Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

APAKAH BERSIWAK BISA DISAMAKAN DENGAN SIKAT GIGI? Pertanyaan Bismillah. Afwan ustad izin bertanya. Apakah termasuk sunah bersiwak, dan apakah bisa dikiaskan bersiwak dengan sikat gigi? Jawaban . Oleh al-Ustadz Abu Fudhail 'Abdurrahman Ibnu 'Umar hafizhahullah, Bersiwak hukumnya s…

 .PINDAHNYA ARAH KIBLAT ✍🏻 Al-Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini حفظه الله تعالى Allah سبحانه وتعالى berfirman: سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى…

Terusik Musik, Al Quran Ditinggalkan Musik dianggap sebagai hiburan. Menenangkan dan menentramkan. Bahkan, musik dinilai sebagai bentuk terapi emosional, mental, dan sosial. Benarkah demikian? Hampir tidak ada yang bisa selamat dari musik di zaman ini. Tak dicari, ia datang menghampiri. Berusaha dihindari, malah mengiringi. Kawan, mari kita bicara tentang sabda Nabi Muhammad. Beliau mewartakan . لَيَكونَنَّ من أُمَّتي أقوامٌ يستحِلُّون الحِرَ والحَرير، والخمرَ والمعازِف "Sungguh! Akan muncul sejumlah orang dari ummatku yang menghalalkan zina, sutera, khamer dan alat-alat musik" (HR Bukhari no.5590 secara mu'allaq dan disambung oleh at Thabrani dan al Baihaqi) Hadits di atas bukan satu-satunya yang menerangkan haramnya musik. Ibnul Qayyim (Ighatasul Lahafan) menyebut 13 sahabat yang meriwayatkan hadits haramnya musik dari Nabi Muhammad. Imam madzhab yang 4 pun mengharamkan musik. Kitab-kitab madzhab Hanafi menyatakan bahwa mendengarkan musik adalah kefasikan. Imam Malik ketika ditanya tentang musik, menjawab : "Di tempat kami (di Madinah), hanya orang-orang fasik yang melakukan" Imam Syafi'i menyebut alat musik dapat menghalangi untuk mentadaburi al Quran. Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan, " Aku tidak senang musik. Hal itu bisa menumbuhkan kemunafikan" Jelas dan ringkasnya, musik dan al Quran tak mungkin disatukan. Ibnul Qayyim (Bada'iu Tafsir 2/143) membedakan ; "Suara al Quran akan menenangkan jiwa, menentramkan dan mendamaikan nya. Sementara suara musik akan membuat jiwa resah, gelisah dan cemas" ooo___ooo Adz Dzahabi (Siyar A'lam 4/280-281) menceritakan masa lalu Zaa-dzan dan kisah taubatnya. Sebagai anak muda yang gandrung dengan musik dan nyanyian, Zaa-dzan sering diminta menghibur teman-temannya. Suaranya memang bagus dan merdu. Bukan hanya bernyanyi, Zaa-dzan pun pandai bermain alat musik. Sampai suatu hari ada yang menegurnya, "Anak muda, andai suara merdumu itu digunakan untuk membaca al Quran, dirimu adalah anak muda yang hebat" Setelah orang itu berlalu, teman-temannya memberitahu bahwa orang itu adalah Abdullah bin Mas'ud, seorang sahabat Nabi. Bergegas Zaa-dzan menyusul Ibnu Mas'ud untuk menyatakan taubat. Musik ditinggalkannya. Nyanyian dibuangnya. Berikutnya, Zaa-dzan pun berthalabul ilmi hingga menjadi ulama tabi'in. Al Hafidz Ibnu Rajab (Dzail Thabaqat Hanabilah 3/330) menggambarkan Abdurrahman bin an Nafis sebagai ahli fikih dan ulama qiraah al Quran. Siapa beliau sebelumnya? Bersuara emas dan merdu, Abdurrahman senang musik dan bernyanyi. Setelah bertaubat, beliau giat belajar al Quran, fikih dan ilmu agama lainnya. Kemampuan hafalnya dalam satu hari sebanding dengan satu bulan murid yang lain. Berbeda dengan.... Ismail bin Jami'. Ibnu Katsir (al Bidayah 10/215) menceritakan tentangnya sebagai seorang penyanyi terkenal. Bahkan, lagu-lagu nya memiliki branding sendiri ; aliran musik Bin Jami'. Padahal... Sebelum itu, Ismail bin Jami' adalah hafiz al Quran. Allahul musta'an. Kawan, sadarilah bahwa musik dan al Quran tak mungkin disatukan. Mustahil bergabung di satu hati. Kata Ibnul Qayyim (Ighatsatul Lahafan 1/248) : "Al Quran dan nyanyian tak mungkin disatukan dalam hati selama-lamanya. Ada kontradiksi antara keduanya" Kawan, memang tak mudah untuk meninggalkan musik. Terkadang kaki terhentak otomatis. Nada mengalir dari bibir tanpa direncana. Namun, bulatkan tekadmu! Mohonlah sepenuh jiwa kepada Allah agar membantumu! Dan...makmurkan hari-harimu dengan membaca al Quran. Selat antara Bali-Banyuwangi. 07 Juni 2021. Bakda Isya t.me/anakmudadansalaf

Karena Tidur Pagi Bukan Jalan Kesuksesan Tidur pagi memang sangat menggoda. Suasananya seakan mendukung. Situasinya seolah bersahabat. Mereka yang gemar, menganggap tidur pagi sebagai sebuah kenikmatan. Sayang untuk dilewatkan. . Benarkah demikian? Fenomena tidur pagi bagi remaja dan anak-anak muda sangat menyedihkan. Rasanya jengkel dan kesal. Namun, hendak ditumpahkan ke siapa kekesalan ini? Siapa yang siap menampung kejengkelan ini? Ada beberapa faktor yang menumbuh-suburkan kebiasaan tidur pagi. Antara lain ; begadang hingga larut malam, bimbingan tidur dari Nabi Muhammad yang tidak dilaksanakan, ketidakpahaman tentang dampak buruk tidur pagi, dan perhatian orangtua atau pendidik yang masih kurang maksimal, barangkali perlu dibahas lebih spesifik di lain tulisan. Kaum Salaf, menurut Ibnul Qayyim (Madarijus Salikin 1/457), tidak suka tidur pagi, terutama antara shalat subuh hingga matahari terbit. Kenapa? Saat-saat itu adalah kesempatan emas untuk panen pahala. Kunci dan penentu rangkaian hari terletak di pagi nya. Waktu tersebut merupakan waktu turunnya rezeki, pembagian rezeki, dan tersebarnya berkah. Tidak ada cerita orang sukses yang senang tidur pagi. Sukses apapun itu. Mereka yang terbiasa tidur pagi adalah orang-orang gagal. Orang-orang yang terbuang dan dibuang. Orang-orang yang hidup tanpa harapan dan tidak diharapkan. Gemar tidur pagi merupakan aktivitas yang melekat pada sosok pemalas. Jadi, jangan marah kalau dipanggil pemalas! Jangan sakit hati bila dibilang sampah kehidupan! Sebab, engkau memang pantas disebut seperti itu. Engkau selalu tidur pagi. Ibnul Qayyim (Zaadul Ma'ad) menyebut teguran sahabat Ibnu Abbas yang melihat anaknya tidur di waktu pagi, “Bangunlah kamu! Apakah kamu tidur sementara waktu pagi adalah waktu pembagian rezeki?” Urwah bin Zubair, seorang ulama tabi'in, melarang anak-anaknya tidur pagi dan berkata, "Sungguh! Jika aku mendengar seseorang itu tidur waktu pagi, maka aku pun merasa tidak suka dengannya" Mohon maaf, kawan. Saya pun tidak suka denganmu. Kurang respek kepadamu. Tidak hormat padamu. Susah menghargaimu. Tolong jangan salahkan saya! Kebiasaanmu itu lah penyebabnya. ooo___ooo Sakhr bin Wada'ah al Ghamidi termasuk sahabat Nabi yang kaya raya. Sebagai seorang saudagar, beliau mengaplikasikan pesan Nabi Muhammad. Secara langsung, Sakhr mendengar Nabi Muhammad bersabda ; اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا “ Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi hari" (HR Tirmidzi dan dishahihkan al Albani) Sejak mendengar itu, Sakhr selalu menggerakkan usaha dan mengelolanya mulai dari pagi-pagi benar. Begitulah gunanya mengikuti sunnah Nabi Muhammad! Keberkahan Allah berikan. Meskipun tentu bukan sekadar laba duniawi yang engkau kejar. Bukan sebatas untung materi yang engkau cari. Tidak tidur pagi bukan semata-mata untuk menjadi orang yang kaya raya. Mestinya berkah dari Allah yang diharapkan. Kesuksesan akhirat yang ingin dicapai. Tidak tidur pagi akan sangat membantu dalam beribadah. Pagi hari bukan hanya berkah untuk mereka yang hendak sukses berusaha. Pagi hari juga dipilih oleh Nabi Muhammad untuk memberangkatkan pasukan perang. Melepas kekuatan militer di pagi hari dilakukan oleh Nabi Muhammad karena berkahnya. Contohnya adalah perang Khaibar. Al Bukhari (3374) meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad menyerang penduduk Khaibar pada pagi buta. Saat itu, mereka sedang berangkat untuk berladang dengan membawa sekop dan alat-alat lainnya. Akhirnya, Khaibar pun dapat ditaklukan. Untuk menjadi seorang jenderal perang mumpuni dan panglima besar yang disegani, tidak mungkin dengan senang tidur pagi. Semuanya dilalui dengan latihan-latihan keras dan pendidikan yang ketat. Jangankan di pagi hari, bahkan saat dini hari pun latihan-latihan dilakukan. Tidak mengenal lelah. Tidak berpikir dapat istirahat. Tak mungkin seorang prajurit hebat dan ksatria perwira terlahir dari orang-orang yang suka tidur pagi! Sama juga dengan ulama, pewaris para nabi. Mereka menjadi ahli agama, ahli fikih, ahli hadits dan ahli ilmu lainnya bukan dengan tidur pagi. Sejak sebelum fajar menyingsing, mereka telah berpacu dengan waktu dan berlomba dengan nafas untuk mendatangi majlis-majlis ilmu. Tak ingin terlambat. Tak mau duduk di shaf belakang. Menjadi orang pintar agama, hafiz al Qur'an, ahli fikih dan pewaris ilmu para Nabi, tidak mungkin berlaku bagi engkau yang suka tidur pagi. Kamu suka tidur pagi terus berharap digolongkan dalam barisan para ulama di hari kiamat kelak? Kamu senang tidur pagi lalu bercita-cita membela Islam? Kamu selalu tidur pagi kemudian ingin hidup mulia? Tolonglah bercermin pada diri sendiri. Ibnul Qayyim (Zaadul Ma'ad 4/222) menukil bait syair seorang pujangga : أَلَا إِنَّ نَوْمَاتِ الضُّحَى تُورِثُ الْفَتَى ... خَبَالًا وَنَوْمَاتُ الْعُصَيْرِ جُنُونُ Sadarilah! Sungguh, tidur pagi mewariskan kebodohan untuk pemuda Adapun tidur sore hari membuatnya seperti orang gila Baca juga tentang Hukum Tidur Pagi Setelah Shubuh Malam Sabtu 04.Juni.2021 di Lendah. t.me/anakmudadansalaf

SAHKAH IJAB KABUL PERNIKAHAN LEWAT VIDEO CALL? Pertanyaan Bismillah Bu, skam jak subuh jno mansa cerita jak Bang xxxxxx di Gunung Raya pernah rumpok nikah lewat vidio col, melalui HP, . Sah Kudo? kik ani Bang xxxxxx sah oleh Ijab kabul ni jlas, aku knh ram lulehpai repa sahdo ku…

MEREKA TIDAK MEMBUNUHNYA ✍🏻 Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa'i حفظه الله تعالى Hasad benar-benar telah membutakan mata hati kaum Yahudi! Nabi Isa bin Maryam عليه السلام yang diutus Allah, mereka tenggelam dalam lautan benci dan dengki terhadapnya. Begitu buruknya kehidupan seorang hamba yang hidup dalam lingkaran benci dan dengki! Hatinya tak pernah merasakan tenang dan tenteram, penuh dengan gejolak negatif dan lebih parah dari itu, ia akan sulit untuk menerima kebenaran yang benar-benar nyata. Kaum Yahudi tak mampu menyaksikan Nabi Isa عليه السلام yang diberi banyak kelebihan oleh Allah سبحانه وتعالى. Panas hati mereka, juga memerah mata mereka kala menghadapi kenyataan Nabi Isa dengan izin dan kuasa Allah mampu menghidupkan orang yang telah mati, menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penyakit sopak, . membentuk tanah liat dalam rupa burung lalu meniupnya sehingga benar-benar terbang sebagai burung di angkasa, serta mukjizat-mukjizat lainnya. Mukjizat-mukjizat nan agung ini bukannya membuat kaum Yahudi beriman. Mereka justru mendustakan Nabi Isa, menyelisihi, dan menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan keji. Kaum Yahudi berupaya untuk menganggu dan menyakiti Nabi Isa. Hingga akhirnya hal tersebut membuat Nabi Isa beserta sang Ibunda Maryam harus berpindah-pindah tempat agar bisa hidup tidak senegeri dengan kaum Yahudi. Memang benar! Siapa pula yang akan tenang hidupnya jika harus senegeri dan seatap langit dengan orang-orang yang membenci dan memusuhi? Apatah nikmatnya harta benda bertumpuk jika jiwa menderita karena benci dan dengki? Apakah salah jika seorang hamba memilih bumi Allah yang lain agar dapat merasakan tenang dan tenteram di dalam beribadah ? Allah سبحانه وتعالى berfirman di dalam Al Qur'an: يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ “Hai hamba-hamba-ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka beribadahlah kalian kepada Aku saja.” [Q.S. Al Ankabut: 56]. As Syaikh As Sa'di (Tafsir Karimir Rahman) menjelaskan ayat di atas, “Jika tidak mampu beribadah kepada Rabb kalian di sebuah tempat, maka tinggalkanlah tempat itu dan carilah tempat yang lain agar bisa mewujudkan ibadah hanya untuk Allah." Sudah berapa banyak hamba-hamba Allah meninggalkan negeri dan kampung halaman mereka demi beribadah kepada Allah dengan tenang. Lihatlah para shahabat yang berhijrah menuju negeri Habasyah! Renungkanlah kesabaran para shahabat yang berhijrah ke negeri Madinah! Nabi Isa dan Ibunda Maryam pun memilih untuk berpindah-pindah tempat guna mencari sebuah negeri tempat beribadah kepada Allah dengan tenang. Dengan pilihan tersebut, apakah kaum Yahudi berhenti sampai di situ ? Belum! Renungkanlah betapa buruk dan hinanya sikap iri dan dengki! Hati yang telah dibakar oleh api dengki tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Tidak ada batas-batas bumi yang bisa menghentikan dengki. Biar saja orang mendengki, toh seorang hamba tetap dalam bahagianya walau sang pendengki hidup dalam kesempitan hati. Walaupun Nabi Isa dan Ibunda Maryam telah berusaha menghindar, dengki kaum Yahudi tetap belum berhenti. Kejahatan macam apa lagi yang mereka lakukan? NABI ISA DIANGKAT KE LANGIT Sejumlah utusan kaum Yahudi datang menemui Raja Damaskus yang ketika itu berkeyakinan musyrik penyembah bintang. Misi mereka adalah menghasut dan memprovokasi Sang Raja agar menjatuhkan hukuman seberat-beratnya atas Nabi Isa. Tentunya hasutan itu berisi dengan fitnah dan tuduhan-tuduhan keji. Demikianlah mata rantai kejahatan yang disebabkan oleh hasad dan dengki. نعوذ بالله. “Ada seseorang yang kini sedang berada di Baitul Maqdis. Ia menimbulkan keributan di antara penduduk negeri. la berusaha untuk menyesatkan orang-orang dan merusak tatanan negeri.” demikian hasutan kaum Yahudi di hadapan Sang Raja. Raja pun marah!Sang Raja segera membuat surat perintah untuk Gubernur Maqdis agar menindaklanjuti laporan kaum Yahudi. Surat itu berisi, “Tangkaplah orang itu! Saliblah dia dan letakkan duri di atas kepalanya supaya dia tidak lagi mengganggu orang-orang!" Jumat petang hingga malam Sabtu, Gubernur Maqdis beserta sejumlah prajurit dan ditemani beberapa orang Yahudi bergerak menuju tempat tinggal Nabi Isa. Surat perintah Sang Raja telah sampai kepadanya. Sehingga ia merasa tidak perlu berlama-lama untuk melaksanakan titah Sang Raja. Rumah Nabi Isa عليه السلام telah terkepung rapat! Melihat kenyataan tersebut, Nabi Isa عليه السلام menilai sudah tidak ada lagi pilihan. Apakah nantinya prajurit-prajurit tersebut akan berhasil merangsek masuk ke dalam rumah? Ataukah nantinya beliau yang harus keluar untuk menemui dan menyerahkan diri kepada mereka? Pada saat itulah, keajaiban dari Allah muncul ! “Siapakah di antara kalian yang bersedia berkorban? Ia akan dibuat mirip denganku. Kelak di surga ia akan menjadi kawan pengiringku.” Nabi Isa عليه السلام menyampaikan tawaran tersebut kepada 12 atau 13 muridnya yang saat itu sedang bersama menemani Nabi Isa عليه السلام di dalam rumah. Murid yang paling muda tampil menawarkan diri. Akan tetapi Nabi Isa menolaknya dengan halus. Barangkali karena Nabi Isa menganggap muridnya itu masih terlalu muda untuk melaksanakan tugas tersebut. Namun meskipun telah diulang oleh Nabi Isa عليه السلام untuk yang kedua dan yang ketiga kalinya, tetap saja yang menawarkan diri adalah muridnya yang paling muda. Akhirnya Nabi Isa عليه السلام pun menyatakan, “Kalau begitu engkaulah orang yang terpilih.” Saat itu juga -dengan kuasa Allah- muridnya yang paling muda tersebut menjadi sangat mirip dengan Nabi Isa. Bahkan seakan-akan tidak ada lagi bedanya dengan Nabi Isa عليه السلام. Setelah itu, salah satu sisi dari atap rumah terbuka dan Nabi Isa عليه السلام terbawa oleh rasa kantuk. Malam itu jasad dan ruh Nabi Isa عليه السلام diangkat ke atas langit dari bumi. Untuk kemudian nantinya di akhir zaman beliau akan turun kembali ke bumi demi melaksanakan misi-misi suci dalam rangka membenarkan ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Allah سبحانه وتعالى berfirman di dalam Al Qur'an: إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا "(Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan membuatmu tertidur dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang- orang kafir.” (Q.S. Ali Imran: 55) Setelah Nabi Isa عليه السلام diangkat ke langit, murid-murid beliau pun keluar meninggalkan rumah untuk menemui prajurit-prajurit Damaskus yang telah mengepung. Melihat murid paling muda yang telah menjadi sangat mirip dengan Nabi Isa, mereka pun segera menangkapnya. Malam itu juga sang murid termuda disalib. Tidak lupa mereka meletakkan duri-duri di atas kepalanya sesuai perintah Sang Raya. Kaum Yahudi merasa berbangga karena menganggap telah membunuh Nabi Isa عليه السلام. Sementara kaum Nasrani menerima begitu saja kedustaan kebohongan kaum Yahudi. Seluruh kaum Nasrani memercayai bahwa Nabi Isa telah disalib kecuali murid-murid Nabi Isa عليه السلام yang menyaksikan peristiwa diangkatnya beliau ke langit serta para pengikutnya yang setia. Setelah membawakan kisah di atas, Al Hafizh Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir 2/353) menyatakan, “Seluruh peristiwa ini merupakan ujian keimanan dari Allah untuk hamba-hamba-Nya. Sebab di balik peristiwa besar ini terdapat hikmah yang sangat mendalam." APAKAH NABI ISA TELAH MENINGGAL DUNIA? Kaum Yahudi beranggapan bahwa Nabi Isa telah terbunuh dalam keadaan disalib. Kaum Nasrani kemudian terpengaruh juga dengan meyakini bahwa Nabi Isa disalib untuk menebus dosa-dosa manusia karena kesalahan yang telah dilakukan oleh Nabi Adam. Padahal Nabi Isa masih hidup di atas langit. Kaum Yahudi tidak berhasil membunuh Nabi Isa. Renungkanlah firman Allah سبحانه وتعالى di bawah ini: وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا “Dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah.' Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa." (Q.S. An Nisa: 157). Resapilah firman Allah di atas! Jelas sekali Allah membantah keyakinan kaum Yahudi dan kaum Nasrani! Mereka tidak membunuh Nabi Isa! Bukan pula Nabi Isa yang mereka salib! Lalu siapakah yang telah mereka bunuh dan disalib? Benar-benar jelas Allah menyatakan bahwa yang mereka bunuh dan salib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa عليه السلام. Sejatinya, mereka sendiri pun tidak begitu yakin bahwa Nabi Isa عليه السلام benar-benar terbunuh dan disalib. Mereka berada di dalam keraguan, apakah Isa memang telah terbunuh ataukah belum? Orang-orang yang berakal di antara mereka -hingga saat ini- masih terus merasa bimbang tentang kebenaran Nabi Isa عليه السلام yang disalib. Namun apa guna keraguan dan kebimbangan tersebut jika tidak disertai dengan keimanan terhadap berita Al Qur'an ? Allah سبحانه وتعالى berfirman yang artinya, "Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (Q.S. An Nisa: 157). Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما (Tafsir Ibnu Abi Hatim 4/1110) menjelaskan bahwa setelah peristiwa tersebut kaum Nasrani menjadi tiga kelompok. Pertama adalah kelompok Ya'qubiyah; mereka berkeyakinan bahwa yang diangkat ke langit adalah Allah sendiri bukan Nabi Isa. Kelompok Nasthuriyyah menyatakan bahwa yang diangkat ke langit adalah putra Allah. Sementara sejumlah kecil yang mengikuti Nabi Isa عليه السلام menyatakan bahwa yang diangkat ke langit adalah hamba dan utusan Allah. Kelompok Ya'qubiyah dan Nasthuriyyah bekerjasama untuk menumpas para pengikut setia Nabi Isa, hingga akhirnya Nabi Muhammad ﷺ diutus oleh Allah سبحانه وتعالى. NABI ISA MASIH HIDUP DI LANGIT Inilah keyakinan yang benar! Hingga saat ini, Nabi Isa masih hidup di atas langit. Tidak ada sedikit pun celah yang dibuka untuk akal picik manusia untuk mengingkari, meragukan atau sekadar mempertanyakan hal ini. Bukanlah sesuatu yang mustahil, bukan pula hal yang tidak masuk akal jika Allah telah menetapkannya. Bukankah Allah adalah Dzat yang mematikan dan menghidupkan? Bukankah Allah maha mampu untuk melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya? Lalu, dengan alasan apa kita menolak berita langit dan sabda utusan-Nya? Marilah kita membaca dengan mata hati dan dada yang lapang keterangan dari Al Imam Ibnu Katsir di bawah ini. Setelah membawakan beberapa penafsiran ulama tentang firman Allah di dalam surat An Nisa' ayat 159, beliau menyatakan, “Tidak ada sedikit pun keraguan lagi! Pendapat Ibnu Jarir (seorang ahli tafsir terkemuka) merupakan pendapat yang benar! Itulah yang dimaksud dari beberapa ayat tersebut. Untuk menegaskan batilnya keyakinan kaum Yahudi yang mengaku telah membunuh Nabi Isa. Demikian pula untuk menegaskan batilnya keyakinan kaum Nasrani bodoh yang menerima anggapan kaum Yahudi begitu saja. Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwa pembunuhan Nabi Isa tidak pernah terjadi! Hanya saja, ada seseorang yang dibuat mirip dengan Nabi Isa. Orang itulah yang dibunuh, dan mereka tidak menyadarinya. Lantas setelah itu, Allah mengangkat Nabi Isa kepada-Nya. Sungguh Nabi Isa masih ada dan hidup. Menjelang bangkitnya kiamat, Nabi Isa عليه السلام akan turun ke bumi sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits yang mutawatir (derajat hadits yang paling shahih karena diriwayatkan oleh orang yang sangat banyak, sehingga mustahil untuk salah, baik disengaja ataupun tidak)." Apakah masih ada ragu yang tersisa di hati? Lihatlah pula ijma' dan kesepakatan para ulama' dalam hal ini! Al Qadhi Abu Muhammad menyatakan, "Umat telah berijma' sesuai dengan yang terkandung dalam hadits yang mutawatir, bahwa Nabi Isa masih hidup di langit dan bahwa ia akan turun di akhir zaman."[Tafsir Al Muharrar 3/143]. BARANGKALI MASIH ADA YANG TERSISA? Begitulah akibatnya jika memahami agama Islam dengan akal dan pendapat sendiri. Bingung, bimbang, dan menganggap ajaran agama sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Padahal andai saja ia mau mengembalikan masalah-masalah agama kepada ahlinya, pasti tidak ada sedikit pun yang membingungkan. Bukankah Allah telah memerintahkan kita untuk berpulang kepada ulama untuk memahami agama?Salah siapa jika muncul kebingungan karena bertanya tentang agama kepada orang yang tidak mengenal agama itu sendiri secara baik? Sejumlah kalangan mengingkari keberadaan Nabi Isa عليه السلام yang hingga saat ini masih tetap hidup di atas langit. Tidak masuk akal, kata sebagian mereka. Masya Allah! Apakah kebenaran ilahi mesti ditimbang dengan akal manusia yang sangat terbatas? Ini berita dari Allah dan rasul-Nya! Bukankah salah satu ciri seorang mukmin adalah beriman, tunduk, yakin, percaya, dan menerima sepenuh hati terhadap hal-hal yang bersifat gaib? Ada lagi yang sok ilmiah dengan memenggal satu dua kalimat dari firman Allah untuk mendukung pemahaman dangkal tersebut. Apakah hanya karena keliru memahami satu dua kalimat Al Qur'an, lalu kita mesti menolak ayat -ayat dan hadits-hadits yang secara gamblang menyatakan Nabi Isa عليه السلام masih hidup di atas langit? Hendak ke mana ia akan membawa agama ini? Alah سبحانه وتعالى berfirman di dalam Al Qur'an: إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا "(Ingatlah), ketika Allah berfirman, "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir.” [Q.S. Ali Imran: 55]. Sebagian kalangan memahami makna dari firman Allah (مُتَوَفِّيكَ) adalah mewafatkan Nabi Isa. Lihat, kata mereka, Allah sendiri menyatakan bahwa Nabi Isa telah diwafatkannya? la memahami kalimat 'wafat' secara sempit dan dangkal! Kenapa ia tidak merujuk penafsiran para ulama? Kenapa ia menjadikan hal ini sebagai argumen pendapatnya sehingga ia membuang ayat-ayat lain dan hadits-hadits Rasulullah ﷺ yang menjelaskan Nabi Isa masih tetap hidup di atas langit? Untuk menjawab pemahaman yang keliru ini, para ulama telah menerangkan beberapa keterangan. Hanya saja, mayoritas ulama memilih jawaban bahwa yang dimaksud dengan "wafat" adalah tidur. Maksudnya, ketika Nabi Isa diangkat ke langit pada malam itu, beliau dibuat tertidur terlebih dahulu. Apakah mungkin kalimat "wafat" diartikan tidur? Kenapa tidak? Al Qur'an bukan diturunkan dengan bahasa Indonesia sehingga kita boleh memahaminya dengan konteks bahasa Indonesia. Allah سبحانه وتعالى memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur'an. Di dalam bahasa Arab, wafat juga bermakna tidur. Apalagi, makna ini didukung oleh ayat dan hadits Rasulullah ﷺ. Allah سبحانه وتعالى berfirman: وَهُوَ الَّذِي *يَتَوَفَّاكُمْ* بِاللَّيْلِ “Dan Dialah yang mewafatkan (yakni menidurkan) kalian di malam hari.” [Q.S. Al An'am: 60]. Tentunya Anda menghafal benar doa ketika bangun dari tidur? Rasulullah ﷺ mengajarkan [hadits Hudzaifah رضي الله عنه riwayat Al Bukhari 6312], agar kita ketika bangun tidur membaca doa: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita setelah mematikan kita (yakni tidur). Dan hanya kepada-Nyalah kita akan kembali.” Apa pun sikap mereka, biarlah saja kesombongan dan keangkuhan mereka yang menolak kebenaran ini akan berhadapan dengan sebuah kenyataan manis di akhir zaman nanti. Sebuah kenyataan manis yang telah diberitakan oleh Nabi Muhammad ﷺ di dalam hadits Abu Hurairah رضي الله عنه (AI Bukhari 3264 dan Muslim 155) yang artinya, “Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sebentar lagi Ibnu (putra) Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. la memecahkan salib, membunuh babi, dan tidak memungut jizyah (upeti). Dan harta ketika itu melimpah, namun tidak seorang pun menerimanya. Sehingga satu sujud menjadi lebih baik dibanding dunia dan seisinya." والله أعلم. Sumber ||Majalah Qudwah Edisi 11 || https://t.me/Majalah_Qudwah

UMAR BIN ABDUL AZIZ Al-Ustadz Abu Hafiy Abdullah حفظه الله تعالى Seorang pemimpin setelah Al Khulafa Ar Rasyidin yang bijaksana sekaligus ulama yang luas ilmunya. Dialah Umar bin Abdul Aziz. Perjalanan hidup beliau sarat dengan berbagai peristiwa yang mengesankan nan indah. . Para pembac…

Bila Bukan Surga Urusannya, Aku Pasti Mengalah Pernah mendengar nama Sa'ad bin Khaitsamah? Sa'ad dan ayahnya , Khaitsamah , sama-sama gugur dalam pertempuran. Namun berbeda waktu dan tempat. Sa'ad gugur saat perang Badar.Sementara Khaitsamah gugur di medan Uhud , satu tahun kemudian. …

Lelahmu Sesuai Jauhmu Melangkah Ibnul Qayyim dalam kitabnya "Miftah Daris Sa'adah" , mengutip sepotong bait syair karya al Mutanabbi. Siapakah al Mutanabbi? Dalam Siyar A'lam Nubala, Adz Dzahabi menyebut beliau sebagai Sya'iruz Zamaan . sang pujangga sepanjang zaman. Nama b…

Istirahat Itu di Surga Saya tahu engkau lelah. Engkau sebagai orangtua pasti lelah. Membesarkan dan merawat anak bukanlah hal yang mudah. Mendidik dan membimbing anak pasti memerlukan kesabaran. Tiap orangtua terkuras pikirannya karena anak. Jangankan saat sakit, ketika anak sehat pun menjadi bahan pikiran. Jangankan dalam kondisi sedang tidak baik, meskipun lancar dan baik-baik saja, orangtua pasti yang terbayang adalah anak. Saya tahu, engkau sebagai orangtua pasti lelah. Engkau sebagai suami pasti lelah. Berjuang banting tulang peras keringat untuk menafkahi anak istri. Bahkan malam pun menjadi siang supaya keluargamu bahagia. Apalagi bukan hanya keperluan fisik yang mesti engkau penuhi, canda tawa dan adem ayem menjadi tugasmu untuk terwujud. Engkau, wahai suami , pasti lelah! Engkau sebagai istri pasti lelah. Pekerjaan rumah yang menjadi rutinitas tak bisa libur barang sehari. Tidak ada habisnya aktifitas di dalam rumahmu. Satu pekerjaan sudah selesai, artinya telah ditunggu 2,3 bahkan lebih pekerjaan lainnya. Istri , engkau pasti lelah! Engkau sebagai pejuang dakwah pasti lelah. Hampir setiap waktu, ada panggilan untuk berta'awun. Selalu saja ada ajakan ,”Ayo, kita bekerja-sama untuk membangun pondok!” . Waktumu teralokasikan di pendidikan, taklim, daurah, rapat-rapat, kepanitian ini dan itu. Iya, jalan dakwah yang engkau pilih memang membuat lelah. Memang, dunia ini melelahkan dan membuat penat. Capek dan membikin letih. Siapa saja pasti begitu. Orang baik dan orang jahat pun merasakan. Orang kafir ataupun yang beriman mengalami hal yang sama. Orang rajin itu lelah , bukankah orang malas pun lelah dengan kemalasannya? Bagaimana denganmu , kawan? Di pesantren, saya tahu engkau pasti lelah. Rutinitas di pesantren sungguh luar biasa. Namanya belajar pasti memeras energi. Belum lagi menghafal dan menghafal. Mengingat dan terus mengingat pelajaran. Dan itu bertahun-tahun berlangsung. Di pesantren, saya tahu engkau pasti capek. Tugas dan kewajibanmu tidak sedikit. Piket masak, piket kebersihan, piket jaga malam, piket menjamu tamu, kerjabakti, ngecor bangunan dan lain-lain. Sebelum shubuh mesti bangun, ketika malam segera tidur. Luar biasa lelahmu! Kadang , bahkan seringkali kita berpikir , “Kapan istirahatnya?”. Jawablah pada dirimu sendiri. Ajak hatimu berdamai dengan berkata ,”Istirahat itu di surga”. ooo___ooo Ada jenazah lewat. Nabi Muhammad lantas bersabda,  .“ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ ” “ ( Mustariih ) Bisa jadi ia istirahat, ( Mustaraah minhu ) bisa jadi yang lain istirahat darinya” Sahabat bertanya kepada beliau, apa yang dimaksud mustariih dan mustaraah minhu . Nabi Muhammad menjelaskan , “Hamba yang beriman , bisa beristirahat dari lelah dan persoalan dunia menuju rahmat Allah. Adapun hamba yang jahat , manusia, bumi , pohon dan hewan bisa istirahat darinya” (HR Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Qatadah) Hamba yang beriman barulah dapat merasakan istirahat setelah wafat. Ia telah terbebas dari penjara dunia.Ia lepas dari belenggu problematika kehidupan. Sepenuhnya ia dalam rahmat Allah. Selama masih hidup di dunia, mana ada kamus istirahat? Namun, untuk menikmati hakikat istirahat, berjuanglah menjaga keimanan. Supaya sejak nafas terakhir engkau hembuskan , sejak saat itulah engkau bisa menikmati istirahat. Al Waqidi (Futuhus Syam 1/33) menceritakan tahap demi tahap penaklukan wilayah Syam oleh panglima Khalid bin Walid. Di sebuah kesempatan , seorang jenderal perang , yaitu sahabat Dhirar bin al Azwar menyampaikan saran supaya Khalid beristirahat sejenak.Melihat lelahnya Khalid dan tenaga beliau yang dikuras, Dhirar semacam tidak tega. “Panglima , ijinkan saya yang memimpin untuk menyerang musuh sehingga Anda dapat istirahat sejenak”, kata Dhirar. Namun, Khalid menolak. Khalid memang capek. Khalid sangat lelah. Khalid tetap bersemangat untuk maju di medan laga. Namun, Khalid menitipkan pesan untuk kita melalui Dhirar. Apa pesan panglima Khalid kepada Dhirar? يَا ضِرَارُ الَّراحَةُ فيْ الْجَنَّةِ غَدًا "Dhirar, istirahat itu di surga kelak! “ Dalam Thabaqatul Hanabilah (1/293) Abul Husain Muhammad bin Muhammad (wafat 526 H) meriwayatkan tentang seorang tamu dari negeri Khurasan yang berkunjung menemui Imam Ahmad bin Hanbal. “Sengaja aku datang dari Khurasan untuk bertanya kepada Anda ; kapankah seorang hamba bisa merasakan nikmatnya istirahat?” , katanya. Imam Ahmad menjawab : “ عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الَجَّنةِ” “Ketika pertama kali ia menapakkan kaki di surga” Marilah , kawan. Mari kita kurangi beban pikiran. Kita sedikitkan penat. Dengan mengingat bahwa hakikat istirahat itu di surga. Jangan berpikir bahwa di dunia ini kita bisa benar-benar istirahat. Kalau pun dikatakan istirahat, bukankah hanya sesaat? Dengan tidur , dengan bertamasya , dengan menjalani hobi atau dengan apapun cara yang dipilih. Apalagi mengambil jalan sesat untuk mencari istirahat. Dengan minuman keras, dengan narkoba, dengan pergaulan bebas, atau cara-cara salah lainnya. Yakin saja bahwa mereka mustahil menemukan nikmatnya istirahat. Sebab, istirahat itu di surga. Musholla al Ilmu Pusdiklatmu 25 Mei 2021 t.me/anakmudadansalaf

 .ADAB-ADAB ZIARAH 1. Ketika melakukan ziarah, hendaknya diiringi dengan niatan yang baik. Jika yang diziarahi kedua orang tua, maka dengan niat ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى, juga untuk berbakti kepada keduanya. Jika itu saudara kita, maka dengan niat untuk menyambung tali silaturahmi juga. Jika itu bukan siapa-siapa kita maka dengan niat untuk berbuat kebaikan kepada mereka semampu kita. Demikian seterusnya. Itu semua adalah niatan shalih, tidak bertentangan dengan ikhlas. 2. Tidak menziarahinya pada waktu-waktu yang tidak tepat dan tidak layak. Secara khusus, Allah سبحانه وتعالى menjelaskan ada 3 waktu terlarang yang kita tidak layak mengunjungi seseorang di waktu-waktu ini. Tentu dikecualikan kalau untuk suatu yang penting atau mendesak. Tiga waktu itu ialah sebelum fajar, siang hari waktu beristirahat, dan setelah shalat isya. Tiga waktu inilah yang Allah سبحانه وتعالى sebutkan di dalam Surat An Nur ayat yang ke 58. 3. Berusaha menghubungi saudaranya bahwa ia hendak menziarahinya. Tentu agar diketahui bahwa ziarahnya kali ini tidak akan memberatkannya. Dan agar diketahui pula bahwa ia memang dalam keadaan lapang. 4. Jangan lupa untuk mengucapkan salam ketika sampai di rumahnya. Jika sudah tiga kali salam, tidak juga ada balasan, maka segeralah pulang, karena barangkali ia tidak ada di rumah, atau memang sedang tidak ingin diganggu dengan kedatangan kita. Rasulullah ﷺ bersabda: إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ “Jika salah seorang di antara kalian telah meminta izin tiga kali dan tidak juga dijawab, maka pulanglah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) 5. Jika saudaranya menghendaki agar kita pulang, maka kita tidak boleh memaksanya. Allah سبحانه وتعالى berfirman yang artinya, وَإِن قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا “Dan jika dikatakan kepada kalian pulanglah, maka pulanglah.” (Q.S. An Nur: 28) 6. Ketika kita mendapati rumahnya kosong, tidak ada orang sama sekali, kita tidak boleh memasuki rumahnya tanpa izin. Allah سبحانه وتعالى berfirman: فَإِن لَّمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَداً فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ “Jika kalian tidak mendapati seorang pun di dalamnya, maka janganlah kalian memasukinya sampai kalian diizinkan memasukinya.” (QS. An Nur: 28) 7. Jika yang kita dapati di rumahnya adalah lawan jenis yang bukan mahram kita, maka kita tidak boleh ber- khalwat (berdua-duaan) dengannya. Lebih baik kita pulang dan mengunjunginya lain waktu. Rasulullah ﷺ bersabda: لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ “Tidaklah seorang laki-laki dan seorang wanita yang berdua-duaan melainkan yang ketiganya adalah setan.” (HR. At Tirmidzi dan An Nasai. Dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no: 430). 8. Alangkah baiknya jika membawakan hadiah-hadiah untuk saudaranya. Tentu ini akan semakin menambah kecintaan mereka berdua. Rasulullah ﷺ menegaskan yang artinya, ‘Saling berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad no: 463) 9. Seyogianya tidak berlama-lama di rumahnya. Karena dikhawatirkan itu akan memberatkannya. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ mengundang para shahabat untuk makan-makan di rumah beliau. Setelah mereka selesai makan, ternyata Rasulullah ﷺ berkehendak agar mereka segera pulang. Akan tetapi beliau malu mengutarakannya. Karena kejadian ini, Allah سبحانه وتعالى pun mengajari kaum muslimin agar tidak lama-lama berbincang di rumah orang yang sedang kita kunjungi, karena dikhawatirkan itu akan memberatkan orang yang sedang dikunjungi. Lihat Surat An Nur ayat yang ke 53. 10. Tidak melakukan hal-hal yang mengurangi harga diri orang yang diziarahi ataupun harga dirinya sendiri. 11. Tidak membawa anak-anak yang terbiasa merusak barang atau perkakas rumah. Karena itu pasti akan memberatkan pemilik rumah. 12. Tidak memberatkan orang yang diziarahi dengan permintaan-permintaan yang memberatkannya. Baik kaitannya mengenai makanan, minuman, atau yang lainnya. 13. Berusaha untuk mengingkari kemungkaran ketika ia mendapati kemungkaran di rumah yang diziarahi. Tentu harus dengan penuh hikmah. 14. Berusaha agar orang yang dikunjungi merasa bahagia dengan kunjungan kita. Jangan sampai ia malah merasa rugi dan berat hati dengan kedatangan kita. 15. Tidak mengungkit-ungkit rahasianya. Dan tidak menyebarkan aib yang ia ketahui darinya dalam kunjungannya itu. Sebaliknya, ia justru berusaha menasihati dan memperbaikinya. 16. Berusaha menjaga pandangannya dan tidak menoleh ke sana ke mari memerhatikan isi rumahnya. Karena selain menghilangkan harga dirinya, terkadang si pemilik rumah tidak menyukainya. 17. Berakhlak mulia dalam berbicara dan menghindari perbuatan-perbuatan dosa yang ditimbulkan dari lisan kita. Baik itu meng- ghibah -i orang lain atau yang lainnya. 18. Tidak membawa seseorang yang tuan rumah tidak suka jika dia memasukinya. 19. Tidak hasad dan iri atas kenikmatan yang ia lihat di rumahnya. 20. Qana’ah dan merasa cukup dengan apa yang telah diberikan tuan rumah kepada kita. 21. dak mencela apa pun yang ia lihat didalamnya. 22. Tidak membahas hal-hal yang tidak disukai tuan rumah. 23. Jangan lupa untuk saling mengingatkan dan saling berwasiat agar selalu berada di atas Al-Haq. 24. Mendoakannya dan bersyukur terhadap semua kebaikan yang telah ia berikan. 25. Tidak membuat bingung tuan rumah dengan gelagat kita yang kurang baik. Baik dalam berucap ataupun bertindak. Inilah beberapa adab ziarah yang bisa kami kumpulkan dari beberapa kitab. Tentunya ada beberapa hal lain yang terlewat. Intinya, kita harus selalu berakhlak mulia dalam menziarahi saudara seiman. Maka kita senantiasa memohon kepada Allah سبحانه وتعالى, agar kita diberi taufik untuk menjalankan segala bentuk kebaikan, dan meninggalkan segala bentuk keburukan. والله أعلم. Sumber : Majalah Qudwah Edisi 11