Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

KAEDAH-KAEDAH PENTING DALAM MEMAHAMI NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH Kaidah Ahlussunnah dalam Memahami Nama &. Sifat Allah Kaedah Pertama : Yang wajib dalam memahami dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunnah dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah : Yang wajib dalam memahami dal…

LARANGAN MENCERITAKAN HAL HUBUNGAN BADAN KEPADA ORANG LAIN Hukum Menceritakan Hubungan Badan Kepada Orang Lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Ketahuilah, sepertinya salah seorang kalian telah menutup pintunya dan menjulurkan tirainya. Lalu tatkala telah me…

Asma bintu Salamah . oleh Al Ustadz Abu Hamzah Kaswa Saat-Saat Yang Mencemaskan Malam mulai mengembangkan sayapnya. Perlahan keadaan kota Mekah semakin temaram. Asma' merasakan kegelisahan ketika sang suami -'Ayyasy bin Abi Rabi'ah- tak kunjung pulang. Dia berpikir, apak…

HADITS MURSAL Matan al-Baiquniyyah وَمُرْسَلٌ مِنْهُ الصَّحَابِيُّ سَقَطْ ... . Dan mursal di antara (hadits) adalah yang Sahabatnya gugur (tidak disebutkan)...(al-Mandzhumah al-Baiquniyyah) Pengertian Hadits Mursal dan Contohnya Penjelasan: …

SAAT SUNGAI MENGHANYUTKANNYA Oleh : Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa'i حفظه الله تعالى Saat Sungai Menghanyutkan Bayi Nabi Musa Jika Allah telah menghendaki, adakah yang mampu menghalangi? Berdoalah kepada Allah, agar Dia menghendaki kebaikan untuk Anda. Fir'aun…

Untuk Adikku Tercinta Kisah : Untuk Adikku Tercinta Satu kesan yang selalu hadir dihatiku saat kata 'adik' terdengar di telingaku ataupun terucap dari lisanku sendiri. Dia adalah sahabat sekaligus 'kakak' secara makna bagiku. Dulu aku tidak berpikir begitu tentangnya. Namun seir…

TAK SANGGUP HIDUP SENDIRI Oleh : Al Ustadz Abu Muhammad Farhan Tak Sanggup Hidup Sendiri Seorang mukmin membutuhkan saudaranya sesama mukmin. Hidup dalam kebersamaan tidak terpisahkan. Sehingga yang lemah akan menjadi kuat dengan keberadaan yang lain. Karena sesama kaum mukmi…

Goresan Rindu di Ujung Mata Pena Tak jarang memori ini terpelanting jauh kebelakang . Menapaki seberkas demi seberkas jalan yang pernah kutelusuri Goresan ini bukan tentang rintihan luka yang berbicara Adalah deretan rindu yang terangkai di ujung mata pena Aku sulung dari 3 bersaudara. Berlatar belakang dari keluarga sederhana yang selalu ternaungi oleh limpahan kasih sayang-Nya. Tumbuh di kalangan keluarga agamis bernuansa tradisional. Ya, aku tidak terlahir dari kedua orang tua yang berjalan di atas manhaj salafi. Beberapa ritual kebid'ahan pun sempat aku lakoni kala aku masih berstatus kanak-kanak. Itu karena dorongan dari nenek dan bude (kakak ayah) yang berusaha menjadikanku seorang yang taat beragama dan gemar beribadah. Hingga akhirnya, Allah berkehendak memancarkan semburat cahaya salafi di tengah perjalanan hidup ini- Alhamdulillah-. Sejak usia 19 tahun ayahku terdiagnosa memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi). Seiring berjalan waktu pergantian usia demi usia menambah beban dan tanggung jawab ayahku sebagai seorang suami dan ayah, kian berat. Muncullah kekhawatiran dari ayahku tentang kesehatan dirinya. Hingga terdengar kabar bahwa ada satu pengobatan alternatif yang 'katanya' bisa menyembuhkan hipertensi. Namanya 'reki', salah satu jenis pengobatan yang dilakukan dengan cara mentransfer 'tenaga dalam' yang tampaknya dengan bantuan jin. Untuk lebih meyakinkan ibu pun membantu untuk mencari informasi demi informasi tentang jenis pengobatan ini. Dan ternyata, banyak orang yang berpendapat bahwa reki benar bisa menyembuhkan hipertensi. Akhirnya ayahku mengikuti ritual ini untuk memperoleh kesembuhan -semoga Allah mengampuni keduanya karena minimnya ilmu agama saat itu-. Pengobatan alternatif ini sempat berjalan beberapa bulan dan dari situ berefek pada diri ayah. Bahkan saat itu ayah sampai bisa menyembuhkan orang-orang sakit. Kami mengira itu karena banyaknya jin yang ada dalam tubuh ayah. 'Katanya', jin-jin itu masuk ke dalam tubuh ayah melewati 'pintu cakra' yang dibuka oleh 'dokter reki'. Entahlah! Berjalan 3 atau 4 bulan dari rutinitas 'reki', qadarullah wa ma syaa fa'ala, ayah terserang stroke yang menyebabkan setengah saraf tubuhnya tidak dapat di gunakan dengan maksimal. Akhirnya, ayah dilarikan ke Rumah Sakit Daerah yang berada dekat rumahku. Namun karena peralatan kedokteran yang terbatas ayah dirujuk ke rumah sakit yang agak jauh dari tempat kami. Sementara itu, ibu berinisiatif untuk memberi kabar kepada 'dokter reki' tentang kondisi ayah. Sang 'dokter' pun mengatakan bahwa ayah akan 'ditransfer' lagi dalam waktu dekat. Dan benar, setelah pen'transfer'an usai keadaan ayah jauh lebih baik, hingga pihak rumah sakit mengizinkan ayah untuk pulang keesokan harinya. Namun, malam hari sebelum kepulangannya 'katanya' ayah di'transfer' lagi. Malam itu terjadilah apa yang terjadi. Ayah tiba-tiba tak sadarkan diri (koma). Sekujur tubuhnya membiru, tekanan darahnya sangat tinggi. Meskipun matanya terbuka, namun pandangannya sayu tak bercahaya seakan tak ada harapan lagi. Seakan gelap akan membumihanguskan kehidupan kami. Namun Allah berkehendak lain. Beberapa hari kemudian, kondisi ayah semakin pulih dan membaik, meskipun masih harus melanjutkan rawat inap. Hingga akhirnya ayah diizinkan pulang kerumah. MasyaAllah betapa senang hati ini, bisa berjumpa dengan beliau lagi setelah sekian lama tidak berjumpa; meskipun beliau masih harus dibantu dengan kursi roda. Akan tetapi rupanya ujian belum berakhir. sejak kepulangannya dari rumah sakit, ibu merasakan ada yang aneh pada diri ayah. Tatapan dan tingkah laku beliau agak aneh. Ibu merasakan pada diri ayah ada pribadi yang lain. Hal ini ternyata juga dirasakan paman ayah (adik nenek). Paman ayah yang juga teman sepermainan ayah sejak kecil merasakan ada yang berubah pada diri ayah. Usut punya usut ternyata dalam tubuh ayah bersemayam makhluk lain (jin). Menurut pengakuannya, ia jin perempuan putri bangsawan Cina. Entahlah. Yang jelas jin yang terkadang merasuki tubuh ayah ini sungguh mengganggu dan memudaratkan kami. Karena gangguan jin inilah, kemudian ibu dan keluarga ayah menghentikan rutinitas 'reki' dan berkeinginan untuk mengeluarkan jin yang merasuki tubuh ayah. Beberapa 'orang pintar' (dukun) pun sempat diundang ke rumah untuk mengusir jin (yang ternyata banyak) yang ada dalam tubuh ayah. Allahu musta'an kesyirikan dibalas kesyirikan. Semoga Allah mengampuni mereka karena minimnya ilmu pada saat itu. Namun, tidak semua jin bisa dikeluarkan termasuk 'sang putri Cina' yang masih bertahan dalam tubuh ayah. Di tengah kegalauan masalah jin yang ada dalam tubuh ayah, dengan karunia Allah, teman ayah semasa SMP datang menjenguk dan menyarankan agar ayah di ruqyah. Nah, di situlah awal perkenalan kami dengan salafi. Meskipun pihak keluarga sempat meragukan ruqyah, namun saran ruqyah ini tetap dilakukan. Beberapa ikhwah dari manhaj ahlussunnah terdekat dimintai ta'awun untuk membantu untuk meruqyah ayah. Dan alhamdulillah, dengan izin Allah, jin-jin dalam tubuh ayah pun pergi termasuk 'sang putri Cina' yang yang paling sulit keluar. Setelah prosesi ruqyah selesai, ikhwah menyarankan agar foto-foto, patung, dan semua gambar makhluk bernyawa dihilangkan. Ayah melaksanakan saran mereka meskipun ada pertentangan keras dari pihak keluarga besar. Namun alhamdulillah, lambat laun mereka pun menerimanya. Selanjutnya ayah juga meminta untuk ikut tinggal sementara di pondok ahlussunnah tersebut dengan tujuan untuk membentengi diri. Sehingga selama beberapa waktu ayah tinggal di pondok itu melakukan aktivitas bersama santri walaupun dengan susah payah. Efek dari stroke, ayah harus kembali belajar menyeimbangkan tubuh lagi. Belajar berjalan, belajar menulis, bahkan belajar berbicara. Sedangkan ibu, setelah musibah yang menimpa ayah, beliau memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Maha sempurna hikmah Allah, hikmah yang selalu membanjiri alur hidup para hamba-Nya. Meskipun kondisi ayah tak sekekar sebelumnya, meskipun ibu kehilangan pekerjaannya, namun karena semua itulah kami mulai belajar menggenggam manhaj salafi. Allah memberi yang kita butuhkan. Manhaj yang shahih inilah semua yang kita butuhkan. Meskipun fananya kemewahan dunia terluputkan. Kejadian di atas terjadi sekitar tahun 2005, ketika aku berusia 5 tahunan. Hanya dari rekaman ingatan dan serpihan memori sederhana dan bantuan penuturan ibu, terangkailah yang akhirnya terbaca. Alhamdulillah. * * * Pertengahan 2012. Memori ini berhenti di sini. Saat aku memulai kehidupan baru di alam thalibatul ilmi. Tepatnya tanggal 27 Juli 2012. Sebuah ma'had yang awalnya adalah pelarian dari aturan rumah yang begitu mengekang. 'Adat' menjadi 'sulung' yang terbiasa disalahkan membuatku lebih memilih mondok, walau sebenarnya ingin melanjutkan jenjang pendidikan di sekolah negeri. Sebuah ma'had yang terletak sekitar 4 jam perjalanan dari rumahku adalah pondok pertamaku. Ma'had yang telah tergelincir ke jalan yang salah. Karena minimnya ensiklopedia agama ayah dan ibu, aku dimasukkan ke sana. Lagi-lagi pertentangan keluarga, terutama nenek, tentang keputusan orang tua yang akan memasukkan ke pondok. Ketidaksetujuan nenek yang memperjuangkan pendidikan formal, yang memprioritaskan duniawi- sekolah, kuliah, sarjana, dan bekerja-. Namun pondok yang aku masuki ini ternyata mengeluarkan ijazah negara. Nah, inilah yang membuat nenek akhirnya menyetujui aku mondok di situ. Masuknya diriku ke ma'had tersebut akhirnya tersebar ke ikhwah salafiyin rekan-rekan ayah. Nasehat demi nasehat ayah dapatkan dari ikhwah, agar aku ditarik darinya. Masya allah betapa perhatiannya mereka dalam menjaga agama saudaranya. Namun karena beberapa faktor ayah mempertimbangkan agar aku bertahan disana. Empat setengah tahun kemudian, saat aku sudah mulai menyukai segala jenis yang ada di sana, saat itu pula suratan takdir aku harus menutup kisah di ma'had pertama. Tak bisa berbuat banyak, saat keinginan dan keharusan di jalan takdir yang sama. Hati yang masih merindu dan menginginkan hanya bisa membuahkan tetesan air mata. Pada saat seperti ini ayah bersemangat mencarikan ma'had baru untukku. Beliau tidak ingin aku 'futur'. Ma'had demi ma'had ahlussunnah ayah telusuri informasinya. Namun berhubung saat itu adalah pertengahan tahun ajaran, agak sulit mendapatkan kesempatan untuk mencari ma'had yang menerima santri baru. Semua itu membuat kami hampir putus asa. Terkecuali ayah, beliau masih sangat bersemangat mencarikan ma'had untukku. Sampai akhirnya ayah mengajakku ke sebuah tempat yang belum pernah kupijak sebelumnya. Ternyata ayah sengaja menemui pengurus sebuah ma'had untuk membicarakan perihalku agar bisa diterima meskipun di tengah tahun ajaran. Kesungguhan ayah membuahkan hasil yang menggembirakan beliau. Aku diterima di ma'had itu. Segala puji hanya milik Allah semata. * * * Ahad 12 Februari 2017, di tanggal itulah kisah baru mulai terangkai. Ditempat baru bersama tokoh-tokoh kehidupan yang baru. Sebuah tempat yang semoga Allah limpahkan keistiqomahan di atas kebenaran-Amin-. Berawal dari detik yang terus berdetak tanpa kenal lelah. Pergi meninggalkan menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Terangkailah kisah demi kisah yang tersimpan dalam ingatan. Hingga akhirnya waktu bergilir di tanggal 4 Juli 2018. Jatuh pada hari Rabu, hari pemberangkatan tahun ajaran baru yang kedua yang ku jelajahi masa tarbiyah di sana. Seperti biasa, aku dan adik berangkat ke ma'had diantar ayah. Mengendarai bis umum, menyusuri kota demi kota menuju ma'had. Alhamdulillah saat mentari semakin meninggi kami sampai ke tujuan. Setelah istirahat sejenak di warung dekat ma'had ayah segera ingin bergegas pulang dengan alasan mengejar jadwal kepulangan bis ke kota asal. Sebelum pulang beliau sempat berpesan kepadaku, "Ubahlah rumahmu dengan ilmu yang telah engkau pelajari. Penuhi ia dengan ilmu. Yang rukun sama adik, saling menjaga... Dan yang terakhir, besok hari jumat sudah boleh telepon kan? Abi telepon Insya Allah." Ayah pun pulang kembali ke rumah. Tak ada kata yang bisa kuucapkan saat itu. Hanya diam menatap langkah kepergiannya dengan berat hati. Entahlah saat itu aku merasa seakan tak kan pernah melihatnya lagi. Dua hari setelah pengantaran, aktivitas belajar mengajar belum terlaksana dengan maksimal. Sore ini, Jumat, selepas salat Asar, segera kulangkahkan kaki menuju asrama. Kuraih Al Quran dan segera kubaca surat Al Kahfi. Baru beberapa ayat terbaca, seorang musyrifah mencariku dan mengatakan aku akan dijenguk. Sontak saja aku heran, "Baru dua hari datang, kok sudah ditengok?" gumamku. Untuk memastikan aku pun segera menemui 'tamu' yang mencariku. Saat kulihat dari kejauhan, kukatakan padamu musyrifah, "Afwan, Mah, ana nggak kenal sama orang itu, mungkin salah nyari..." "Tapi tadi bilangnya mencari anti," kata muysrifah tersebut. "Mungkin salah dengar...? Ada yang namanya mirip ana." Musyrifah tersebut akhirnya percaya. Setelah yakin, aku segera kembali ke asrama melanjutkan aktivitas yang tertunda. Namun baru beberapa menit, lagi-lagi aku dipanggil dan diminta segera menemui tamu tadi. Dengan perasaan aneh, aku pun segera menemuinya. Sampai di ruang tamu, tampak adikku sedang mengobrol akrab dengannya. Adikku bilang, "Mbak, ini adeknya Pakde, mbak emang belum pernah ketemu." Aku hanya mengangguk sembari tanpa basa-basi aku bertanya mengapa beliau sampai bisa menjenguk kami. Betapa terkejutnya aku, ketika beliau menyampaikan bahwa aku harus segera pulang. Beliau bermaksud menjemput aku dan adik. Aku terdiam, hanya firasat yang kala itu berbicara. Bahkan aku tak berani bertanya mengapa. Tak menunggu lama, aku dan adikku segera bersiap-siap untuk pulang. Perasaan campur aduk tak ada kejelasan. Rasanya ingin menangis tapi segera aku tahan, meskipun akhirnya menetes juga air mataku. Setelah persiapan selesai, aku segera berpamitan dengan teman-teman. Mereka pun bertanya-tanya mengapa aku harus pulang. Aku hanya menjawab singkat, "Aku nggak tahu." Salah seorang temanku yang bersalaman denganku berkata, "Apapun yang terjadi nanti kamu harus bersabar." Kata-kata itu senantiasa mengiang di telingaku selama dalam perjalanan. Dan satu firman Allah yang selalu kubaca dan kucoba maknai artinya, "Laa yukallifullahu nafsan illa wus'aha." Kulihat mata adikku memerah selama perjalanan. Dengan berusaha tenang, aku mengatakan, "Dek, jangan menangis dulu. Kita nggak tahu apa yang terjadi. Husnudzan, minta yang terbaik sama Allah." Adik hanya mengangguk. Subhanallah. Betapa kacaunya perasaan kami saat itu. Hanya ada satu nama yang terbentuk dalam dadaku, "Abi." Azan Maghrib berkumandang saat kami masih di perjalanan. Mobil segera berhenti di SPBU agar kami semua bisa menunaikan salat Maghrib dan Isya' dijamak. Pada saat sujud itulah aku berdoa, "Ya Allah, kalau memang Abi meninggal, dengan menyebut nama-Mu aku ikhlas. Mudahkan Abi di sana. Ampunilah dosa-dosanya. Lapangkan dan terangi kuburnya. Bantu hatiku untuk kuat Ya Allah..." Seusai salat perjalanan dilanjutkan. Akhirnya kami pun tiba di kota tercinta. Mobil diparkir di lapangan, sedang rumah masih agak berjarak dari lapangan. Dengan diantar pakdhe yang sudah menunggu kami di lapangan, segera saja kami menuju rumah. Dari kejauhan, tenda biru berdiri tegak menaungi halaman rumah. Kursi-kursi berjajar rapi, lampu neon 25 watt menerangi halaman rumah kami. Dugaanku bertambah pasti. Harapan agar yang menyambutku adalah Ayah, kini benar-benar sirna. Aku tak lagi mencarinya, walau aku belum tahu pasti siapa yang tiada. Namun hatiku berkata, "Abi." Kakak-kakak sepupuku datang menghampiri aku dan adik kemudian menuntun kami ke ruang tengah. Tampak di sana, ibu duduk dengan pandangan kosong. Bude-bude (kakak-kakak ayah) langsung mendekat dan memeluk aku dan adik, seraya berkata, "...Yang sabar ya, Nduk... Abinya didoakan. Nangis boleh, ngga pa pa, tapi inget jangan kebablasan," katanya. Kulempar pandanganku kearah Ibu. Aku ingin kuat..., namun..., air mata ini akhirnya tak kuasa tertahan..., pecah. Ayah..., sosok yang selalu kurindu hadirnya kini telah pergi menemui Rabbnya... Figur yang selalu kubanggakan, kini tak ada lagi kisah tentangnya, suaranya, candanya, nasehatnya. Ayah meninggal di hari Jumat itu waktu dhuha, tanpa sakit sebelumnya. Bahkan ceritanya ayah sudah bersiap untuk berangkat bekerja. Menurut teori kesehatan, katanya, ada kemungkinan terkena serangan jantung. Dada terasa sakit dan keringat mengucur deras. Dimakamkan bakda Asar, dan kami tiba di rumah sudah pukul setengah sembilan malam. Tokoh besar dalam sejarah kehidupanku kini telah tiada. Figur yang selalu kubanggakan kini tiada lagi kisah tentangnya. Entah sampai kapan rindu ini akan terurai. Rabb, inilah ketetapan-Mu Kepada takdir aku tak kan lancang menyalahkan-Mu Tak akan kulampirkan surat gugatan di hadapan-Mu Hanya harap yang selalu melesat Agar akhir ucapannya adalah nama-Mu Aamiin Ya Mujibassailin Rabb..., air mata yang menetes saat aku mengingatnya... Bukankah air mata tak terima... Hanya saja rindu ini masih saja bersuara... Saudaraku sekalian, Orang tua adalah salah satu yang berarti bagi kehidupanmu Salah satu pintu surga untukmu Jangan sia-siakan keberadaan mereka Berbaktilah selagi bisa Kita tak pernah tahu tentang ajal Dan jika kalian tahu, 'kehilangan' mereka adalah sesuatu yang sangat berat Yang butuh proses untuk menata hati dalam menghadapi kenyataan Wamaa tadrii nafsun maa dza taksibu ghadan wamaa tadrii nafsun bi ayyi ardhin tamuut Semoga bermanfaat Baca Juga : Kisah Perjalananan Seseorang dari Nasrani sampai menjadi Salafy Sumber Majalah Qudwah Edisi 74 Vol. 07 1441 H Baca juga kisah inspiratif lainnya disini

HADITS MAUQUF Matan al-Baiquniyyah ومَا أَضَفْتَهُ إِلَى الأَصْحَابِ مِنْ ... قَوْلٍ وَفِعْلٍ فَهْوَ مَوْقُوفٌ زُكِنْ . Dan (hadits) yang dinisbatkan kepada para Sahabat...berupa ucapan dan perbuatan, itu adalah mauquf yang diketahui (al-Mandzhumah al-Baiquniyyah) P…

MENGGAPAI BAITULLAH Kisah Perjalanan Umrah ke Baitullah Muslim mana yang hatinya tak merindu Baitullah? Gema talbiyah menggetarkan relung hati terdalam. Meluruhkan jiwa, memunculkan kerinduan tak terperi. Seorang muslim taat tentu sangat mengharap dirinya bisa menginjakkan kaki di Tanah Haram. Walau itu cuma sekali dalam seumur hidupnya. Dalam rangka mewujudkan ketaatan kepada-Nya. Dalam rangka menghidupkan sunnah Nabi-Nya. Menggapai Baitullah merupakan harapan yang menggayut di setiap dada seorang muslim. Rihlah sa’idah, perjalanan yang menyenangkan lantaran didorong keimanan. Perjalanan yang tiada menjemukan lantaran diiringi sejuta harapan mendapat ganjaran. Perjalanan yang tiada akan menuai kerugian, walau sekian banyak harta dikorbankan. Tidak. Tidak akan merugi. Karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah menyiapkan penggantinya yang Iebih baik. Jadi, muslim mana yang hatinya tak rindu menggapai Baitullah? Terlebih, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: . العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ”Umrah ke umrah yang lain merupakan kaffarah (peluruh dosa) yang terjadi di antara rentang waktu itu." [H.R. AI-Bukhari no.1773 dan Muslim no. 3289 hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه]. Juga sabda beliau shallallahu alaihi wasallam : تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ ”Iringkanlah oleh kalian antara haji dan umrah, karena keduanya bisa menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa, sebagaimana tungku besi membersihkan besi dari karat.” [H.R. An-Nasai no.2630 dari shahabat Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani رحمه الله dalam Ash Shahihah]. Secara bahasa, umrah artinya berziarah (berkunjung). Secara syar'i didefinisikan; menziarahi Baitul-Atiq (Ka’bah) untuk thawaf di Ka'bah dan melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah. (Tabshiru An-Naasik bi Ahkami Al-Manasik, hlm.30. Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-'Abbad Al-Badr]. Tak sebagaimana berhaji, menunaikan umrah bisa dilakukan dengan cara santai, walau tetap diselimuti semangat untuk beribadah. Pada umumnya, jamaah umrah dari Indonesia, setiba di Bandar Udara King Abdul Aziz Jeddah memilih langsung ke Madinah. Tidak langsung menuju ke Makkah untuk menunaikan manasik umrah. Perjalanan dari Jeddah ke Madinah bisa ditempuh dalam rentang waktu lima hingga enam jam. Pemandangan kanan-kiri jalan, sejauh mata memandang, diwarnai gunung batu, padang pasir, Iembah ditumbuhi pepohonan nan rimbun menghijau seperti di Indonesia. Bila terjadi angin kencang, pasir-pasir beterbangan. Bukit pasir nan menggunung pun bisa sirna dan berubah bentuk menjadi dataran pasir. Jalan aspal yang mulus pun bisa tertutupi butiran-butiran pasir. Sebuah pemandangan yang sulit didapatkan di Tanah Air. Masya Allah Tabarakallah. Terkadang, dari kejauhan ada segerombolan unta atau kambing milik orang-orang badui yang tengah digembala. Penduduk badui hidup nomaden. Berpindah dari satu tempat ke tampat Iain. Karenanya, tak jauh dari gerombolan unta dan kambing yang tengah digembala, terlihat satu-dua buah tenda. Itulah tempat hunian mereka. Bila telah tiba di Madinah, ada dua masjid yang disyariatkan untuk diziarahi, yaitu pertama Masjid Nabawi, yang keutamaan shalat di dalamnya tentu teramat agung. Shalat di dalamnya Iebih baik seribu kali dibanding shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Kedua, Masjid Quba’. Di Masjid Quba' disunnahkan menunaikan shalat dua rakaat. Rasulullah ﷺ mendatangi Masjid Quba’ setiap Sabtu. Baik dengan berjalan kaki maupun berkendara, lantas beliau shalat dua rakaat di dalamnya. [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Bahkan, dalam sabda beliau shallallahu alaihi wasallam yang artinya, ”Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, Iantas mendatangi Masjid Quba’, kemudian shalat dua rakaat di dalam Masjid Quba tersebut, maka bagi dia mendapat pahala umrah." [H.R. Ibnu Majah dan selainnya dari shahabat Abu Umamah Sahl bin Hunaif رضي الله عنه, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami']. Hal yang disyariatkan pula saat berada di Madinah, yaitu menziarahi tiga pemakaman, yaitu makam Rasulullah ﷺ beserta makam Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al Khaththab رضي الله عنهما (tiga makam ini berada dalam satu kamar), pemakaman Baqi’ dan pemakanan Syuhada’ Uhud. Untuk melakukan kunjungan ke Masjid Quba’ dan Uhud, biasanya pihak penyelenggara umrah (biro travel) menyediakan sarana transportasi bus. Kunjungan ke kedua tempat tersebut biasanya digabungkan dengan program city tour. Seperti mengunjungi percetakan mushaf Alquran, serta melihat dan berbelanja di Kebun Kurma, sebuah tempat hijau di Kota Madinah. Adapun menziarahi makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al Khaththab رضي الله عنهما, atau ziarah ke pemakanan Baqi’ dan mengunjungi Raudhah, bisa dilakukan disela-sela waktu longgar. Misal, setelah melakukan shalat lima waktu di Masjid Nabawi, seseorang bisa langsung berziarah. Kecuali pemakaman Baqi’, biasanya dibuka setelah shalat Shubuh. Berziarah ke pemakaman hanya diperuntukkan kaum laki-laki. Sedang mengunjungi Raudhah, bagi wanita disediakan waktu-waktu tertentu yang khusus. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, ”Apa yang ada di antara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) dari taman-taman surga.” Bila jamaah memilih paket perjalanan umrah sembilan hari. Di Madinah, diberi kesempatan tinggal selama tiga hari. Di Makkah empat hari. Sisa dua hari untuk perjalanan pergi-pulang Indonesia-Saudi Arabia. Berbeda dengan paket perjalanan umrah yang lebih dari sembilan hari, tentu akan terasa lebih Ionggar dan lebih banyak waktu untuk beraktifitas ibadah dan Iainnya. Setelah tiga hari di Madinah, para jamaah bersiap menuju Makkah guna menunaikan umrah. Untuk memudahkan, semenjak di hotel tempat menginap disarankan sudah mandi janabah dan dalam keadaan mengenakan perlengkapan umrah. Adapun melafazhkan, "Labbaik Allahumma ’Umratan”, sebagai wujud seseorang memulai berihram, diucapkan saat di atas kendaraan yang hendak melaju dari tempat miqat. Perjalanan menuju tempat miqat dari penginapan atau hotel tidak lebih dari setengah jam. Para jamaah akan disinggahkan ke satu masjid yang bertempat di Dzulhulaifah (masyarakat sering menyebut dengan Bir Ali, yang merupakan miqat penduduk Madinah). Di lokasi ini, disediakan tempat mandi dan wudhu. Disunnahkan shalat di tempat yang senyatanya merupakan wadi Al-Aqiq (Iembah Al-Aqiq) yang diberkahi. Kata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (artinya), ”Shalatlah engkau di wadi yang diberkahi ini.” [H.R. Al-Bukhari no.1534]. Perjalanan menuju ke Makkah ditempuh sekira enam jam. Dalam perjalanan hingga menjelang thawaf, talbiyah terus dikumandangkan. Setiba di Makkah Al-Mukarramah, sebelum menuju Masjidil Haram dan menunaikan manasik umrah, diberi kesempatan untuk istirahat sejenak di pemondokan. Tentunya, seraya merapikan barang bawaannya masing-masing ke kamarnya. Setelah itu, jamaah beranjak menuju Masjidil Haram, di mana Ka’bah ada di dalamnya. Jamaah menunaikan umrah; thawaf mengitari Ka’bah, shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, meminum air zam-zam, lalu mengguyurkan ke atas kepala, lantas menuju ke Bukit Shafa untuk memulai sa’i. Pungkas dari manasik umrah ini dengan tahalul. Yaitu menggundul bersih rambut di kepala atau memendekkannya. Adapun bagi wanita cukup dengan memotong seluruh ujung rambut sepanjang satu ruas jemari. Jika semua itu sudah dilakukan, selesailah sudah ibadah umrah. Para jamaah pun bisa mengganti pakaian dan beraktivitas seperti biasa. Tinggal memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Bila ada kelapangan rezeki bisa belanja, membeli sesuatu sebagai buah tangan untuk kerabat dan handai taulan di Tanah Air. Selama empat hari di Kota Makkah, pihak penyelenggara umrah biasanya mengagendakan city tour guna melihat beberapa obyek yang patut dllihat. Di antaranya, jamaah akan diajak keliling kota melihat masy’aril haram di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ketiga tempat itu merupakan tempat-tempat yang dijadikan pusat peribadahan saat menunaikan haji. Dengan mengunjungi tempat-tempat tersebut, diharapkan mampu membangkitkan semangat untuk berhaji. Kunjungan memupuk rindu. Ya, rindu untuk menunaikan rukun Islam kelima. Sebuah harapan dan cita-cita mulia. Juga, jamaah akan ditunjukkan Gua Hira yang berada di Jabal Nur. Letak Jabal Nur di sebelah timur Iaut Masjidil Haram, menjorok ke jalan Al-Adi. Karena ketinggian gunung ini mencapai 642 m, tentu jamaah tidak diajak untuk menaiki gunung Nur tersebut. Apalagi masuk ke dalam gua. Hanya sekadar tahu wujud Jabal Nur, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kali pertama menerima wahyu. Lebih dari itu, tak ada urgensinya secara syariat menziarahi Jabal Nur. Sama halnya dengan Jabal Nur, saat mengitari kota Makkah akan ditunjukkan pula Jabal Tsur. Di gunung itulah terdapat Gua Tsur. Sebuah gua tempat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar Ash-Shiddiq menyembunyikan diri dari kejaran kaum musyrikin Quraisy saat hendak hijrah ke Madinah. Letaknya sebelah selatan Masjidil Haram. Perjalanan keliling Kota Makkah bisa ditambah rute menuju Hudaibiyah. Karena letak tempat yang sudah berada di luar Kota Makkah, biasanya sang pengemudi bus minta biaya tambahan. Di Hudaibiyah, jamaah bisa mengunjungi peternakan unta yang dikelola orang badui. Di tempat itulah jamaah bisa minum susu unta dan air seni unta. Dengan mengeluarkan lima hingga sepuluh reyal Saudi, jamaah sudah bisa mencicipi susu unta segar yang langsung diperas dari unta-unta yang ada di situ. Demikian halnya dengan air seni unta. Walau terasa getir, baik untuk pengobatan. Berdasar hadits dari shahabat Anas bin Malik رضي الله عنه, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan orang-orang yang sakit setelah tiba di Madinah untuk mengikuti penggembala unta, lalu mereka (diminta) meminum susu dan air seni unta. Setelah mereka meminum susu dan air seni unta, sehatlah tubuh-tubuh mereka. [H.R. AI Bukhari no 5686]. Melakukan rihlah (perjalanan) yang panjang dengan sarat nilai ibadah, seperti rihlah untuk umrah, jangan menyepelekan masalah teman seiring. Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad حفظه الله bahkan menekankan pentingnya pertemanan saat haji dan umrah. Setelah menjelaskan pentingnya keikhlasan dan mengetahui hukum-hukum terkait manasik, beliau sebutkan pentingnya memilih teman seiring tatkala safar untuk haji dan umrah. Memilih teman dimaksud adalah teman yang bisa memberi faedah dalam ilmu dan adab. [Tabshiru An-Nasik bi Ahkami Al-Manasik, hlm.9]. Hati siapa yang tak merindu untuk menggapai Baitullah?. Ya Allah, berilah kami kekuatan dan kemudahan untuk bisa menggapainya. Amin. Alhamdulillah. Wallahu a’lam. Sumber Majalah Qudwah Edisi 07 Oleh : Tim Reportase Majalah Qudwah https://t.me/Majalah_Qudwah

Belajar Tidak Memberi Mendidik Anak dengan Tidak Memberi Anak itu asyik bermain dengan teman sebayanya. Namun, keasyikan yang ditemukannya berbeda dengan keasyikan yang dulu sering ditemui. Dulu, anak-anak seumuran itu berlarian ke sana ke mari, saling kejar-kejaran, atau bersembunyi agar ditemukan oleh temannya. Namun hari itu, masing-masing anak asyik sendiri-sendiri, diam seribu bahasa, tak ada kata terlontar dari mereka, hanya kadang tersungging sedikit tawa atau sedikit tanya jawab. Ponsel-ponsel pintar yang ada di tangan mereka seolah-olah menyedot dunia mereka. Jasad di tempat, tapi ruhnya entah ke mana. Tampaknya, pemandangan seperti ini tidak sedikit dari kita yang menyaksikannya. Faktanya, tak bisa kita mungkiri, smartphone memiliki efek negatif yang teramat banyak. “Setan gepeng” ini bisa menjadi pintu kepada berbagai macam kejelekan dan kejahatan hanya dengan sentuhan jari, meski di dalam tembok rumah kokoh yang sekalipun. Apalagi untuk anak yang masih labil cara berpikirnya. Namun, apa mau dikata, si anak sangat pengen punya gadget, kalau tidak dituruti, bisa ngamuk besar. Di tempat lainnya, ada anak yang meminta untuk dibelikan kendaraan sendiri. Kalau tidak dibelikan, dia mengancam tak mau kembali lagi ke pondok, tempatnya menuntut ilmu. Demi merayu anaknya, akhirnya dibelikanlah sebuah motor racing yang harganya cukup tinggi. “Tak apalah, yang penting anaknya bersedia mengikuti pendidikan di pondok pesantren,” begitu pikirnya. Namun, dengan kendaraannya, anak pun mulai senang untuk keluar. Entah kemana, sang orang tua pun kadang tak bisa menjawabnya dengan pasti. Dia tidak kerasan ketika di pondok. Pendidikan di pondok pun tidak maksimal diikutinya. Pikirannya terus melayang ke rumah, ingin segera nongkrong bersama temannya. Saat sudah di rumah, langsung keluar rumah, tidak terlihat batang hidungnya. Akhirnya, sang orang tua mulai kehilangan kontrol anaknya. Anaknya semakin sering nongkrong bersama orang-orang yang tak tahu dari mana rimbanya. Yang jelas, mereka bukanlah orang yang sering datang kajian, apalagi beribadah di masjid. Para pembaca Tashfiyah yang budiman. Sebagai manusia yang masih belum sempurna akalnya, tentulah sang buah hati banyak perlu pengarahan orang tua kepada kemaslahatannya. Tak jarang, anak memiliki keinginan kuat yang sayangnya, tidak sejalan dengan maslahat pendidikan. Berbagai cara dilakukannya agar keinginannya dituruti. Ada yang menangis sejadi- jadinya, ada yang kemudian marah kepada orang tua, ada yang lantas merayu salah satu pihak orang tua untuk meluluskan keinginannya. Nah, disinilah Orangtua diuji. Akankah kita lebih kuat pendiriannya sehingga berhasil meredam keinginan anak, ataukah kita terkalahkan dengan ketidaktegaan kita terhadap tangisan buah hati. Baca juga : Cara menghadapi bully pada anak Kadang Tidak Memberi, Tanda Cinta Buah Hati Pembaca Tashfiyah, cinta perlu pengorbanan. Demi orang yang kita cintai, kita terkadang harus mengorbankan kesenangannya, demi maslahat anak itu sendiri. Orang tua harus mengerti bahwa maslahat lebih dikedepankan daripada ridha sang anak. Sebagaimana kita harus tega untuk meminumkan obat yang pahit demi kesembuhan anak ketika sakit, kita juga harus tega untuk menolak permintaan anak yang mengandung marabahaya bagi dunia akhiratnya.  .Menuruti semua permintaan anak justru akan berkonsekuensi buruk untuk perkembangan anak. Mungkin di antara kita sering berpikir saat sang anak meminta, “Sudahlah, belikan saja, demi sang anak.” Terlebih lagi bagi orang tua yang dikaruniai rezeki berlebih. Tapi, di balik itu, justru anak terbentuk pada karakter yang tidak baik. Di antaranya, • anak menjadi keras kepala, • menjadi pribadi penuntut, • tidak mau mengalah, • tidak memiliki rasa empati kepada orang lain, dan beragam efek negatif lainnya yang akan dituai kelak saat anak sudah besar. Namun demikian, ayah bunda pun harus bijak saat menolak permintaan anak. Jangan seseorang menolak permintaan anak tanpa memberikan nasihat dan alasan. Sebab, di sinilah letak pendidikan dari penolakan tersebut. Tanamkan untuk membedakan antara kebutuhan atau keinginan. Ajarkan pula untuk mengerti dan peka terhadap kondisi serta keadaan orang tua. Berikan pula pengertian untuk memahami batasan mana yang baik dan buruk bagi mereka. Ajak anak berkomunkasi dan hindari kemarahan yang tidak beralasan. Saat kita telah menolak pun, kita perlu teguh terhadap keputusan itu. Meskipun anak menangis meronta, berguling-guling, marah, ngambek, atau tindakan kekanakan lainnya, janganlah kita membatalkan keputusan kita. Sebab, anak akan menilai dan menjadikannya sebagai ‘senjata’ jika kelak menginginkan hal lainnya. Namun, kita bisa bernegosiasi, mengarahkan pada hal-hal lain yang tidak memiliki kemudharatan. Pembaca Tashfiyah, semoga Allah menjaga kita dan anak kita semua. Anak merupakan amanah. Kita akan dimintai pertanggungjawaban mengenai mereka, apakah kita telah benar- benar mendidik mereka atau kita lebih memilih membiarkannya. Maka, barang siapa mendidiknya, dia akan menuai buah manisnya. Demikian pula, siapa yang membiarkannya, dia akan menderita disebabkan anaknya. Ibnul Qayyim رحمه الله mengatakan, “Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya dan buah hatinya di dunia akhirat. Hal itu dia lakukan dengan membiarkan anak, tidak menghukumnya, justru menolongnya menuruti keinginan dirinya. Dia menyangka telah memuliakan anaknya, padahal sejatinya dia menghinakannya. Dia mengira telah mengasihinya, padahal sebenarnya telah menzalimi dan menghalanginya dari kebaikan. Dia tidak bisa mengambil manfaat dari anaknya sekaligus menghalangi anak dari bagian kebaikan dunia akhirat. Jika engkau renungi kerusakan pada anak, engkau akan lihat bahwa mayoritasnya dari sang ayah.” Semoga Allah mengaruniakan kepada kita keturunan yang menyejukkan mata dengan ketaatan dan amal saleh yang mereka kerjakan. Amin. BACA JUGA : PENTINGNYA MENGAJARKAN SHALAT PADA ANAK-ANAK [Ustadz Abu Yusuf Abdurrahman] Dikutip dari Majalah Tashfiyah VOL.07 1440 H-2018 M EDISI 81 (hal. 109 – 112) https://akhwat.net/2020/02/08/__trashed/

Hadits ‘Aliy dan Nazil Matan al-Baiquniyyah: وَكُلُّ مَا قَلَّتْ رِجَالُهُ عَلاَ ... وَضِدُّهُ ذَاكَ الَّذِي قَدْ نَزَلاَ Setiap (hadits) yang para perawinya sedikit, itu adalah (hadits) ‘Aliy...dan kebalikannya adalah (hadits) Nazil (Mandzhumah al-Baiquniyyah) Pen…