Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Yang Berdiri di Tiang Ibnu Mas’ud Biografi Abu Bakar bin Abi Syaibah Beliau adalah lautan ilmu dan lambang kokohnya kekuatan hafalan di masanya. Tak pelak ulama pun bersepakat akan kekuatan hafalannya dan bahkan predikat ‘penghulu para hufazh’ (para penghafal) melekat pada dirin…

"Menghadirkan Senyum Di Tengah Derasnya Ujian" . Rangkaian perjalanan manusia seakan tak ada habisnya. Apabila kita telah melewati suatu keadaan, maka bersiaplah untuk menghadapi keadaan yang lain. Karena memang hidup ini penuh teka-teki, tak ada yang bisa menjamin sebuah ke…

TOKOH YANG BERSAHAJA Oleh : Ustadz Abu Hafy Abdullah Biografi Al A'masy Sulaiman bin Mihran Berpakaian sangat sederhana adalah ciri khasnya dalam majelis-majelis ilmu. Orang tidak akan menyangka bahwa sosok ini adalah seorang ulama hadis yang mumpuni. Banyak pihak dibuat bingu…

Mutiara Baik Sangka Kisah : Perjalanan Menemukan Pondok Salafy "Jika Allah telah menentukan bahwa kita akan mendapatkan suatu nikmat, maka pastilah nikmat itu sampai di tangan kita walau aral rintangan berusaha menghalanginya." "Kalau mbak mau jadi dosen, emang gak takut…

MENUNTUT ILMU ADALAH WAJIB Kumpulan Hadits Shahih Tentang Menuntut Ilmu Agama Hadits Ke-001 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ . : [ طلبُ العلمِ فريضةٌ على كلِّ مسلمٍ ]. حدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ ابن ماجة Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim" (Hadits Shohih, riwayat Ibnu Majah) Hadits Ke-002 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : [ إِنَّ طالبَ العلمِ يستغفِرُ له من في السماء و الأرض،حتى الحيتانِ في الماء ] حدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ ابن ماجة رقم.٢٢٣ ↩️ صححه الألباني Rasulullah shallallahu 'alaihi wa ala alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampunan untuknya oleh para penghuni langit dan bumi, bahkan ikan-ikan yang di air (juga memintakan ampunan untuknya" (Hadits Shohih diriwayatkan oleh Ibnu Majah no.223. Dishahihkan oleh Al Albani) Hadits Ke-003 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : 🏙⚡️ [ أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا ، إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ ،وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ ]. حدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ الترمذي رقم. ٢٣٢٢ Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda : Ketahuilah, Sesungguhnya Dunia ini terlaknat dan juga yang didalamnya ikut terlaknat kecuali dzikrullah dan perkara-perkara yang dicintai Allah, juga orang yang berilmu atau yang mempelajari ilmu ] Hadits Hasan diriwayatkan oleh At Tirmidzi no.2322 Hadits Ke-004 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : [ لا حَسَدَ إلاَّ في اثنَتَيْنِ ،رَجُلٌ آتَاه اللهُ مَالاً فسَلَّطَهُ عَلى هَلَكتِهِ في الحَقَّ ، ورَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقضِي بِها وَ يُعَلِمُّها ]. 📚 متَّفَقٌ عَلَيهِ ( رَوَاهُ البُخَارِيْ و مًسلِمٌ ).🌴 Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : "Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara, seseorang yang Allah berikan harta kemudian dia menginfakkannya pada jalan kebenaran, dan seseorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) kemudian dia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya" Muttafaqun 'alaih ( diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim) Hadits Ke-005 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : [ خيرُكم مَن تعلَّم القرآنَ وعلَّمه ]. رواه البخاري Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya" (Hadits riwayat Al Bukhari) Hadits Ke-006 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : [ من سلَكَ طريقًا يلتمسُ فيهِ علمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طريقًا إلى الجنَّةِ ]. رواه مسلم.🌴 Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'Ala Alihi wa shahbihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga" Hadits riwayat Imam Muslim Hadits Ke-007 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : [ مَن يُردِ اللهُ بهِ خَيرًا يُفقِّهُّ في الدِّينِ ]. متَّفَقٌ عَلَيهِ ( رَوَاهُ البُخَارِيْ و مًسلِمٌ ) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'Ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, niscaya akan difahamkan dalam perkara agamanya" Muttafaqun 'alaihi (diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim) 🌴 Hadits Ke-008 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : 💫 [ مَن جاءَ مَسجدي هذا، لَم* *يَأْتِه إلَّا لخيرٍ يَتعلَّمُه، أو يُعلِّمُه فهوَ بِمنزِلَةِ المجاهدينَ في سَبيلِ اللهِ، ومَن جاءَ لغيرِ ذلكَ، فهوَ بِمنزِلَةِ الرَّجُلِ يَنظرُ إلى مَتاعِ غيرِه ]. حدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ ابن ماجه Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : [Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini, dimana tidaklah dia mendatanginya kecuali karena kebaikan yang akan dia pelajari, atau mengajarkannya maka kedudukannya seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Dan barangsiapa yang mendatanginya bukan karena itu, maka kedudukannya seperti seseorang yang melihat barang dagangan orang lain] Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah Hadits Ke-009 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : [ لا تَعلَّموا العِلمَ لِتُباهوا به العُلماءَ ولا تُماروا به السُّفهاءَ ولا تَخيَّروا به المجالِسَ، فمَن فعَل ذلك فالنَّارَ النَّارَ ]. حدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ ابن حبان Rasulullah shallallahu 'alaihi wa'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : [Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk berbangga dihadapan ulama atau mendebat orang-orang bodoh atau memilih-milih majelis. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut, hendaknya ia takut neraka! neraka! ] Hadits Shohih diriwayatkan oleh Ibnu Hibban Hadits Ke-010 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : [ وإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ ، كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ ]. حدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ أبو داود Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : [Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim dibandingkan dengan seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan purnama dibandingkan dengan seluruh bintang-bintang] Hadits Shohih, Diriwayatkan oleh Abu Dawud no.3641 Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dari shahabat yang mulia Abu Darda Hadits Ke-011 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : [ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا إنما وَرَّثُوا لْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ ]. حدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ أبو داود Rasulullah shallallahu 'alaihi wa'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : [Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan Dinar dan tidak pula Dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat besar ] Hadits Shahih Diriwayatkan oleh imam Abu Dawud No.3641 Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dari Shahabat yang mulia Abu Darda Hadits Ke-012 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : [ لا تَعلَّموا العِلمَ لِتُباهوا به العُلماءَ ولا تُماروا به السُّفهاءَ ولا تَخيَّروا به المجالِسَ، فمَن فعَل ذلك فالنَّارَ النَّارَ ]. حدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ ابن ماجه (٢٥٤) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : [Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk berbangga dihadapan ulama atau mendebat orang-orang bodoh atau bisa tampil di majlis-majelis. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut, pantas baginya Neraka! Neraka! ] Hadits Shohih diriwayatkan oleh Ibnu Majah (254) Hadits Ke-013 Dari Zaid bin Arqom berkata : Tidaklah aku berkata kepada kalian kecuali seperti apa yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam katakan : { اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا } Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari hati yang tidak khusyu dan dari jiwa yang tidak merasa puas dan dari do'a yang tidak dikabulkan} Hadits riwayat Muslim No.2722 Hadits Ke-014 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : 💫 [ مَنْهُومَانِ لا يَشْبَعَانِ: 1⃣ منْهُومٌ فِي الْعِلْمِ لا يَشْبَعُ مِنْهُ، 2⃣ ومَنْهُومٌ فِي الدُّنْيَا لا يَشْبَعُ مِنْهَا ]. حدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ الحاكم.🌴 👈🏼 المَنْهُومُ = المُولَعُ بالشيء . Rasulullah shallallahu 'alaihi wa'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : [Dua jenis manusia yang rakus dan tidak pernah merasa kenyang : 1. Orang yang rakus terhadap ilmu, ia tidak pernah merasa kenyang darinya. 2. Orang yang rakus terhadap dunia, ia tidak pernah merasa kenyang darinya ] Hadits shohih Diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam mustadraknya (1/91) Dishahihkan Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'i Al Manhum =orang yang rakus terhadap sesuatu. Hadits Ke-015 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : [ بلِّغوا عنِّي ولو آيةً ]. رواه البخاري. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : [Sampaikan dariku walaupun satu ayat] Hadits diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (3461) dari shahabat Abdullah bin Amr _radhiyallahu 'anhuma Hadits Ke-016 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : 💫 [ إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : ☝️ صدَقَةٍ جَارِيَةٍ، ✌️ أوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ]. رواه مسلم. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : [Apabila anak Adam meninggal, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara : - Shodaqoh jariyah - Ilmu yang bermanfaat - Anak shalih yang mendo'akan kebaikan untuknya.] Hadits riwayat Imam Muslim (1631) dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu Hadits Ke-017 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : [ مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ] حدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ ابن ماجه Rasulullah shallallahu 'alaihi wa'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : [ Barangsiapa ditanya suatu ilmu (yang wajib diketahui,red.) kemudian dia menyembunyikan jawabannya, maka kelak Allah akan mengekang mulutnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat.] Hadits shahih (dishahihkan al albany rahimahullah) Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah (264) Hadits Ke-018 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : 💫 [ إن اللهَ لا يقبضُ العلمَ انتزاعًا ينتزِعُهُ من العبادِ، ولكن يقبضُ العلمَ بقبضِ العلماءِ، حتى إذا لم يُبْقِ عالمًا، اتخذَ الناسُ رُؤوسًا جُهَّالًا، فسُئِلوا، فأفْتَوا بغيرِ علمٍ، فضلوا وأضلوا ]. متَّفَقٌ عَلَيهِ ( رَوَاهُ البُخَارِيْ و مًسلِمٌ) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : [Sesungguhnya Allah tidak langsung mengangkat ilmu dari hambanya, Akan tetapi mengangkat ilmu dengan diwafatkannya ulama, sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorangpun yang berilmu, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh menjadi pemimpin, sehingga ketika ditanya mereka berfatwa dengan tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan. ] Hadits ini disepakati kesahihannya. (Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari {100} dan Muslim{2673}) Hadits Ke-019 عنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: { سَيَأْتِيكُمْ أَقْوَامٌ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَقُولُوا لَهُمْ مَرْحَبًا مَرْحَبًا بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاقْنُوهُمْ } حدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابن ماجه. 🌴 اقْنُوهُمْ = عَلِّمُوهُمْ Dari Abu Sa'id Al Khudri dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda : (Akan datang sekelompok kaum kepada kalian yang mencari ilmu, apabila kalian melihat mereka maka katakanlah "selamat datang, selamat datang kepada wasiatnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam" dan buat mereka ridha). Hadits Hasan Dihasankan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (247) buat mereka ridha = ajarkanlah ilmu kepada mereka Hadits Ke-020 قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَسَلَّمَ : 💫 [ قَامَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام ، خَطِيبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ ، فَسُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ ؟ فَقَالَ : أَنَا أَعْلَمُ ، قَالَ : فَعَتَبَ اللهُ عَلَيْهِ ، إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَيْهِ ، فَأَوْحَى اللهُ إِلَيْهِ ، أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ ، هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ ]. متَّفَقٌ عَلَيهِ ( رَوَاهُ البُخَارِيْ و مًسلِمٌ ) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala Alihi wa shohbihi wa sallam bersabda : [Musa 'alaihissalam berdiri berkhutbah dihadapan Bani Israil, kemudian beliau ditanya, siapakah manusia yang lebih berilmu? Beliau menjawab : saya lebih berilmu. Beliau bersabda : maka Allah menegurnya, dimana beliau tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Maka Allah mewahyukan kepadanya 'bahwa ada seorang hamba dari hamba-hamba-Ku yang berada di pertemuan dua laut dia lebih berilmu darimu'] Muttafaqun'alaihi Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (122) dan Imam Muslim (6313) ________________ Hadits-hadits di atas bersumber dari Telegram : t.me/salafy_cirebon

Menuju Masa Depan yang Cerah Menuju Masa Depan yang Cerah Setiap orang tentu memiliki impian dan harapan yang indah tentang masa depan mereka, diperlukan motivasi dan semangat yng tinggi serta kerja keras untuk mewujudkan masa depan yang indah. Dan sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk mewujudkan masa depan yang cerah. Sahabat-sahabatku, hari ini adalah saat kita menanam benih dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Oleh karena itu, siapa pun yang ingin mengetahui masa depan maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang. Banyak yang mengatakan kalau hidup merupakan pilihan, tetapi kalau memang ada pilihan berarti kita bisa memilih yang terbaik. Oleh karena itu perlakukan hidup kita dengan sebaik mungkin. Orang yang paling rugi di dunia ini adalah orang yang diberikan modal tapi modal tersebut ia hamburkan sia-sia. Dan modal termahal adalah waktu. Seperti dalam surat Al-Ashr, Allah berfirman : وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ “Demi masa! Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al Asr : 1-3) Allah ta’ala menjelaskan bahwa untung dan ruginya manusia dapat diukur dari sikapnya seseorang terhadap waktu. Kalau ia berani menghamburkan waktunya, maka ia tergolong orang yang mensia-siakan kehidupannya. Ada tiga jenis waktu, yaitu: Masa lalu : masa yang kita semua sudah melewatinya sehingga ada diluar kontrol kita. Banyak orang yang sengsara hari ini karena masa lalunya yang memalukan. Oleh karena itu kita harus selalu waspada, jangan sampai masa lalu merusak hari-hari kita saat ini. Masa depan : masa yang belum terjadi.yang sering kita panik dalam menghadapinya. Salah satu sebab paniknya mungkin karena sulitnya mendapatkan pekerjaan, barang perlengkapan yang serba mahal, harta pas-pasan dan yang semisalnya.Walau demikian, masa lalu dan masa depan kuncinya adalah hari ini. Masa sekarang : inilah masa yang paling penting. Karena masa depan dapat ditentukan dengan apa yang kita lakukan sekarang. Seburuk-buruk apapun masa lalu kita, kalau hari ini kita benar-benar bertaubat dan mau memperbaiki diri, dengan izin Allah segala keburukan itu akan terhapus. Demikian pula dengan masa depan, maka sungguh mengherankan melihat orang yang bercita-cita akan tetapi tidak melakukan apapun untuk meraihnya. Padahal hari ini adalah saat kita menanam benih dan masa depan adalah waktu untuk memanennya. Oleh karena itu, siapapun yang ingin mengetahui masa depannya maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang. Belajar menghitung Sahabatku, kita harus mulai menghitung semua yang kita lakukan. Ucapan kita sekarang adalah sebuah jaminan dan kita bisa terpuruk hanya dengan satu patah kata. Kita pun bisa menuai kemuliaan dengan kata-kata. Ilmu yang kita dapatkan sekarang adalah tabungan untuk masa depan. Bila kita dapatkan dengan cara yang tidak ikhlas, niscaya aibnya akan segera kita rasakan. Oleh karena itu, terlalu bodoh apabila kita melakukan hal yang sia-sia. Dan tidak melakukan hal-hal yang bermanfaat. Detik demi detik harus kita tanam sebaik mungkin, karena inilah bibit yang buahnya akan terpetik di masa depan. Kalau kita terbiasa berhati-hati dalam berbicara, bersikap, mengambil keputusan dan dalam menjaga pikiran atau hati. Niscaya kapan pun malaikat maut menjemputmu kita akan selalu siap. Akan tetapi kalau kita sebaliknya, berbicara sepuasnya dan berfikir sebebasnya, tak heran bila saat kematian menjemput menjadi hal paling menakutkan. Apa yang engkau lakukan saat ini itulah yang terpenting. Jangan hanya berkeinginan mendapatkan hasil yang lebih baik, akan tetapi lakukanlah sesuatu agar impian tersebut bisa terwujud. Sekali lagi! Apa yang kau lakukan saat ini akan membuat perbedan besar antara apa yang akan terjadi di masa depan dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Oleh karena itu, jangan patah semangat untuk melalui segala rintangan yang akan terjadi untuk menuju masa depan. Jika kita yakin dengan kemapuan diri sendiri, maka kita akan berani mencoba tantangan baru. Sukses atau gagal tidaklah jadi masalah. Karena yang terpenting kita jangan pernah takut untuk maju sebelum berperang. Menuju masa depan yang cerah tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan, dibutuhkan perjuangan dan kerja keras untuk menghadapi segala rintangan yang terjadi. Masa depan kita ditentukan dengan apa yang kita lakukan sekarang, tetapla istiqomah dan bersabar dalam menghadapi segala halangan dan rintangan karena masa depan yang cerah menunggumu. Menyongsong masa depan yang cerah Sahabatku, berikut adalah beberapa inspirasi yang insyaAllah dapat membantu kalian untuk meraih kunci masa depan yang cerah. 1. Pastikanlah hari-hari kita menjadi sarana penambah keyakinan kepada Allah. Salah satunya yaitu dengan menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hidup kita tidak akan pernah tentram kecuali dengan keyakinan Allah ta’ala. Dan pupuk dari keyakinan itu adalah ilmu. Orang-orang yang tidak suka menuntut ilmu, maka imannya tidak akan bertambah. Hidup pun akan mudah goyah dan itu berpengaruh terhadap masa depnmu. 2. Tiada hari berlalu, kecuali menjadi amal. Dimana pun kita berada, lakukanlah hal yang terbaik. Segala sesuatu harus menjadi amal baik di lihat atau tidak sama sekali. Kita jalan terus, tentunya dalam mengamalkan hal-hal yang tidak melanggar batasan syariat. Kita juga dituntut untuk bersegera dalam melakukan sesuatu, bukan menundanya. Allah berfirman : ﻓَﺎﺳْﺘَﺒِﻘُﻮﺍْ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ “Berlomba-lombalah dalam Kebaikan” (QS. Al Baqarah 148) 3. Terus melatih diri agar mampu menasihati orang lain dalam kebenaran dan kesabaran. Dan terus melatih diri untuk mampu menerima nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Kita akan mmpu memberi nasehat jika kita senang diberi nasehat. Dari proses pengembangan diri, kita akan mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman karena ilmu dan pengalaman adalah guru terbaik untuk bisa meraih masa depan yang cerah. Ilmu dan pengalaman harus saling menopang satu sama lainnya agar tujuan kita semua bisa tercapai, insyaAllah. Sebagaimana menjadikan al-Qur’an dan sunnah sebagai sepasang sayap. Apabila salah satu patah, maka sang burung tidak akan bisa terbang tanpa sayapnya. 4. Optimis dan yakin akan kemampuan diri sendiri adalah kunci dalam meraih masa depan yang cerah. Sahabatku, jangan sampai sebuah kegagalan menjadi halangan untuk meraih masa depan. Karena dibalik kegagalan itu ada hikmah yang kita tidak mengetahuinya kecuali Allah. Belajar selalu dari kegagalan kawanku,dan jangan lupa untuk selalu berdo’a kepada Allah agar kita bisa menempuh apa yang kita inginkan. 5. Disiplin merupakan kunci untuk bisa meraih masa depan. Hanya saja kita harus bisa selalu fokus, teratur dan terarah dengan apa yang di bangun serta apa yang dijalani dari awal. Inilah sebagian kunci untuk meraih masa depan. Intinya, apa yang engkau lakukan hari ini adalah gambaran masa depanmu. Teruslah bersungguh-sungguh dalam menghadapi rintangan yang bisa merusak masa depan kalian. Tetap bersabar dan istiqomah! Masa lalumu tidak akan sama dengan masa depan. Yang terpenting bukan apa yang kau lakukan kemarin tapi apa yang kau lakukan sekarang? Bagaimana pun bentuk kegagalan yang kau alami di masa lalu, bukan berarti kau di takdirkan menanggung hal tersebut selamanya. Jadikan kegagalan itu pelajaran berharga untuk masa depan nanti. Karena masa depan yang cerah menunggumu.. Sumber : Draft Majalah Santri Ma'had Daarul Atsar Tasikmalaya | Penulis : Rifqi Habibillah

Bintang Bersinar di Langit Nama sebenarnya adalah Yahya bin Sa'id bin Farrukh Al Qaththan At Tamimi Al Ahwal dengan kunyah Abu Sa'id Al Bashri rahimahullah. Beliau dilahirkan pada awal tahun 120 H yang berstatus bekas budak Bani Tamim menurut sebagian ulama. Sejak usia rem…

Membeli Surga dengan 1 Dirham Oleh : Al Ustadz Abu Amr As Sidawy Sunan Abu Dawud, siapa yang tidak kenal kitab ini? Kitab yang disusun untuk mengulas pembahasan hadis-hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan urutan bab-bab fikih. Kitab ini termasuk di antara enam kitab induk yang menj…

Dengan Tawadhu, Allah Naikkan Derajatnya Oleh Ustadz Abdullah “Sungguh, pernah ada seseorang yang menyampaikan hadits kepada saya, kemudian saya berikan perhatian penuh seakan-akan saya belum pernah mendengar hadits tersebut, padahal saya sudah mendengar hadits tersebut sebelum orang te…

"DEMI HIJRAH, KAMI SIAP BERJUANG" Oleh Al Ustadz Fauzi bin Nur Meninggalkan sesuatu yang disukai karena Allah memang membutuhkan kesabaran. Saat harapan dalam diri sangat tinggi namun agama tidak sejalan dengan kepentingan jiwa, saat itu ujian pun di mulai. ujian tentang kejujuran dan kesetiaan terhadap keyakinan yang tertanam, dan ujian tentag kesabaran mengalahkan kehendak jiwa, serta perjuangan menundukkan nafsu yang selalu angkuh untuk menunduk dan merendah di hadapan Allah Yang Maha Mulia. Kesabaran pun kian menyesakkan rongga dada, jika yang harus ditinggalkan memiliki nilai yang tinggi dan berkaitan erat dengan untung-rugi duniawi. Terlintas dalam benak berbagai bisik keraguan; 'Jika saya tinggalkan ini, bagaimana nasib saya nanti?! Bagaimana saya makan?! Dari mana lagi saya dapat harta?!' Tak ayal, banyak yang patah arang sebelum berjuang menuju jalan hidup yang lebih baik dan meninggalkan masa lalu yang hitam. Berhijrah memang tidak mudah; butuh kesabaran, keyakinan mantap, kejujuran hati, serta perjuangan meninggalkan segala kepentingan duniawi. Hal inilah yang dialami Rasulullah beserta para sahabatnya. Mekkah adalah tempat kelahiran dan tanah yang paling mereka cintai; tempat yang paling suci dan mulia, tempat yang paling dekat dengan Allah di muka bumi, tempat berbagai kenikmatan yang berlimpah, dan tempat berkumpulnya sanak saudara dan handai tolan yang setia. Sebaliknya, Madinah adalah tempat yang paling berwabah di tanah Arab dan begitu panas membakar kulit penduduknya. Cukuplah sebagai satu penderitaan, kenyataan Madinah bukanlah negeri mereka sendiri, dengan kata lain, berpindah ke Madinah sama saja membangun penghidupan kembali dari titik nol; lingkungan baru, suasana baru, kehidupan baru, dan tantangan baru yang siap menghadang di ujung jalan. Tatkala Rasulullah sampai di sana bersama Abu Bakar, Abu Bakar pun tertimpa demam Madinah, beliau sering berkata dalam sakit; Tiap orang berpagi hari di tengah keluarganya, sementara kematian lebih dekat dari tali sandalnya Begitu juga Bilal saat sembuh dari demamnya, ia mengatakan, Duhai kiranya aku tahu; akankah aku tidur di satu malam Di sebuah lembah dikelilingi Idzkhir dan Jalil tertanam Akankah aku datangi nanti mata air Mijannah Dan tampak olehku dua gunung Thufail dan Syamah Kerinduan kepada tanah suci Mekkah serta kesuburan dan keindahannya tak pernah lekang oleh zaman dalam kalbu mereka dan makin dahsyat saat merasakan ujian di tanah kelaparan. Bilal pun terkadang mendoakan kejelekan bagi orang-orang yang membuatnya dan para shahabatnya meninggalkan Mekkah menuju Madinah, "Ya Allah, laknatilah Syaibah bin Rabi'ah dan 'Utbah bin Rabi'ah, serta Umayyah bin Khalaf sebagaimana mereka telah mengusir kami dari tanah kelahiran menuju tanah yang berwabah." Rasulullah pun berdoa meminta ketetapan hati para shahabatnya agar bersabar di tanah hijrah demi meraih pahala Allah, "Ya Allah lanjutkanlah untuk para shahabatku hijrah mereka, dan jangan Engkau balikkan mereka darinya..." "Ya Allah jadikanlah kami cinta terhadap Madinah seperti cinta kami kepada Mekkah atau lebih darinya, Ya Allah berkahilah pada sha' dan mud kami, berikanlah kesehatan pada Madinah dan pindahkanlah demamnya ke tanah Juhfah." Dari Abu Salamah, dari Abdullah bin 'Adi Az-Zuhri, dia mengatakan, "Aku melihat Rasulullah diatas Hazwarah (menghadap ke Mekkah) seraya mengatakan, 'Demi Allah, engkau adalah tanah Allah yang terbaik, dan tanah yang paling dicintai Allah. Seandainya saja bukan karena aku diusir darimu, aku tidak akan keluar." [H.R. At Tirmidzi]. Berlalulah perjalanan penuh perjuangan yang dilakoni oleh Rasulullah dan Abu Bakar. Dengan rencana yang matang dan tawakkal yang tinggi kepada Allah, mereka bisa lolos dari kejaran orang-orang musyrik dan para pemburu. Demikian pula dengan jalan hijrah para shahabat, tak jauh berbeda dengan jalan hijrah Rasulullah. Mereka harus menghadapi tantangan yang tidak ringan demi meninggalkan masa lalu yang kelam menuju jalan yang diridhai Allah. JALAN HIJRAH ABU SALAMAH Tekad kuat Abu Salamah telah kuat. Ia akan membawa anak dan istrinya ke tempat yang lebih aman. Musyrikin Mekkah sudah keterlaluan memperlakukan kaum muslimin. Tidak ada ketenangan lagi untuk tetap bertahan. Demi masa depan keluarga, harta dan kekayaan bukan lagi hal yang berat untuk di tinggalkan. Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Unta sudah siap, lengkap dengan perbekalan untuk perjalanan tiga orang. Abu Salamah, Ummu Salamah, dan anak laki-laki mereka, Salamah. Dengan sigap, Abu Salamah menaikkan keluarga kecilnya di atasnya. Sebuah perjalanan panjang menuju hidup baru akan dimulai. Ia pun menuntun unta tersebut meninggalkan rumah dan tanah kelahirannya. Tak berselang lama berjalan, tiba-tiba ia di kejutkan oleh beberapa laki-laki dari Bani Mughirah; saudara sekabilah Ummu Salamah. Mereka pun menghadangnya, " Adapun jiwamu sendiri, kamulah yang memenangkannya dari kuasa kami." Ucap mereka. "Namun, istrimu ini... bagaimana mungkin kami membiarkan kamu pergi membawanya?!" Serta merta mereka merebut tali kekang dari dua tangannya lalu membawa pulang Ummu Salamah dan anaknya. Asa yang sudah di bangun untuk berhijrah bersama runtuh seketika. Abu Salamah tak berdaya melawan keegoisan para Bani Mughirah yang ada di depannya. Hanya Allah yang bisa terus menjaga Ummu Salamah dan anak tercintanya. Mendengar perlakuan kasar Bani Mughirah terhadap Abu Salamah, Bani Abdul Asad kabilah Abu Salamah pun murka. Mereka pun berusaha merebut Salamah putra Ummu Salamah dari pelukannya. "Tidak, demi Allah," kata mereka. "Tidak akan kami tinggalkan anak kami bersamanya, karena kalian telah memisahkan dia dengan saudara kami (Abu Salamah)." Anak kecil itu pun diperebutkan antar mereka, hingga Bani Abdul Asad berhasil menarik tangannya dan membawanya. Kini tak hanya Abu Salamah yang merasakan kekosongan batin dengan berpisah dengan istrinya. Namun, Ummu Salamah pun harus menerima kenyataan pahit; anak yang dirawat dalam pelukannya tiba-tiba pergi meninggalkan pangkuan dan ayunan hampa. Ummu Salamah mengatakan, "Terpisahlah aku, suamiku, dan anakku..." Tak terasa lagi kedamaian dalam hidupnya. Padahal ia hidup di tengah keluarga besarnya. Apa arti hidup, jika berpisah dari orang-orang tercinta?! Apa arti keluarga, jika tidak memahami kesedihan yang dirasakan anggotanya...? Setiap pagi Ummu Salamah berjalan keluar dan terduduk di Al Abthah. Butiran air pun mulai menetes dari dua matanya mengingat keluarga kecil yang penuh cinta. Ia pun tak berhenti menangis disana hingga tiba senja. Setiap hari hingga hampir setahun penuh tak kunjung kering air yang menetes dari matanya. Sampai suatu pagi, seseorang dari kabilahnya lewat dan melihat kesedihan mendalam yang dirasakan Ummu Salamah. Timbullah rasa iba dan kasihan padanya. Ia pun membujuk kabilahnya agar membiarkan Ummu Salamah pergi dan kembali hidup dengan keluarga kecilnya. "Tidakkah kalian biarkan saja wanita yang sengsara ini pergi?! Kalian sudah memisahkan dia dengan suami dan anak laki-lakinya." bujuk orang itu kepada Bani Mughirah. Akhirnya mereka melepaskannya, begitu pula Bani Abdul Asad membebaskan Salamah dan menyerahkannya kepada ibunya. Ummu Salamah bercerita, "Aku pun menyiapkan tunggangan, lalu aku ambil anakku dan aku bawa ke kamar. Aku pun keluar untuk menyusul suamiku di Madinah." "...dan tidak ada seorang makhluk pun bersamaku. Aku pun bergumam, 'Akan kutitipkan pesan kepada siapapun yang aku temui agar suamiku menjemputku." Setibanya di Tan'im, mereka berdua bertemu dengan seorang bernama Utsman bin Thalhah dari Bani Abdid Dar. Melihat keduanya Utsman pun bertanya, "Hendak kemana, wahai putri Abi Umayyah?" "Ke Madinah, menyusul suamiku." "Tidakkah seorang bersamamu?" "Tidak, demi Allah. Kecuali Allah dan putraku ini." "Demi Allah, tidak pantas kalian ditinggalkan sendirian" Utsman pun meraih tali kekang unta dan menuntunnya menuju Madinah. Meski Utsman bin Thalhah belum masuk Islam di saat itu. Namun tabiatnya begitu baik dan beradab. Ia begitu menjaga kehormatan dirinya dan wanita yang diantarkannya. Tiap kali mereka berhenti di persinggahan, Utsman menderumkan untanya lalu meninggalkan Ummu Salamah turun dengan sendirinya. Jika Ummu Salamah sudah turun ia pun kembali dan membawa unta tersebut menjauh. Setelah ia mengingatkan untanya, ia pun berbaring istirahat di dekat unta tersebut dan tetap menjauh dari Ummu Salamah. Tiba waktu berangkat, ia pun melakukan hal yang sama; menjaga kehormatannya dan kehormatan wanita yang bersamanya. Demikianlah tabiat yang luhur menjaga kehormatan seseorang. Meski belum masuk cahaya Islam dalam kalbu, bukan alasan untuk melanggar kehormatan dan hak-hak antar manusia. Utsman terus menuntun mereka hingga tiba di Madinah. Sesampainya mereka di kampung Bani Amr bin Auf di Quba, ia mengatakan, "Suamiku ada di kampung ini. Masuklah ke sana atas keberkahan Allah." serta merta Utsman pun pergi kembali ke Mekkah. Ummu Salamah pun selalu mengenang perjuangannya dalam berhijrah, "Demi Allah, aku tidak tahu ada keluarga dalam Islam yang tertimpa seperti apa yang menimpa keluarga Abu Salamah. Dan aku tidak melihat satu teman pun yang lebih mulia daripada Utsman bin Thalhah." Ya, meski halang dan rintang menghadang, jalan pun tak semulus apa yang di bayangkan. Namun, karena yakin janji Allah, beratnya ujian takkan membuat urung begitu saja tekad yang sudah membulat. Cukuplah bersabar dan terus berjalan menuju jalan-Nya, pasti Allah akan datang dengan pertolongan-Nya; hari ini, esok hari, atau suatu saat nanti. Pasti Allah akan kabulkan harapan kita. Abu Salamah berhijrah ke Madinah satu tahun sebelum baiat Aqabah. Dengan kata lain beliau merupakan shahabat yang paling awal berhijrah ke Madinah. Terdapat perbedaan pendapat antara ahli tarikh; apakah Abu Salamah yang lebih dahulu hijrah ke Madinah ataukah Mus'ab bin Umair? Jawabannya, kedua-duanya bisa dikatakan yang pertama kali. Bedanya, Abu Salamah hijrah karena pergi menghindari gangguan kaumnya, sedangkan Mus'ab bin Umair berangkat untuk tinggal di Madinah dan mengajarkan Islam kepada penduduknya. JALAN HIJRAH UMAR BIN AL KHATTHAB Ibnu Ishaq meriwayatkan dalam kitabnya tentang hijrahnya shahabat mulia Umar bin Al Khaththab dan Ayyas bin Rabi'ah Al Makhzumi. "Kami saling berjanji saat ingin berhijrah ke Madinah; aku, Ayyasy bin Abi Rabi'ah, dan Hisyam bin Al Ash bin Al Wail As-Sahmi. Kami berjanji untuk bertemu di Tanabudh, mata air Bani Ghifar diatas Saraf." Mereka berusaha menyembunyikan dan merahasiakan rencana semaksimal mungkin. Dengan menampakkan bahwa tidak ada rencana apapun esok di tempat tersebut. Umar mengatakan, "Siapapun di antara kita yang tidak terlihat di sana di waktu pagi, berarti ia ditahan oleh kaumnya." Umar pun datang, begitu pula Ayyasy. Namun Hisyam tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Berarti Hisyam pasti ditahan. Dan benarlah ia ditangkap sebelum berhasil lari dari kaumnya. Umar dan Ayyasy pun bersegera berangkat ke tanah hijrah dan berhasil sampai di kampung Bani 'Amr bin 'Auf. Beberapa waktu berlalu di kampung itu. Suatu hari datanglah dua orang musyrikin Mekkah mencari Ayyasy bin Abi Rabi'ah. Mereka adalah Abu Jahl bin Hisyam dan Al Harits bin Hisyam; saudara seibu Ayyasy. "(Wahai Ayyasy), sungguh ibumu telah bernazar tidak akan menempelkan sisir di kepalanya sampai melihatmu. Ia juga tidak akan berlindung dari cahaya matahari sampai melihatmu. Menyisirlah untuknya!" Pesan Abu Jahl dan Al Harits. Timbul rasa khawatir dalam diri Ayyasy mendengar kabar tentang ibunya. Bagaimanapun Ibu adalah orang yang memiliki kedekatan batin dengan hidupnya. Kemantapan hijrah dijalan Allah pun sedikit goyah menghadapinya. Namun, Umar yang mendengar penuturan dua musyrik tidak percaya begitu saja. Dengan firasatnya yang tajam, ia bisa membaca kilas kebohongan dari dua mulut yang berbicara dihadapannya. Tidak mudah percaya begitu saja dengan orang yang menjadi musuhnya. Umar mengatakan pada Ayyasy, "Wahai Ayyasy, demi Allah, mereka hanya ingin menangkap dan menyiksamu untuk meninggalkan agamamu, berhati-hatilah dari mereka! Demi Allah, seandainya kutu rambut sudah menyakiti ibumu pasti dia akan menyisirnya juga. Dan jika panas di Mekkah semakin berat pasti dia akan berteduh juga." Ayyasy pun mengatakan, "Aku akan kabulkan sumpah Ibuku. Dan aku punya harta yang bisa aku ambil di sana." Ayyasy sudah tidak tenang mendengar kabar tentang ibunya. Demikianlah dahsyatnya (fitnah) ujian di saat datang, bisa menumpulkan tajamnya pikiran, dan menggoyah pendirian bahkan keyakinan. Rasulullah bersabda yang artinya, 'Orang yang beruntung adalah dia yang dijauhkan dari fitnah (ujian)." Umar pun tak berhenti membujuknya "Demi Allah kamu tahu, bahwa aku termasuk Quraisy yang paling banyak hartanya. Akan aku berikan setengah hartaku dan jangan pergi bersama mereka!" Namun, Ayyasy tetap bersikeras untuk pulang dan Umar dan Umar pun tak punya kuasa lagi untuk menahannya. Dia mengatakan, "Baiklah, kalau kamu bersikeras untuk tetap pergi, bawalah unta betinaku ini! Unta ini bisa berlari dengan cepat. Pegang saja punggungnya. Jika sedikit saja kamu mulai ragu dengan mereka berdua berlarilah di atasnya!" Subhanallah, benar-benar permisalan kesetia-kawanan yang sempurna. Bagaimanapun keselamatan teman harus diupayakan, apalagi keselamatan yang menyangkut dunia akhiratnya. Asalkan di atas kebenaran dan membantunya Istiqamah diatas jalan yang lurus, berapapun harta yang dikorbankan tak akan jadi soal. Ya, setiakawan di atas kebenaran. Akhirnya, Ayyasy pergi dengan membawa unta betina tersebut. Dia mengikuti langkah dua musyrik pembawa kabar ibunya. Dua musuhkah atau dua saudara? Entahlah, semoga ia bisa kembali lagi ke tanah hijrah ini. Di tengah perjalanan, Abu Jahl mengeluhkan untanya yang berjalan lambat. Sementara unta Ayyasy berjalan dengan cepat dan kuat. "Wahai anak pamanku." kata Abu Jahl. "Sungguh untaku ini sudah berat berjalan. Kiranya engkau mau bergantian denganku memakai untamu?" "Tentu," sambut Ayyasy. Ia pun menderumkan untanya begitu pula Abu Jahl dan Al-harits untuk bertukar kendaraan. Dan di saat mereka telah berdiri di samping unta masing-masing, tiba-tiba dua orang itu menangkap Ayyasy dan mengikatnya. Mereka pun membawa Ayyasy ke Mekkah; bukan untuk menunaikan sumpah ibunya. Itu hanya bualan mulut Abu Jahl. Namun kembali kepada deraan siksa musyrikin yang tak henti-henti. Seraya membawa Ayyasy masuk Mekkah dalam ikatannya, Abu Jahl dan Al Harist mengatakan, "Wahai penduduk Mekkah, beginilah yang harus kalian lakukan menghadapi orang-orang bodoh diantara kalian. Seperti yang kami lakukan terhadap orang bodoh kami ini." Demikianlah hari-hari penuh perjuangan itu berjalan; ada yang berhijrah dengan ikhlas dan tekad yang mantap, Allah memudahkan jalannya untuk menetap, ada pula yang berhijrah dengan ikhlas dan tekad yang kuat, namun Allah uji dengan berbagai rintang penghalang. Itulah jalan ibadah kepada Allah, menyingkap siapa yang kuat dan siapa yang lemah iman. Umar mengatakan, "Dulu kami selalu mengatakan, 'Allah tidak akan menerima lagi dari orang yang kalah menghadapi ujian taubat dan ganti darinya. Mereka orang-orang yang sudah mengenal Allah lalu kembali kepada kekufuran karena ujian yang menderanya.' Ini pula yang mereka katakan dalam diri mereka, "...lalu Rasulullah pun tiba di Madinah, Allah pun menurunkan ayat tentang mereka dan tentang ujian kami dan mereka. "Katakanlah (wahai Rasulullah), 'Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan perbuatan-perbuatan maksiat), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa; Sesungguhnya Dia lah juga Yang Maha Pengampun, lagi Maha Pengasih. Dan kembalilah kamu kepada Rabb kamu dengan bertaubat, serta berserah dirilah kepada-Nya, sebelum kamu didatangi azab; Karena sesudah itu kamu tidak akan diberikan pertolongan. Dan ikutilah Al-Quran sebaik-baik yang diturunkan kepada kamu dari Rabb kamu, sebelum kamu didatangi azab secara tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya." [Q.S. Az-Zumar : 53-56] Umar pun menuliskan ayat tersebut di sebuah lembaran kertas dan mengirimkannya kepada Hisyam bin Al-Ashy sebagai bentuk nasehat sekaligus kabar gembira bahwa masih ada kesempatan untuk kembali ke jalan Allah hingga kapanpun. Sampailah surat tersebut kepada Hisyam. "Surat itu datang kepadaku," kata Hisyam. "...Aku pun mulai membacanya di Dzi Thuwa. Aku mengulang membacanya, namun aku tidak paham maksudnya. Aku pun berkata, 'Ya Allah pahamkanlah ayat ini untukku..." "...Allah pun melemparkannya dalam kalbuku, 'Aku pun paham; ayat ini berbicara tentang kami dan apa yang selalu kami katakan dalam diri kami." Tanpa menunggu waktu lama, Hisyam bergegas menyiapkan kendaraannya dan berangkat menuju tanah hijrah demi rida Allah dan kebahagiaan di negeri yang abadi. Hijrah dalam konteks umum yang berarti meninggalkan segala bentuk amalan yang dimurkai Allah membutuhkan perjuangan yang kuat. Cukuplah menjadi figur kita, mereka yang telah meninggalkan segala kepentingan dunia menuju jalan lain yang dipenuhi duri dan luka. Semua itu demi membuktikan cinta dan yakin kita akan janji Allah. Wallahu a'lam Majalah Qudwah edisi 58 vol.05 1439H/2018M hal. 81