Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

KELOMPOK JAMA’AH TABLIGH : ANTARA KENYATAAN &. PENGAKUAN MUQODDIMAH Segala puji hanya milik Allah Robb semesta alam yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita semua, kita memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya, meminta ampun kepada-Nya, dan bertaubat kepada-Nya. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kita dan keburukan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Saya bersaksi, bahwa tidak ada sesembahan yang hak disembah selain Allah tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam beserta keluarga dan para shahabatnya serta orang-orang yang teguh menempuh jalan mereka dan mengikuti petunjuk mereka dengan baik hingga datangnya hari pembalasan. Waba’du… Jama’ah Tabligh tentu bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat kita, terlebih bagi mereka yang menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yang sering dituding sebagai 'biang pemecah belah umat', membuat dakwah mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan. Bahkan saking populernya, bila ada seseorang yang berpenampilan mirip mereka atau kebetulan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan mereka, biasanya akan ditanya; ”Mas, Jama’ah Tabligh, ya?” atau “Mas, Karkun, ya?” Yang lebih tragis jika ada yang berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan mereka, kemudian langsung dihukumi sebagai Jama’ah Tabligh. Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Lalu bagaimanakah hakikat jama’ah yang berkiblat ke India ini? Kajian kita kali ini adalah jawabannya. Jama’ah Tabligh. Siapa yang tak kenal kelompok ini. Ciri mereka mudah dikenali. Pakaian gamis/jubah, kepala bersorban, mata bercelak. Berpenampilan zuhud, berjalan ke sana kemari, ada yang menenteng kompor, ada pula yang berjalan telanjang kaki. Mengajak orang-orang ke masjid. Dan seringnya bergerombol di masjid, pasar, dan tempat-tempat umum lainnya untuk mengajak orang shalat. Sepintas banyak orang terpesona dengan tampang dan keramahan mereka dan tidak sedikit kaum muslimin yang menyambut ajaran mereka. Namun, Islam tidak hanya sekedar pakaian atau aksesoris murah semisal celak mata. Islam juga tidak hanya tampilan fisik, seperti berjenggot atau kening yang menghitam. Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan, universal. Maka salah jika dikatakan bahwa aksi teror, zikir berjama’ah, demonstrasi, dan tindakan-tindakan anarkis lainnya adalah bagian dari ajaran Islam. Begitu juga Jama’ah Tabligh, ajaran mereka juga bukan bagian dari ajaran Islam. Bahkan, Jama’ah Tabligh sangat kental dengan ajaran Sufi dan paham Wihdatul Wujud ( manunggaling kawula lan gusti ). Sebagaimana yang dipahami oleh pendirinya. Muhammad Ilyas Al Kandahlawi . Ajaran ini menyimpang jauh dari Islam yang di ajarkan oleh Nabi kita shallallahu alaihi wasallam. Bahkan pergerakan kelompok baru dari India ini paling bersemangat berdakwah di dunia ini dibanding kelompok-kelompok pergerakan yang lain, penyebar virus-virus kesyirikan dan kesesatan, persaudaraan, senyum ramah, dan berbagai lipstik indah lainnya. Akan tetapi ingat, dibalik baju yang bagus itu penuh bahaya kesesatan yang siap menyeret siapa saja yang lemah agamanya. Sudah banyak kaum muslimin yang termakan oleh rayuan berbisanya. Hati-hati dengan racun bermerek madu. Kelompok Jama’ah Tabligh (JT) ini telah diperingatkan oleh para Ulama’ Ahlussunnah akan kesesatannya. Kedok mereka telah dibongkar dan banyak para pengikut JT yang setia justru mengakui dan membantah kesesatan yang ada di dalam ajaran Jama’ah Tabligh. Ketauhilah wahai kaum muslimin…Dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah dibangun di atas dua kaidah penting yaitu : 1. Tarbiyah dan 2. Tashfiyah Tarbiyah adalah menyampaikan al haq (kebenaran) yaitu apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni Al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman As Salafushsholih (pendahulu yang shalih dari kalangan shahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in) Sedangkan Tashfiyah artinya pembersihan, yakni menyampaikan segala bentuk kebatilan sebagai lawan dari kebenaran yaitu segala yang dapat menggangu, memalingkan, mengeluarkan dan merusak kebenaran. Prinsip dakwah ini telah diterapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam pelaksanaan dakwahnya, dalam setiap khutbah jum’at beliau dengan wajah merah memperingatkan umat agar menjauhi perkara yang baru yang diada-adakan dalam agama karena setiap perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah terancam dengan neraka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan lisannya yang mulia telah mencela dengan celaan yang keras terhadap orang-orang khawarij (baca teroris, red), beliau mengatakan bahwa khawarij itu adalah anjing-anjing neraka. Bahkan beliau shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh orang-orang khawarij dengan pembunuhan yang sadis yaitu seperti terbunuhnya kaum ‘aad karena kelompok khawarij (baca teroris,red) adalah kelompok sesat, keras, mudah mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah kaum muslimin. Sikap keras beliau ini dilandasi agar selamat dari bahaya kesesatan di dunia dan selamat dari bahaya neraka di akhirat. Artinya seorang da’i itu bukan hanya mengajarkan fardlu-fardlu, sunnah-sunnah dan keutamaan-keutamaan serta cara-cara beribadah yang benar saja, tetapi seorang da’i juga harus menyampaikan kepada umat segala bentuk dan macam kesesatan dan kebatilan, juga harus disampaikan kepada umat para pembawa dan penyebar virus-virus kesesatan dan kebatilan tersebut supaya jelas dihadapan umat dan mudah untuk menghindarinya. Memperingatkan manusia dari kebatilan dan kesesatan (tahdzir) mempunyai dua faidah, yaitu : Menghentikan mengalirnya dosa pada pencipta kesesatan karena pencipta kesesatan dan penyebarnya akan mendapat dosa sebanyak orang yang mengikutinya. Untuk menyelamatkan manusia dari terjerumusnya pada kesesatan. Inilah kiranya yang mendasari saya untuk menulis buku kecil ini, mengingat semakin menyebarnya ajaran sesat Jama’ah Tabligh dalam keadaan kaum muslimin banyak yang tidak mengerti dimana dan apa saja kesesatan kelompok ini. Semoga buku ini ditulis ikhlas karena mengharap wajah Allah subhanahu wa ta'ala serta bermanfaat bagi penulis, keluarga, pembaca dan segenap kaum muslimin. Simak dan perhatikan setiap poin penting dalam buku ini. Selamat membaca! 25 Romadhon 1428 H Abu Umamah Abdurrohim bin Abdul Qohhar Al Atsary Sumber : Buku Jamaah Tabligh, Antara Kenyataan dan Pengakuan. Bersambung ke judul : INILAH KESESATAN JAMAAH TABLIGH (1) SERIAL KESESATAN JAMAAH TABLIGH Muqaddimah Kalimat Rahasia Jamaah Tabligh Kisah Kelabu Jamaah Tabligh Pengakuan Mantan Jamaah Tabligh

TATKALA MAKANAN TELAH DIHIDANGKAN Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, والذي ينبغي للإنسان إذا قدم له الطعام أن يعرف قدر نعمة الله سبحانه وتعالى بتيسيره وأن يشكره على ذلك وأن لا يعيبه إن كان يشتهيه وطابت به نفسه فليأكل وإلا فلا يأكله ولا يتكلم فيه بقدح أو بعيب.&nbs…

MENGEPAL KETIKA BERTUMPU SAAT BANGKIT DARI SUJUD Al-Ustadz Qomar Su'aidi Lc hafizhahullah Pertanyaan: Mengapa sebagian orang ada yang mengepalkan tangan ketika bertumpu pada saat bangkit dari sujud? Jawaban: Demikianlah yang dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaim…

KHADIJAH, PENEPIS DUKA PELIPUR LARA Al-Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini حفظه الله تعالى Khadijah, Penepis Duka Pelipur Lara Semenjak dulu, komunitas Quraisy memang dikenal gemar berdagang. Banyak dari mereka merupakan saudagar kaya yang biasa berekspansi ke negeri-negeri jiran. Saat musim dingin tiba, mereka berjalan ke Yaman. Sedang di musim panas, negeri Syam yang menjadi sasaran. . Khadijah رضي الله عنها, wanita Quraisy yang mulia dan terkenal dengan kepandaiannya adalah juga seorang saudagar kaya raya. Sebagai seorang wanita yang menjaga kehormatannya, Khadijah رضي الله عنها tidaklah menjalankan niaganya sendiri. la sewa beberapa orang lelaki untuk membawa dagangannya dengan berbagi hasil. Tentu beliau tidaklah sembarang menyewa orang sebagai pekerja untuk sebuah bisnis berskala internasional. Apa yang sedang menjadi buah bibir di kalangan Quraisy akan kejujuran, amanah, dan akhlak yang mulia pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (saat itu beliau belum diangkat menjadi Nabi), begitu mengusik hati Khadijah رضي الله عنها. Diutuslah budak yang bernama Maisarah untuk menawarkan sebuah kerjasama saling menguntungkan dengan upah yang lebih tinggi dari pekerja biasa. Beliau terima tawaran dari Khadijah رضي الله عنها ini, hingga sampailah beliau di negeri Syam, menjalankan niaganya, lalu kembali ke Makkah dengan nilai laba yang tak pernah disangka sebelumnya. Maisarah yang turut mengawal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam begitu takjub dan terkesima dengan keluhurun pribadi Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sepulang dari perjalanan dagang ini, Maisarah pun menuturkan kepada Khadijah رضي الله عنها apa yang disaksikannya dari diri Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bibit-bibit mahabah yang telah tumbuh pada qalbu Khadijah makin subur bersemi. Pada akhirnya Khadijah radhiyallahu 'anha titipkan sebuah pesan melalui orang yang dipercayanya, bahwa ia ingin menikah dengan beliau shallallahu alaihi wasallam dengan pertimbangan ingin mempererat kekerabatan. Dimana, Khadijah رضي الله عنها bertemu nasabnya dengan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada Qushay bin Kilab. Juga karena beliau seorang yang jujur ucapannya, baik pekertinya, tinggi amanahnya, dan merupakan pemuda yang paling baik nasabnya. Sebenarnya, banyak orang kaya dan berpengaruh ingin melabuhkan cinta pada Khadijah رضي الله عنها. Bahkan setiap kaum berambisi menyunting putri Khuwailid yang digelari dengan ath thahirah, sebab beliau memang dikenal cerdas, punya jiwa besar, akhlak yang luhur, sangat menjaga kehormatan diri, dan kaya raya. Namun tidak ada satu pun lambaian cinta dibalasnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bermusyawarah dengan pamannya, Hamzah bin Abdul Muththalib tentang tawaran ini. Akhirnya Hamzah mendatangi Khuwailid bin Asad guna melamar Khadijah untuk kemenakannya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka berlangsunglah pernikahan agung itu dengan izin Allah. Rasulullah memberikan 20 unta muda sebagai maskawin atas pernikahan pertama ini. PUTRA-PUTRI RASULULLAH ADALAH BUAH CINTA DARI KHADIJAH Diriwayatkan bahwa pernikahan agung itu terjadi saat Khadijah betusia 40 tahun. Sedangkan Nabi shallallahu alaihi wasallam berusia 25 tahun. Dari pernikahan inilah Nabi beroleh keturunan. Putra Ielaki beliau dari Khadijah ada dua; Al Qasim dan Abdullah. Al Qasim adalah putra sulung, itulah sebabnya Nabi shallallahu alaihi wasallam berjuluk Abul Qasim, sebagaimana pula Khadijah رضي الله عنها dijuluki Ummul Qasim. Sedangkan Abdullah adalah putra bungsu dari Khadijah. Dialah yang dijuluki dengan Ath Thayib atau Ath Thahir. Allah berketetapan, bahwa Rasulullah harus menyaksikan kepergian kedua belahan hatinya di saat belia. Lalu mereka tidak lagi berkesempatan menjumpai masa- masa lslam. Putri beliau empat. Mereka adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Zainab dinikahkan dengan Abul Ash AI Asadi atas permintaan Khadijah رضي الله عنها. Abul Ash adalah anak saudari kandungnya Halah binti Khuwailid. Ruqayyah dan Ummu Kultsum dinikahkan dengan Utsman bin Affan. Sedangkan Fathimah dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib. Putri-putri ini Allah takdirkan menjumpai masa kenabian, bahkan turut serta dalam hijrah. Namun pada akhirnya Rasul pun harus bersedih melepas kepergian belahan-belahan jiwanya. Semua meninggal di masa hidup Rasulullah. Terkecuali Fathimah yang menyusul ayahanda setengah tahun kemudian. KHADIJAH PENEGUH JIWA DI AWAL KENABIAN Menjelang turun wahyu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam senang menyendiri di gua Hira'. Kebiasaan ini menjadi amat beliau sukai setelah sering bermimpi dalam tidur, lalu mimpi itu menjadi kenyataan. Beliau beribadah kepada Allah di gua itu dengan sisa-sisa ajaran Ibrahim عليه السلام. Berhari-hari beliau jalani dalam keheningan, dengan bekal secukupnya dari Khadijah yang taat dan selaIu memompa semangat. Jika bekal habis, maka beliau pulang rumah, dan berangkat lagi dengan bekal baru dan tentu semangat baru. Rutinitas ini terus berjalan hingga datang wahyu Allah. Di saat yang hening, datanglah malaikat Jibril ke gua Hira‘. la membawa wahyu pertama dari Allah, surat Al'Alaq. "Bacalah!" Perintah jibril عليه السلام. "Aku tidak bisa membaca." Jawab Nabi. Kata Nabi. "Lalu ia meraihku dan mendekapku kuat-kuat hingga aku merasakan kepayahan. Kemudian dilepaskan." "Bacalah!" Pintanya lagi. "Aku tidak sanggup membaca." Ucap Nabi. Nabi menceritakan, "Untuk yang kedua kalinya ia kembali menarikku dan mendekapku dengan keras sampai aku merasa sesak. Barulah ia melepaskannya.” "Bacalah!" "Aku tidak tahu membaca." Nabi mengisahkan, ”Untuk yang ketiga kalinya ia kembali menarikku dan mendekapku dengan keras sampai aku merasa sesak. Barulah ia melepaskannya." Kemudian membacakan 5 ayat di permulaan surat AI ’Alaq. Setelah itu, Nabi pulang ke rumah Khadijah dengan qalbu yang bergoncang dahsyat. Beliau diliputi rasa takut sehingga meminta keluarganya untuk menutupkan selimut ke tubuh beliau untuk meredam takut. "Zammiluni...Zammiluni.. Selimutilah aku!” Setelah tenang, beliau ceritakan peristiwa itu selengkapnya kepada Khadijah رضي الله عنها dan menyatakan kekhawatiran atas dirinya. "Sungguh aku khawatir dengan diriku.” "Tidak mungkin. Allah tidak akan membuatmu terhina selama-lamanya. Bukankah engkau selalu menyambung tali kekerabatan, menanggung beban keluarga, manyantuni fakir miskin, memuliakan tamu, menolong kepentingan manusia dan hak-hak mereka? Tidak, Engkau tidak akan dihinakan." Sirnalah kekhawatiran pada diri beliau dengan tutur kata Khadijah yang penuh keyakinan. Tidak berhenti di sini upaya Khadijah untuk melipur Nabi. Diajaknya Rasulullah kepada Waraqah bin Naufal, anak pamannya yang telah berusia lanjut dan buta. la adalah pemeluk agama Nashrani di masa jahiliyah. Ia mampu menulis dengan bahasa Ibrani. lnjil pun disalinnya dengan bahasa Ibrani menurut apa yang dikehendaki Allah untuk ia tulis. "Wahai anak pamanku, simaklah cerita kemenakanmu ini.” ”Apa yang kau Iihat wahai anak saudaraku?" Maka Nabi bercerita dengan lengkap apa yang beliau alami di gua Hira‘ ketika awal turun wahyu. "Itu adalah An Namus yang pernah Allah utus kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan masih hidup ketika kaummu mengusirmu." ”Apakah mereka akan tega mengusirku." ”Sudah pasti, tidaklah ada seorang rasul yang membawa ajaran seperti ini kecuali pasti akan dimusuhi. Kalau aku menjumpai masa itu, aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga." Tak lama berselang, Waraqah meninggal. Wahyu pun terhenti beberapa saat Iamanya. KHADIJAH BERSEGERA MENYAMBUT DAKWAH TAUHID Ketika Nabi mulai berdakwah, Abu Bakar segera menyambut. la tolong Nabi mendakwahkan agama-Nya. Dengan dakwah Abu Bakar, masuk Islam pula di masa-masa itu Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Khadijah juga termasuk orang yang paling pertama menyambut dakwah ini. la beriman kepada Nabi. Membenarkan apa yang beliau bawa. Ia bantu Nabi dalam berdakwah sehingga tugas dakwah yang berat menjadi lebih ringan dengan izin Allah. Cemoohan, caci maki, pendustaan dari kaumnya saat berdakwah selalu sirna dan tiada artinya ketika pulang bertemu Khadijah. Tidaklah yang terucap dari lisannya kecuali kata-kata yang baik dan menentramkan jiwa, memberikan kekokohan pada qalbu Nabi untuk terus berjuang. KHADIJAH WAFAT Khadijah wafat 3 tahun sebelum Hijrah. Beberapa hari sebelumnya meninggal pula Abu Thalib, yang walaupun ia tidak mau masuk Islam, Allah menjadikannya sebagai sebab kafir Quraisy segan mengganggu Nabi. Setelah kematian pembela-pembela dakwah ini, orang-orang kafir Quraisy tidak lagi terhalangi untuk bertindak tegas kepada Nabi. Mereka menyakiti bahkan merencanakan pembunuhan. Namun upaya mereka selalu gagal, dipatahkan oleh Allah سبحانه وتعالى. NABI SULIT MELUPAKAN KHADIJAH رضي الله عنها Walaupun Khadijah رضي الله عنها telah meninggal, namun Nabi tidak bisa melupakan kebaikan-kebaikannya. Nabi tidak menikah dengan wanita lain kecuali 2 tahun setelah Khadijah meninggal. Wanita pertama yang beliau nikahi setelah Khadijah, adalah Aisyah. Aisyah berkata, "Aku tidak pernah cemburu kepada satu pun dari istri Rasulullah seperti kecemburuanku kepada Khadijah. Padahal aku tidak berjumpa. Terkadang nabi menyebut-nyebut kebaikan Khadijah di hadapanku. Menyembelih seekor domba Ialu dagingnya dibagi-bagikan kepada kerabat Khadijah. Terkadang aku tidak kuasa menyembunyikan kecemburuanku, sehingga aku katakan kepada nabi, seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah رضي الله عنها. Sungguh besar jasa Khadijah. Jasa yang tidak pernah dilupakan. Ia beriman saat manusia mengingkari. Membela saat manusia membenci dan memusuhi. Dikerahkan jiwa dan hartanya untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Semoga Allah meridhai Khadijah, ibunda kita, ibunda kaum mukminin seluruhnya, salah satu wanita terbaik di sisi Allah سبحانه وتعالى. JANJI UNTUK KHADIJAH رضي الله عنها Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa suatu hari datanglah Jibril kepada Nabi. ”Wahai Rasulullah, sebentar lagi Khadijah akan datang. Ia membawa sebuah bejana berisi Iauk, makanan, dan minuman." Kata Jibril membuka perbincangan. "Setibanya nanti, sampaikan salam untuknya dari Allah dan juga dariku," Ianjut Jibril. ”Kabarkanlah kepadanya dengan sebuah tempat tinggal yang terbuat dari permata. Tak kan terdengar suara-suara bising sedikit pun, tidak akan pula merasa |e|ah di dalamnya." Ucap Jibril menutup pembicaraan. Sumber || Majalah Qudwah Edisi 07 || https://t.me/Majalah_Qudwah

Hadits Aziz dan Masyhur Matan al-Baiquniyyah: عَزِيزُ مَرْوِي اثْنَيْنِ أوْ ثَلاَثَهْ ... مَشْهُورُ مَرْوِي فَوْقَ مَا ثَلَاثَهْ Aziz adalah yang diriwayatkan 2 orang atau 3...sedangkan masyhur adalah yang diriwayatkan lebih dari 3 orang (tiap tingkatan)(Mandzhumah al-Baiquniyyah) Definisi Hadits Aziz dan Masyhur Penjelasan: Dalam pengelompokan hadits berdasarkan jumlah perawi pada tiap tingkatannya, terkhusus definisi aziz dan masyhur, ada perbedaan pendapat Ulama, yaitu : Pendapat Pertama: Aziz adalah tiap tingkatan jumlah perawinya minimal 2 atau 3. Sedangkan Masyhur adalah tiap tingkatan jumlah perawinya lebih dari 3 namun belum sampai derajat mutawatir. . Ini adalah pendapat dari Ibnu Mandah, Ibnus Sholah, dan al-Baiquniy. Pendapat Kedua: Aziz adalah tiap tingkatan jumlah perawinya minimal 2. Sedangkan Masyhur adalah tiap tingkatan perawinya minimal 3, namun belum sampai derajat mutawatir. Ini adalah pendapat al-Hafidz Ibnu Hajar dan as-Sakhowiy. Makna Aziz Secara Bahasa Aziz secara bahasa bisa bermakna sulit atau kuat. Sulit, jika dilihat bahwa hadits Aziz keberadaannya sedikit. Hampir sulit didapatkan. Disebut juga kuat karena ia memiliki lebih dari satu jalur periwayatan, sehingga bisa menguatkan (disarikan dari Fathul Mughits karya as-Sakhowiy). Dalam al-Quran, Allah Ta’ala berfirman: إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ Ketika Kami mengutus kepada mereka 2 Rasul, tetapi mereka mendustakannya. Kemudian kami kuatkan dengan Rasul yang ketiga dan mereka (para Rasul) berkata: Sesungguhnya kami diutus kepada kalian (Q.S Yaasin ayat 14) Contoh Hadits Aziz Dalam kitab Nuzhatun Nadzhor fii Tawdhiihi Nukhbatil Fikar, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaaniy rahimahullah menyebutkan contoh hadits Aziz adalah hadits berikut: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ Tidaklah (sempurna) iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintai olehnya dibandingkan orangtuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya (H.R al-Bukhari, Muslim, anNasaai, Ibnu Majah) Orang yang meriwayatkan hadits ini dari Nabi adalah 2 orang Sahabat, yaitu Abu Hurairah dan Anas bin Malik. Sedangkan yang meriwayatkan dari Anas bin Malik ada 2 orang, yaitu Qotadah dan Abdul Aziz bin Shuhaib. Syuaibah dan Said meriwayatkan dari Qotadah. Sedangkan Ismail bin Ulayyah dan Abdul Warits bin Said meriwayatkan dari Abdul Aziz bin Shuhaib. Definisi Masyhur Selain Istilah Ulama Hadits Masyhur juga bisa bermakna hadits yang sudah banyak dinukil di kalangan orang awam, meski tidak jelas sanad atau keshahihannya. Al-Imam as-Sakhowiy meneliti hadits-hadits yang banyak tersebar dinukil oleh orang-orang, dalam kitab beliau berjudul: الْمَقَاصِدُ الْحَسَنَةُ فِي بَيَانِ كَثِيْرٍ مِنَ اْلأَحَادِيْثِ الْمُشْتَهَرَةِ عَلَى الْأَلْسِنَةِ Yang artinya, “Maksud yang baik dalam menjelaskan kebanyakan hadits-hadits masyhur (yang banyak ternukil) oleh lisan. Perbedaan Ahlussunnah dan Mu’tazilah dalam Menyikapi Hadits Aziz Menurut Ahlussunnah, suatu hadits meski tidak sampai pada taraf aziz, jika terpenuhi syarat sebagai hadits shahih, bisa diterima dan diamalkan. Sehingga suatu hadits yang gharib pun, namun shahih, bisa diterima sebagai hujjah. Sedangkan menurut Mu’tazilah – salah satu kelompok yang menyimpang-, seperti Abu Ali al-Jubba-iy, hadits yang bisa diterima minimal pada derajat Aziz. Mereka berdalil dengan peristiwa saat Umar tidak menerima hadits dari Abu Musa al-Asy’ariy tentang meminta izin sebanyak 3 kali. Umar meminta Abu Musa untuk mencari orang lain sebagai saksi yang mendengar hadits tersebut dari Nabi. Hingga yang menjadi saksi adalah Abu Said al-Khudriy. Bantahan terhadap pendapat Mu’tazilah ini adalah sebagai berikut: Pertama: Kaidah tersebut bertentangan dengan metode Ulama Hadits seperti al-Bukhari dan Muslim. Contohnya, hadits Innamal A’maalu bin Niyaat dan Hadits 2 Kalimat yang Ringan Tapi Berat di Timbangan. Kedua hadits itu tidak masuk dalam kategori aziz, namun diterima dan dimasukkan oleh al-Bukhari maupun Muslim dalam kitab Shahih keduanya. Kedua: Dalam kasus yang disampaikan tersebut, Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu tidaklah menuduh dan meragukan ketsiqohan Abu Musa. Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu menyatakan: أَمَا إِنِّي لَمْ أَتَّهِمْكَ وَلَكِنْ خَشِيتُ أَنْ يَتَقَوَّلَ النَّاسُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Sesungguhnya aku tidaklah menuduh engkau. Namun aku khawatir orang-orang akan bermudah-mudahan berdusta atas nama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam (H.R Malik dan Abu Dawud) Hal itu menunjukkan bahwa pada dasarnya Umar menerima hal itu secara pribadi, namun beliau ingin memberi pelajaran kepada orang lain agar tidak bermudah-mudahan mengaku mendengar suatu hadits dari Nabi padahal tidak demikian. Ketiga: Pada kejadian lain, terbukti Umar menerima hadits dari satu orang. Seperti hadits dari Abdurrahman bin Auf bahwa jika terjangkit wabah pada suatu tempat jangan memasukinya. Jika kita telah berada di dalamnya jangan keluar dalam rangka lari darinya (H.R al-Bukhari dan Muslim). فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَكَانَ مُتَغَيِّبًا فِي بَعْضِ حَاجَتِهِ فَقَالَ إِنَّ عِنْدِي فِي هَذَا عِلْمًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ قَالَ فَحَمِدَ اللَّهَ عُمَرُ ثُمَّ انْصَرَفَ Kemudian Abdurrahman bin Auf datang, setelah sebelumnya beliau pergi karena suatu keperluannya. Abdurrahman bin Auf berkata: Saya memiliki ilmu tentang hal ini. Saya mendengar Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Jika kalian mendengar wabah itu terjangkit pada suatu tempat, janganlah pergi menuju ke tempat itu. Jika ia menimpa suatu tempat saat kalian berada di dalamnya, janganlah keluar dalam rangka lari darinya. Kemudian Umar memuji Allah dan pergi (H.R al-Bukhari dan Muslim). Umar juga bergantian giliran dengan tetangganya, seorang Sahabat Anshar untuk mendengar hadits Nabi. Tetangganya itu hanya satu orang saja. Jika tiba giliran tetangganya itu mendatangi majelis Nabi, yang Umar tidak hadir, Sahabat Anshar itu nantinya saat pulang akan menceritakan hadits yang didengarnya dari Nabi. Begitulah mereka bergantian. Umar tidak menyuruh seorang tetangganya itu untuk mendatangkan saksi satu orang lain. Umar menerima penyampaian hadits dari satu orang tetangganya tersebut. Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu berkata: وَكَانَ لِي جَارٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا فَيَأْتِينِي بِخَبَرِ الْوَحْيِ وَغَيْرِهِ وَآتِيهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ Aku memiliki tetangga orang Anshar. Kami bergantian datang ke (majelis) Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Ia yang datang di suatu hari, hari kemudian adalah giliranku. (Demikian bergiliran tiap hari). Ia akan menyampaikan kepadaku khabar tentang wahyu dan selainnya, aku pun (pada giliranku) akan menyampaikan seperti itu kepadanya (H.R Muslim) (dikutip dari naskah buku "MUDAH MEMAHAMI ILMU MUSTHOLAH HADITS (Syarah Mandzhumah al-Baiquniyyah, Abu Utsman Kharisman) WA al I'tishom

LAHIRNYA SANG UTUSAN Al-Ustadz Idral Harits Thalib Abrar حفظه الله تعالى Kisah Kelahiran Nabi Muhammad Berita kematian Abdullah pun sampai juga ke telinga istrinya yang sedang mengandung, Aminah bintu Wahb. Abdul Muththalib, sang kakek, juga sangat terpukul mendengar berita te…

PENJAGAAN DIRI DARI SYAHWAT Pembagian Penjagaan Diri Yang Pertama  .Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah berkata : Penjagaan diri ada dua jenis, yaitu penjagaan diri dari dorongan syahwat kemaluan dan penjagaan diri dari dorongan syahwat perut. Adapun penjagaan diri…

 .“MEREKA” ITU ADA – Dinukil dari Majalah Qudwah Edisi 20 Volume 02 Tahun 2014 dalam rubrik “Kisahku” halaman 86 dengan sedikit pengeditan tulisan dan ejaan tanpa merubah makna- Kisah ini adalah tentang pondok pesantren Kami. Kisah yang sangat berkesan dan sulit dilupakan bagi yang mengalaminya. Kami adalah pengurus sebuah pondok pesantren. Awal perintisan pondok pesantren Kami kurang lebih 12 tahun yang lalu. Ketika itu, jangankan sebuah bangunan milik sendiri, tanah untuk mendirikan bangunan saja Kami tidak punya. Namun, Kami mencoba merintis sebuah pondok pesantren, awalnya hanya pondok pesantren putri, sekedar untuk mencari amalan kebaikan di jalan Allah, menyibukkan diri dengan belajar dan mengajar karena Allah, serta berharap dapat menyebarkan dakwah salaf di daerah Kami. Suatu keinginan yang tidak muluk-muluk. Kami memilih sebuah desa di dekat tempat tinggal Kami dengan beberapa pertimbangan. Desa itu adalah desa dengan penduduk Nasrani terbanyak di kecamatan Kami. Padanya terdapat gereja terbesar se-kecamatan. Misionarisme nampak jelas terlihat. Mungkin itu adalah salah satu alasan yang menyebabkan masyarakat di daerah itu antusias terhadap rencana Kami membangun sebuah pondok pesantren di sana. Beberapa kelompok organisasi Islam di sana yang biasanya berseteru, tiba-tiba sepakat mendukung rencana Kami tersebut. Mungkin dirasakan pendirian salah satu lembaga pendidikan Islam dapat menambah semangat mereka dalam menghadapi kaum misionaris, wallahu a’lam. Antusias penduduknya yang begitu besar terhadap rencana Kami itulah yang membuat Kami memilih desa tersebut. Sementara desa yang lain mayoritasnya masih terkungkung dengan adat istiadat yang begitu kental. Alhamdulillah, Kami dimudahkan oleh Allah untuk menggalang dana. Walau jumlahnya tidak begitu besar, tapi cukup untuk merenovasi sebuah rumah yang diserahkan oleh salah seorang warga desa untuk Kami pergunakan. Sebuah rumah kuno yang sudah lama tidak ditempati, tapi cukup luas untuk dijadikan tempat tinggal sementara sebelum pondok pesantren Kami memiliki bangunan sendiri. Tahun-tahun pertama, alhamdulillah, dapat Kami hadapi sekalipun bukan tanpa rintangan. Tapi dengan izin Allah, kegiatan belajar mengajar dapat berjalan sebagaimana yang Kami harapkan. Kami memulainya hanya dengan beberapa orang anak saja. Ketika masuk tahun ke-3, para santriwati hampir mencapai jumlah 60 orang. Di tahun ke-4, Allah berkenan untuk menguji Kami dengan suatu peristiwa, yaitu masa-masa di mana diganggunya Kami dengan serangan jin. Sebetulnya kejadian ini bukan yang pertama kali. Telah ada sebelumnya kejadian serupa beberapa kali, namun biasanya kejadiannya hanya sebentar dan hanya mengenai 1-2 orang tertentu saja. Tapi kejadian di waktu itu adalah kejadian yang terbesar dan paling berkesan yang pernah Kami alami. Padanya terdapat banyak pelajaran yang dapat Kami ambil, insya Allah. Kejadian itu bermula ketika salah seorang santriwati yang berusia kurang lebih 10 tahun seringkali menyendiri dan bermain sendirian di lahan jemuran belakang pondok. Para pengurus pondok pun melaporkan kejadian tersebut kepada ustadz/ustadzah pengurus. Maka untuk mengantisipasi kejadian tersebut diberlakukanlah jam sore, yaitu sebelum jam 5 sore anak-anak sudah tidak ada yang keluar rumah. Ketika aturan tersebut diberlakukan, maka anak tersebut pun berontak. Dia katakan bahwa dia harus ke tempat yang biasanya ia datangi karena seseorang telah menunggunya. Tapi tidak ada seorang anakpun yang pernah melihatnya bersama dengan orang lain. Ketika itu anak tersebut Kami tahan di dalam rumah. Lalu dia berkata bahwa ada yang memanggil-manggilnya dari luar rumah sehingga dia terus berusaha untuk bisa keluar rumah. Akhirnya Kami terpaksa meruqyahnya denga ayat-ayat Al Qur’an dan anak tersebut semakin menunjukkan tanda-tanda kerasukan jin. Ketika diruqyah, sang anak tersebut mulai meracau, dan terkadang di dalam racauannya tersebut jin yang merasukinya mengatakan bahwa aktifitas belajar mengajar yang Kami lakukan telah mengganggu tempat tinggal dan ketentraman mereka. Untuk itulah mereka mengancam akan membalas perbuatan Kami. Awalnya Kami tidak terlalu menanggapi serius ancaman tersebut. Kami mengira bahwa kejadian itu hanyalah sebagaimana gangguan jin biasa yang terjadi pada sebagian orang. Akan tetapi ternyata yang terjadi ketika itu adalah sebaliknya. Ancaman tersebut mereka buktikan. Beberapa hari berselang, banyak santriwati yang terkena serangan jin. Bukan hanya 2 atau 3 orang, tapi menyerang sekitar 12-13 orang. Setiap terjadinya serangan tersebut, yang terganggu secara bersamaan bisa mencapai 7 orang. Tingkat gangguan yang mereka alami berbeda-beda. Ada yang hanya merasa diganggu dari luar berupa disakiti beberapa bagian tubuhnya, akan tetapi masih dapat menguasai kesadaran dirinya. Dan ada pula yang sampai kehilangan kesadaran diri. Tidak jarang pula serangan tersebut terjadi di malam hari. Dari kejadian tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat Kami ambil, bahwasanya dunia jin itu adalah benar adanya sesuai dengan apa yang terdapat dalam Al Qur’an. Mereka berada di sekitar kita. Mereka dapat melihat kita dalam keadaan kita tidak bisa melihat mereka. Hanya saja, Allah bukakan sebagian tabir alam ghoib tersebut kepada sebagian manusia dan Allah tutupkan hal tersebut bagi sebagian yang lainnya yang Allah kehendaki. Karenanya, sebagian anak-anak ada yang bisa melihat para jin beraktifitas, dan sebagian anak lainnya sama sekali tidak bisa melihatnya. Oleh karena itulah, Kami tekankan kepada anak-anak agar tidak terpengaruh oleh tipu daya syaithon dari bangsa jin yang terkadang berusaha mengajak anak-anak berkomunikasi. Sebab, kabar dari bangsa jin tidak bisa serta merta kita percayai dikarenakan memang sulit bagi kita untuk mencari bukti dari setiap ucapan mereka. Kabar dari mereka hanya bisa kita percayai jika kita mendapatkan bukti nyata dari apa yang mereka beritakan. Ketika itu, banyak keguncangan terjadi pada anak-anak didik Kami dan begitu pula kepada para orang tua mereka. Mereka yang sebagian besarnya baru mengenal dakwah ahlussnnah seakan-akan telah dibuat menjadi ragu : “Bukankah kita ini menuntut ilmu agama yang benar? Lantas mengapa justru kita diuji dengan perkara seperti ini?” Allahul Musta’an, hanya Allah saja lah tempat Kami memohon pertolongan. Kami lalu mencoba untuk menjelaskan kepada mereka para orang tua bahwasanya Allah Ta’ala teah mengkabarkan di dalam Al Qur’an bahwa setiap nabi dan pewaris para nabi pasti akan dijadikan padanya musuh-musuh berupa syaithon dari bangsa jin dan manusia sebagai salah satu bentuk ujian. Allah Ta’ala berfirman : وَكَذَٲلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّ۬ا شَيَـٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِى بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ۬ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورً۬اۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithon-syaithon [dari jenis] manusia dan [dari jenis] jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu [manusia]. Jika Robb mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. [Surat ke-6 Al An’am ayat 112] Dan bukankah iblis la’natullahi ‘alaih sebagai cikal bakal bangsa jin itu sendiri telah bersumpah akan menyesatkan manusia semuanya? Akan tetapi dia sendiri mengakui bahwasanya dia tidak memiliki daya dan upaya untuk menyesatkan dan memudhorotkan hamba-hamba Allah yang ikhlash dan bertauhid dengan benar kepada-Nya. Hal ini sebagaiman firman Allah : قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِى لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَأُغۡوِيَنَّہُمۡ أَجۡمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡہُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ Iblis berkata: “Wahai Robb ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat maka pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik [perbuatan maksiat] di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (39) kecuali hamba-hamba Mu yang ikhlash di antara mereka”. (40) [surat ke-15 Al Hijr ayat 39-40] Selain berintropeksi dan memohon pertolongan Allah, Kami pun berusaha memeriksa keadaan rumah yang ditempati para santriwati karena tidaklah menutup kemungkinan rumah kuno yang Kami ttempati tersebut telah diberi penjagaan mistis (jimat) sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang di desa Kami. Tapi saat itu Kami tidak menemukan sesuatu apapun. Ustadz Kami pun memiliki prasangka yang kuat bahwa kemungkinan jimat tersebut ditanam di bawah pondasi rumah, dan tentu saja Kami berbuat apapun jika keadaannya demikian. Maka Kami mencoba menghadapi cobaan tersebut dengan meruqyah anak-anak yang terkena gangguan jin. Masing-masing anak mempraktekkan ruqyah tersebut karena Kami sangat membutuhkan tenaga mereka secara bergantian untuk mengobati teman-temannya dengan ruqyah. Sekalipun demikian, Kami tetap mencoba agar proses belajar mengajar bisa terus berjalan semampu Kami. Karena Kami pun tidak ingin apa yang dikehendaki oleh musuh Allah dari kalangan jin dan manusia berupa menghambat dakwah dapat tercapai. Lagipula, Kami merasa perlu untuk semakin mempertebal keyakinan dan pemahaman para santriwati terhadap agama Islam ini terutama dalam masalah tauhid, sehingga diharapkan semakin baik Kami mengamalkan tauhid tersebut maka Allah akan semakin menolong Kami dan memberikan kemudahan dan penjagaan dari gangguan syaithon. Tidak lupa pula Kami berusaha memberikan penjelasan yang mudah dipahami kepada para orang tua dan warga sekitar agar mereka tidak merasa takut terhadap kejadian ini, yang mana terkadang warga sekitar pun ikut mendengar aktifitas ruqyah yang Kami lakukan. Walhamdulillah, mereka bisa memahami hal ini. Bahkan sebagian warga pun ada yang memberitahukan bahwasanya rumah yang Kami tempati dahulunya pernah dipergunakan untuk aktifitas perdukunan, sehingga sebagian warga justru ada yang bersimpati dengan keadaan Kami dan turut memberikan bantuan berupa makanan atau minuman untuk Kami yang sering kelelahan ketika meruqyah. Dan masya Allah, berkat pertolongan Allah pula kemudian usaha santriwati dan bantuan sebagian ikhwah sekitar setelah waktu kurang lebih 2 pekan, gangguan tersebut hilang. Dan mayoritas anak yang awalnya terganggu oleh jin kemudian sembuh, meskipun pula sebagian anak-anak tersebut ada yang bisa menyaksikan sebagian kehidupan bangsa jin di sekitarnya. Di antara anak-anak ada yang menyaksikan bahwa ada sekelompok jin yang ikut ta’lim bersama Kami di pondok. Yang dari bangsa jin wanita nya ada yang duduk-duduk berdampingan dengan para santriwati, dan yang dari bangsa jin laki-laki nya ada yang duduk-duduk di atas palang pintu ikut mendengarkan ta’lim. Akan tetapi bangsa jin tersebut tidak memperdulikan anak-anak yang bisa menyaksikan aktifitas mereka tersebut. Kalaulah benar apa yang disaksikan oleh sebagian anak-anak tersebut -dan Allah yang paling mengetahui- maka apa yang anak-anak saksikan tersebut semakin menambah keyakinan Kami terhadap apa yang telah Allah Ta’ala firmankan dalam surat Al Jinn tentang kehidupan bangsa jin yang mendapatkan hidayah ketika mendengarkan bacaan Al Qur’an. Maka tentunya Kami bersyukur kepada Allah dengan hal tersebut. Kami meyakini bahwasanya Allah Ta’ala akan meninggikan agama-Nya baik itu di kalangan manusia maupun di kalangan bangsa jin. Kami pun tetap bersyukur bahwa sekalipun pada saat serangan bangsa jin yang terakhir tetap ada ancaman serangan berikutnya, akan tetapi Kami tidak memperdulikannya dan tetap bertawakkal kepada Allah Ta’ala. Bagi Kami, hilangnya serangan jin tersebut adalah sebuah nikmat besar yang harus disyukuri. Kalaupun kelak Allah dengan hikmah-Nya berkehendak akan menguji Kami dengan hal serupa, maka Kami meyakini bahwa itulah yang terbaik bagi Kami dan insya Allah Kami dapat menghadapinya dengan pertolongan Allah Ta’ala. Qodarullah, dengan kehendak Allah, memang itulah yang terjadi. Selang kurang lebih 1 bulan berikutnya, peristiwa serangan bangsa jin terjadi lagi. Kali ini anak-anak santriwati yang terkena serangan sekitar 8 orang dan terkadang terjadi secara bersamaan. Jika pada serangan sebelumnya anak-anak yang terkena gangguan jin tersebut mengaku diganggu oleh jin berwujud manusia dengan berbagai bentuk menyeramkan, maka kali ini mereka mengaku diganggu oleh sekelompok jin yang mayoritasnya berwujud binatang. Akan tetapi walau bagaimanapun Kami tetap bersyukur kepada Allah dikarenakan pada saat kejadian tersebut ternyata ada anak-anak yang sebelumnya terkenan gangguan, tapi pada serangankali ini mereka justru dapat turut membantu meruqyah temannya yang terkena gangguan jin. Dan anehnya, kali ini serangan bangsa jin tersebut seakan-akan mengenal karakteristik Kami. Jika Kami para ustadz/ustadzah pengurus pondok sedang datang ke pondok, maka serangan jin itu berhenti. Akan tetapi jika Kami pulang ke rumah kediaman Kami yang berjarak kurang lebih 15 menit berkendaraan bermotor, maka mereka kembali menganggu. Kami memang diharuskan untuk pulang ke rumah kediaman Kami dikarenakan masih mempunyai tanggungan orang tua yang tinggal bersama Kami dan ketika itu mereka belum berkenan untuk Kami ajak pindah mendekati pondok. Dengan kondisi ini, maka Kami terpaksa pulang pergi untuk mengurusi pondok dan orang tua Kami. Akhirnya Kami kembali meruqyah anak-anak yang terkena gangguan jin, sambil terus berdo’a kepada Allah memohon pertolongan atas musibah yang kembali terjadi ini. Terus menerus ujian ini datang selama 2 pekan, dan mayoritasnya terjadi di saat Kami tidak ada di pondok. Apabila Kami datang ke pondok -dengan izin Allah- gangguan jin tersebut berhenti. Akan tetapi baru saja baru saja Kami menginjakkan kaki ke rumah kediaman, telepon berdering dan memberitahukan bahwa terjadi gangguan jin lagi. Allahul Musta’an. Akhirnya Kami berkesimpulan bahwasanya ada isyarat yang hendak Allah tunjukkan kepada Kami dan juga santriwati bahwa ujian ini seakan khusus bagi mereka. Karena terkadang Kami menjumpai bahwa sebagian anak yang terganggu tersebut masih ada yang memanggil-manggil nama Kami atau nama-nama temannya yang dia harapkan dapat menyembuhkannya. Kami lalu memberikan pemahaman kepada anak-anak yang terkena gangguan jin tersebut bahwasanya satu-satunya pertolongan adalah dari Allah Ta’ala saja. Adapun bantuan yang Kami berikan hanyalah sebatas perantara yang Allah jadikan sebagai turunnya pertolongan. Sehingga janganlah tertipu dengan tipu daya syaithon yang ingin memalingkan manusia dari memohon pertolongan kepada Allah semata menjadi memohon pertolongan kepada selain Allah dalam perkara yang hanya Allah saja yang mampu menolongnya. Untuk memberikan semangat kepada mereka, salah satu pengurus pondok melantunkan talbiyah sebagai bentuk penyerahan diri dan kepasrahan kepada Allah Ta’ala. Sungguh alunan talbiyah itu begitu menggugah hati dan keimanan Kami. Ketika itu Kami pasrah dan menyerahkan sepenuhnya perkara ini kepada Allah Ta’ala karena hanya Allah saja lah yang menguasai segala urusan. Kami pun tetap memuji dan bersyukur kepada-Nya dengan apapun keadaan Kami, dan tiada sekutu bagi-Nya dalam segala bentuk peribadatan. لَبَّيْكَ اللّٰهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَ الْمُلْكَ ، لَا شَرِيْكَ لَكَ Kami datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Kami datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Kami datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan kenikmatan adalah milik-Mu semata. Tiada sekutu bagi-Mu. Maka ketika Kami pulang dari pondok dan telepon kembali berdering mengabarkan gangguan yang terjadi lagi, Kami memutuskan untuk tidak kembali ke pondok. Kami ingin agar anak-anak menghadapi perkara tersebut dengan memohon pertolongan dari Allah Ta’ala saja, tanpa tergantung kepada Kami atau siapapun. Sementara itu, bimbingan tetap Kami berikan melalui telepon seraya terus memohon pertolongan Allah. Alhamdulillah, mereka para santriwati mengerti maksud Kami tersebut. Maka mereka pun berusaha membantu memberikan pertolongan kepada teman-temannya yang terganggu dengan bimbingan Kami melalui telepon. Lantunan ayat-ayat Al Qur’an terus diperdengarkan untuk meruqyah teman mereka yang terganggu, sambil terus memohon pertolongan Allah Ta’ala. Setelah beberapa waktu berselang, tiba-tiba dikabarkan bahwa anak-anak yang terganggu serentak terdiam padahal sebelumnya mereka menjerit kesakitan. Bahkan yang cukup mengherankan, salah seorang anak yang terganggu tersebut ada yang melantunkan talbiyah sebagaimana yang pernah dilantunkan oleh salah seorang pengurus pondok, padahal anak tersebut belum pernah mendengar ucapan talbiyah tersebut. Di antara mereka ada pula yang terdiam sambil menangis, kemudian mengangguk-angguk seakan-akan sedang mendengarkan suatu perkataan seseorang lalu membenarkannya. Pengurus pondok (musyrifah) meminta bimbingan Kami apa yang harus dilakukan terhadap anak-anak tersebut. Kami lalu meminta mereka untuk tetap meneruskan ruqyahnya sambil terus memohon pertolongan Allah Ta’ala. Setelah beberapa waktu kemudian satu per satu anak-anak yang terganggu pun mulai tersadarkan. Allahu Akbar. Sekitar 7-8 anak yang terganggu itu pun kemudian menceritakan perkara yang satu sama lainnya tidak jauh berbeda. Mereka bercerita bahwa ketika mereka sedang terganggu, Allah mentaqdirkan mereka untuk bisa melihat sebagian alam bangsa jin yang ada di sekitar mereka. Penglihatan mereka tentang perkara tersebut tidak sama persis satu sama lainnya sesuai kadar sakit yang dideritanya, akan tetapi satu sama lainnya saling melengkapi. Anak-anak itu menceritakan bahwa terlihat sekelompok pasukan datang membantu mereka untuk melawan sekelompok jin yang mayoritasnya berwujud binatang tersebut. Kedua pasukan itu bertempur dengan dahsyatnya. Pasukan yang membantu itu berpenampilan sebagaimana manusia dengan pakaian layaknya laki-laki yang berpenampilan syar’i, lalu di antara mereka ada yang bertempur sambil bertalbiyah sebagaimana yang pernah dilantunkan oleh salah satu pengurus pondok. Itulah sebabnya anak yang sedang terganggu, alam bawah sadarnya sanggup menirukan apa yang dia lihat, akan tetapi ketika sudah sadar ternyata ia tidak mampu mengulanginya. Di antara pasukan yang membantu tersebut ada yang terluka atau terbunuh lalu ditarik mundur ke belakang pasukan oleh temannya, sementara yang lainnya terus bertempur hingga kemenangan dapat mereka peroleh dengan izin Allah Ta’ala. Setelah itu salah seorang pemimpin pasukan yang membantu tersebut mengajak bicara anak-anak yang terganggu tadi dan menyampaikan nasihat untuk berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As Sunnah, memperbaiki tauhid, memperhatikan syari’at-syari’at Allah, dan tidak lupa pula menitipkan salam kepada Kami. Allahu Akbar. Kami pun tidak merasa perlu untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, sekalipun sulit rasanya bagi 7 orang anak-anak untuk berdusta tanpa berdiskusi dulu satu sama lain di waktu yang bersamaan. Akan tetapi Kami serahkan ta’wil perkara tersebut kepada Allah Ta’ala. Bagi Kami, pertolongan Allah kepada mereka hingga akhirnya sadar dan tidak pernah lagi terulang peristiwa tersebut sudah merupakan nikmat besar yang sangat Kami syukuri. Terlebih lagi, Kami bisa melihat perkembangan anak-anak yang pernah diganggu tersebut ternyata pemahaman mereka tentang perkara tauhid semakin mantap setelah terjadinya peristiwa tersebut dengan izin Allah. Walhamdulillah. Setelah anak-anak angkatan ke-2 tersebut lulus, Kami pun mendapati bahwa nilai mereka rata-rata sangat memuaskan. Bahkan hal ini tidak Kami dapati pada angkatan-angkatan selanjutnya. Kami pun mendapati kenyataan bahwasanya banyak dari anak-anak tersebut yang kemudian di masa dewasanya diberi amanah oleh Allah Ta’ala untuk menjadi istri dari para da’i atau ustadz di berbagai daerah guna membantu suami-suami mereka dalam medan dakwah. Adapun pondok Kami, setelah kejadian tersebut mendapatkan sebidang tanah waqof yang cukup luas untuk dapat Kami dirikan pondok pesantren beserta kelengkapannya. Dan dalam waktu yang relatif singkat (kurang lebih 3 tahun) Kami sudah bisa menempati tanah tersebut beserta perlengkapannya dan seiring berjalannya waktu semakin berkembang, alhamdulillah. Apa yang Kami alami berupa peristiwa tersebut semakin membuat Kami yakin bahwasanya tidaklah Allah Ta’ala menguji kecuali sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Dan ujian dari Allah adalah sarana untuk memberikan pelajaran dan mempersiapkan diri-diri kita untuk mengemban amanah yang lebih besar di waktu mendatang. Dan yang lebih menakjubkan lagi, 6 tahun setelah peristiwa tersebut ternyata ada salah seorang ikhwan yang berniat membeli rumah yang dahulu Kami tempati itu. Pemiliknya memang menjualnya dengan harga cukup murah dikarenakan setelah Kami tinggalkan ternyata tidak ada yang berani memakai rumah itu apalagi membelinya. Maka ustadz Kami pun memberikan saran kepada ikhwan tersebut agar sebelum mendirikan bangunan baru, hendaknya ia menggali ke dalam pondasi rumah sekitar kedalaman 1 meter untuk mencari kemungkinan adanya rajah atau jimat yang ditanam di sana sebagaimana kebiasaan warga di desa tersebut dan juga berdasarkan dugaan kuat ustadz Kami tersebut. Maka saran ini pun dilakukan. Allahu Akbar, ternyata setelah digali ditemukanlah 3 buah rajah di beberapa sudut pondasi rumah berupa botol tertutup dan di dalamnya terdapat lembaran-lembaran kertas berisi tulisan aksara Jawa kuno. Dan yang lebih mengherankan adalah ditemukannya seekor ular besar melingkar di tengah-tengah pondasi rumah. Anehnya, ular tersebut berdiam diri tanpa berusaha membuat jalan keluar.Besar ular tersebut sekitar seukuran paha laki-laki dewasa dengan panjang sekitar 5 meter. Ular itu memiliki tanduk kecil di kepalanya. Warga desa pun turut menyaksikannya. Maka warga pun memanggil pawang ular untuk mengambil ular tersebut. Ketika diambil, ular tersebut tidak berontak sama sekali. Akan tetapi, beberapa waktu kemudian terdengar kabar dari si pawang bahwa ular tersebut menghilang dari rumahnya tanpa diketahui penyebabnya. Allahu A’lam. Semua peristiwa yang terjadi tersebut padanya terdapat hikmah yang sangat besar bagi kita semua, bahwasanya segala yang didapat oleh seseorang adalah murni berkat karunia dari Allah Ta’ala. Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan-Nya. Dakwah itu milik Allah, maka Dia pula yang akan menjaganya. Allah akan memberikan hasil yang baik jika kita melakukan hal yang baik pula. Maka hal tersebut memperingatkan kepada Kami untuk senantiasa memperbaiki niat, memperbaiki tauhid, dan memperbaiki segala langkah yang ditempuh dalam medan dakwah ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kemudahan dan pertolongan-Nya kepada Kami, terkhusus para pengampu dakwah di mana pun mereka berada. Aamiin. Allahu A’lam. Baca juga : KISAH KETUA LDK MENEMUKAN MANHAJ SALAF Sumber : https://pentasatriya.wordpress.com/2014/09/30/mereka-itu-ada/

KAPAN BARU MEMULAI Di antara sejumlah nikmat Allah subhanahu wa ta'ala kepada kita ialah Dia memberi kecukupan rizki dan juga sedikit kelebihan harta pada kita dan keluarga. Dan apa yang Allah ta'ala telah lebihkan akan kian bermanfaat dan langgeng kepemilikannya ketika kelebihan harta itu diinf…

TERTOLAK, MESKI BERINFAK SEGUNUNG EMAS Oleh : Al-Ustadz Abu Falih Yahya حفظه الله تعالى “Apabila kalian bertemu mereka, katakan bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat Yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang mereka …

DZULQARNAIN SANG PENAKLUK Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc حفظه الله تعالى Kisah Dzulqarnain Sang Penakluk Kisah Dzulqarnain berawal dari kedatangan sekelompok musyrikin kepada Rasulullah ﷺ mengajukan tiga buah pertanyaan. Tentang roh, tentang para pemuda penghuni gua (Ashabul kahfi), dan Dzulqarnain. Yahudilah sesungguhnya yang telah membisikkan kepada musyrikin Quraisy agar menanyakan tiga hal tersebut. Allah سبحانه وتعالى berfirman: وَيَسْـَٔلُونَكَ عَن ذِى ٱلْقَرْنَيْنِ “Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain.” [Q.S. Al Kahfi: 83]. Siapakah Dzulqarnain? Dalam kitab-kitab tafsir dinukilkan perbedaan pendapat di kalangan ulama tentangnya. Apakah ia seorang nabi atau bukan? Al-Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Aku tidak tahu apakah Tubba’ seorang nabi atau bukan? Dan aku tidak tahu apakah Dzulqarnain seorang nabi atau bukan ❓”¹ Seandainya hadits ini shahih, niscaya kita juga akan katakan sebagaimana Rasulullah ﷺ sabdakan. Terlepas dari silang pendapat ahli tafsir tentang kedudukannya sebagai nabi atau bukan, yang pasti Dzulqarnain adalah seorang raja shalih, penguasa yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Di antara perkara yang menunjukkan keimanan beliau, beliau selalu menyeru Rabb-Nya. Hal ini menunjukkan penghambaannya kepada Allah. Berulang kali Dzulqarnain mengucapkan: Rabbku, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى kisahkan: قَالَ هَـٰذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّى ۖ فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ رَبِّى جَعَلَهُۥ دَكَّآءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّى حَقًّا “Dzulqarnain berkata, ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabbku, Dia akan menjadikannya hancur luluh. Dan janji Rabbku itu adalah benar.” [Q.S. Al Kahfi: 98]. Dzulqarnain yang termaktub dalam surat Al-Kahfi bukanlah Iskandar Dzulkarnaen atau Alexander The Great, penguasa asal Makedonia. Dzulqarnain dalam surat Al-Kahfi adalah seorang muslim. Adapun Alexander The Great adalah seorang musyrik. Demikian diterangkan Syaikhul Islam. Allahu a’lam. Allah سبحانه وتعالى turunkan wahyu kepada Nabi dan Rasul-Nya sebagai jawaban atas tantangan musyrikin. Allah سبحانه وتعالى berfirman: قُلْ سَأَتْلُوا۟ عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرًا “Katakanlah (wahai Nabi), ‘Aku akan bacakan kepada kalian sebagian cerita tentangnya.’” [Q.S. Al-Kahfi: 83]. Telah dimaklumi, bahwa apa yang Allah سبحانه وتعالى kisahkan dalam Al-Quran adalah sebaik-baik kisah. Kisah yang paling bermanfaat. Allah سبحانه وتعالى berikan kepada Dzulqarnain kemuliaan dan kekuasaan di muka bumi. إِنَّا مَكَّنَّا لَهُۥ فِى ٱلْأَرْضِ وَءَاتَيْنَـٰهُ مِن كُلِّ شَىْءٍ سَبَبًا “Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.” [Q.S. Al Kahfi: 84]. Yakni Allah سبحانه وتعالى anugerahkan segala sebab yang dengannya terwujudlah kekuasaan. Baik berupa ilmu siasah (politik) kenegaraan, kemampuan pengaturan, tentara, kekuatan persenjataan, dan sebab-sebab lain. Kekuasaan yang Allah سبحانه وتعالى berikan kepadanya, memudahkan Dzulqarnain untuk mengelilingi penjuru bumi. Dengan pasukannya yang kuat, ia menyebarkan Islam, berdakwah kepada manusia untuk menauhidkan Allah سبحانه وتعالى. MENUJU BELAHAN BUMI SEBELAH BARAT Di antara yang Allah سبحانه وتعالى kisahkan, Dzulqarnain mengarahkan pasukan, menjelajah belahan bumi sebelah barat. Kemenangan demi kemenangan menyertai perjuangan Dzulqarnain. Hingga sampailah ia di sebuah wilayah, di mana matahari terlihat tenggelam di samudra. Allah سبحانه وتعالى berfirman: فَأَتْبَعَ سَبَبًا . حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ ٱلشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِى عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِندَهَا قَوْمًا “Maka dia pun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, & dia mendapati di situ segolongan umat.” [Q.S. Al Kahfi: 85-86]. Maksud dari ayat ini, Dzulqarnain dalam perjalanannya ke arah barat mencapai akhir daerah yang mampu ditempuh manusia dengan pasukan kuda dan semisalnya. Di tempat inilah beliau dapatkan satu kaum yang terdiri dari muslim dan kafir. Allah سبحانه وتعالى mengilhamkan kepadanya atau mewahyukan kepadanya, atau yang berkata adalah seorang nabi atau ulama, agar Dzulqarnain memberikan keputusan bagi penduduk negeri tersebut. Allah سبحانه وتعالى berfirman: قُلْنَا يَـٰذَا ٱلْقَرْنَيْنِ إِمَّآ أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّآ أَن تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا “Kami berkata, ‘Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’” [Q.S. Al Kahfi: 86]. Dzulqarnain lalu mengumumkan bahwa siapa saja yang zalim akan dihukum di dunia, kemudian hisabnya di sisi Allah nanti di akhirat. Adapun mereka yang beriman, mereka akan dimuliakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman: قَالَ أَمَّا مَن ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُۥ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِۦ فَيُعَذِّبُهُۥ عَذَابًا نُّكْرًا وَأَمَّا مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًا فَلَهُۥ جَزَآءً ٱلْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُۥ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا “Berkata Dzulqarnain, ‘Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.’” [Q.S. Al Kahfi: 87-88]. Perkataan Dzulqarnain menunjukkan keadilan yang ditegakkan di kerajaannya. Dan ayat ini di antara dalil yang menunjukkan bahwa beliau seorang muslim. Seorang yang mengimani hari pembalasan dan seorang pemeluk tauhid. MENUJU BELAHAN BUMI SEBELAH TIMUR Seusai kemenangan demi kemenangan dalam perjalanannya menyisir belahan bumi bagian barat, Dzulqarnain mengarahkan pasukan untuk menjelajah negeri-negeri timur. Ia melanjutkan penjelajahan yang Allah سبحانه وتعالى berkahi, perjalanan dengan risalah tauhid. Sampailah di ujung bumi paling timur dimana matahari terbit darinya. Di negeri tersebut Dzulqarnain mendapati kaum yang tidak terlindungi dari panas matahari. Mereka tidak memiliki rumah-rumah tempat tinggal untuk berteduh. Mereka benar-benar tinggal di pedalaman, terpencil seperti binatang-binatang liar yang berlindung ke gua-gua. Terasing dari manusia lain. Ini menunjukan bahwa dia telah tiba di daerah yang belum pernah dijangkau penguasa mana pun. Allah سبحانه وتعالى berfirman: ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ ٱلشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَّمْ نَجْعَل لَّهُم مِّن دُونِهَا سِتْرًا كَذَٰلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا “Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur), dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah, dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.” [Q.S. Al Kahfi: 89-91]. Dalam perjalanannya ke arah timur pun, Dzulqarnain memberlakukan hukum seperti hukumnya dalam perjalanan di bumi bagian barat. DINDING KOKOH PENGHALANG YA’JUJ MA’JUJ Seusai beliau kuasai bagian timur bumi, beliau lanjutkan perjalanan hingga tiba di suatu tempat di antara dua gunung, di antara keduanya celah. ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ ٱلسَّدَّيْنِ وَجَدَ مِن دُونِهِمَا قَوْمًا لَّا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا “Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.” [Q.S. Al Kahfi: 92-93]. Berkata As Sa’di رحمه الله, “Keduanya adalah deretan pegunungan besar yang tinggi. Sambung menyambung di tempat yang luas itu, yaitu suatu dataran tinggi sampai laut sebelah timur dan barat di daerah Turki. Demikianlah disepakati para ahli tafsir dan ahli tarikh. Namun, kemudian mereka berselisih apakah pegunungan itu termasuk rangkaian gunung-gunung Qafqas (Kaukasus), atau yang lain di daerah Azerbaijan. Atau rangkaian gunung-gunung Tay atau gunung-gunung yang bersambung dengan tembok Cina di negeri Mongolia, dan inilah yang tampak. Apa pun pendapat ulama tentang daerah yang diapit dua gunung itu, di tempat itulah Dzulqarnain menemukan suatu bangsa yang hampir tidak mengerti suatu bahasa pun. Karena asingnya bahasa mereka dan susahnya mereka memahami bahasa bangsa lain.” [Qashashul Anbiya, As Sa’di رحمه الله hal. 163]. Ada kebahagiaan terselip di hati kaum ketika berjumpa dengan Dzulqarnain, seorang raja shalih yang kuat. Mereka keluhkan kejelekan Ya’juj dan Ma’juj. Mereka mohon Dzulqarnain membuat penghalang yang menutupi jalan Ya’juj dan Ma’juj. Tidak lupa mereka tawarkan kepada Dzulqarnain imbalan atas pekerjaan yang akan dilakukan. قَالُوا۟ يَـٰذَا ٱلْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰٓ أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا “Mereka berkata, ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Mu’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka’” [Q.S. Al Kahfi: 94]. Dzulqarnain tidak mengharap imbalan. Beliau hanya meminta bantuan dalam membangun dinding kuat tersebut. قَالَ مَا مَكَّنِّى فِيهِ رَبِّى خَيْرٌ فَأَعِينُونِى بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا “Dzulqarnain berkata, ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik. Maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kalian dan mereka.’” [Q.S. Al Kahfi: 95]. ءَاتُونِى زُبَرَ ٱلْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ ٱلصَّدَفَيْنِ قَالَ ٱنفُخُوا۟ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَعَلَهُۥ نَارًا قَالَ ءَاتُونِىٓ أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا فَمَا ٱسْطَـٰعُوٓا۟ أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا ٱسْتَطَـٰعُوا۟ لَهُۥ نَقْبًا “Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain, ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.” [Q.S. Al Kahfi: 96-97]. Seusai pekerjaan besar itu, Dzulqarnain memandang hasil pekerjaan besarnya. Namun, tidak sedikit pun beliau bangga dan ujub. Ia kembalikan semuanya kepada keutamaan Allah سبحانه وتعالى. Dengan penuh tawadhu, Dzulqarnain berkata seperti yang Allah سبحانه وتعالى kabarkan: قَالَ هَـٰذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّى “Dzulqarnain berkata, ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku.’” [Q.S. Al Kahfi: 98]. Dinding itu demikian kokoh. Menghalangi Ya’juj Ma’juj hingga akhir zaman. Dinding itu terus menghalangi, hingga Allah سبحانه وتعالى izinkan kehancurannya nanti di akhir zaman. Allah سبحانه وتعالى berfirman: فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ رَبِّى جَعَلَهُۥ دَكَّآءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّى حَقًّا “Maka apabila sudah datang janji Rabbku, Dia akan menjadikannya hancur luluh. Dan janji Rabbku itu adalah benar.” [Q.S. Al Kahfi: 98]. Ya, dinding itu tidak kekal selamanya. Ada saat Allah izinkan Ya’juj dan Ma’juj menembusnya. Kehancurannya sebagai tanda akan segera tegaknya hari kiamat. Allah سبحانه وتعالى berfirman: حَتَّىٰٓ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” [Q.S. Al-Anbiya’: 96]. FAEDAH-FAEDAH KISAH: Kisah Dzulqarnain adalah dalil kenabian Rasulullah ﷺ. Yahudi berkata kepada Musyrikin, bahwa pertanyaan ini tidak ada yang mampu menjawabnya kecuali seorang Nabi. Kisah Dzulqarnain sesungguhnya masyhur di kalangan Ahlul kitab. Meskipun banyak ketidakjelasan mengitari kisah tersebut. Kemukjizatan Al-Quran sebagai kitab yang mengabarkan berita-berita ghaib. Rasul tidak tahu perkara ghaib. Beliau hanya membacakan dan menyampaikan apa yang Allah wahyukan. Di antara model pertanyaan yang diajukan kepada seorang alim adalah pertanyaan menguji, bukan untuk mencari kebenaran. Yang seperti ini tercela. Sebagaimana pertanyaan musyrikin yang diajukan kepada Rasulullah ﷺ tentang Dzulqarnain. Kekuasaan, kemuliaan adalah dari Allah سبحانه وتعالى. Dia yang memberi, Dia pula yang mencabutnya. Menempuh sebab-sebab yang disyariatkan untuk tercapainya sebuah cita-cita dan tujuan mulia. Wajib bagi seorang hamba menyandarkan semua nikmat dan kebaikan kepada Allah. Lihatlah perkataan Dzulqarnain, lihat pula perkataan Nabi Sulaiman عليه السلام ketika singgasana Ratu Saba’ diangkat dari Yaman ke Palestina dengan demikian cepatnya, sebelum mata berkedip. Nabi Sulaiman عليه السلام bersyukur seraya mengatakan: قَالَ هَـٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ “Ini adalah salah satu karunia Rabbku kepadaku, untuk mencoba apakah aku bersyukur atas karunia-Nya itu atau mengingkari-Nya.” [Q.S. An Naml: 40]. Kisah Dzulqarnain adalah contoh figur penguasa yang adil, tawadhu’, dan jauh dari kibr (kesombongan). Bolehnya menjadikan upah atas pekerjaan. Disyariatkannya ta’awun (saling membantu) dalam kebaikan. Balasan sesuai dengan amalan. Kisah Dzulqarnain adalah di antara dalil adanya karamah bagi wali-wali Allah. Di antara karamah Dzulqarnain; membangun dinding penghalang Ya’juj Ma’juj yang sangat kokoh hingga hari kiamat. Allahu a’lam. Catatan Kaki: 1) Al-Mustadrak no. 3682. Dan melalui jalan Al-Hakim, Al-Baihaqi mengeluarkan hadits ini dalam As-Sunan Al-Kubra (8/570), dalam sanadnya ada Abdurrahman bin Hasan Al-Qadhi, Munkarul Hadits. Sumber || http://ismailibnuisa.blogspot.com/2016/12/dzulqarnain-sang-penakluk.html?m=1

HADITS MUSALSAL Matan al-Baiquniyyah: مُسَلْسَلٌ قُلْ مَا عَلَى وَصْفٍ أَتَى ... مِثْلُ أَمَا وَاللهِ أَنْبَانِي الْفَتَى Katakanlah musalsal adalah (hadits) yang datang dengan (para perawi) menyebutkan sifat (tertentu)...seperti (dengan ucapan) Demi Allah seorang pemuda te…