Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

FUNGSI PETIR MENURUT SYARIAT Petir itu menurut syariat fungsinya apa? Melempar setan? Dijawab oleh al-Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad as-Sarbini al-Makassari Yang berfungsi untuk melempar setan adalah bintang yang dijatuhkan oleh Allah Subhan…

Pertanyaan: Bismillah. Apakah majelis tafsir al-Qur’an (MTA) termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah? Dijawab oleh al-Ustadz Rijal: MTA bukanlah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ahlussunnah wal jama’ah adalah orang yang mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. …

FAEDAH BELAJAR TENTANG GOLONGAN-GOLONGAN SESAT. asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin Pertanyaan: Apa faedahnya belajar tentang golongan-golongan (sesat) semisal Mu'tazilah, Jahmiyyah, Khawarij padahal di zaman sekarang ini mereka sudah …

KAPAN SESEORANG MENGETAHUI BAHWASANYA IA BERADA DIATAS SUNNAH? Dan dikatakan kepada Sahl Bin 'Abdillah -rahimahullah-: "Kapan seseorang mengetahui bahwasanya dirinya berada di atas sunnah? Beliau rahimahullah menjawab: " Apabila ia mengetahui sepuluh pera…

BERTEMAN DENGAN ORANG BAIK MERUPAKAN NIKMAT ALLAH Berkata Syaikh Abdurrahmam bin Nashir as Sa'dy rahimahullah "Diantara sebesar-besar nikmat yang Allah berikan kepada hamba mukmin adalah dengan memudahkannya untuk bergaul dengan orang-orang yang baik. Demikian pula diantara hukuman yang Allah berikan kepada hamba adalah dengan memberikan ujian berupa teman-teman yang jelek. Bergaul dengan orang-orang baik bisa mengantarkan seorang hamba kepada tempat yang sangat tinggi. Sementara bergaul dengan orang yang jelek bisa mengantarkannya ke tempat yang paling bawah. Bergaul dengan orang baik akan memudahkannya mendapat ilmu yang bermanfaat, perangai yang mulia dan amal yang shalih. Sementara bergaul dengan orang yang jelek akan menghalanginya dari mendapatkan perkara-perkara tersebut. Allah ta'ala berfirman : ﴿ وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا * يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا * لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا ﴾ "Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang dzalim menggigit dua jarinya, seraya berkata, "Wahai sekiranya dahulu aku berjalan bersama Rasul. Sungguh celaka diriku! Andai dahulu aku tidak menjadikan fulan sebagai teman akrab. Sungguh dia telah menyesatkan diriku dari peringatan, setelah (peringatan itu) datang. Dan sungguh setan itu suka mengkhianati manusia." [QS. Al Furqan 27-29]. Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu 'Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami'il Akhbar, hal 189. Alih Bahasa : 'Abdurrahman bin Harun Al Bakasy MAJMU'AH - S O F T O H . Publikasi: WA Salafy Solo www.salafymedia.com www.happyislam.com 10 Muharram 1437 H | 23 Oktober 2015

MEMINTA ILMU YANG BERMANFAAT, REZEKI YANG BAIK, DAN AMAL YANG DITERIMA اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَ رِزْقًا طَيِّبًا وَ عَمَلاً مُتَقَبَّلاً "Ya Allaah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfa'at, rezeki yang baik, dan amalan yang d…

ORANG YANG MENINGGAL DALAM KEADAAN IHRAM 433-وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ فِي الَّذِي سَقَطَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَاتَ: ( اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ …

MENGARAHKAN PANDANGAN KE LANGIT KETIKA KELUAR DARI RUMAH (SUNNAH YANG BANYAK ORANG LALAI DARINYA) عن أم سلمة قالت: ما خرج النبي صلى الله عليه و سلم من بيتي قط إلا رفع طرفه الى السماء، فقال: «اللهم إني أعوذبك أنْ أضل أو أضل أو أزل أو أزل أو أظلم أو أظلم أو أجهل أو يجهل علي."&n…

RITUAL BERBAHAYA KAUM SYI'AH PADA HARI ASYURA Orang-orang syi’ah menjadikan bulan Muharram sebagai hari-hari berkabung. Pada setiap tanggal 10 Muharram, orang-orang syi’ah di Iran mengadakan pawai akbar untuk memperingati hari terbunuhnya cucu Rasulullah .Shallallahu ‘alaihi wa…

APAKAH PARA SAHABAT NABI PERNAH MAKAN MAKANAN YANG DIHIDANGKAN DI ATAS MEJA? Makan dengan makanan yang dihamparkan pada nampan atau di atas lantai tidak dengan meja makan adalah perbuatan yang dilakukan para Sahabat Nabi. Namun bukan berarti para Sahabat Nabi tidak pernah makan di atas meja makan sama sekali. Sahabat Nabi Anas bin Malik radhiyallahu anhu tidak pernah mengetahui Nabi makan di atas meja makan, namun pernah terjadi –berdasarkan riwayat Sahabat Nabi lain- bahwa . dihidangkan makanan di atas khuwaan (sejenis meja makan dari kayu) dan Nabi tidak mengingkarinya. Berikut ini akan disebutkan hadits Anas bin Malik yang tidak pernah melihat Nabi makan di atas meja makan dan juga hadits bahwa sebagian Sahabat makan yang dihidangkan di atas meja makan dan tidak diingkari oleh Nabi: عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ مَا أَكَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خِوَانٍ وَلَا فِي سُكُرُّجَة Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau berkata: Tidak (pernah) Nabi shollallahu alaihi wasallam makan di atas meja ataupun menggunakan sukurrujah (sejenis bejana kecil)(H.R al-Bukhari) إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ عِنْدَ مَيْمُونَةَ وَعِنْدَهُ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَامْرَأَةٌ أُخْرَى إِذْ قُرِّبَ إِلَيْهِمْ خُوَانٌ عَلَيْهِ لَحْمٌ فَلَمَّا أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَأْكُلَ قَالَتْ لَهُ مَيْمُونَةُ إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ فَكَفَّ يَدَهُ وَقَالَ هَذَا لَحْمٌ لَمْ آكُلْهُ قَطُّ وَقَالَ لَهُمْ كُلُوا فَأَكَلَ مِنْهُ الْفَضْلُ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَالْمَرْأَةُ Sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam ketika berada di sisi Maimunah dan bersama beliau ada al-Fadhl bin Abbas dan Kholid bin al-Walid dan seorang wanita lain, pada saat itu didekatkan pada mereka khuwaan (meja) yang di atasnya terdapat daging. Nabi shollallahu alaihi wasallam sudah akan mengambil makanan tersebut, Maimunah berkata kepada beliau: Sesungguhnya itu adalah daging ad-Dhobb (mirip biawak). Maka Nabi menahan diri (tidak jadi makan). Kemudian beliau bersabda: Ini adalah daging yang aku belum pernah memakannya. Kemudian beliau berkata kepada para Sahabat: Makanlah! Maka makanlah al-Fadhl, Kholid bin al-Waliid, dan seorang wanita (H.R Muslim dari Ibnu Abbas) Makan di atas meja dengan sendok dan garpu juga bukanlah tasyabbuh dengan orang-orang Kafir. Berikut kutipan dan terjemahan fatwa al-Lajnah ad-Daaimah: س : هل صحيح أن الأكل على الطاولة (غرف السفرة) تشبها بالكفار ، وهل استعمال الملعقة أو الشوكة أثناء الأكل من الكبر ، أو من التشبه بالكفار ؟ ج : لا حرج في الأكل على ما ذكر من الطاولة ونحوها ، ولا في الأكل بالشوكة والملعقة ونحوهما ، وليس في ذلك تشبه بالكفارة لأنه ليس مما يختص بهم . وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم Pertanyaan: Apakah benar bahwa makan di atas meja makan (ruang makan) adalah tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir. Apakah menggunakan sendok dan garpu pada saat makan termasuk kesombongan atau tasyabbuh dengan orang-orang kafir? Jawab: Tidak mengapa makan sebagaimana yang disebutkan, di atas meja makan dan semisalnya. Tidak mengapa pula makan dengan garpu dan sendok dan semisalnya. Yang demikian bukanlah tasyabbuh dengan orang-orang kafir karena hal itu bukan kekhususan perbuatan mereka . Wa billahit taufiq wa shollallahu ala nabiyyinaa muhammadin wa aalihi wa shohbihi wa sallam. Al-Lajnah ad-Daaimah lil buhuuts wal iftaa’ Ketua : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz Wakil Ketua: Abdurrozzaq Afiifi Anggota : Abdullah bin Ghudayyan (fatwa no 11292). Intinya, makan dengan makanan yang dihamparkan di atas lantai/ tanah dan makan bersama adalah sesuatu yang sering dilakukan Nabi dan para Sahabat. Sesuatu hal yang utama. Namun, tidaklah dikatakan bahwa makan di atas meja adalah sesuatu hal yang terlarang atau perbuatan yang munkar. Demikian juga makan berjamaah adalah lebih utama, namun makan sendiri-sendiri bukanlah sesuatu hal yang terlarang. ...لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا... …Tidak ada dosa bagi kalian makan bersama-sama atau sendiri-sendiri…(Q.S anNuur ayat 61) Tambahan catatan: Penjelasan makna khuwaan sebagai meja dari kayu bisa dilihat pada ‘Anul Ma’bud syarh Sunan Abi Dawud. Wallaahu A’lam. (Abu Utsman Kharisman) WA al-I'tishom =====*****===== Publikasi: WA Salafy Solo www.salafymedia.com 8 Muharram 1437 H | 21 Oktober 2015

MACAM-MACAM SYAFA'AT FATWA LAJNAH DAIMAH Pertanyaan Keenam dari Fatwa Nomor:9184 Pertanyaan 6: Bagaimana cara Nabi .صلى الله عليه وسلم meminta syafaat kepada Allah untuk umat beliau di hari kiamat kelak? Dan bagaimana juga para sahabat, orang…

HUKUM BEROBAT MENGGUNAKAN ASURANSI KESEHATAN DARI PERUSAHAAN Fatwa Nomor:20693 Pertanyaan: Saya bekerja di sebuah perusahaan. Perusahaan ini telah memiliki kesepakatan dengan beberapa rumah sakit untuk memberikan asuransi kesehatan kepada karyawan. Prosedurnya adalah, perusahaan membayar kepada pihak rumah sakit, misalnya satu juta riyal per tahun. Dalam kontrak tersebut, pihak rumah sakit berkewajiban mengobati karyawan perusahaan untuk berbagai penyakit dan kecelakaan selama satu tahun yang disepakati. Apakah kami boleh berobat ke rumah sakit dengan sistem ini, ataukah hal tersebut termasuk judi? Jawaban: Asuransi komersial, termasuk di dalamnya asuransi kesehatan dan lainnya, adalah haram. Sebab, asuransi itu memakan harta orang lain secara batil dan di dalamnya terdapat ketidakjelasan, penipuan, dan perjudian. Seorang Muslim yang bekerja pada perusahaan yang memberlakukan sistem asuransi kepada karyawannya wajib untuk tidak menggunakannya. Dia harus berobat dengan biaya sendiri dan dengan cara yang halal. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Al-Lajnah ad-Daimah Lilbuhutsil Ilmiyyah wal Ifta' Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Wakil Ketua: Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Anggota: Abdullah bin Ghudayyan | Shalih al-Fawzan | Bakr Abu Zaid http://sh.rewayat2.com/fatawa/Web/21772/006.htm Abu Zulfa WHATSAPP AL-UKHUWWAH الفتوى رقم (20693) س: أعمل في شركة، وقد قامت هذه الشركة باتفاقية مع بعض المستشفيات للتأمين الطبي على موظفي الشركة، وذلك بأن تدفع للمستشفيات مثلا مليون ريال سنويا، على أن تقوم تلك المستشفيات بمعالجة منسوبي الشركة لمدة عام لأمراض وإصابات موضحة في العقد المتفق عليه، فهل يجوز لنا أن نعالج في هذه المستشفيات وفق هذا النظام، أم أن ذلك من المقامرة؟ ج: التأمين التجاري ـ ومنه التأمين الصحي ـ محرم بجميع أنواعه؛ لما فيه من أكل المال بالباطل ولما فيه من الجهالة والغرر والمقامرة، والواجب على المسلم أن لا يدخل فيه ولا يستعمله إذا كان يعمل في شركة تستعمله مع موظفيها، وعليه أن يتعالج على حسابه وفي الحلال غنية عن الحرام. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء عضو ... عضو ... عضو ... نائب الرئيس ... الرئيس بكر أبو زيد ... صالح الفوزان ... عبد الله بن غديان ... عبد العزيز آل الشيخ ... عبد العزيز بن عبد الله بن باز ✆ WA Al Istifadah ※ WALIS ✆ ✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧ الموقع الرسمي للمجموعة: http://walis-net.blogspot.com/p/depan.html