Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Apakah Tidak Adanya Pria yang Maju Meminang Seorang Pemudi adalah Hukuman dari Allah عز وجل? Pertanyaan: Saya dan kakak perempuan saya belum pernah menikah, meskipun teman-teman perempuan kami telah menikah dan memiliki anak. Apakah hal ini terhitung disebabkan oleh kemurkaan Allah kepada…

ENGKAULAH SEBENARNYA YANG MEMBUAT SUAMIMU LARI Abu Bakr Yusuf Al-Uwaisy الْحَمْدُ للهِ الذِيْ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى، وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا مَوَدَةً وَرَحْمَةً لِيَسْكُنَا لِبَعْضِهِمَا الْبَعْضُ وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِ الْخَلْقِ الْقَائِلِ: (خ…

ORANG YANG MELIHAT MUSHAF TANPA MENGGERAKAN BIBIR, APAKAH DIBERI PAHALA? Source : shiasky Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz semoga Allah menjaganya, as-salamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu, amma ba’du: Sebagian orang mengambil mushaf dan menelaahnya …

BERSIKAP HIKMAH MENGHADAPI KECEMBURUAN DIANTARA PARA ISTRI Ketika Abu Mihjan Nashib bin Rabbah rahimahullah mendapatkan harta yang banyak dia hanya memiliki satu istri saja yang kulitnya hitam yaitu Ummu Mihjan, maka dia pun menikah lagi dengan seorang wanita yang berkulit putih. Mengetahui …

RASUL BARU TERSEBUT Al MASIH AL MAW'UD MENYINGKAP KESESATAN AL-QIYADAH AL-ISLAMIYAH* ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Faruq Ayip Syafrudin hafidzahullah Sebuah ‘agama’ baru telah lahir di Indonesia. Nabinya orang Indonesia, kitabnya juga berbahasa Indonesia. Yang bikin bingung, namanya berbau Islam namun ajarannya Kristen. Sebuah upaya pemurtadan? Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah sebuah gerakan yang memiliki pemahaman bahwa kini telah ada orang yang diutus sebagai rasul Allah. Orang yang dimaksud, menurut kelompok ini, adalah Al-Masih Al-Maw’ud. Dia dilantik menjadi rasul Allah pada 23 Juli 2006 di Gunung Bunder (Bogor, Jawa Barat). Itu terjadi setelah sebelumnya Al-Masih Al-Maw’ud bertahannuts dan pada malam ketigapuluh tujuh, tiga hari menjelang hari keempatpuluh bertahannuts, dirinya bermimpi dilantik dan diangkat menjadi rasul Allah disaksikan para sahabatnya. Katanya, “Aku Al-Masih Al-Maw’ud menjadi syahid Allah bagi kalian, orang-orang yang mengimaniku… Selanjutnya bagi kaum mukmin yang mengimaniku agar menjadi syahid tentang kerasulanku kepada seluruh umat manusia di bumi Allah ini, seperti halnya murid-murid Yesus, tatkalah Yesus berbicara kepada murid-muridnya maka murid-muridnya itu segera melaksanakan perintahnya.” (Ruhul Qudus yang turun kepada Al-Masih Al-Maw’ud, edisi I, Februari 2007, oleh Michael Muhdats, hal. 178) Selain itu, kelompok ini memiliki pemahaman tidak ada ketentuan untuk menunaikan shalat wajib lima waktu. Orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka dinyatakan sebagai orang-orang musyrik. Mereka menolak hadits-hadits shahih yang berasal dari Nabi Shallallaahu 'alaihi Wasallam dan mencukupkan diri hanya pada Al-Qur`an. Itupun dengan penafsiran (pada ayat-ayat Al-Qur`an tersebut) berdasar ra`yu (akal) mereka, terutama akal Al-Masih Al-Maw’ud. Tanpa kaidah-kaidah penafsiran yang baku sebagaimana dipahami para ulama dari kalangan salafush shalih. Mereka memiliki lafadz syahadatain tidak seperti yang diikrarkan dan diyakini kaum muslimin. Lafadznya berbunyi: “Aku bersaksi bahwa tiada yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa anda Al-Masih Al-Maw’ud adalah utusan Allah.” (idem, hal. 191) Bila seseorang melakukan ibadah tanpa mengikuti rasul setelah Muhammad, yaitu Al-Masih Al-Maw’ud, maka tidak akan diterima ibadahnya. (idem, hal. 175) Bagi mereka, Islam yang sekarang ini sudah tidak sempurna. Mereka berkeyakinan bahwa ajaran yang dibawa Moses, Yesus, dan Ahmad adalah sama karena memiliki sumber ajaran yang sama pula (dari Allah). Bahkan kata mereka, di dalam ajaran Islam ada konsep trinitas sebagaimana dalam ajaran Kristen. Mereka tidak segan-segan untuk menyatakan: “Sebetulnya ajaran Yesus sama dengan ajaran Islam.” Para anggota kelompoknya pun diberi atribut nama yang berbau Kristen, seperti asal namanya Muhammad, lalu ditambahi dengan nama Kristen menjadi Muhammad Joseph. Fatwa mui al qiyadah-al-islamiyah / GAFATAR from Happy Islam Dalam sejarah perkembangan Islam, adanya orang yang mengaku dirinya sebagai utusan Allah atau nabi, tidak satu atau dua kali saja. Tidak pula terjadi pada masa kini saja. Semenjak para sahabat Nabi  .masih hidup, orang yang mengaku sebagai nabi juga ada. Sebut misalnya, Al-Aswad Al-‘Ansi di Yaman dan Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah. Sudah sepantasnya bila Ibnu Katsir dalam Tasfir-nya menegaskan bahwa siapapun yang mengaku sebagai seorang nabi yang diutus Allah kepada umat ini, layak baginya untuk disebut pendusta. Kata Ibnu Katsir, “Allah tabaraka wa ta’ala sungguh telah mengabarkan dalam Kitab-Nya dan Rasul-Nya dalam As-Sunnah Al-Mutawatirah tentangnya, (bahwa) ‘Sesungguhnya tidak ada nabi setelah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam’. Sungguh kalian telah mengetahui pula, bahwa setiap yang mengaku berkedudukan (sebagai nabi) ini setelah Muhammad, maka dia itu pendusta, pembohong, dajjal, sesat menyesatkan.” (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, Ibnu Katsir, 3/599) Saat memberi tafsir terhadap ayat: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40) Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari rahimahullah mengungkapkan bahwa khatamun nabiyyin (penutup para nabi) adalah yang menutup nubuwah (kenabian). Maka telah ditentukan tabiat atas kenabian bahwa tidak dibuka bagi seorang pun (menjadi seorang nabi, pen.) setelah kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam hingga hari kiamat. (Tafsir Ath-Thabari, 19/121) Sedangkan menurut Ibnul ‘Arabi dalam Ahkamul Qur`an (3/473) dan Al-Imam Asy-Syaukani rahimahumullah dalam Fathul Qadir (4/376), bahwa khatamun nabiyyin adalah akhir mereka (para nabi, pen.). Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t, saat menjelaskan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t tentang i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kebangkitan setelah kematian dan qadar-Nya yang baik dan yang buruk, menyatakan bahwa akhir mereka (para rasul, pen) adalah Muhammad n, berdasarkan firman Allah : “Dan akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40) tidak dikatakan ‘wa khatama al-mursalin’ (penutup para rasul, pen.) karena sesungguhnya apabila (disebutkan, pen.) ‘khatama an-nubuwah’ (penutup kenabian) tentu ‘khatama ar-risalah’ (penutup kerasulan) lebih utama. Jika dipermasalahkan, bagaimana dengan Isa q yang akan turun di akhir zaman, bukankah dia seorang rasul? Maka jawabnya, Isa q tidak akan turun membawa syariat baru. Dia akan berhukum dengan syariat Nabi n. (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, hal. 42-43) Juga disebutkan oleh Ibnu Katsir bahwa firman Allah : “Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40) dan firman-Nya: “Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (Al-An’am: 124) Ini merupakan ayat yang menjadi nash bahwa sesungguhnya tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad n. Jika tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad n, maka tidak ada lagi rasul setelah beliau n merupakan sesuatu hal yang lebih utama dan pantas. Sebab, kedudukan kerasulan (ar-risalah) lebih khusus daripada kedudukan kenabian (an-nubuwwah). Maka setiap rasul adalah nabi, namun tidak setiap nabi adalah rasul. Diriwayatkan dari Al-Imam Ahmad dari Ubai bin Ka’b z, dari Nabi n, beliau bersabda: مَثَلِي فِي النَّبِيِّيْنَ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَحْسَنَهَا وَأَكْمَلَهَا وَتَرَكَ فِيْهَا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ لَمْ يَضَعْهَا فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِالْبُنْيَانِ وَيَعْجِوُنَ مِنْهُ وَيَقُولُونَ: لَوْ تَمَّ مَوْضِعَ هَذِهِ اللَّبِنَةِ! فَأَنَا فِي النَّبِيِّيْنَ مَوْضِعُ تِلْكَ اللَّبِنَةِ “Perumpamaan aku di kalangan para nabi seperti seorang yang membangun rumah. Maka dia membaguskan dan menyempurnakan semaksimal mungkin. (Namun) ternyata ada satu batu bata yang tertinggal, belum terpasang pada bangunan tersebut. Maka orang-orang pun mengelilingi bangunan tersebut dan merasakan keheranan melihat hal itu. Mereka berucap, ‘Andai satu batu bata itu terpasang, sempurnalah (bangunan itu).’ Maka akulah, di kalangan para nabi, yang menjadi sebuah batu bata yang dipasangkan tersebut.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani) [Lihat Mukhtashar Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim Al-Musamma ‘Umdatut Tafsir ‘an Al-Hafizh Ibnu Katsir, Ahmad Muhammad Syakir t, hal. 55) Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala telah memilih Muhammad n dengan nubuwah-Nya, bahkan secara khusus dengan risalah-Nya. Maka Allah l menurunkan Al-Qur`an kepadanya dan memerintahkannya agar menjelaskan isi Al-Qur`an itu kepada segenap manusia. Allah berfirman: “…Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44) Karena itu, untuk memahami Al-Qur`an sangat diperlukan sekali Sunnah Rasulullah n. Melalui beliau n, pesan-pesan Al-Qur`an bisa ditangkap secara tepat arah dan maksudnya. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albanimemberikan ilustrasi contoh yang cemerlang sekali tentang betapa urgennya kedudukan As-Sunnah dalam memahami ayat-ayat Al-Qur`an. Beliau memberikan contoh sebagai berikut: Firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Ma`idah: 38) Maka, terkait perihal pencuri masih bersifat mutlak. Demikian halnya dengan kata tangan. Dalam hal ini, As-Sunnah al-qauliyyah (berupa ucapan) menjelaskan tentang ketentuan (kaidah) nilai barang yang dicuri sehingga menjadikan pelakunya dipotong tangan. Berdasarkan As-Sunnah, pencurian senilai seperempat dinar atau lebih terkena hukum potong tangan, berdasarkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: لَا قَطْعَ إِلاَّ فِي رُبُعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا “Tidak ada pemotongan (tangan) kecuali (atas kasus pencurian) seperempat dinar atau lebih.” (Muttafaqun alalih) As-Sunnah menjelaskan pula melalui perbuatan Nabi n dan para sahabat serta melalui taqrir (persetujuan) beliau n, bahwa pemotongan tangan seorang pencuri adalah pada pergelangan tangan. Demikian pula firman Allah : “Maka basuhlah mukamu dan tanganmu.” (Al-Ma`idah: 6) Yang dimaksud tangan di sini adalah telapak tangan, sebagaimana sabda Nabi : التَّيَمُّمُ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ “Tayammum itu sekali tepukan ke wajah dan dua telapak tangan.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan selainnya dari hadits ‘Ammar bin Yasir c) Contoh lain adalah firman Allah l: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82) Pada saat itu, para sahabat Nabi n memahami ayat tersebut dengan kedzaliman yang bersifat umum, yang meliputi semua jenis kedzaliman, meski hanya kecil saja. Akibatnya mereka mempertanyakan ayat ini kepada Rasulullah n. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kami yang tidak mencampuradukkan imannya dengan kedzaliman?” Nabi n pun menjawab, “Bukan seperti itu. Sesungguhnya yang dimaksud ayat itu adalah syirik. Tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman: “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13) [HR. Al-Bukhari dan Muslim serta selainnya] Dari apa yang telah dijelaskan di depan, maka betapa teramat sangat pentingnya As-Sunnah dalam syariat Islam. Dengan memerhatikan contoh-contoh di muka, dan banyak lagi contoh perkara yang tidak bisa disebutkan di sini, sampailah pada keyakinan bahwa tidak ada jalan ke pemahaman Al-Qur`an yang benar-benar shahih kecuali dengan menyertakan As-Sunnah. (Manzilatu As-Sunnah fil Islam wa Bayanu Annahu La Yustaghna ‘anha bil Qur`an, Muhammad Nashiruddin Al-Albani t, hal. 7-9) Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam mukadimah Tafsir-nya menyatakan tentang kaidah menafsirkan Al-Qur`an. Kata beliau: Menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an. Metodologi ini merupakan yang paling shahih (valid). Menafsirkan Al-Qur`an dengan As-Sunnah. Karena As-Sunnah merupakan pensyarah dan menjelaskan Al-Qur`an. Menafsirkan Al-Qur`an dengan perkataan para sahabat. Menurut Ibnu Katsir t, bila tidak didapati tafsir dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, kami merujuk kepada pernyataan para sahabat. Karena mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi. Bila tidak didapati cara menafsirkan dengan ketiga metode di atas, maka menafsirkan Al-Qur`an dengan pemahaman yang dimiliki para tabi’in (murid-murid para sahabat). Sufyan Ats-Tsauri t berkata, “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, maka jadikanlah sebagai pegangan.” Mujahid t adalah seorang tabi’in. Fenomena memberikan interpretasi terhadap ayat-ayat Allah tanpa mengindahkan kaidah-kaidah yang berlaku sebagaimana dipahami salafush shalih, kini nampak mulai marak. Ini sebagaimana diungkap Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t: “Didapati pada sebagian penafsir dan penulis dewasa ini yang membolehkan makan daging binatang buas atau memakai emas dan sutera (bagi laki-laki) dengan semata bersandar kepada Al-Qur`an. Bahkan dewasa ini didapati sekelompok orang yang hanya mencukupkan dengan Al-Qur`an saja (Al-Qur`aniyyun). Mereka menafsirkan Al-Qur`an dengan hawa nafsu dan akal mereka, tanpa dibantu dengan As-Sunnah yang shahih.” (Manzilatu As-Sunnah fil Islam, hal. 11) Ibnu ‘Abbas telah memberi peringatan: “Barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur`an dengan ra`yu (akal) nya, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka.” (I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Ibnul Qayyim t, hal. 54) Wallahu a’lam.bit.ly/1Rj8wqt MODUS PENYEBARAN AJARAN AL-QIYADAH AL-ISLAMIYAH ❶ Para da’inya biasanya membawa Al-Qur`an ke mana-mana. Mereka memulai diskusi dengan membahas bencana yang terjadi. Juga membuka ayat-ayat Al-Qur`an tentang adzab dan musibah. ❷ Mereka mendatangi target ke rumah, tempat kos, kampus maupun kontrakan. Kemudian mereka mengajak berdiskusi tentang masalah agama dan Al-Qur`an. Jika target tertarik, maka akan diajak ikut pengajian mereka. ❸ Biasanya mereka menyatakan diri bahwa mereka bukan organisasi, bukan aliran, bukan firqah, dan bukan pula teroris. Mereka hanya Islam. ❹ Jika dengan cara mengajak diskusi agama tidak berhasil, mereka akan mengajak diskusi masalah ilmu dunia, seperti pelajaran sekolah, kuliah, atau seputar teknologi. Wallahu a’lam. Sumber: http://asysyariah.com/rasul-baru-tersebut-al-masih-al-mawud-menyingkap-kesesatan-al-qiyadah-al-islamiyah/ )* Wajah baru Al-Qiyadah Al-Islamiyyah adalah GAFATAR (Gerakan Fajar Nusantara) ••••••• #gafatar #alqiyadah #qiyadah_islamiyyah #fajar_nusantara #ahmad_mushaddeq ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF] www.alfawaaid.net

BAHAYA RIYA' Image by : Indiawilds Berkata Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullahu : Ar Riya' adalah seseorang beramal sebuah amal sholeh dengan tujuan agar dilihat oleh manusia, dan agar manusia memujinya. Dan riya' akan menghapuskan amal, mendatangkan hukuman. Riya' tempatnya dalam hati. Dan Nabi shalallahu 'alaihi wassalam juga menyebutnya dengan "Asy Syirkul Khofiy" (Syirik yang tersembunyi). Termasuk ciri-cirinya: Seseorang akan bersemangat untuk melakakukan sebuah amalan ketika manusia melihatnya, namun apabila manusia tidak melihatnya maka diapun meninggalkan, tidak beramal. Maka bagi seseorang yang dia diuji dengan riya', hendaknya dia takut kepada Allah, dan dia ingat bahwa Allah senantiasa mengetahui apa yang ada dalam hatinya, dan hendaknya dia mengingat kerasnya hukuman Allah bagi orang yang berbuat riya'. Dan amalannya hanya akan membuahkan rasa letih tanpa ada manfaatnya. Dan bahwasannya manusia yang dia beramal karena mengharap pujian mereka, justru akan mencela dirinya, akan murka kepadanya dan tidaklah mereka akan dapat memberinya manfaat kepadanya sedikitpun." Sumber : Al Muntaqo min fatawa Al Fauzan Forum Salafy Purbalingga JOIN dengan kami di chanel telegram: http://bit.ly/ForumSalafyPurbalingga **** Disebarkan Oleh Happy Islam | Arsip Fawaid Salafy Join Channel Telegram telegram.me/happyislamcom

Arab Saudi Dihujat Karena Hukum Mati 1 Syiah, Iran Disanjung Walau Gantung Ribuan Sunni Hukuman mati yang dilakukan pemerintah Arab Saudi terhadap tokoh Syiah Nimr al-Nimr pada Sabtu, (02/01), memancing aksi kecaman dan hujatan dari komunitas Syiah seluruh dunia yang dimotori Iran. Keme…

 .SAUDI ARABIA NEGERI PERCONTOHAN DALAM PENEGAKAN TAUHID DAN SUNNAH From Wikipedia asy-Syaikh al-'Allamah 'Abdul 'Aziz bin Baz rahimahullah, "Maka jadilah negeri ini sebagai negeri percontohan/teladan dalam penegakan tauhidullah dan ikhlas untuk-Nya, serta jauh dari…

MENCOBA UNTUK MENYAYANGI Al-'Allamah Ibnu Al-'Utsaimin rahimahullah: Cobalah untuk menghapus kebencian dari hatimu karena sejatinya dia saudaramu muslimin, dan apabila engkau telah merubah itu maka ini lebih mendekati kepada kedamaian muslimin. Karena menasehati orang yang engkau b…

ADAKAH MAHRAM SEMENTARA? Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, Ada seorang wanita tinggal bersama saudara perempuannya yang telah menikah, dan ia tidak berhijab dari iparnya. Bila ditegur karena perbuatannya itu, ia menjawab bahwa iparnya adalah mahram seme…

Tercelanya Berlomba-Lomba/ Bersaing dalam Urusan Dunia Berkata Al Hasan Al Bashri rahimahullah : Wahai anak Adam, apabila engkau lihat manusia dalam kebaikan maka unggulilah mereka (dalam hal tersebut). Namun apabila engkau lihat mereka dalam kebinasaan maka hindarkan dirimu dari mereka, karena mereka tidak memilih kebaikan untuk diri mereka. Sungguh kami melihat beberapa kaum yang mereka lebih mengedepankan dunia mereka atas akhirat mereka, maka mereka hina, binasa dan terbongkar keburukan mereka. Beliau juga berkata : Barangsiapa yang mengajak engkau berlomba dalam urusan dien-mu maka berlombalah engkau bersamanya. Namun barangsiapa yang mengunggulimu dalam urusan duniamu, maka campakkanlah (dunia itu) di lehernya. Beliau juga berkata: Apabila engkau melihat manusia mengunggulimu dalam urusan dunia, maka unggulilah mereka dalam urusan akhirat. ❝ Karena dunia itu akan lenyap, sedangkan akhirat tetap kekal. ❞ 📖 Mawa'izh Al Imam Al Hasan Al Bashri jilid 1. ——————————— ميـــــدان المنــــافسة..... قال الحسن : يا ابن آدم، إذا رأيت الناس في خير فنافسهم، وإذا رأيتهم في هلكة فذرهم وما اختاروا لأنفسهم. قد رأينا أقواماً آثروا عاجلتهم على عاقبتهم فذلوا وهلكوا وافتضحوا. وقال: من نافسك في دينك فنافسه، ومن نافسك في دنياك فألقها في نحره. وقال: إذا رأيت الناس يتنافسون في الدنيا، فنافسهم في الآخرة، فإنها تذهب دنياهم، وتبقى الآخرة مواعظ الإمام الحسن البصري(الجزء الأول) ------------------- 💐 © ムη_ηί₭ααん. 💻 http://bit.do/An_Nikaah 🔻🔻🔻🔻🔻🔻 💡Ashhaabus Sunnah 🔛 JOIN http://bit.ly/ashhabussunnah 💻 www.ittibaus-sunnah.net

Al Qur'an Membakar Kaum Jin (Kafir) Al Imam Al Muhaddits Muqbil bin Hadi Al Wadi'iy -rahimahullah- Soal : Apakah bacaan Al Qur'an kepada seseorang yang kesurupan akan membakar Jin tersebut? Jawaban : Orang yang selalu melakukan kegiatan ini (praktisi ruqyah) dan yang mempercayai mereka, mengatakan bahwa : "Sesungguhnya dengan banyaknya bacaan Al Qur'an kepada orang yang kesurupan kemungkinan Jinnya dapat terbakar dengan ayat-ayat khusus." Dan yang lain dari mereka juga mengatakan : "Ambillah sedikit minyak dan air," -kemudian mereka menyebutkan bahan-bahan lainnya yang saya telah melupakannya- "dan apabila kondisinya membandel, maka kita letakkan (ramuan tersebut) pada suatu tempat, lalu kita jadikan orang yang kesurupan atau terkena gangguan jin tersebut terbolak-balik di dalamnya. Maka dalam waktu singkat jin tersebut akan mati. Saudara-saudara kita yang telah terbiasa mempraktekkan ini (ruqyah), maka biasanya dia merasakan hal ini. Padahal bisa jadi jin yang berada di dalam orang yang sakit tersebut telah mempermainkan mereka. Bisa jadi dia (jin) menampakkan bahwa dirinya kesakitan padahal sebenarnya dia tidak kesakitan. Atau mungkin pula dia menampakkan bahwa dirinya telah keluar akan tetapi dia belum keluar. Sehingga yang paling penting, bahwa syaithan-syaithan diutus untuk mengganggu anak keturunan Adam, 💽 Dari Kaset : Asilah Syabab Abu Zhabi (Pertanyaan-pertanyaan Para Pemuda Dubai) ▪️▫️▪️▫️ ___________________ 🔹القرآن يحرق الجن 🔹 || لفضيلة الشيخ المحدث مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله || 👈 السؤال: هل قراءة القرآن على المصروع يحرق الجن ؟ 👇 الإجابة: الذين يزاولون هذا العمل ونثق بهم يقولون : إنه بكثرة القراءة عليهم ربما يُحرق بآيات مخصوصة . وآخر أيضاً يقول : يأخذ شيئاً من الزيت والماء وذكر أشياء قد نسيتها وإذا استعصى عليه وضعناها في شيئ ثم جعلنا المصروع أو المتلبس به الجن يتقلب فيه وفي أسرع وقت يموت الجني . فالإخوة الذين يزاولون هذا يشعرون بهذا ، على أنه ربما لعب عليهم الجني الذي في المريض ، وربما يظهر أنه يتضرر وهو لا يتضرر ، وربما يظهر أنه خرج وهو لم يخرج . فالمهم الشياطين يرسلون على إذاء بني آدم فعلينا أن نتحصن منهم بالأذكار وبقوة الإيمان . ▪️▫️🔻▪️▫️ 📀 من شريط : ( أسئلة شباب أبو ظبي ) . ▫️▪️🔻▫️▪️ 🔊 الفتوى الصوتية : http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3976 ▪️▫️🔻▪️▫️ لتحميل تطبيق فتاوى الإمام الوادعي رحمه الله 👇👇👇👇 http://bit.ly/1YTqv7C ▫️🔻▪️ قناة الإمام الوادعي رحمه الله على التيلجرام http://bit.ly/1NAgjgJ ➖➖➖➖➖➖➖➖➖ • Abu Fawzy Ibnu Abdirrauf ~ Editor : Ibnu abi Humaidi hafizhahumallah • Ashhaabus Sunnah • JOIN http://bit.ly/ashhabussunnah • www.ittibaus-sunnah.net