Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Hidayah yang keempat adalah hidayah ahlul jannah (penduduk surga) untuk masuk ke dalam surga dan hidayah ahlun nar (penduduk neraka) untuk masuk ke dalam Jahanam. Inilah akhir dan garis finis perjalanan panjang pencapaian hidayah. Orang-orang yang menerima hidayah dan istiqamah di atasnya hingga akhir hayat, akan diberi petunjuk masuk ke dalam surga sebagai buah perjuangan […]

Pertanyaan: Saat ini saya sedang merasakan waswas riya. Misalnya ketika shalat pada rakaat keempat, tebesit riya dan belum sempat menolak. Setelah sadar, saya langsung menolak dan memperbaiki niat. Apakah itu sudah termasuk riya dan membatalkan shalat? Bagaimana hukum ibadah yang bercampur riya, apakah itu berlaku hanya ditengah-tengah ibadah seperti rakaat ke-2 dan ke-3? Jawaban: Ibadah […]

هُوَ مَوْلَانَا ( Allah adalah pelindung kita - 1-) . Konteks situasi saat itu adalah gerakan kaum munafik yang selalu membuat ulah dan menebar ujaran-ujaran negatif tentang umat Islam. Musuh di dalam selimut semacam mereka memang ibarat duri dalam dagin…

SUFYAN ATS TSAURI رحمه الله Bagian 2 (Sang Buronan Kerajaan) ✍🏻 Al-Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini حفظه الله تعالى Imam Sufyan bin Said Ats Tsauri رحمه الله bukan hanya zuhud dari harta dunia. Namun, beliau pun sangat hati-hati terhadap godaan kedudukan duniawi. Beliau رحمه الله lebih…

Penjelasan tentang penghalang hidayah bisa digali dari sejarah kaum para nabi dan rasul yang tidak mau beriman dan menolak ajakan bertauhid. Ada beberapa sebab yang menghalangi mereka menerima hidayah. Di antaranya adalah sebagai berikut. Taklid buta dan fanatik kepada adat nenek moyang. Ini adalah penghalang terbesar dan argumentasi kuno seluruh orang kafir dari dahulu sampai […]

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya jika najis air kencing anak perempuan sudah menyebar ke mana-mana karena salah dalam membersihkannya? Kejadian itu sudah terjadi beberapa waktu lalu. Jawaban: Apabila ada najis yang menyebar ke mana-mana, hendaknya Anda berusaha untuk membersihkan tempat atau bagian yang diketahui dengan pasti atau diduga kuat terdapat najis padanya. Misalnya, tempat yang tampak bercaknya […]

بــــــــــــــسم اللّــــــــــــہ الرحمن الرحيم KABAR GEMBIRA Alhamdulillah….Insyaah Allah kembali hadir di ruang dengar anda. KAJIAN ONLINE KHUSUS 10 AWAL DZULHIJJAH 1442 H Bersama :||💺Al Ustadz Muhammad Rijal Lc حفظه الله تعالى ✒️]»📝 Materi : Sudah Sesuaikah Aqidah Kita dengan Rasuulullah ﷺ ? Insyaa Allah, rutin selama 10 Awal Dzulhijjah 1442 H. 📅 Pertemuan ke-1, Hari […]


📲 Channel Telegram Audio Rakaman Kajian Kitab Al-Ushuluts Tsalatsah – Ustadz Abdul Hakam at-Tamimi Bismillah. Berikut ini kami tampilkan channel telegram Al-Ushuluts Tsalatsah – Us…

Thalabul Ilmi Saat Pandemi Lihat dirimu ! Perhatikan sungguh-sungguh ! Cermati ! Apa yang engkau temukan? Benakmu terlintasi pikir apa? Mas....apakah Mas tidak menyadari, betapa besar karunia yang Allah titipkan untuk Mas. Tak mampu kita menentukan nilainya. Mahal. Tinggi. Bahkan tak dapat di-angkakan. Tak bisa di-nominalkan. Sehatmu itu mahal. Fisikmu itu mahal. Kekuatan jasmani juga mahal. Panca indra mu pun mahal. Itu masih materi. Apalagi thalabul ilmi mu. Apalagi hafalan Qur'an mu. Telaah hadits-hadits mu. Bahasa Arab yang pernah engkau pelajari. Ilmu fiqih dan tafsir mu. Nikmat menjadi seorang muslim. Bahagia sebagai bagian Ahlus Sunnah. Damai dalam lingkungan orang-orang saleh. Tak perlu hal itu hilang, lalu tersadar bukan? Tidak harus menunggu semua itu terlepas, baru kemudian menangisi bukan? Jangan menunggu menyesal ! Menyesal itu pedih. Sangat perih. Saat sakit, itukah yang engkau tunggu? Saat tak bisa apa-apa. Waktu badan melemah termakan usia, itukah yang engkau nanti ? Waktu tak bisa apa-apa. Ketika mata memburam, telinga berkurang dengar, lidah mati rasa atau ketika tangan kaki tak dapat digerakkan? Itukah yang engkau tunggu? Ketika terhalang dari thalabul ilmi, ketika itukah engkau sesali? Waktu hafalan Qur'an mu hilang, haditsmu dilupakan dan susah engkau berucap bahasa Arab, apakah pada waktu itu baru engkau berharap waktu berulang kembali? Kita kurang bersyukur. Iya, kita memang sangat kurang dalam bersyukur. Syukurmu bukan dengan egois. Hanya memikirkan diri sendiri. Hanya ingin semau sendiri. Tak peduli kecuali kesenangan . dan kepuasan diri sendiri. Jangan ganggu aku ! Urusi dirimu sendiri ! Apakah begitu berpikirmu? He, Mas.... Syukurmu itu dengan berjuang. Syukurmu wujudkan dengan berkorban. Berjuang untuk Islam. Rela berkorban agar kalimat Allah tegak di muka bumi. Apa yang sudah engkau lakukan untuk Islam? Apa yang telah engkau perbuat untuk umat? Atau malah justru engkau membuat malu umat? Al Mundziri terheran-heran dengan Ibn Shadaqah al Hamawi. Siang terik. Panas menyengat. Di Timur Tengah sana,Mas. Al Hamawi sedang berteduh di sebuah lubang bawah tanah sambil belajar. Kata al Mundziri, ”Di tempat semacam ini ? Dalam cuaca seperti ini ? Engkau masih belajar?”. “Kalau bukan sibuk belajar, untuk apa aku hidup?”, jawab al Hamawi. Kepada Ibn Taimiyah yang sedang sakit, dokter memberi saran supaya banyak istirahat dan sementara waktu berhenti membaca. Apa tanggapan Ibn Taimiyah? “Saya tidak dapat menahan diri untuk terus membaca buku. Sesuai disiplin ilmu yang Anda pelajari, saya hendak berdiskusi”, kata Ibn Taimiyah. Beliau melanjutkan,”Bukankah sakit akan mudah sembuh ketika suasana hati sedang bahagia? Nah, dengan membaca buku, saya merasa sangat bahagia”. Dengan demikian Ibn Taimiyah berharap lekas sembuh. Begitulah, Mas. Belajar itu tidak ada istirahatnya. Belajar itu harus terus menerus. Tidak ada habis-habisnya. Jangan merasa cukup ! Jangan bangga karena sudah dinyatakan lulus ! Sudah berapa banyak kitab yang engkau baca? Ibn Jauzi semasa thalabul ilmi pernah membaca ribuan buku. Lah kita, Mas? Baarakallahu fiik Lendah, Kulonprogo 04/07/2020.