Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

BAHAYA UJUB DAN MEMBANGGAKAN AMAL Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda: ﻳَﻈْﻬَﺮُ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺠَﺎﻭِﺯَ ﺍﻟْﺒِﺤَﺎﺭَ، ﻭَﺣَﺘَّﻰ تُخَاﺽَ ﺑِﺎﻟْﺨَﻴْﻞِ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺃَﻗْﻮَﺍﻡٌ ﻳَﻘْﺮَأُوﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺮَأُو ﻗَﺎﻟُﻮﺍ: ﻗَﺪْ ﻗَﺮَﺃْﻧَﺎ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ، ﻓَﻤَﻦْ ﺃَﻗْﺮَﺃُ ﻣِﻨَّﺎ؟ ﻣَﻦْ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﻣِﻨَّﺎ؟ "Agama ini akan meraih kemenangan hingga menyeberangi lautan dan sampai lautan itu diselami dengan kuda di jalan Allah, kemudian akan datang beberapa kaum yang suka membaca al-Qur'an, lalu ketika mereka telah membacanya maka mereka mengatakan, "Kami telah membaca al-Qur'an, maka siapakah yang lebih hebat bacaannya dibandingkan dengan kami, siapakah yang lebih berilmu dibandingkan dengan kami?" Lalu beliau menoleh ke arah para shahabatnya kemudian bersabda: ﻫَﻞْ ﺗَﺮَﻭْﻥَ ﻓِﻲ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ؟ "Apakah kalian menilai ada sedikit saja kebaikan pada orang-orang itu?" Para shahabat menjawab, "Tidak." Maka beliau bersabda: ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ، ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻣِﻦْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻷﻣَّﺔِ، ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢْ ﻭَﻗُﻮﺩُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭ . "Mereka itu berasal dari kalian, mereka itu berasal dari umat ini, dan mereka itu adalah bahan bakar neraka." Silsilah ash-Shahihah, no. 3230 Sumber || http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=159379  . WhatsApp Salafy Indonesia Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy 💎💎💎💎💎💎💎💎💎 KUATNYA YAKIN DAN BENARNYA TAWAKKAL berkata Ibnu Uyainah rahimahullah: "Hisyam masuk ke dalam ka'bah, ternyata ada Salim bin Abdillah lalu ia berkata: mintalah hajat kepadaku, ia menjawab: sungguh aku malu kepada Allah aku meminta kepada selain-Nya di dalam rumah-Nya, maka tatkala keduanya keluar ia berkata (Hisyam): sekarang maka mintalah hajat kepadaku, maka salim menjawabnya: apakah dari kebutuhan-kebutuhan dunia ataukah kebutuhan-kebutuhan akhirat? maka ia menjawab: dari kebutuhan-kebutuhan dunia, ia menjawab: demi Allah aku tidaklah meminta dunia kepada Dzat yang memilikinya, maka bagaimana mungkin aku meminta kepada orang yang tidak memilikinya?! [siyar a'alamin nubala, oleh Adz dzahabi (4/466)] قوَّة اليقين وصدق التوكُّل قال ابن عيينة ـ رحمه الله ـ: دخل هشامٌ الكعبة، فإذا بسالم بن عبد الله فقال: «سَلْنِي حاجةً» قال: «إنِّي أستحي مِن الله أن أسأل في بيته غيرَه»، فلمَّا خرجا قال: «الآن فسَلْني حاجةً» فقال له سالمٌ: «مِن حوائج الدنيا أم مِن حوائج الآخرة؟» فقال: «مِن حوائج الدنيا»، قال: «واللهِ ما سألتُ الدنيا مَن يملكها، فكيف أسأل مَن لا يملكها». [«سير أعلام النبلاء» للذهبي (٤/ ٤٦٦)] sumber : http://tlgrm.me/salafykolaka SEORANG MU'MIN TAKUT AMALNYA TERTOLAK DAN DOSANYA TIDAK DIAMPUNI Abdullah bin 'Aun rahimahullah berkata: لا تثق بكثرة العمل، فإنك لا تدري أيقبل منك أم لا، ولا تأمن ذنوبك، فإنك لا تدري أكفرت عنك أم لا، إن عملك مغيب عنك كله . "Janganlah percaya diri dengan banyak amal, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui apakah amalmu diterima atau tidak, dan jangan merasa aman dari dosa-dosamu, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui apakah dosa-dosamu itu dihapus atau tidak, jadi sesungguhnya amalmu semuanya tidak diketahui hasilnya." Sumber || https://twitter.com/channel_moh/status/790553384067670016 WhatsApp Salafy Indonesia Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy 💎💎💎💎💎💎💎💎💎 KUNCI TAWADHU' Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: فمن عرف الله وعرف نفسه، لم يرَ نفسه إلا بعين النقصان . "Siapa yang mengenal Allah dan mengetahui dirinya, maka dia tidak akan melihat dirinya kecuali dengan pandangan kekurangan." Madarijus Salikin, jilid 2 hlm. 293 Sumber || https://twitter.com/durrsalafi/status/790540649649111040 WhatsApp Salafy Indonesia Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy 💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Kisah Yang Menakjubkan Tentang Ikhlash Gambar dari Pixabay Ibnul Mubarak rahimahullah menceritakan kisahnya: “Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Al-Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya. Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa, “Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu wahai Yang pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.” Dia terus mengatakan, “Berilah mereka hujan sekarang.” Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya. Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?” Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.” Dia bertanya, “Apa maksudnya?” Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan. Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru. Lalu dia pun berkata, “Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!” Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.” Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan, “Marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?” Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.” Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?” Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar. Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.” Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.” Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata. Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?” Saya jawab, “Ya.” Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.” Saya tanya, “Memangnya kenapa?” Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.” Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?” Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq = sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.” Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.” Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!” Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh. Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!” Saya jawab, “Labbaik.” Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.” Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?” Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.” Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.” Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain?!” Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.” Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.” Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul doanya.” Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.” Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?” Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.” Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.” Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan. Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan. Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Aba Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?” Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?” Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.” Saya bertanya, “Ke mana?” Dia menjawab, “Ke akherat.” Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!” Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.” Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!” Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.” (Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy, 8/223-225) Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=140725 Diterjemahkan oleh: Abu Almass bin Jaman Al-Ausathy 17 Rabi’ul Awwal 1435 H Sumber : ibnutaimiyah.org ---------------------------------------- Publikasi:🌈@LilHuda  . 🔻🔻🔻🔻🔻 📮JOIN 📲http://bit.ly/1OsbDFp _______________ #kisah


Asy Syaikh Abu Abdillah Abdurrahman bin Naashir bin Abdullah bin Nashir As Sa’di dari Bani Tamim. Syaikh As Sa’di dilahirkan di kota Unaizah, daerah Qosim (sekarang di Kerajaan Saudi Arabia) pada tanggal 12 Muharram 1307 H atau bertepatan pada hari Ahad, 8 Sep 1889 M. Ibu beliau wafat ketika beliau berusia 4 tahun yang kemudian […]


?? (Audio) Kajian Rutin Selasa Pagi ? KITAB JAAMI’UL ‘ULUM WAL HIKAM FII SYARH KHOMSIINA HADIITSAN MIN JAWAAMI’IL KALIM (Penulis al-Imam al-Hafizh ‘Abdurrahman bin Rajab rahimahullah) ? Disampaikan oleh: al-Ustadz Muhammad Assewed hafizhohulloh ? Selasa, 24 Muharram 1438 H / 25 Okt 2016 M ll Komplek Ma’had Dhiyaussunnah Cirebon ⏯? HADITS 15 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ […]

HUKUM MAKAN DI MASJID Dari Abdullah bin Harits az-Zubaidi radhiallahu ‘anhu, ia berkata: كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ الْخُبْزَ وَاللَّحْمَ ثم نصلي ولا نتوضأ “Dahulu di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kami makan roti dan daging di masjid kemudian kami shalat tanpa mengulangi wudhu.” (1)

Kumpulan Faedah Ringkas - Edisi 011 Alhamdulillah kita lanjutkan kembali rubrik "Kumpulan Faedah Ringkas" yang sempat vakum. Semoga bisa istiqomah mengamalkan dan mengarsipkan fawaid lainnya. Hati-hati Jangan Suka Menyendiri ! Berkata Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri Hafizhahullah Ta'…

TERUSLAH BERDO’A … JANGAN PERNAH PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, لا تقنط من رحمة الله ادع الله ولو تأخرت الإجابة” “Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah. (terus) berdo’alah kepada Allah walaupun pengabulannya tertunda.”

 .GORESAN TINTA ISTRI TERUNTUK SUAMI _Wahai suamiku...._ _Aku begitu bersyukur sudah menikah denganmu sehingga aku bisa menjaga ifah dan menundukkan pandanganku_ _Janganlah engkau bosan menegurku bila ada perkara yang tidak sesuai dengan tuntutan syariat_ _Bimbinglah aku j…

KEUTAMAAN MEMUDAHKAN ORANG YANG BERHUTANG Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا، فَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُ “Dahulu ada seorang pedagang yang memberikan hutang kepada manusia. Apabila ia mendapati mereka kesusahan (melunasinya), maka ia katakan kepada pembantunya,

MERAIH SERIBU KEBAIKAN DALAM SEHARI Dari Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ، كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟» فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: «يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ […]

DIA TIDAK PERNAH TERTAWA LAGI SEJAK NERAKA DICIPTAKAN Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepada Malaikat Jibril, ما لي لم أر ميكائيل ضاحكا قط؟ قال: ما ضحك ميكائيل منذ خلقت النار “. “Mengapa aku tidak pernah melihat Mikail tertawa?”