Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya


Sifat Allah dibagi menjadi dua; “Dzatiyah” dan “Fi’liyah”. Sifat Dzatiyah seperti, “al-Wajh” (Wajah), al-Yadain” (Dua Tangan) dan “al-‘Uluw” (Tinggi). Dan sifat Fi’liyah seperti, “al-Khalq” (Menciptakan), “ar-Rizq” (Memberi rejeki), “al-Istiwa`” (Bersemayam), “al-Kalam” (berbicara), dan sifat yang lainnya. “al-Wujud” (Ada) dan “al-Qidam” (Ada sejak dulu) bukan termasuk sifat Allah, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu. […]


Kita harus memahami hadis tersebut apa adanya, dan beriman kepada sifat Allah. Makna tersebut adalah benar sesuai dengan keagungan Allah, tanpa menyerupakan dengan sifat makhluk-Nya, tidak pula menjelaskan teknisnya. Seperti sifat “al-Makar”, al-Khida’”, dan “al-Kaid” yang terdapat dalam al-Quran. Semua itu adalah sifat Allah yang sesuai dengan Keagungan-Nya sebagaimana dalam firman-Nya, لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ […]


🔊💽 Muhadharah Riyadush Shalihin (Pertemuan Ke-68 & 69) 💺 Al-Ustadz Abdush Shomad Bawazer حفظه الله 📅 Muhadharah Telelink ll Kitab Riyadush Shalihin ll Malaysia ll …


Setiap orang yang masuk surga niscaya dia dapat melihat Allah Azza wa Jalla, karena melihat Allah adalah nikmat yang paling besar bagi penghuni surga. Namun, nikmat melihat Allah Azza wa Jalla yang dirasakan orang-orang Mukmin itu kadarnya berbeda-beda, dan yang paling besar adalah dapat melihat Allah setiap pagi dan petang. Allah Ta’ala berfirman, لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا […]


Imam al-Khaththabi rahimahullahu ta’ala dalam penjelasannya terhadap kitab Sunan Abu Dawud berkata, “Makna hadits, bahwa kesombongan dan kebesaran adalah dua sifat khusus yang hanya dimiliki oleh Allah dan tidak boleh disekutui oleh siapa pun, dan tidak satu makhluk pun dibolehkan memakainya, karena sifat makhluk adalah merendahkan hati dan tunduk. Kedua sifat itu diilustrasikan dengan selendang […]


Lalu ada yang menjawab, “Barangsiapa berkata dengan perkataan ini, bisa jadi dia adalah orang yang sangat bodoh, dan bisa jadi orang gila”. Tidak menutup kemungkinan bahwa dia adalah kaki tangan golongan sesat. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak bisa digambarkan, Dia ada di segala sesuatu dan di setiap tempat, dan kekuasaan-Nya Maha meliputi segala-segalanya. Allah Ta’ala disebutkan […]


Kemunafikan adalah penyakit kalbu yang sangat berbahaya bagi seorang hamba. Hal ini bukan tanpa alasan, karena kemunafikan merupakan salah satu dosa besar yang sangat memprihatinkan. Allah سبحانه وتعالى telah menyebutkan tentang kemunafikan dan para pelakunya dalam sekian banyak ayat Al-Quran. Di awal surat Al-Baqarah, Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bagaimana para pelaku kemunafikan dengan berbagai karakter […]


Allah Subhanahu berada di atas langit-Nya, tinggi di atas seluruh makhluk-Nya, dan bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Hal itu telah dijelaskan dalam al-Quran, as-Sunnah, dan ijmak para ulama. Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa Allah berada di setiap tempat, maka dia kafir, karena dia mendustakan Allah, Rasulullah, dan ijmak kaum Muslimin. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa […]


Mengucapkan bahwa Allah berada di dalam hati orang-orang yang beriman sebaiknya dihindari, karena perkataan tersebut dapat bermakna inkarnasi. Sebagai gantinya adalah mengucapkan bahwa orang-orang beriman mencintai Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ “Dan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165) Allah juga berfirman, فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ […]


Firman Allah Ta’ala, يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa.” (QS. Al-Qalam: 42) maksudnya: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyingkap betis-Nya pada hari kiamat dengan makna yang layak dengan keagungan-Nya, sebagaimana dikatakan dalam hadis-hadis sahih, dan dilihat oleh orang-orang […]


Lafal al-Qadim tidak termasuk ke dalam kategori nama-nama Allah Tabaraka wa Ta’ala, dan al-Awwal sudah mewakili (tidak lagi memerlukan) nama al-Qadim. Akan tetapi boleh memakaikan al-Qadim kepada Allah Ta’ala dari sisi sifat dan keterangan, bukan dari sisi nama, sebagaimana hal itu dinyatakan oleh para ulama. Wallahu A’lam. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi […]


Hadis ini sebagaimana Anda sebutkan diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Sahihnya, tidak ada alasan untuk mencela atau melemahkannya. Hadis itu merupakan salah satu dari hadis-hadis yang menyebutkan sifat-sifat (Allah) yang harus diimani, dan dipahami sebagaimana aslinya dengan pemahaman yang layak bagi Allah Subhanahu tanpa menyerupakan sifat-sifat-Nya dengan sifat makhluk berdasarkan firman (Allah) Ta’ala, لَيْسَ كَمِثْلِهِ […]