Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

TAHDZIR SYAIKH RABI' BIN HADI TERHADAP HANI BIN BURAIK HADAHULLAH Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi hafizhahullah ditanya: سمعنا عن إنشاء مركز جديد في عدن يقال إنه سيكون مركزا من مراكز أهل السنة في عدن قام بإنشائه وتبنيه شخص يدعى هاني بن بريك، علما أن هذا الرجل: Kami telah mendengar tentang r…

 .Apakah menyentuh najis membatalkan wudhu? Oleh : Asy Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah. Pertanyaan: Apabila anak kecil buang air kecil di tempat selain kamar mandi, kemudian ada seseorang yang dalam keadaan berwudhu melewati tempat tersebut dan menginjak air kencin…

Imam At-Tirmidzi Begitu harum namanya disebut dalam untaian hikmah. Bertaut dengan Sang Musthafa, Khairul Anam shallallahu ‘alaihi wa sallam . Nabi Mulia, yang tidak berkata dari nafsunya. Melainkan dari wahyu yang turun kepadanya. Imam At-Tirmidzi, salah satu tanda kebenaran firman-Nya. Bahwa agama ini niscaya terjaga, dengan perantara ulama pengusung bendera sunnah. Hingga kelak kiamat tiba. Nama asli At Tirmidzi adalah Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa As Sulami Al Bughi At Tirmidzi Adh Dharir . Inilah silsilah nasab beliau yang disebutkan dalam kebanyakan riwayat. Di sana ada pula riwayat lain yang sedikit berbeda dalam penyebutan kakek dan di atasnya dari moyang-moyang beliau. KELAHIRAN IMAM AT TIRMIDZI Lahir pada tahun 209. Tidak diketahui dengan pasti tempat kelahiran beliau. Apakah di kota Tirmidz atau desa Bugh. Yang pasti, Tirmidz adalah sebuah kota kuno. Letaknya di muara sungai Balchia yang juga disebut sungai Jeihun, tepatnya sebelah selatan sungai itu. Jarak antara Tirmidz dan desa Bugh sekitar 6 farsakh (kurang lebih 33 Km). Ada juga tambahan keterangan dalam sebagian kisah bahwa beliau lahir dalam kondisi buta. Wallahu a’lam dengan akurasi riwayat ini. Yang lebih tepat, beliau mengalami kebutaan di masa tuanya karena banyak menangis. GURU-GURU IMAM AT TIRMIDZI Beliau menjumpai banyak guru besar dalam bidang hadits. Mendengar hadits-hadits dari mereka dan meriwayatkannya. Masa itu memang dikenal sebagai era kebangkitan ilmu hadits dan cabang-cabangnya. Masa keemasan ini tidak lepas dari peran Imam Asy Syaf’i Al Muthallibi. Ia ajarkan ilmu ini kepada masyarakat luas, lebih khusus kepada penduduk Mesir dan Iraq. Asy Syaf’i mengajarkan keharusan berhujah dengan As Sunnah, menjelaskan bagaimana kewajiban mengamalkan As Sunnah, sebagaimana kewajiban berhujah dan mengamalkan Al Quran. Beliau letakkan kaidah dan pokok-pokok dalam berhujah dengan hadits-hadits nabi. Imam At Tirmidzi memang tidak menjumpai Asy Syafi’i. Bahkan para penulis kutubus sittah seperti Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan An Nasa’i tidak ada yang bertemu langsung dengan beliau karena beliau lebih dulu wafat. Namun, mereka bertemu dengan guru-guru besar yang sezaman dengannya atau murid-murid seniornya. At-Tirmidzi juga murid senior Al Bukhari. Dia mengambil ilmu hadits, memperdalam ilmu fikih, bertanya dan mengambil faedah, dan saling beradu argumen. Ada kalanya At Tirmidzi mengikuti pendapat Al Bukhari dengan dalilnya. Dan terkadang, beliau tidak sependapat dengannya. Demikianlah keadaan para ulama sunnah, mereka selalu mengikuti kebenaran dan jauh dari sikap taqlid, bahkan mengingkarinya. At Tirmidzi Bertualang Mempelajari Hadits At Tirmidzi berkeliling negeri untuk mereguk ilmu. Beliau menemui para periwayat hadits yang tersebar di negeri Khurasan, Iraq, dan Hijaz (Makkah dan Madinah). Namun, sebagian ulama memiliki persangkaan kuat bahwa At Tirmidzi tidak sempat masuk dan menimba ilmu di negeri Baghdad. Buktinya, nama beliau tiada disebut oleh Al Khathib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad. Bukti lain, ia tidak meriwayatkan satu hadits pun langsung dari Imam kota Baghdad sepeninggal Asy Syafi’i, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal. Padahal At Tirmidzi menjumpai masa hidup Imam Ahmad yang lahir pada tahun 164 dan wafat tahun 241. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa tiada disebutnya nama At Tirmidzi dalam Tarikh Baghdad bukanlah melazimkan bahwa ia tiada pernah memasukinya. Ada kemungkinan lain yang melatari, yaitu bahwa At Tirmidzi masuk ke Baghdad setelah Imam Ahmad meninggal. Karena perjalanan ilmiah At Tirmidzi tidaklah bermula dari masa kecilnya, namun setelah beliau berusia lebih dari 20 tahun, yaitu pada tahun 234 H. Wallahu a’lam dengan dua pendapat ini mana yang lebih bisa kita pegangi. MURID AT TIRMIDZI Yang meriwayatkan hadits dari beliau sangat banyak. Di antara yang paling penting untuk disebut dari sekian banyak murid beliau adalah Abul Abbas Al Mahbubi. Ia seorang ahli hadits paling menonjol dari negeri Maru. Dan dialah yang meriwayatkan kitab Jami’ At Tirmidzi langsung dari beliau. Al Mahbubi dikenal sebagai muhaddits sekaligus saudagar di negeri Khurasan. Ia juga menjadi bidikan para pencari ilmu dari berbagai penjuru negeri. OTAK CEMERLANG DAN DAYA INGAT YANG SEMPURNA Dihikayatkan dari Al Idrisi dengan sanadnya dari At Tirmidzi bahwa ia bercerita, “Pada saat aku dalam perjalanan menuju Makkah, ketika itu aku telah menghimpun hadits-hadits yang berasal dari seorang syaikh dalam dua jilid. (Namun aku belum pernah bertemu langsung dengannya. Hadits-hadits itu aku dapatkan dari murid-muridnya). Di tengah perjalanan, dengan takdir Allah Syaikh tersebut berpapasan dengan kami. Setelah aku tahu bahwa itu adalah Syaikh yang sedang aku tulis hadits-haditsnya dalam dua jilid itu, maka aku pun bergegas menemuinya. Sebelum itu, kuambil terlebih dahulu ‘dua jilid kitab’ dari kantong perbekalan. Aku meminta syaikh tersebut membacakan hadits-haditsnya sehingga aku bisa mencocokkan dengan tulisanku. Ia pun mengabulkan permintaanku. Subhanallah! Ternyata yang ada di hadapanku bukanlah buku yang berisi haditsnya. Melainkan dua jilid lain yang masih putih dan polos. Aku bingung dibuatnya. Namun, tidak mungkin pula aku berputar haluan menukar dua jilid yang kumaukan. Tak lama berselang syaikh itu membacakan hadits dan lafazhnya kepadaku. Di sela-sela pembacaan itu ia melihat kepadaku dan melihat bahwa kertas yang kupegang masih putih bersih. Maka dia menegurku, “Tidakkah engkau malu kepadaku?” Aku katakan, “Bukan begitu perkaranya wahai Syaikh!” Aku pun memberitahukan kepadanya kenapa aku membawa buku kosong. Lalu aku berkata menghiburnya, “Namun aku telah menghafal semuanya wahai syaikh.” Maka syaikh tersebut berkata, “Kalau begitu, ayo baca!” Maka aku pun membacakan kepadanya seluruhnya. Sayang, dia belum percaya dengan pengakuanku, maka dia pun bertanya menyidik, “Pasti telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?” “Tidak wahai guru,” Jawabku. Untuk membuktikan kebenaran ucapanku, aku meminta lagi agar dia meriwayatkan hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadits gharib (hadits yang diriwayatkan hanya melaluinya sehingga tentu mustahil aku pernah mendengar hadits-hadits tersebut kecuali ketika itu), lalu berkata, “Coba ulangi apa yang kubacakan tadi.” Dengan izin Allah, aku ternyata dapat membacakannya kembali dari pertama sampai selesai tanpa salah satu huruf pun. Sehingga syaikh itu berkata, “Wahai murid, aku belum pernah melihat orang sepertimu.” PUJIAN ULAMA TERHADAP BELIAU Imam Al Bukhari berkata kepada Imam At Tirmidzi, “Ilmu yang aku ambil manfaatnya darimu itu lebih banyak ketimbang ilmu yang engkau ambil manfaatnya dariku.” Ibnu Hibban menuturkan, “Abu ‘Isa (At-Tirmidzi) adalah sosok ulama yang mengumpulkan hadits, membukukan, menghafal, dan mengadakan diskusi dalam hal hadits.” Abu Ya’la Al Khalili menuturkan, “Muhammad bin Isa At Tirmidzi adalah seorang yang tsiqah (terpercaya keagamaan dan kemampuan hafalannya) menurut kesepakatan para ulama, terkenal dengan amanah, dan keilmuannya.” Abu Sa’ad Al Idrisi menuturkan, “Imam At Tirmidzi adalah salah seorang imam yang diikuti dalam hal ilmu hadits. Beliau telah menyusun kitab Al Jami’, Tarikh, dan ‘Ilal dengan cara yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang alim yang kapabel. Beliau adalah seorang ulama yang menjadi contoh dalam hal hafalan.” Al Hafizh Al Mizzi menuturkan, “Imam At Tirmidzi adalah salah seorang imam yang menonjol, dan termasuk orang yang Allah jadikan kaum muslimin mengambil manfaat darinya.” HASIL KARYA BELIAU Imam At Tirmizi mewariskan ilmunya, karya-karya beliau, di antara buku-buku beliau yang kita kenal adalah: Kitab Al Jami’, terkenal dengan sebutan Sunan At Tirmidzi. Kitab Al ‘Ilal Kitab Asy Syama’il An Nabawiyyah. Sekilas tentang karya beliau rahimahullah: 1. Kitab al-Jami’ Kitab ini di kalangan para ulama dikenal dengan dua nama, Jami’ at-Tirmidzi dan Sunan at-Tirmidzi. Namun penamaan pertama adalah lebih populer sebagaimana disebutkan oleh as-Sam’ani, al-Mizzi, adz-Dzahabi, Ibnu Hajar al-’Asqalani dan lain-lain. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah kitab beliau yang paling bagus dan banyak manfaatnya, paling bagus susunannya, dan paling sedikit pengulangannya. Di dalamnya terdapat sesuatu yang tidak dijumpai di dalam kitab lain, berupa penyebutan madzhab-madzhab, segi-segi pengambilan dalil (istidlal), dan macam-macam hadits dari yang shahih, hasan, dan gharib.” 2. Kitab asy-Syamail an-Nabawiyah Adapun kitab asy-Syamail an-Nabawiyah adalah sebuah kitab yang menerangkan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik secara fisik maupun akhlak. Banyak dari kalangan para ulama yang menukil dan mengambil faidah dari kitab ini seperti al-Maqdisi, al-Mundziri, al-Mizzi, adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, az-Zaila’i, Ibnu Hajar dan as-Suyuthi. Sumbangsih dalam Penelitian dan Pengembangan Ilmu Hadits 1. Dalam ilmu mushthalah hadits Sebelum munculnya al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah, klasifikasi hadits hanya terbagi menjadi hadits shahih dan hadits dha’if. Hadits shahih adalah hadits yang para perawinya memiliki hafalan yang kuat. Sementara hadits dha’if adalah hadits yang lemah disebabkan lemahnya hafalan perawinya atau sebab yang lain. Dari sini, al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah memiliki pemikiran yang jenius. Ketika suatu hadits diriwayatkan oleh perawi yang standar hafalannya di bawah perawi hadits shahih, namun masih unggul dibanding perawi hadits dha’if sehingga hafalannya dapat disebut `tidak kuat sekali, namun lemah pun tidak,` maka beliau mengkategorikan periwayatan seperti ini kepada tingkat hasan. Oleh karenanya, beliau rahimahullah adalah orang pertama yang memasyhurkan pembagian hadits menjadi shahih, hasan, dan dha’if. 2. Menyatukan paradigma hadits dan fiqih Kalau kita lihat, kitab Jami’ at-Tirmidzi selalu menampilkan perbandingan pendapat antar madzhab. Perbandingan ini selalu dibarengkan tatkala beliau menuliskan sebuah hadits. Bahkan, karena banyaknya memuat perbandingan fiqh, kitab Jami’ At-Tirmidzi ini nyaris terkesan sebagai kitab fiqh, bukan kitab hadits. Hal inilah yang menjadi keistimewaan sekaligus pembeda antara kitab Jami’ at-Tirmidzi dengan kitab-kitab hadits yang lain. Namun demikian, bukan berarti al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah merupakan figur sektarian yaitu berpegang pada salah satu madzhab tertentu. Beliau merupakan tokoh yang hanya mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seorang mujtahid yang tidak bertaklid (mengikut tanpa dalil) kepada siapapun. Ketidakberpihakan al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah pada salah satu madzhab fiqh ini dapat difahami dengan tidak adanya unsur pengunggulan pada salah satu madzhab tertentu di dalam kitabnya. BELIAU WAFAT Di akhir hidupnya, imam At Tirmidzi mengalami buta. Beberapa tahun beliau hidup bersabar tanpa penglihatan. Walaupun mata tidak bisa melihat. Namun qalbu senantiasa menerangi sisa-sisa hidupnya. Hingga pada bulan Rajab tahun 279 H beliau meninggal dalam usia 70 tahun. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati beliau, dan menempatkan beliau di surga-Nya yang luas. Sumber: Majalah Qudwah edisi 7 vol. 1 1434H/2013M, rubrik Biografi. Pemateri: Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini. Dikutip dari - http://ismailibnuisa.blogspot.co.id/2014/02/imam-at-tirmidzi.html - .http://buletin-alilmu.com/2012/02/05/keteladanan-al-imam-at-tirmidzi-dalam-menuntut-ilmu/

سم الله الرحمن الرحيم Perhatikan nasihat dibawah ini . Wahai saudaraku Pentingnya memperbaiki akhlak setelah mengenal manhaj salaf Asy Syaikh Abdullah Ibnu Abdurrahim al-Bukhari hafidzahullah. Saya akan menggunakan kesempatan disini (untuk menyampaikan hal-hal yang penting) S…

MENINGGALKAN AMAL KARENA TAKUT RIYA'? [Solusi dan Nasihat Salafus Shalih untuk Mengatasi Waswas Syaithon dalam Beramal Shalih] Al-Imam Ibnu Muflih al-Maqdisiy -rahimahullah- berkata: PASAL: TIDAK SELAYAKNYA MENINGGALKAN AMALAN YANG SYAR'I KARENA TAKUT RIYA "Termasuk hal yang terjadi pada insan ketika ia ingin melakukan ketaatan, sesuatu muncul pada dirinya yang membawanya untuk meninggalkan amalan karena khawatir terjatuh dalam bentuk riya'. Padahal yang sepatutnya adalah: ◾️ tidak berpaling kepada hal tersebut, ◾️ seorang insan hendaknya mengerjakan apa yang Allah 'azza wa Jalla perintah dan mendorong hamba kepadanya, ◾️ ia juga hendaknya isti'anah/ memohon perlindungan kepada Allah ◾️ dan bertawakkal kepada-Nya untuk melaksanakan amalan tersebut dalam bentuk yang disyariatkan. Dan sungguh Asy-Syaikh Muhyiddin an-Nawawiy rahimahullah berkata, "Tidak sepantasnya untuk ia meninggalkan dzikir dengan lisan disertai hatinya karena takut dianggap riya'. Bahkan ia berdzikir dengan keduanya secara keseluruhannya. Dan ia meniatkan dengannya wajah Allah 'Azza wa Jalla." Beliau menyebutkan ucapan Fudhail bin 'Iyaadh rahimahullah: إن ترك العمل لأجل الناس رياء، و العمل لأجل الناس شرك "Sesungguhnya meninggalkan amal karena manusia adalah riya' dan beramal karena manusia adalah syirik." Beliau -an-Nawawiy- berkata, "Sehingga jika seorang insan membuka untuknya pintu "perhatian manusia" dan "berjaga-jaga dari persangkaan mereka yang batil" NISCAYA tertutup atas orang tersebut pintu-pintu kebaikan yang banyak." Selesai perkataan beliau. Dan Abul Faraj Ibnul Jauziy -rahimahullah- berkata, "Adapun meninggalkan ketaatan sebab takut dari riya' maka: ✅ Jika yang mendorongnya atas ketaatan itu bukan karena diin maka yang selayaknya untuk ia meninggalkannya. Sebab amalan itu adalah maksiat. ✅ Sedangkan apabila pendorongnya untuk beramal adalah karena diin dan untuk Allah 'Azza wa Jalla -ikhlas- maka tidak sepatutnya untuk ia meninggalkan amalan. Sebab pemantik amalan adalah karena alasan diin. Demikian pula apabila ia meninggalkan amalan karena khawatir untuk dikatakan seorang yang riya' maka hal itu tidak pantas. Sebab hal tersebut merupakan bagian tipu daya syaithon." Ibrahim an-Nakha'iy -rahimahullah- berkata, "Apabila syaithon datang kepadamu dan kamu sedang shalat, lalu ia berkata, "Sesungguhnya kamu sedang berbuat riya'!" ...MAKA panjangkanlah shalatmu!" (yaitu lawan dan jangan ambil perduli, pent.) Adapun yang diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa ia meninggalkan ibadah karena takut riya', hal tersebut dibawa kepada bahwa mereka merasakan dalam diri mereka suatu hal tazayyun (memperindah-indah amalan di hadapan manusia). Sehingga mereka pun memutusnya." Hal ini benar sebagaimana yang beliau katakan. Dan termasuk di dalamnya adalah perkataan al-A'masy, "Dahulu aku sedang bersama Ibrahim an-Nakha'iy dan beliau sedang membaca mushaf. Kemudian seseorang memohon izin(untuk bertemu beliau). Maka beliau menutup mushaf-nya lalu berkata, "Jangan sampai ia mengira bahwa aku membaca Al-Qur'an setiap saat"." Dan apabila ia tidak meninggalkan ibadah karena takut terjatuh kepada riya' (KETIKA melaksanakannya) maka yang LEBIH UTAMA lagi untuk ia tidak meninggalkannya karena takut 'ujub(terkagum-kagum) yang masuk (ke dalam dirinya) . SETELAH melaksanakan ibadah." 📖 Al-Adaabus Syar'iyyah, Ibnu Muflih, 1/ 343 344. ------------------------------------- #Terus berjuang ikhlas ketika beramal #Tidak tertipu syaithan dengan meninggalkan amalan dan menyebar ilmu #Tidak tekun menuntut ilmu, takut berbagi faidah, tidak menjawab apa yang ia ketahui, dan meninggalkan dakwah karena merasa tidak berilmu dan yang semisalnya adalah waswas dari syaithan # Perkataan seseorang berdasar ilmu dari Kitabullah dan Sunnah suatu yang sangat berat bagi syaithan sehingga ia dan pasukannya akan terus menyebar waswas kepada para penuntut ilmi dan da'i agar mereka diam dan meninggalkan dari mengucapkan, mengamalkan, dan menyebarkan ketaatan. و الله أعلم بالصواب. Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF] | www.alfawaaid.net

KADZAB (PENDUSTA) LEBIH BURUK DISISI AHLUSSUNNAH DARI PADA AHLI BID'AH Berkata Al-allamah Rabi' Bin Hadi _hafizhahullah_: الكذب أخبثُ من البدع يا إخوان ، والكذَّابُ أخبث عند أهل السنة من المبتدع ، المبتدع يُروى عنه ؛ رَوَوْا عن القدرية ، و رَوَوْا عن المُرجئة ، و رَوَوْا عن غيرهم من أصناف أ…

Manusia Butuh Peringatan Meskipun Mereka Para Penuntut Ilmu Muhadharah Assyaikh Al 'allaamah Muhammad Ibnu Shalih al 'Utsaimin rahimahullah . Termasuk dari adab yang semestinya seorang penuntut ilmu (agama) berada diatasnya adalah bersemangat didalam menyebarkan ilmu pada setiap kesempatan, Ketahuilah wahai saudaraku bahwasanya Manusia membutuhkan ilmu. Jangan engkau katakan: "mereka memiliki 'ilmu". . Sesungguhnya manusia terkadang lalai, lupa, terkadang peringatan dari salah seorang dari mereka memberikan pengaruh dihati-hati mereka dari selainnya. Tidakkah engkau mengetahui bahwa orang-orang mukmin (para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam) semuanya membaca firman Allah: وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali ‘Imran: 144) Mereka semuanya membaca ayat ini bersamaan dengan itu (ketika)mereka dimasjid, 'Umar Radhiyallahu anhu mengatakan: "Sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak meninggal sesungguhnya beliau akan sadar beliau akan menebas kaki dan tangan (orang-orang munafik yang mengatakan beliau meninggal) secara silang." Demikian yang beliau katakan. Apakah 'Umar tidak membaca ayat tersebut? Jawabannya adalah: bahkan beliau membacanya, semua manusia (para sahabat) telah membacanya, Sampai tibalah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Maka beliau naik mimbar, kemudian membaca ayat tersebut (diatas) , Maka mereka mengetahui bahwa (kematian Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ) adalah haq (benar) seakan akan ayat tersebut tidaklah turun kecuali malam itu. Jika demikian wahai saudaraku, jangan engkau katakan: "orang-orang yang disekitar saya semuanya adalah penuntut ilmu, "tidak" (jangan) "Sebarkanlah ilmu" "Terkadang ada kelalaian" Terkadang engkau menjelaskan kepada mereka sesuatu yang tidak ada pada mereka (yang belum pernah mereka dapati), Dan ini adalah perkara yang diketahui, menyebarkan ilmu adalah kewajiban jika dibutuhkan dan manusia bertanya tentangnya, Adakalanya dengan lisan maqal, (ucapan) Adakalanya dengan lisan hal(keadaan) Maksud dari lisan maqal adalah : Seseorang datang kepadamu, bertanya kepadamu tentang suatu permasalahan agama Allah. Adapun lisanulhal maksudnya adalah: Engkau melihat manusia menyelisihi pada suatu perkara dari perkara perkara agama, maka dalam keadaan seperti ini diperlukan untuk mengingatkan mereka tentang penyelisihan ini sehingga mereka istiqamah didalam agama Allah. Sumber: https://drive.google.com/file/d/0B5troNvTkWd3b1VXV2dra04ydjA/view?usp=drivesdk Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu 'umar غفر الله له ولوالديه Website: salafycurup.com telegram.me/salafycurup Library | Sumber gambar : Pixabay

(TAZKIYAH) Untuk "Si Pendekar" Bandar Udara di Manado tak ubahnya dengan bandara-bandara di kota lain. Menara pengawas, gedung terminal, landasan pacu, gerbang barata, radar yang berputar-putar, serta suara dari speaker yang memberikan informasi dan berbagai aktifitas lainnya. Tapi dari sekian ha…

KEDUDUKAN AL MASIH ISA BIN MARYAM ALAIHISSALAAM DAN LARANGAN UCAPAN SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU Surat Al Ikhlas Pondasi Akidah Terdapat di dalam Alquran satu surat yang kedudukannya setara dengan sepertiga Alquran. Di dalam surat ini terdapat kandungan tauhid yang memurnikan dan mengikhlaskan i…

MATAN DAN TERJEMAHAN AL-USHULUS SITTAH الأصول الستة للشيخ محمد بن عبد الوهاب MUKADDIMAH (PENDAHULUAN) بسم الله الرحمن الرحيم من أعجب العجاب ، وأكبر الآيات الدالة على قدرة الملك الغلاب ستة أصول بينها الله تعالى بياناً واضحاً للعوام فوق ما يظن الظانون ، ثم بعد هذا غلط فيها كثير من أذكياء ا…

ADAKAH SAHABAT DARI KALANGAN JIN ?! Syaikh kami Mushthafa Mabram hafizhahullah berkata, "Kami akan menyebutkan sebuah faidah tentang jin. Aku pernah berbicara di beberapa pelajaran tentang shahabat, aku sebutkan (ini) dalam rangka 'menarik perhatian'. Dan kalau benar disebut (juga) dengan 'pe…

KARENA MENDENGAR SATU AYAT AL QUR'AN, AL FUDHAIL BIN 'IYADH rahimahullah BERTAUBAT DARI DOSA-DOSANYA_ { وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ }. (الذاريات:٥٥). "Dan berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (Adz Dzariyat: 55). …