Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

HUKUM ORANG YANG SEDANG SHALAT SENDIRIAN KEMUDIAN DATANG JAMA'AH LALU MENDIRIKAN SHALAT BERJAMA'AH Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah PERTANYAAN : "Fadhilatul Walid, saya mendatangi shalat (jama'ah) disini ternyata shalat telah selesai dilaksanakan. Sayapun shalat sendirian. Dite…

Merenungi Kehidupan Setelah Kematian Setiap jiwa pasti akan menemui ajalnya. Tiada setiap jiwa pun yang kekal abadi hidup di dunia. Bila ajal telah tiba tak ada yang bisa menghindar dan lari darinya. Bukan berarti telah berakhir sampai disini. Tetapi telah berpindah ke alam berikutnya, yai…
![[Poster] Silsilah Akhlak dan Adab](https://3.bp.blogspot.com/-HuKIo-ixomI/Vr2L6wBQnDI/AAAAAAAAHeM/aTYGHDo1tZ4/s640/Silsilah-Akhlaq-dan-Adab_1.jpg)
diambil dari galeri.forumsalafy.net

BAHAYA KETENARAN DENGARKAN : KETAWADHUAN PARA SALAF Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz hafizhahullah [Menteri Urusan Agama Kerajaan Arab Saudi] Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: لَوْ تَعْلَمُوْنَ ذُنُوْبِيْ مَا وَطِئَ عَقِبِيْ اثْنَانِ. “Seandainya kalian meng…

MENYANDARKAN FAEDAH KEPADA PEMILIKNYA Sesungguhnya termasuk barakah ilmu atau berkembangnya ilmu adalah dengan engkau menyandarkan keutamaan kepada pemiliknya. إِذَا أَفَـــــادَكَ إِنْسَـــانٌ بِفِائِدَةٍ … مِنَ الْعُلُوْمِ فأَدْمِنْ شُكْرَهُ أَبَـــدًا وَقُلْ فُلَانٌ جَزَاهُ ا…

Tata Cara / Tuntunan Shalat Jumat (oleh :Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc.) Sebelumnya telah dijelaskan bahwa shalat Jum’at adalah fardhu/wajib atas laki-laki yang berakal dan sudah baligh yang bukan musafir, serta tidak ada uzur/halangan yang membolehkannya untuk meninggalkan Jum’atan. …

NASEHAT EMAS IMAM al-WADI RAHIMAHULLAH TA’ALA BAGI SALAFIYIN Soal: Apa nasehat Anda bagi kami, ya Syaikh? Jawaban: Perkara yang saya nasehatkan kepada kalian sebelum segala sesuatu adalah: Takwallah Subhanahu waTa’ala dan Ikhlas untuk meraih wajah Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun setelah itu, saya nasehatkan kepada kalian untuk: Gigih dan bersungguh-sungguh dalam mencari dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat: Menjalin tali persaudaraan di antara kalian, serta Berta’awun di atas kebaikan dan ketakwaan. Saya nasehatkan pula:  . agar kalian berlaku lemah lembut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa’ala alihi wasallam bersabda, “Tidaklah sikap lemah lembut diletakkan pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Dan tidak dicabut dari suatu perkara melainkan semakin mengotorinya.” Beliau juga bersabda, “Berilah kabar gembira, jangan menyebabkan orang lain lari. Mudahkan urusan jangan mempersulit.” Kalian, in syaa Allah, berjalan di atas kelemah-lembutan. Bukanlah suatu persyaratan, semua manusia menerima dakwah kalian. Mungkin satu dua orang yang menerima dakwah kalian pada waktu itu, karena kalian menyeru mereka perkara yang menghalangi manusia dari syahwat yang haram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa’ala alihi wasallam bersabda, “Jannah dikelilingi perkara-perkara yang dibenci. Sementara Neraka dikelilingi perkara-perkara yang menyenangkan hawa nafsu.” Kalian … , dakwah kalian tidak seperti dakwah (kelompok-kelompok) yang lain, dakwah mereka yang membolehkan segala apa yang mereka inginkan semata-mata agar manusia mengikuti mereka. Dakwah kalian tidak dibangun di atas prinsip ini. Dakwah kalian mengajak umat untuk berpegang dengan al-Quran dan as-Sunnah. Dakwah syumuliyah (yang segala aspek kehidupan dengan berpegang al-Quran dan as-Sunnah). “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh.” Umat manusia merasa berat jika kalian ajak mereka untuk berpegang dengan al-Quran dan As-Sunnah. Namun setelah itu, kalian akan mendapati kelegaan dan ketentraman untuk berpegang dengan al-Quran dan as-Sunnah. Ini yang hendak saya sampaikan kepada kalian. Saya memohon kepada Allah agar mengampuni kami, kalian, dan seluruh kaum muslimin. Segala puji kesempurnaan hanya bagi Allah Rabb alam semesta ini. Sumber: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=4158 Alih bahasa: Ustadz Abu Bakar Jombang http://forumsalafy.net/nasehat-emas-imam-al-wadi-rahimahullah-taala-bagi-salafiyin/

Nasehat Untuk Remaja Muslim Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebag…

Bimbingan Ulama di saat Fitnah Melanda Bersama: Fadhilatusy Syaikh Shaleh al-Fauzan Hafizhahullah BAB MENTAATI PEMERINTAH DAN PERINGATAN DARI FITNAH KHAWARIJ Soal 1: Apakah di zaman sekarang masih ada yang membawa pemikiran khawarij? Jawaban: Ya Subhanallah (Maha Suci Allah dari ha…

Khadijah Istri Teladan Sumber : Buletin Al-Ilmu Khadijah bintu Khuwailid, istri Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam yang pertama. Dari beliaulah Nabi mendapatkan anak. Seluruh anak Nabi berasal dari Khadijah kecuali Ibrahim. Beliau adalah wanita pertama yang masuk Islam. Belia…

Fatwa Asy syaikh Muhammad bin Saleh Al utsaimin rahimahullah HUKUM UCAPAN :" SHODAQOLLOOHUL 'ADZIIM " SETELAH SELESAI MEMBACA AL QUR'AN . BAARAKALLAHU FIIKUM ,( penanya) berkata: " Ketika selesai dari membaca surat Al fatihah dan surat setelahnya apakah boleh mengucapkan " shodaqolloohul 'adziim"(Maha Benar Allah Yang maha Agung) ?" JAWAB : " Ucapan shodaqolloohul 'adziim setelah selesai membaca di dalam shalat atau selainnya adalah BID'AH , karena hal itu tidaklah datang dari Nabi shalallaahu 'alaihi wa sallam tidak pula dari para shahabat beliau bahwasanya mereka apabila selesai membaca (Al Qur'an) mengucapkan "shodaqolloohul 'adziim " Dan telah di ketahui bahwasanya ucapan seseorang : "shodaqolloh" merupakan IBADAH , karena dia memuji Allah dengan bersyukur , apabila hal itu merupakan IBADAH maka sesungguhnya TIDAK BOLEH bagi kita untuk mensyariatkan ibadah - ibadah yang tidak di syariatkan oleh Allah dan RasulNya , jika kita mengerjakan hal itu adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat . Berdasarkan hal ini maka orang yang membaca apabila selesai dari bacaannya ia diam dan tidak mengucapkan "shodaqolloohul 'adziim" tidak pula mengucapkan selainnya , karena yang demikian tidak pernah datang (perintah) dari Nabi shallallahu 'alaihi wa salam tidak pula dari para shahabat beliau radhiyallohu 'anhum .Sungguh Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu telah membacakan kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa salam sebuah ayat dari surat An Nisa hingga sampai pada ayat : فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا {Bagaimanakah jika Aku datangkan saksi untuk setiap umat, Aku datangkan kamu sebagai saksi bagi mereka semua.} Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam bersabda :" CUKUP !" Ia berkata : Ternyata kedua mata beliau berlinangan semoga sholawat dan salam atas beliau .Dan Ibnu Mas'ud tidak mengucapkan : Shodaqollooh , dan tidak pula Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam memerintahkan beliau dengan hal itu .Demikian juga Zaid Bin Tsabit pernah membaca di sisi beliau-sholallohu 'alaihi wa sallam surat An Najm hingga selesai dan Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam tidak berkata kepada beliau : " Ucapkanlah shodaqolloohul 'adziim." dan (Zaid bin tsabit) juga tidak mengucapkannya . Maka hal ini menunjukan bahwasanya bukan termasuk petunjuk Nabi sholallohu 'alaihi wa salam dan juga bukan petunjuk para shahabat beliau seseorang ketika selesai membaca mengucapkan : shodaqollohul 'adziim tidak didalam sholat maupun di luar sholat ." Sumber: Silsilah fatawa nur 'alad darb ,kaset no 237 BACA : Sunnah Yang Ditinggalkan Setelah Membaca Al-Quran =========== 🔵 السؤال : بارك الله فيكم تقول : عند الانتهاء من قراءة سورة الفاتحة والسورة التي تليها هل يجوز قول صدق الله العظيم؟ 🔴 الجواب : الشيخ : قول صدق الله العظيم بعد انتهاء التلاوة في الصلاة، أو في غيرها بدعة، وذلك لأنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه أنهم كانوا إذا انتهوا من القراءة، قالوا : صدق الله، ومن المعلوم أن قول القائل : صدق الله عبادة؛ لأنه ثناء على الله بالشكر، وإذا كان عبادة، فإنه لا يجوز أن نشرع من العبادات ما لم يشرعه الله ورسوله، فإن فعلنا ذلك كان بدعة، وكل بدعة ضلالة، وعلى هذا فالقارئ إذا انتهى من قراءته يسكت، ولا يقول: صدق الله العظيم ولا غيرها؛ لأن ذلك لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم، ولا عن أصحابه رضي الله عنهم، وقد قرأ ابن مسعود رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم شيئاً من سورة النساء حتى إذا بلغ قول الله تعالى: ﴿فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيداً﴾. قال النبي صلى الله عليه وسلم: «حسبك». قال: فإذا عيناه تزرفان صلوات الله وسلامه عليه. ولم يقل ابن مسعود: صدق الله، ولا أمره النبي صلى الله عليه وسلم بذلك، وكذلك قرأ عنده زيد بن ثابت سورة النجم حتى ختمها، ولم يقل النبي صلى الله عليه وسلم له، قل: صدق الله العظيم. ولا قالها أيضاً، فدل هذا على أنه ليس من هدي النبي صلى الله عليه وسلم، ولا هدي أصحابه أن يقولوا عند انتهاء القراءة: صدق الله العظيم لا في الصلاة ولا خارج الصلاة. 📚المصدر : سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [237]. ══════ ❁✿❁ ══════ ✏️ https://telegram.me/washayasalaf

JIKA DENGAN MELIHAT SESEORANG TIDAK BISA MEMBERIMU MANFAAT, MAKA UCAPANNYA PUN TIDAK AKAN MEMBERIMU MANFAAT Asy-Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah Kaedah-kaedah semacam ini –wahai hamba-hamba Allah– kita ambil dari Kitabullah dan dari Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, serta dari bimbingan Masayikh Kibar yang mereka mengajari manusia tidak hanya dengan ucapan mereka saja, tetapi mereka mengajari manusia juga dengan akhlak dan kepribadian mereka. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah. Beliau jika para muridnya mengadakan sebuah majelis maka terkadang mereka menghabiskan waktu yang lama untuk saling mengingat keutamaan sifat-sifat beliau. Jadi sebuah majelis saja bisa berakhir tanpa bisa menyelesaikan untuk menyebutkan semua keutamaan beliau. Dan beliau adalah seorang yang terkenal dermawan, pemurah, seorang mujahid, suka memberi, zuhud, juga seorang muhaddits, ahli tafsir, dan seorang ulama yang banyak hafalannya, dan katakan apa yang engkau inginkan tentang beliau. Semoga Allah merahmati beliau. Namun bersamaan dengan semua itu, beliau mengatakan: إِذَا رَأَيْتُ الْفُضَيْلَ بْنَ عِيَاضٍ جُدِّدَ لِيْ الْحُزْنُ وَأَبْغَضْتُ نَفْسِيْ. “Jika aku melihat Al-Fudhail bin Iyadh, maka muncullah kesedihan yang baru dan aku jadi membenci diriku sendiri.” Beliau mengatakan: “Jika aku melihat Al-Fudhail bin Iyadh –maksudnya: jika saya melihat wajahnya– maka muncullah kesedihan yang baru –maksudnya pada diri beliau– dan aku jadi membenci diriku sendiri.” Lalu beliau mengatakan: وَمَنْ لَمْ يَنْفَعْكَ لَحْظُهُ فَلَنْ يَنْفَعَكَ لَفْظُهُ. “Dan barangsiapa yang penampilannya tidak memberimu manfaat, maka ucapannya pun tidak akan memberimu manfaat.” Barangsiapa yang penampilannya tidak memberimu manfaat, maksudnya: jika engkau melihatnya, seharusnya engkau menjadi teringat kepada Allah dan memperbaiki diri. Jadi jika dengan memperhatikan penampilan seseorang tidak bisa memberimu manfaaat, maka ucapannya pun tidak akan memberimu manfaat. Maka kita memohon kepada Allah yang Maha Mulia Keagungan-Nya agar menjadikan ini semua sebagai sesuatu yang benar-benar kita perhatikan dengan serius dan menjadikan kita selalu mengingatnya, juga semoga Allah menyatukan tercerai berainya umat kita, menghilangkan penderitaan mereka, serta menghimpun mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yaa Allah, tuntunlah kami menuju keridhaan-Mu dan hadapkanlah hati kami kepada-Mu. Yaa Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang engkau beri hidayah, masukkan kami ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang Engkau berikan perhatian, bimbingan, dan pertolongan, dan lindungilah kami dan selamatkanlah kami dari keburukan yang Engkau tetapkan… وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ. Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=147847 Alih Bahasa: Abu Almass Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1435 H