lakukan, namun tetap saja tidak meninggalkannya!

 

Khutbah ke 2

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وحْدهُ لاَ شَرِيكَ لهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورسوله

Ma’syiral muslimin rahimakumullah, sidang Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sesungguhnya orang yang merenungi kehidupan para pendahulu kita yang saleh bersama Al-Qur’an akan melihat kehidupan yang dihiasi mutiara-mutiara Al-Qur’an, yang setiap sisinya bersinar dengan kecintaan kepada Al-Qur’an, membacanya dengan tartil, mengamalkannya, dan menaati perintahnya.

Al-Qur’an menjadi ketenangan jiwa mereka, dambaan hati mereka, dan cahaya kehidupan mereka.

Bahkan sebagian mereka, jika sampai menyimpang dari jalan yang benar karena dominasi hawa nafsu, maka datanglah satu atau dua ayat yang mengembalikannya dari kesesatan, mendorongnya menuju jalan petunjuk,

Dikisahkan, Fudhail bin ‘Iyadh –rahimahullah– sebelum bertobat adalah seorang perampok jalanan. Penyebab tobatnya adalah ia jatuh cinta pada seorang gadis,

Suatu malam, ketika ia memanjat dinding menuju rumahnya, ia mendengar seseorang membaca firman Allah:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16)

Fudhail berkata, “Ya Rabb, sudah tiba waktunya.” Maka ia pun kembali.

Malam itu ia berlindung di sebuah bangunan tua, dan ternyata di sana ada sekelompok musafir. Sebagian dari mereka berkata, “Mari kita berangkat sekarang.” Sebagian yang lain berkata, “Tunggu sampai pagi, karena Fudhail ada di jalan itu dan akan merampok kita.”

Fudhail merenung dan berkata dalam hati, “Aku berkelana di malam hari demi kemaksiatan, sedangkan kaum Muslimin di sini takut kepadaku!”

“Tidaklah aku melihat Allah membawaku ke tempat ini kecuali agar aku berhenti. Ya Allah, aku bertobat kepada-Mu, dan aku jadikan tobatku ini dengan tinggal di dekat Baitullah al-Haram.”

Maka wahai umat Al-Qur’an,

Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah kemuliaan bagi kalian, dan nikmat agung dari Allah yang Dia anugerahkan kepada kalian.

قَالَ تَعَالَى: (وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ) [الزخرف: 44]؛

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar menjadi peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Az-Zukhruf: 44)

Maka, apakah kita layak untuk kemuliaan ini? Apakah kita telah bersyukur kepada Allah atas nikmat ini dengan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya?

يَا أُمَّةَ الْقُرْآنِ:

Wahai umat Al-Qur’an:

Bersungguh-sungguhlah, bersungguh-sungguhlah dalam memelihara perhatian terhadap Al-Qur’an — dengan menghafalnya, memahaminya, mengambil pelajaran darinya, mengamalkannya, mencintainya, memuliakannya, mengagungkannya — serta mendidik anak-anak dan generasi muda untuk rutin menghadiri halaqah-halaqahnya, terus-menerus mengikuti majelis-majelisnya, dan mempelajari tafsirnya.

Sebagai penutup — wahai kaum Muslimin — ingatlah keadaan pemilik Al-Qur’an pada Hari Kiamat;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-:

Rasulullah ﷺ bersabda:

“يَجِيءُ صَاحِبُ الْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَقُولُ الْقُرْآنُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ، فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ زِدْهُ، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ، فَيَرْضَى عَنْهُ، فَيُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ، وَارْقَ، وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً” (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ)

“Pemilik Al-Qur’an akan datang pada Hari Kiamat, lalu Al-Qur’an berkata: ‘Wahai Rabbku, pakaikanlah ia (pakaian kehormatan)’, maka dipakaikanlah kepadanya mahkota kemuliaan. Kemudian Al-Qur’an berkata: ‘Wahai Rabbku, tambahkanlah (kemuliaan) untuknya’, maka dipakaikanlah kepadanya pakaian kemuliaan. Kemudian Al-Qur’an berkata: ‘Wahai Rabbku, ridailah dia’, maka Allah pun meridainya. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Bacalah dan naiklah’, dan ditambahkan baginya satu kebaikan untuk setiap ayat yang ia baca.”

Kita memohon kepada

Allah agar menjadikan kita termasuk pemilik Al-Qur’an, dan termasuk golongan yang senantiasa mengamalkannya di setiap waktu.