Aqidah
Cara Wanita Muslimah Bekerja Di Jepang Dengan Tetap Menjaga Agamanya

Fatwa Ulamaby al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts al-'Ilmiah wal Ifta'
February 22, 2023•6 min read

Ringkasan Artikel
Anda harus login untuk membuat ringkasan otomatis menggunakan AI.
Login sekarang →Berkat karunia dan hidayah Allah, sebagian wanita Jepang menyatakan masuk agama Islam. Dari sini mulai terjadi gesekan dengan masyarakat Jepang yang atheis yang tetap menginginkan penduduknya kafir, bahkan orang-orang yang dulunya memeluk Nasrani banyak yang beralih ke agama Islam, karena mereka tidak berkomitmen dalam agama Nasraninya yang memang sudah terdistorsi.
Seseorang meminum khamr, memakan daging babi, memiliki teman wanita haram, namun ia merupakan seorang pengikut agama Nasrani yang percaya dengan Tuhan, Tuhan Anak, dan Ruh Qudus. Tiada daya dan upaya melainkan milik Allah yang Maha Esa tempat bergantung yang tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak seorang pun sepadan dengan-Nya.
Akan tetapi saat ia pindah ke agama Islam, ia menjadi sosok yang berbeda dengan orang lain, meninggalkan masyarakatnya, dan meninggalkan klub-klub hiburan. Masyarakat mengucilkannya dan melihatnya secara tidak proporsional.
Dia sering mengalami pengucilan dan pelarangan untuk bekerja padahal ia adalah warga negara Jepang seperti mereka. Bagaimana ia dapat melakukan perbuatan buruk ini dan beralih ke agama Islam, lantas meninggalkan perayaan-perayaan masyarakatnya, khamr, daging babi, dan salat kepada Allah yang tidak dianggap sebagai Tuhan oleh masyarakatnya.
Masalah ini semakin rumit terkait wanita karena ia lebih lemah dan sumber finansialnya biasanya masih tergantung pada pekerjaan jika ia punya pekerjaan atau tergantung kepada keluarganya yang kafir. Dan di antara masalah-masalah yang dihadapi oleh seorang wanita Muslimah adalah permasalahan menjalankan kewajiban semisal memakai hijab.
Seringkali pekerjaannya mencegahnya untuk mengenakan hijab, sebagaimana juga ia dilarang untuk menunaikan salat wajib di tempat kerjanya. Hal itu membuatnya tidak dapat menunaikan salat tepat pada waktunya, dan akhirnya mengerjakan seluruhnya dengan cara qada, karena ia takut dipecat sementara pekerjaan tersebut merupakan sumber rejeki satu-satunya baginya sebab ia benar-benar hidup terasing dari keluarganya.
Di keluarganya tidak ada yang masuk agama Islam selain dirinya. Masalah lain yang dihadapi oleh wanita Muslimah adalah ia tidak bisa berpuasa bulan Ramadan. Ia menyembunyikan keislamannya dari keluarganya, khususnya kepada ibunya yang sangat ekstrim, yang rela puterinya kafir namun tidak rela puterinya masuk agama Islam. Perlu diketahui bahwa wanita Muslimah ini berumur 18 tahun, yang masih kuliah dengan biaya keluarganya.
Oleh karena itu, ia masih tinggal satu rumah bersama keluarganya. Ia makan, minum, dan menjalani seluruh aktivitas kehidupan bersama keluarganya. Oleh karena itu, terkadang ia juga melakukan hal-hal haram yang keluarganya lakukan. Ia juga tidak dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Jika ia menunaikan puasa Ramadan maka hal itu akan tampak aneh di hadapan keluarganya dan mereka akan mengetahui keislamannya. Jika mereka mengetahuinya maka mereka akan mulai menyakitinya dan mencegahnya dengan berbagai cara agar dia tidak menyelesaikan studinya serta membuat kehidupannya menderita, padahal mereka adalah sumber utama dan satu-satunya bagi masa depannya.
Ada masalah ketiga mengenai seorang lelaki Jepang yang masuk agama Islam berkat karunia dan rahmat Allah, akan tetapi istrinya masih tetap kafir, demikian pula anak-anaknya na'udzubillah. Lelaki ini tidak mengetahui apa yang harus ia perbuat kepada mereka. Oleh karena itu, di sini kami ingin bertanya kepada Anda mengenai hal-hal berikut ini:
1. Apa yang harus dilakukan oleh wanita Muslimah Jepang dalam posisinya sebagaimana yang telah disebutkan di atas?
2. Apa yang harus dilakukan oleh lelaki Muslim tersebut terhadap istrinya? Apakah istrinya tetap halal baginya jika ia tetap kafir? Dan apa yang harus ia perbuat kepada anak-anaknya?
3. Apakah sah salat seorang wanita di luar rumahnya dan di tempat-tempat umum, dalam posisi duduk dengan tujuan agar auratnya tidak kelihatan? Semoga Allah membalas Anda dengan balasan yang terbaik karena mereka dan karena kaum Muslimin.