Artikel Islami

Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Hukum Menyesal dari Bertaubat
Atsar.id
Atsar.id

Hukum Menyesal dari Bertaubat

HUKUM MENYESAL DARI BERTAUBAT Dalam fitnah-fitnah terakhir ini muncul suatu fenomena aneh dan berbahaya. Yaitu menyesal dari bertaubat. Seseorang di awal mengakui pelanggaran syariat dan bertaubat darinya. Di kemudian hari ia menyesal dari bertaubat terhadap kesalahan yang telah ia akui. Saudaraku fillah –nas’alullah ats-tsabaat-, Sebagaimana hal yang maklum bahwa “menyesal” salah satu syarat dari taubat. Namun apa jadinya jika “menyesal” itu dijadikan pembatal dari taubat? Sementara taubat dari kesalahan adalah satu jenis amalan shalih? Renungi penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berikut ini: “Adapun bertaubat dari amalan-amalan hasanah&nbsp. (kebaikan) maka TIDAK BOLEH di sisi setiap muslim. BAHKAN seseorang yang bertaubat dari amalan-amalan hasanah -bersamaan ia mengetahui bahwa ia bertaubat dari amalan kebaikan- maka orang ini menjadi kafir atau fasik. Dan jika ia tidak memahami bahwa ia bertaubat dari kebaikan maka ini adalah orang JAHIL dan SESAT. Hal itu dikarenakan hasanah  adalah IMAN dan AMAL SHALIH. SEHINGGA bertaubat dari iman adalah ruju’ (berbalik arah) darinya. Sementara berbalik dari iman adalah riddah  (murtad). Dan itulah kekufuran. Sedangkan bertaubat dari amal shalih adalah ruju' dari apa yang Allah perintah, hal itu adalah kefasikan atau kemaksiatan. =========================== Perhatikan dan renungi penjelasan Syaikhul Islam di atas –wahai saudaraku fillah-. Betapa dahsyat akibat bagi seorang yang menyesal dari taubat. Hukum yang berlaku atasnya tidaklah ringan. Mari kita cermati –wahai saudaraku fillah- apa yang beliau sampai paparkan selanjutnya:   “Sementara Allah Yang Maha Tinggi menganugerahkan rasa cinta kepada iman bagi orang-orang mukmin. Dan Dia memberi kepada mereka rasa benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.” Berikutnya, setiap hasanah yang dilaksanakan seorang hamba adalah berhukum wajib atau mustahab. Dan taubat mengandung unsur penyesalan atas apa yang telah lalu dan ‘azam (bertekad) tidak mengulangi yang semisalnya di masa yang akan datang. Dan penyesalan itu meliputi tiga hal: ◾️ meyakini jeleknya sesuatu yang ia telah menyesalinya, ◾️ marah dan membencinya, ◾️ dan rasa perih yang mengiringinya akibat apa yang ia sesali tersebut. SEHINGGA seseorang yang : ❌meyakini jeleknya apa yang Allah perintahkan baik perintah yang wajib ataupun mustahab, ❌atau ia marah terhadap perintah itu dan membenci dengan merasa kepedihan ketika melakukannya (amalan shalih), ❌dan ia merasa terganggu dengan adanya amal shalih itu.. Maka dalam diri orang ini terdapat nifaq  / kemunafikan sesuai kadarnya (dari keyakinan jeleknya amalan shalih, kemarahan, kebencian, dan merasa terganggu atasnya, pent.). Baik itu nifaq akbar yang mengeluarkannya dari akar iman ataupun nifaq asghar yang mengeluarkannya dari kesempurnaan iman yang wajib untuknya. Allah Ta’ala berfirman: ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ ﴿٢٨﴾ "Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka."   [Q.S. Muhammad: 028] Dan Allah Ta’ala berfirman: وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـذِهِ إِيمَاناً فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ ﴿١٢٤﴾ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كَافِرُونَ ﴿١٢٥﴾ " 124. Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira." "125. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir."   [Q.S. At-Taubah: 124 – 125] Dan Allah Ta’ala berfiman: وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً ﴿٨٢﴾ "Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." [Q.S. Al-Israa’: 82]. 📖 Kitab At-Taubah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 42 – 43. ======###====== Takutlah kepada Allah wahai saudaraku... Tidak ada gelar yang baik untuk orang yang menyesal dari melakukan taubat atas kesalahannya. Kafir. Fasik. Jahil. Sesat. Munafik. Baik hukum itu dalam jenis akbar  ataupun ashghar  keduanya adalah kejelekan. Maka bersegeralah bertaubat dari "rujuk dari taubat". Sebelum datang hari perhitungan yang akan ditegakkan keadilan di dalamnya. Masing-masing akan dinilai sesuai dengan apa yang ia lakukan. # muhibbukum fillah 📑Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah •••• 📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF] 🌍www.alfawaaid.net Hukum Menyesal dari Bertaubat via Pixabay

Manhaj
Nov 30, 20175 min read
Kisahku : "Secercah Suka, Tertimpa Duka"
Atsar.id
Atsar.id

Kisahku : "Secercah Suka, Tertimpa Duka"

SECERCAH SUKA TERTIMPA DUKA "Ada yang punya air minum gak ?" "abang punya" "mana bang?" " tuh ambil di tungku, banyaak, hehe" Itu kurang lebih percakapan akhirku dengannya sebelum ia menutup usianya di hari itu Namanya Fajri, pribadinya sederhana, baik hati, murah senyum, keceriaan selalu terpasang di wajahnya. Ia masih memiliki hubungan darah denganku, masih tergolong sepupu abi.Berarti tepatnya ia adalah pamanku, namun karena usia terpauttidak terlalu jauh sehingga aku akrab memanggilnya "abang". Saat hari ketiga setelah hari raya Idul Fitri1431 Hijriyyah, pondok pesantren kumengeluakan SK tidak ada libur hari raya bagi santri. Sedih? memang!&nbsp. kecewa? jelas! Namun Alhamdulillah kami sedikit terhibur dengan aktivitas yang diprogram pihak pondok pesanten. Di antara kegiatan yang diadakan pihak pondok pesantren pada saat itu adalah pergi berkunjung ke rumah rumah teman dipusa kota dalam rangka mempererat ukhuwwah. Hari ke 3 saat itu santri syabbab ( remaja ) mendapat jadwal untuk pergi. Pihak pondok pesantren menyediakan sebuah mobil pick up untuk lebih bisa menampung santri syabab yang jumlahnya banyak. Saat itu aku barulah menginjak kelas tahfidz, sehingga tidak diperkenankan ikut. Blaa...blaa... singkat cerita, mereka pun mengagendakan nanti sepulang berkunjung kerumah teman, akan singgah melepas penat disebuah kolam renang....Berenang merupakan salah satu olahraga yang paling digemari santri saat itu. Waktu yg dipilih untuk berenang pada malam hari, untuk menghindari ikhtilath ( bercampur baur lakilaki perempuan yang bukan mahram?, katanya. Allah memang mengatur semuanya, manusia hanya menjalaninya. Sebuah peristiwa aneh beberapa saat sebelum melaju ke kolam renang. Saat itu lewat seorang tak diundang dan tak dikenal dihadapan santri syabab saat itu dan berkata:  " Nanti pulang jangan sedih ya !" Siapa sih orang ini? Kok ngomong seperti itu? Gak jelas blas ! Saat itu mereka tidak terlalu menanggapi ucapan lelaki antah berantah tersebut. Mobil pun akhirnya melaju ke kolam renang yang dimaksud. Tanpa disadari mereka mengantar salah seorang teman mereka menuju detik penentuannya ! Kami pun para santri tahfidz dari pondok pesantren menyusul ke kolam renang tersebut seusai sholat isya. Baju ganti, sabun mandi, dan tak lupa gayung pun kami sudah siapkan agar menambah keseruan di permandian nantinya. Tak sadar , kalau sesungguhannya kami sedang digiring oleh suratan takdir menuku sebuah ketetapan, melihat salah seorang teman kami nantinya dipanggil oleh Allah Rabb yang hanya kepada Nya  lah kita semua akan kembali. "jangan ada yang berenang dulu sampai ustadz datang"  kata ustadz kami mewanti wanti santri syabab saat itu. Ustadz saat itu tengah menemani kami dari pondok pesantren menuju kolam renang. Kami ditemani seorang musyrif dibelakang untuk mengawasi, sebut saja namanya Ami Utsman. Sesampai nya santri syabab disana merekapun berhamburan turun dari mobil dan langsung menceburkan diri ke kolam renang. Tak sabar, lupa akan pesan Ustadz. Salah seorang pengurus mereka yang sedang terhambat karena ada sebagian biaya administrasi yang luput pun belum sempat masuk, ia kembali keluar mencari uang yang kurang. Setelah ditemukan kemudian di bayarkan. "Keluar dari kolam renang kalian semua! Itu ada bayangan hitam dibawah kolam renang , seperti bayangan orang" Semuanya sontak kaget tak karuan "Sepertinya ada yang tenggelam, siapa yang tidak ada ?" Namun anehnya tidak ada satupun yang bisa menerka dengan tepat sosok misterius di dasar kolam tersebut. " Ada apa ini? " tanya ami yang baru saja melunasi administrasi, melihat semua santri berkumpul di pinggir kolam.  " itu mi, ada seperti bayangan orang tenggelam." Dengan segera pemilik kolam renang pun diberi tahu.  " Loh tadi siang kan mayatnya sudah diambil". Wih...wih...wih..., ternyata tepat di siang harinya juga ada yang tenggelam. Akhirnya diketahui setelah itu, bahwa kolam renang itu menyimpan berbagai cerita yang membuat bulu kuduk ini merinding mendengarnya. "Iya, ada orangnya dibawah.", Kata sorang santri asal Sulawesi, setelah ia menyelam dan berhasil memegang telinga sosok tersebut. Mendengar berita tersebut sang pemilik kolam renang pun langsung. "Bismillah, Allahu Akbar." Jebuur.. Ia pun menyelam dikedalaman 2 meter tersebut disusul santri asal Sulawesi tadi. Akhirnya jasad pemilik bayangan tersebut berhasil diangkat naik dan dikeluarkan. Saat itu sirwal yang ia kenakan tersingkap hingga lututnya terboran__ "Oh.. orang awwam mungkin ( pakai celana pendek, lututnya kelihatan)." Akan tetapi ternyata.... Seorang fajri adalah sosok  pemilik bayangan tersebut.! Ia sudah terbujur kaku, walaupun saat itu jantungnya masih berdetak ringan. Semua santri terdiam larut dalam kesedihan, sebagian menangis tak kuasa membendung air mata...Sebagian mencoba memberi nafas buatan. Mereka semua panik tak karuan, hingga diputuskan untuk segera dilarikan dirumah sakit terdekat guna mendapatkan pertolongan pertama. Ustadz pun ditelepon , dan tak pelak mereka semua dihujani kata kata pedas dari beliau. "Sudah saya katakan, jangan ada yang mandi dulu sebelum saya datang." Ustadz marah besar. Banyak misteri kejadian tersebut yang hingga saat ini yang belum terpecahkan. Jika melihat kemampuan beliau dalam hal renang, Fajri adalah jagonya. Bahkan rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari danau Maninjau Namun semua kelihaian manusia tiada arti jikalau dihadapkan dengan suratan takdir yang telah Allah tetapkan. Misteri kedua, disaat tenggelam pun tiada yang mengetahuinya seorangpun . Tiba tiba hilang tenggelam di dasar kolam. Jasadnya pun tidak mengapung orang yang tenggelam pada umumnya. Lebih anehnya lagi tidak ada satu santri pun yang melihat Fajri meminta tolong dan bantuan saat tenggelam. Misteri ketiga disaat jasadnya dikeluarkan dari kolam terdapat dua garis biru seperti bekas cakaran di bagian pinggang. Wallahu a'lam, hanya  Allah lah yang mengetahui tentang mengapa dan bagaimananya. Saat perjalanan tidak seperti biasanya. Sehingga tatkala sampai dipertigaan menuju kolam renang mobil justru melaju lurus.__ "Loh, mi gang kolam nya kelewatan?"** Ujar kami polos. "Diam ! Diam!" Balas ustadz yang saat itu duduk disamping sopir. "Mungkin kita mau ke kolam renang yang lain, atau mungkin kita bisa mandi di rumah sakit jiwa aja." Ujar ami Utsman setengah bercanda karena mobil ketika itu akan melewati rumah sakit jiwa. Dan ternyata mobil pun belok kiri dan memasuki area rumah sakit jiwa. "Loh siapa ikhwan yang gila?", Kata ami Utsman kebingungan yang sedari tadi tidak tahu menahu apa yang terjadi. Jin, sebagaimana manusia ada yang taat dan banyak pula yang jahat. Mengganggu manusia, menyakiti, memisahkan antara suami dan istri, bahkan membunuh....Namun Allah telah memberikan senjata untuk melawan mereka. Yaitu zikir zikir, terutama zikir pagi dan sore. Dengannya Allah akan menjaga dan memberikan perlindungan Nya. Disana telah berkumpul santri syabab, tertunduk malu, merasa basah kuyup semua. "Pulang kalian semua ke pondok!" Ustadz marah besar kepada  mereka. **"Fajri meninggal.." Hah? Aku pun langsung menelan ludah saat mendengarnya, semoga bukan Fajri pamanku karena pemilik nama Fajri ada tiga saat itu. Kaki ini pun ku seret, langkah demi langkah menuju ruang UGD. Tek..tek.. detak jantung ini berdegup kencang. Dan hampir tak kuasa mata ini menahan tangis yang membanjir, saat melihat ternyata memanglah pamanku. Aku harus menerima, ini takdir Allah, batinku. Saat kusentuh badannya begitu dingin terbujur kaku, detak jantung nya tak lagi kurasakan. Aku hampir tak percaya,` Inikah sosok Fajri yang tadi pagi masih sempat mencandaiku sebelum berangkat? Inikah sosok Fajri yang tadi pagi masih mencerminkan senyuman di wajah cerianya? Aku saat itu diam terpaku membisu tak sanggup tuk berkata kata. Kawan...., hidup dan umur itu sangat singkat, sesingkat kita membolak balik telapak tangan ini, dan sesingkat mata ini berkedip di setiap detiknya. Yang dulu ada menjadi tiada, yang sulu kecil menjadi besar. Anak anak menjadi besar dan dewasa, menjadi suami atau istri, menjadi bapak atau ibu, menjadi mertua, dan menjadi kakek atau nenek...Yang dulu ada menjadi tiada saat badannya terbungkus kain kafan, ia harus pamit untuk selamanya dari dunia fana ini guna melanjutkan hari hari di kehidupan berikutnya. Malam itu juga abi ditelepon ustadz. Mendengar berita tersebut abi langsung mengontak pihak keluarga Fajri yang notabenenya masih awwam. Malam itu juga dua mobil meluncur menuju pondok pesantren membawa keluarga yang sedang duka tersebut dengan rute perjalanan sekitar tujuh jam. Malam itu juga, fajri dibawa pulang ke pondok pesantren menggunakan mobil ambulan rumah sakit. Di sepanjang jalan hanya kami lewati dengan tatapan hampa. Hanya bisa termenung dalam lamunan, hanyut dalam duka yang baru saja menimpa, tidak ada yang berani berbicara angkat suara , apalagi bercerita dan bercanda. Baju ganti masih tersedia, peralatan mandi belumlah terpakai tiada yang tersentuh, semuanya masih utuh. Di keesokan pagi, datanglah rombongan keluargaku ke pondok pesantren. Saat mobil berhenti, serta merta keluar kakaknya tanpa alas kaki. Matanya sudah bengkak banjir air mata, disusul dengan keluarga lainnya. Semuanya segera memasuki rumah kecil yang tergeletak didalamnya jasad Fajri yang telah terbungkus kain kafan, semuanya menangis bahkan ada yang histeris tak kuasa menahan keadaan. Maklum mereka masih banyak yang awwam belum mengerti, semoga Allah mengampuni mereka. Abi berusaha tegar menyabarkan mereka, menabahkan, menghibur, dan membesarkan hati mereka. Disiang hari itu juga , hari keempat setelah Idul Fitri 1431 Hijriyyah , jenazah Fajri dikebumikan, belasan mobil mengantarnya ke pemakaman, rohimahullah. Beberapa hari setelah kejadian tersebut ayah Fajri bermimpi melihat anaknya, "Pak, jangan sedih ya! Fajri baik baik saja kok disini." Kalau melihat dari apa yang terjadi maka tak heran bila ayahnya bermimpi seperti itu....Dikarenakan Fajri baru saja menyelesaikan puasa Ramadhan, meninggal dikarenakan tenggelam pun termasuk syuhadal akhirah.... sebagaimana dalam sebuah hadits yang shohih. Jasadnya pun di sholatkan sekitar 200 ikhwan yang semuanya mendoakan ampunan dan kebaikan  untuknya. Fajri, nama itu sekarang tinggal kenangan, ia sudah lembar hidupnya di usia 17 tahun, semoga Allah melimpahkan  dan rahmat untuknya. Sementara kita  ? Kesempatan bernafas masih Allah berikan, kesempatan menambah bekal takwa masih bisa dikejar, kesempatan bertobat dari segala dosa pun masih bisa kita genggam. Pertanyaannya, sudah maksimalkah kita menumpuk dan memupuk amal takwa kita?  Sudah siapkah kita tatkala suatu saat Allah memanggil kita? Tanyakan kepada dirimu setelah tafakkur dan jujur ! Ini hanyalah sebatang sirih atau setetes embun dari ribuan bahkan jutaan hikayat perjalanan manusia di muka bumi Allah.      Semoga kita bisa mengambil ibrah serta pelajaran dari ini semua. إِنَّ فِيْ ذَالِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبُ أَوْ أَلْقَى السَمْعَ وَ هُوَ شَهِيْدٌ. "Padanya terdapat pelajaran dan peringatan bagi siapa saja yang memiliki hati yang bersih ( diatas fitrah), memfokuskan pendengaran sementara ia menyaksikan." Wallahu a'lam.. selesai Dikutip dari majalah Qudwah Edisi 53 VOL. 05 1439 H. | 19 Shofar 1439 H Sumber : WA Pemuda Islam Bridge via Pixabay

Cerita
Nov 14, 201710 min read
Biografi Imam Abu Dawud
Atsar.id
Atsar.id

Biografi Imam Abu Dawud

Biografi Imam Abu Dawud Nama lengkap ulama kita kali ini adalah Sulaiman bin Al-Asy’ats bin Syaddad yang lebih populer dengan sebutan Abu Dawud. Adz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa Abu Dawud Al-Azdi As-Sijistani adalah seorang pemuka, pimpinannya para hafizh dan ahli hadits Bashrah. Ia dilahirkan pada tahun 202 H di sebuah daerah yang bernama Sijistan. Abu Dawud mempunyai kesungguhan yang besar dalam menuntut ilmu. Semenjak usia muda, beliau telah melakukan rihlah (perjalanan) ke berbagai penjuru negeri untuk menuntut ilmu. Suatu hal yang bisa dimaklumi karena ia tumbuh di lingkungan keluarga yang mencintai hadits-hadits Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayahanda yang bernama Al-Asy’ats bin Syaddad adalah seorang perawi hadits. Selain itu, saudara laki-lakinya yang bernama Muhammad bin Al-Asy’ats juga seorang perawi hadits. Bahkan sempat menjadi teman berkelana dan melanglang buana untuk mencari ilmu hadits. Sehingga, keadaan ini sangat mendukung Abu Dawud untuk menekuni ilmu hadits sejak usia muda. Belum lagi ditunjang semangat besarnya untuk mendalami ilmu hadits dan meriwayatkannya kepada kaum muslimin di zamannya. Abu Dawud banyak menghasilkan karya tulis dalam berbagai cabang ilmu. Sunan Abu Dawud menjadi salah satu karya monumentalnya dan masih eksis hingga saat ini. Bahkan kitab susunan beliau ini menjadi salah satu kitab induk penting dalam masalah hadits. Di antara karya tulisnya adalah Kitab Al-Qadar, An-Nasikh wal Mansukh, Kitab Az-Zuhd, Dala`ilun Nubuwwah, Akhbarul Khawarij dan yang lainnya. Salah satu bukti yang menunjukkan begitu seriusnya Abu Dawud melakukan rihlah menuntut ilmu adalah tersebarnya guru beliau di berbagai penjuru negeri. Di Makkah, ia meriwayatkan hadits dari Al-Qa’naby dan Sulaiman bin Harb. Adapun di Bashrah meriwayatkan hadits dari Muslim bin Ibrahim, Abdullah bin Raja’, Abul Walid Ath-Thayalisi, Musa bin Ismail, dan yang lainnya. Sementara di Kufah nama-nama seperti Al-Hasan bin Ar-Rabi’ Al-Burani dan Ahmad bin Yunus Al-Bura’i. Adapun di Harran ia meriwayatkan hadits dari Abu Ja’far An-Nufaili, Ahmad bin Syuaib dan yang lainnya. Adapun di Halab meriwayatkan dari Abu Taubah Ar-Rabi’ bin Nafi’. Ia juga bertemu dan belajar kepada Haiwah bin Syuraih di Hims. Di Damaskus ia menimba ilmu dari Shafwan bin Shalih dan Hisyam bin Ammar. Kemudian di Khurasan meriwayatkan dari Ishaq bin Rahuyah dan yang lainnya. Tidak terlewatkan di Baghdad ia belajar kepada Imam Ahmad bin Hanbaldan di Mesir meriwayatkan dari Ahmad bin Shalih dan selainnya. Demikianlah, Abu Dawud melanglang buana demi untuk menimba ilmu dari para ulama. Masih banyak guru-gurunya yang tersebar di berbagai penjuru negeri yang tidak tercatat dalam biografinya. Dengan perantauan ke berbagai negeri itu membuat Abu Dawud mampu mengoleksi hadits-hadits yang sangat banyak. Dari situlah kemudian ia menyusun kitab Sunan yang sampai sekarang menjadi bagian dari Kutubus Sittah [1]. MURID-MURIDNYA Para ulama yang pernah menimba ilmu dan meriwayatkan hadits dari Abu Dawud cukup banyak. Di antaranya adalah Abu Isa At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, An-Nasai, Ahmad bin Muhammad Al-Khallal, Abu Ahmad Ja’far Al-Ashbahani, Harb bin Ismail Al-Kirmani, Ishaq bin Musa Ar-Ramli, Ahmad bin Ali bin Al-Hasan Al-Bashri dan masih banyak yang lainnya. PUJIAN PARA ULAMA Pembaca yang budiman, kepakaran Abu Dawud dalam bidang hadits telah diakui oleh sekian banyak ulama besar di masanya maupun setelahnya. Ia menguasai kurang lebih lima ratus ribu hadits, Subhanallah! Ini menggambarkan hafalannya yang sangat kuat. Secara karakter, ia disebut-sebut sebagai ulama sangat mirip dengan Imam Ahmad yang merupakan salah satu gurunya. Sebagian ulama yang menyatakan bahwa Abu Dawud mempunyai kemiripan dengan Imam Ahmad. Suatu hal yang wajar karena Imam Ahmad adalah salah satu guru besarnya di Baghdad. Adz-Dzahabi menyatakan dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala, “Abu Dawud adalah seorang imam dalam ilmu hadits dan cabang ilmu yang lainnya. Bahkan ia termasuk ulama besar dalam bidang ilmu fikih. Ia adalah salah satu murid Imam Ahmad yang cerdas. Ia telah menetapi majelis Imam Ahmad selama beberapa tahun dan bertanya kepadanya tentang berbagai permasalahan rumit terkait furu’ (cabang ilmu, seperti fikih dan lainnya, red.) dan ushul (pokok ajaran agama, yakni akidah, red.).” Simaklah pujian dan sanjungan dari para ulama besar berikut ini. Abu Bakar Al-Khallal rahimahullah berkata, “Abu Dawud adalah seorang imam yang menonjol di zamannya.” Ahmad bin Muhammad bin Yasin berkata, “Abu Dawud adalah salah seorang penghafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kandungannya, penyakit dalam riwayatnya, dan sanadnya. Beliau memiliki ibadah, kehormatan diri, kebaikan, dan sikap wara’[2] yang tinggi.” Ibrahim Al-Harabi rahimahullah berkata, “Tatkala Abu Dawud menulis kitab Sunan, hadits telah dilunakkan (yakni dimudahkan,red.) bagi Abu Dawud sebagaimana besi dilunakkan untuk Nabi Dawud.” Sungguh ungkapan yang tidak berlebihan, Allah telah memudahkan Abu Dawud untuk menyusun kitab Sunannya hingga manfaatnya bisa dirasakan oleh kaum muslimin sampai detik ini. Muhammad bin Makhlad berkata, “Tatkala Abu Dawud selesai menulis kitab Sunan kemudian dibacakan kepada kaum muslimin, sejak saat itulah kitabnya seolah-olah menjadi mushaf bagi para ahli hadits. Mereka menyetujui keberadaan kitab tersebut dan tidak menyelisihinya. Mereka juga mengikrarkan pengakuan terhadap hafalan dan keunggulannya.” Al Hafizh Musa bin Harun berkata, “Abu Dawud tercipta di dunia untuk hadits dan di akhirat untuk surga[3]. Aku belum pernah melihat ulama yang semisal dengannya.” Ibnu Hibban berkata, “Abu Dawud adalah salah seorang ulama [yang menguasai ilmu seluruh] dunia secara kefakihan, keilmuan, hafalan, ibadah, dan sikap wara’nya. Ia mengumpulkan hadits, membuat karya tulis dan membela sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Abu Abdillah Al-Hakim berkata, “Abu Dawud adalah imamnya ahli hadits pilih tanding di zamannya.” KEPRIBADIAN DAN AKHLAKNYA Dalam hal berpakaian, Abu Dawud mempunyai kebiasaan yang cukup unik. Ia mempunyai baju yang salah satu lengannya lebar dan yang satunya sempit. Apabila ada yang bertanya mengenai hal itu, ia pun menjawab, “Lengan yang lebar ini untuk membawa kitab. Adapun yang satunya tidak diperlukan untuk itu.” Abu Dawud adalah seorang figur ulama yang sangat memuliakan ilmu dan para penuntut ilmu. Adalah Abu Bakar bin Jabir, pembantu Abu Dawud yang setia ini pernah menjadi saksi sifat terpuji yang dimiliki Abu Dawud tersebut. Abu Bakar berkisah, “Aku pernah menemani Abu Dawud di kota Baghdad. Tatkala kami usai mengerjakan shalat Maghrib, datanglah amir (penguasa) Abu Ahmad Al-Muwaffaq ke rumahnya. Setelah masuk rumah, Abu Dawud pun datang menemuinya. Abu Dawud bertanya, ‘Apa gerangan yang mendorong amir datang malam-malam begini?’ Amir pun menjawab, ‘Ada tiga urusan yang mendorongku datang ke sini.’ ‘Urusan apa?’ tukas Abu Dawud. Ia pun berkata, ‘Hendaknya anda pindah ke Bashrah lalu menjadikannya sebagai tempat tinggal supaya para penuntut ilmu berdatangan kepada anda. Dengan demikian, Bashrah akan menjadi makmur lagi karena sesungguhnya kota tersebut telah hancur dan ditinggalkan penduduknya karena peristiwa Zanji. Ini yang pertama.’ Katanya. ‘Kemudian yang kedua anda meriwayatkan kitab sunan kepada anak-anakku.’ ‘Baik, coba sebutkan yang ketiga.’ Pinta Abu Dawud. Amir pun berkata, ‘Anda membuat majelis tersendiri untuk mereka. Karena anak-anak penguasa tidak pantas duduk-duduk bersama rakyat jelata.’ Mendengar permintaan itu, Abu Dawud dengan tegas menyatakan, ‘Adapun permintaan yang ketiga ini tidak bisa aku penuhi. Karena seluruh manusia itu sama statusnya dalam menuntut ilmu.’” Ibnu Jabir menuturkan, “Sejak saat itu, anak-anak penguasa itu hadir di majelis kerumunan orang-orang awam dengan tirai pemisah dan mendengarkan hadits bersama mereka.” Beliau pun tinggal di Bashrah setelah tewasnya Az-Zanji dan menyebarkan ilmu agama di tempat tersebut. Namun demikian, ia sering mengunjungi Baghdad untuk bersua dengan Imam Ahmad. Abu Dawud pernah memaparkan kitabnya kepada Imam Ahmad dan dinilai baik olehnya. Abu Dawud adalah seorang ahli hadits dan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mengenai hal ini Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Abu Dawud di atas manhaj (jalan) salaf terutama dalam hal mengikuti sunnah.” Hal ini juga terbukti dengan bantahannya terhadap beberapa kelompok sesat yang telah muncul saat itu. Seperti Qadariyah dan Khawarij yang bantahannya termaktub dalam Sunan Abu Dawud. Selain itu juga terdapat bantahan terhadap kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Murji’ah. Abu Dawud juga pernah menyatakan, “Umair bin Hani’ adalah seorang Qadary (pengikut paham Qodariyah).” Abu Dawud meninggal dunia di kota Bashrah pada tanggal 16 Syawal 275 H. Hal ini diungkapkan oleh muridnya yang bernama Abu Ubaid Al-Ajurri. Beliau meninggalkan seorang putra yang bernama Abu Bakar Abdullah bin Sulaiman bin Al-Asy’ats. Ia juga merupakan seorang pakar hadits dan imam di kota Baghdad. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada Imam Abu Dawud. Allahu a’lam. _________ [1] Enam induk kitab hadits: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah. [2] Wara’: Bersikap hati-hati dalam memilih sesuatu [3] Di antara pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kita tidak boleh memastikan seseorang masuk surga atau neraka tanpa ada dalil yang benar dari Al-Quran maupun hadits. Meskipun orang tersebut adalah orang yang paling taat beribadah, atau orang yang paling fajir. Karena kita tidak tahu akhir hayat dari orang tersebut. Sumber: Majalah Qudwah, edisi 17 vol. 2 1435 H/ 2014 M, rubrik Biografi. |http://ismailibnuisa.blogspot.co.id/2014/05/abu-dawud.html?m=1 "Leave writing tools" via Pixabay

Biografi
Nov 12, 20178 min read
Hukum Nadzor dengan Foto, Video (Skype)
Atsar.id
Atsar.id

Hukum Nadzor dengan Foto, Video (Skype)

BOLEHKAH NADZOR VIA MEDIA PHOTO? Afwan ustadz mau tanya, apakah boleh nadzor lewat media/photo? Apakah di situ ada kemungkaran? Jazakallohu Khoiron JAWABAN Kami nukilkan fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrohim Al Bukhory, terkait nadzor dg skype/video call saat calonnya tinggal di kota yg jauh. Di sini penanya berkata: "Aku ingin menikah dengan seorang wanita yang tinggal jauh dari kota tempat tinggalku (±200km). Apakah diperbolehkan bagiku untuk menadzornya sebelum khitbah dengan menggunakan (aplikasi) SKYPE? Untuk diketahui, bahwa akhwat tersebut bersama mahromnya (saat proses nadzor). Berkata Assyaikh: "Apabila menadzornya tersebut dilakukan secara langsung (live), bukan melalui file yang disimpan atau dapat dishare kesana kemari dsb (pent_video/foto), melainkan secara langsung, yakni seakan memindahkan sesuatu yang hidup (seperti cermin), yang mana engkau dan dia saling melihat dan mendengar. Jika demikian keadaannya, tidak mengapa insya Allah. Akan tetapi jangan berluas-luas (berlebihan). Dan ketahuilah bahwa ini bukan gambar (yang diharamkan), melainkan sebatas memindahkan objek, maka jika seperti ini tidaklah mengapa, walaupun yang lebih utama adalah kamu datang untuk melihatnya secara langsung dengan nadzor secara syar'i". Wallahu a'lam (Kemudian beliau mengingatkan). "Dan menjauhi semua wasilah2 semacam ini adalah lebih selamat dan hati-hati". Assyaikh bertanya: "Apakah hp/aplikasi ini menyimpan gambar? Gambarnya akan tersimpan atau hilang?" (Jama'ahnya menjawab) : "Hilang dan tak tersimpan". "Tidak mengapa jika live dan tak tersimpan, harus dengan syarat ini (live dan tak tersimpan)". Ust Athoullah Banten: Namun Ana pernah mendapat fatwa Assyaikh Muhammad bin Hady Al-Madkholy, beliau melarang hal ini demi kehati2an, karena bisa saja gambar/videonya akan dicuri oleh pihak pengelola aplikasi atau hp dan kemudian tersebar -na'udzubillah-. Intinya: Kalau bisa datang, datangilah akhwat tsb, tunjukan perjuangan dan kesungguhan kita kepada fulanah dan keluarganya, lebih berkah dan mengena insya Allah. Di terjemahkan oleh : Ust Athoullah Banten Simak audionya klik http://bit.ly/Nadzorviaskype Dipublikasi oleh : GRUP KHUSUS MEMBAHAS POLIGAMI Join channel https://t.me/maximal4 Hukum Nadzor dengan HP melalui media foto atau video | Sumber gambar : Pixabay

Keluarga
Nov 10, 20173 min read
«»
HomeRadioArtikelPodcast