Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

⚖ FATWA ULAMA ⚖ SOLUSI JIKA ANDA DIDATANGI PENGEMIS Samahatus Syaikh Bin Bâz rahimahulloh [ Pertanyaan : ] Saya sering kali bingung menyikapi orang-orang yang meminta-minta, apakah saya beri mereka ataukah tidak? [ Jawaban : ] Yang sunah adalah memberi pengemis. Dan yang sunah …


🔈💽 10 Usaha Untuk Mempereratkan Hubungan Suami Isteri (Pertemuan Ke-4) 🎙Disampaikan oleh: Al-Ustadz Abdul Hakam at-Tamimi حفظه الله 📅 Tausiyah ll Ma’had As-Salafy…


🔈💽 Tragedi Yang Menimpa Asy-Syaikh Yassin Al-Adeny rahimahullah 🎙Disampaikan oleh: Al-Ustadz Abdul Hakam at-Tamimi حفظه الله 📅 Ma’had As-Salafy ll Jember ll Ahad …

HUKUM JADWAL LAPORAN AMAL HARIAN Syaikh Shalih bin Fawzan al Fawzan hafizhahullah Pertanyaan: Ada jadwal yang dinamakan jadwal laporan, diletakkan di dalamnya shalat, perintah, dan larangan. Jika seseorang shalat dia letakkan tanda di depan jadwal shalat. Apakah amalan ini disyariatkan? J…


Oleh : ? Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed –hafidzahullah– Mukjizat yang juga besar yang Allah taqdirkan untuk memuliakan Nabi-Nya adalah Isra wal Mi’raj. Allah -Subhanahu wa Ta’al- berfirman : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian […]


Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam banyak memberikan pelajaran berharga bagi umat sesudahnya. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan kisah tersebut di dalam Al-Qur’an juga agar umat Islam bisa mengambil pelajaran tersebut. Berikut ini beberapa pelajaran yang bisa dipetik. Rahmat dan limpahan kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya, ada yang mengetahuinya dan ada pula […]

Hamba Pilihan Allah Berkata Asy-Syaikh al-'Alaamah Sholih al-Fauzan حفظه الله : Ahli Alqur'an, siapakah dia? Ahli Alqur'an bukanlah seseorang yang telah menghafalnya dan bagus bacaannya (saja). Akan tetapi lebih dari itu. Ahli Alqur'an adalah yang mengamalkan kandungan-kandungannya. ☑️ Pe…

'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, Pemuda yang Dicintai Allah dan Rasul-Nya Ali bin Abi Thalib bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdil Manaf Al Qurasyi Al Hasyimi, berkuniah Abul Hasan atau Abu Turab. Ibunya bernama Fatimah binti As’ad bin Hasyim. Dahulu ibunya menamakan beliau dengan Haidarah. Beliau termasuk kalangan anak-anak yang pertama kali masuk Islam. Yaitu di usianya yang masih berumur sekitar 10 sampai 11 tahun. Umur yang masih sangat muda untuk bisa memilih jalan hidayah yang mesti ditempuh. Beliau lahir sepuluh tahun sebelum Rasulullah diutus sebagai rasul. Beliau pun tumbuh dalam asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak umur 6 tahun, dan hampir-hampir tidak pernah berpisah dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pemuda Ali adalah seorang yang memiliki tubuh yang kekar dan lebar. Badan padat berisi dengan postur tubuh yang tidak tinggi. Warna kulit sawo matang, berjenggot tebal, kedua matanya sangat tajam, murah senyum, berwajah tampan, dan memiliki gigi yang bagus. Bila berjalan sangat cepat. Selain fisik yang baik, beliau juga dikaruniai akal dan kejeniusan. Sangat cepat dalam memecahkan permasalahan yang rumit. Sampai Khalifah Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah, untuk mendapatkan masalah pelik, di saat tidak ada Abul Hasan.” Umar selalu meminta pertimbangan beliau. Ditambah keluhuran akhlak yang tertempa dengan banyaknya bergaul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadikan Ali sebagai pemuda yang pilih tanding. Ali bin Abi Thalib mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali perang Tabuk. Ketika itu, Rasulullah memerintahkan beliau untuk tetap berada di Madinah. Walaupun beliau sangat ingin berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidakkah engkau ridha apabila kedudukanmu di sisiku adalah sebagaimana kedudukan Harun terhadap Musa?” Sebuah ucapan indah yang menunjukkan tingginya kedudukan beliau. Beliau ditugasi sebagai pengganti Rasulullah dalam mengurusi keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan maksudnya sebagai wakil pengurusan kota Madinah secara umum. Sebab yang ditunjuk untuk melakukan tugas ini adalah Muhammad bin Maslamah radhiyallahu ‘anhu. Di antara yang menunjukkan keutamaan Ali bin Abi Thalib, dalam peperangan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bendera perang seringnya diserahkan kepada beliau. Hal ini menunjukkan kemampuan, keberanian, dan kedudukan beliau radhiyallahu ‘anhu. Bahkan seringkali Rasulullah menugaskan beliau berduel satu lawan satu dengan musuh sebelum pecah peperangan. Beliau juga seorang yang lihai berkuda, kuat dan pandai dalam taktik peperangan. Disebutkan dalam banyak kitab biografi, bahwa beliau memiliki banyak keutamaan. Di antaranya adalah beliau termasuk muhajirin, mengikuti perang badar, uhud, mengikuti baiatur ridwan, dan beberapa peristiwa penting yang memiliki keutamaan janji bagi yang mengikutinya. Demikian pula beliau adalah salah satu Khulafaur Rasyidun. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Di antara keutamaannya, beliau merupakan salah satu dari sepuluh orang shahabat yang dijamin masuk surga dan paling dekat hubungan nasabnya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menegaskan keutamaan beliau. Dalam satu khutbah beliau, di hari kedelapan belas Dzulhijjah pada haji wada’, di tempat yang bernama Ghadir Khum, beliau bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai walinya, maka sesungguhnya ia telah menjadikan Ali sebagai walinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda kepada Ali yang artinya, “Engkau bagian dariku dan aku adalah bagian darimu.” Ketika perang Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh besok bendera perang ini akan aku berikan kepada seseorang yang ia mencintai Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Bendera itu pun beliau serahkan kepada Ali. Keutamaan beliau ini pun diakui oleh para shahabat. Cukuplah kesaksian Umar, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan beliau meridhainya.” [Al Bukhari]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan beliau dengan Fathimah radhiyallahu ‘anha, tepatnya setelah peristiwa perang Badar. Dari pernikahannya dengan Fatimah ini beliau mendapat putra Al Hasan, Al Husain, Ummu Kultsum Al Kubra, yang dinikahi oleh Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dan Zainab Al Kubra. Setelah meninggalnya Fatimah radhiyallahu ‘anha, beliau menikah dengan beberapa wanita. Anak beliau berjumlah empat belas orang putera dan tujuh belas atau sembilan belas orang puteri. Di antara putra putri beliau ini yang menjadi generasi penerus adalah Al-Hasan, Al-Husain, Muhammad bin al-Hanafiyah, Al-Abbas Al-Kilabiyah, dan Umar bin At-Taghlibiyah. Beliau banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun para shahabat yang menimba ilmu dari beliau di antaranya: Dua anak beliau Al Hasan dan Al Husain, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa, Ibnu Abbas Abu Rafi’, Ibnu Umar, Abu Said Al Khudri, Zaid bin Arqam Abu Umamah, Al Bara` bin Azib, dan masih banyak yang lainnya. Adapun dari kalangan tabiin (generasi setelah shahabat): Thariq bin Syihab, Marwan bin Hakam, Abdurrahman bin Al Harits, dan lainnya. MASA KEKHALIFAHAN Pada masa kekhalifahan beliau inilah timbul perang saudara. Dikarenakan adanya perbedaan pendapat di kalangan para shahabat tentang sikap dan usaha yang ditempuh menghadapi kejahatan pembunuhan Amirul mukminin Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Sehingga terjadilah perang Jamal serta perang Siffin. Masing-masing berijtihad dalam menyikapinya. Apalagi ada dalang pihak ketiga yang berupaya mengadu domba antar kaum muslimin. Allah Maha Tahu sejauh mana fitnah ini terjadi. Kaum muslimin yang datang setelah mereka radhiyallahu ‘anhum telah Allah selamatkan untuk tidak ikut mengangkat pedang memerangi para shahabat. Sekarang, tinggal bagaimana menyelamatkan lisan agar tidak mencela mereka secara umum. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjaga lisan kita hingga kita menghadap kepada-Nya. Beliau memegang kekhalifahan selama empat tahun lebih beberapa bulan. Di waktu subuh tahun 40 H, ketika beliau keluar untuk menunaikan shalat subuh di masjid Kufah, tiba-tiba seorang yang celaka bernama Abdurrahman bin Muljam Al Khariji menusuk beliau dengan pisau tajam dan beracun. Tepat di kening beliau yang senantiasa sujud kepada Allah. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un. Persis sebagaimana yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan yang artinya, “Orang yang paling binasa dari umat terdahulu adalah penyembelih unta (kaum nabi Shalih). Dan manusia yang paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu wahai Ali.” Seraya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk kening Ali yang akan tertikam. Pada malam Ahad, di hari yang kesembilan belas bulan Ramadhan, umat Islam berduka dengan kepergian pemimpin mereka. Semoga Allah menempatkan beliau di surga-Nya yang luas, bersama kekasih beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahul Musta’an. [Hammam]. Referensi: Al Bidayah Wan Nihayah oleh Ibnu Katsir rahimahullah Al Isti’ab fi Ma’rifatil Ashhab oleh Ibnu Abdil Bar rahimahullah Al Ishabah fii Tamyiz Ash Shahabah oleh Ibnu Hajar rahimahullah Sumber: Majalah Tashfiyah, edisi 19 vol.02 1433H-2012M, rubrik Figur | .http://ismailibnuisa.blogspot.co.id/2013/12/ali-bin-abi-thalib-radhiyallahu-anhu.html Foto : Black-steel-helmet-near-black-and-gray-handle-sword | Sumber: Pexels.com

BIOGRAFI RUQQAYAH PUTRI RASULULLAH Judul Asli : PUTRI YANG TABAH LAGI PENYAYANG Jikalau kita memerhatikan kisah kehidupan sosok shahabiyah dalam rubrik niswah kali ini, maka kita akan berdecak kagum. Bagaimana tidak? Sekalipun dalam usianya yang terbilang belia, kehidupannya dilalui penuh dengan ketabahan dan kesabaran. Dia adalah Ruqayyah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri kedua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Dia terlahir beberapa waktu setelah Zainab Al Kubra radhiyallahu ‘anha. Dan setelahnya lahirlah saudarinya Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha dalam waktu yang tidak terpaut lama. Sehingga di bawah bimbingan ayah dan ibundanya, tiga bersaudara ini tumbuh berkembang menjadi gadis-gadis muda belia dengan kecantikan parasnya, kemuliaan nasabnya, kebaikan budi pekerti dan akhlaknya. Tak heran banyak keluarga yang berkehendak menjadikan mereka bagian dari keluarganya. Maka setelah Zainab Al Kubra menikah dengan salah satu putra khalah (bibi) mereka Abul Ash ibn Rabi’, tak lama berseleang Ruqayyah dan Ummu Kultsum dipinang oleh Abdul Uzza Ibn Abdul Muthalib (lebih dikenal dengan sebutan Abu Lahab), untuk kedua anaknya yaitu Utbah dan Utaibah. Dengan maksud mempererat tali kekeluargaan di antara kedua keluarga maka pinangan tersebut diterima, dan dilangsungkanlah pernikahan mereka sebelum diangkatnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi dan rasul. Akan tetapi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat sebagai nabi dan rasul, keadaan menjadi berubah. Pernikahan yang diharapkan dapat menjadi rekatnya hubungan dua keluarga ternyata tak mampu menepis rasa kebencian Abu Lahab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah menyeru kaumnya untuk meninggalkan peribadatan mereka kepada berhala-berhala yang selama ini mereka sembah. Bahkan rasa kebencian yang besar di dada Abu Lahab menjadikannya sebagai salah satu sosok yang sangat besar serangan serta penghinaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak awal mula diangkatnya beliau sebagai nabi dan rasul. Maka bersegeralah Abu Lahab memerintahkan kedua anaknya yaitu Utbah serta Utaibah untuk menceraikan kedua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka keduanya menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Kedua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya kembali ke dalam naungan ayahandanya. Mereka menjanda dalam usia yang masih sangat belia. Takdir Allah adalah yang terbaik. Dengan dikembalikannya mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah menyelamatkan mereka dari kesengsaraan dunia untuk hidup bersama dengan kedua anak Abu Lahab, yang kedua orangtua mereka telah Allah kabarkan dalam Al Quran surat Al Lahab merupakan calon-calon penghuni neraka. Ruqayyah dan Ummu Kultsum dengan sebab perceraiannya bahkan dapat lebih mudah mengimani, meyakini dan mengamalkan agama Islam yang dibawa oleh ayahnya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sepenuh hati. Walau demikian, Allah tidaklah menghendaki bagi hamba-Nya yang beriman dengan keimanan yang baik kecuali kebaikan. Maka Allah beri ganti bagi keduanya seorang suami yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Seorang laki-laki yang beriman kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat sebagai nabi dan rasul. Seorang laki-laki yang sejak sebelum masuk Islam pun tidak pernah minum khamr dan menyembah berhala. Seorang laki-laki dengan kebaikan akhlak dan nasab yang Rasulullah kabarkan sejak dia masih hidup bahwa dia kelak di akhirat termasuk penghuni surga. Dia lah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah menjatuhkan pilihan kepada Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anha untuk menikahi Ruqayyah. Bahkan setelah wafatnya Ruqayyah, Rasulullah kembali menikahkan anak beliau Ummu Kultsum dengan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Itulah sebabnya Utsman bin Affan diberi gelar Dzun Nurain (pemilik dua cahaya), karena tidak ada yang mengumpulkan dua anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selain beliau. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengeluarkan suatu perkataan yang menunjukkan keridhaannya kepada Utsman ibn Affan setelah wafatnya putri beliau Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha dengan perkataan, “Nikahkanlah anak kalian dengan Utsman. Jika aku memiliki putri ketiga (yang tersisa) niscaya aku akan menikahkannya dengan Utsman”. Pernikahan Utsman bin Affan dengan Ruqayyah binti Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlangsung di masa-masa sulit, di saat banyaknya tekanan dan gangguan diberikan oleh para pemuka Quraisy. Tekanan kepada siapa saja yang mengikuti agama yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tekanan demi tekanan senantiasa diberikan orang-orang Quraisy kepada kaum muslimin dimulai pada pertengahan tahun ke empat nubuwwah hingga pertengahan tahun ke lima nubuwwah. Terutama yang menjadi sasaran kemarahan mereka adalah kaum yang lemah dari kalangan muslimin. Kondisi tersebut menyebabkan Mekkah terasa sempit bagi kaum muslimin yang tertindas. Mereka mulai berpikir untuk mencari jalan keluar dari siksaan yang bertubi-tubi. Maka, mulailah satu persatu Allah turunkan ayat-ayat yang menjawab kekhawatiran dan permintaan kaum muslimin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga akhirnya turunlah Al Quran surat Az Zumar : 10, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, قُلْ يَـٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَـٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba yang beriman, bertakwalah kepada Rabb kalian. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dalam kehidupan dunia ini (akan memperoleh) kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Setelah turun ayat tersebut yang mengisyaratkan bahwa bumi Allah luas, tidaklah sempit, sehingga seseorang dapat mencari tempat yang memudahkannya bertakwa kepada Allah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mengarahkan pandangannya kepada suatu daerah bernama Habasyah yang dipimin oleh seorang raja yang terkenal adil dan bijaksana yaitu Ashhamah An Najasy. Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan beberapa orang muslimin yang mampu untuk berhijrah (berpindah tempat) untuk hijrah ke Negeri Habasyah. Maka pada bulan Rajab tahun ke lima nubuwwah berjalanlah sekelompok sahabat yang terdiri dari kurang lebih dua belas orang laki-laki dan empat orang wanita menuju Habasyah. Mereka dipimpin oleh Utsman bin Affan bersama istrinya Ruqayyah radhiyallahu ‘anha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keduanya (yang artinya), “Mereka adalah penduduk Baitul Haram pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth alaihimas salam”. Demikianlah, dengan mengendap-endap kaum muslimin berjalan di waktu malam menuju ke pinggiran pantai hingga tiba di pelabuhan Syaibah. Dan ketika ada kapal yang bertolak menuju Habasyah, mereka menaikinya. Kelompok tersebut sempat dikejar oleh sekelompok orang-orang Quraisy, akan tetapi mereka berhasil menyelematkan diri sampai di negeri Habasyah dan mendapatkan perlindungan dan kehidupan yang cukup baik di sana. Akan tetapi sekalipun demikian, kaum muslimin di negeri Habasyah tidaklah berputus asa mengembangkan harapan mereka untuk bisa kembali ke tanah kelahiran dan berkumpul bersama sanak keluarga. Mereka senantiasa mencari kabar tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya di Mekkah. Pernah terdengar kabar tentang sujudnya kaum musyrikin Quraisy di Mekkah ketika mendengar beberapa ayat dari surat An Najm dibacakan. Maka mereka menyangka bahwa orang-orang Quriasy telah masuk Islam, akan tetapi ternyata kabar tersebut tidak benar. Dan akhirnya, setelah mereka mendengar kabar akan keislaman Hamzah bin Abdul Muthalib serta Umar bin Khathtab radhiyallahu ‘anhuma dan bagaimana dampak keislaman keduanya terhadap kekuatan kaum muslimin di Mekkah, yang semula kaum muslimin menyembunyikan keislamannya dikarenakan kekhawatiran akan tekanan dan siksaan yang akan mereka dapati dengan keislaman tersebut, akan tetapi –dengan izin Allah- setelah keislaman keduanya menjadi lebih berani dan lebih kuat, maka sebagian kaum muslimin di Habasyah bergegas kembali ke Mekkah untuk ikut bergabung bersama saudara-saudaranya yang lain. Ketika itu, Utsman bin Affan bersama Ruqayyah istrinya termasuk orang-orang yang ingin kembali ke Mekkah. Akan tetapi ternyata keadaan yang dijumpai di Mekkah tidaklah seperti yang ada dalam bayangan mereka. Tekanan dan permusuhan yang diberikan orang-orang Quraisy kepada kaum muslimin ternyata bertambah besar sekalipun keberanian kaum muslimin bertambah besar pula. Ruqayyah radhiyallahu ‘anha bersama suaminya pun dihadapkan pada berbagai tekanan tersebut. Terlebih ketika dia kembali, dia dikejutkan oleh berita wafatnya ibunda tercinta. Ruqayyah melalui semuanya dengan hati tabah dan penuh kesabaran. Di usianya yang muda Ruqayyah sudah tertuntut untuk mendampingi suaminya dalam berbagai peristiwa sulit, mengesampingkan berbagai keinginan dan kebutuhan pribadinya sebagaimana layaknya pasangan muda untuk ditukar dengan pengorbanan serta amalan di jalan Allah dalam mencari keridhaan Rabbnya, kemudian keridhaan suaminya… subhanAllah. Setelah peristiwa Baiat Aqabah yang kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa kaum muslimin yang berada di Yatsrib (Madinah) telah siap menerima saudaranya sesama muslim dari Mekkah untuk tinggal dan membangun masyarakat Islam bersama di Madinah. Kesiapan bahkan penantian mereka akan kedatangan saudara-saudaranya sesama muslim untuk datang ke kampung mereka. Bukanlah sekedar karena perasaan belas kasihan, akan tetapi didasari oleh rasa keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka secara bertahap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin yang ada di Mekkah untuk segera hijrah ke Madinah. Termasuk dalam rombongan kaum muslimin yang berhijrah ke Madinah tersebut Ruqayyah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama suaminya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Kehidupan baru bersama suami tercinta dilalui Ruqayyah radhiyallahu ‘anha dengan penuh rasa syukur hingga kemudian Allah berkenan memberikan kepada keduanya seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Abdullah. Serasa tergantikan semua duka dan kesulitan yang sebelumnya mereka lalui, berganti dengan kebahagiaan bersama anak yang datang di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Abdullah meninggal akibat sebuah luka yang dideritanya. Dia wafat dalam usia 6 tahun. Sekali lagi kesabaran Ruqayyah diuji. Kehilangan seorang anak yang dicintai memang bukan perkara yang mudah untuk dijalani, akan tetapi berbekal ketakwaan dan kesabaran dilalui semua peristiwa dalam kehidupannya dengan penuh keridhaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak berapa lama sepeninggal Abdullah, Ruqayyah radhiyallahu ‘anha sendiri kemudian tertimpa penyakit. Sang suami dengan sabar menemani dan mendampinginya hingga ajal menjemputnya. Subhanallah. Tidaklah kita melalui kisah tentang para pendahulu kita yang saleh, kecuali akan kita temui bahwa mereka memang sosok-sosok yang patut untuk dijadikan suri teladan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka semua dan memudahkan kita untuk bisa mencontoh mereka, serta mengumpulkan kita kelak bersama mereka di jannah-Nya yang penuh kenikmatan. Amin. Sumber: Majalah Qudwah edisi 36 vol. 04 1437 H/ 2016 M rubrik Niswah. Pemateri: Ustadzah Ummu Abdillah Shafa. | .http://ismailibnuisa.blogspot.co.id/2016/02/putri-yang-tabah-lagi-penyayang.html Foto : Flower Nature Ladscape | Sumber: Pixabay


🔊💽 Muhadharoh Al-Ushuluts Tsalatsah (Pertemuan Ke-4⃣) 💺 Disampaikan oleh: Al-Ustadz Abdul Hakam at-Tamimi حفظه الله 📅 Muhadharoh Telelink ll Kitab Al-Ushuluts Tsalatsah…

DIANTARA SEBAB MEMBESARNYA API FITNAH (Renungan Seorang Ulama Kibar dan Barokah bersama Pembesar Kalian) Asy-Syaikh Ubaid al-Jabiriy hafizhahullah berkata: ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﻻ ﻋﺪﻭﺍﻥ ﺇﻻ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻈﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ ﺍﻟﺤﻖ ﺍﻟﻤﺒﻴﻦ ﻭﺃﻥ ﻣ…

بسم الله الرحمن الرحيم Subhanallah simaklah kisah berikut ini dengan menghayati nya.. INDAHNYA PERSAUDARAAN YANG DIBANGUN DIATAS MANHAJ SALAF ---------🌻----------- Baca sampai selesai... Abu Bakr Ash-Shiddiq dan Rabi'ah Al aslami Radhiyallahu anhuma... Rabi'ah Al aslami Radhiyal…