Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

BERIBADAH DI RUMAH SAAT TERJADI WABAH Berdasarkan himbauan Pemerintah yang mempertimbangkan seluruh aspek dan dampaknya terkait pencegahan sebaran virus corona lebih meluas, maka sebagai warga negara yang baik tidak ada alasan untuk mengatakan tidak dalam merealisasikan himbauan-himbauan tersebut. Ahlus Sunnah wal Jama’ah memegang teguh prinsip as sam’u wat tho’ah (mendengar dan taat) kepada pemerintah, apalagi untuk kemaslahatan umat dan kepentingan orang banyak. Ulama telah menerbitkan fatwa yang sejalan, selaras dan saling menguatkan dengan himbauan-himbauan pemerintah tersebut, antara lain beribadah di rumah, termasuk shalat jum’at dan shalat berjama’ah. Shalat lima waktu dikerjakan di rumah, sedangkan shalat jum’at maka diganti dengan shalat zhuhur 4 rakaat di rumah. Ada beberapa hal yang bersifat pertanyaan dan cukup mengganjal di hati, bahkan sampai muncul kerancuan, bagaimanakah sebenarnya? Kerancuan Pertama Ketika pecah perang, ada rasa takut muncul, rasa takut tersebut nyata dan realita, shalat jamaah tidak lantas gugur. Kenapa shalat jamaah gugur hanya karena kekhawatiran virus corona yang masih bersifat kemungkinan ? Jawaban : Justru wabah virus corona lebih nyata! Dalam perang musuh dapat terlihat, sedangkan virus corona tidak terlihat Ketika perang, posisi musuh dapat diperkirakan dan diperhitungkan, sementara virus corona susah ditebak. Wabah virus corona bukan lagi sebuah kekhawatiran tanpa alasan, korban meninggal dunia telah banyak berjatuhan. Orang Dalam Pengawasan (ODP) , Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan status suspect pun meningkat tajam. Banyak negara telah menerapkan lockdown (isolasi wilayah), sehingga wabah virus corona adalah sesuatu yang nyata. Terkait praktek shalat khauf (shalat di saat pecah perang), ada juga opsi shalat sendiri-sendiri, tidak berjama’ah ketika situasi tidak memungkinkan. Al-Hafizh Ibnu Katsir (Tafsir 2/398) telah mengulas : ”Praktek shalat khauf itu banyak caranya, terkadang arah musuh dari arah kiblat, bisa juga dari arah berlawanan kiblat. Shalat itu sendiri ada yang 4 rakaat, 3 rakaat seperti Maghrib, 2 rakaat semacam Shubuh dan shalat musafir. Kadang-kadang ditegakkan secara berjamaah. Saat perang berkecamuk kadang-kadang mereka tidak bisa melaksanakan shalat berjama’ah, maka shalatlah sendiri-sendiri, menghadap ke arah kiblat maupun tidak ke arah kiblat” Kerancuan kedua Wabah virus corona terjadi karena dosa-dosa hamba, kenapa justru meninggalkan shalat jum’at dan shalat jama’ah? Jawaban : Benar! Apapun yang terjadi pada diri kita dikarenakan dosa-dosa kita sendiri. Oleh sebab itu kita diperintahkan untuk banyak-banyak bertaubat dan beristighfar. Apakah taubat dan istighfar itu tidak bisa dilakukan di rumah ? Apakah taubat dan istighfar itu harus dikerjakan di masjid ? Dalam kondisi semacam ini, yaitu shalat dikerjakan di rumah justru semakin membantu untuk semangat taubat dan istighfar, kenapa ? Bagi yang cinta masjid, untuk yang senang berjamaah di masjid, dengan shalat di rumah terasa berat dan susah di hatinya. Ia bisa menghayati betapa efek buruk dan dampak negatif dari dosa-dosa itu sangat menakutkan Beberapa kondisi Syariat Islam memberikan rukhsah (keringanan). Sementara Rasulullah memerintahkan supaya kita melaksanakan rukhsah tersebut, beliau bersabda : هُوَ صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا رُخصَتَهُ Artinya : “Itu adalah sedekah yang Allah sedekahkan untuk kalian, terimalah keringanan yang Allah berikan” Hadits Umar bin Khatab dishahihkan Al Albani dalam At Ta’liqaatul Hisan 2729 BERIBADAH DI RUMAH SAAT TERJADI WABAH (Bagian #2) Shalat berjama’ah di masjid disepakati sebagai amalan yang memiliki keutamaan besar. Sebagian ulama mengatakan hukumnya sunnah muakkadah, dan sebagian yang lainnya menegaskan bahwa hukumnya wajib. Namun ulama juga menjelaskan adanya udzur (alasan-alasan syar’i) yang membolehkan pelaksanaannya di rumah, antara lain ketika tersebarnya wabah penyakit. Al Mardaawi Al Hanbali (Al Inshaf 4/464) menjelaskan : ”Ada udzur untuk meninggalkan shalat jum’at dan shalat jama’ah bagi orang sakit, tidak ada perselisihan dalam hal ini. Ada udzur juga untuk tidak ikut shalat jum’at dan shalat jama’ah karena khawatir tertular penyakit” Kerancuan ketiga Kita beriman kepada qadha dan qadar. Oleh sebab itu, kita tidak boleh meninggalkan kewajiban karena kekhawatiran terhadap wabah penyakit. Jawaban : Beriman kepada qadha dan qadar tidak menafikan ikhtiar, berusaha malah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari beriman kepada qadha dan qadar Orang sakit misalkan, Ia diperintahkan untuk berobat, bahkan Rasulullah pernah ditanya : ”Wahai Rasulullah, apakah kami boleh berobat ketika sakit?”. Beliau menjawab : ”Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah! Sungguh, tidaklah Allah turunkan satu penyakit melainkan Allah turunkan obatnya, kecuali satu jenis penyakit” Beliau maksudkan adalah penyakit tua, penyakit yang tidak dapat diobati. (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani) Adapun keterangan yang menjelaskan secara khusus terkait wabah penyakit adalah ketika kita membaca riwayat khalifah Umar bin Khatab yang disebutkan oleh Bukhari (5729) Muslim (2219) : Beliau bersama rombongan sedang menuju Syam, di tengah perjalanan, ada informasi bahwa wabah penyakit tha’un sedang menjangkit di negeri Syam. Khalifah Umar lalu meminta pendapat kaum muhajirin, sahabat Anshar dan sesepuh-sesepuh Quraisy. Setelah mendengar berbagai pendapat, Khalifah Umar memutuskan untuk pulang, tidak melanjutkan perjalanan Abu Ubaidah bin al-Jarrah bertanya, “Apakah untuk menghindari takdir Allah?” Khalifah Umar menjawab, “Kalau saja bukan engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah (tentu aku tidak akan heran –pen.). Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain Apa pendapatmu seandainya engkau mempunyai seekor unta yang turun di sebuah lembah yang memiliki dua lereng, salah satunya subur dan yang kedua tandus. Jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, bukankah engkau menggembalakannya dengan takdir Allah? Begitu pun sebaliknya. Kalau engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, bukankah engkau menggembalakannya juga dengan takdir Allah?” Dengan demikian, usaha yang dilakukan dengan membatasi kontak fisik dengan orang banyak pun termasuk taqdir yang kita jalani, termasuk tidak shalat jamaah dan tidak shalat jum’at. Kerancuan keempat Rasulullah telah menjelaskannya cara penanganan saat wabah penyakit tersebar yaitu dengan karantina, namun beliau tidak pernah mengajarkan umatnya untuk meninggalkan shalat Jum’at dan shalat jama’ah akibat wabah virus. Jawaban : Jangan karena tidak ada keterangan eksplisit, lantas disimpulkan demikian! Bimbingan Rasulullah adalah menerapkan sistem isolasi dan konsep karantina. Apa tujuannya? Mencegah penyebaran wabah. Jika di suatu daerah sudah dipastikan wabah penyakit telah masuk, bukankah bimbingan Rasulullah untuk isolasi harus dilakukan? Isolasi itu termasuk isolasi individu dengan tetap tinggal di rumah. Cobalah berlapang dada dengan menyimak fatwa-fatwa ulama yang menjabarkan keterangan Rasulullah. Fatwa-fatwa ulama menunjukkan bahwa shalat jum’at dan shalat jama’ah dapat ditinggalkan ketika wabah penyakit menyebar. Baca Juga : Kisah Umar bin Khaththab Saat Memasuki Wilayah Wabah InsyaAllah Bersambung… Sumber : .https://www.inifaktabukanfitnah.com/menjawab-kerancuan-beribadah-di-rumah-saat-terjadi-wabah/

KISAH UMAR DAN PARA SAHABAT SAAT AKAN MEMASUKI WILAYAH YANG TERKENA WABAH Kisah Umar dan Para Sahabat Saat Memasuki Wilayah yang Kena Wabah Umar dan para Sahabat lain yang masih hidup saat itu pernah hendak memasuki wilayah Syam. Namun, ketika belum masuk wilayah itu, ada lapora…

QUNUT NAZILAH HAKNYA SIAPA? Syekh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah berkata, Kapan Qunut Nazilah Dilakukan? "Menurut saya qunut di saat adanya musibah yang berat (nawazil) tergantung pada pemerintah, seperti yang dikenal dalam madzhab Imam Ahmad bahwa mereka mengata…

HALIMAH AS-SA’DIYAH, SANG PENGASUH MANUSIA TERBAIK Al-Ustadz Idral Harits Thalib Abrar حفظه الله تعالى Kebiasaan bangsawan Arab ketika itu ialah menyerahkan bayi-bayi mereka kepada keluarga badui (Arab) di pedalaman. Tujuannya untuk disusukan dan diasuh oleh mereka selama beberapa waktu…

WANITA MULIA PENUH KEBERKAHAN Biografi Juwairiyah bintu Al Harits Sosok Pribadi . Ummul Mukminin Juwairiyah bintu Al Harits. Beliau adalah sosok wanita mulia di tengah Bani Musthaliq. Kemuliaan beliau di antara sebabnya adalah karena kedudukan ayahnya -Al Harits bin…

PERMISALAN ILMU Al-Ustadz Abu Falih Yahya حفظه الله تعالى Ilmu adalah sebuah kata yang tidak butuh lagi kepada definisi. Sebab, penunjukan maknanya sudah begitu jelas. Ilmu adalah harta paling berharga yang menjaga pemiliknya. Ilmu adalah warisan nubuwah. Siapa yang mengambilnya, sunggu…

UWAIS AL-QORONIY: TABIIN TERBAIK Biografi Uwais Al Qarni, Tabi'in Terbaik Tabi’in adalah orang-orang yang tidak pernah bertemu Nabi, namun pernah bertemu dengan setidaknya seorang Sahabat Nabi. Tabi’in terbaik adalah Uwais al-Qoroniy. Disebutkan dalam sebuah hadits: Sebaik-baik Tabi’in adalah seorang laki-laki yang disebut dengan Uwais. Ia memiliki seorang ibu yang ia berbakti kepadanya. Ia (pernah) memiliki penyakit putih (pada kulit). Mintalah agar dia memohonkan ampunan (Allah) untuk kalian (H.R Muslim dari Umar) Sekilas tentang Uwais al-Qoroniy Nama Asli: Uwais bin ‘Amir al-Qoroniy Kuniah: Abu ‘Amr Lahir : { hidup semasa Nabi namun tidak pernah berjumpa dengan Nabi – disebut pula al Mukhodhrom } Wafat: pada perang Shiffin (37 H). Tempat Tinggal: Yaman. Kufah Guru Beliau: Umar bin al-Khoththob, Ali bin Abi Tholib Murid Beliau: Abdurrahman bin Abi Laila, Yasir bin ‘Amr Sangat Berbakti kepada Ibunya Berbakti kepada ibu adalah suatu amalan yang sangat mulia. Bahkan, Sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma pernah menyatakan: إِنِّي لَا أَعْلَمُ عَمَلًا أَقْرَبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ بِرِّ الْوَالِدَةِ Sesungguhnya aku tidak mengetahui adanya suatu amalan yang lebih mendekatkan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla selain berbakti kepada ibu (H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albaniy) Sahabat Nabi Ibnu Umar radhiyallahu anhu pernah menasihati seseorang bahwa jika ia berbuat baik pada ibunya, akan menghantarkan dirinya ke dalam Surga. Selama ia tinggalkan dosa-dosa besar. Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata: وَاللَّهِ لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلَامَ وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتَنَبْتَ الْكَبَائِرَ Demi Allah, kalau engkau berlembut kata kepada ibumu dan memberikan makanan (yang baik) kepadanya, niscaya pasti engkau masuk Surga selama engkau meninggalkan dosa-dosa besar (H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albaniy) Uwais al-Qoroniy termasuk teladan dalam berbakti kepada ibunya. Ia hidup sejaman dengan Nabi. Namun tidak pernah bertemu dengan Nabi. Bisa jadi karena ia tidak bisa meninggalkan ibunya. Sibuk untuk berbuat baik kepada ibunya tercinta. Ashbagh bin Yazid rahimahullah menyatakan: إِنَّمَا مَنَعَ أُوَيْسًا أَنْ يُقَدِّمَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرُّهُ بِأُمِّهِ Sesungguhnya yang menghalangi Uwais untuk datang menemui Rasulullah shollallahu alaihi wasallam adalah kesibukannya dalam berbakti kepada ibunya (riwayat Ahmad dalam az-Zuhud, Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’) Nabi shollallahu alaihi wasallam sendiri yang menilai Uwais sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibunya: ...لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ... ...ia memiliki seorang ibu yang ia berbakti kepadanya...(H.R Muslim) Mungkin seseorang merasa telah berbakti kepada ibunya. Tapi belum tentu dalam penilaian Allah ia telah berbakti. Jika seseorang telah dipastikan bahwa ia berbakti kepada ibunya oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, maka ia benar-benar orang yang telah berbakti. Uwais adalah salah satu orang yang telah mendapat kepastian itu. Doa dan Sumpahnya Mustajab Nabi menjelaskan bahwa Uwais al-Qoroniy pada awalnya memiliki penyakit kulit sejenis kusta. Namun ia terus berdoa kepada Allah Ta’ala agar menghilangkan penyakit itu. Allah bersihkan pada kulitnya penyakit tersebut hingga tersisa hanya seukuran dinar atau dirham saja. قَدْ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَدَعَا اللَّهَ فَأَذْهَبَهُ عَنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ الدِّينَارِ أَوِ الدِّرْهَم Ia dulunya memiliki penyakit kusta kemudian ia berdoa kepada Allah hingga melenyapkan penyakit itu dari dirinya kecuali seukuran dinar atau dirham (H.R Muslim) Uwais banyak berdoa agar Allah menghilangkan penyakitnya itu bukanlah karena ketidakrelaan dia mendapatkan musibah tersebut, namun bisa jadi karena ia ingin lebih mudah melayani ibunya, agar ibunya tidak merasa jijik dan tersakiti jika berada dekat dengannya (disarikan dari Daliilul Faalihin li Thuruqi Riyaadhis Sholihin karya Ibnu ‘Allaan (4/61)). Diriwayatkan bahwa Uwais berdoa agar disisakan sebagian kecil dari bekas penyakit kustanya itu adalah agar sebagai pengingat nikmat Allah terhadapnya: اللَّهُمَّ دَعْ لِي فِي جَسَدِي مِنْهُ مَا أَذْكُرُ بِهِ نِعْمَكَ عَلَيَّ Ya Allah, sisakanlah di badanku dari penyakit itu yang membuatku selalu ingat nikmat-nikmatMu kepadaku (riwayat al-Baihaqiy dalam Dalaailun Nubuwwah dan Abu Ya’la dalam musnadnya, melalui jalur Mubarok bin Fadhoolah dari Abul Ashfar dari Sho’sho’ah bin Muawiyah. Abul Ashfar dinilai masyhur oleh Yahya bin Ma’in) Kenikmatan sehat seringkali terabaikan. Tidak jarang orang yang sadar akan besarnya nikmat itu saat ia mengalami sakit. Jika seseorang pernah mengalami sakit kemudian sembuh, ingatannya akan perasaan sakit di waktu ia telah sehat akan menyadarkannya kembali akan begitu besarnya nikmat Allah kepadanya. Sungguh kita banyak lalai dari nikmat kesehatan. Padahal, kesehatan yang prima, perasaan aman, dan tercukupnya kebutuhan makan harian adalah kenikmatan yang luar biasa. مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا Barangsiapa yang berada di waktu pagi merasa aman dalam dirinya, sehat jasmaninya, dan memiliki kecukupan makan hari itu (dari rezeki yang halal), seakan-akan seluruh (kenikmatan) dunia telah berkumpul padanya (H.R atTirmidzi dan Ibnu Majah dari Ubaidullah bin Mihshon, dishahihkan Syaikh al-Albaniy) Saat Umar bertemu dengan Uwais, Umar bertanya: Apakah engkau pernah memiliki penyakit kusta? Uwais membenarkan, dengan menyatakan: نَعَمْ فَدَعَوْتُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَذْهَبَهُ عَنِّي إِلَّا مَوْضِعَ الدِّرْهَمِ مِنْ سُرَّتِي لِأَذْكُرَ بِهِ رَبِّي Ya, kemudian aku berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla sehingga Dia hilangkan penyakit itu dariku kecuali seukuran dirham pada pusarku. Hal itu agar aku mengingat (nikmat) Rabbku (H.R Ahmad dan al-Hakim, dinyatakan shahih sesuai syarat Muslim oleh adz-Dzahabiy) Nabi juga memerintahkan Sahabat yang bertemu dengan Uwais untuk memintakan ampunan kepadanya: فَمَنْ لَقِيَهُ مِنْكُمْ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ Barangsiapa di antara kalian yang bertemu dengannya, mintalah dia agar memohonkan ampunan (beristighfar) untuk kalian (H.R Muslim) Jika Uwais bersumpah akan sesuatu hal, Allah akan memenuhi isi sumpahnya. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ Jika ia (Uwais) bersumpah atas nama Allah, Allah akan mewujudkan isi sumpahnya itu (H.R Muslim) Rendah Hati, Sederhana, dan Menjauh dari Ketenaran Salah satu karakter terpuji pada orang yang beriman adalah rendah hati, tidak ingin dipuja dan disanjung. Di kalangan manusia mungkin ia tidak dikenal. Dipandang sebelah mata. Namun ia mulia di sisi Allah Ta’ala. Bahkan, lebih mulia dibandingkan orang-orang yang lebih terkenal di kalangan manusia. Itulah Uwais al-Qoroniy. Beliau khawatir orang-orang memuliakannya. Di saat banyak pihak mencari ketenaran, justru Uwais menjauh darinya. Ada beberapa kejadian yang menunjukkan ketawadhu’an Uwais, sikapnya yang sederhana, dan beliau sangat tidak ingin masyhur di tengah-tengah manusia. Pertama: Saat bertemu dengan Umar, Umar menanyakan keadaan Uwais. Setelah tahu bahwa ia memang Uwais yang dimaksudkan oleh Nabi, Umar pun meminta Uwais memohonkan ampunan untuknya. Tapi Uwais justru merasa bahwa Umar lebih layak mendoakan ampunan untuknya karena Umar adalah Sahabat Nabi. Barulah Uwais mau mendoakan ampunan untuk Umar setelah mendengar hadits yang didengar Umar dari Nabi. لَمَّا أَقْبَلَ أَهْلُ الْيَمَنِ جَعَلَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَسْتَقْرِي الرِّفَاقَ فَيَقُولُ هَلْ فِيكُمْ أَحَدٌ مِنْ قَرَنٍ حَتَّى أَتَى عَلَى قَرَنٍ فَقَالَ مَنْ أَنْتُمْ قَالُوا قَرَنٌ فَوَقَعَ زِمَامُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَوْ زِمَامُ أُوَيْسٍ فَنَاوَلَهُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ فَعَرَفَهُ فَقَالَ عُمَرُ مَا اسْمُكَ قَالَ أَنَا أُوَيْسٌ فَقَالَ هَلْ لَكَ وَالِدَةٌ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَهَلْ كَانَ بِكَ مِنْ الْبَيَاضِ شَيْءٌ قَالَ نَعَمْ فَدَعَوْتُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَذْهَبَهُ عَنِّي إِلَّا مَوْضِعَ الدِّرْهَمِ مِنْ سُرَّتِي لِأَذْكُرَ بِهِ رَبِّي قَالَ لَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اسْتَغْفِرْ لِي قَالَ أَنْتَ أَحَقُّ أَنْ تَسْتَغْفِرَ لِي أَنْتَ صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَدَعَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَذْهَبَهُ عَنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ الدِّرْهَمِ فِي سُرَّتِهِ فَاسْتَغْفَرَ لَهُ Ketika datang penduduk Yaman, Umar bertanya-tanya kepada anggota rombongan: Apakah ada di antara kalian seorang dari Qoron? Hingga beliau mendatangi orang-orang dari Qoron dan bertanya: Siapakah kalian? Mereka menjawab: (kami dari) Qoron. Kemudian tali kekang Umar atau Uwais terjatuh dan salah seorang dari keduanya (Uwais atau Umar) mengambilkannya untuk yang lain sehingga dia mengenalnya. Umar bertanya: Siapa namamu? Di menjawab: Aku Uwais. Umar bertanya: Apakah engkau memiliki ibu? Uwais berkata: Ya. Umar bertanya: Apakah dulu engkau memiliki penyakit putih pada kulit? Uwais berkata: Ya. Kemudian aku berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla sehingga Dia menghilangkan penyakit itu dariku kecuali seukuran dirham pada pusarku. Agar aku tetap mengingat (nikmat) Rabbku itu. Maka Umar radhiyallahu anhu pun berkata kepadanya: Mohonkanlah ampunan untukku. Uwais berkata: Anda yang lebih layak memohonkan ampunan untuk saya. Anda adalah Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Umar radhiyallahu anhu berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Sesungguhnya tabiin terbaik adalah seorang laki-laki yang disebut Uwais. Dia memiliki seorang ibu. Ia memiliki penyakit putih pada kulitnya, kemudian dia berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla sehingga Allah menghilangkan penyakitnya itu kecuali seukuran dirham pada pusarnya >> maka Uwais pun memohonkan ampunan untuk Umar (H.R Ahmad dari Usair bin Jabir) Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika ada orang menyampaikan pesan Umar itu dan meminta agar Uwais memohonkan ampunan untuknya, Uwais mau memohonkan ampunan untuk orang itu, dengan salah satu syaratnya adalah agar orang itu tidak memberitahukan kepada siapapun tentang ucapan Umar tersebut. مَا أَنَا بِمُسْتَغْفِرٍ لَكَ حَتَّى تَجْعَلَ لِي ثَلَاثًا قَالَ : وَمَا هُنَّ قَالَ : لَا تُؤْذِيْنِي فِيْمَا بَقِيَ وَلَا تُخْبِرْ بِمَا قَالَ لَكَ عُمَرُ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ... (Uwais al-Qoroniy berkata): Aku tidak akan memohonkan ampunan untukmu hingga engkau memenuhi 3 syarat. Orang itu berkata: Apakah syarat-syaratnya? Uwais berkata: Jangan sakiti aku lagi di masa mendatang (dengan cemoohan atau ejekan, pent), dan jangan beritahukan kepada manusia siapapun ucapan Umar tersebut...(perawi lupa syarat ketiga)(H.R al-Hakim dari Usair bin Jabir, dinyatakan shahih sesuai syarat Muslim oleh adz-Dzahabiy). Kedua: Saat akan berpisah dengan Umar, Umar menawari Uwais, apakah perlu Umar menuliskan sesuatu perintah kepada pejabat di tempat yang akan dituju Uwais, agar memudahkan urusan atau memberikan bantuan kepada Uwais. Namun Uwais menolaknya. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ الْكُوفَةَ قَالَ أَلَا أَكْتُبُ لَكَ إِلَى عَامِلِهَا قَالَ أَكُونُ فِي غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيَّ Umar berkata kepadanya: Ke mana engkau akan pergi? Uwais menjawab: Kufah. Umar berkata: Apakah perlu aku tuliskan sesuatu untuk pejabat di sana? Uwais berkata: Aku menjadi orang lemah, miskin (tak dipandang), lebih aku sukai (H.R Muslim dari Usair bin Jabir) Uwais pun kembali berbaur dengan manusia, tanpa terlihat ia memiliki keistimewaan dibandingkan orang lain. Dalam riwayat Ahmad, Usair bin Jabir menceritakan keadaan ketika Uwais berpisah dengan Umar: ثُمَّ دَخَلَ فِي غِمَارِ النَّاسِ فَلَمْ يُدْرَ أَيْنَ وَقَعَ Kemudian Uwais berbaur dengan sekumpulan manusia hingga tidak diketahui beliau yang mana (H.R Ahmad) Ketiga: Tahun berikutnya setelah pertemuan dengan Umar, Umar bertanya kepada orang yang dari Kufah tentang keadaan Uwais. Orang itu menjelaskan bahwa Uwais hidup sederhana dengan harta yang sedikit. فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ حَجَّ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ فَوَافَقَ عُمَرَ فَسَأَلَهُ عَنْ أُوَيْسقَالَ تَرَكْتُهُ رَثَّ الْبَيْتِ قَلِيلَ الْمَتَاعِ Ketika pada tahun berikutnya, seorang laki-laki yang termasuk pembesar mereka (Kufah) berhaji. Ia bertemu dengan Umar dan Umar bertanya kepadanya tentang Uwais. Orang itu menyatakan: Aku tinggalkan dia dalam keadaan rumah yang sederhana dan perabotan yang sedikit (H.R Muslim) Keempat: Jika Uwais memberi nasihat atau mengingatkan orang-orang lain, nasihatnya sangat berkesan di hati. Pengaruhnya sangat kuat dan berkesan, dibandingkan nasihat yang disampaikan orang lain. Namun suatu ketika Uwais tidak terlihat dalam waktu yang lama. Ternyata beliau mendekam di rumahnya karena tidak ada pakaian (bagian atas) yang bisa dikenakan keluar. ثُمَّ قَدِمَ الْكُوْفَةَ فَكُنَّا نَجْتَمِعُ فِي حَلْقَةٍ فَنَذْكُرُ اللهَ وَكَانَ يَجْلِسُ مَعَنَا فَكَانَ إِذْ ذَكَّرَهُمْ وَقَعَ حَدِيْثُهُ مِنْ قُلُوْبِنَا مَوْقِعًا لَا يَقَعُ حَدِيْثُ غَيْرِهِ فَفَقَدْتُهُ يَوْمًا فَقُلْت لِجَلِيْسٍ لَنَا مَا فَعَلَ الرَّجُلُ الَّذِي كَانَ يَقْعُدُ إِلَيْنَا لَعَلَّهُ اشْتَكَى فَقَالَ رَجُلٌ مَنْ هُوَ ؟ فَقُلْتُ : مَنْ هُوَ قَالَ : ذَاكَ أُوَيْس الْقَرَنِي فَدَلَلْتُ عَلَى مَنْزِلِهِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللهُ أَيْنَ كُنْتَ وَلِمَ تَرَكْتَنَا فَقَالَ : لَمْ يَكُنْ لِي رِدَاءٌ فَهُوَ الَّذِي مَنَعَنِي مِنْ إِتْيَانِكُمْ Kemudian Uwais pergi ke Kufah. Kami suka berkumpul untuk mengingat Allah. Uwais juga duduk bersama kami. Jika Uwais mengingatkan (menasihati) mereka yang di majelis, nasihatnya sangat membekas di hati kami, tidak seperti dari orang lain. Suatu hari kami kehilangan dia. Aku berkata kepada teman duduk kami. Apa yang terjadi dengan orang yang biasa duduk bersama kita. Jangan-jangan dia sakit. Ada orang yang bertanya: Siapa dia? Aku pun berkata: Siapa dia? Orang itu berkata: Dia adalah Uwais al-Qoroniy. Aku pun ditunjukkan pada rumahnya. Aku datang ke tempatnya, dan berkata: Semoga Allah merahmati anda. Ke mana anda dan mengapa meninggalkan kami? Uwais berkata: Aku tidak punya ridaa’ (kain bagian atas) untuk dipakai keluar. Itulah yang menghalangi aku untuk berkumpul bersama kalian (H.R al-Hakim) Pemberi Syafaat Manusia dalam Jumlah Besar Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَكْثَرُ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ Akan masuk surga sejumlah orang yang lebih banyak dari Bani Tamim dengan syafaat seorang laki-laki dari umatku (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh al-Albaniy) Bani Tamim adalah suatu kabilah yang sangat besar. Hadits Nabi itu menunjukkan bahwa ada seorang laki-laki dari umat Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam yang dengan izin Allah memberikan syafaat kepada banyak orang. Saking banyaknya, jumlah orang yang mendapat syafaat dari laki-laki tersebut lebih banyak dibandingkan orang-orang pada Bani Tamim, suatu kabilah yang sangat besar. Sebagian Ulama ada yang menyatakan bahwa laki-laki pemberi syafaat itu adalah Utsman bin Affan. Sedangkan sebagian Ulama lain ada yang menyatakan bahwa itu adalah Uwais al-Qoroniy. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berpendapat bahwa orang yang dimaksud Nabi tersebut adalah Uwais al-Qoroniy (al-Mustadrak karya al-Hakim no riwayat 5729 (3/461)). Para Nabi bisa memberikan syafaat, demikian juga para Malaikat maupun orang sholih. Namun semuanya hanya bisa memberikan syafaat dengan izin Allah Ta’ala. ...مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ... ...dan siapakah yang bisa memberikan syafaat di sisi-Nya kecuali atas izin-Nya?! (Tidak ada)...(Q.S al-Baqoroh ayat 255) Pemberian syafaat juga tidak bisa diperoleh jika Allah tidak meridhai: وَلَا يَشْفَعُوْنَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى Mereka tidaklah memberikan syafaat kecuali kepada orang yang diridhai (oleh Allah) (Q.S al-Anbiyaa’ ayat 28) وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئاً إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى Betapa banyak Malaikat di langit tidaklah syafaatnya bermanfaat untuk mereka sedikitpun kecuali setelah diizinkan Allah bagi siapa yang dikehendaki dan diridhai-Nya (Q.S anNajm ayat 26) Salah satu syarat utama untuk mendapatkan syafaat itu adalah orang tersebut mentauhidkan Allah, tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun, tidak berbuat kesyirikan. Karena Allah tidaklah meridhai kecuali tauhid. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِى شَفَاعَةً لأُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِىَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا Setiap Nabi memiliki doa mustajabah. Setiap Nabi telah menyegerakan doanya. Sedangkan aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat. Syafaat itu akan diperoleh InsyaAllah bagi orang yang meninggal dari kalangan umatku yang tidak mensekutukan Allah dengan suatu apapun (H.R Muslim dalam Kitabul Iman, dari Abu Hurairah) Nasihat Uwais untuk Membangkitkan Perasaan Takut Kepada Allah Tidak jarang seseorang merasa aman dari adzab Allah. Meski ia telah banyak berbuat dosa, namun seakan-akan itu tidak berbekas dalam hatinya. Tak ada penyesalan sama sekali. Tidak ada perasaan khawatir sedikitpun bahwa Allah akan mengadzabnya. Lalai, larut dalam menikmati kehidupan dunia. Salah satu nasihat Uwais al-Qoroniy adalah hendaknya kita merasa sangat takut kepada Allah, seakan-akan kita telah membunuh manusia seluruhnya. Uwais al-Qoroniy rahimahullah menyatakan: كُنْ فِي أَمْرِ اللَّهِ كَأَنَّكَ قَتَلْتَ النَّاسَ كُلَّهُمْ Jadilah engkau dalam urusan Allah, seakan-akan engkau telah membunuh manusia seluruhnya (riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, al-Baihaqiy dalam Syuabul Iman, dan Ibnu Asaakir dalam tarikh Dimasyq) Bisa dibayangkan jika kita membunuh semua orang, akan terbayang besarnya dosa itu sehingga kita akan berusaha untuk bertaubat dan memperbanyak amal sholih. Kita benar-benar takut Allah akan mengadzab kita akan besarnya dosa tersebut. Hal utama yang mendominasi pikiran kita adalah bagaimana caranya agar Allah mengampuni dosa kita yang sangat besar dan banyak itu. Seringkali orang meremehkan suatu dosa. Dianggapnya kecil. l bisa jadi dosa-dosa itu akan membinasakannya. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَرَبَ لَهُنَّ مَثَلًا كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا أَرْضَ فَلَاةٍ فَحَضَرَ صَنِيعُ الْقَوْمِ فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْطَلِقُ فَيَجِيءُ بِالْعُودِ وَالرَّجُلُ يَجِيءُ بِالْعُودِ حَتَّى جَمَعُوا سَوَادًا فَأَجَّجُوا نَارًا وَأَنْضَجُوا مَا قَذَفُوا فِيهَا Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Hati-hatilah kalian dari dosa-dosa yang dianggap remeh. Karena sesungguhnya dosa-dosa itu akan berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya. Dan sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam membuat permisalan, seperti suatu kaum yang singgah di padang luas. Kemudian seorang laki-laki datang dengan membawa ranting (untuk kayu bakar), seorang lagi datang dengan satu ranting, hingga terkumpul banyak. Mereka pun bisa membuat api dan api tersebut bisa memanggang semua yang dilemparkan ke dalamnya (H.R Ahmad, dinyatakan shahih li ghoirihi oleh Syaikh al-Albaniy dalam Shahih atTarghib) Wafat dalam Perang Shiffin Yahya bin Ma’in rahimahullah menyatakan: قُتِلَ أُوَيْسُ الْقَرَنِي بَيْنَ يَدَيِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ يَوْمَ صِفِّيْن Uwais al-Qoroniy terbunuh di hadapan Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib pada hari Shiffin (al-Mustadrak alas Shohihayn karya al-Hakim (3/455)). Semoga Allah Ta’ala merahmati Uwais...sang Tabi’i terbaik. (Abu Utsman Kharisman) WA al I'tishom

lTSAR, MENGUTAMAKAN ORANG LAIN Itsar, Mengutamakan Orang Lain Itsar adalah salah satu sifat yang sangat dihasung dalam agama Islam. Yaitu mengutamakan orang Iain daripada diri sendiri dalam perkara dunia yang kita juga membutuhkannya. Tidak dipungkiri, saat ini jarang kita dapati seseorang yang berhias dengan sifat mulia ini. Maka untuk menggugah hati kita agar senantiasa mengamalkannya, kami suguhkan kisah-kisah teladan dalam hal ini. TELADAN SANG USWAH HASANAH Pernah ada seseorang mendatangi Rasulullah shallallahu alaih wasalam. Orang itu mengatakan bahwa dia kelaparan. Maka beliau datang menemui salah seorang istri beliau. Beliau shallallahu alaih wasalam .menanyakan apakah ada makanan untuk orang tersebut. Namun ternyata beliau tidak menemukan selain air. Lalu beliau datang kepada istri yang lain. Ternyata sama, beliau hanya mendapatkan air. Demikian keadaanya pada seluruh istri beliau. Kemudian beliau bertanya kepada para shahabat, apakah ada yang mau menjamu tamu beliau itu. Maka seorang dari kalangan Anshar menyanggupi. Lantas dia pulang ke rumah dan mengabarkan hal itu kepada istrinya. Dia menyuruh istrinya agar tidak menyia-nyiakan tamu Rasulullah. Tak jauh berbeda dengan keadaan Rasulullah, istrinya mengatakan bahwa mereka hanya punya makanan untuk anak-anak. Demi memuliakan tamunya, shahabat Anshar itupun menyuruh istrinya agar menidurkan anak-anak. Lalu menghidangkan makanan mereka untuk tamu tersebut. Lampu rumah pun dia perintahkan agar dimatikan. Supaya sang tamu tidak mengetahui bahwa makanan yang ada hanya untuknya. Tak hanya itu, dia juga menyuruh istrinya agar mereka berdua pura-pura ikut makan bersama tamu, agar tamu tersebut merasa nyaman. Subhanallah, Paginya, saat shahabat Anshar itu datang menemui Rasulullah, beliau mengatakan bahwa Allah merasa takjub dengan perbuatannya bersama istrinya dalam menjamu tamu tadi malam. AL-WAQIDI DAN SEKANTONG DIRHAM Al-Qadhi Iyadh رحمه الله dalam kitab beliau Tartibul Madarik menyebutkan; Al-Waqidi رحمه الله mengisahkan, ”Aku memiliki dua orang sahabat, salah satunya adalah dari Bani Hasyim. Suatu saat aku ditimpa kesempitan. Lalu istriku berkata, "Sungguh, kita bisa bersabar atas kesulitan ini. Namun, anak-anak kita, hatiku terluka melihat keadaan mereka. Apakah kita bisa melakukan sesuatu bagi mereka❓" Aku pun menulis surat kepada sahabatku dari Bani Hasyim. Aku minta tolong kepadanya tentang keadaanku. Kemudian ia mengirimkan sebuah kantong yang masih tersegel. Dia sebutkan bahwa di dalamnya ada 1000 dirham. Belum sampai aku membukanya, ternyata aku menerima surat dari temanku yang Iain. Dia juga mengalami kesulitan sama sepertiku. Aku pun serahkan kantong itu dalam keadaan sama seperti saat aku menerimanya. Kemudian aku pergi ke masjid untuk bermalam di sana, karena malu terhadap istriku. Saat aku kembali, ternyata istriku menganggap baik apa yang aku lakukan. Beberapa waktu kemudian, datanglah temanku dari Bani Hasyim membawa kantong tadi, dan masih dalam keadaan yang sama. Dia memintaku untuk jujur menceritakan apa yang terjadi. Aku pun menyampaikan kepadanya. Lalu dia berkata, “Engkau mengadu kepadaku, sementara aku tidak punya apa-apa selain kantong yang aku berikan kepadamu. Lalu aku menulis surat kepada teman kita untuk meminta pertolongan. Lalu dia mengirimkan kantong ini dan masih ada segelku.” Lalu kami membagi uang itu menjadi tiga bagian, setelah menyerahkan 100 dirham untuk istriku. Sampailah berita ini kepada Al-Makmun. Dia lalu memanggilku. Setelah aku menyampaikan peristiwa kami kepadanya, dia memberiku 7000 dinar. Masing-masing dari kami bertiga 2000 dinar dan untuk istriku 1000 dinar. Sumber || Majalah Qudwah Edisi 07https://t.me/Majalah_Qudwah/1109

Himpitan Kubur yang Sangat Menyiksa Nasihat Al Ustadz Usamah Mahri, Lc Dengarkan audionya di bawah ini HIMPITAN KUBUR BAGI MAYYIT, APAKAH TERJADI PADA SEMUA ORANG MATI? Mufti: al-Imam Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah Pertanyaan: "Hadits sahabat…

Hukum Bertanya Ke Penjual "Apa Resepnya?", "Dimana Kulakannya?" Seorang Akh bertanya kepada penjual kue: "Apa resepnya? Ajari ana" Atau bertanya kepada penjual baju: "Dimana kulakannya?" Apa boleh? Dijawab oleh : Al Ustadz Usamah Mahri, Lc حفظه الله "Tidak boleh, fudhul itu namany…

HADITS GHARIB Al-Imam al-Baiquniy rahimahullah menyatakan: وَقُلْ غَرِيبٌ مَا رَوَى رَاوٍ فَقَطْ . dan katakanlah sebagai gharib (hadits) yang diriwayatkan oleh seorang perawi saja (al-Mandzhumah al-Baiquniyyah) Definisi Hadits Gharib dan Contohnya Penj…