Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

PENJELASAN JUMLAH RAKA'AT SHALAT TARAWIH Mufti: al-Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah Pertanyaan: "Salah seorang akhwat pendengar dari Khubar mengirim surat yang terkandung di dalamnya tiga pertanyaan. Di salah satu pertanyaan dia berkata: sungguh aku telah membaca pada sebagian kitab b…

HUKUM SHALAT TAHAJJUD DENGAN BERJAMA'AH (DI BULAN RAMADHAN Fatwa al-Lajnah ad-Daimah nomor 19854 Pertanyaan: Kami melaksanakan shalat pada dua puluh hari pertama dari bulan Ramadhan sebelas raka'at. Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir, kami shalat sepuluh raka'at di awal malam dan sepuluh raka'at di akhir malam. Kami melakukan witir tiga raka'at. Maka total shalat kami pada sepuluh hari terakhir (sebanyak) dua puluh tiga raka'at. Kemudian salah satu penuntut ilmu menyatakan bahwa perbuatan ini- yaitu pembagian antara dua puluh hari pertama dan sepuluh hari akhir-adalah PEMBAGIAN yang BID'AH. Dan bahwa secara asal adalah hendaknya sama bilangan (raka'atnya ) sebulan penuh. Dia juga berkata:" Jika engkau shalat sebelas raka'at pada awal bulan Ramadhan, maka shalatlah semisal itu di akhirnya. Jika engkau ingin shalat dua puluh tiga raka'at . pada akhir (bulan), maka shalatlah dua puluh tiga raka'at pada awal (bulan). Dia juga berkata:" Dan termasuk bid'ah juga pembagian kalian antara shalat awal malam dan di akhir malam pada sepuluh malam itu sendiri. Kalian meringankan (shalat) pada sepuluh malam awal dan memanjangkannya pada sepuluh yang akhir, lalu kalian namakan shalat itu sebagai tarawih." Kami menginginkan dari Yang Mulia penjelasan (tentang hal ini). Semoga Allah menjadikan ilmu antum bermanfaat dan meninggikan kedudukan antum. Shalat tarawih dengan 23 rakaat dan membaginya menjadi dua waktu Jawaban: Shalat tarawih di bulan Ramadhan adalah sunnah muakkadah. Hal itu dilakukan oleh Nabi ﷺ dan para shahabat beberapa malam, kemudian beliau terlambat mendatangi mereka (tidak shalat tarawih-pent) karena kuatir hal itu diwajibkan bagi mereka. Hal itu juga dilakukan oleh para shahabatnya di masa beliau (hidup) dan setelah beliau ﷺ wafat. Dan amalan ini terus berlangsung sampai hari ini. Adapun bilangan raka'atnya, tidak tsabit tentangnya batasan yang spesifik. Para ulama berbeda pendapat tentangnya. Diantara mereka ada yang berpendapat dua puluh tiga raka'at. Ada pula yang berpendapat tiga puluh enam raka'at. Diantara mereka ada yang berpendapat lebih dari itu, ada pula yang berpendapat lebih sedikit lagi. Para shahabat melaksanakan shalat itu di masa 'Umar dua puluh tiga raka'at di Masjid Nabi ﷺ. Adapun Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, beliau dahulu tidak menambah di bulan Ramadhan dan tidak pula di bulan selainnya lebih dari 11 atau 13 raka'at. Dan beliau tidak membatasi untuk manusia bilangan khusus pada shalat tarawih dan shalat malam. Bahkan beliau dulu memotivasi untuk melaksanakan shalat malam dan shalat tarawih secara dzatnya (tanpa membatasi dengan bilangan). Beliau shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda : "Siapa yang menegakkan (shalat) Ramadhan dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (1) Beliau tidak membatasi jumlah raka'at. Hal ini berbeda-beda berdasarkan perbedaan sifat shalat tersebut. Siapa yang memanjangkan shalatnya, maka dia (hendaknya) menyedikitkan bilangan raka'atnya sebagaimana Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melakukannya. Dan siapa yang meringankan shalatnya dalam rangka berlemah lembut pada manusia, maka hendaklah dia memperbanyak bilangan raka'atnya sebagaimana para shahabat melakukannya di masa 'Umar. TIDAK MENGAPA MENAMBAH jumlah raka'at di sepuluh akhir dari jumlah yang dilakukan di dua puluh hari awal. Dan hendaklah dia membaginya menjadi dua bagian: Satu bagian dia shalat di awal malam dan meringankannya karena itu adalah tarawih sebagaimana di dua puluh hari awal Satu bagian lagi dia shalat di akhir malam dan dia memanjangkannya karena itu adalah tahajjud. Sungguh dahulu Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersungguh-sungguh di sepuluh akhir yang beliau tidak bersungguh-sungguh di selainnya. Beliau jika masuk sepuluh hari terakhir: menyingsingkan lengannya, mengikat sarungnya, membangunkan keluarganya dalam rangka mencari lailatul qadar. Maka orang yang berkata tidak perlu menambah (shalat) di akhir bulan dari shalat yang biasa dia lakukan di awal bulan, hal itu MENYELISIHI PETUNJUK Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallam dan menyelisihi apa yang dilakukan as-Salafush Shalih berupa PANJANGNYA SHALAT di akhir bulan pada akhir malam. Maka yang wajib adalah mengikuti sunnah beliau shallallaahu 'alayhi wa sallam dan sunnah para al-Khulafa' ar-Rasyidin setelah beliau radhiyallahu 'anhum dan memotivasi kaum muslimin untuk shalat tarawih dan qiyamul lail. Janganlah engkau menggembosi mereka dari hal itu dan melemparkan syubhat yang menyebabkan sedikitnya semangat mereka untuk menegakkan qiyam Ramadhan. Allah lah yang memberi taufiq. Shalawat serta salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga, dan shahabatnya. Lembaga Tetap untuk Pembahasan 'Ilmiah dan Fatwa: Ketua: Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz Wakil Ketua: 'Abdul 'Aziz alusy-Syaikh Anggota: 'Abdullah bin Ghudayyan Anggota: Shalih al-Fawzan Anggota: Bakr Abu Zaid _____________________ 1. Shahihul Bukhari Shalat Tarawih (2009), Shahih Muslim Shalatnya para musafir dan (cara) mengqasharnya (759), Sunan at-Tirmidzi as-Shawm (808), Sunan an-Nasa'i al-Iman dan Syari'at-syari'atnya (5027), Sunan Abi Dawud Ash-Shalah (1371), Musnad Ahmad (2/529), Muwaththa' Malik Panggilan untuk Shalat (251), Sunan Ad-Darimi ash-Shawm (1776) Alih bahasa : Thuwailibul 'Ilmisy Syar'i (TwIS) Muraja'ah: al-Ustadz Kharisman hafizhahullaah Edisi Arabic : ﺣﻜﻢ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﻬﺠﺪ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ .. ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﻠﺠﻨﺔ ﺍﻟﺪﺍﺋﻤﺔ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﺭﻗﻢ ( 19854 ) ﺱ : ﺍﻋﺘﺪﻧﺎ ﺃﻥ ﻧﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮﻳﻦ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻣﻦ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺇﺣﺪﻯ ﻋﺸﺮﺓ ﺭﻛﻌﺔ ﻓﺈﺫﺍ ﺩﺧﻠﺖ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺻﻠﻴﻨﺎ ﻋﺸﺮ ﺭﻛﻌﺎﺕ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﻋﺸﺮﺍ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﻧﻮﺗﺮ ﺑﺜﻼﺙ ﻓﻴﺼﺒﺢ ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻣﺎ ﻧﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺭﻛﻌﺔ ﺛﻢ ﺇﻥ ﺃﺣﺪ ﻃﻠﺒﺔ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺯﻋﻢ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻌﺸﺮﻳﻦ ﺍﻷﻭﻝ ﻭﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺪﺩ ﺑﺪﻋﺔ ، ﻭﺃﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﺍﻟﻤﺴﺎﻭﺍﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺪﺩ ، ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻛﻠﻪ ، ﻭﻗﺎﻝ : ﺇﻥ ﺻﻠﻴﺖ ﺇﺣﺪﻯ ﻋﺸﺮﺓ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻓﺼﻞ ﻣﺜﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﺁﺧﺮﻩ ، ﻭﺇﻥ ﺃﺭﺩﺕ ﺃﻥ ﺗﺼﻠﻲ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻓﻲ ﺁﺧﺮﻩ ﻓﺼﻞ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻓﻲ ﺃﻭﻟﻪ ، ﻭﻗﺎﻝ : ﺇﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺃﻳﻀﺎ ﺗﻔﺮﻳﻘﻜﻢ ﺑﻴﻦ ﺻﻼﺓ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﻧﻔﺴﻬﺎ ، ﻓﺘﺨﻔﻔﻮﻥ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﻝ ﻭﺗﻄﻴﻠﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻷﺧﻴﺮﺓ ﻭﺗﺴﻤﻮﻥ ﻫﺬﻩ ﺗﺮﺍﻭﻳﺢ ، ﻭﺗﻠﻚ ﻗﻴﺎﻡ . ﻧﺮﻳﺪ ﻣﻦ ﻓﻀﻴﻠﺘﻜﻢ ﺍﻟﺘﻜﺮﻡ ﺑﺒﺴﻂ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﻧﻔﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻌﻠﻤﻜﻢ ﻭﺃﻋﻠﻰ ﻣﻨﺰﻟﺘﻜﻢ ؟ ﺝ : ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ ﻓﻲ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺳﻨﺔ ﻣﺆﻛﺪﺓ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﺄﺻﺤﺎﺑﻪ ﻟﻴﺎﻟﻲ ﺛﻢ ﺗﺄﺧﺮ ﻋﻨﻬﻢ ﺧﺸﻴﺔ ﺃﻥ ﺗﻔﺮﺽ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻓﻌﻠﻬﺎ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻓﻲ ﻋﻬﺪﻩ ﻭﺑﻌﺪ ﻭﻓﺎﺗﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺍﺳﺘﻤﺮ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻴﻮﻡ ، ﻭﺃﻣﺎ ﻋﺪﺩ ﺭﻛﻌﺎﺗﻬﺎ ﻓﻠﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﻓﻴﻪ ﺣﺪ ﻣﺤﺪﺩ ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻣﺨﺘﻠﻔﻮﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻳﺮﻯ ﺃﻧﻪ ﺛﻼﺙ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻳﺮﻯ ﺃﻧﻪ ﺳﺖ ﻭﺛﻼﺛﻮﻥ ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻳﺮﻯ ﺃﻛﺜﺮ ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻳﺮﻯ ﺃﻗﻞ ، ﻭﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺻﻠﻮﻫﺎ ﻓﻲ ﻋﻬﺪ ﻋﻤﺮ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺍﻟﻨﺒﻲ ﻛﺎﻥ ﻻ ﻳﺰﻳﺪ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﻻ ﻏﻴﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺇﺣﺪﻯ ﻋﺸﺮﺓ ﺃﻭ ﺛﻼﺙ ﻋﺸﺮﺓ ﻭﻟﻢ ﻳﺤﺪﺩ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻋﺪﺩﺍ ﻣﻌﻴﻨﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ ﻭﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺑﻞ ﻛﺎﻥ ﻳﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﻴﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺑﺎﻟﺬﺍﺕ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : « ﻣﻦ ﻗﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﺍﺣﺘﺴﺎﺑﺎ ﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ » ( 1 ) ﻭﻟﻢ ﻳﺤﺪﺩ ﻋﺪﺩ ﺍﻟﺮﻛﻌﺎﺕ ﻭﻫﺬﺍ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﺑﺎﺧﺘﻼﻑ ﺻﻔﺔ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻓﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﻄﻴﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻘﻠﻞ ﻋﺪﺩ ﺍﻟﺮﻛﻌﺎﺕ ﻛﻤﺎ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺨﻔﻒ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺭﻓﻘﺎ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﺜﺮ ﻋﺪﺩ ﺍﻟﺮﻛﻌﺎﺕ ﻛﻤﺎ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻓﻲ ﻋﻬﺪ ﻋﻤﺮ ﻭﻻ ﺑﺄﺱ ﺃﻥ ﻳﺰﻳﺪ ﻓﻲ ﻋﺪﺩ ﺍﻟﺮﻛﻌﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻋﻦ ﻋﺪﺩﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮﻳﻦ ﺍﻷﻭﻝ ﻭﻳﻘﺴﻤﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﻗﺴﻤﻴﻦ ﻗﺴﻤﺎ ﻳﺼﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﻳﺨﻔﻔﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﺗﺮﺍﻭﻳﺢ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮﻳﻦ ﺍﻷﻭﻝ ﻭﻗﺴﻤﺎ ﻳﺼﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﻳﻄﻴﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﺗﻬﺠﺪ ﻓﻘﺪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺠﺘﻬﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺠﺘﻬﺪ ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻭﻛﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻠﺖ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﺷﻤﺮ ﻭﺷﺪ ﺍﻟﻤﺌﺰﺭ ﻭﺃﺣﻴﺎ ﻟﻴﻠﻪ ﻭﺃﻳﻘﻆ ﺃﻫﻠﻪ ﺗﺤﺮﻳﺎ ﻟﻠﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ ، ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻳﻘﻮﻝ ﻻ ﻳﺰﻳﺪ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻋﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻣﺨﺎﻟﻒ ﻟﻬﺪﻱ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﺨﺎﻟﻒ ﻟﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻣﻦ ﻃﻮﻝ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻓﺎﻟﻮﺍﺟﺐ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺳﻨﺘﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺳﻨﺔ ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ ﺍﻟﺮﺍﺷﺪﻳﻦ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺣﺚ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ ﻭﺻﻼﺓ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻻ ﺗﺨﺬﻳﻠﻬﻢ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﺇﻟﻘﺎﺀ ﺍﻟﺸﺒﻪ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻘﻠﻞ ﻣﻦ ﺍﻫﺘﻤﺎﻣﻬﻢ ﺑﻘﻴﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ . ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ، ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ . ﺍﻟﻠﺠﻨﺔ ﺍﻟﺪﺍﺋﻤﺔ ﻟﻠﺒﺤﻮﺙ ﺍﻟﻌﻠﻤﻴﺔ ﻭﺍﻹﻓﺘﺎﺀ ﻋﻀﻮ ... ﻋﻀﻮ ... ﻋﻀﻮ ... ﻧﺎﺋﺐ ﺍﻟﺮﺋﻴﺲ ... ﺍﻟﺮﺋﻴﺲ ﺑﻜﺮ ﺃﺑﻮ ﺯﻳﺪ ... ﺻﺎﻟﺢ ﺍﻟﻔﻮﺯﺍﻥ ... ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻏﺪﻳﺎﻥ ... ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺁﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ... ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺑﺎﺯ ________ ( 1 ) ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ ( 2009 ) ، ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮﻳﻦ ﻭﻗﺼﺮﻫﺎ ( 759 ) ، ﺳﻨﻦ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺍﻟﺼﻮﻡ ( 808 ) ، ﺳﻨﻦ ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭﺷﺮﺍﺋﻌﻪ (

DAKWAH TAUHID DAN SUNNAH DENGAN SISTEM PONDOK PESANTREN ADALAH SOLUSI DERADIKALISASI (-) Oleh : Al-Ustadz Muhammad bin 'Umar As-Sewed -hafidzahullah- Maraknya isu terorisme akhir-akhir ini sungguh menakutkan. Bukan menakutkan orang-orang kafir. Tapi justru menakutkan kaum Muslimin. Yang se…

Zakat Fithr (Fitrah) Mengapa dinamakan zakat fithri / fitrah? Berkata Ibnul Atsir : “Zakat fitrah (fithr) adalah untuk mensucikan badan” (An Nihayah 2:307) Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani menukil perkataannya Abu Nu’aim: “Disandarkan shodaqoh kepada fithr (berbuka) dis…

Rambu-rambu yang Harus Diperhatikan oleh Wanita di Bulan Ramadhan‼️ Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan حفظه الله Pertanyaan: Apakah aturan yang harus dipegangi oleh wanita kaum muslimin di bulan . yang mulia ini? Jawaban: Aturan yang harus dipegangi oleh wanita kaum muslimin di bulan ya…

ANAK YANG BELUM BALIGH DIPERINTAHKAN BERPUASA JIKA MAMPU Asy-Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-'Utsaimin رحمه الله : Pertanyaan : Apakah anak kecil yang belum mencapai usia 15 tahun diperintahkan untuk berpuasa sebagaimana halnya sholat? Jawaban : YA, anak-anak ke…

Hukum Puasa Ramadhan Bagi Orang yang Berpergian / Safar (Musafir) Para Ulama sepakat bahwasanya boleh untuk berpuasa dan tidak puasa (bagi seorang musafir) . . Hanya saja perselisihan tentang yang Afdhal. Demikian pula ulama sepakat (bagi musafir) bahwa barang siap…

Keutamaan - keutamaan Ibadah Puasa (Shoum) Ibadah puasa memiliki banyak keutamaan, di antaranya: 15 Keutamaan Ibadah Puasa yang Patut Anda Ketahui via Pexels 1. Kadar besarnya pahala hanya Allah saja yang tahu. Jika amal lain mendapatkan kelipatan pahala 10 kali lipat hingg…

Tata Cara Qunut Witir Sesuai Bimbingan Sunnah Rasulullah Bismillah, berikut tanya jawab tentang Qunut Witir yang kami kutip dari Majalah Asy Syariah (asysyariah.com) dan situs salafy.or.id. Berikut rangkumannya yang insyaallah memberikan manfaat bagi kita semua. Barakallahu fiikum. Huk…

Fairuz Ad Dailami radhiyallahu ‘anhu Shahabat kita kali ini adalah shahabat yang berasal dari Negeri Yaman. Beliau adalah Fairuz Ad Dailamy. Beliau berkuniah Abu Abdillah atau Abu Abdirrahman atau Abu Dhahhak, seorang putra dari saudara perempuan Najasy Al Himyari. Terkadang beliau dipanggil dengan Ibnu Ad Dailamiy. Ayahnya berasal dari keturunan persia sedang ibu berasal dari bangsa Arab. Beliau dari qobilah Himyar Yaman sehingga beliau terkenal dengan Al Himyari, dinisbahkan kepada tempat beliau tinggal. Bagaimana cerita keislaman beliau? Suatu ketika, Fairuz datang kepada Rasulullah dan mengatakan. ‘Sesungguhnya Kisra telah menulis surat kepada Baadzan (raja Yaman, red) yang berbunyi, “Sesungguhnya di negerimu ada seseorang yang mengaku-aku kenabian, maka tangkap dan bawalah ia kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sesungguhnya Rabbku telah murka kepada tuanmu (kisra) maka Ia pun mematikannya”. Maka Fairuz pun pulang ke negerinya dan mendengar khabar kematian Kisra. Maka ia pun masuk Islam dan menjadi baik keislamannya. Raja Yaman (Baadzan) pun melepaskan diri dari kekuasaan imperialis Persia dan memilih memeluk Islam bersama dengan rakyat Yaman. Sesaat setelah kematian Baadzan, muncullah gerakan nabi palsu Al Aswad Al Ansy. Ia merebut kekuasaan negeri Yaman dari putra Baadzan dan membunuhnya. Selain banyak berbuat zalim, ia pun mengaku-aku mendapatkan kenabian dan menggunakan praktik perdukunan dan kecurangan demi melancarkan misi palsunya. Tak hanya itu, pembunuhan pun ia lakukan terhadap siapa saja yang berani merintanginya. Perlu diketahui bahwa nabi palsu yang mengaku mendapatkan kenabian saat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup adalah ‘Abhalah bin Kaab (Al Aswad Al Insiy), Tsumamah bin Qais (Musailamah Al Kadzdzab), dan Thulaikah bin Al Asady. Ketika Rasulullah menerima laporan gerakan Aswad Al Ansy, beliau segera mengutus sepuluh orang shahabat untuk membawa surat kepada para shahabat yang dianggap berpengaruh di kawasan Yaman. Beliau memerintahkan mereka supaya segera bertindak menumpas bencana yang membahayakan Iman dan Islam. Beliau memerintahkan supaya menyingkirkan Aswad Al Ansy dengan cara yang sebaik-baiknya. Perintah Rasulullah tersebut disambut antusias oleh para shahabat, termasuk Fairus Ad-Dailamy dan anak buahnya. Bahkan dialah orang yang pertama kali merespon perintah Rasulullah tersebut untuk memberangus para nabi palsu. Fairuz akhirnya bisa membunuh Al Aswad Al Ansy dengan menyelinap masuk melalui bantuan anak paman beliau, Istri putra Baadzan yang dikawini paksa oleh Al Aswad, dan Qois bin Al Maksyuh. Maka Fairuzlah yang membunuh dan memenggal kepala Al Aswad. Kematian tersebut terjadi sesaat sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal. Beliau mendapat wahyu akan kematian Al Kadzdzab dan mengatakan; قَتَلَهُ الۡعَبۡدُ الصَّالِحُ فَيۡرُوز الدَّيۡلَمِي “Telah membunuhnya hamba yang saleh Fairuz Ad Dailamy.” Dalam riwayat lain, قَتَلَهُ رَجُلٌ مُبَارَكٌ مِنۡ أَهۡلِ بَيۡتٍ مُبَارَكِينَ “Yang membunuh Al Aswad Al ‘Insi adalah seorang lelaki yang diberkati yang berasal dari keluarga yang diberkati.” Kematian Al Aswad Al Ansy ini terjadi sekitar 3 hingga 4 bulan setelah pengakuan kenabian tersebut. Alhamdulillah. Yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah tiga putra beliau, Dhahhak bin Fairuz, Abdullah bin Fairuz seorang shahabat, dan Abu Imran Said bin Fairuz. Demikian juga Abu Khair Martsad bin Abdillah, Abul Kharras Ar Raiini (beliau adalah Tabiin) dan selain mereka. KEDUDUKAN FAIRUZ DI HADAPAN UMAR Umar menulis surat kepada Fairuz Ad Dailamy dalam rangka mengundang beliau pada suatu keperluan. Maka Fairuz pun datang dan meminta izin kepada Umar untuk masuk. Maka Umar pun mengizinkannya. Maka tiba-tiba ada seseorang pemuda dari suku Quraisy yang mendesaknya (untuk mendahului beliau masuk, red). Fairuz pun marah dan menampar hidung orang tersebut. Maka, orang tersebut mendahuluinya menemui Umar dengan hidung berdarah. Maka Umar bertanya, “Siapa yang bersamamu?” Maka dijawab Fairuz, sedang beliau berada di pintu masuk. Maka Umar pun mengizinkan beliau untuk masuk. Umar pun bertanya, “Apa yang terjadi wahai Fairuz?” Fairuz mengatakan, “Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya aku adalah seorang yang baru mendapatkan kekuasaan, dan engkau menulis surat untukku (memanggilku), sedang engkau tidak memanggilnya. Engkau mengizinkanku untuk masuk sedang engkau belum mengizinkan dia masuk. Maka ia pun ingin masuk sebelumku dengan izinmu untukku.” Maka Umar mengatakan, “(Apakah ditegakkan) qishash?” Fairuz pun mengatakan, ‘Ya, qishash’. Maka Fairuz pun duduk berdiri di atas lutut beliau siap untuk diqishash. Ketika si pemuda hendak mengqishashnya, Umarpun mengatakan, ‘Sebentar wahai pemuda, sampai aku khabarkan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Telah terbunuh si zalim Aswad Al Ansy. Telah membunuhnya seorang hamba yang saleh Fairuz Ad Dailamy.” Apakah engkau tetap akan menegakkan (qishash) kepadanya setelah mendengar ini dari Rasulullah.” Maka sang pemudapun mengatakan, ‘Sungguh aku telah memaafkannya setelah aku mendengarnya dari Rasulullah’. Maka Fairuz pun memberi untuk si pemuda pedang, kuda, dan tiga puluh ribu dari harta beliau sambil mengatakan, ‘Pemberian maafmu tentu akan berpahala wahai saudara Quraisy dan engkau pun akan mendapatkan harta’. Beliau meninggal di Negeri Yaman, diperselisihkan apakah di masa khalifah Utsman bin Affan ataukah di masa Muawiyah radhiyallahu ‘anhu. Pada tahun 53 hijriyah, dimakamkan di Yaman. Wallahu a’lam. [Ustadz Hammam] Sumber: Majalah Tashfiyah vol.07 1439H-2018H edisi 77 rubrik Figur. | http://ismailibnuisa.blogspot.co.id/2018/04/fairuz-ad-dailami-radhiyallahu-anhu.html Biografi Fairuz Ad Dailami radhiyallahu ‘anhu via Pexels

Hukum Mencium / Mencumbu Istri Ketika Berpuasa HUKUM KELUAR MANI KARENA BERCUMBU DENGAN ISTRI Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor:14283 Apabila saya mencium istri hingga membuat saya ereksi saat sedang berpuasa dan sudah berwudhu, apakah ini membatalkan puasa dan wudhu saya, a…

HAI’AH KIBAR ULAMA (DEWAN ULAMA SENIOR) KERAJAAN ARAB SAUDI MENGUTUK KERAS BOM BUNUH DIRI DENGAN SASARAN 3 GEREJA DI INDONESIA Riyadh 27 Sya’ban 1439 H / 14 Mei 2018 M. Sekretariat Jendral Dewan Ulama Senior mengutuk keras bom bunuh diri yang terjadi di Indonesia dengan sasaran tiga gereja dan m…