puasa
Apakah Orang Sakit Dan Musafir Wajib Berbuka Puasa, Atau Mendapat Keringanan Saja?

Fatwa Ulamaby al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts al-'Ilmiah wal Ifta'
May 9, 2023•3 min read

Ringkasan Artikel
Anda harus login untuk membuat ringkasan otomatis menggunakan AI.
Login sekarang →Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi hafizahullah berkata, tentang ayat 183, 184 dari Surah al-Baqarah, "Siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka tidak wajib berpuasa, namun wajib mengqada-nya." Beliau menjelaskan bahwa maksudnya adalah penderita sakit apa pun.
"Penyakit" maksudnya penyakit yang tidak akan bertambah parah jika dia berpuasa qada (di lain hari) dan tidak mengkhawatirkan. Demikian juga perjalanan, siapa pun yang sedang bepergian, maka dia boleh berbuka (tidak puasa), kemudian mengqadanya. Beliau berargumen dengan firman Allah Yang Mahabenar lagi Mahasuci,
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
"Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari- hari yang lain." (QS. Al-Baqarah: 185)
Beliau berkata, "Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu" yakni "maka mengqadalah." Dalam ayat itu tidak disebutkan, "Dan mereka berbuka (tidak puasa), lalu (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu."
Kesimpulannya, beliau berpendapat bahwa orang yang sakit atau musafir wajib berbuka (tidak puasa) dan mengqadanya. Dalilnya adalah kalimat "maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari- hari yang lain."
Beliau menegaskan kalimat ini, baik keduanya berpuasa atau tidak, yaitu bagi musafir dan orang sakit. Bagaimana sebenarnya hukum masalah ini? Apakah orang yang sakit atau bepergian tidak wajib puasa dengan menggunakan ayat ini sebagai dalil?