Artikel Islami

Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Kisah Orang yang Terakhir Masuk Surga
Atsar.id
Atsar.id

Kisah Orang yang Terakhir Masuk Surga

DIA PUN AKHIRNYA MASUK SURGA Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc حفظه الله تعالى Sebuah kisah nabawi diriwayatkan oleh Imam Muslim. Beliau riwayatkan dari shahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, satu petikan peristiwa mengharukan dan penggugah semangat bagi para pencari kebahagiaan. lnilah kisah orang terakhir yang keluar dari neraka. Dia pula orang terakhir yang memasuki jannah dengan derajat yang paling rendah. Alkisah, setelah shirath (jembatan) dipancangkan di atas neraka Jahannam, sementara di sisi-sisinya pengait-pengait tajam laksana duri pohon Sa'dan, manusia diperintah untuk menyeberanginya. Terbagilah mereka menjadi 3 golongan besar. Golongan pertama, mereka yang selamat tanpa halangan. Ada yang berjalan secepat kilat, ada yang berjalan sekejap mata, ada yang berlari seperti kuda, dan seterusnya. Mereka berjalan sesuai amalan ketika di dunia. Golongan kedua. mereka yang selamat menyeberangi shirat, namun terluka terkena sambaran-sambaran pengait. Adapun golongan ketiga, mereka adalah orang-orang yang tersungkur ke jurang neraka jahannam. Merekalah orang-orang kafir, kaum munafik, yaitu orang kafir yang menampakkan keislamannya, atau kaum muslimin yang lebih berat amalan keburukannya ketimbang kebaikannya. Selang beberapa waktu, para penghuni neraka yang masih memiliki iman dikeluarkan satu per satu. Ada yang mendapat syafa'at malaikat, para nabi, atau kaum mukminin dari penduduk surga. Demikianlah, banyak dari penduduk neraka dari kalangan pemeluk agama tauhid dikeluarkan. Hingga yang paling terakhirnya adalah seorang yang dikisahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau: إِنِّي لَأَ عْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ قَالَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ عَشَرَةَ أَمْثَالِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَقُولُ أَتَسْخَرُبِي؟ أَوْ أَتَضْحَكُ بِي وَأَنْتَ الْمَلِكُ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ قَالَ فَكَانَ يُقَالُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً ”Sungguh, Aku tahu seorang penduduk neraka yang paling akhir keluar darinya, seorang penduduk jannah yang paling akhir masuk ke dalam surga. Dialah seorang lelaki yang keluar dari neraka dengan keadaan merangkak. Allah سبحانه وتعالى berfirman kepadanya, ’Pergilah, masuklah engkau ke dalam jannah’ LaIu dia mendatangi jannah. Namun dikhayalkan kepadanya bahwa jannah telah penuh. Maka, dia kembali seraya berkata, ’Wahai Rabb-ku, aku mendapati jannah telah penuh.’ Allah سبحانه وتعالى berfirman kepadanya, ’Pergilah, masuklah engkau ke dalam jannah ! Sekali Iagi dia mendatangi jannah. Namun kembali dikhayalkan bahwa jannah telah penuh. Dia pun kembali seraya berkata, ’Wahai Rabb-ku, aku mendapati jannah telah penuh.’ Allah سبحانه وتعالى berfirman Iagi kepadanya, ’Pergilah, masuklah ke dalam jannah! Sesungguhnya untukmu semisal dunia dan sepuluh kalinya, -atau untukmu sepuluh kali dunia-.’ Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ’Laki-Iaki itu berkata, 'Apakah engkau memperolok-olok aku, padahal Engkau adalah Raja? Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, ’Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tertawa sampai nampak gigi geraham beliau.’ Dan dikatakan bahwa orang itu adalah penduduk surga yang paling rendah derajatnya." [H.R. Muslim]. Subhanallah, inikah penduduk jannah terakhir? Allah سبحانه وتعالى berikan kenikmatan kepadanya semisal dunia dan sepuluh kali lipatnya! Betapa indahnya jannah. Andai kita diberi semisal kerajaan Nabi Sulaiman عليه السلام -yang merupakan sebagian kecil dari kenikmatan dunia- andai itu yang Allah سبحانه وتعالى berikan di dunia ini, niscaya sudah merupakan kenikmatan besar. Lalu apakah terbayang kenikmatan penduduk jannah yang paling rendah ini❓ Demi Allah, tidak terbayang betapa besar dan indahnya. Pembaca Qudwah yang mulia, kisah di atas diriwayatkan pula dengan lebih rinci dalam riwayat Iain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa orang yang terakhir masuk surga adalah orang yang setiap kali melangkah, ia tersungkur dan dihanguskan oleh api neraka. Tatkala orang itu telah melewati neraka, dia menoleh ke arah neraka lalu berkata, ”Maha Suci Allah yang telah menyelamatkanku darimu (neraka), sungguh Dia telah memberiku sesuatu yang tidak pernah Dia berikan kepada orang lain dari umat yang pertama dan umat yang terakhir.” [H.R. Muslim] Sesungguhnya ia adalah manusia terendah dari penduduk jannah. Namun, ia merasa dialah orang yang paling beruntung dan tidak ada yang lebih beruntung darinya. Demi Allah, dia telah memperoleh keberuntungan yang hakiki. Dia diselamatkan dari neraka dan  dimasukkan ke dalam jannah. Allah سبحانه وتعالى berfirman, فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ "Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." [Q.S. Ali Imran: 185] Bukan kepingan emas yang menjadi patokan kebahagiaan. Bukan pula ekor-ekor sapi dan luasnya perkebunan. Semua itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melanjutkan sabda beliau, ”Kemudian orang tersebut ditunjukkan pada sebuah pohon. Lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb❗️Dekatkan aku dengan pohon ini agar aku bisa berteduh dan meminum airnya.’ Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, 'Wahai anak Adam, jika Aku kabulkan permintaanmu, mungkin engkau akan meminta lagi yang Iain.’ Orang itu menjawab, ’Tidak. Wahai Rabbku.’ Allah Ialu mengambil janji darinya untuk tidak meminta lagi yang lain dari Allah. Dan Allah سبحانه وتعالى menerima alasan orang itu yang telah melihat sesuatu, kemudian ia tidak sabar untuk tidak memintanya. Allah سبحانه وتعالى pun mendekatkannya ke pohon tersebut. Sehingga ia berteduh dan meminum airnya. Tinggallah orang ini di bawah pohon pertama sekehendak Allah سبحانه وتعالى. Kemudian orang itu ditunjukkan kepada pohon lain yang Iebih bagus dari pohon yang pertama. Orang itu berkata, ”Wahai Rabbku. Dekatkanlah diriku kepada pohon itu. Agar aku bisa meminum airnya serta berteduh di bawahnya, dan aku tidak akan meminta yang Iain lagi.” Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ’Wahai anak Adam, bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta yang lain? Jika Aku dekatkan dirimu ke pohon itu, mungkin engkau akan meminta lagi yang lain.' Kembali Allah سبحانه وتعالى menerima atasan orang itu. Karena Dia mengetahui ketidaksabarannya. Allah سبحانه وتعالى pun dekatkan orang tersebut kepada pohon kedua, kemudian ia berteduh dan meminum mya. Kali yang ketiga orang itu ditunjukkan pada sebuah pohon di pintu surga. Pohon yang lebih bagus dari dua pohon sebelumnya. Kemudian orang itu berkata, ”Wahai Rabbku! Dekatkanlah aku kepada pohon itu agar aku bisa berteduh dan meminum airnya. Aku tidak akan meminta yang Iain lagi kepada-Mu.” Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ”Hai manusia! Tidakkah engkau telah berjanji kepada-Ku untuk tidak meminta yang Iain lagi dari-Ku?’ Orang itu menjawab, ”Ya, wahai Rabbku❗️ Kali ini saya tidak akan meminta yang lain lagi kepada-Mu.” Allah سبحانه وتعالى menerima alasan orang itu. Karena Dia mengetahui ketidaksabarannya. Allah سبحانه وتعالى pun mendekatkannya kepada pohon tersebut. Ketika Allah سبحانه وتعالى mendekatkan orang itu kepada pohon tersebut, orang itu mendengar suara penghuni jannah. Subhanallah, kenikmatan jannah di depan mata. Suara penduduk jannah yang penuh kebahagiaan terdengar di telinga orang itu, hingga ia pun tidak sabar untuk berkata kepada Rabbnya, sebagaimana Rasulullah ﷺ kisahkan, "Wahai Rabbku❗️ Masukkanlah aku ke dalam jannah" Allah سبحانه وتعالى berfirman, ”Hai Anak Adam. Mengapa engkau mengingkari janjimu pada-Ku❓ Ridhakah engkau jika Aku memberimu dunia ditambah dengan yang semisalnya"' Betapa besarnya kasih sayang Allah. Dia tetapkan orang itu sebagai penduduk jannah. Seakan tak percaya, orang itu menjawab, ”Wahai Rabbku! Apakah Engkau mengolok-olok aku, sedangkan Engkau adalah Rabbul'alamin?" Kemudian Ibnu Mas'ud رضي الله عنه tertawa. Lalu berkata, "Tidakkah kalian bertanya tentang apa yang membuatku tertawa?" Mereka menjawab, “Mengapa engkau tertawa?" Ibnu Mas’ud رضي الله عنه menjawab, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dahulu juga tertawa. Para shahabat رضي الله عنهم kala itu pun bertanya, ”Apa yang membuat Anda tertawa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, ”Karena tertawanya Penguasa alam semesta ketika orang tersebut mengatakan kepada Allah, ’Apakah Engkau menertawakan saya sedangkan Engkau adalah Penguasa alam semesta?’ Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Sesungguhnya Aku tidak menertawakanmu. Tetapi Aku Maha Kuasa atas apa yang Aku kehendaki." Hadits yang panjang ini diriwayatkan oleh Imam Muslim رحمه الله dalam kitab Shahih beliau. Faedah Kisah: 1. Kisah yang agung ini menunjukkan besarnya kenikmatan jannah. Penduduk jannah yang terakhir saja mendapatkan semisal dunia dan dilipatkan sepuluh kali lipatnya. Lalu bagaimana dengan penduduk jannah yang di atasnya? Bagaimana pula dengan derajat tertinggi yang telah Allah sediakan bagi kekasihnya, Muhammad bin Abdillah shallallahu alaihi wasallam? Benarlah firman Allah سبحانه وتعالى: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ”Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”  [Q.S. As-Sajdah: 17]. 2 Kisah ini menunjukkan bahwasannya jannah memiliki tingkatan-tingkatan. 3 Hadits ini salah satu dalil dari keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, bahwa penduduk neraka yang masih memiliki iman walaupun seberat dzarrah tidak akan kekal di neraka. Allah سبحانه وتعالى berfirman: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” [Q.S. Az-Zalzalah: 7]. 4. Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap kaum Khawarij dan Mu'tazilah yang berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka dan tidak akan keluar darinya selama-lamanya. Kisah ini dengan tegas menetapkan keluarnya orang yang sudah masuk ke dalam neraka selama dia masih muslim, walaupun termasuk pelaku dosa besar. 5. Hadits ini menetapkan beberapa sifat Allah سبحانه وتعالى. Di antaranya sifat-sifat itu adalah AI-Kalam, Allah سبحانه وتعالى maha mampu berbicara. 6. Hadits ini menetapkan bahwasannya ahlul jannah berbicara dengan Allah dan mereka mendengar pembicaraan Allah سبحانه وتعالى. 7. Di antara sifat yang juga ditetapkan dalam hadits ini adalah sifat tertawa bagi Allah سبحانه وتعالى-. Tentu saja dalam menetapkan sifat-sifat Allah سبحانه وتعالى, harus diiringi dengan keyakinan bahwa semua sifat Allah adalah sifat yang maha sempurna dan maha agung. Tidak ada satu makhluk pun yang serupa dengan sifat-sifat Allah. 8. Hadits ini adalah dalil tentang adanya tempat di antara jannah dan neraka. Seperti orang yang terakhir keluar dari neraka, dia telah selamat dan keluat dari neraka, namun masih berada di luar jannah. Sumber || Majalah Qudwah Edisi 05 Grup Whatsap أتباع السنة

Hadits
Oct 11, 20199 min read
Nasihat Terkahir Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz
Atsar.id
Atsar.id

Nasihat Terkahir Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz

NASEHAT TERAKHIR ASY-SYAIKH ABDUL AZIZ BIN BAZ RAHIMAHULLAH YANG BELIAU SAMPAIKAN DI MALAM TERAKHIR DI RIYADH SEBELUM BEROBAT KE RUMAH SAKIT RAJA FAISAL DI THAIF MENJELANG WAFATNYA الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن اهتداه بهداه، أما بعد: Nasihat Terkahir Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz Allah Jalla wa 'Ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (١٩) لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (٢٠) "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah dia usahakan untuk hari esok (kehidupan akhirat), dan bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa saja yang kalian perbuat. Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang telah melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidak sama antara penghuni neraka dan penduduk surga, penduduk surga itulah orang-orang yang beruntung." (Al-Hasyr: 18-20) Rabb kita Azza wa Jalla memerintahkan orang-orang yang beriman dalam ayat ini agar bertakwa kepada-Nya,&nbsp. dan di dalam ayat yang banyak Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa karena itu merupakan pangkal kebaikan. Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka sempurnalah kebahagiaan untuknya. Sebagaimana Dia telah memerintahkan hal itu kepada seluruh manusia dengan firman-Nya: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ. "Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu." (An-Nisa': 1) Dan juga firman-Nya: وقال: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ. "Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Rabb kalian, karena sesungguhnya kegoncangan hari kiamat nanti adalah sesuatu yang sangat besar." (Al-Hajj: 1) Wajib atas setiap mu'min untuk bertakwa kepada Allah dan selalu merasa diawasi oleh Allah di manapun dia berada, apakah di darat, di laut, di rumah, di pasar, dan di semua tempat hendaklah dia selalu merasa diawasi oleh Allah dalam semua perbuatan dan ucapannya, sehingga dia melakukan apa yang dibolehkan oleh Allah, menunaikan apa yang Dia wajibkan, dan berhenti dari apa saja yang diharamkan oleh Allah. Inilah yang wajib atas setiap mu'min yaitu dengan melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan menundukkan jiwanya serta memperhatikan apa yang telah dia usahakan untuk kehidupan akhirat sebelum ajalnya tiba. Oleh karena inilah Allah Jalla wa Ala berfirman: وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ. "Dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah dia usahakan untuk hari esok (kehidupan akhirat)." (Al-Hasyr: 18) Maka perhatikanlah apa yang telah kalian usahakan untuk kehidupan akhirat, jika itu merupakan perbuatan baik maka teruslah di atasnya, pujilah Allah atasnya, dan mohonlah kepada-Nya kekokohan di atasnya. Adapun jika itu adalah perbuatan buruk maka wajib untuk segera bertaubat darinya, mewaspadainya, dan menyesali atas apa yang telah dia lakukan. Inilah yang wajib atas semua orang, yaitu bertaubat dari dosa-dosa yang telah lalu, dan jika dosa-dosa tersebut terkait dengan hak-hak orang lain maka harus meminta kepada mereka agar dihalalkan atau mengembalikan hak-hak mereka. Jadi seorang mu'min harus melakukan muhasabah dan harus selalu menundukkan jiwanya serta memperhatikan apa saja yang telah dia perbuat dan tidak boleh lalai. Kemudian Allah berfirman: وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ. "Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang telah melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri." (Al-Hasyr: 19) Maksudnya janganlah kalian menyerupai musuh-musuh Allah yang berpaling dari Allah dan melupakan hak-Nya sehingga Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Jadi Allah membalas mereka sesuai dengan perbuatan mereka. Dan barangsiapa yang Allah jadikan melupakan dirinya sendiri maka dia akan melakukan hal-hal yang membawa kehancuran dan kebinasaan dirinya. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Jadi wajib untuk waspada, dan wajib atas setiap mu'min untuk bertakwa kepada Allah, selalu merasa diawasi oleh Allah, dan mengusahakan kebaikan untuk dirinya sebelum ajalnya tiba. Terlebih lagi para penuntut ilmu karena kewajiban atas mereka lebih besar lagi, yaitu menyampaikan dakwah dan mengamalkan ilmu yang mereka ketahui. Inilah yang wajib atas para penuntut ilmu, yaitu mengamalkan ilmu yang mereka ketahui, menyampaikan dakwah, dan jangan sampai ucapan dan perbuatan mereka menyelisihi ilmu yang mereka ketahui. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kami dan kalian sebagai orang-orang yang membimbing dan mendapatkan hidayah, dan kita memohon kepada Allah agar melindungi kami dan kalian dari fitnah-fitnah yang menyesatkan dan dari godaan setan. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان. https://t.me/jujurlahselamanya/1415

Kata Mutiara
Oct 8, 20195 min read
Biografi Lubabah Al Kubra bintu Al Harits, Ummu Fadhl
Atsar.id
Atsar.id

Biografi Lubabah Al Kubra bintu Al Harits, Ummu Fadhl

Dari Keluarga Mulia Melahirkan Orang-orang Mulia&nbsp. Biografi Lubabah Al Kubra bintu Al Harits, Ummu Fadhl Namanya adalah Lubabah bintu Al Harits bin Hazn Bujair bin Al Hazm bin Ruwaibah bin Abdillah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah Al Hilaliyah radhiyallahu ‘anha. Berkuniah Ummu Fadhl, sesuai nama putra sulung beliau. Beliau terkenal dengan nama kuniah beliau ini. Beliau juga masyhur dengan nama laqab (gelar) beliau; Lubabah Al Kubra. Beliau adalah istri dari shahabat utama, paman Rasul Al Abbas bin Abdil Muththalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah saudari dari ummul mu’minin Maimunah bintu Al Harits radhiyallahu ‘anha. Saudari beliau seayah dan seibu; Maimunah, Lubabah As Sughra, ‘Ashamah, Izzah, dan Haziilah. Sedang saudara seibu; Mahmayah bin Jaza’, Asma’ bintu Umais, Salma bintu Umais, dan Salamah bintu Umais. Keluarga beliau termasuk keluarga yang mulia, sebab saudari-saudari beliau menikah dengan orang-orang utama. Ummul mukminin Maimunah bintu Al Harits menikah dengan Rasulullah, beliau sendiri (Lubabah) menikah dengan Al Abbas, Asma’ bintu Umais dinikahi oleh Jakfar bin Abi Thalib, kemudian Abu Bakar kemudian Ali bin Abi Thalib. Salma bintu Umais menikah dengan Hamzah bin Abdil Muthalib, Lubabah As Sugra dinikahi Al Walid bin Al Mughirah. Semuanya berasal dari ibu yang sama, yaitu Hindun bintu Auf. Oleh karenanya putra-putra Al Abbas, putra-putra Jakfar, Muhammad bin Abi Bakar, Yahya bin Ali bin Abi Thalib, dan Khalid bin Al Walid masing-masingnya adalah saudara dari jalur bibi (sepupu dari jalur ibu). Keislaman  Sebagian ulama menyebutkan bahwa Lubabah Al Kubra telah masuk Islam setelah masuk Islamnya Khadijah. Ini menunjukkan keutamaan beliau, dari sisi terdahulunya memeluk Islam. Namun begitu beliau tidak memiliki keutamaan hijrah sebagaimana muslimin lainnya yang telah masuk Islam di Mekkah. Hal ini karena beliau termasuk wanita “al mustadh’afin” yakni orang-orang yang telah masuk Islam di Mekkah, namun kaum mereka menghalangi untuk hijrah. Disebutkan oleh Abdullah bin Al Abbas putra beliau, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata tentang Lubabah; Para wanita mukminah yang saling bersaudara (mereka adalah) Maimunah bintu Al Harits, Ummu Fadhl, Salma, dan Asma’. Dalam riwayat ini menunjukkan keutamaan mereka dalam Islam, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan keimanan mereka. Keluarga beliau adalah keluarga yang dekat hubungan nasab serta pergaulannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengunjungi rumah beliau dan tidur siang di sana, sebagaimana Abdullah bin Al Abbas radhiyallahu ‘anhu juga sering menginap di rumah bibi beliau Maimunah untuk belajar dan menimba ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Al Haris bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menata Abdullah, Ubaidullah, dan Katsir, putra-putra Al Abbas dalam satu shaf. Kemudian beliau berkata siapa yang lebih dulu sampai kepadaku maka baginya sesuatu. Maka anak-anak tersebut berlomba menuju kepada beliau, sehingga ada yang memegang punggung dan dada beliau, sedang beliau menciumi dan memeluk mereka. Lubabah bin Al Harits adalah juga wanita yang menyusui Al Husain bin Ali bin Abi Thalib. Beliau pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku melihat dalam mimpi bahwa satu anggota tubuhmu berada dalam rumahku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Fathimah (bintu Rasulillah) akan melahirkan dan engkau akan menyusuinya, bersama dengan ibnu Qotsam.” Maka Fathimah pun melahirkan Husain dan akupun menyusuinya. Keutamaan  Selain termasuk wanita as sabiqunal awwalun, beliau memiliki sisi keutamaan lainnya. Dari sisi hubungan kekeluargaan, dari sisi peran aktif dalam Islam, dan lainnya. Beliau meriwayatkan dari Nabi banyak hadis, sehingga beliau memiliki peran dan andil yang besar dalam hal menyebarkan ilmu. Di antara peran beliau adalah beliau yang mengirim susu untuk nabi pada hari Arafah. Saat itu manusia berselisih pendapat apakah Nabi berpuasa di hari itu ataukah tidak. Sebab telah diketahui akan keutamaan hari tersebut dan disyariatkannya puasa Arafah bagi muslimin. Maka beliau mengirimkan susu dalam rangka untuk mengetahui bagaimanakah sikap beliau, sehingga tidak terjadi perselisihan antara manusia. Maka minumlah nabi dari susu tersebut di hadapan manusia yang melakukan wukuf sehingga manusia pun tahu bahwa dianjurkannya puasa Arafah adalah bagi mereka yang tidak melakukan ibadah haji. Di antara riwayat beliau juga adalah tentang jumlah persusuan seorang wanita terhadap seorang anak agar menjadikan wanita tersebut mahram karena persusuan. Yakni minimalnya lima kali penyusuan. Dan banyak hadis diriwayatkan dari beliau, sehingga bagi siapa yang menelaah kitab-kitab hadis tentu akan banyak menemukan nama beliau di dalamnya. Telah menimba ilmu dari beliau beberapa orang shahabat. Di antaranya adalah putra beliau sendiri Abdullah bin Al Abbas radhiyallahu ‘anhu. Demikian juga Tamaam, Anas bin Malik, Abdullah bin Al Haris bin Naufal, serta maula beliau Umair bin Al Harits, dan Kuraib maula putra beliau. Anak Keturunan Mulia  Dari pernikahan beliau dengan Al Abbas, lahirlah putra-putra mulia. Mereka adalah Al Fadhl bin Al Abbas, Abdullah bin Al Abbas yang berjuluk Habr ummah (Ulamanya umat ini), Ubaidullah yang dikenal dengan Al Jawwad (yang pemurah), Abdurrahman, Qotsam, Ma’bad, semuanya adalah shahabat nabi yang mulia, dan Ummu Habib. Namun, walau saling bersaudara, putra-putra Lubabah Al Kubra saling berjauhan kubur mereka. Al Fadl meninggal di Syam dan dimakamkan di sana, di daerah Yarmouk. Abdullah bin Al Abbas dimakamkan di Thaif, Ubaidullah dimakamkan di Madinah, Qotsam dimakamkan di Samarqand (daerah Uzbekistan), dan Ma’bad dimakamkan di Afrika. Beliau meninggal terlebih dahulu dibanding suaminya Al Abbas, di masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Semoga Allah meridhainya. [Ustadz Hammam]. Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 90 vol.08 1440H-2019M rubrik Figur. http://ismailibnuisa.blogspot.com/2019/08/lubabah-al-kubra.html

Biografi
Oct 1, 20195 min read
Anak Muda, Dimana Dirimu?
Atsar.id
Atsar.id

Anak Muda, Dimana Dirimu?

Anak Muda, Dimana Dirimu? Pernah ada komplek istana semacam kota kecil di daratan Eropa. Kota Az Zahra namanya. Di Cordoba letaknya. Kota itu menyisakan banyak cerita dan kenangan. Lebih-lebih lagi tentang seorang pemuda yang gagah luar biasa. Namanya Abdurrahman bin Nashir. Usianya masih belia . 22 tahun , saat dilantik menjadi khalifah. Menurut Ibn Hazm, pemerintahan An Nashir terhitung unik. Usianya masih muda. Generasi ayah dan paman-paman nya masih ada. Bahkan, generasi kakeknya dan para penopang kakeknya yang juga penguasa Cordoba masih ada. Namun, tidak ada satu pun yang menentang.  Beliau menjadi khalifah selama 32 tahun sampai wafatnya. Adz Dzahabi menyebutkan sebuah cerita tentangnya. Kemarau panjang. Qadhi Mundzir Baluthi menyarankan agar An Nashir menyelenggarakan shalat Istisqaa. Dengan pakaian sederhana, An Nashir berdoa dan menangis, : "Ya Allah, jangan Engkau hukum rakyatku karena sebab diriku. Ubun-ubunku ada di tangan-Mu. Tidak ada yang bisa luput dariku oleh-Mu". Tidak lama kemudian hujan pun turun. Ah, anak muda, anak muda. Kemana engkau, anak muda? Ingat, Abdurrahman An Nashir menjadi penguasa bijak di Eropa saat masih muda. Usianya 22 tahun. Bertahan sampai wafatnya. Berkuasa 32 tahun lamanya. Anak muda, tidak ada kata terlambat! Gemblenglah dirimu! Latihlah dirimu!  Bersiap-siaplah menjadi pemimpin! Mulailah dengan menjadi pemimpin untuk dirimu sendiri! Semoga Allah memudahkan jalanmu. ( diedit dari :Masa Awal Pembentukan Karakter 27/09/2019) t.me/anakmudadansalaf

Anak Muda dan Salaf
Sep 27, 20192 min read
Kisah Kematian Al Husain bin Ali yang Sebenarnya
Atsar.id
Atsar.id

Kisah Kematian Al Husain bin Ali yang Sebenarnya

Bismillah, artikel ini merupakan lanjutan dari BIOGRAFI YAZID BIN MUAWIYAH KISAH KEMATIAN AL HUSAIN BIN ALI PEMBERONTAKAN YANG DILAKUKAN OLEH AL HUSAIN DAN PEMBUNUHAN TERHADAPNYA Al Husain bin Ali berada di Madinah ketika Yazid bin Muawiyah memegang tampuk kekuasaan. Lalu Yazid mengirim surat kepada Al Walid bin Utbah, gubernur Madinah yang diangkatnya, agar mengambil baiat (sumpah setia) dari sejumlah orang yang menolak membaiatnya, mereka adalah Al Husain bin Ali, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Az Zubair radhiyallahu anhum. Ketika Al Husain bin Ali mengetahui hal ini, beliau menuju Makkah dan tinggal di sana. Semenjak itu, sebagian kaum muslimin ada yang mengikuti beliau dan memberikan kepercayaan padanya. Mereka juga menggantungkan sejumlah harapan kepadanya. Dengan demikian para penyulut api fitnah berbahagia karena mulai ada perpecahan di antara kaum muslimin. Mereka mulai mengambil langkah untuk memanfaatkan keadaan dalam rangka memecah belah barisan kaum muslimin. SIKAP PENDUDUK KUFAH TERHADAP AL HUSAIN Penduduk Kufah dari kalangan penyulut api fitnah berbahagia ketika mengetahui bahwa Al Husain bin Ali tidak berbaiat kepada Yazid dan telah tinggal di Makkah. Sekian angan-angan telah merayap dalam jiwa jahat mereka. Mereka berusaha mengetahui keberadaannya di Makkah sebagaimana seorang yang tersesat mencari bintang penunjuk arah dan tempat berlabuh yang amanah. Sejumlah surat mulai mereka layangkan kepadanya untuk mengharap kedatangannya dari Makkah menuju kepada mereka (di Kufah). Penduduk Kufah menampakkan bahwa mereka telah siap siaga untuk bergabung dengannya dan memberontak kepada Bani Umayyah sampai Al Husain memegang kekuasaan karena beliau -menurut mereka- adalah orang yang paling berhak dan orang yang tepat untuk memegang kekuasaan. Mereka tidak peduli dengan sekian bencana dan pertumpahan darah yang akan terjadi karena perbuatan yang mereka lakukan. Al Husain mengutus anak pamannya, yaitu Muslim bin Aqil untuk menjadi penunjuk jalan dan untuk mencari tahu kenyataan yang ada. Sampailah Muslim bin Aqil di Kufah. Para penduduknya menyambutnya dengan baik. Sejumlah orang yang mendekati 18.000 orang berkumpul di sekitarnya. Mereka semua mendukung Al Husain dan menjanjikan kepadanya bantuan. Ketika melihat hal yang demikian, Muslim bin Aqil segera menulis surat kepada Al Husain tentang keadaan yang beliau saksikan. Kemudian Al Husain memantapkan pilihan untuk menuju Kufah. Akan tetapi begitu cepatnya penduduk Kufah meninggalkan Muslim bin Aqil, yaitu ketika Khalifah Yazid memutuskan pernggantian An-Nu'man bin Basyir sebagai gubernur Kufah -beliau adalah seorang pemimpin yang lebih condong kepada sifat pemaaf dan lemah lembut- diganti dengan Ubaidullah bin Ziyad seorang yang berperangai keras dan bengis dalam menjaga pamor negara dan dalam menebarkan keamanan dan ketertiban. Tindakan gubernur yang kejam dan keras nampak jelas ketika ia menghalau pendukung Muslim bin Aqil dimana dia mampu menangkap pemimpin-pemimpin mereka sehingga yang lain pun menyingkir dari Muslim bin Aqil. Akhirnya, ia menangkap Muslim bin Aqil dan memerintahkan untuk dibunuh. AL HUSAIN BERANGKAT MENUJU KUFAH Al Husain bin Ali memenuhi permintaan penduduk Kufah. Keinginannya untuk menuju Kufah semakian kuat ketika surat Muslim bin Aqil sampai kepadanya. Surat itu dikirim sebelum Muslim dibunuh. Muslim bin Aqil mengatakan kepada Al Husain bahwa 18.000 orang telah berbaiat kepadanya, mempersiapkan diri dan nyawa mereka untuk membelanya dan menghadap musuh-musuhnya. Para pemberi nasihat yang sejati telah memberikan nasihat kepada Al Husain dan memohon dengan sangat agar beliau tetap tinggal di Makkah. Mereka juga menjelaskan kepadanya makar penduduk Iraq dan apa yang mereka perbuat terhadap ayahnya dahulu, yaitu Ali bin Abi Thalib. Juga menjelaskan bahwa apa yang akan beliau lakukan akan memecah belah persatuan dan menyulut api fitnah. Diantara orang yang memberikan nasihat kepada beliau adalah Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Sa'id Al Khudri, Abu Waaqid Al Laitsi, Jabir bin Abdillah, dan selain mereka radhiyallahu 'anhum. Akan tetapi beliau telah terpengaruh oleh surat yang begitu banyaknya dari penduduk Kufah. Oleh karena itu, beliau tetap bersikeras untuk pergi menuju Kufah sebagaimana telah kami terangkan. Al Husain keluar dan berangkat menuju Kufah bersama keluarganya, anak-anaknya, dan sejumlah rekan-rekannya. Mereka semua berjumlah kurang lebih 80 orang. Al Farazdaq (penyair terkenal) di tengah perjalanan menemuinya lalu Al Husain menanyainya tentang kondisi penduduk Makkah. Dia menjawab, "Hati mereka bersamamu, akan tetapi pedang mereka bersama Bani Umayyah, sedangkan takdir telah turun dari langit. Allah ta'ala mengerjakan apa yang Dia kehendaki." Namun beliau tetap melanjutkan langkahnya dan tidak memperdulikan isyarat yang disampaikan oleh Al-Farazdaq berupaya marabahaya yang telah menanti baik dari penduduk Irak maupun dari kalangan Bani Umayyah. Al Husain juga berjumpa dengan seorang yang baru pulang dari Kufah, namanya Bukair bin Tsa'labah. Beliau mengetahui darinya bahwa kondisi di Kufah telah berubah, pendukung-pendukung Al Husain telah menjauh, mereka enggan menolongnya dihadapan keganasan Ubaidullah bin Ziyad dan kekuatannya. Juga tentang kematian Muslim bin Aqil. Tidak lagi di Kufah kekuatan penolong Al Husain. Ketika itu, sebagian rekannya mengatakan kepada Al Husain : "Kami meminta kepadamu dengan nama Allah demi dirimu dan keluargamu agar kembali ke arah kamu datang (Makkah). Sesungguhnya tidak ada di Kufah penolong dan pembantu bagimu." Akan tetapi saudara-saudara Muslim bin Aqil mengatakan : "Demi Allah, kami akan tetap melanjutkan perjalanan sampai kami berhasil mengambil hak kami atau merasakan apa yang dirasakan saudara kami." Al Husain mengatakan, "Tidak ada lagi kehidupan yang baik setelah mereka." Beliau tetap melanjutkan perjalanannya bersama sekelompok kecil orang yang telah bersamanya (semenjak meninggalkan Makkah). AL HUSAIN SAMPAI DI KARBALA DAN KEMATIANNYA Sampailah Al Husain di Karbala dekat dengan Kufah. Mereka dihadapi oleh pasukan besar yang telh disiapkan oleh Ubaidullah bin Ziyad yang dipimpin oleh Umar bin Sa'd bin Abi Waqash. Tidak ada perbandingan antara pasukan Al Husain yang jumlahnya tidak mencapai 100 dengan lawannya yang mencapai 4.000 orang. Juga tidak selayaknya dikatakan sebagai perang antara dua pasukan. Terjadilah pertemuan antara Al Husain denegan Umar bin Sa'd. Al Husain menawarkan beberapa opsi sebagai jaminan untuk menahan perang dan saling membunuh. Diriwayatkan bahwa beliau mengatakan: "Pilihlah salah satu dari tiga pilihan yang aku ajukan. &nbsp.Aku kembali ke tempat yang aku datang darinya. Atau aku meletakkan tanganku (baiat) terhadap Yazid lalu ia akan menentukan pendapatnya. Kalian menempatkan aku di perbatasan kaum muslimin yang kalian inginkan, lalu aku menjadi salah satu dari kalangan kaum muslimin yang ada di sana, hak dan kewajibanku sama dengan mereka." Umar bin Sa'd senang dengan hasil yang menggembirakan ini, yang sebelumnya beliau telah enggan dan benci untuk memerangi Al Husain kalau saja Ibnu Ziyad tidak mengancamnya dengan ancaman bunuh. Umar dan pasukannya shalat di belakang Al Husain (menjadi makmumnya-pen) ketika mereka menunggu jawaban dari Ibnu Ziyad. Beliau juga segera mengirimkan surat kepada Ibnu Ziyad menawarkan apa yang telah beliau dapatkan. Ketika Ibnu Ziyad membaca suratnya, dia mengatakan : "Ini adalah sebuah surat dari seorang pemberi nasihat bagi pemimpinnya, dan seorang yang sayang terhadap kaumnya. Ya aku terima (tawaran ini). Yang demikian adalah sebuah petunjuk yang sangat jelas atas bagusnya niatan mereka dan tidak adanya keinginan pada diri mereka untuk menyulutkan api fitnah dan perselisihan. Akan tetapi, seorang provokator / penggerak kejahatan dan fitnah yang disebut dengan Syamr bin Dzil Jusyan mengubah pemikiran yang bagus ini. Dia mengatakan kepada Ibnu Ziyad :  "Apakah engkau mau menerima tawaran ini darinya, padahal dia telah masuk ke wilayahmu dan seudah berada di hadapanmu? Demi Allah, bila dia (Al Husain) pergi meninggalkan negerimu dalam keadaan tidak meletakkan tangannya di tanganmu, maka dia adalah seorang yang lebih berhak untuk mendapatkan kekuatan dan kedudukan. Sedangkan engkau adalah orang yang lemah dan loyo. Oleh karena itu, jangan engkau berikan kedudukan ini kepadanya. Karena hal ini akan menjadi kelemahan bagimu. Hendaklah engkau memutuskannya dan pasukannya sesuai dengan hukummu. Bila engkau menghukum mereka, maka engkau adalah penguasa yang memiliki hukum. Bila engkau mengampuni mereka yang demikian adalah hakmu." Ibnu Ziyad pun terpengaruh oleh pandangan laki-laki jahat lagi pendosa ini. Kemudian dia mengirim utusan kepada Umar bin Sa'd dengan apa yang diusulkan laki-laki tadi. Yang demikian adlaah kesalahan dari Ibnu Ziyad, juga bentuk kesewenangan dan kezhalimannya. Ibnu Sa'd melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Ibnu Ziyad, meminta kepada Al Husain untuk menyerah tanpa syarat sampai kemudian Ibnu Ziyad yang akan memutuskannya. Akan tetapi Al Husain tidak menerimanya karena belia berkeyakinan bahwa yang demikian adlaah kehinaan dan kerendahan. Sehingga peperangan dan saling membunuh harus terjadi. Pada hari kesepuluh bulan Muharram 61 H berkecamuklah perang antara pasukan Iraq yang berjumlah lebih dari 4.000 personil dengan pengikut Al Husain yang tidak lebih dari 80 orang. Buku-buku sejarah telah mencatat jiwa kesatria yang ditunjukkan oleh pengikut Al Husain. Beliau meminta kepada mereka (para pengikutnya) agar meninggalkanna dan mencari jalan selamat sendiri-sendiri. Akan tetapi mereka tidak setuju dengan permintannya dan tetap berada di sisi beliau mengorbankan nyawa mereka di hadapannya satu persatu. Tidak ada satupun di antara mereka yang tewas kecuali dalam keadaan tegar menghadapi lawan, tidak lari, mencurahkan segenap kekuatannya dan melepaskan diri mereka dari tanggung jawab di hadapan Allah. Demikianlah, mereka jatuh meninggal satu per satu di hadapan Al Husain hinggal beliau tinggal sendirian. Meskipun demikian beliau tidak mau tunduk terhadap lawannya, bahkan yang beliau lakukan adalah menghunus pedangnya dan berperang sebagaimana seorang penunggang kuda yang ahli dan pemberani. Sampai pada akhirnya beliau gugur di hadapan sejumlah tebasan pedang yang berturut-turut menebasnya. Juga di hadapan kekuatan besar yang mengepungnya dari segala arah. Pasukan Ibnu Ziyad yang meninggal berjumlah 87 orang. Al Husain meninggal pada usia 57 tahun. Tidak ada dari pengikutnya yang selamat kecuali lima orang, yaitu : anaknya yang bernama Ali Zainal Abidin. Ketika itu beliau sedang sakit sehingga tidak bisa ikut hadir dalam peperangan. Bibinya yang bernama Zainab binti Ali, adiknya yang bernama Umar, dan dua saudara perempuannya yang bernama Fathimah dan Sukainah. Umar bin Sa'd mengirim kepala Al Husain dan para pengikutnya kepada Ibnu Ziyad. Kemudian kembali ke Kufah dengan membawa anak-anak Al Husain. Ibnu Ziyad memberikan pemuliaan dan pelayanan yang baik terhadap mereka. Lalu Ibnu Ziyad mengirim mereka ke Syam bersama kepala Al Husain. Ketika Yazid melihat mereka, bercucuran air matanya sampai mengatakan : "Sebenarnya aku telah senang terhadap ketaatan kalian tanpa pembunuhan terhadap Al Husain. Akan tetapi semoga Allah melaknat Ibnu Sumayyah (yang dimaksud adalah Ubaidullah bin Ziyad), demi Allah kalau saja aku yang menghadapinya, maka sungguh aku akan memaafkan mereka." Yazid memerintahkan kepada kerabat Al Husain yang wanita untuk masuk ke rumahnya. Dan anak-anak Al Husain dimasukkan dalam tanggungannya. Kaum wanita dari kalalangan Bani Umayyah berkabung atas jenazah Al Husain selama tiga hari dan juga ikut merasakan musibah yang menimpa keluarganya. Kemudian Yazid menjamu mereka semua dengan baik dan memberikan harta yang banyak kepada mereka, selanjutnya beliau memulangkan mereka ke Madinah. Tidak diragukan lagi bahwa peristiwa terbunuhnya Al Husain bin Ali di Karbala adalah sebuah tragedi yang menggoncang kerajaan Bani Umayyah dan mengancam kekuasaannya. Kalangan yang dengki dan benci terhadap Islam dari kelompok Syiah Rafidhah dan yang lainnya menjadikan peristiwa ini sebagai peluang untuk mengobarkan api fitnah dan menanamkan rasa kedengkian di kalangan kelompok mereka sendiri sampai-sampai gugurnya Al Husain bagi mereka adalah lebih besar daripada musibah meninggalnya Rasulullah, pembunuhan Umar, Utsman, dan Ali. Mereka (sekte Rafidhah) mengadakan peringatan kematian Al Husain pada tiap tahun sehingga mereka melakukan sekian banyak kejelekan dan celaan terhadap para sahabat. Mereka juga mencaci dan mencela Bani Umayyah, disertai dengan membuat sekian kedustaan dan kebohongan yang bisa membuat rambut kepala beruban (sebelum waktuna-pen). Sampai kemudian mereka menjadi sumber fitnah yang terjadi di kalangan Bani Umayyah dan sebab utama lemahnya kerajaan Bani Umayyah di hadapan musuh-musuhnya. Bahkan mereka (Syiah Rafidhah) menjadi sumber fitnah (huru-hara) dan penyimpangan  di sepanjang masa. Sekte ini berhasil menancapkan kuku-kuku makarnya. Mereka mengubah sejarah dan sejumlah sunnah (hadits) dan memenuhi keduanya dengan sekian banyak kedustaan dan kepalsuan. Semoga Allah menjaga kaum muslimin dari kejahatan Syiah Rafidhah dengan apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan. Dikutip dari Buku Trilogi Al Khilafah Al Islamiyah Penerbit Hikmah Ahlussunnah, 2018

Biografi
Sep 23, 201911 min read
«»
HomeRadioArtikelPodcast