Artikel Islami

Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Semangat Mendidik Anak dengan Pendidikan Islam
Atsar.id
Atsar.id

Semangat Mendidik Anak dengan Pendidikan Islam

Mari Bersemangat Mendidik Anak dengan Pendidikan Islam Semenjak Kecil! Asy-Syaikh Abdul Azìz bin Abdillàh bin Bàz رحمه الله Pertanyaan: Syaikh yang mulia, banyak keluarga meremehkan urusan (pendidikan) anak-anak mereka karena mereka sejatinya masih kecil. Kemudian nantinya para orangtua sulit (mendidik) mereka ketika sudah besar. Mohon arahannya. Jawaban:&nbsp. Perkara ini termasuk musibah yang besar, bermudah-mudahan, meremehkan pendidikan anak termasuk musibah besar. Kewajiban ayah, ibu, dan para ikhwah adalah tidak bermudah-mudah dalam masalah pendidikan, bahkan mereka harus bersungguh-sungguh mengarahkan anak-anak dan para pemuda untuk menegakkan shalat dan seluruh bentuk kebaikan, memperingatkan mereka dari perkara yang diharamkan Allah seperti memaki,  mencaci, durhaka, dan selainnya berupa kekejian-kekejian, merokok, minum minuman keras, dan berbagai kemungkaran lainnya. Termasuk perkara yang paling urgen, bahkan perkara yang paling penting sesudah dua kalimat syahadat, adalah shalat. Mereka harus membiasakan anak-anak mereka menegakkan shalat dan memukul anak yang meninggalkan shalat apabila sudah berusia 10 tahun atau lebih. Ini adalah yang wajib bagi para ayah, ibu, dan ikhwah yang lebih tua terhadap anak-anak kecil. Ini termasuk bentuk ta'awun (saling menolong) dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah Subhanahu berfirman, {وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ  "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar." (At-Taubah 71) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان "Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaknya ia merubahnya dengan tangannya, apabila tidak mampu, dengan lisannya, apabila tidak mampu, dengan hatinya, dan itu adalah keimanan yang paling lemah (buahnya (1))." Seorang ayah diperintahkan  untuk memberikan pendidikan adab kepada anak-anaknya dengan  memukul apabila anak sudah mencapai 10 tahun atau lebih, supaya mereka bisa istiqamah dan shalat (wajib) berjama'ah bersama orang-orang. Penanya: Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, Syaikh yang mulia, semoga Ia memberkahi Anda atas arahan bagus yang penuh barakah ini." t.me/majalahqonitah Sumber: https://beta.binbaz.org.sa/fatwas/21407 (1) Syarh Shahih Muslim 49 semangat-mendidik-anak-secara-islami via Pexels NASEHAT INDAH SEORANG ULAMA DIDALAM MENDIDIK ANAK DIMASA GLOBALISASI  Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan حفظه الله Wahai sekalian manusia ketahuilah bahwa keadaan pada masa ini berbeda dengan keadaan masa lalu. Dahulu mereka tidak mengetahui keadaan negeri lain dan tidak pula mengetahui peristiwa yang terjadi kecuali dinegri mereka dan sekitarnya saja. Adapun pada zaman ini dunia seakan saling berdekatan dan dunia ini sebagaimana dikatakan seakan-akan seperti hanya satu desa saja. Tanggung jawab terbesar pada saat sekarang ini adalah terletak pada anak-anak. Bimbinglah mereka dan jagalah mereka dari bahaya berbagai pemikiran-pemikiran yang sesat, jagalah mereka agar tidak sebebasnya pergi ketempat-tempat hiburan atau ketempat-tempat lain, jagalah mereka jangan sampai mereka dikendalikan oleh pihak lain selain kalian, janganlah kalian mengamanahkan mereka kecuali kepada orang yang kalian ketahui kejujuran, keamanahan serta keikhlasannya. Walaupun anak-anak tersebut tinggal dekat dengan kalian tapi hati-hati mereka dan pemikiran mereka terkadang jauh dari kalian. . . Awasilah segala bentuk media sosial baik itu twiter dan selainnya. . . jauhkan segala bentuk media-media yang merusak. . Semangatlah didalam menjaga rumah anda dari segala bentuk media sosial yang bisa merusak Jangan katakan : Saya tidak mampu mengawasi mereka. . Berusahalah untuk mampu dikarenakan mereka berada dibawah tanggung jawab kalian. . Kalau mereka (anak-anak tersebut) mengetahui dari diri anda adanya sebuah tekad dan kemauan yang besar niscaya pasti mereka akan terdidik bersama anda Namun jika mereka mengetahui adanya sikap bergampang-gampangan dari anda atau menutup mata (dari semua ini) maka mereka juga pasti akan bermudah-mudahan dan akan terdidik dalam jalan kejelekan kecuali siapa yang Allah rahmati. Jagalah anak-anak kalian lebih dari penjagaan seorang pengembala terhadap serigala yang akan menerkam domba-domba mereka, dikarenakan anak-anak kalian juga terancam keselamatannya dari serigala yang berwujud manusia Jika niat kalian baik dan kalian jujur didalam tekad kalian maka pasti Allah akan menolong anda Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ “Dan orang-orang beriman dan anak keturunan merekapun beriman maka pasti kami akan mempertemukan mereka dengan anak keturunan mereka (di surga) dan kami tidak akan mengurangi sedikitpun dari amalan mereka, setiap orang akan mendapatkan apa yang dia usahakan”. [Ath Thur :21] Ketahuilah tanggung jawab ini besar dan hisab (perhitungan amalan) sangatlah detail dan terperinci dan mengikuti bimbingan sangatlah berat kecuali siapa yang Allah beri taufik dan dia jujur didalam niatnya dan baik keadaan hatinya, maka Allah akan meluruskan dan memudahkan dia didalam mendidik anak-anaknya dan anak-anak tersebut akan mudah diarahkan jika ada kejujuran, keamanahan serta tekad yang kuat dan tidak ada sikap bermudah-mudahan. Sumber: http://safeshare.tv/w/WZFmXWdoai Alih bahasa: Syabab Forum Salafy Sumber : http://forumsalafy.net/nasehat-indah-seorang-ulama-didalam-mendidik-anak-dimasa-globalisasi-ini/

Keluarga
Mar 25, 20185 min read
Merekalah Sha'afiqah yang Sebenarnya !
Atsar.id
Atsar.id

Merekalah Sha'afiqah yang Sebenarnya !

SHU'FUQ = ORANG YANG TIDAK PUNYA MODAL ... MAKA INILAH CIRI-CIRI MEREKA (SHA'AFIQAH) YANG SEBENARNYA ❱ Disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ibrahim Muhammad bin Umar as-Sewed hafizhahullah Klik Play Untuk Mendengarkan : ____________________ Ikhwani fiddin a’azzakumullah, Kalau kita lihat dari makna shu'fuq, maka kita bisa katakan: 🔥 ※ [ Ciri Pertama ] Orang yang shu'fuq, orang yang tidak punya modal adalah orang yang tidak punya hujjah, tidak punya dalil, tidak punya bukti-bukti. Hanya berbicara dengan berbagai macam tuduhan tanpa bukti (yang bisa dianggap / diterima secara syar'i, ed). = Itu ciri pertama shu'fuq. 🔥 ※ [ Ciri Kedua ] Kerena tidak punya hujjah biasanya mereka akan berbicara dengan caci maki, tuduhan-tuduhan, sehingga kata-katanya dipenuhi dengan berbagai macam cacian cacian. • “Mereka bodoh” • “Mereka nggak bisa baca” • “Mereka nggak bisa nulis” • “Mereka ini nggak hapal” • “Mereka ini ...” ~ begitu saja isinya. Tidak berbicara, “Kamu menyimpang .. ini penyimpangannya (disertai dengan bukti &amp. hujjah ilmiyyah untuk menjelaskannya, ed)” nggak ada. “Saya yakin kamu ngak akan hafal Arba'in Nawawiyah” = kayak zaman Hajuri ... masih ingat..? “Aku tantang dia, apakah dia hafal hadits arba'in..??” Kita bukan sedang hitung-hitungan hapalan, tetapi siapa yang benar siapa yang salah. Buktikan dong!! Mana penyimpangannya!? = ndak ada. Maka sekian masyayikh mengatakan, fitnah sekarang ini mengingatkan kita kepada Fitnah Yahya al-Hajuri. 🔥 ※ [ Ciri Ketiga ] Karena tidak punya modal, karena shu'fuq maka biasanya mereka akan mengungkit-ungkit apa yang telah lewat, yang bahkan orangnya kadang sudah bertaubat dari padanya. = ini karena shu'fuq = ngak punya modal. Kalau yang di sana tuduhan yang mengerikan, seperti tuduhan 'AAHIR = zina. Wallahi, kalimat ini bukan kalimat sembarangan. Mereka-mereka yang menuduh tuduhan-tuduhan zina, harus mendatangkan 4 orang saksi. Jika tidak bisa mendatangkan 4 saksi, maka hukumnya dicambuk. Dan subhanallah yang dituduhnya ini sudah melaporkan ke polisi dan sudah mulai ditanya, dipanggil. ... Maka ambillah pelajaran (dari kejadian ini, ed), jangan kita membantah dipenuhi dengan tuduhan-tuduhan tanpa bukti. Jangan!! Yang di Indonesianya, Ngungkit-ngungkit Laskar Jihad dengan berbagai macam cerita-cerita..!! “Ya akhi, kamu ini kesiangan apa bangunnya..?? Manusia sudah bicara lain. Laskar Jihad sudah dikubur beberapa tahun lalu..” Apa maknanya? = Shu'fuq!! Mereka ngak punya modal sehingga mengungkit-ungkit apa yang sudah lewat, yang sudah kita umumkan taubatnya di majalah, di buletin, di Internet, di web di mana-mana. Masya Allah. = Buta + Tuli + Bisu - Ndak tahu sama sekali atau Kesiangan bangunnya. 🔥 ※ [ Ciri Keempat ] Karena shu'fuq, ngak punya modal mereka hanya bisa merekayasa rekaman. (•) Nukil dari Syaikh Rabi' awalnya, dibuang belakangnya. (•) Nukil dari Syaikh Ubaid awalnya, buang yang ininya, ambil yang itunya. Bahkan yang di Indonesia lebih berani lagi, (•) Dipotong kalimat tidaknya, yang harusnya itu kalimat nafiyah (penafian) menjadi kalimat mutsbattah (penetapan). Mengapa mereka merekayasa ucapan-ucapan Ahlussunnah? Mengapa mereka mengedit (mengubah, ed) ucapan-ucapan Ahlussunnah? = Karena mereka sendiri tidak punya modal..!! = Shu'fuq minash Sha'afiqah 🔥 ※ [ Ciri Kelima ] Karena mereka ngak punyak modal, shu'fuq maka mereka lebih memilih untuk adu otot dari pada adu hujjah. Sehingga terjadilah pertikaian dan pemukulan di beberapa tempat. Termasuk di Cerebon. Berantem..!! Mengapa, nantang-nantang berantem = Tidak bisa jawab = Tidak punya hujjah..!! **🔥 ※ [ Ciri keenam ] Karena mereka shu'fuq tidak punya modal, maka mereka memaksakan dalil pada satu perkara yang tidak berkait. Itu juga ciri-ciri shu'fuq, memaksakan hujjah, “Ini hujjah, ini adillah, ini bukti.” (Ketika) Dibaca oleh 'alim kabir, oleh ulama, "Mana yang disebut hujjah?" “Aku baca dari awal sampai akhir.. Tidak ada padanya hujjah.” kata Syaikh Rabi. 🔥 ※ [ Ciri Ketujuh ] Kalau fitnah ini telah terlihat barisannya, kita lihat siapa yang berbaris di barisan mereka dan siapa berbaris di barisan para masyayikh (Syaikh Rabi', Syaikh Ubaid, Syaikh Abdullah al-Bukhari dan yang bersama mereka) Kalau di Indonesia kalian tahu sendiri, para BSH (barisan sakit hati) yang pernah ditahdzir, yang pernah diusir, yang pernah ditegur dengan keras, yang pernah kasus = itu berbaris dibelakang mereka. Ternyata di skop internasional juga sama. Dibuktikan oleh beberapa ikhwah kita (para masyayikh-masyayikh muda) bahwa; ~ murid-muridnya Hajuri ada di sana ~ murid-muridnya Muhammad al-Imam ada di sana ~ bahkan murid atau orang-orangnya dari Adnan ar-Ur ada di situ juga bergabung bersama mereka. (Mirip yang di sini dengan yang sana..!!) Mungkin (Kita husnudzan) mereka ingin sembunyi saja, bukan salah Syaikhnya, tidak!! Tapi salah merekanya yang sembunyi. Mengapa? Di tempat kita tidak aman. Kan begitu?? Di tempat mereka (syaikh fulan, ed), aman..!! [Ahad, 30 Jumadil Akhirah 1439H ~ 18 Maret 2018M] 📀 // Unduh audionya di: - https://t.me/ukhuwahsalaf/5641 atau http://bit.ly/2puO5Oh { Judul dari Admin } 📮••••|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net BACA : Apa Itu Sha'afiqah? Penjelasan Syaikh Rabi' Tentang Fitnah Sha'afiqah Merekalah Sha'afiqah yang Sebenarnya ! via Pexels

Bantahan
Mar 22, 20186 min read
Apakah Seorang Ulama Harus Tua Usianya?
Atsar.id
Atsar.id

Apakah Seorang Ulama Harus Tua Usianya?

MENUNTUT ILMU DAN MERUJUK KEPADA ULAMA YANG TUA LEBIH BAIK DIBANDINGKAN KEPADA YANG MASIH MUDA Asy-Syaikh al-Allamah Dr. Shalih al-Fauzan hafizhahullah Pertanyaan: Apakah seorang ulama harus tua usianya? Jawaban: Seorang ulama tidak harus tua usianya, Allah mengaruniakan ilmu kepada orang-orang yang masih muda sebagaimana yang diraih oleh para pemuda Shahabat, diantaranya Ibnu Abbas, Mu'adz bin Jabal, dan Ibnuz Zubair. Hanya saja tanpa diragukan lagi bahwa seorang ulama yang telah tua usianya lebih kokoh dibandingkan dengan yang masih muda. Adapun masalah meraih ilmu maka bisa saja diraih oleh orang yang masih muda, tetapi para ulama yang telah tua lebih kokoh dalam perkara ini dan lebih kuat dalam perkara ini. Maka, merujuk kepada mereka lebih baik dibandingkan merujuk kepada yang masih muda, dan menuntut ilmu kepada mereka lebih baik dibandingkan menuntut ilmu kepada yang masih muda. Sumber transkrip = http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=49469 Channel Telegram = https://t.me/jujurlahselamanya TAWADHU' SALAH SATU HAL YANG MENUNJUKKAN KEKOKOHAN ILMU DAN IMAN DALAM HATI PEMILIKNYA Asy-Syaikh al-Allamah Dr. Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah berkata: التواضع أمر مهم جداً، والتواضع يعني في العلم، وأن الإنسان لا ينظر إلى نفسه بأنه عالم، وإنما ينظر لنفسه بعين الاحتقار، وكان ابن تيمية وابن القيم ما يرون أنفسهم علماء، ويقول: أنا مسكين، وأنا مُسَيكِين، مُسَيكِين أنا، ويصف نفسه بالجهل، وهم جبال وبحار في العلم! فالتواضع دليل على رسوخ العلم في قلب صاحبه، وعلى رسوخ الإيمان في قلب صاحبه. وأرجو الله أن يرسِّخ العلم النافع، والأعمال الصالحة، والتواضع والأخلاق الإسلامية الصحيحة في نفوسنا، وأن يصبغنا بها، تكون صبغة لنا صبغة الله، بارك الله فيكم. "Tawadhu' perkara yang sangat penting, tawadhu' maksudnya dalam hal ilmu, yaitu seseorang tidak melihat dirinya sebagai seorang ulama, tetapi dia melihat dirinya dengan pandangan merendahkan. Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim tidak memandang diri mereka sebagai ulama. Beliau mengatakan, 'Saya orang yang miskin (sedikit sekali ilmu saya), miskin, miskin saya.' Beliau mensifati dirinya sebagai orang yang sedikit ilmunya, padahal para ulama itu adalah gunung dan lautan dalam hal ilmu. Jadi tawadhu' merupakan bukti yang menunjukkan kekokohan ilmu dalam hati pemiliknya dan menunjukkan kekokohan iman dalam hati pemiliknya. Saya memohon kepada Allah agar menancapkan dengan kokoh dalam hati kita ilmu yang bermanfaat, amal shalih, tawadhu', dan akhlak-akhlak Islam, serta menjadikan itu semua sebagai sifat kita, sehingga menjadi sifat kita yang ditanamkan oleh Allah pada diri kita, semoga Allah memberkahi kalian." &nbsp.🖥 Sumber transkrip = https://t.me/Nataouan/6708 🌐 Channel Telegram = https://t.me/jujurlahselamanya

Manhaj
Mar 19, 20183 min read
«»
HomeRadioArtikelPodcast