Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Musnad dan Muttashil Matan al-Baiquniyyah: وَالْمُسْنَدُ المُتَّصِلُ الإِسْنَادِ مِنْ ... رَاوِيهِ حَتَّى المُصْطَفَى وَلَمْ يَبِنْ Dan musnad adalah yang sanadnya bersambung...para perawinya sampai kepada al-Musthofa (Nabi) dan tidak terputus وَمَا بِسَمْعِ كُلِّ رَا…

TOBAT SEMURNI EMBUN Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin حفظه الله تعالى Tobat Semurni Embun Tobat adalah tindakan terpuji. Bahkan ia adalah ibadah yang agung. Seseorang yang bertobat dan memohon ampun kepada Allah سبحانه وتعالى tidak akan menjadikan dirinya hina. …

ANAK-ANAK DAN SHALAT Anak-anak merupakan perhiasan dunia. Mereka adalah penyejuk hati para orang tua. Karena mereka sebagai perhiasan, maka harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai hilang dari kita Jangan pula perhiasan itu dikotori sehingga mengurangi keindahannya. Jika seb…

Hadits Marfu’, Mauquf, dan Maqthu’ Perbedaan Hadits Marfu’, Mauquf, dan Maqthu’ Secara makna yang luas, hadits bukan hanya ucapan atau perbuatan Nabi, namun juga orang lain. Baik itu Sahabat Nabi maupun orang-orang setelahnya. Hadits dalam makna ini lebih ke makna secara bahasa,…

JANGAN MENYERANG ORANG LAIN DENGAN MENUDUH NIATNYA بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على أشرف خلق الله وعلى آله وصحبه ومن والاه أما بعد: Jangan Menyerang Orang Lain dengan Menuduh Niatnya Termasuk buruknya pengaruh fitnah terakhir ini –dan alangkah banyaknya– adalah mereka menyerang niat orang-orang yang mereka musuhi. Jadi tidaklah seorangpun bangkit membantah sebuah kebatilan yang dia ketahui kecuali mereka menghujaninya dengan tuduhan ingin tampil (bahkan tuduhan ini bisa saja muncul walaupun si penulis/penerjemah tidak mencantumkan jati dirinya –pent) dan memiliki niat buruk. Maka saya berfikir untuk membahas secara tersendiri perkara yang berbahaya ini dalam tulisan ringkas. Mudah-mudahan mereka mengambil manfaat lalu menghentikan lisan mereka dari berbicara dengan kebatilan. Dan Allah saja yang memberi taufik dan menunjukkan ke jalan yang lurus. Termasuk yang bagus untuk memulai di sini adalah mengingatkan keadaan para ulama salaf dalam membenahi niat-niat mereka. Contohnya Sufyan ats-Tsauri, dan siapa yang tidak kenal dengan Sufyan ats-Tsauri?! Beliau pernah mengatakan, . "Aku tidak pernah membenahi sesuatu yang lebih berat dari niatku, karena niatku selalu berubah-ubah." Jika sebesar imam yang seperti gunung ini niat beliau selalu berubah-ubah dan berat membenahinya, bahkan beliau merasa tidak ada yang lebih berat untuk dibenahi darinya, maka seharusnya orang yang menuduh niat orang lain lebih pantas untuk mengoreksi niatnya dan membenahinya, bukan malah menyerang niat orang-orang yang dia musuhi dengan tuduhan memiliki tujuan yang buruk dan menganggap mereka tidak ikhlas dan tidak bertujuan baik, karena keadaan dia seakan-akan mengungkapkan, "Aku orang yang ikhlas." Sesungguhnya termasuk perkara yang telah diketahui dari sejarah hidup para ulama salaf adalah menilai manusia berdasarkan lahiriah dan menyerahkan urusan hati kepada Allah. Bahkan Ibnu Abdil Barr menukil adanya ijmak atas perkara tersebut dengan mengatakan: أجمعوا أن أحكام الدنيا على الظاهر وأن أمر السرائر إلى الله. "Mereka ijmak bahwa hukum-hukum dunia berdasarkan lahiriah dan urusan hati diserahkan kepada Allah." (At-Tamhid, 10/32) Makna seperti ini telah dihikayatkan dalam sebuah hadits yang marfu' namun tidak shahih. Sedangkan yang shahih adalah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mauquf dari Umar radliyallahu anhu: إِنَّمَا كَانُوا يُؤْخَذُونَ بِالوَحْيِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِنَّ الوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ، وَإِنَّمَا نَأْخُذُكُمُ الآنَ بِمَا ظَهَرَ لَنَا مِنْ أَعْمَالِكُمْ. "Sesungguhnya dahulu manusia hanyalah dinilai dengan wahyu di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan sesungguhnya wahyu telah berhenti, dan sekarang kami menilai kalian hanyalah berdasarkan apa yang nampak bagi kami dari perbuatan kalian." (Shahih al-Bukhari no. 2641) Jadi konsekuensi dari ijmak yang dinukil tadi adalah bahwa orang yang menyerang niat orang lain telah merebut dari Allah sesuatu yang tidak bisa mengetahuinya kecuali Dia. Memang, terkadang nampak berbagai indikasi kuat pada seseorang yang menyebabkan buruk sangka kepadanya sebagai bentuk hati-hati darinya. Namun perkecualian ini tidak boleh dijadikan sebagai prinsip dasar, dan alangkah banyaknya penyimpangan yang menyerang manusia melalui pintu ini karena mereka mengabaikan hukum yang pasti yang tetap sebagai dasar, lalu mereka menggunakan yang sifatnya darurat yang dikecualikan sebagai gantinya tanpa rambu-rambu. Walaupun demikian jangan sampai buruk sangka kepada siapapun menyeretmu untuk menuduhnya tidak memiliki keikhlasan untuk Allah! Jika hal ini telah diketahui dan diterima dengan baik, maka termasuk perkara yang sangat tercela jika seseorang mengatakan tentang sebagian masyayikh atau saudara kita bahwa dia tidak memiliki keikhlasan niat untuk Allah dalam makalah maupun tulisan mereka serta kepentingan-kepentingan pribadi dan hawa nafsu menguasai mereka. (Lihat: Nashihah wa Taujih Ila Muntada at-Tashfiyyah). Anehnya tidak ada seorangpun yang mengingkarinya, bahkan para pengikut merasa gembira dengan ucapan ini. Dan yang semisalnya adalah ucapan temannya, "Diantaranya tulisan iparmu yang telah didorong oleh fanatisme jahiliyyah." (Al-Jawab Anil Jawab, bagian pertama) Sesungguhnya saya benar-benar berulang kali membaca ucapan ini dan keheranan saya tidak habis dengan berlalunya hari-hari. Bagaimana bisa orang yang mengatakannya menghukumi sesuatu yang sifatnya ghaib dan saya bertanya-tanya apakah mungkin seseorang bisa mengetahui tanda-tanda dan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa keikhlasan telah hilang dari orang yang dia musuhi atau dia telah didorong oleh fanatisme jahiliyyah?! Dan sangat disayangkan saya jadi teringat dengan ucapan orang munafik yang mencela pembagian harta yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alahi wa sallam dengan mengatakan, "Ini adalah pembagian yang tidak adil dan tidak mengharapkan wajah Allah." (muttafaqun alaih) Dan saya berharap tidak ada yang menganggap bahwa saya menyamakan gurunya dengan orang-orang munafik, hanya saja ucapannya sama persis. Kemudian saya teringat dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika sampai kepada beliau perbuatan Usamah bin Zaid radhiyallahu anhuma ketika membunuh seseorang yang mengucapkan laa ilaha illallah: يَا أُسامةُ! أَقَتَلْتَهُ بَعْدَمَا قَالَ: لا إِلهَ إِلَّا اللَّهُ؟! "Wahai Usamah, apakah engkau masih tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaha illallah?!" Usamah menjawab, "Dia mengucapkannya karena takut kepada senjata." Lalu beliau mengatakan: أَفَلا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لا؟! "Apakah engkau telah membelah hatinya hingga engkau bisa mengetahui apakah dia mengucapkannya karena itu atau tidak?! Usamah mengatakan, "Beliau terus mengulang-ulang pertanyaan tersebut hingga aku berangan-angan sekiranya aku baru masuk Islam hari itu." (muttafaqun alaihi dan ini redaksi Muslim hadits no. 96) Jadi walaupun dalam keadaan banyaknya pendorong buruk sangka terhadap seseorang dengan indikasi ketakutannya terhadap pedang ketika dia melihatnya diarahkan kepadanya, hanya saja Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menerima alasan Usamah radhiyallahu anhu. Jika demikian pada Nabi kita terdapat teladan yang baik, sehingga kami katakan kepada kalian, "Apakah kalian telah membelah hati orang-orang yang kalian musuhi hingga kalian bisa mengetahui apakah mereka menulis (bantahan) ikhlas karena Allah atau tidak?!" Wahai orang-orang yang menyerang niat-niat manusia: Berikut ini balasan surat yang sangat indah yang dinukil oleh al-Imam as-Sa'di dalam salah satu fatwa beliau tentang celaan sahabatnya terhadap niat beliau lalu beliau menjawabnya dengan surat tersebut. Perhatikan baik-baik –rahimakumullah– dan berhentilah pada setiap katanya, karena sungguh itu merupakan balsem bagi penyakit yang berbahaya yang telah menimpa kalian ini. _________________ "Wahai saudaraku, jika engkau meninggalkan perkara yang wajib atas dirimu yaitu cinta karena agama, dan engkau menempuh perkara yang haram atas dirimu yaitu menuduh saudaramu dengan niat yang buruk walaupun anggaplah dia telah melakukan kesalahan dan engkau menjauhi sikap hikmah dalam berdakwah dalam perkara-perkara seperti ini, maka sebelum masuk kepada jawaban saya kepadamu atas kritikanmu, saya ingin mengabarkan kepadamu: Saya tidak akan meninggalkan perkara yang wajib atas saya berupa menjaga kecintaan kepadamu dan terus mencintaimu berdasarkan apa yang saya ketahui dari agamamu semata-mata karena membela diri saya, bahkan saya akan menambahnya dengan memberikan udzur untukmu atas celaan terhadap saudaramu bahwa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu adalah niat yang baik. Hanya saja niat baik tersebut tidak disertai dengan ilmu yang membenarkannya, pengetahuan yang menjelaskan tingkatannya, dan tidak pula sikap wara' (kehati-hatian) yang menjadikan seorang hamba tidak melanggar batas yang ditetapkan oleh peletak syariat atasnya. Jadi karena baiknya niatmu maka saya memaafkan dirimu atas apa yang muncul darimu berupa tuduhan memiliki niat buruk kepada saya. Anggaplah kebenaran itu bersama dirimu secara meyakinkan, apakah kesalahan seseorang merupakan bukti buruknya niat dirinya. Jika perkaranya seperti itu niscaya wajib menuduh seluruh ulama umat ini dengan niat-niat yang buruk, karena apakah ada seorangpun yang bersih dari kesalahan?! Bukankah kelancangan yang engkau lakukan menyelisihi ijmak kaum muslimin, yaitu bahwasanya tidak halal menuduh seorang muslim memiliki niat yang buruk jika dia terjatuh dalam kesalahan?! Dan Allah telah memaafkan kesalahan yang tidak disengaja yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman dalam ucapan, perbuatan, dan semua keadaan. Kemudian kami katakan: Anggaplah boleh bagi seseorang untuk menuduh niat orang yang indikasi-indikasi kuat dan tanda-tanda menunjukkan niatnya yang buruk, apakah halal bagimu untuk mencela seseorang yang engkau memiliki bukti-bukti yang banyak yang menunjukkan baiknya niatnya dan jauhnya dari niat buruk, yang hal itu tidak membolehkan bagimu untuk membayangkan sedikitpun apa yang engkau tuduhkan kepadanya?! Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berbaik sangka kepada saudara-saudara mereka jika dituduhkan kepada mereka hal-hal yang menyelisihi konsekuensi iman. Allah Ta'ala berfirman: لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا. "Mengapa ketika kalian mendengar berita buruk itu orang-orang yang beriman baik pria maupun wanita tidak berbaik sangka kepada diri mereka sendiri." (An-Nur: 12) Dan ketahuilah bahwa pendahuluan ini bukan bertujuan untuk membalas ucapanmu, karena sesungguhnya saya seperti yang telah saya isyaratkan kepadamu bahwa saya telah memaafkanmu jika saya memiliki hak, tetapi tujuannya adalah nasehat dan menjelaskan posisi tuduhan semacam ini menurut akal, agama, dan kehormatan manusia." (Al-Fatawa as-Sa'diyyah, hlm. 61-62) _________________ Saya katakan: Allahu akbar, alangkah bersihnya kata-kata dan alangkah bagusnya sifat-sifat tersebut, seandainya orang-orang yang membicarakan niat manusia itu mau berhias dengan sepertiganya atau seperempatnya kita tidak akan sampai seperti ini. Apakah mereka ini tidak bisa mengucapkan seperti yang diucapkan oleh beliau bahwa yang mendorong orang yang mereka musuhi untuk melakukan hal itu adalah niat yang baik. Hanya saja niat baik tersebut tidak disertai dengan ilmu yang membenarkannya, pengetahuan yang menjelaskan tingkatannya, dan tidak pula sikap wara' (kehati-hatian) yang menjadikan seorang hamba tidak melanggar batas yang ditetapkan oleh peletak syariat atasnya. Tanpa perlu menyerang niat dan memvonis tujuannya. Ya Allah, benahilah niat-niat kami dan perbaguslah tujuan kami baik dalam perkara-perkara yang kecil maupun yang besar. Baca juga : Hidup Bernafas Ketulusan Ditulis oleh: Abu Anas Abdurrahman Habak Ibukota Aljazair, selepas matahari tergelincir, Selasa 27 Rabi'ul Akhir 1441 atau 24 Desember 2019 https://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=24637 Sumber : https://t.me/jujurlahselamanya/1763

Benarkah Ucapan Selamat Natal Tidak Mempengaruhi Akidah? Ucapan seseorang harus selalu dijaga. Terkadang seorang mengucapkan sesuatu yang dia anggap sepele, ternyata dapat melemparkannya ke dalam neraka jahanam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَل…

Apakah Tidak Mengucapkan ‘Selamat Natal’ Berarti Intoleransi? بسم الله الرحمن الرحيم Lihat kumpulan poster tentang natal Setiap menjelang tahun baru masehi dan bulan Desember, kaum muslimin selalu diributkan dengan toleransi atau intoleransi terhadap nonmuslim. Pasalny…

Hari ibu di Amerika Serikat dirayakan pertama kali pada tahun 1908, ketika Anna Jarvis mengadakan peringatan atas kematian ibunya di Grafton, West Virginia. Pada tahun 1908, Kongres Amerika Serikat menolak proposal untuk menjadikan Hari Ibu sebagai hari libur nasional. Pada tahun 1911, seluruh ne…

KEAJAIBAN MARYAM Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa'i حفظه الله تعالى Kisah Keajaiban Maryam bintu Imran Subhanallah, Benar-benar ajaib. Kami benar-benar beriman tentangnya, ya Allah. Keluarga Imran bin Yasyim adalah keluarga terpilih dan terhormat di kalangan Bani Israil. Bahkan termasuk keluarga terhormat sepanjang sejarah hingga dunia berakhir kelak. Keajaiban demi keajaiban pada keluarga Imran, Allah perlihatkan di hadapan Bani Israil saat itu. Lalu Allah ceritakan untuk kita di dalam Al Qur’an. Supaya mereka dan kita beriman sepenuh hati akan kekuasaan Allah yang tanpa batas. Janganlah berputus asa! Sungguh, Allah Maha Berbuat lagi Maha Kuasa. Hannah bintu Faqudz adalah istri tercinta Imran. Hannah terhitung wanita yang gemar dan rajin beribadah. Sekian lama, sepasang suami istri lmran dan Hannah tidak beroleh kurnia berupa anak keturunan. Dan mereka pun bersabar. Hingga suatu hari, Hannah asyik memperhatikan seekor burung yang sedang menyuapi anaknya. Terlintaslah keinginan Hannah untuk mempunyai seorang anak. Lalu, langkah apa yang ditempuh oleh Hannah? Kepada Allah, Hannah berdoa dan meminta. Bukankah Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi? Bukankah Allah yang menentukan, apakah hambanya akan beroleh anak ataukah tidak? Bukankah Allah yang mengatur, anak yang bakal lahir laki-laki atau perempuan? Janganlah berputus asa! Sungguh, . Allah Maha Berbuat lagi Maha Kuasa. Allah pun mengabulkan permohonan Hannah. Tidak berselang lama, Hannah telah dipastikan mengandung. Ya, Hannah benar-benar hamil. Alhamdulillah. Alangkah bahagia seorang wanita yang berharap untuk beroleh anak, Ialu harapan itu sungguh-sungguh nyata. Namun, tidakkah seharusnya seorang hamba bersyukur kepada Allah yang telah berkenan melimpahkan karunia berupa anak untuknya. Bukankah seharusnya orangtua membimbing dan memotivasi anaknya untuk mengejar akhirat. Menjadi hamba yang taat. Bukannya malah mengarahkan sang anak untuk menjadi budak-budak dunia. Bangga jika anaknya menjadi pembesar, orang kaya raya, menumpuk segudang prestasi duniawi, atau minimalnya bisa mengikuti arus perubahan zaman. Na’udzu billah. Cobalah belajar dari kesucian Hannah. Kesucian hati dan kebersihan jiwa orang tua akan berpengaruh kepada kesucian hati dan kebersihan jiwa anaknya. Jika hendak mempunyai anak yang suci hati bersih jiwa, sudahkah Anda sebagai orangtua juga suci hati bersih jiwa? Lihatlah Ialu renungkanlah bentuk syukur Hannah berikut ini. Hannah bernadzar untuk menyerahkan sang anak, buah hati dan harapan jiwa, untuk mengabdi dan menghamba kepada Allah di Baitul Maqdis, tempat suci dan pusat ibadah saat itu. Hannah berjanji, sebagaimana yang Allah kisahkan: رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ”Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [Q.S. Ali lmran: 35]. Setelah melahirkan, bayi perempuan yang mungil itu pun diberi nama Maryam. Lagi-lagi sebuah keajaiban. Saat Maryam terlahir di dunia, tidak ada suara tangisnya terdengar. Padahal, setiap bayi yang lahir pasti akan berteriak menangis. Memang, sang bunda, Hannah telah berdoa kepada Allah agar melindungi anaknya dari kejahatan setan. Hannah berdoa: وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ”Aku menamainya Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaithan yang terkutuk.” [Q.S. Ali Imran: 36]. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga menjelaskan (Al Bukhari 3431 dan Muslim 2366) bahwa setiap bayi yang terlahir di dunia pasti akan ditusuk oleh setan. Oleh sebab itu, bayi yang lahir pasti menangis. Kecuali Maryam dan putranya, yaitu Isa bin Maryam. Janganlah berputus asa. Sungguh, Allah Maha Berbuat lagi Maha Kuasa. Lihatlah, saudaraku, Kekuatan doa hamba yang dipanjatkan kepada Allah, Dzat yang maha kuasa lagi maha berbuat. Hannah berdoa dan memohon kepada Allah agar melindungi anak dan keturunannya dari rayuan setan yang terkutuk. Sudahkah Anda mendoakan anak-anak Anda. Hannah benar-benar menunaikan nadzarnya. Setelah berakhir masa menyusu dan telah siap untuk berkhidmah, Maryam pun diserahkan kepada ahli-ahli ibadah Baitul Maqdis. Tetapi, terbitlah pertengkaran dan perselisihan di antara mereka. Siapakah yang pantas dan berhak untuk merawat serta mendidik Maryam? Lagi-Iagi keajaiban. Subhananah. Janganlah berputus asa! Sungguh, Allah Maha Berbuat lagi Maha Kuasa. Untuk menentukan siapakah yang berhak untuk mengasuh serta mendidik Maryam, akhirnya ditempuh cara undian. Sebab, tidak ada seorang pun yang mau mengalah. Masing-masing, termasuk nabi Zakariya -suami bibinya-, harus menyerahkan sebuah pena yang telah bertanda. Pena-pena itu Ialu dikumpulkan dan diletakkan di sebuah tempat. Setelah itu, seorang anak yang belum mencapai usia baligh diminta untuk memilih dan mengambil sebuah pena yang terkumpul. Pena Zakariya yang diambil. Mereka tidak bisa menerima kenyataan itu. Disepakati lagi untuk mengulang undian. Caranya, pena-pena tersebut dilemparkan ke arus sungai. Pena yang bergerak menentang arus sungai, pemiliknyalah yang berhak merawat Maryam. Hanya pena milik Zakariya yang menentang arus sungai. Tetap belum menyerah. Mereka kembali mengusulkan untuk melakukan undian ketiga. Berbeda dengan sebelumnya, pena-pena tersebut dilemparkan ke arus sungai. Dan pena yang bergerak searah dengan arus sungai, maka pemiliknya yang berhak mengasuh Maryam. Semua pena bergerak menentang arus sungai kecuali pena Zakariya. lbnu Katsir (dalam kitab Qashashul Anbiya’) menegaskan, "Maka Zakariyalah yang memenangkan undian tersebut. Sehingga dialah yang pantas merawat Maryam. Sebab, secara syariat dan kenyataan kodrat, Zakariya adalah orang yang paling berhak untuk merawat Maryam, ditinjau dari banyak sudut pandang." Sisi syar’i, beliaulah yang paling shalih, dari sisi kenyataan kodrat, beliau adalah kerabat Maryam. ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۚ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ ”Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” [Q.S. Ali Imran: 44]. IBADAH DI BAITUL MAQDIS Zakariya, sebagai paman dan pemenang undian, lalu menyiapkan sebuah ruangan khusus untuk Maryam bintu Imran di sisi timur Baitul Maqdis. Tidak seorang pun yang diperbolehkan untuk memasuki ruangan tersebut kecuali Zakariya. Sejak hari itu, Maryam mulai konsentrasi dan fokus untuk beribadah kepada Allah. Siang dan malam dipenuhi dan dihiasi dengan amal-amal ketaatan. Jika tiba gilirannya, Maryam melaksanakan tugas sebagai penjaga dan pemelihara Baitul Maqdis. Begitu tekunnya Maryam bintu Imran beribadah, sampai-sampai Maryam menjadi keluhuran akhlak dan sifat-sifatnya yang mulia tersebar dan menjadi buah bibir di kalangan Bani Israil. Gadis suci, Maryam bintu Imran, semoga Allah mencurahkan salaam untuknya. Bahkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut nama beliau sebagai salah satu dari empat wanita terbaik di dunia. Beliau bersabda di dalam hadits Anas bin Malik رضي الله عنه yang dishahihkan Al Albani (Shahihul Jami’ 3328): خَيْرُ نِسَاءِ الْعَالَمِيْنَ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَ خَدِ يْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَا طِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَ آ سِيَةُ اِمْرَأَةُ فِرْعَوْنِ ”Wanita terbaik di dunia ada empat; Maryam bintu Imran, Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad, dan Asiyah, istri Fir’aun." Laa haula wa Iaa quwwata illa billah Rasa-rasanya ingin menangis sekadar meluapkan kesedihan dan kesempitan hati. Alangkah sulitnya, di zaman ini, menemukan sosok wanita semisal mereka. Semacam Maryam bintu Imran, Khadijah, Fathimah, dan Asiyah. Digelari sebagai wanita terbaik dunia karena keimanan, takwa, ibadah, shalihah, dan akhlak-akhlak luhur Iainnya. Tidak seperti di zaman ini, Wanita terbaik dunia dinilai dengan apa? Wanita terbaik dunia karena dipandang dari sudut mana? Silahkan menjawab sendiri. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ”Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-isti kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa."[Q.S. Al Furqan: 74] Janganlah berputus asa! Sungguh, Allah Maha Berbuat lagi Maha Kuasa. Benar, Janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sebab Allah maha berbuat lagi maha kuasa. Keajaiban demi keajaiban pada kisah Maryam bintu Imran pun menjadi salah satu buktinya. Maka, janganlah ragu akan keajaiban-keajaiban dari Allah. Subhaanallah. Setiap kali masuk ke dalam ruangan Maryam, Zakariya selalu menyaksikan keajaiban. Jika musim dingin tiba, Zakariya selalu melihat buah-buahan yang hanya berbuah di musim panas, tersedia di dalam ruangan Maryam. Pada musim panas, di dalam ruangan Maryam pasti tersedia buah-buahan yang hanya dipetik pada musim dingin. Ajaib! Dan benar-benar ajaib! ”Wahai Maryam, berasal dari manakah buah-buahan ini?” Tanya Zakariya penuh takjub dan heran. Maryam menjawab dengan penuh ketenangan: هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ "Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." [Q.S. Ali Imran: 37]. Ya Allah, curahkanlah ampunan untuk kami yang terlalu sering berprasangka buruk terhadap-Mu. Terlalu sering kami melupakan-Mu. Entah tidak terhitung lagi, berapa banyak kami mengharap dan menggantungkan rezeki dari makhluk-Mu. Seolah-olah rezeki itu datang dari manusia. Ya Allah, gugurkanlah dosa-dosa kami. Betapa seringnya kami mengeluh saat rezeki terasa sempit. Padahal, limpahan rezeki dari-Mu tak mungkin dihitung dan dibatasi. Penuhkanlah ruang hati kami dengan rasa syukur dan qana’ah. Janganlah berputus asa! Sungguh, Allah Maha Berbuat lagi Maha Kuasa. Menyaksikan keajaiban itu, pintu hati Zakariya pun terketuk. Ia pun berharap keajaiban dapat terjadi padanya. Zakariya telah berusia lanjut, sementara istrinya adalah seorang wanita mandul. Sungguh, istrinya adalah wanita yang mandul. Namun, Allah benar-benar maha kuasa. Zakariya pun berdoa: رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ ”Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” [Q.S. Ali Imran: 38]. Allah pun mengabulkan doa hamba-Nya, Zakariya. Lahirlah ke dunia seorang nabi, putra Zakariya yang bernama Yahya. Apakah belum cukup bukti nyata keajaiban-keajaiban di dalam keluarga Imran. Apapun yang Anda harapkan, berdoalah kepada Allah agar mengabulkannya. Apapun permintaan itu. Janganlah berputus asa. Sesungguhnya Allah maha mendengar doa. Sumber || Majalah Qudwah Edisi 06 || https://t.me/Majalah_Qudwah

BAGAIMANA DENGAN FENOMENA "BULLY" YANG TERJADI PADA ANAK-ANAK KITA : HUKUM SENDA GURAU/BERCANDA YANG TERKAIT MELECEHKAN FISIK SESEORANG Disampaikan Oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin -hafizhahullah- Kajian "Perusak-Perusak Ukhuwah" | Ahad, 06 Rabi'ul Awwal 1441 H / 03 November 2019 M di Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas  .◙ Durasi 00:05:04 ◙ Ukuran file 1,9 MB ◙ Link: http://bit.ly/34a9ON1 #parenting #pendidikan_anak #tarbiyatul_aulad #bullying #baper (*) Penindasan, perundungan, perisakan, atau pengintimidasian (bahasa Inggris: bullying) adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. (Wikipedia) t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF] | www.alfawaaid.net BACA JUGA : STOP BULLY DAN INILAH ALASANNYA BULLYING ATAU BULLY : DEFINISI, CONTOH-CONTOH DAN AKIBAT JELEKNYA TERHADAP FISIK DAN MENTAL SESEORANG Bullying atau bully, perbuatan agresif kepada orang lain dalam rangka mempertunjukkan kekuatan kepada orang lain. Bullying bisa dalam bentuk verbal atau fisik. Beberapa contoh bentuk bullying, seperti Kontak fisik langsung, seperti memukul, mendorong, menjambak, menendang, mengunci dalam ruangan tertentu, mencubit, mencakar, memalak (memeras), dan merusak barang milik orang lain. Kontak verbal langsung, seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan, berkata kasar, mencerca, mencaci atau mengejek, mengintimidasi, memberi gelaran buruk, menyebarkan rumor, dan yang sejenisnya. Perilaku nonverbal langsung, seperti melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, membuang muka dan meludah, serta mengangkat kepalan tangan dan lainnya. Perilaku nonverbal tidak langsung, seperti mendiamkan seseorang, mengucilkan seseorang, mengirim pesan singkat secara gelap, dan sebagainya. Korban bullying biasanya yang tak mampu membela diri. Korban kebanyakan dari keluarga yang terlalu kuat memberi proteksi (mengekang) atau dari keluarga yang sama sekali longgar dan tidak memiliki kendali aturan. Dampak bullying pada remaja, korban merasa tidak aman, tidak tenang karena merasa terancam terus, rendah diri (minder), tak percaya diri. Hidupnya merasa tertekan dan diselimuti ketakutan. Dampak secara fisik, timbul luka pada tubuh. Ketika mengalami bullying, biasanya muncul pada diri korban rasa cemas, marah, muak, terancam, dan dendam. Semuanya itu bisa terakumulasi, menyatu, dan menggumpal di dada, namun tak bisa dilampiaskan, sehingga tidak terjadi proses kanalisasi (penyaluran) emosi yang ditekan tersebut. Perilaku bullying ini menyebabkan seseorang terganggu belajarnya. Bahkan, bisa jadi korban akan mengambil tindakan—dalam upaya mengamankan diri—pindah tempat belajar ke kota lain. Yang lebih mengenaskan apabila bullying justru dilakukan oleh pengurus atau pengajar yang masih berusia belia, bahkan secara usia masih relatif tidak jauh beda dengan korban bullying. Hanya saja, karena yang melakukan bullying ini memiliki kedudukan khusus dalam lembaga, korban tidak berani melakukan mekanisme pertahanan diri. Pasrah. Sumber: https://asysyariah.com/perilaku-menyimpang-remaja/ https://bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF] www.alfawaaid.net | Download juga Audio Kenakalan Remaja dalam Pandangan Agama (Sebab dan Solusinya) yang disampaikan Oleh Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah [SESI 1] [SESI 2] Sumber Salafy Banjarnegara

PELAJARAN BERHARGA DARI PERCAKAPAN AL-MUZANI DENGAN ASY-SYAFI’I Al-Imam al-Muzani rahimahullah menyatakan: إِنْ كَانَ أَحَدٌ يُخْرِجُ مَا فِي ضَمِيرِي وَمَا تَعَلَّقَ بِهِ خَاطِرِي مِنْ أَمْرِ التَّوْحِيْدِ، فَالشَّافِعِيُّ فَصِرْتُ إِلَيْهِ، وَهُوَ فِي مَسْجِدِ مِصْرَ فَلَمَّا جَثَوْتُ بَيْنَ…

ALLAH MEMERINTAHKAN AGAR KITA BERSIKAP ADIL Allah Ta'ala berfirman: وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ. "Dan jika kalian berkata maka bersikaplah yang adil walaupun terhadap kerabat." (Al-An'am: 152) Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini: …