Mengingat Mati, Cara dan Faedahnya

Ringkasan Artikel
Anda harus login untuk membuat ringkasan otomatis menggunakan AI.
Login sekarang →Soal :
Benarkah kita diperintahkan untuk mengingat kematian ? Bagaimana kita mengingat kematian dan apa faedah-faedahnya ?
Jawab:
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله , اما بعد
Benar, kita disyareatkan untuk banyak mengingat kematian. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallalohu’alaihi wasallam bersabda:
(( اكثروا ذكر هاذم اللذات )) يعني الموت
“Perbanyaklah oleh kalian mengingat perkara yang memutuskan kenikmatan, yaitu kematian.”
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam As-Sunan (4/553 no. 2307) beliau berkata: Hadits ini Hasan Shahih Ghorib. Berkata An-Nawawi : Hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan An Nasai dan Ibnu Majah dengan sanad-sanad shohih semuanya sesuai syarat Al-Bukhori dan Muslim (Al-Majmu (5/105). Hadits ini dishahihkan Al-albani.
Untuk mengingat kematian, banyak perkara yang disyareatkan Rasulullah shallalohu’alaihi wasallam diantaranya:
- Beliau mensyariatkan ziaroh kubur. Beliau bersabda: “Dahulu aku melarang kalian berziaroh kubur, berziarahkuburlah kalian karena dengan itu mengingatkan kalian kepada kampung akhirat,”
- Dalam dzikir harian yang diajarkan Rosululloh shallalohu’alaihi wasallam juga mengingatkan kita kepada kematian seperti dzikir sebelum tidur dan ketika bangun tidur.
- Disyareatkan kita menjenguk orang yang sakit
- Disyareatkan kita bertakziyah, menyolati jenazah saudara kita dan mengantarkannya ke pemakaman.
Adapun faedah mengingat kematian, banyak faedah yang bisa dipetik. Dalam sebuah atsar diriwayatkan:
من اكثر ذكر الموت اكرم بثلاثة اشياء : تعجيل التوبة , و قناعة القلب , و نشاة العبادة . ومن نسي الموت عوقب بثلاثة اشياء : تسويف التوبة , و ترك الرضا بالكفاف , و التكاسل في العبادة
“Siapa yang banyak mengingat kematian akan dimuliakan dengan tiga perkara: segera dalam bertaubat, qona’ah dalam hatinya dan kesemangatan dalam beribadah ; dan siapa yang lupa kematian akan menimpanya tiga perkara: Menunda-nunda taubat, tidak ridho dengan rizki dan malas dalam beribadah.”
Atsar ini dinukil oleh Al-Qurthubi dalam At-Tadzkiroh (1/126), disebutkan pula oleh Al-Munawi dalam Faidhul Qodir (2/85) dari Al-Laffaf rahimahulloh. (Dijawab oleh: Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)