Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Memetik Anugerah Kisah : Memetik Anugerah Hidayah itu serasa mahal harganya ketika kita harus berpisah dengan orang yang kita cintai. Dan kesabaran itu manis rasanya ketika doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh-Nya Dzat Yang Maha Pemurah. Inilah kisahku, Aku adal…

Hidup Kembalinya SANG PEMBARU BANI ISRAIL Kisah Nabi Uzair dalam Islam Allah subhanahu wa ta’ala selama 100 tahun lamanya. Kemudian, dengan hikmah-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala pun kembali menghidupkannya. Benar, ia hidup kembali setelah kematiannya. Lebih dari itu, ketika ia k…

PENYERU KEBENARAN TANPA RASA TAKUT Biografi Ibnu Abi Dzib Dalam khazanah kisah ulama salaf, sangat banyak fenomena mengagumkan yang bisa diambil sebagai ibrah. Pelajaran berharga dari kisah para tokoh agama terkemuka di masa lampau merupakan motivasi bagi generasi setelahnya. …

KAJIAN ILMU MUSTHOLAH HADITS (PENJELASAN MANDZHUMAH AL-BAIQUNIYYAH) PENGERTIAN HADITS MUBHAM Al-Imam al-Baiquniy rahimahullah menyatakan: وَمُبْهَمٌ مَا فِيهِ رَاوٍ لَمْ يُسَمْ dan mubham adalah yang di dalamnya terdapat perawi yang tidak disebutkan namanya (Mandzhumah al-Baiquniyyah) Pengertian Hadits Mubham Penjelasan: Definisi mubham adalah hadits yang dalam silsilah mata rantai perawinya ada perawi yang tidak disebutkan namanya. Misalkan hanya disebutkan: dari seorang laki-laki, atau dari seorang wanita, dan semisalnya. Mubham pada perawi menyebabkan perawi itu tidak bisa diketahui apakah terpercaya atau tidak. Hadits mubham tidak mengapa jika pada bagian perawi yang mubham dipastikan adalah: 1) Sahabat Nabi, atau: 2) dengan isyarat tanpa nama itu sudah diketahui siapa sebenarnya perawi tersebut karena sudah masyhur dan ia tergolong perawi yang diterima periwayatannya. Contoh: dalam suatu hadits, disebut perawi: Kaatibul Mughiroh (juru tulis al-Mughiroh). Ini sudah dimaklumi bahwa juru tulis al-Mughiroh adalah Warrood ats-Tsaqofiy yang tsiqoh. Atau, 3) dalam satu jalur riwayat disebutkan secara mubham, namun tidak mubham pada jalur lain. Jika tidak memenuhi ke-3 kriteria tersebut, sehingga tidak diketahui siapa orang yang mubham tersebut, maka ini tergolong lemah karena tidak diketahui siapa dan bagaimana status perawi tersebut, terpercaya atau tidak. Padahal salah satu kriteria hadits shahih adalah perawinya adil dan dhobith (tsiqoh). Contoh Hadits Mubham yang Shahih Berikut ini akan disebutkan 2 contoh hadits Nabi yang mubham, namun perawi yang mubham dipastikan adalah Sahabat Nabi. Hal itu tidak mengapa. Karena sudah dipastikan bahwa seluruh Sahabat Nabi terpercaya. Contoh pertama: عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى أَبُو أُمَامَةَ بْنُ سَهْلٍ : أَنَّهُ أَخْبَرَهُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- : أَنَّ السُّنَّةَ فِى الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الإِمَامُ ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الأُولَى سِرًّا فِى نَفْسِهِ ، ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَيُخْلِصُ الدُّعَاءَ لِلْجَنَازَةِ فِى التَّكْبِيرَاتِ لاَ يَقْرَأُ فِى شَىْءٍ مِنْهُنَّ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ سِرًّا فِى نَفْسِهِ . ...dari Ma’mar dari az-Zuhriy ia berkata: telah mengkhabarkan kepadaku Abu Umamah bin Sahl bahwasanya seorang Sahabat Nabi telah mengkhabarkan kepadanya: Sesungguhnya sunnah dalam sholat jenazah adalah Imam bertakbir kemudian membaca surat al-Fatihah setelah takbir pertama secara sirr (lirih) dalam dirinya, kemudian bersholawat kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam dan mengikhlaskan doa untuk jenazah dalam takbir-takbir berikutnya, tidak membaca (surat) apapun. Kemudian mengucapkan salam secara sirr (lirih) dalam dirinya (H.R al-Baihaqiy) Syaikh al-Albaniy rahimahullah menilai shahih hadits ini dalam Irwaul Gholiil dengan penguat dari riwayat al-Imam asy-Syafii dalam al-Umm dan riwayat Ibnu Abi Syaibah secara mursal. Contoh kedua: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ عَنْ لَيْثِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ أَنَّ صَفْوَانَ بْنَ عَمْرٍو حَدَّثَهُ عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا بَالُ الْمُؤْمِنِينَ يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ إِلَّا الشَّهِيدَ قَالَ كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً (رواه النسائي) (anNasaai menyatakan) Telah mengkhabarkan kepada kami Ibrahim bin al-Hasan ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Laits bin Sa’ad dari Muawiyah bin Sholih bahwasanya Shofwan bin ‘Amr menceritakan kepadanya dari Rosyid bin Sa’ad dari seorang laki-laki yang termasuk Sahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam bahwasanya seseorang berkata: Wahai Rasulullah, mengapa kaum beriman mendapatkan ujian di kuburannya namun orang mati syahid tidak demikian? Nabi bersabda: Cukup kilatan pedang (sebelum menebas) kepalanya sebagai (pengganti) ujian (H.R anNasaai) Hadits tersebut dishahihkan oleh Syaikh al-Albaniy. Seorang yang terbunuh di jalan Allah dalam jihad yang syar’i, itu sudah cukup sebagai pengganti ujian di dalam kubur, pertanyaan dari 2 Malaikat (disarikan dari syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Ibn Utsaimin (1/1489)). Contoh Hadits Mubham yang Lemah حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ ثَابِتٍ حَدَّثَنِي رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَوْ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ بِلَالًا أَخَذَ فِي الْإِقَامَةِ فَلَمَّا أَنْ قَالَ قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَامَهَا اللَّهُ وَأَدَامَهَا (Abu Dawud menyatakan) Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud al-’Atakiy (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Tsabit (ia berkata) telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki penduduk Syam dari Syahr bin Hawsyab dari Abu Umamah atau dari sebagian sahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam bahwasanya Bilal mengumandangkan iqomat. Ketika sampai kalimat: Qod qoomatis sholaah, Nabi shollallahu alaihi wasallam mengucapkan: Aqoomahallaahu wa adaamaha (H.R Abu Dawud) Para Ulama menjelaskan bahwa hadits tersebut lemah, setidaknya karena 2 sebab: Pertama: Perawi yang bernama Muhammad bin Tsabit (al-Abdiy) dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in dan anNasaai (ad-Dhuafaa’ wal Matrukiin karya Ibnul Jauzi (3/45)). Kedua: Perawi yang mubham, tidak disebut namanya. Sehingga tidak diketahui siapa dia. Hanya disebutkan: “seorang laki-laki penduduk Syam”. Karena itu tidak disyariatkan mengucapkan Aqoomahallaahu wa adaamahaa saat menjawab iqomat: Qod Qoomatis Sholaah. Namun, kalau kita ingin menjawab seruan orang yang iqomat, hendaknya mengucapkan seperti yang diucapkan oleh orang yang iqomat itu. Jika dia mengucapkan Qod Qoomatis Sholaah, kita juga mengucapkan Qod Qoomatis sholaah. Karena iqomat semakna dengan adzan. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ Jika kalian mendengar kumandang (adzan/iqomat), ucapkanlah semisal dengan yang diucapkan muadzin (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudriy)(disarikan dari transkrip pelajaran syarh Sunan Abi Dawud yang disampaikan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad (3/40)). Adzan semakna dengan iqomat, berdasarkan hadits: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثَلَاثًا لِمَنْ شَاءَ Dari Abdullah bin Mughoffal al-Muzaniy bahwasanya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Antara setiap 2 adzan ada sholat (beliau mengucapkan demikian 3 kali). Bagi siapa saja yang mau melaksanakannya (H.R al-Bukhari dan Muslim) Maksud antara 2 adzan itu kata para Ulama adalah antara adzan dan iqomat. (dikutip dari naskah buku "Mudah Memahami Ilmu Mustholah Hadits (Syarh Mandzhumah al-Baiquniyyah), Abu Utsman Kharisman) WA al I'tishom https://t.me/manzhumahbaiquniyyah

Virus Corona dalam Perspektif Islam Kiat Menghadapi Wabah Virus Corona dan Lainnya Bulan Januari 2020 ini dunia dikejutkan dengan berbagai berita tentang wabah virus Corona yang sangat menakutkan. Kabarnya, virus ini bereaksi dengan sangat cepat. Ketika terjangkiti virus ini, seseorang bisa mengalami kematian dalam waktu singkat. Dahsyat. Lantas, bagaimana kita menghadapinya? Adakah tuntunan dari agama kita dalam menghadapi ancaman penyakit semacam ini? Jawabannya: Ada. Agama kita adalah agama yang sempurna, menjawab segala tantangan kehidupan. Perhatikan kisah berikut. Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah bepergian menuju Syam. Ketika tiba di Sargha, beliau bertemu dengan para panglima pasukan, yaitu Abu Ubaidah bersama para sahabatnya. Mereka mengabarkan bahwa negeri Syam sedang terserang wabah. Umar bin al-Khaththab lalu berkata, “Panggilkan untukku orang-orang Muhajirin yang pertama kali berhijrah!” Setelah mereka datang, beliau bermusyawarah dengan mereka dan memberitahukan bahwa negeri Syam sedang terserang wabah. Mereka pun berselisih pendapat. Sebagian dari mereka berkata, “Anda telah keluar untuk suatu keperluan. kami berpendapat bahwa Anda tidak perlu mengurungkan niat.” Sebagian yang lain berkata, “Anda sedang bersama rombongan dan beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; kami berpendapat agar Anda tidak menghadapkan mereka pada wabah ini.” “Keluarlah kalian!” perintah beliau. “Panggilkan untukku orang-orang Anshar!” Mereka pun dipanggil. Setelah itu, beliau bermusyawarah dengan mereka. Ternyata keadaan mereka sama seperti halnya orang-orang Muhajirin; mereka berbeda pendapat. Umar berkata, “Keluarlah kalian! Panggilkan untukku siapa saja di sini yang dahulu menjadi tokoh Quraisy dan telah berhijrah ketika Fathu Makkah.” Mereka pun dipanggil dan tidak ada yang berselisih. Mereka berkata, “Kami berpendapat agar Anda kembali membawa rombongan Anda dan tidak menghadapkan mereka pada wabah ini.” Umar kemudian berseru kepada orang-orang, “Sesungguhnya aku akan pulang pada pagi hari. Bangunlah kalian pada pagi hari!” Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Apakah Anda akan lari dari takdir Allah?” “Kalau saja bukan engkau yang mengatakannya, wahai Abu Ubaidah!” jawab Umar. “Ya, kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Bagaimana pendapatmu, jika engkau memiliki unta kemudian tiba di suatu lembah yang mempunyai dua daerah, yang satu subur dan yang lainnya gersang. Tahukah engkau, jika engkau membawanya ke tempat yang subur, engkau telah membawanya dengan takdir Allah?! Begitu pula ketika engkau membawanya ke tempat yang kering, bukankah engkau membawanya dengan takdir Allah juga?” Kemudian Abdurrahman bin Auf datang. Dia tidak hadir dalam musyawarah sebelumnya karena ada keperluan. Dia berkata, “Saya memiliki kabar tentang hal ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, ‘Jika kalian mendengar suatu negeri terjangkit wabah, janganlah kalian menuju ke sana. Namun, jika suatu wabah menjangkiti suatu negeri dan kalian sedang berada di dalamnya, janganlah kalian keluar dan lari darinya.” “Umar pun memuji Allah dan pergi.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 5288) Kiat dan Solusi Menghadapi Wabah Penyakit Dalam kisah di atas, Islam memberi solusi: apabila suatu daerah terkena wabah, tempat itu diisolasi. Orang yang berada di luar tidak boleh masuk dan yang berada di dalam tidak boleh keluar darinya. Inilah solusi Islam sejak kedatangannya 1441 tahun yang lalu. Islam juga memberi solusi pencegahan sebelum terjadinya penyakit yang dikhawatirkan, yaitu dengan berbagai upaya yang mungkin dilakukan dan tidak bertentangan dengan syariat. Di antaranya adalah dengan memberikan vaksin—apabila telah ada vaksin yang menangkalnya; mengonsumsi ramuan yang menguatkan antibodi pada tubuh kita; dan melakukan usaha-usaha perlindungan yang nyata, seperti memakai masker, memakai kaos tangan dan menjaga sterilisasi keduanya, mencuci tangan dengan sabun setelah memegang sesuatu yang dikhawatirkan bisa menjadi media penularan, menjaga jarak komunikasi dengan pihak lain, dan sebagainya. Di antara contoh konkretnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kita untuk memakan kurma Madinah agar terhindar dari serangan sihir. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan, “Tidak mengapa memakai obat apabila dikhawatirkan terkena suatu wabah penyakit atau sebab-sebab lain yang dikhawatirkan bisa menimbulkan penyakit. Tidak mengapa menggunakan obat untuk mencegah penyakit yang dikhawatirkan. Hal ini berdasarkan hadits Nabi yang sahih, مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ مِنْ تَمْرِ الْمَدِينَةِ لَمْ يَضُرَّهُ سِحْرٌ وَلَا سُمٌّ “Barang siapa pada waktu pagi memakan tujuh butir kurma Madinah, dia tidak akan diserang oleh sihir dan racun.” Ini termasuk dalam tindakan preventif, mencegah penyakit sebelum terjadinya. Demikian pula apabila dikhawatirkan terjadi suatu penyakit lalu dilakukan vaksinasi untuk mencegah terjadinya wabah di suatu negeri atau di tempat mana saja, hal ini tidak mengapa. Ini termasuk dalam tindakan pencegahan.” Islam juga mengajarkan optimisme bahwa akan ada obat bagi penyakit tersebut. Sebab, seorang muslim berkeyakinan bahwa tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Dia akan menurunkan obatnya pula. Kalaupun belum diketahui ada vaksin atau obat penawarnya, tidak berarti bahwa penyakit itu tidak ada obatnya. Tentu saja berbeda antara ‘belum ditemukan’ dan ‘tidak ada’. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ “Sesungguhnya tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Dia menurunkan obatnya pula. Ada orang yang mengetahuinya dan ada pula yang tidak mengetahuinya.” (Sahih, HR. Ahmad, dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 451) Islam memberikan harapan bagi yang terkena wabah bahwa hal itu akan menjadi penebus dosa dan akan mengangkat derajatnya. Maka dari itu, seorang muslim yang hidup di daerah wabah tidak perlu panik dan takut secara berlebihan. Dia harus bersabar menghadapi segala ujian. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِى بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ “Tha’un merupakan suatu azab yang Allah turunkan kepada siapa yang Allah kehendaki, lalu Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Maka dari itu, tidaklah seorang hamba yang terkena tha’un lantas dia tetap bersabar di daerah tersebut dan yakin bahwa dia hanya akan tertimpa sesuatu yang telah Allah takdirkan untuknya, kecuali diia akan mendapat pahala seperti (pahala) orang yang syahid.” (Sahih, HR. al-Bukhari) Islam mengajari umatnya agar berdoa kepada Allah supaya terhindar dari penyakit. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan sebuah doa, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِ “Ya Allah, aku berlindung kepada–Mu dari akhlak, amal, hawa nafsu, dan penyakit yang mungkar.” (HR. at-Tirmidzi, ath-Thabarani, dan al-Hakim, dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2178) Islam mengajari kita agar selalu taat kepada Allah dalam segala hal dan yakin bahwasanya aturan Allah akan membawa maslahat dan mencegah mudarat, termasuk dalam hal makanan dan minuman. Pilihlah makanan dan minuman yang halal, hindari yang haram. Hal ini mengingat bahwa diperkirakan di antara penyebab virus Corona adalah mengonsumsi ular dan hewan-hewan selain hewan piaraan. Apabila hal ini benar, seorang yang beriman akan bertambah keimanannya bahwa tidaklah Allah mengharamkan sesuatu kecuali karena bermudarat. Setelah berbagai usaha dilakukan, Islam menganjurkan agar bertawakal kepada Allah. Dia-lah yang menentukan segala sesuatu. Dia-lah yang Mahabijaksana dalam segala ketetapan-Nya. Dia-lah yang menetapkan hikmah pada setiap kejadian yang ditetapkan-Nya. Qomar ZA Masjid ar-Rasul, Thaibah. 04 Jumada ats-Tsani 1441 H (29 Januari 2020 M) https://asysyariah.com/kiat-menghadapi-wabah-virus-corona-dan-lainnya/ OBAT VIRUS CORONA Soal: Hari hari ini dunia dikejutkan dengan mewabahnya virus Corona di China. Semakin menakutkan lagi, virus ini menyebar melalui udara biidznillah dan belum ada obatnya. Apa yang seharusnya dilakukan kita sebagai muslim mendengar berita berita ini? Terlebih kecemasan bertambah ketika virus ini disinyalir telah masuk ke Singapura, Thailand dan negeri tetangga. Jazakumullohukhoiron. Jawab: Tidaklah Alloh menetapkan sesuatu kecuali penuh dengan hikmah dan keadilan Alloh. Apapun penyakit yang kita dengar sebagai penyakit yang mematikan, semua itu mengingatkan kepada kita betapa lemahnya manusia, dan betapa kuasanya Alloh. Sekuat apapun sebuah negeri, seadi daya apapun sebuah negara, bagi Alloh mudah untuk membinasakannya dengan sekejap, mudah bagai Alloh mengutus bala tentaranya. Dalam menyikapi berita mewabahnya virus Corona ini, seharusnya setiap muslim segera kembali kepada Alloh, menggantungkan segala urusannya kepada Alloh. Bersyukur lah kepada Alloh diselamatkan dari penyakit tersebut, dan mohonlah perlindungan kepada-Nya. Dengan Syukur Alloh akan menambah nikmat-Nya. Dalam sebuah hadits Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda: مَنْ رَأَى صَاحِبَ بَلاءٍ فَقَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا إِلَّا عُوفِيَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلَاءِ كَائِنًا مَا كَانَ مَا عَاشَ Barangsiapa melihat seorang tertimpa bala’ (penyakit atau musibah baik menimpa badan atau agama -pent), kemudian dia berdoa: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا “Segala puji bagi Alloh yang telah menyelamatkan aku dari apa yang Engkau timpakan kepadanya (berupa penyakit), dan (segala puji bagi-Nya) yang telah melebihkan aku atas hamba-hamba-Nya” (Tidaklah seorang membaca doa ini) melainkan dia akan diselamatkan dari bala ‘itu selama dia hidup. Hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam As Sunan no. 3431 dan dihasankan oleh Sheikh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi. Hadits Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam yang mulia ini mengandung bimbingan agar kita bersyukur, dan sekaligus menempuh sebab untuk mendapatkan keselamatan. Hadits ini juga dalil bahwa dzikir dan doa adalah sebab terhindarnya seorang hamba dari kejelekan dan kesembuhan dari berbagai penyakit dan kejelekan. Allohu a’lam bishshawab. Sumber : https://problematikaumat.com/obat-virus-corona/ Catatan Terhadap Artikel Obat Virus Corona Pertanyaan: Bismillah..afwan ustadz, ada yang bertanya…terkait judul artikel yang sudah terlanjur menyebar..dan di sebarkan.. bersumber dari tanya jawab tentang menyebarnya virus Corona…apakah tepat jika di katakan judulnya… Obat Virus Corona Padahal di katakan di atas belum ada obatnya.. BaarokAllahu fiikum Jawab: Alhamdulillah, Islam adalah agama yang sempurna. Tidak ada satu pun perkara yang dibutuhkan kecuali Islam datang dengan penjelasan termasuk dalam bab pengobatan. Dalam masalah pengobatan, nusus Al Qur’an dan Sunnah menyebutkan semua Pokok pokok pengobatan. Diantara pokok pokok tersebut adalah: Pengobatan dalam bentuk upaya pencegahan. Dalil dan contoh dari pokok ini adalah apa yang Alloh sebutkan dalam Al Qur’an: كلوا واشربوا ولا تسرفوا “Makanlah dan minumlah kalian, dan jangan melampaui batas.” Makan dan minum secukupnya dan tidak melampaui batas adalah upaya pencegahan agar badan tidak mendapatkan mudarat karena perilaku/pola makan dan minum yang melampaui batas. Inilah salah satu pokok pengobatan Islam, upaya pencegahan. Sesuatu dikatakan obat bukan hanya karena menghilangkan penyakit. Sesuatu bisa dikatakan pula sebagai obat apabila sesuatu itu mencegah penyakit atau mengurangi penyakit. Dalam dunia kedokteran modern sepertinya bukan hal yang asing bahwa “materi pencegah” juga disebut obat seperti obat pencegah Haidh, obat pencegah kehamilan dan semisalnya. Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa Obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan fisik dan psikis pada manusia atau hewan. (Wikipedia) Walhasil, kita tidak ragu bahwa bimbingan nabi shollallohu’alaihi wasallam untuk membaca dzikir tertentu sehingga seorang selamat dari penyakit atau kejelekan adalah obat. Allohua’lam Sumber : https://problematikaumat.com/catatan-terhadap-artikel-obat-virus-corona/ LEBIH BAHAYA DARI CORONA Soal: Virus Corona yg terus memakan korban masih menjadi topik utama di berbagai media. Sepertinya wabah ini telah menguras perhatian dan fikiran banyak fihak, dan menjadi momok yang menakutkan. Lalu bagaimana seharusnya seorang muslim menghadapi berita berita virus corona, Syukron. Jawab: Alhamdulillah, Hingga hari ini kita masih mendapatkan kesempatan untuk bernafas dan memanfaatkan waktu untuk beribadah kepada Alloh. Sebagaimana Alloh perintahkan dalam firman-Nya: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ dan beribadahlah kalian kepada Alloh dan jangan sekali kali kalian menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun (QS. AnNisa: 36) Hanya kepada Alloh kita berharap keselamatan dari segala kejelekan dan berbagai penyakit baik badan atau hati. MUSIBAH ADALAH KETETAPAN ALLOH Sudah menjadi ketetapan Alloh, setiap manusia akan mendapatkan ujian atau musibah berupa rasa takut, kemiskinan, kematian orang yg dicintai atau musibah lain. Rasa takut dan kekhawatiran akan berbagai macam penyakit termasuk wabah “virus Corona” juga bagian dari ujian yang Alloh tetapkan. Alloh berfirman: ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. (QS. Al Baqarah) Berbagai macam cobaan selalu diliputi dengan hikmah. Diantaranya, dengan ujian itu akan tampak siapakah di antara hamba Alloh yang sabar dan terus mempertahankan tauhid dan siapa yang tidak. Alloh berfirman: وبشر الصابرين Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, Orang orang yang sabar adalah mereka yang mentauhidkan Alloh. Mereka selalu menggantungkan urusan mereka hanya kepada Alloh, beribadah hanya kepada Alloh. Alloh berfirman tentang orang orang yang sabar: الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعونأولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Ayat ayat di atas mengingatkan kita ditengah derasnya berita virus Corona, wabah Wuhan yang ganas, Jangan sampai berita berita tentang penyakit yang mengkhawatirkan tersebut melupakan kita dari Alloh Subhanahu wata’ala. Jangan sampai ketakutan menguasai kita hingga lupa dengan kekuasaan Alloh. Ingatlah selalu bahwa Alloh, Dialah yang menakdirkan sebab sebab dan akibatnya. Semua kebaikan dan keburukan di Tangan Alloh. Meskipun seluruh manusia dan jin bersatu padu untuk menimpakan madharat kepada kita, tidak akan sampai sedikit pun madharat kecuali Apa yg telah Alloh tetapkan. BEKAL KESELAMATAN Ayat ayat di atas juga mengingatkan bahwa bekal keselamatan kita di dunia dan akhirat adalah Tauhidulloh “mentauhidkan Alloh”, beribadah hanya kepada Alloh dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Kesyirikan seharusnya menjadi perkara yang paling dikhawatirkan, bukan penyakit penyakit penyakit badan karena: 1- Syirik adalah dosa yang tidak diampuni jika seorang mati di atasnya. 2- Syirik adalah sebab gugurnya amalan. 3- Syirik adalah dosa yang menjadikan. Seorang kekal di dalam neraka. 4- Syirik adalah sebab semua keburukan di dunia dan akhirat. Karena besarnya akibat kesyirikan, para nabi dan Rasul sangat takut dg kesyirikan dan banyak memohon kepada Alloh agar diselamatkan dari syirik. Lihatlah bagaimana nabi Ibrohim ‘alaihissalam berdoa memohon diselamatkan dari syirik. Beliau berdoa: واجنبني و بني ان نعبد الاصنام “(Wahai Robbku) jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah. berhala.” DOA AGAR SELAMAT DARI KESYIRIKAN Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam juga mengajarkan kepada umatnya doa agar diselamatkan dari kesyirikan. Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam mengajari Abu Bakr Ash-Shiddiq doa: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لما لا أعلم Ya Alloh, aku berlindung kepada Mu dari aku berbuat syirik dalam keadaan tahu, dan aku berlindung kepada Mu dari apa yang aku tidak tahu. (Dishahihkan Sheikh Al Albani dalam Shohih Al Adabul Mufrod) Barangsiapa membaca doa ini dengan keikhlasan dan keyakinan, sungguh Alloh akan menyelamatkannya dari kesyirikan baik yang besar atau yang kecil. Ingatlah bahwa: Corona dan penyakit badan lainnya hanyalah penyakit badan yang pengaruhnya hanya pada jasad. Ada yang lebih mengkhawatirkan yaitu kesyirikan, yang pengaruhnya dirasakan di dunia dan di akherat. Banyaklah berdoa kepada Alloh, dan hadapi segala ujian dengan memurnikan ibadah hanya kepada Alloh dan jauhkanlah diri anda dari kesyirikan. Siapa yang mentauhidkan Alloh, segala kebaikan akan diraih dan segala kejelekan akan dijauhkan. Allahu a’lam. Sumber : https://problematikaumat.com/lebih-bahaya-dari-corona/

Tatkala Prahara Menerpa Merupakan nikmat yang sangat agung bisa menjalani thalabul ilmi, mempelajari ajaran Nabi Muhammad, sunah sunah dan adab serta akhlak beliau. Tentu nikmat ini tidak Allah berikan kepada sembarang orang. Hanya orang-orang yang Dia pilih yang mendapatkan nikmat ini.&nb…

JANGAN MEMBERI NAMA ANAK YANG ANEH-ANEH Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah berkata: Rekomendasi Nama-nama Anak Islam "Bila kamu memberi nama dengan nama yang terdengar aneh oleh masyarakat. maka yang seperti ini bisa jadi sebab tertekannya perasaan putra-putrimu di masa yang akan datang. Dan boleh jadi semua bentuk kesedihan bakal dirasakan oleh mereka disebabkan nama yang dimilikinya; maka engkau menanggung dosa dan akibat jeleknya. Karena kamu lah yang jadi sebab mereka tertekan oleh sebab nama aneh tersebut, yang mereka kemudian disoraki, 'Lihat namanya! Lihat namanya!." (Syarah Riyadhus Shalihin, I/265, https://t.me/nasehatetam/2100) A. Nama-Nama Pilihan Untuk Putra Diambil dari Nama-Nama Sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (*Bermanfaat untuk pemberian nama buah hati, pent) Berikut ini adalah daftar nama-nama pilihan dari nama-nama Sahabat. •Abaan •Ibrahim •Ubay •Abyadh •Ahmad •Ahmar •Artha-ah •Azhar •Usaamah •Ishaaq •Asad •Aslam •Isma'il •Asmar •Al-Aswad •Asyraf •Anas •Aus •Aiman •Ayyub •Badr •Al-Bara-a •Busr •Bisyr •Basyiir •Bakr •Bilal •Bahz •Tamiim •Tsaabit •Tsa'labah •Tsumaamah •Tsaubaan •Tsaur •Jaabir •Jubair •Jutsaamah •Juraij •Jariir •Ja'far •Jamiil •Junaadah •Jundub •Junaid •Jahm •Al-Haarits •Haatim •Haazim •Hibbaan •Habiib •Al-Hajjaaj •Hajr •Hudzaifah •Harb •Hizaam •Hassaan •Husain •Hakiim •Hammaad •Hamzah •Humaid •Hanbal •Haniif •Khalid •Khabbaab •Khubaib •Khadiij •Khuzaimah •Khalaf •Dawud •Diinaar •Dzarr •Dzakwaan •Dzu-aib •Raasyid •Raafi' •Rabaah •Ar-Rabii' •Rabii'ah •Rasyiid •Az-Zubair •Zirr •Zaraarah •Zuhair •Ziyaad •Zaid •Saariyah •Saalim •Suraaqah •Sa'd •Sa'iid •Sufyaan •Salman •Salamah •Saliim •Sulaimaan •Samurah •Samiir •Sinaan •Sahl •Suhail •Suwaid •Syibl •Syaddaad •Syarahiil •Syarahbiil •Syuraih •Syaibaan •Shaalih •Shakhr •Shafwaan •Shuhaib •Adh-Dhahhaak •Thaariq •Thalhah •Talq •'Aashim •'Aamir •'Aabid •'Abbaas •'Abdullah •'Abdurrahman •'Ubaidullah •'Ubaid •'Utsman •'Adi •'Urwah •'Athiyyah •'Ikrimah •'Uqbah •'Aqiil •'Alqamah •'Ali •'Ammaar •'Umar •'Amr •'Umair •'Anbasah •'Auf •'Iyaadh •Ghaalib •Al-Qaasim •Qatadah •Qudaamah •Qais •Katsiir •Ka'b •Kaisaan •Labiid •Laits •Maalik •Muhammad •Martsad •Mas'uud •Muslim •Miswar •Mush'ab •Mu'adz •Mu'awiyah •Naafi' •Nu'maan •Haasyim •Haani •Hubairah •Hisyaam •Hilaal •Al-Haitsam •Waaqid •Waqqas •Wahb •Yahya •Yasir •Yaziid •Yasaar •Ya'quub •Yusuf •Yunus [Catatan: Nama-nama di atas adalah nama-nama pilihan yang diambil dari kitab الإصابة saja, kitab karya Ibnu Hajr, Diterjemahkan dari telegram.me/SalafiDawaLancs/34, https://t.me/Salafiyyun/2529] B. Nama-Nama Pilihan untuk Putri Diambil dari Nama-Nama Shahabiyyah (*Bermanfaat untuk pemberian nama buah hati, daripada mengambil nama-nama "extravagant" modern yang hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki arti, yang seringnya diambil dari budaya lain/asing). Berikut ini adalah daftar nama-nama pilihan dari nama-nama Sahabat. •Aasiyah •Aaminah •Atsilah •Utsaima •Arwa •Asmaa` •Umaamah •Umaimah •Umayyah •Unaisah •Amatullah •Buraidah •Busrah •Basyiirah •Tamiimah •Tuwaila •Tsubaitah •Judaamah •Ja'dah •Jamilah •Jumaimah •Juwairiyyah •Hibbaanah •Habibah •Harmalah •Hafsah •Halimah •Hamnah •Hawwaa ` •Khaalidah •Khadijah •Khulaidah •Khansa` •Khaulah •Raabi'ah •Rubaihah •Razhinah •Rufaidah •Ruqayyah •Ramlah •Rumaitsah •Zainab •Saarrah •Subai'ah •Sidrah •Su'aad •Sa'idah •Sukainah •Salmaa •Sumairah •Sumayyah •Sahlah •Suhaimah •Saudah •Sirin •Syumailah •Shafiyyah •Thaahirah •'Aatikah •'Aisyah •'Ashmaa` •'Afraa ` •'Ulayyah •'Umaarah •'Amrah •'Umairah •Faathimah •Faadhilah •Farwah •Furai'ah •Qutailah •Qailah •Lubaabah •Lubnaa •Lailaa •Maariyah •Maryam •Mulaikah •Maimunah •Nusaibah •Nafiisah •Hind •Humainah [Catatan: Ini hanya sebagian dari الإصابة oleh Ibn Hajr (sebuah kitab besar dalam 16 jilid tentang sahabat Nabi), terdapat banyak nama-nama yang lain, Diterjemahkan dari tlgrm.me/SalafiDawaLancs/32, https://t.me/Salafiyyun/2415] BACA JUGA : SUNNAH NABI BAGI BAYI YANG BARU LAHIR

PEMBUNUHAN PARA PENGHAFAL AL-QUR'AN Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc حفظه الله تعالى Kisah Pembunuhan Para Penghafal Al Quran Ka'ab bin Zaid bin An-Najjar رضي الله عنه berada di tengah-tengah tumpukan mayat Syuhada. Beliau terluka parah. Namun, tak ada yang menyangka ia akan terus hidup. Allah سبحانه وتعالى takdirkan Ka’ab berumur panjang hingga mengikuti perang Khandaq bersama Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam, dan syahid di perang tersebut. Apakah gerangan yang terjadi pada diri Ka’ab bin Zaid رضي الله عنه? Bersama jasad-jasad siapa tubuh beliau berlumur darah? Beliaulah saksi hidup kekejian dan penghianatan kuffar (orang-orang kafir) terhadap perjanjian bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa Bi’r Ma’unah. Tragedi berdarah Bi’r Ma’unah mengantarkan semua shahabat, tujuh puluh ahli Al-Quran menemui Rabb-Nya dalam keadaan Syahid. Kecuali Ka’ab bin Zaid. Bagaimana kisahnya? Perang Uhud masih menyisakan kesedihan. Tujuh puluh shahabat terbaik, dari kaum Muhajirin dan Anshar meninggal. Hamzah bin Abdul Muththalib, Mush'ab bin Umair, Abdullah bin Haram, dan sederet nama patriot Islam menghembuskan nafas terakhir untuk Allah, syahid di bumi Uhud. Selang beberapa bulan, musibah kembali menimpa kaum muslimin. Dua peristiwa, Ar-Rajii' dan Bi'r Ma'unah menjadi saksi pengorbanan shahabat dalam menyebarkan IsIam. Sekaligus bukti kegigihan mereka menegakkan kalimat Allah di muka Bumi. SEBAB PENGIRIMAN SATUAN PASUKAN DALAM PERISTIWA BI’R MA'UNAH Imam Muslim رحمه الله meriwayatkan dalam kitab Shahihnya¹, bahwa sebab pengiriman satuan perang ini adalah datangnya serombongan tamu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta beliau agar mengutus shahabat-shahabat untuk mangajari mereka AI-Quran dan As-Sunnah. Selaras dengan riwayat Muslim rahimahullah, Al-Bukhari رحمه الله menyebutkan bahwa sebab pengiriman rombongan shahabat adalah permohonan Ri’l dan Dzakwan dari Bani Sulaim, dan Ushayyah dari Bani Lahyan, mereka memohon bantuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka beIiau mengutus tujuh puluh shahabat. Dalam referensi Sirah Nabawiyah² disebutkan bahwa suatu ketika Abu Barra’, Amir bin Malik bin Ja‘far, pembesar Bani Amir, yang dikenal sebagai ahli tombak menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam .di Madinah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menawarkan Islam kepadanya. Abu Barra' tidak menerima ajakan Islam, namun tidak pula menolaknya. Abu Barra' kemudian berkata, "Wahai Rasulullah, seandainya Engkau mengutus shahabat-shahabatmu ke penduduk Najd untuk mengajak mereka kepada Islam. Aku berharap mereka mau menerima seruan tersebut." Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menjawab, "Aku mengkhawatirkan mereka dari berbagai kemungkinan buruk yang dilakukan oieh penduduk Najd." Kekhawatiran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat beralasan. Wilayah Najd saat itu masih dikuasai kuffar. Abu Barra’ menyahut, "Aku yang menjamin keselamatan mereka." Mendapat jaminan Abu Barra‘, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun mengutus 70 orang shahabat untuk membawa misi dakwah. Dari semua riwayat-riwayat di atas, mungkin kita katakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus para shahabat dengan semua sebab itu. Pertama: permintaan Bani Sulaim, kedua: permintaan Abu Barra’. Allahu a’lam. Siapa tujuh puluh orang shahabat yang diutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Mereka adalah shahabat-shahabat pilihan yang disebut qurra‘ (ahli Al-Qur‘an). Hari-hari mereka dipenuhi dengan amalan shalih dan semangat menuntut ilmu. Di siang hari mereka bekerja sebagai pencari kayu bakar, hasilnya mereka sedekahkan untuk ahli suffah, shahabat-shahabat fuqara'. Adapun di malam hari, mereka tekun menegakkan shalat dan ibadah kepada Allah.³ Dengan penuh pengharapan dan tawakkal kepada Allah, berangkatlah kesatuan pasukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Al-Mundzir bin Amr رضي الله عنه dari Bani Sa'idah ditunjuk sebagai pimpinan sariyyah (pasukan kecil) itu. Dialah shahabat yang berjuluk 'aI-Mu'niq Ii Yamût', ’Sang pemberani mati, orang yang bergegas meraih syahadah (mati syahid)’. Di bawah kepemimpinannya, berangkatlah shahabat qurra’ lainnya seperti Amir bin Fuhairah, seorang bekas budak Abu Bakar Ash-Shiddiq, Haram bin Milhan, Ka'ab bin Zaid bin An-Najjar, AI-Harits bin Ash-Shimmah, Urwah bin Asma', Nafi’ bin Budail bin Warqâ', dan shahabat-sahabat pilihan Iainnya. Mereka meninggalkan Madinah pada bulan Shafar tahun 4 hijriyah, empat bulan setelah perang Uhud. TIBA DI BI'R MA’UNAH DAN WAFATNYA HARAM BIN MILHAN Sampailah rombongan Al-Mundzir bin Amr di sebuah tempat bernama Bi‘r Ma'unah. Daerah ini berada di antara wilayah Bani Amir dan wilayah Bani Sulaim. Kedua daerah tersebut berdekatan, namun Bi'r Ma'unah lebih dekat kepada wilayah Bani Sulaim daripada wilayah Bani Amir. Setibanya di Bi’r Ma'unah, diutuslah Haram bin Milhan, saudara Ummu Sulaim bintu Milhan untuk menyampaikan surat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada musuh Allah, Amir bin Ath Thufail. Ternyata Haram رضي الله عنه tidak disambut sebagaimana mestinya seorang utusan yang terhormat. Surat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak dihiraukan sama sekali oleh Amir bin Ath Thufail. Bahkan, ia memberi isyarat kepada seseorang agar Haram bin Milham dibunuh. Tombak nan tajam melesat, ditusukkan dengan demikian kuat dari belakang tubuh Haram. Benda tajam itu menembus dadanya, merobek dada yang selama ini dipenuhi dengan Kalamullah, Al-Qur'an. Innalillahi wa inna ilaihi Raji'un. Darah bersimbah. Detik-detik kematian menghampiri shahabat yang mulia, Haram bin Milhan رضي الله عنه. Demi melihat darah segar, bukan kesedihan yang tersirat dari wajah Haram, justru kebahagiaan melingkupi relung qalbunya. Dengan lantang Haram bin Milhan, seorang yang pincang kakinya berteriak penuh kebahagiaan: اللهُ أَكْبَرُ فُزْتُ وَرَبِّ الْكَعْبَتِ "Allahu Akbar, Aku telah beruntung, Demi Rabb Ka’bah" Subhanallah, sungguh tidak terbayang kalimat indah ini terucap Tubuh Haram bin Milhan rebah, bersama diangkatnya Roh menuju keridhaan dan ampunan Rabbul'izzah. AMIR BIN ATH THUFAIL MENGHASUT BANI AMIR DAN BANI SULAIM Kematian Al-Haram tidak cukup bagi Amir bin Ath Thufail. Dia lanjutkan makar dan pengkhianatannya dengan menghasut orang-orang Bani Amir agar memerangi rombongan qurra’. Namun mereka menolak karena adanya perlindungan Abu Barra‘. Dia pun menghasut Bani Sulaim. Ajakan ini kemudian disambut oleh Ushayyah, Ri'l, dan Dzakwan, padahal merekalah yang meminta kedatangan shahabat, dan mereka masih terikat perjanjian dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ushayyah, Ri’l, dan Dzakwan termakan hasutan lbnu Ath Thufail. Segera mereka mengepung para shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Meskipun shahabat Qurra’ mencoba mengadakan perlawanan dengan senjata-senjata yang mereka bawa, namun Allah سبحانه وتعالى menghendaki kemuliaan atas mereka. Semua dibunuh, kecuali Ka’ab bin Zaid bin An-Najjar, tubuhnya terlempar, terbaring bersama jenazah lainnya dengan luka yang sangat parah. Hingga beliau selamat, bahkan menyaksikan Perang Khandaq, dan syahid di pertempuran tersebut. lbnu Hajar رحمه الله dalam Fathul Bari juga memaparkan kisah yang disebutkan Al-lmam Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Beliau mengatakan, ”Bahwasanya ada perjanjian antara kaum musyrikin dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Mereka adalah kelompok yang tidak ikut memerangi beliau. Diceritakan oleh Ibnu Ishaq dari para gurunya, demikian pula oleh Musa bin Uqbah dari Ibnu Syihab, bahwa yang mengadakan perjanjian dengan beliau adalah Bani Amir yang dipimpin oleh Abu Barra‘ Amir bin Malik bin Ja'far si Pemain Tombak. Sedangkan kelompok lain adalah Bani Sulaim. Amir bin Ath Thufail ingin mengkhianati perjanjian dengan para shahabat Rasulullah. Dia pun menghasut Bani Amir agar memerangi para shahabat. Namun, Bani Amir menolak. Kata mereka. "Kami tidak akan melanggar jaminan yang diberikan Abu Barra.” Kemudian dia menghasut Ushayyah dan Dzakwan dari Bani Sulaim. Mereka pun mengikutinya, membunuh para shahabat." Demikian secara ringkas. PASCA PERISTIWA BI’R MA’UNAH Pada saat pembantaian, Amr bin Umayyah Adh-Dhamri dan Al-Mundzir bin Uqbah bin Amir tidak bersama pasukan. Keduanya sedang mengurusi keperluan kaum Muslimin. Mereka tidak mengetahui peristiwa, melainkan karena adanya burung-burung yang mengitari tempat kejadian. Akhirnya kedua shahabat ini melihat kenyataan yang memilukan. Menyaksikan para utusan berlumuran darah, sementara kuda-kuda mereka masih berdiri. Berkatalah Al-Mundzir bin Uqbah kepada Amr bin Umayyah, "Bagaimana pendapatmu?" Amr bin Umayyah berkata, "Aku berpendapat sebaiknya kita segera menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memberitakan kepada beliau apa yang terjadi." Namun Al-Mundzir bin Uqbah menolak dan lebih suka turun menyerang kaum musyrikin. Ia berkata, ”Aku lebih suka terbunuh bersama Al-Mundzir bin Amr di tempat ia terbunuh." Kemudian ia menyerang kabilah tersebut dan gugur terbunuh. Adapun Amr, dia ditawan. Namun, ketika dia menyebutkan bahwa dia berasal dari kabilah Mudhar, Amir bin Ath Thufail membebaskannya dan hanya memotong (mencukur) rambut ubun-ubunnya. Amr bin Umayyah bergegas pulang ke Madinah. Setibanya di Al-Qarqarah, sekitar 8 burud (sekitar 177 Km) dari Madinah, dia berhenti berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian datanglah dua laki-laki Bani Kilab dan turut berteduh di tempat itu juga. Ketika keduanya tertidur, Amr menyergap mereka dan membunuhnya. Dia beranggapan bahwa ia telah membalas dendam para shahabatnya. Ternyata, keduanya mempunyai ikatan perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam yang tidak disadarinya. Setelah tiba di Madinah, dia ceritakan semuanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau pun berkata, "Sungguh kamu membunuh mereka berdua, tentu saya akan tebus keduanya.”5 KARAMAH IBNU FUHAIRAH Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari Ayahnya, bahwa ketika orang-orang yang pergi ke Bi'r Ma’unah terbunuh, dan Amr bin Umayyah Adh-Dhamri ditawan, Amir bin Ath Thufail bertanya kepada Amr bin Umayyah, ”Siapa orang ini?" Sambil menunjuk kepada salah seorang yang terbunuh. Amr bin Umayyah menjawab, ”lni Amir bin Fuhairah.” Amir bin Ath Thufail berkata, ”Sungguh, setelah ia terbunuh, aku melihatnya diangkat ke atas, sehingga berada di antara langit dan bumi. Kemudian diletakkan kembali ke bumi." SAMPAINYA BERITA DAN TURUNNYA WAHYU KEPADA RASULULLAH Berita tentang musibah yang menimpa satuan dakwah Nabi sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melalui Malaikat Jibril. Berita mereka juga datang dari Amr bin Umayyah Adh Dhamri. Lalu beliau mengabarkan kematian mereka kepada para shahabat. Beliau shallallahu alaihi wasallam berkata, “Shahabat-shahabat kalian telah gugur dan mereka teIah berdoa kepada Allah, ”Wahai Rabb kami, beritahukanlah kepada saudara-saudara kami, bahwa kami ridha kepada-Mu dan Engkau ridha kepada kami." Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengabarkan hal tersebut kepada para shahabat. [H.R. Al Bukhari dari jalur Hisyam bin Urwah]. Dalam Riwayat AI-Imam Al-Baihaqi, lbnu Mas'ud رضي الله عنه menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengirim pasukan. Tidak lama kemudian Rasulullah berdiri, memuji Allah, dan berkata, "Saudara-saudara kalian telah berhadapan dengan orang-orang musyrik dan mereka gugur, hingga tidak tersisa seorang pun. Mereka telah berdoa, ‘Wahai Rabb, sampaikan kepada kaum kami bahwa kami telah ridha kepada-Mu dan Engkau telah ridha kepada kami.‘ Aku adalah utusan mereka untuk menyampaikan hal ini kepada kalian. Mereka telah ridha dan Allah meridhai mereka." Demikianlah syuhada, mereka meninggal, namun sesungguhnya mereka telah meraih kehidupan barzakh yang membahagiakan. Mereka ingin mengabarkan kabar gembira kepada kaum mukminin di dunia akan nikmat yang mereka raih. Allah سبحانه وتعالى berfirman: وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (١٦٩) فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (١٧٠) "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [Q.S. Ali lmran: 169-170]. QUNUT NAZILAH Kesedihan sangat tampak pada wajah beliau dengan tragedi Bi'r Ma’unah. Sebagaimana dikisahkan shahabat Anas bin Malik رضي الله عنه dalam riwayat Al-Bukhari. Belum pernah para shahabat melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam begitu berduka dibandingkan ketika mendengar berita ini. Dengan sebab kejadian inilah, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan qunut selama sebulan mendoakan kejelekan atas orang-orang yang membunuh shahabat-shahabat qurra‘ di Bi‘r Ma’unah. Al-Imam Al-Bukhari menceritakan dari Anas bin Malik رضي الله عنه, ”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam qunut selama satu bulan ketika para qurra‘ itu terbunuh. Dan aku belum pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam begitu berduka dibandingkan ketika kejadian tersebut.” Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, “Rasulullah ﷺ berdoa untuk kehancuran orang-orang yang telah membunuh para shahabat di Bi’r Ma'unah sebanyak tiga puluh kali setiap Shubuh. Beliau juga mendoakan untuk kehancuran Bani Ri‘l, Bani Dzakwan, Bani Lihyan, dan Bani Ushayyah, serta orang yang mendustai Allah dan Rasul-Nya." [H.R. Muslim No.1085]. Ya Allah, dengan Nama-nama dan Shifat-Mu Aku memohon kepada Mu, kumpulkanlah diri-diri kami bersama dengan Rasul-Mu dan shahabat-shahabat beliau di jannah -Mu. Ampunilah kami sebagaimana Engkau telah mengampuni mereka, dan ridhailah kami sebagaimana Engkau telah meridhai mereka. Amin. FAEDAH-FAEDAH KISAH Banyak pelajaran penting dan berharga yang mungkin kita ambil dari peristiwa Bi’r Ma'unah. Di antara faedah-faedahnya adalah: 1. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengetahui perkara ghaib. Beliau tidak mengetahui sama sekali apa yang akan terjadi atas shahabat Qurra' di Bi’r Ma’unah. lni di antara pelajaran akidah yang perlu kita tanamkan. Bahwasannya perkara ghaib hanya di sisi Allah سبحانه وتعالى. 2. Wali-wali Allah mendapatkan mushibah sebagai ujian untuk mengangkat derajat mereka sebagaimana hal ini menimpa para shahabat dalam banyak peristiwa termasuk Bi’r Ma’unah. 3. Syuhada, jasad-jasad mereka terluka di dunia namun mereka hidup mendapatkan rezeki dan kebahagiaan di sisi Rabbul 'alamin. 4. Kisah ini memberikan pelajaran agar kaum muslimin selalu waspada terhadap makar dan pengkhianatan kuffar. Mereka adalah kaum yang terus melakukan upaya penipuan demi menjebak umat Islam dalam segala aspek kehidupan. 5. Telah menjadi sunnatullah bahwa musuh-musuh Islam akan terus berupaya memadamkan cahaya agama ini. Tidak saja dengan menghalangi penyebaran dakwah Islam, bahkan bisa jadi berupaya membunuh para ulama dan dainya. Seperti makar Amr bin Ath-Thufail membunuh shahabat ahli Al-quran yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam utus kepada mereka. 6. Keberuntungan dan kebahagiaan yang sesungguhnya adalah meraih keridhaan Allah. Renungkanlah ucapan Haram bin Milhan, ”Allahu Akbar, Fuztu Birabbil Ka’bah," saat ajal menjemput. Sungguh, ucapan ini salah satu di antara bukti yang menunjukkan bagaimana shahabat memahami arti kebahagiaan dan keberuntungan. 7. Pentingnya dakwah dan pengutusan delegasi dakwah sebagaimana dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Perang Uhud yang menjadi sebab gugurnya tujuh puluh shahabat tidak menghalangi Rasulullah ﷺ untuk tetap mengutus delegasi yang berakhir dengan wafatnya para shahabat dalam dua peristiwa, Ar-Rajii’ dan Bi’r Ma’unah. 8. Disyariatkan Qunut Nazilah atas mushibah yang menimpa kaum muslimin 9. Perlu menjadi perhatian bahwasanya qunut yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanyalah qunut nazilah. Itupun beliau lakukan selama satu bulan, mendoakan kejelekan terhadap Bani Libyan, 'Ushayyah, dan Iain-lain. Qunut yang beliau lakukan bukanlah Qunut yang dilakukan terus menerus pada shalat shubuh. AI-lmam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه beliau berkata, "Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam qunut selama satu bulan lalu meninggalkannya.“ Kisah Amir bin Fuhairah yang diangkat ke langit di antara bukti bahwa karamah Wali-wali Allah adalah perkara yang ada dan wajib diyakini keberadaannya. 11. Bolehnya bersedih atas mushibah yang menimpa. Dan sesungguhnya kesedihan tidaklah menafikkan kesabaran sebagaimana kesedihan Rasulullah ﷺ atas peristiwa Bi’r Ma’unah. Bahkan tetesan air mata sekalipun, sebagaimana Rasulullah ﷺ meneteskan air mata saat kematian putranya, Ibrahim. Yang tercela adalah An-Niyahah, yaitu meratapi mayit dengan ratapan-ratapan jahiliah. 12. Bolehnya mengabarkan kematian saudara muslim, sebagaimana Rasulullah ﷺ kabarkan wafatnya delegasi beliau. Rasulullah ﷺ juga mengabarkan kematian Najasyi di hari kematiannya. 13. Semua apa yang menimpa kita hendaknya selalu diserahkan dan diadukan kepada Allah Yang Maha Agung. ltulah yang dilakukan Rasuluiiah ﷺ. Beliau mengadukan semua kepedihan itu kepada Allah dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Di antaranya dengan Qunut Nazilah. Demikian yang dilakukan semua Nabi dan Rasul. Adalah Nabi Ya'qub ketika cobaan demi cobaan datang mendera beliau mengadukan urusannya kepada Allah سبحانه وتعالى: قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ "Ya'qub mengatakan, ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya.” [Q.S. Yusuf: 86]. 14. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap adil dan selalu menetapi perjanjian meskipun kepada musuh. Lihatlah kisah di atas, ketika Amr bin Umayyah Adh-Dhamri membunuh dua orang Bani Kilab, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama kaum Muslimin tetap bertanggungjawab membayar diat (denda). Amr bin Umayyah semula hanya berniat membalas dendam atas terbunuhnya shahabat-shahabat beliau. Ternyata yang dia bunuh adalah dua orang dari Bani Kilab yang telah mengadakan perjanjian damai dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Madinah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tetap bertanggungjawab membayar diatnya. Semua ini memberikan tauladan kepada kaum muslimin untuk bersikap adil dan selalu menjaga hak-hak manusia bagaimana pun gentingnya suasana. BACA JUGA : BIOGRAFI PARA ULAMA Catatan Kaki: 1) Shahih Muslim (3/1511 no. 677) 2) Sirah Ibnu Hisyam (3/260) dengan sanad Mursal, Ibnu Sa'd dalam Ath-Thabaqat (2/51) tanpa sanad, dan Al-Waqidi (1/346). 3) Lihat Shahih Al-Bukhari no. 3064. 4) Amir bin Fuhairah رضي الله عنه memiliki jasa andil dalam perjalanan Hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah. Dialah shahabat yang ditugasi Abu Bakar رضي الله عنه untuk mengembalakan kambing di sekitar persembunyian Rasulullah ﷺ untuk menghilangkan jejak. 5) Ibnu Jarir meriwayatkan pula dalam Tarikh-nya (2/81), dan dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad (3/247). 6) Lihat keterangan Ibnul Qayyim tentang masalah ini dalam kitabnya Zaadul Ma'ad (1/273-285). Sumber : Majalah Qudwah Edisi 07 | Telegram : t.me/majalah_qudwah

HUKUM SUMPAH POCONG Pertanyaan: Assalamu'alaykum. Ada yang ingin ana tanyakan, apakah Islam membolehkan umatnya untuk melakukan SUMPAH POCONG?karena ada sebagian orang Islam yang melakukannya. (08197890xxx) Jawaban: Wa'alaykumussalam Warohmatulloh. 1. Islam tidak mengenal adanya Sumpa…

PENGAKUAN MANTAN JAMA’AH TABLIGH Beberapa mantan Jama’ah Tabligh dan para Ulama’ lainnya yang telah memahami dgn benar tentang JT ini telah sepakat atas sesatnya JT. Berikut ini kita ikuti penjelasan beliau, semoga kita dikaruniakan pemahaman yang benar oleh Allah ﷻ agar dapat menyikapi dengan benar: Pengakuan Mantan Jamaah Tabligh 1. Asy Syaikh Sarda Muhammad Al Bakistani Beliau berkata : “Inilah pengalamanku selama 10 tahun bersama JT. Sungguh JT dan Ulama’nya taklid buta terhadap Imam Abu Hanifah dan berlebihan terhadapnya, bahwa semua yang keluar dari Ulama’nya JT selalu dibawa (ditafsirkan) kepada kebaikan, walaupun sudah jelas bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sementara semua ucapan setiap orang yang bukan dari JT maka ucapan itu dianggap kedustaan dan mengada-ada." JT telah membedakan antara dunia dengan agama (sekuler). JT mengimani 4 tokoh thariqah Sufi yaitu : Al-Jistiyah, An-Naqsyabandiyah, Al-Qadariyah, dan As-Sahrawiyah. Orang JT meyakini bahwa seorang yang meninggal dunia dan belum berbai’at kepada salah satu dari thariqah ini maka matinya mati jahiliyah. "Orang-orang JT lebih mencintai Syaikh-syaikh mereka di atas kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ lebih takut kepada murka Syaikh mereka daripada kemurkaan Allah ﷻ dan Rasul-Nya." "Orang JT meyakini bahwa Aqidah yang dibawa Rasulullah ﷺ adalah kesyirikan, sedangkan aqidah yang ada pada Syaikh-syaikh mereka Ad-Duyubandiyah dari JT itulah keimanan dan Islam. Syari’at itu ada yang datang dari Rasulullah ﷺ dan ada pula yang datang dari Syaikhnya JT." 2. Asy-Syaikh Abdurrohim Syah Ad-Duyubandi "Beliau telah melalui waktu yang panjang bersama pendiri JT, yaitu Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi dan putra Muhammad Ilyas, yaitu Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi. Beliau berkata : “Sesungguhnya keadaan JT ini harus kita sampaikan kepada umat karena sesungguhnya mereka itu adalah para da’i yang belum sampai kepada derajat da’i. Mereka memulai kegiatan dengan latihan berbicara di depan muslimin. Padahal kita dapati manusia tidak berani berbicara masalah kedokteran jika mereka belum menguasai ilmunya, tetapi JT ini sangat menganggap enteng (remeh) dalam urusan agama, walaupun belum mengerti apa-apa. Mengapa mereka (orang-orang JT) begitu beraninya? Karena keyakinan mereka, barangsiapa yang telah khuruj dua kali atau tiga kali, jangan ditanya lagi tentang ketinggian derajat mereka, para Ulama di hadapan mereka tidak ada apa-apanya.” 3. Asy-Syaikh Ihtisyamul Hasan Al-Kandahlawi Ad Duyubandi Beliau adalah suami saudari Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi (saudara Ipar). Beliau bukan hanya sebagai Mantan Amir JT, tetapi sudah menjadi Khalifah JT pada kurun pertama. Beliau dalam waktu yang lama memimpin JT bersama Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi. Beliau berkata : “Sesungguhnya dakwah yang muncul dari markas Nizhamuddin Delhi bukan dakwah Ilmu dan Fiqih yang mencocoki Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka wajib bagi seluruh Masyayaikh yang telah menegakkan dakwah dan tabligh agar mencocoki thariqahnya Salafush Shalih dan Ulama’ yang benar.” 4. Asy Syaikh Saifurrohman bin Ahmad Ad Dahlawi Beliau berkata : "Sungguh benar orang yang mengatakan bahwa Yahudinya umat Islam adalah Syi’ah, sedangkan Yahudinya Ahlussunnah adalah orang yang taklid buta kepada Hanafi seperti JT, yang mereka menjadi penolong-penolong kejahilan dan taklid. Mereka adalah para penyembah tokoh-tokoh mereka dan mereka mengagungkan tokoh-tokoh mereka. Mereka telah menyuburkan kebid’ahan di dalam kaum muslimin. Mereka mewajibkan kepada muslimin suatu perkara yang tidak diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka telah membuat syari’at dengan suatu syari’at yang tidak disyari’atkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya." Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang mencintai ahli bid’ah sungguh dia telah menolong menghancurkan Islam.” Beliau ﷺ juga bersabda : “Sesungguhnya Allah ﷻ menahan taubat bagi ahli bid’ah.” (Shahih Al Jami’ush Shoghir) 5. Asy-Syaikh Taqiyuddin Al Hilaly rahimahullah Beliau mempersaksikan JT dengan mengatakan : “Telah muncul di abad ke-14 ini di negeri-negeri kaum muslimin, mulai dari timur sampai barat, gerakan dakwah yang pelakunya menampakkan keikhlasan, sabar, menahan beban di dalam berdakwah. Mereka kerahkan seluruh jiwa dan raga untuk pelaksanaan dakwah, yaitu dakwahnya suatu (Jama’ah Tabligh). Mereka meletakkan 6 rukun sebagai dasar pondasi dakwah mereka (gerakan dakwah mereka disebut khuruj). Khuruj bagi JT merupakan pondasi dasar dakwah mereka (artinya JT tidak akan berkembang tanpa khuruj, pent). Kedudukan khuruj ini seperti 2 kalimat syahadat di kalangan ahli istiqamah." Barangsiapa yang mau menerima dan menyibukkan diri dengan khuruj, mereka akan dicintai dan dimulyakan dan dimintakan ampun (oleh orang-orang JT). Adapun yang tidak mau khuruj dengan JT, walaupun orang tersebut telah melaksanakan seluruh kewajiban, fardlu-fardlu, dan sunnah-sunnah. Dengan khuruj ini, ukuran bagi orang-orang JT untuk mencintai dan membenci (memusuhi) seseorang. Sungguh dakwah JT ini telah menimbulkan bahaya besar di kalangan muslimin, baik bahaya dunia maupun akhirat, diantaranya yaitu : Berbagai bid’ah dan perselisihan terhadap sunnah Nabi. Melalaikan kewajiban terhadap keluarga (anak, istri, saudara, dan orang tua), dengan tidak menunaikan hak-hak mereka. Telah memalingkan para penuntut ilmu yang bermanfaat, baik ilmu dunia maupun agama. (karena selalu diajak khuruj, pent) Terbengkalainya pekerjaan (karena selalu khuruj). Berapa banyak terjadi pertengkaran dan perpisahan antara orang tua dengan anaknya, antara suami dengan istrinya. Hanya kepada Allah kami mengeluhkan, kemudian kepada manusia atas bahaya kerusakan dan penyesatan besar yang ditimbulkan dari gerakan dakwahya JT ini. Maka wajib hukumnya bagi kaum muslimin yang memiliki sedikit ilmu untuk mengurangi kerusakan dan kejelekan yang diakibatkan gerakan dakwah JT ini dengan cara menjelaskan kepada muslimin kesesatan dan penyesatan JT sebagai pengamalan firman Allah ﷻ : “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkan kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqoroh : 159-160) Dari sini kita dapat membuktikan secara jelas bahwa JT itu bukanlah ahli dakwah yang menyeru kepada al haq, tetapi merupakan gerakan dakwah yang menyeru kepada thariqah pendiri JT, yaitu Muhammad Ilyas Al Kandahlawi di Nidzamuddin Delhi di India sebagaimana ini merupakan sifat dari semua kelompok sempalan yang menyeru kepada pendiri kelompok mereka. Hal ini berbeda dengan prinsip dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang senantiasa menyeru kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman As-Salafus Shalih. Wallahu a’lam bish shawab KESIMPULAN Sekiranya buku kecil ini dapat mencukupi bagi para pembaca sekalian untuk menjadikan cara atau alasan mewaspadai diri-diri kita, keluarga kita, dan saudara-saudara kita dari pergerakan ajaran Brahma dan Budha yang dimasukkan ke dalam Islam oleh orang-orang Kelompok Jama'ah Tabligh. Mengikuti ajaran sesat sangatlah berbahaya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kepada saudara-saudaraku sekalian kaum muslimin, hendaknya ekstra hati-hati, ekstra waspada, jangan tertipu oleh kesopanan, keramahan, kelembutan, kekhusyu’an shalat mereka, kesabaran dan keteguhan mereka, dan kesantunan berbagai lipstik indah lainnya karena di balik semua itu penuh bahaya kekufuran, kesyirikan, dan kesesatan. Kepada para ta’mir masjid, hendaknya tidak mengizinkan rombongan Jama'ah Tabligh untuk menempati masjidnya, karena kalau memberi izin kepada mereka berarti membuka pintu bagi Tabligh untuk menyebarkan virus kesesatan Jama’ah Tabligh kepada Jama’ahnya. Selain itu juga merupakan lampu hijau bagi Tabligh untuk menularkan virus kesesatan mereka kepada masyarakat sekitar masjid, di samping aktivitas mereka selama di masjid yang dapat mengotori masjid. Para ta’mir bertanggung jawab dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala atas amanahnya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melindungi diri kita dan keluarga kita dari kelompok firqah Tabligh. Amiinn…..Wallalhu a’lam bish shawwab PENUTUP Harapan besar dari penerbitan buku kecil ini adalah sebagai nasihat . kepada saudara-saudara kami yang menjadi pengikut JT agar segera menyadari dan segera bertaubat mengambil pelajaran karena takut kepada Allah ﷻ, karena hanya orang yang takut kepada Allah ﷻ yang bisa mengambil pelajaran dan peringatan. Allah berfirman : “Orang-orang yang takut kepada Allah akan mendapat pelajaran.” (QS. Al A’laa: 10) Adapun orang yang binasa akan berpaling dari nasihat dan peringatan, Allah ﷻ berfirman : “Dan orang-orang yang celaka akan menjauhinya, (yaitu) orang akan memasuki api yang besar (neraka).” (QS. Al-A’laa: 11-12) Dan telah banyak muslimin yang sempat terjerumus di dalam kesesatan JT ini, kemudian mereka kembali kepada jalan yang benar, yaitu thariqah (jalan) yang telah ditempuh oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat yang mereka telah di ridhai oleh Allah ﷻ. Allah berfirman : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah : 100) Dengan tidak mengurangi dan menambah dari thoriqoh yang telah dinyatakan sempurna oleh Allah , Allah ﷻ berfirman : “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu." (QS. Al Ma’idah : 3) Semoga buku ini ditulis semata-mata mendorong untuk saling menasihati dalam kebaikan, ikhlas karena mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala, bersih dari hasad dan dengki. Karena sudah jelas dikalangan muslimin berdasarkan dalil-dalil yang shahih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa setiap perkara baru yang diada-adakan di dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan di neraka. Segala khilaf dan salah dalam buku ini adalah semata-mata dari penulis. Dan penulis bertaubat serta berlepas diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala baik di dunia ini maupun di akhirat kelak dan segala kebenaran yang terdapat dalam buku ini semata-mata dari Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menyelamatkan kita dari setiap kesesatan di dunia ini dan menyelamatkan dari siksa-Nya di neraka. Amiinn… SUMBER : Buku “Jama’ah Tabligh : Kenyataan & Pengakuan” Penyusun : Ustadz Abu Umamah Abdurrohim bin Abdulqohhar Al Atsary Cetakan : Pertama Jumadil Akhir 1430 H Mei 2010 M Penerbit : Hikmah Ahlus Sunnah Telegram : https://t.me/karkuntablightobat SERIAL KESESATAN JAMAAH TABLIGH Muqaddimah Kalimat Rahasia Jamaah Tabligh Kisah Kelabu Jamaah Tabligh Pengakuan Mantan Jamaah Tabligh

KISAH KELABU JAMA’AH TABLIGH Dari kisah-kisah kelabu Jama’ah Tabligh, pembaca akan tahu betapa kebencian mereka kepada al-haq dan pembawa al-haq, dalam keadaan banyak Muslimin tersihir dengan keindahan “lipstik” jama’ah ini. Mari kita ikuti kisah-kisah mereka, semoga Allah subhanahu wa ta'ala sen…

"KALIMAT RAHASIA JAMA’AH TABLIGH" Sebelum membaca artikel ini, alangkah baiknya membaca Jamaah Tabligh, Antara Kenyataan dan Pengakuan  .agar lebih sempurna faidahnya. Barakallahu fikum. Inilah Kesesatan Jamaah Tabligh (1) -------------------------------------- …