Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Jangan Minder ! Pagi tadi selepas matahari merangkak naik, ketika bersama beberapa teman membaca Syarah al Baiquniyyah karya as Syaikh al Bukhari hafidzahullah, ada keterangan beliau yang sangat menarik. Sedang membahas hadits Musalsal, as Syaikh al Bukhari memberi beberapa contoh. Antara lain . sanad sebuah hadits yang perawi nya orang-orang yang memiliki cacat fisik. Penasaran. Saya coba mencari referensi. Terdekat al Jami' li akhlaqir Raawi karya al Khatib al Baghdadi. Di sana disebutkan riwayat orang pincang dari orang buta dari orang pincang dari orang buta. Siapakah mereka? Orang pincang pertama : Said bin Abi Arubah Orang buta pertama : Qatadah Orang pincang kedua : Abu Hassan Orang buta kedua : sahabat Ibnu Abbas Subhanallah! Cacat fisik bukanlah penghalang. Kekurangan pada anggota badan bukan alasan. Mereka teladan bahwa ilmu adalah harta berharga yang bisa dimiliki siapa saja. Kemauan dan kesungguhan. Selagi ada kemauan dan selagi memiliki kesungguhan, niscaya Allah tidak mensia-siakan hamba Nya. Sayang, mereka yang fisiknya disebut orang sempurna, tubuh dan anggota badan yang hebat,justru disalahgunakan untuk dosa dan maksiat. Ahh...mau bilang apa? Bahkan saya tercengang ketika ada referensi yang menyebutkan 11 (sebelas) perawi yang punya cacat fisik. Dalam Akhbar Qazuwin disebutkan hadits Nabi yang dimulai dari Abu Ali as Shauli sampai sahabat Ibnu Abbas. 1.Influenza kronis : Abu Ali as Shauli 2.Lemah fisik menahun : Ahmad bin Muhammad bin Sulaiman 3.Lumpuh : Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman 4.Gigi ompong sejak kecil : Al Hasan bin Mihran 5.Bongkok : Abdullah bin Al Husain 6.Tuli : Abdullah bin Nashr 7.Buta : Abu Muawiyah 8.Mata rabun senja : Al A'masy 9.Buta sebelah : Ibrahim an Nakha'i 10.Pincang : Al Hakam bin Mihran 11.Buta : sahabat Ibnu Abbas Masya Allah! Sebelas orang meriwayatkan hadits Nabi secara berturutan. Oleh seorang murid dari gurunya, dari gurunya, dari gurunya dan seterusnya. Masing-masing memiliki kekurangan fisik. Tiap-tiapnya ada cacat. Tamparan keras buatmu, Dek! Oh, bukan untukmu saja. Untuk kita semua! Memang, yang menentukan bukanlah sempurna atau tidaknya fisik. Lengkap atau tidaknya anggota badan. Berfungsi atau tidaknya panca indera. Harta pun tidak jadi patokan. Jabatan dan kedudukan pun demikian. Nasab dan garis keturunan juga tidak. Kembalinya kepada kemauan dan kesungguhan! Dek, jika engkau sudah tidak memiliki kemauan. Apabila engkau tidak lagi ada kesungguhan. Maka, saya ucapkan : selamat datang di lembah kebodohan. Tinggal lah di perkampungan kehinaan. Jika engkau, Dek...ingin berada di derajat yang tinggi, tinggal di istana kedamaian, ayolah....bangkitkan kemauan dan jagalah bara kesungguhan agar tidak padam. Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah jadikan dirinya orang yang faham agama. Dhuha dan Cor. Di Lendah. 18 Feb 2021 t.me/anakmudadansalaf

Ribuan Lembar Berbicara produktifitas menulis, rasa-rasanya belum menemukan cerita yang lebih mencengangkan dibanding at Thabari. Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at Thabari nama lengkapnya. Andai jumlah lembar kertas yang pernah ditulis dibagi dengan total hari sejak lahir sampai wafat, boleh …

Pulau Dahlak Baru pertama kali saya membaca ada sebuah pulau, letaknya antara negeri Yaman dan negeri Eritrea. Di laut Merah, ada gugusan pulau yang disebut kepulauan Dahlak. Sepintas membaca sejarahnya, lumayan panjang dan menarik. Tapi, bukan itu yang saya maksud. Seorang ulama tabi'in pernah dibuang dan diasingkan di sana sampai wafat. 'Irak bin Malik al Madani al Ghifari al Kinani, namanya. Berguru kepada sejumlah sahabat Nabi, seperti Abu Hurairah, Ibnu Umar, Aisyah dan lainnya. Dikenal sebagai ahli hadits dan ahli ibadah. Umar bin Abdul Aziz memuji, "Tidak pernah aku melihat orang yang lebih banyak shalatnya dibanding 'Irak" Khalifah Yazid bin Abdul Malik atas sebuah retorika kekuasaan, menghukum 'Irak dengan dibuang dan diasingkan ke pulau Dahlak. Apa kata penduduk pulau Dahlak? "Semoga Allah membalas kebaikan untuk Yazid. Dia telah mengirim seseorang untuk kami.Allah melimpahkan kebaikan untuk kami melalui 'Irak",kata mereka. (Tahdzibut Tahdzib 7/173) Di manapun berada, berusahalah agar bermanfaat untuk orang ! Ilmu dapat diajarkan dan disebarkan di manapun. Terkadang dianggap musibah, padahal justru anugrah. Pasti ada hikmah di setiap peristiwa kehidupan t.me/anakmudadansalaf

TAHUKAH ANDA? Imam az Zuhri jika berada di rumah,kitab-kitab diletakkan di dekatnya. Beliau habiskan waktu untuk membaca dan menelaah.Tidak tergoda untuk kesibukan dunia. Suatu hari,istrinya berujar,"Demi Allah! Kitab-kitab ini lebih berat aku rasakan jika dibandingkan punya 3 orang madu" (Wafayatul A'yan karya Ibnu Khalikan 3/317) . Dari Kutub wa Rasail As Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad ------------------------ Bercermin Pada Jati Diri Jati diri seseorang tidak dapat dinilai dalam waktu singkat. Hanya mengenal beberapa saat, bagaimana mungkin sudah diberi penilaian akhir? Umar bin Khattab saja meletakkan konsep untuk mengenal jati diri seseorang dengan dua hal. Sudahkah engkau bepergian jauh dengan orang itu? Sudah lamakah engkau hidup bertetangga dengannya? Iya, benar! Watak asli seseorang akan terlihat dalam perjalanan. Pun jelas tampak setelah hidup berdampingan sebagai tetangga. Dermawan atau pelit. Sabar atau temperamen. Malas atau rajin. Perhatian atau egois. Bijak ataukah serampangan. Lembut ataukah kasar. Dan watak manusia lainnya akan tersingkap. Dek, dalam situasi normal, semua bisa saja terlihat baik.Pada kondisi biasa,semua orang nampak bagus. Namun,apakah hidup ini akan selalu normal? Pasti terus menerus biasa? Tentu tidak! Pasti ada saat-saat sulit.Waktu-waktu susah.Kondisi darurat.Suasana luar biasa.Tidak biasanya.Bukan normal yang kita kenal. Disitulah,Dek! Watakmu akan terbuka terang.Jati dirimu tersingkap. Apa contohnya? Memberi dan berbagi. Saat engkau sedang memiliki banyak sesuatu.Engkau punya harta berlebih.Uangmu surplus.Stok makanan berlimpah.Lalu engkau memberi dan berbagi kepada yang lain,itu banyak orang bisa melakukan. Tetapi,saat engkau sedang tak punya.Ketika engkau sendiri lagi membutuhkan.Engkau sendiri sedang kesulitan. Di sini jati dirimu akan terbuka? Engkau dermawan dengan tetap berbagi.Ataukah engkau si kikir itu yang untuk memberi masih berpikir. Al Qurthubi dalam tafsir (18/19) menyebutkan tentang Aisyah,ibunda kita,yang sedang berpuasa hari itu.Tidak ada makanan untuk berbuka kecuali sepotong roti kering.Datang pengemis meminta. "Berikan roti kering ini untuknya!",perintah Aisyah kepada pembantunya. Pembantunya keberatan dan berkata,"Anda tidak punya makanan berbuka nantinya" Aisyah tetap memerintahkan untuk memberi si pengemis itu. Petang hari,ada tetangga datang memberi hadiah daging kambing dengan roti gandum. Kata Aisyah kepada pembantunya,"Ayo kita makan.Menu ini lebih baik dari sepotong roti keringmu" Ibnu Katsir dalam tafsirnya (4/338) menyebutkan cerita Khudzaifah al Adawi di perang Yarmuk. Seusai pertempuran,ia mencari sepupunya yang ternyata terbaring penuh luka.Sambil membawa air minum ia ingin memberikan kepada sepupunya.Namun,terdengar suara kesakitan.Sepupunya meminta agar air minum itu diberikan kepada orang lain yang bersuara kesakitan tersebut. Khudzaifah membawa air minum itu kepada orang tersebut.Ketika akan minum,terdengar lagi suara orang lain yang kesakitan.Orang kedua meminta agar air minum itu diberikan saja kepada orang ketiga yang sedang terluka parah. Khudzaifah membawa air minum ke orang ketiga.Sesampainya ternyata ia telah gugur.Ia kembali ke orang kedua,rupanya sudah gugur juga.Cepat-cepat ia menemui sepupunya yang ternyata pun telah gugur. Luar biasa! Dalam kondisi seperti itu,masing-masing tetap ingin mendahulukan orang lain. Al Qurthubi juga menyebutkan kisah dari Abul Hasan al Anthoki. Beliau bersama tiga puluh orang lebih sedang berada di perkampungan Rayy.Hanya ada beberapa potong roti yang jelas tidak dapat mengenyangkan mereka. Sepakat! Roti-roti itu dipotong-potong kecil.Mereka duduk berkumpul jadi satu.Lampu dimatikan supaya tidak sungkan makan. Beberapa waktu kemudian setelah lampu dinyalakan,roti-roti itu masih utuh.Tidak berkurang sedikitpun.Masing-masing mengalah dan berpikir agar temannya saja yang makan. Subhanallah!Akhlak luar biasa. Dek,tulisan ini jangan jadikan alasan menilai orang lain.Tulisan ini untuk instropeksi diri sendiri.Nilailah dirimu sendiri! Untuk berbenah. Saat orang lain kelelahan,engkau bangkit melayani. Saat orang lain malas,sendiri engkau rajin. Saat orang lain pesimis,engkau bertahan dalam optimis. Saat orang lain menyerah,engkau pantang mundur. Saat orang lain diam,engkau tetap semangat bergerak. Siap berjuang dan berkorban walaupun situasi sulit dan rumit. Bukan karena ingin dipuji.Bukan karena iming-iming janji duniawi.Bukan karena berharap hadiah itu dan ini. Engkau lakukan itu untuk ridha ilahi. Semangat piket dan melayani! Baarakallahu fiikum Di Pendopo Lendah.Pagi masih suasana hujan dari semalam. Rabu 10 Feb 2021 t.me/anakmudadansalaf

 .Harga Diri Anak Muda Al Fudhail bin Iyadh agak heran bertanya kepada Ibnul Mubarok,"Kamu aneh. Kamu mengajak hidup zuhud, apa adanya dan secukupnya" "Lalu engkau sendiri belanja barang dagangan dari Khurasan untuk dijual di Mekkah?", lanjut Al Fudhail. Apa jawab Ibnul Mubarak? Beliau menjelaskan,"Kawanku Abu Ali, saya lakukan itu untuk menjaga wajahku, merawat kehormatanku dan membantuku beribadah kepada Rabb-ku" (Tarikh Baghdad 10/160) Salaf kita, mereka semangat dalam bekerja. Ada usaha yang digeluti. Punya profesi yang ditekuni. Mereka tidak duduk berpangku tangan. Siapa yang tak kenal Ibnul Mubarak? Ulama besar di masanya. Ahli ibadah terkenal di zamannya. Singkat kata, sampai dikatakan, tidak ada amal ketaatan melainkan beliau menjadi ahlinya. Ibnul Mubarak menjelaskan bahwa usaha dagangnya dilakukan untuk 3 tujuan ; menjaga wajah agar tidak malu karena berharap diberi dan tidak ingin bergantung pada pemberian orang. Kehormatan dan harga diri juga dipertimbangkan, kenapa mesti bekerja. Bukankah dengan berpenghasilan sendiri, kehormatan dan harga diri kita tidak akan diusik? Tidak akan disinggung-singgung? Alasan ketiga yang disampaikan Ibnul Mubarak harus diingat, yaitu agar bisa ber-ibadah kepada Allah. Diakui dan disadari bahwa banyak bentuk ibadah yang barulah dapat terlaksana jika memiliki kemampuan finansial. Bukankah banyak program ibadah dan dakwah yang terikat dengan pembiayaan? Memerlukan dana. Namun, pesan Ibnul Mubarak juga tidak boleh diabaikan. Bekerja itu agar bisa beribadah. Sehingga, jika bekerja justru mengganggu ketenangan ibadah, mengurangi dan merusak ibadah, jangan dilanjutkan. Lakukan evaluasi. Beranilah ambil keputusan untuk berhenti pada titik yang tidak mengganggu ibadah. Dek, Islam tidak membenarkan pengangguran. Tidak ada istilah berdiam diri. Apalagi menunggu dengan pasif. Lebih-lebih lagi berharap bantuan, bantuan dan bantuan. Kenapa hidup berpikir untuk dibantu? Kapan membantu? Berharap diberi, kapan memberi? Berharap dibagi, kapan berbagi? Nabi Muhammad bersabda, لأن يأخذ أحدكم حبله فيحتطب على ظهره خير من أن يأتي رجلا أعطاه الله من فضله فيسأله ، أعطاه أو منعه Artinya : Sungguh! Lebih baik kalian membawa seutas tali lalu mencari kayu bakar, dipanggul di punggung untuk dijual, daripada mendatangi seseorang yang Allah luaskan rezekinya untuk meminta bantuan. Diberi ataukah tidak" HR Bukhari Muslim Itulah, Dek! Jiwa petarung seorang pemuda. Proporsional dalam segala hal. Ibadah semangat. Thalabul ilmi tidak kenal lelah. Aktif dan kreatif dalam bekerja. Semua jalan kebaikan ditempuh. Apalagi bagimu yang memiliki tanggungan. Beban keluarga. Jangan malu untuk bertanya kepada yang lebih berpengalaman. Amanah dan terpercaya. Jangan lupa juga untuk berdoa. Bertawakkal kepada Allah Ta'ala. Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah lah yang memberi kecukupan untuknya. Di Pendopo Lendah 31 Januari 2021 Abu Nasim Mukhtar https://t.me/anakmudadansalaf/82

 .HUKUM MENCELA ULAMA DAN DAI-DAI SUNNAH? Oleh Asy Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali hafidzahullah Soal : Apa hukum mencela Ulama dan Dai-dai Sunnah? Jawab: Ini perkara yang berbahaya sekali yakni mencela Pembela kebenaran dan mencaci mereka ini dapat menyeret kepada celaan terhadap agama Allah. Karena sesungguhnya ini menghalangi dari jalan Allah. Karena sebenarnya orang ini mencela Pembela kebenaran, dai-dai pengajak kepada kebenaran, dai-dai pengajak kepada tauhid, dai-dai pengajak kepada memerangi kesyirikan, kebidahan, dan kesesatan, sehingga mencela mereka berarti membuat lari dari jalan Allah tabaraka wata'ala. Dan sungguh kalian sudah mengetahui tentang firman Allah yaitu mengenai keadaan orang-orang yang menentang dan mencela para Nabi dan mencela seruan dakwahnya, mereka itu tidaklah mencela terhadap pribadinya. Mereka mengatakan: Pendusta, Penyihir, Orang gila, sampai akhir celaan-celaan. Jadi apabila mencela terhadap individunya, akan menjadi sempitlah dakwahnya mereka. Begitupula sekarang. Para Ulama pewaris para Nabi, apabila keadaan sekelompok orang itu menyeru mengajak kepada Manhaj Salafy, kepada Al Kitab, kepada Sunnah Rasulullah, kepada Manhaj para Nabi dalam bidang Aqidah, untuk memerangi kesyirikan di atas Manhajnya para Nabi, lalu datang sekelompok orang lain mencelanya, maka maknanya bahwasanya mereka itu menghalangi dari jalan Allah. Oleh karena itu, kami memohon kepada Allah agar memberikan mereka rejeki berupa taubat, dan agar mau kembali kepada kebenaran, dan supaya mengetahui kadar kemuliaan pembela kebenaran, dan membiarkan ruang jalan di hadapan para pencari kebenaran, dan jangan menghalang-halangi mereka dari jalan Allah. Kaset dengan judul: Wajibnya mengikuti bukan membuat-buat bid'ah Sumber: http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=27&id=82 Mift@h_Udin✍️ Kawunganten, 19 Jumadal Akhirah 1442 H MEMBUNGKAM ORANG-ORANG YANG SUKA MENCELA PARA ULAMA, TERKHUSUS ASY-SYAIKH RABI’ DAN ASY-SYAIKH UBAID AL-JABIRY Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhary hafizhahullah Pertanyaan: Sebagian penuntut ilmu ada yang mengulang-ulang ungkapan-ungkapan celaan terhadap asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah dan bahwasanya beliau dikelabui oleh sebagian para penuntut ilmu, dan hal itu disebarluaskan oleh para penuntut ilmu dan telah membuat gelisah ikhwah di negeri ini, maka bagaimana kita menyikapi mereka? Jawaban: Celaan itu sama saja terhadap asy-Syaikh al-Allamah Rabi’ bin Hady, atau asy-Syaikh al-Allamah Ubaid al-Jabiry, atau asy-Syaikh al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad, atau asy-Syaikh al-Allamah Shalih al-Fauzan, atau terhadap ulama Ahlus Sunnah yang lainnya, ini adalah sebagaimana dikatakan: شَنْشَنَةٌ ﺃَﻋْﺮِﻓُﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺧْﺰَﻡِ Ini adalah sifat yang aku ketahui dari Akhzam (1) Saya bertanya kepada kalian dengan sebuah pertanyaan: Celaan terhadap asy-Syaikh Rabi’ secara khusus, siapakah yang mendahului bayi-bayi dan anak-anak yang tertipu itu?! Siapa yang mendahului mereka untuk melontarkan celaan semacam ini?! Bukankah pendahulu mereka yang melontarkan celaan terhadap asy-Syaikh Rabi’ dengan menyatakan bahwa beliau dikelabui dan dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di sekitar beliau dan celaan-celaan yang lainnya, bukankah pendahulu mereka dalam hal ini adalah ahlul ahwa’ dari kelompok Quthbiyyah, Sururiyyah, Haddadiyyah, dan ahli bid’ah yang lainnya?! Lalu mereka disusul oleh beberapa orang dari kelompok Abul Fitan (si pengobar fitnah dan kekacauan dalam dakwah, yaitu Abul Hasan Musthafa bin Ismail al-Ma’riby –pent) dan selain mereka dari orang-orang yang menunggangi gelombang (fitnah) ini. Mereka inilah pendahulu mereka dan dari mereka inilah mereka mencontoh!! Ucapan ini mengandung celaan langsung terhadap asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah, yaitu ungkapan bahwa beliau tidak mengerti, tidak memahami, dan tidak menyadari konspirasi atau rencana buruk yang mengepung beliau!! Ini merupakan kedustaan yang sudah sekian lama, dan pendahulu mereka adalah ahlul ahwa’ dan ahli bid’ah, sebagaimana yang telah saya katakan tadi. Termasuk ciri-ciri ahli bid’ah adalah suka mencela Ahlus Sunnah, engkau telah paham? Jadi ini adalah sifat yang aku ketahui dari Akhzam. Jangan sampai pendengaranmu dikotori oleh mereka, buanglah ucapan mereka sejauh-jauhnya sebagaimana ucapan para pendahulu mereka telah dibuang sehingga mereka terbuang ke tempat sampah sejarah, dan orang-orang (yang sekarang suka mencela ulama) mereka ini akan hilang juga jika mereka tidak bertaubat. Mereka akan lenyap jika tidak bertaubat dan kembali ke jalan yang benar, maka berhati-hatilah!! Asy-Syaikh Rabi’ salah seorang ulama kaum muslimin, beliau bisa benar dan bisa juga keliru, seperti ulama yang lain. Mengapa para ruwaibidhah (orang dungu yang lancang berbicara tentang urusan yang besar) tidak mengucapkan ucapan semacam ini terhadap para ulama yang lain?! Mengapa mereka takut mengatakan terhadap sebagian ulama yang telah saya sebutkan namanya di awal jawaban ini?! Mereka tidak mengucapkannya selain terhadap asy-Syaikh Rabi’ dan asy-Syaikh Ubaid!! Benar kan?! Jika perkaranya sampai kepada guru kita al-Allamah al-Abbad atau asy-Syaikh al-Allamah Shalih al-Fauzan, atau para ulama yang lain, atau Mufti (asy-Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad Alus Syaikh), para pencela itu tidak mengucapkan ucapan ini!! Kalaupun sebagian mereka mengucapkannya maka dia mengucapkannya secara rahasia dan pelan-pelan, dia mungkin hanya merahasiakan kepada dirinya sendiri!! Waspadalah terhadap ucapan semacam ini. وَلا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لا يُوقِنُونَ. “Dan janganlah sekali-kali engkau dibuat gelisah oleh orang-orang yang tidak yakin.” (QS. Ar-Rum: 60) Adapun tentang diulang-ulangnya ucapan tersebut di negeri ini maka sungguh orang-orang sebelum mereka sebagaimana yang telah kami sebutkan telah mengulang-ulangnya, namun tidak benar kecuali yang benar. Kesalahan wajib untuk bertaubat darinya, dan jika sebuah kesalahan muncul dari salah seorang ulama maka tetap dijaga kehormatannya, dijaga kedudukannya, namun kesalahannya tidak boleh diterima, (kita katakan) semoga Allah memaafkan beliau, beliau berijtihad namun keliru, selesai perkaranya. Al-Imam Malik pernah keliru, al-Laits bin Sa’ad mengatakan, “Saya menghitung kesalahan Malik ada 70 masalah yang padanya beliau menyelisihi nash hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” Apakah Malik dicela dalam ucapan semacam ini?! Apakah al-Laits dicela karena ucapan beliau ini?! مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ. “Bagaimana kalian dalam memutuskan perkara?!” (QS. Al-Qalam: 36) Kedudukan dari kedua imam tersebut tetap terjaga, sedangkan kesalahan tidak diterima, selesai perkaranya, titik. Kehormatan dan kedudukan tetap dijaga, namun kesalahan tidak boleh diambil. Kengawuran dan perancuan perkara macam apa ini, dan mengibarkan bendera al-wala’ wal bara’ (loyalitas dan permusuhan) berdasarkan ucapan yang rusak?! Tidak ada padanya tanda-tanda keilmuan, dan tidak ada petunjuk dari Allah padanya?! Sampai kapan kita akan menyibukkan diri dengan hal yang sia-sia semacam ini?! Apakah setiap kali datang kepada kalian seseorang yang lebih pintar ngomong dibandingkan yang lain kalian akan meninggalkan agama Muhammad shallallahu alaihi wa sallam hanya gara-gara ucapannya?! Jika demikian apa manfaatnya menuntut ilmu?! Apa manfaatnya duduk menimba ilmu di hadapan para ulama?! Kegoncangan semacam apa ini?! Kekacauan semacam apa ini?! Kenapa tidak bersikap tenang seperti ini?! Sampai kapan kita akan terus seperti ini?! Laa haula walaa quwwata illa billah, kita memohon keselamatan kepada Allah. Sumber transkrip : https://t.me/Nataouan/6458 https://forumsalafy.net/akibat-mencela-ulama/

 .SEDIKIT TAPI RUTIN LEBIH BAIK DARIPADA BANYAK SEKALIGUS Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah berkata, فالإنسان يقتصد ويتوسط، فلا يكون مشددا على نفسه، ولا مكثرا من الشيء حتى يمل منه ويفتر، ولا أن يكون مقصرا بحيث يكون مهملا، ولكن عليه أن يأتي بالأشياء المشروعة، فيأتي ب…

SARANA MERAIH KEKHUSYUKAN Sebelum membaca lebih jauh, sebaiknya baca dulu Urgensi Khusyuk dan Pengaruhnya Oleh sebab itu, tidak tercapainya kekhusyukan pasti memiliki sebab, dapat dipastikan bahwa ada kekurangan dalam pelaksanaan shalat itu. Maka dalam catatan ringkas ini, kami akan mem…

Bahagia di Rumah Tangga (Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ustadz. . Perkenalkan ana Fulan, ikhwan kota X. Ana dapat nomor ustadz dari salah satu ikhwah yang ada di WA grup peternakan, pertanian dan perikanan. Ustadz, 'afwan ana sedang butuh akan nasehat pernikahan, kiranya antum b…

 .12 KESYIRIKAN YANG DI ANGGAP TRADISI Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati anda, di tengah-tengah masyarakat kita masih banyak sekali praktek kesyirikan yang merusak bahkan membatalkan tauhid. Perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian orang dengan dalih bahwa…

MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, . Soal: Soal ketiga dalam surat al-Akh Shalih Abduh al-Yamani dari kota Khubar. Penanya berkata, “Apakah makna syahadat Laa ilaaha illallah? Dan apa pula makna syahadat Muhammad rasulullah? Berilah kami faedah, semoga Allah memberikan pahala kepada Anda. Jawab: Kedua syahadat ini adalah pondasi Islam. Dan keduanya adalah asas dasar agama ini. Dengan keduanya, orang kafir yang belum mengucapkan keduanya, dengan keduanya orang kafir itu akan masuk ke dalam Islam dan dianggap sebagai pemeluk agama Islam. Juga akan dituntut untuk menunaikan hak-hak Islam yang selainnya. Adapun syahadat LAA ILAAHA ILLALLAH, ia adalah asal/pondasi dasar semua agama dan asas dasar agama dalam seluruh agama, yaitu seluruh agama para rasul semenjak dari Nabi Adam hingga masa kita sekarang ini. Nabi Adam ‘alaihisshalatu was salam membawakannya. Dan seluruh para rasul membawakannya pula, seperti Nuh, Hud, Ibrhaim, dan selainnya dari kalangan para rasul. Mereka semua mendakwahi umat-umatnya kepada kalimat ini. Allah subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu”. (an-Nahl: 36) "Tidaklah Kami mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (al-Anbiya’: 25) Sedangkan Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ketika Allah mengutus beliau, beliau memulai dengan kalimat ini (ketika mendakwahi kaumnya). Beliau menyampaikan kepada mereka, “Ucapkanlah oleh kalian ‘Laa ilaaha illallah’, pasti kalian akan sukses/bahagia.” Ketika mereka (kaum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam) adalah kaum yang menyembah patung dan pohon-pohon, mereka juga memiliki sesemabahan yang banyak di sekitar Ka’bah dan selainnya, maka mereka mengingkari beliau. Mereka mengatakan (sebagaimana dalam al-Qur’an), “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Sembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shad: 5) Jadi, mereka mengingkari tauhid dan keimanan dikarenakan kebodohan dan kekafiran mereka. Juga kesesatan yang ada pada mereka dan kebiasaan mengikuti apa yang dijalankan oleh nenek moyangnya berupa kesyirikan, kekafiran, dan beribada kepada sesembahan yang banyak jumlahnya. Kalimat ini adalah cabang iman yang paling utama sebagaimanan dalam ash-Shahih (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً -أو قال:- بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ: لا إله إلا اللهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ “Iman itu adalah 60 atau 70 sekian cabang. Lalu, yang paling utamanya adalah ucapan Laa ilaaha illallah. Dan yang paling rendahnya adalah menghilangkan gangguan dari jalan. Sedangkan rasa malu adalah cabang dari keimanan.” Hadits yang agung ini menunjukkan kepada kita bahwa pondasi dasar agama dan asas dasar agama serta ucapan yang paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illallah. Dan maknanya adalah ‘tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah’. Dengan demikian, kalimat ini menafikan ilahiyah, yaitu peribadatan kepada selain Allah dan menetapkannya untuk Allah semata. Dan dalam ash-Shahih, yaitu dari hadits Shahih Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, “Islam dibangun di atas lima (pondasi): di atas menauhidkan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah (Ka’bah).” Dalam redaksi yang lain, عَلَى أَنْ يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ وَيُكْفَرَ بِمَا دُونَهُ “Di atas peribadatan kepada Allah semata dan mengingkari semua (peribadatan) kepada selain-Nya.” Dengan demikian, beliau menjadikan tauhid kepada Allah dan beribadah kepada-Nya saja serta mengingkari (peribadatan) kepada selain-Nya, - beliau menjadikannya – sebagai makna Laa ilaaha illallah. Dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu tentang pertanyaan Jibril, bahwasanya ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang Islam, beliau bersabda, “Islam itu adalah kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kamu juga menegakkan shalat...” Jadi, beliau menjadikan ibadah kepada Allah semata dan mengkhususkan ibadah untuk-Nya Subhanahu wa Ta'ala, tidak kepada selain-Nya, juga meyakini batilnya peribadatan yang dilakukan untuk selain-Nya, “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq...” (al-Hajj: 62) Inilah makna Laa ilaaha illallah, yaitu menetapkan ibadah untuk Allah semata, dan ia adalah uluhiyah. Juga menafikannya dari selain-Nya, sehingga tidak bermohon doa kecuali kepada Allah semata, tidak beristighatsah kecuali kepada-Nya, tidak bertawakal kecuali kepada-Nya, tidak menegakkan shalat kecuali untuk-Nya, tidak bernazar kecuali untuk-Nya, dan tidak menyembelih kecuali untuk-Nya. (Jadi,) demikianlah (urusannya). Dengan ini, Anda – wahai Saudara penanya dan para pendengar yang mulia – mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh sebagian orang-orang bodoh ketika berada di dekat sebagian kuburan dan (apa yang melakukan lakukan) terhadap sebagian wali berupa istighatsah kepada orang-orang yang sudah mati, berdoa kepada orang-orang yang sudah meninggal, berdoa kepada pohon dan batu, atau berdoa kepada patung dan beristighatsah kepada mereka, bahwasanya itulah dia syirik akbar. Dan bahwasanya hal ini meruntuhkan ucapannya, “Laa ilaaha illallah”. Adapun syahadat Muhammad adalah utusan Allah, maknanya adalah beriman bahwa beliau adalah benar-benar utusan Allah, Allah mengutus beliau kepada kalangan jin dan manusia sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau. Juga beriman bahwa beliau adalah penutup para nabi, tidak ada lagi setelah beliau sebagaimana yang Allah k firmankan, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (al-Ahzab: 40) Allah juga berfirman, “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (al-Ahzab: 45-46) Jadi, beliau adalah benar-benar utusan Allah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepadanya. Allah mengutus beliau kepada jenis manusia secara menyeluruh – baik dari kalangan jin dan manusia -. Beliau mendakwahi mereka kepada menauhidkan Allah dan memperingatkan mereka dari berbuat syirik kepada Allah, sebagaimana yang Allah firmankan, Katakanlah, “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua,” (al-A’raf: 158) “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.” (Saba’: 28) ▫️ Dengan demikian, wajib atas setiap muslim dan muslimah, bahkan atas setiap orang untuk beriman bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Wajib atas setiap orang yang mukalaf dari kalangan kaum muslimin, Yahudi, Nasrani, dan selain mereka, yakni seluruh orang yang mukalaf wajib atas mereka untuk bersaksi Laa ilaaha illallah (tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah), menauhidkan (mengesakan) Allah dan mengkhususkan ibadah untuk-Nya, meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya baik berupa patung, pohon, batu, nabi, wali, dan selainnya. Wajib pula atas mereka untuk beriman bahwa Muhammad adalah utusan Allah, membenarkan bahwa beliau adalah benar-benar utusan Allah, (beriman) bahwa beliau adalah penutup para nabi, dan bahwasanya yang wajib adalah mengikuti beliau, yaitu dengan membenarkan apa yang beliau bawa dan beriman bahwa beliau adalah benar-benar utusan Allah, menaati perintahnya, meninggalkan apa yang beliau larang, dan tidaklah beribadah kepada Allah kecuali dengan syariatnya, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepadanya. Inilah makna syahadat ini, yaitu syahadat Muhammad adalah utusan Allah: membenarkan apa yang beliau beritakan, menaati apa yang beliau perintahkan, dan menjauhi apa yang beliau larang dan beliau kecam, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariatnya yang beliau datangkan, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepadanya. Bukan (beribadah kepada Allah) dengan berdasar hawa nafsu, semata pendapat manusia, dan bid’ah. Inilah makna syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kedua syahadat ini – sebagaimana telah disampaikan – adalah pondasi dasar dan asas pokok agama. Barang siapa yang mengucapkan keduanya dan meyakini kandungan maknanya, ia adalah menjadi seorang muslim. Dan wajib atasnya untuk menunaikan hak-hak yang selanjutnya, berupa shalat, zakat, puasa, haji, dan selainnya dari apa yang Allah dan Rasul-Nya memerintahkan. Wajib pula atas – bersamaan itu – menjauhi syirik besar yang ia adalah lawan tauhid. Jadi, wajib atasnya menjauhi syirik akbar. Dan tauhid tidak akan sempurna padanya kecuali dengan ini (meninggalkan perbuatan syirik akbar). Juga wajib atasnya utuk meninggalkan semua yang Allah dan Rasul-Nya melarangnya, baik berupa ucapan maupun perbuatan sebagai realisasi kedua syahadat ini. Dan hanyalah Allah yang memberikan taufik. Pembawa acara: Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada Anda. Baca juga : WAJIB MENGENAL DUA KALIMAT SYAHADAT 🌎 Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/6940/معنى-الشهادتين 📝 Al-Ustadz Fathul Mujib hafizhahullah Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Channel kami https://t.me/warisansalaf Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Potret Sang Guru Oleh : Ustadz Abu Hafiy Abdullah Sungguh penting untuk sejenak menoleh ke belakang, melihat kisah penuh hikmah para ulama salaf. Dari kalangan tabi'in (murid generasi sahabat) tertoreh nama seorang figur ulama dikenal dengan kapasitas ilmu fikih dan qira'ahnya. Beliau disebut-sebut sebagai muridnya Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu yang secara karakter dan kapasitas keilmuan paling mirip dengan gurunya tersebut. Beliau adalah Alqamah bin Qais bin Abdillah bin Malik bin Alqamah bin Sulaiman bin Kahl An Nakhai Al Kufi rahimahullah dengan kunyah Abu Sibl . Pertumbuhan beliau terdukung dengan suasana keluarga yang penuh dengan suasana ilmiah yang sangat baik. Tentu faktor keberadaan para sahabat di sekitarnya juga memiliki peran yang sangat vital dalam pertumbuhan ilmiahnya. Beliau adalah paman Al Aswad bin Yazid dan masanya. Alqamah dilahirkan pada masa kenabian dan tergolong sebagai Mukhadram. Mukhadram adalah orang yang beriman kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau masih hidup namun tidak bertemu dengan Nabi. MIRIP DENGAN ABDULLAH BIN MAS'UD RADHIYALLAHU 'ANHU Beliau berhijrah untuk menuntut ilmu agama dan jihad lalu tinggal di Kufah. Di kota itulah, beliau bermulazamah dengan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu dan akhirnya menjadi pemimpin ulama dalam ilmu serta amal. Tak heran jika Alqamah menjadi ulama ahli qira'ah yang menuai pujian dari para ulama. . Beliaulah salah satu manusia paling fasih di zamannya dalam membaca Al Quran. Sebagaimana guru besarnya yang langsung dibimbing oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Simaklah hadis yang merekomendasikan bacaan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berikut ini. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: مَنْ سَرَّهُ أنْ يَقْرَأ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَاهُ بِقِرَاءَةِ بْنِ أُمِّ عَبْد "Barangsiapa ingin membaca Al Quran sebagaimana ketika baru saja diturunkan, maka bacalah Al Quran sebagaimana bacaan Ibnu Ummi 'Abd (Abdullah bin Mas'ud)." [H.R. Ahmad dengan sanad yang shahih]. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu dinisbatkan kepada ibunya karena bapaknya meninggal pada zaman jahiliyah. Adapun ibunya yang bergelar Ummu 'Abdu masuk Islam. Ibnu Mas;ud radhiyallahu 'anhu menyukai suara Alqamah yang indah dalam membaca Al Quran. Suatu saat Ibnu Mas'ud menyuruh Alqamah agar membacakan Al Quran untuknya. Kemudian setelah selesai membaca Al Quran, beliau meminta agar dibacakan lagi seraya berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : إِنَّ حُسْنَ الصَّوْتِ زِيْنَة الْقُرْآنِ "Sesungguhnya suara yang indah adalah perhiasan Al Quran." Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu pernah meminta Alqamah agar menyimak bacaannya dan beliau memilih surat Al Baqarah. Setelah membaca surat tersebut, Ibnu Mas'ud bertanya kepadanya, "Apakah ada bacaan dalam surat ini yang terlewatkan?" Alqamah menjawab, "Ya ada satu huruf yang terlewatkan." "Apakah huruf ini dan ini?" Tanya Ibnu Mas'ud. "Ya benar" jawab Alqamah. Kuniah Abu Syibl adalah pemberian dari Abdullah bin Mas'ud kepada Alqamah. Sungguh Abdullah bin Mas'ud menjadi salah satu guru yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. Hingga Ibnu Al Madini mengatakan "Tidak ada seorang sahabat yang memiliki murid-murid yang menghafal darinya dan selalu mengambil ucapan fikihnya kecuali tiga sahabat saja, yaitu Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum. Dan orang yang pling berilmu tentang Ibnu Mas'ud adalah Alqamah, Al Aswad, Abidah dan Al Harits. Al Aswad berkisah, "Sungguh aku pernah melihat Abdullah bin Mas'ud mengajarkan tasyahud kepada Alqamah sebagaimana dia mengajarkan surat Al Quran kepadanya." Bahkan Ibnu Mas'ud telah berusaha mengajarkan segala yang beliau miliki kepada Alqamah. Sebagaimana beliau tegaskan dalam pernyataannya, 'Tidaklah aku membaca sesuatu dan mengajarkan ilmunya kecuali kepada Alqamah, sehingga dialah yang bisa membacanya atau mengetahui ilmunya." Ziyad bin Hudair pernah mengatakan kepada Ibnu Mas'ud, "Demi Allah, Alqamah bukanlah orang yang paling pandai membaca Al Quran di antara kami." Mendengar hal itu, sontak Ibnu Mas'ud menegaskan 'Bahkan demi Allah, dialah yang paling mahir di antara kalian." Wajar jika para ulama pun memandang karakter dan kepribadian Alqamah rahimahullah sangat mirip dengan Abdullah bin Mas'ud radhyalllahu anhu. Utsman bin Sa'id menyatakan bahwa Alqamah adalah orang yang paling menguasai ilmunya Abdullah bin Mas'ud. Abu Ma'mar mengatakan, "Marilah kita menuju kepada orang yang paling menyeruai Abdullah bin Mas'ud dalam hal petunjuk, kepribadian, dan karakternya." Mereka pun mendatangi majelisnya Alqamah dan menimba ilmu darinya. Hal ini sebagaimana Abdullah bin Mas'ud disreupakan kerpribadian dan akhlaknya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Asy Sya'bi rahimahullah juga menegaskan bahwa murid Ibnu Mas'ud yang paling menguasai ilmunya adalah Alqamah bin Qais. Beliau memang termasuk murid Abdullah bin Mas'ud yang paling istimewa. Sepeninggal Ibnu Mas'ud ada enam murid beliau yang mengajarkan Al Quran dan sunnah Nabi shalallallahu alaih wasallam, mereka adalah Alqamah, Al Aswad, Masruq, Abidah, Abu Maisarah, Amr bin Syurahbil, dan Al Harits bin Qais. Di samping itu, Alqamah banyak belajar juga dari pembesar sahabat seperti Umar, Utsman, Ali, Abu Darda', Khalid bin Al Walid, Hudzaifah Khabbab, Aisyah, Sa'ad, Ammar, Abu Mas'ud Al Badry, Abu Musa al Asy'ari radhiyallahu anhum dan ulama yang lainnya. Oleh karena itu, gelar sebagai pakar fikih pun disandangkan oleh para ulama kepada beliau. Alqamah senantiasa salat wajib berjamaah di belakang Umar radhiyallahu anhu selama dua tahun. Beliau juga menyertai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma dalam safarnya. Demikianlah seorang pengajar dituntut untuk tidak sebatas mengajarkan teori. Sungguh pengjaran akhlak secara aplikatif yang mulia baik tutur kata atau tindak tanduknya tidak kalah penting. PUJIAN ULAMA Keluasan ilmu dan kemiripannya dengan Abdullah bin Mas'ud membuat kagum ulama di zamannya. Berbagai pujian dan sanjungan pun tertuju kepada Alqamah, di antaranya adalah pujian Ahmad bin Hambal rahimahullah yang menyatakan bahwa Alqamah adalah seorang perawi yang tsiqah dan termasuk ulama yang baik. Ketsiqahan beliau ditegaskan pula oleh Yahya bin Ma'in dan ulama yang lainnya. Al Fadhl bin Dukain juga menegaskan bahwa Alqamah adalah seorang yang tsiqah dan banyak meriwayatkan hadis. Adz Dzahabi dalam biografinya telah memberikan pujian yang baik bahwa Alqamah adalah ahli fikih dan ulama Kufah, ahli qira'ah, seorang imam, al hafizh, ahli tajwid, dan ulama besar yang mencapai derajat mujtahid. Ibrahim An Nakhai rahimahullah pernah ditanya siapakah yang lebih utama antara Alqamah dengan al Aswad, maka beliau mengaskan bahwa Alqamah lebih utama karena beliau pernah menyaksikan Perang Shiffin. Hal yang sama juga pernah ditanyakan kpada Asy Sya'bi, maka ia menjawab. "Adapun Al Aswad maka dia banyak melakukan puasa, salat malam dan haji. Namun Alqamah, meskipun lebih lambat (ibadahnya) namun bisa melampui orang yang cepat ibadahnya." Murah Al Hamdani mengatakan, "Alqamah termasuk ulama Rabbaniyyin meskipun beliau mandul dan tidak bisa mempunyai keturunan." Ulama Rabbaniyun adalah para ulama berilmu yang mengamalkan ilmunya dan mendakwahkannya kepada manusia. Merekalah suri teladan yang baik dalam ucapan, perbuatan, dan akhlaknya. Sementara itu Qabus bin Abi Thibyan bertanya kepada bapaknya yang begitu antusias dan semangat menghadiri majelisnya Alqamah. Padahal saat itu masih banyak sahabat Nabi yang masih hidup. Qabus berkata, "Apa yang membuatmu mendatangi Alqamah dan meninggalkan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam?" Dia menjawab,"Aku menjumpai sekelompok sahabat Nabi bertanya kepada Alqamah dan meminta fatwa kepadanya." Ulama sekelas Ar Rabi' bin Khutsaim pun rela mengunjungi Alqamah di rumah. Dan tidak ada seorang ulama pun yang pernah dikunjungi Ar Rabi' kecuali Alqamah. Ibrahim An Nakhai termasuk ulama yang menaruh respek besar terhadap Alqamah. Hingga Ibrahim pernah menyambut kedatangan Alqamah di atas tunggangannya lalu menuntun tanggungannya layaknya seorang pelayan. Subhanallah, seperti itulah kita diajari oleh ulama salaf untuk mnghormati orang-orang yang berilmu. Alqamah adalah pribadi yang zuhud terhadap kepemimpinan dan popularitas. Berprinsip tegas tidak ingin dekat dengan penguasa dan menjaga jarak dengan mereka. Di antara untaian nasihatnya adalah, "Tidaklah kalian mendapatkan keuntungan dunia dari penguasa melainkan mereka akan mendapatkan sebagian agamamu yang lebih utama dari apa yang kalian peroleh. Aku tidak suka mempunyai ribuan tentara sedangkan aku adalah tentara yang paling mulia di antara mereka." Suatu saat Abu Burdah telah mencatat Alqamah sebagai rombongan utusan kepada Mu'awiyah, maka Alqamah memerintahkan agar namanya dihapus dari rombongan tersebut. Sebagian muridnya pernah mengatakan, "Kalau sekiranya Anda salat di masjid lalu duduk dan kami pun ikut duduk bersamamu untuk bertanya kepadamu (perihal agama)." Maka beliau menjawab, "Aku tidak suka orang-orang mengatakan bahwa 'inilah Alqamah'. Mereka kembali berkata, "Sekiranya Anda pergi menemui para penguasa sehingga mereka bisa mengetahui kemuliaan Anda?" beliau pun menjawab, "Aku khawatir mereka akan menghinakanku melebihi penghinaanku terhadap mereka." Ini semua merupakan hasil manifestasi dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : ومن أتى أبواب السلطان افتتن، وما ازداد أحد من السلطان قرباً، إلا ازداد من الله بعداً "Barangsiapa mendatangi pintu-pintu penguasa, maka dia akan terfitnah dan semakin dekat seseorang kepada penguasa, maka dia pun akan semakin jauh dari Allah" [Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Abani dalam Ash Shahihah no.1272] Alqamah lebih memilih kehidupan sederhana di rumahnya meskipun hasilnya tdak seberapa. Beliau memelihara kambing di rumah dan memberi makan kepada kambing-kambingnya sendiri. PETUAH-PETUAHNYA Alqamah mengatakan, "Hendaknya kalian terus mengulangi pelajaran ilmu agama (murajaah), karena dengan itulah ilmu agama agar senantiasa hidup." "Sesungguhnya kesempurnaan salam adalah dengan berjabat tangan dan di antara kesempurnaan hajia dalah engkau menghadiri sata dua rakaat bersama imam di Arafah." Menjelang kematiannya, Alqamah berpesan kepada sahabatnya, "Hendaknya kalian menalqin aku dengan kalimat 'Laa ilaaha illallaah', bersegeralah kalian membawa jenazahku ke kuburan dan jangan mengumumkan kmatianku. Sesungguhnya aku khawatir akan mnjadi pengumuman model jahiliyah." Pada dasarnya mengumumkan kematian bukanlah suatu hal yang terlarang selama sesuai dengan prosedur syariat. Karena Nabi dahulu pernah melakukannya. Seperti ketika beliau mengumumkan berita kematian raja Najasyi atau sebagian sahabatnya yang meninggal dalam perang Mu'tah. Adapun pengumuman yang terlarang dalam agama adalah pengumuman yang menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyah. Seperti mengumumkan kematian di atas menara-menara atau berkeliling desa dengan mengeraskan suara dan semisalnya. Inilah na'yu (pengumuman) kematian yang dilarang oleh Nabi hadisnya. Dalam kesempatan lain beliau mengatakan, "Jika kalian keluar membawa jenazahku, maka tutuplah pintu rumah sehingga tidak ada seorang wanita pun yang mengikuti jenazahku. Al Fadhl bin Dukain menjelaskan bahwa Alqamah meninggal di Kufah pada tahun 62 H pada nasa pemerintahan Yazid. Abu Nuaim An Nakhai menuturkan bahwa Alqamah meninggal pada usia sembilan puluh rahmat dan ampunan-Nya kepada Alqamah bin Qais. Allahu a'lam Sumber : Siyar A'lam Nubala karya Adz Dzahabi. Ath Thabaqah Al Kubra karya Ibnu Sa'ad Majalah Qudwah Edisi 75 Vol 07/1441 H