Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

APAKAH HARUS SUJUD SAHWI SAAT KELIRU MEMBACA DZIKIR DI DALAM SALAT? Pertanyaan Bismillah. Afwan ustadz ijin bertanya, apa diharuskan sujud Sahwi jika di dalam salat terjadi salah baca dan penambahan, misalnya saat sujud harusnya membaca سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى malah diganti سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ. Atau saat duduk tasyahud malah membaca Alfatihah. (Maksudnya setelah dia ingat kemudian langsung mengucapkan zikir yang disyariatkan pada tempatnya.) Mohon penjelasannya ustadz. Jazakumullahu khairan Jawaban al-Ustadz Abu Fudhail 'Abdurrahman Ibnu 'Umar hafizhahullah, Hayyaakallah Dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin menerangkan, . إذا أتى بقول مشروع في غير موضعه، فإنه يُسنُّ له أن يسجد للسَّهو، كما لو قال: «سبحان رَبِّيَ الأَعلى» في الرُّكوع، ثم ذَكَرَ فقال: «سبحان رَبِّي العظيم» فهنا أتى بقول مشروع وهو «سبحان رَبِّيَ الأَعلى»، لكن «سبحان رَبِّي الأعلى» مشروع في السُّجود، فإذا أتى به في الرُّكوع قلنا: إنك أتيت بقول مشروع في غير موضعه، فالسُّجود في حقِّكَ سُنَّة. "Apabila seseorang mengucapkan zikir yang disyariatkan tidak pada tempatnya ketika salat, maka disunahkan baginya untuk sujud sahwi seperti ketika dia mengucapkan, 'Subhaana rabbiyal a'laa,' ketika rukuk. Kemudian dia ingat lalu mengucapkan, 'Subhaana rabbiyal 'Adziim,' Di sini dia mengucapkan zikir yang disyariatkan yaitu subhana rabbiyal a'laa tetapi bacaan ini disyariatkan ketika sujud, apabila dia ucapkan ketika sedang rukuk, maka kita katakan, 'Sesungguhnya engkau telah mengucapkan zikir yang disyariatkan di dalam salat tidak pada tempatnya, maka sujud sahwi padamu dalam kondisi ini adalah sunah.'" (asy-Syarhul Mumti', jilid 3, hlm. 359-360). Wallahua'lam Sumber: Majmu'ah al-Fudhail Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

 .TEBASAN PEDANG ALLAH MENEGAKKAN PANJI TAUHID Al-Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini حفظه الله تعالى Sejak kelslamannya, Khalid bin Al Walid رضي الله عنه menemukan pelepas dahaga di medan laga. Bahkan, beliau menjadi ujung tombak, sebagai panglima perang. Mewujudkan kemenangan dan kemulia…

Ibnu Aqil al Hanbali : Kisah Taubat Inspiratif 8 Muharram 465 H , Ibnu Aqil mengumumkan taubat. Usia beliau waktu itu masih muda, 34 tahun. Masjid yang dikelola oleh Asy Syarif Abu Jakfar, tokoh madzhab Hanbali paling dihormati masa itu, dipilih sebagai lokasi. Khalayak ramai hadir sebagai sak…

 .Ibnu Aqil al Hanbali : Tak Luntur Semangat Thalabul Ilmi Beberapa ahli menyebut “Al Funun” sebagai kitab terbesar sepanjang sejarah. Ada yang mengatakan 200 jilid, 300 jilid, 400 jilid, bahkan ada pula yang mengklaim 800 jilid. Adz Dzahabi (Siyar A'lam 14/330) menyatakan, “ Kitab tersebu…

PENAKLUKAN PERSIA ✍🏻 Al-Ustadz Idral Harits Thalib Abrar حفظه الله تعالى Di MASA KHULAFAUR RASYIDIN Futuhat Islamiyah (Kemenangan Islam) akan terus berlanjut. Ketika Rasulullah ﷺ diutus, manusia sudah tersebar di beberapa wilayah di dunia, di Asia, Eropa, dan Afrika. Kekuatan terbesar saat itu dipegang oleh imperium Romawi di barat dan Persia di timur. Akan tetapi, dua kekuatan tersebut tidak berdiri di atas agama yang benar dan lurus. Persia menyembah api dan memeluk agama Majusi sebagai keyakinan mereka. Adapun bangsa Romawi memeluk agama Nashrani, tetapi tidak memelihara dengan benar ajaran yang dibawa oleh Nabi 'Isa عليه السلام. Mereka mengubah-ubah agama itu sesuai menurut selera mereka. Akibat penyimpangan akidah tersebut, dua kekuatan ini tidak mampu membawa peradaban manusia berkembang semakin baik. Berbagai ketidakadilan tersebar dalam kehidupan masyarakat. Perbuatan syirik sebagai kezaliman paling besar adalah hal yang biasa. Bahkan menjadi budaya yang dilestarikan serta dibela mati-matian. Karena itu, tidak mengherankan jika kejahatan lain juga tumbuh dengan suburnya. Di zaman itu pula, ternyata masih ada orang-orang Yahudi tinggal di beberapa wilayah, seperti Syam, Irak, dan Hijaz. Akan tetapi, ajaran Nabi Musa عليه السلام yang ada di kalangan mereka sudah banyak berubah. Berbagai pemikiran filsafat dan khurafat telah menodai kesucian kitab-kitab yang ada di tangan mereka. Sebab itu pula, keadaan tersebut tidak mendukung kemajuan peradaban manusia, apalagi untuk menaikkan martabat mereka sebagai manusia. . Dalam keadaan zaman seperti itulah, Rasulullah ﷺ diutus membawa risalah langit untuk membawa manusia dari kegelapan yang bertumpuk menuju cahaya yang terang benderang. Akhirnya, selama dua puluh tiga tahun beliau berdakwah, terbentuklah prototipe masyarakat maju yang beradab sepanjang masa. Selama kurang dari seperempat abad itu, dengan bimbingan Allah Ta'ala, Rasulullah ﷺ berhasil membentuk manusia-manusia yang membawa pencerahan dan kemajuan di semua bidang. Tidak satu negeri pun yang mereka masuki dan mereka taklukkan, kecuali membuktikan bahwa merekalah sesungguhnya guru dalam bidang kemanusiaan dan urusan dunia lainnya. DI MASA ABU BAKAR ASH SHIDDIQ Sepeninggal Rasulullah ﷺ, pintu-pintu kemenangan terus dibukakan oleh Allah Ta'ala untuk shahabat-shahabatnya. Dimulai dengan penaklukan Bani Hanifah yang murtad, hingga mereka kembali ke pangkuan Islam, menjadi peringatan bagi kabilah-kabilah Arab lainnya di sekitar Madinah untuk tidak mengambil tindakan yang sama. Setelah Islam semakin kuat di Yamamah, keadaan pun aman dan tenang. Kabilah-kabilah Arab semakin yakin dengan kekuatan kaum muslimin. Untuk sementara, Khalifah Abu Bakar yang menggantikan Rasulullah ﷺ memimpin kaum muslimin merasa tenang, karena sudah tidak ada lagi kemungkinan serangan dari orang-orang Arab yang ingin memberontak. Khalifah memandang jauh ke depan. Kembali terngiang-ngiang di telinganya sabda Rasul yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Dahulu, ketika bersama-sama memecah batu, menggali parit dalam peristiwa Khandaq, Rasulullah ﷺ pernah mengatakan bahwa beliau melihat kerajaan Persia, dan kekayaan negeri itu akan jatuh ke tangan kaum muslimin lalu akan digunakan untuk jalan Allah. Khalifah ingin mewujudkannya, dan agaknya telah tiba waktunya. Khalifah segera mengirim surat kepada Panglima Khalid memberi perintah agar membawa pasukan muslimin menuju Irak, dimulai dari Ubullah yang terletak di tepi sungai Tigris. Khalifah mengingatkan agar pasukan muslimin tetap mengajak manusia kembali kepada Allah عزوجل, atau membayar jizyah, atau perang. Khalifah juga mengingatkan agar Khalid tidak memaksa kaum muslimin untuk ikut, dan tidak pula meminta bantuan kepada mereka yang pernah murtad dari Islam walaupun sudah kembali. Begitu mendapat perintah melalui surat itu, Khalid رضي الله عنه segera bersiap meninggalkan bumi Yamamah. Khalifah juga mengirim surat kepada 'Iyadh bin Ghunm yang telah berhasil menaklukkan Daumatil Jandal untuk segera menuju Irak. Kepada kedua panglima ini, Khalifah menegaskan bahwa siapa saja di antara mereka yang lebih dahulu sampai di Irak, dialah yang menjadi pemimpin bagi seluruh pasukan. Dan Khalid bersama pasukannya tiba lebih dahulu di Irak. Di tempat lain, Al Mutsanna Haritsah yang telah menang dalam peperangan di Bahrain meminta izin kepada Khalifah agar ikut menaklukkan Irak. Khalifah mengizinkannya, maka dia pun berangkat dengan kekuatan 8000 orang, menyusul pasukan Khalid bin Al Walid. Setelah bertemu dengan Khalid dan pasukannya, segera Khalid membagi-bagi pasukannya menjadi tiga batalion dan berangkat menempuh jalan yang berbeda. Kelompok pertama, dipimpin oleh Al Mutsanna dengan Zhufar sebagai penunjuk jalan, berangkat dua hari sebelum Khalid bertolak. Kelompok kedua 'Adi bin Hatim dan 'Isham bin 'Amr dengan penunjuk jalan masing-masing Malik bin 'Abbad dan Salim bin Nashr, salah satu dari kedua kelompok ini mendahului yang lain satu hari sebelumnya. Setelah itu, Khalid dan pasukannya mulai bergerak dengan penunjuk jalan Rafi'. Sesampainya di wilayah Persia itu, Khalid memulai gerakan militernya dengan mengirim surat kepada seluruh pembesar kerajaan Persia, termasuk para gubernur di wilayah Irak. Isi surat itu tidak hanya mengajak mereka kepada Islam. Tetapi juga menampilkan sikap kepahlawan barisan muslimin, bahwa yang mereka cari hanya dua, kemenangan atau mati syahid. “Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Khalid Ibnul Walid kepada para pembesar Persia. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk Amma ba'du: Segala puji hanya milik Allah yang telah memporak-porandakan kaki tangan kalian, dan merenggut kerajaan kalian, serta melumpuhkan tipu muslihat kalian. Siapa yang shalat seperti shalat kami, dan menghadap kiblat kami, jadilah ia seorang muslim. la akan mendapatkan hak seperti yang kami dapatkan, dan ia mempunyai kewajiban seperti kewajiban kami. Bila telah sampai kepada kalian surat ini, hendaklah kalian mengirimkan kepadaku jaminan, dan terimalah perlindungan dariku. Kalau tidak, maka demi Allah yang tiada sesembahan yang haq selain Dia, akan kukirimkan kepada kalian satu kaum yang mencintai kematian, seperti kalian yang sangat mencintai hidup...!” Para pembesar yang menerima surat tersebut terheran-heran melihat keberanian dan seruan Khalid. Tetapi bangsa Arab bukanlah bangsa yang masuk dalam perhitungan mereka. Bagi mereka, bangsa Arab adalah bangsa terbelakang, tidak berbudaya, bahkan tidak memiliki kekuatan besar, sehingga tidak perlu diperhitungkan. Hurmuz yang menerima surat itu segera mengirimkannya kepada Syira bin Kisra dan Azdasyir bin Syira. Hurmuz segera mengumpulkan kekuatan dan segera bertolak menuju Kazhimah. Masing-masing sayap pasukan itu dipimpin oleh Qabbadz dan Anusyjan, dari pihak keluarga kerajaan. Hurmuz adalah pembesar yang terkenal bengis tetapi cerdik, dan paling kafir. Kedudukannya cukup tinggi, dan ini diketahui dari mahkota yang dikenakannya. Semakin mahal perhiasan mahkota tersebut, semakin tinggi pula kedudukan pemiliknya. Mahkota Hurmuz ditaksir seharga seratus ribu dinar. والله أعلم. Khalid tiba bersama pasukannya yang berjumlah 2000 orang yang sebelumnya ikut memerangi orang-orang murtad. Kemudian bergabung pula 8000 orang dari kabilah Rabi'ah. Setelah itu Khalid menulis surat kepada tiga orang pembesar yang ada di Irak, yang juga sudah siap berjihad, agar bersatu menyerang Irak. Ketiga pembesar itu adalah Ma'dzur bin 'Adi Al 'Ijli, Sulma bin Al Qayn At Tamimi, dan Harmalah bin Murabthah At Tamimi. Surat itu diterima baik dan ketiga pembesar itu pun menggabungkan pasukan mereka yang jumlahnya dengan pasukan Al Mutsanna adalah 8.000 personil. Akhirnya, kekuatan pasukan muslimin bertambah menjadi 18.000 orang. Mereka berkumpul di Ubulla. Sebagaimana telah diceritakan sebelum memasuki Irak, Khalid sudah menulis surat peringatan kepada Hurmuz pemimpin Persia di perbatasan Ubulla. Setelah mendekati wilayah pertempuran, Khalid memecah pasukannya menjadi tiga dan memerintahkan masing-masing memilih jalannya sendiri-sendiri, tidak dari satu jalan saja. Strategi ini disengaja Khalid untuk menepis adanya blokade-blokade. Akhirnya, di bagian depan, berangkatlah Al Mutsanna, kemudian pasukan kedua adalah pasukan 'Adi bin Hatim Ath Tha'i, dan terakhir adalah pasukan Khalid, dan berjanji bertemu di Hudhair. PASUKAN RANTAI Hurmuz sudah tahu perjalanan pasukan Khalid dan tahu pula bahwa kaum muslimin berjanji untuk bertemu di Hudhair. Maka ia pun mempercepat gerak pasukannya untuk mendahului kaum muslimin tiba di tempat tersebut. Hurmuz menempatkan Qubbadz dan Anusyjan di bagian depan pasukan. Sampailah berita kepada Khalid bahwa orang-orang Persia sudah bersegera menuju Hudhair. Sebab itu, Khalid membawa pasukannya menjauh dari Hudhair menuju Kazhimah, tetapi Hurmuz sudah mendahului pula dan berhenti di tempat yang cukup persediaan airnya. Adapun Khalid berhenti di tempat yang tidak ada persediaan airnya. Khalid berkata kepada shahabat-shahabatnya, “Turunkan beban-beban kalian, kemudian rebut air mereka. Demi Allah, air itu akan mengalir untuk golongan pasukan yang paling sabar dan tentara paling mulia.” Kaum muslimin segera menurunkan beban-beban mereka. Sedangkan kuda-kuda masih berdiri tegak, dan pasukan pejalan kaki mulai mendekati orang-orang kafir. Allah Ta'ala yang Maha Pemurah mulai mengirimkan awan dan menurunkan hujan di bagian belakang barisan kaum muslimin. Akhirnya, kaum muslimin menjadi kuat dengan tersedianya air yang melimpah untuk bekal mereka. Itulah sebagian bukti kebersamaan Allah Ta'ala dengan para wali-Nya yang beriman. Akhirnya, kedua pasukan itu saling berhadapan. Hurmuz panglima Persia dikenal sebagai orang yang jahat dan curang, bahkan menjadi simbol dengan kejahatannya. Hurmuz sudah mendengar ketangguhan Khalid di medan laga. Oleh karena itu, ia berusaha melakukan muslihat untuk mengalahkan Khalid dan kaum muslimin dengan cepat. Beberapa pengawalnya diperintahkan untuk maju bersamanya ke tengah-tengah lapangan antara kaum muslimin dan Persia. Hurmuz mulai berjalan ke depan dan menantang Khalid agar maju bertanding satu lawan dengannya. Khalid menyambut tantangan itu dan turun dari kudanya. Dengan tenang, Khalid berjalan ke tengah gelanggang sambil menghunus pedangnya. Hurmuz juga mulai maju. Tiba-tiba, begitu mendekat, Hurmuz menyerang Khalid. Tetapi dengan enteng Khalid mengelak. Kedua pedang mulai beradu. Beberapa saat keduanya masih tangguh dan saling tebas. Dalam satu kesempatan, Khalid berhasil menelikung Hurmuz. Tetapi, beberapa pengawal Hurmuz segera maju hendak menyergap Khalid ketika beliau lengah. Qa’qa’ bin ‘Amr yang diturunkan dalam pasukan Khalid melihat kecurangan itu segera memacu kudanya bersama beberapa orang berkuda lainnya menyerang pengawal Hurmuz. Melihat keadaan ini kaum muslimin di belakang Qa’qa’ segera menyerbu. Tentara Persia dengan kekuatan dan persenjataan lengkap segera menyambut serangan muslimin. Bunyi gemerincing rantai menggema menyelingi suara takbir dan jerit kematian. Pasukan Persia memang menggunakan rantai. Mereka mengikat kaki-kaki mereka agar tidak lari dari medang perang. Inilah salah satu alasan perang ini dinamakan juga Dzatu Salasil (pasukan rantai). Walaupun jumlah kaum muslimin jauh di bawah tentara Persia, tetapi semangat iman yang ada di hati mereka seakan meruntuhkan gunung. Kekuatan inilah yang sesungguhnya dihadapi oleh tentara penyembah api. Dengan cepat, pertempuran itu diselesaikan oleh kaum muslimin. Puluhan ribu prajurit Persia yang bertahun-tahun terlatih dalam strategi perang yang canggih saat itu bergelimpangan sia-sia. Kenyataan ini pula menambah dendam anak cucu dinasti Sasanid hingga saat ini terhadap kaum muslimin, khususnya bangsa Arab (Quraisy-ed). Akhirnya, kaum muslimin memperoleh ganimah yang berlimpah, dibawa oleh seribu ekor unta. Tetapi, kaum muslimin tidak menyerang para petani yang mereka jumpai di wilayah Persia. Para petani ditawari untuk menerima Islam, kalau mereka menerima, ada kewajiban zakat dari hasil pertanian mereka. Kalau mereka mau, mereka harus menyerahkan jizyah yang jauh lebih kecil daripada yang dirampas raja-raja Persia dari petani-petani tersebut. Seperlima rampasan itu dikirim oleh Khalid kepada Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq. Sedangkan sisanya dibagi-bagi di antara para prajurit muslim.Termasuk yang dikirimkan kepada Khalifah adalah mahkota Hurmuz yang bertakhtakan permata, yang harganya sampai seratus ribu dinar. Akan tetapi, mahkota itu justru dikembalikan Khalifah kepada Khalid sebagai hadiah untuk si Pedang Allah. Berturut-turut, wilayah Irak mulai membuka dan menyerahkan diri kepada Tentara Allah. Bala bantuan yang diinginkan Hurmuz terlambat datang. Bahkan kedatangan mereka pun sia-sia, karena menghadapi orang-orang yang merindukan bertemu dengan Allah sebagaimana orang-orang Persia yang sangat mencintai hidup. Hampir 30.000 orang prajurit Persia mati di tangan kaum muslimin, setelah mereka memasuki wilayah Irak berikutnya, yaitu Madzar. Jatuhnya Madzar semakin menambah kemarahan dan dendam orang-orang Persia. Raja mereka segera mengirim pasukan besar untuk menghentikan laju kaum muslimin. Tetapi, siapa yang dapat menahan tentara Allah❓ Siapa yang dapat mencegah kekuatan iman jika sudah menerjang❓ Dalam pertempuran di wilayah Waljah, kekalahan Persia demikian memalukan. Khalid bertanding dengan seorang tentara Persia yang kekuatannya sebanding dengan seribu prajurit. Tetapi dengan mudah Khalid membunuhnya. والله أعلم. Sumber || Majalah Qudwah Edisi 11 | https://t.me/Majalah_Qudwah

NERAKA TELAH ADA DAN TELAH DITAMPAKKAN Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc حفظه الله تعالى Demikianlah, manusia hanya merencanakan dan berupaya, dan hanya dengan bantuan dan taufik Allah سبحانه وتعالى sajalah apa yang kita cita-citakan terwujud. . Rasulullah ﷺ pernah melihat An-N…

UCAPAN TALAK UNTUK MENAKUT-NAKUTI ISTRI, APA HUKUMNYA? Pertanyaan Ana mau bertanya, apakah ucapan talak dari suami yang tidak dibarengi niat untuk menceraikan, itu terhitung jatuh talak atau tidak? Kata cerai diucapkan hanya untuk menakut-nakuti istri. Jawaban  . Oleh al-Ustadz Abu…

Risalah Untukmu Anak Muda . Calon Pemimpin Ibnu Abdil Barr pernah menjabat sebagai hakim di Lisbon (saat ini Portugal). Lahir tahun 368 H atau 978 M di Cordoba (sekarang Spanyol). Beliau ulama ahli fikih, ahli hadits, ahli sejarah, dan tokoh terkemuka dalam madzhab Maliki. Sejumlah ulama memposisikan beliau sebagai ulama Islam yang tak tertandingi dalam sejarah Andalus. Ibnu Abdil Barr menulis sebuah kitab berjudul “Jami' Bayanil 'Ilmi wa Fadhlihi”. Beliau berbicara tentang definisi ilmu, keutamaan ilmu, pengorbanan dalam proses pencariannya, etika belajar dan mengajar, hingga pernak-pernik dalam pengamalan ilmu. Pantas saja jika kitab tersebut diberi judul seperti tersebut di atas yang bisa diartikan, “Himpunan Keterangan Tentang Ilmu dan Keutamaannya”. Kitab ini sayang dilewatkan untuk dibaca. Menarik untuk dikaji. Referensi penting dalam thalabul ilmi. Karena beliau menyebutkan riwayat hadits Nabi dan atsar dari Salaf. Termasuk tentang anak muda yang harus dan mau tidak mau mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pemimpin. Tulisan ini sendiri bermula dari usaha memotivasi siswa-siswa di sini dengan menyampaikan ; Kalian adalah calon pemimpin. Maka, berpikirlah layaknya pemimpin. Bertindaklah seperti seorang pemimpin. Dan berbicaralah selevel pemimpin. Kemudian saya menyebutkan hadits Rasulullah yang berbunyi : كُلُّكمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Tiap-tiap kalian adalah seorang pemimpin. Dan tiap-tiap kalian akan dituntut tanggungjawab atas kepemimpinannya” (HR Bukhari Muslim dari sahabat Ibnu Umar) Memang benar demikian! Setiap anak muda pasti berangan-angan dapat hidup senang. Hidup bahagia. Ingin punya keluarga idaman; istri dan anak-anak yang ideal. Ingin memiliki usaha atau bisnis yang hasilnya berlimpah. Ingin berteman dalam jejaring dan komunitas yang menggembirakan. Ingin hidup di tengah masyarakat dengan normal. Namun, apakah hal itu akan terwujud? Jika engkau mempersiapkan diri dari sekarang, hal itu bukanlah mustahil. Itu sebuah keniscayaan. Jika tidak mempersiapkan diri dari sekarang... Apakah mampu engkau memimpin keluargamu? Apakah bisa engkau mengelola usahamu? Apakah dapat engkau mengatur karyawan-karyawan mu? Apakah bisa engkau berbaur dan bergaul dengan masyarakat mu? Apakah mampu engkau bersahabat dengan baik? Kawan, semua hal di atas perlu bekal ilmu yang cukup. Masalah-masalah yang akan engkau hadapi sangat rumit. Persoalan hidup itu begitu banyak. Seringkali problematika dunia saling tumpang tindih. Dan itu semua harus engkau selesaikan. Kecuali jika engkau seorang pecundang yang lari dari kenyataan. Sahabat Umar bin Khatab berpesan : “Perdalamlah ilmu agama sebelum kalian (mau tidak mau) menjadi pemimpin “ (Jami' Bayan 1/366) Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib mengingatkan anak-anak dan keponakan-keponakannya : “ Pelajarilah ilmu agama! Sungguh, saat ini kalian masih anak-anak, tetapi esok hari kalian akan menjadi pemimpin” (Jami' Bayan 1/358) Urwah bin Zubair mengingatkan ; Sungguh! Kami dahulu pun anak-anak, namun sekarang menjadi orangtua. Sungguh! Kalian saat ini masih anak-anak, tetapi di masa depan kalian akan menjadi pemimpin. Belajarlah ilmu sehingga kalian akan mampu memimpin ; (Tahdzibul Kamal 16/20) Kawan, di hadapanmu jalan terbentang. Hanya ada dua cabang. Pilihlah, antara menjadi seorang pemimpin ataukah budak. Ingatlah, sebelum memimpin orang lain -termasuk keluargamu kelak- , berlatihlah untuk memimpin dirimu sendiri. Sebelum mengatur orang lain -termasuk karyawan-karyawan mu besok- , aturlah dirimu sendiri terlebih dahulu. Aturlah pola hidupmu. Aturlah pola istirahatmu. Aturlah pola ibadahmu. Aturlah kegiatanmu. Jika tidak, engkau adalah calon budak dunia. Budak orang lain. Yang hanya menunggu diperintah dan disuruh-suruh. Mau? Lendah. Sabtu pagi 19 Juni 2021 t.me/anakmudadansalaf

Surat Buat Kawan di Jepang Beberapa waktu setelah belasan tahun tak bertemu, seorang kawan berkirim pesan untuk saya. Rupanya saat ini kawan itu berada di Jepang untuk sebuah tugas. Namun, bukan itu yang ingin saya ceritakan. . Perihal pertanyaan kawan itu yang hendak saya tulis. Kawan s…

KASIH SAYANG YANG KIAN HILANG ✍🏻 Al-Ustadz Abu Falih Yahya حفظه الله تعالى Di era persaingan ketat dalam segala lini kehidupan ini, ketamakan manusia akan harta menjadi kian dominan. Dalih “carinya saja payah" telah menjadikan sebagian orang hilang kepeduliannya kepada golongan yang membutuh…

 .KISAH 2 PUTRA ADAM Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc حفظه الله تعالى Berita pembunuhan pertama di muka bumi demikian masyhur dan diyakini para mukmin. Dihamparkan di hadapan kita kisah kedengkian seorang anak manusia kepada saudaranya hingga berakhir dengan pertumpahan darah dan p…

Seperti lalat kah? Jiwa yang terhormat tidak pernah puas menggapai cita-cita kecuali setelah meraih puncak tertinggi, terbaik, dan paling terpuji hasilnya. Sementara jiwa rendahan akan selalu berkisar pada hal-hal yang hina. Ia senang di sana bagai seekor lalat yang senang bertengger di atas tumpu…