Artikel Islami

Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Atsar.id
Atsar.id

"Aku Ingin Menikah, Tapi Aku Masih Miskin..."

Sampai Kapan Men-jomblo?&nbsp. Hidup belum mapan karena tempat tinggal masih di kontrakan, penghasilan pun pas-pasan, jangankan tabungan, kadang rezeki yang datang mesti dialokasikan untuk lunasi hutang. Inilah suatu gambaran lumrah dari sebuah kenyataan seorang bujang. Ingin hati melepas lajang, tapi apa daya anggapan masih serba kurang terus saja menyerang pikiran. Ikhwati rahimakumullah, jika engkau ingin menikah dan kekhawatiran di atas kian menghadang, mari kita dengar firman Allah yang Maha Kaya, 《إِنَّ اللهَ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ》 Artinya: "Sesungguhnya Allah memberi rezeki bagi siapa saja yang Allah kehendaki tanpa hisab (batas).”  (QS. Ali Imran: 37). Ingat, kemapanan bukanlah kemauan utama seorang wanita yang shalihah, akan tetapi keshalihanlah yang terpenting. Lelaki shalih dan jantan adalah lelaki yang mengorientasikan nikahnya untuk ibadah dan menjaga kehormatan, karena dia yakin dengan amalan inilah dia akan ditolong oleh Allah, berdasar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 《ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ: اَلْمُكَـاتَبُ الَّذِي يُرِيْدُ اْلأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَ، وَالْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ.》 Artinya: “Tiga golongan yang sudah semestinya akan ditolong oleh Allah, (1) seorang budak yang mencicil tebusan agar dirinya bisa bebas, (2) seorang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan, dan (3) seorang yang berjihad fi sabilillah.” (HR. Tirmidzy, hadits dihasankan oleh Imam al Albani). Seorang lelaki yang sudah ingin menikah semestinya meletakkan syarat mapan dan cukup itu menjadi nomor yang kesekian, yang terpenting hendaknya dia menjadi lelaki jantan yang mau mencari nafkah dan mau sabar di dalam menjalankan. Syariat ini telah menetapkan bahwa setiap hasil kerja yang di dapat, ketika diberikan kepada istri dan keluarganya dalam keadaan ikhlas karena Allah, niscaya hal itu akan bernilai menjadi sebuah pahala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 《إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ》 Artinya: "Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan sebuah nafkah yang ditujukan karena mengharapkan wajah Allah (ikhlash), melainkan akan diberi ganjaran (pahala) kepadamu, sampai pun makanan yang kamu suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari). Wahai para bujang, tunggu apa lagi? Sampai kapan men-jomblo? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, «: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ» الْحَدِيثَ Artinya: "Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menikah hendaknya ia menikah, karena dengan itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan." (HR. Bukhari dan Muslim). Wa Sedikit Faidah Saja (SFS) Arsip lama terkumpul di catatankajianku.blogspot.com dan di link telegram http://bit.ly/1OMF2xr @SedikitFaidahSaja JANGAN TAKUT MENIKAH KARENA TAKUT GAK MAKAN Asy Syeikh Bin Baaz rohimahullah: (فالمال أمره سهل، إذا يسر الله زواج جاء المال) "Harta itu urusannya tidak sulit. Apabila Allah mudahkan seseorang untuk menikah maka harta akan datang." telegram.me/berbagiilmuagama http://www.binbaz.org.sa/noor/3559 NIKAHKAN ANAKMU WALAUPUN DENGAN MAHAR SATU DIRHAM Asy Syeikh Bin Baaz rohimahullah: (الواجب على الآباء وعلى جميع الأولياء النظر في مصلحة البنات، والعناية بتزويجهن ولو بمهرٍ قليل ولو بدرهمٍ واحد، ولو بدرهمين المقصود عفتها, وسلامتها) Yang wajib bagi para orang tua dan para wali nikah untuk melihat kepada maslahat anak perempuannya. Dan hendaknya dia berusaha menikahkan anak anak mereka walaupun dengan mahar yang sedikit. Walaupun hanya dengan satu dirham atau dua dirham dalam rangka menjaga kehormatan mereka dan keselamatan mereka. telegram.me/berbagiilmuagama http://www.binbaz.org.sa/noor/3559 Baca :  NIKAH MUDA SIAPA TAKUT RENUNGAN BAGI ORANG-ORANG YANG TAKUT MISKIN Berkata syaikh Abdul Qodir Al Junaid حفظه اللّٰه : Jika kalian memiliki rasa takut maka janganlah takut dari kefaqiran, dan jika kalian berada dalam kecemasan maka janganlah cemas dari kefaqiran, dan janganlah kalian takut dan khawatir kecuali dari dunia yang akan dibentangkan terhadap kalian maka kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya dan semangat terhadapnya sehingga kalian binasa dengan sebab itu. Al Imam Al Bukhory dan Al Imam Muslim meriwayatkan hadits dalam Shohih keduanya dari Nabi صلى اللّٰه عليه وسلم beliau bersabda kepada para sahabatnya : (( فأبشروا وأملوا ما يسركم، فوالله لا الفقر أخشى عليكم، ولكن أخشى عليكم أن تبسط عليكم الدنيا كما بسطت على من كان قبلكم، فتنافسوها كما تنافسوها، وتهلككم كما أهلكتهم )). "Maka bergembiralah dan mengharaplah apa yang membuat kalian senang, demi Allah bukanlah kefaqiran yang aku takutkan atas kalian namun aku mengkhawatirkan atas kalian dibentangkannya dunia atas kalian sebagaimana dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian maka kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya sehingga akan membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan orang-orang sebelum kalian". Dan ketahuilah bahwa kalian tidaklah lebih dicintai Allah daripada RosulNya صلى اللّٰه عليه وسلم dan kalian tidaklah lebih mulia dan lebih utama serta lebih besar kedudukannya di sisiNya daripada RosulNya, namun beliau dicabut rohnya yang mulia dalam keadaan beliau hidup dengan penghidupan yang sedikit. Al Imam Muslim meriwayatkan dalam ShohihNya dari 'Aisyah رضي اللّٰه عنها ia berkata : (( لقد مات رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم وما شبع من خبز وزيت في يوم واحد مرتين )). "Sungguh Rosulullah صلى اللّٰه عليه وسلم meninggal dunia dalam keadaan beliau tidaklah kenyang dari roti dan minyak dalam sehari dua kali". Dan telah tsabit dari 'Urwah Bin Zubair bahwa ia mendengar 'Aisyah رضي اللّٰه عنها berkata : (( كان يمر بنا هلال وهلال وما يوقد في بيت من بيوت رسول صلى اللّٰه عليه وسلم نار، قلت : يا خالة فعلى أي شيء كنتم تعيشون ؟ قلت : على الأسودين التمر والماء )). رواه الإمام أحمد وغيره. "Dua bulan melewati kami dalam keadaan tidak dinyalakan api di rumah Rosulullah صلى اللّٰه عليه وسلم, maka aku bertanya : Wahai bibiku, dengan apa kalian hidup ? beliau (Aisyah) menjawab : dengan memakan kurma dan air". Kemudian bahaya apakah yang akan dihadapi seseorang dan kesedihan apakah yang akan menimpanya ? seandainya ia hidup diantara manusia di dunia ini dalam keadaan faqir namun di sisi Allah di akhirat nanti ia mulia, bahagia, senang dan mendapatkan kenikmatan serta kemuliaan. Tidakkah membuatnya senang apa yang disabdakan oleh Nabi صلى اللّٰه عليه وسلم : (( قمت على باب الجنة، فكان عامة من دخلها المساكين، وأصحاب الجد -أي : الغنى والوجاهة- محبوسون )). رواه الإمامان البخاري ومسلم في صحيحيهما. "Aku berdiri di pintu Jannah (Surga) ternyata keumuman orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin, adapun orang-orang kaya dan berkedudukan maka mereka tertahan". Tidakkah apa yang disabdakan oleh Nabi صلى اللّٰه عليه وسلم berikut ini membuat hatinya tenang, dan memutus ketamakan jiwanya serta menghentikan pandangannya terhadap apa yang ada di tangan-tangan manusia yaitu sabda Nabi صلى اللّٰه عليه وسلم : (( يدخل الفقراء الجنة قبل الأغنياء بخمس مائة عام )). "Orang-orang faqir masuk ke dalam Jannah (Surga) 5000 tahun sebelum orang-orang kaya". Sumber : Khutbah yang berjudul "Ilal Kho-ifina Minal Faqr" yang ditulis oleh syaikh  Abdul Qodir Al Junaid حفظه اللّٰه. http://telegram.me/aljounaid77 💎💎 خطبة مكتوبة بعنوان: "إلى الخائفين من الفقر". 📝 كتبها وألقاها: عبد القادر بن محمد بن عبد الرحمن الجنيد. 📌 الرابط: http://www.alakhdr.com/?p=449 telegram.me/dinulqoyyim http://www.ilmusyari.com/2016/11/renungan-bagi-orang-orang-yang-takut.html Foto : Rose Flower  | Sumber: Pixabay

akhirat
Jan 24, 20187 min read
Biografi Imam At Tirmidzi rahimahullah
Atsar.id
Atsar.id

Biografi Imam At Tirmidzi rahimahullah

Imam At-Tirmidzi Begitu harum namanya disebut dalam untaian hikmah. Bertaut dengan Sang Musthafa, Khairul Anam shallallahu ‘alaihi wa sallam . Nabi Mulia, yang tidak berkata dari nafsunya. Melainkan dari wahyu yang turun kepadanya. Imam At-Tirmidzi, salah satu tanda kebenaran firman-Nya. Bahwa agama ini niscaya terjaga, dengan perantara ulama pengusung bendera sunnah. Hingga kelak kiamat tiba. Nama asli At Tirmidzi adalah Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa As Sulami Al Bughi At Tirmidzi Adh Dharir . Inilah silsilah nasab beliau yang disebutkan dalam kebanyakan riwayat. Di sana ada pula riwayat lain yang sedikit berbeda dalam penyebutan kakek dan di atasnya dari moyang-moyang beliau. KELAHIRAN IMAM AT TIRMIDZI Lahir pada tahun 209. Tidak diketahui dengan pasti tempat kelahiran beliau. Apakah di kota Tirmidz atau desa Bugh. Yang pasti, Tirmidz adalah sebuah kota kuno. Letaknya di muara sungai Balchia yang juga disebut sungai Jeihun, tepatnya sebelah selatan sungai itu. Jarak antara Tirmidz dan desa Bugh sekitar 6 farsakh (kurang lebih 33 Km). Ada juga tambahan keterangan dalam sebagian kisah bahwa beliau lahir dalam kondisi buta. Wallahu a’lam dengan akurasi riwayat ini. Yang lebih tepat, beliau mengalami kebutaan di masa tuanya karena banyak menangis. GURU-GURU IMAM AT TIRMIDZI Beliau menjumpai banyak guru besar dalam bidang hadits. Mendengar hadits-hadits dari mereka dan meriwayatkannya. Masa itu memang dikenal sebagai era kebangkitan ilmu hadits dan cabang-cabangnya. Masa keemasan ini tidak lepas dari peran Imam Asy Syaf’i Al Muthallibi. Ia ajarkan ilmu ini kepada masyarakat luas, lebih khusus kepada penduduk Mesir dan Iraq. Asy Syaf’i mengajarkan keharusan berhujah dengan As Sunnah, menjelaskan bagaimana kewajiban mengamalkan As Sunnah, sebagaimana kewajiban berhujah dan mengamalkan Al Quran. Beliau letakkan kaidah dan pokok-pokok dalam berhujah dengan hadits-hadits nabi. Imam At Tirmidzi memang tidak menjumpai Asy Syafi’i. Bahkan para penulis kutubus sittah seperti Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan An Nasa’i tidak ada yang bertemu langsung dengan beliau karena beliau lebih dulu wafat. Namun, mereka bertemu dengan guru-guru besar yang sezaman dengannya atau murid-murid seniornya. At-Tirmidzi juga murid senior Al Bukhari. Dia mengambil ilmu hadits, memperdalam ilmu fikih, bertanya dan mengambil faedah, dan saling beradu argumen. Ada kalanya At Tirmidzi mengikuti pendapat Al Bukhari dengan dalilnya. Dan terkadang, beliau tidak sependapat dengannya. Demikianlah keadaan para ulama sunnah, mereka selalu mengikuti kebenaran dan jauh dari sikap taqlid, bahkan mengingkarinya. At Tirmidzi Bertualang Mempelajari Hadits At Tirmidzi berkeliling negeri untuk mereguk ilmu. Beliau menemui para periwayat hadits yang tersebar di negeri Khurasan, Iraq, dan Hijaz (Makkah dan Madinah). Namun, sebagian ulama memiliki persangkaan kuat bahwa At Tirmidzi tidak sempat masuk dan menimba ilmu di negeri Baghdad. Buktinya, nama beliau tiada disebut oleh Al Khathib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad. Bukti lain, ia tidak meriwayatkan satu hadits pun langsung dari Imam kota Baghdad sepeninggal Asy Syafi’i, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal. Padahal At Tirmidzi menjumpai masa hidup Imam Ahmad yang lahir pada tahun 164 dan wafat tahun 241. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa tiada disebutnya nama At Tirmidzi dalam Tarikh Baghdad bukanlah melazimkan bahwa ia tiada pernah memasukinya. Ada kemungkinan lain yang melatari, yaitu bahwa At Tirmidzi masuk ke Baghdad setelah Imam Ahmad meninggal. Karena perjalanan ilmiah At Tirmidzi tidaklah bermula dari masa kecilnya, namun setelah beliau berusia lebih dari 20 tahun, yaitu pada tahun 234 H. Wallahu a’lam dengan dua pendapat ini mana yang lebih bisa kita pegangi. MURID AT TIRMIDZI Yang meriwayatkan hadits dari beliau sangat banyak. Di antara yang paling penting untuk disebut dari sekian banyak murid beliau adalah Abul Abbas Al Mahbubi. Ia seorang ahli hadits paling menonjol dari negeri Maru. Dan dialah yang meriwayatkan kitab Jami’ At Tirmidzi langsung dari beliau. Al Mahbubi dikenal sebagai muhaddits sekaligus saudagar di negeri Khurasan. Ia juga menjadi bidikan para pencari ilmu dari berbagai penjuru negeri. OTAK CEMERLANG DAN DAYA INGAT YANG SEMPURNA Dihikayatkan dari Al Idrisi dengan sanadnya dari At Tirmidzi bahwa ia bercerita, “Pada saat aku dalam perjalanan menuju Makkah, ketika itu aku telah menghimpun hadits-hadits yang berasal dari seorang syaikh dalam dua jilid. (Namun aku belum pernah bertemu langsung dengannya. Hadits-hadits itu aku dapatkan dari murid-muridnya). Di tengah perjalanan, dengan takdir Allah Syaikh tersebut berpapasan dengan kami. Setelah aku tahu bahwa itu adalah Syaikh yang sedang aku tulis hadits-haditsnya dalam dua jilid itu, maka aku pun bergegas menemuinya. Sebelum itu, kuambil terlebih dahulu ‘dua jilid kitab’ dari kantong perbekalan. Aku meminta syaikh tersebut membacakan hadits-haditsnya sehingga aku bisa mencocokkan dengan tulisanku. Ia pun mengabulkan permintaanku. Subhanallah! Ternyata yang ada di hadapanku bukanlah buku yang berisi haditsnya. Melainkan dua jilid lain yang masih putih dan polos. Aku bingung dibuatnya. Namun, tidak mungkin pula aku berputar haluan menukar dua jilid yang kumaukan. Tak lama berselang syaikh itu membacakan hadits dan lafazhnya kepadaku. Di sela-sela pembacaan itu ia melihat kepadaku dan melihat bahwa kertas yang kupegang masih putih bersih. Maka dia menegurku, “Tidakkah engkau malu kepadaku?” Aku katakan, “Bukan begitu perkaranya wahai Syaikh!” Aku pun memberitahukan kepadanya kenapa aku membawa buku kosong. Lalu aku berkata menghiburnya, “Namun aku telah menghafal semuanya wahai syaikh.” Maka syaikh tersebut berkata, “Kalau begitu, ayo baca!” Maka aku pun membacakan kepadanya seluruhnya. Sayang, dia belum percaya dengan pengakuanku, maka dia pun bertanya menyidik, “Pasti telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?” “Tidak wahai guru,” Jawabku. Untuk membuktikan kebenaran ucapanku, aku meminta lagi agar dia meriwayatkan hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadits gharib (hadits yang diriwayatkan hanya melaluinya sehingga tentu mustahil aku pernah mendengar hadits-hadits tersebut kecuali ketika itu), lalu berkata, “Coba ulangi apa yang kubacakan tadi.” Dengan izin Allah, aku ternyata dapat membacakannya kembali dari pertama sampai selesai tanpa salah satu huruf pun. Sehingga syaikh itu berkata, “Wahai murid, aku belum pernah melihat orang sepertimu.” PUJIAN ULAMA TERHADAP BELIAU Imam Al Bukhari berkata kepada Imam At Tirmidzi, “Ilmu yang aku ambil manfaatnya darimu itu lebih banyak ketimbang ilmu yang engkau ambil manfaatnya dariku.” Ibnu Hibban menuturkan, “Abu ‘Isa (At-Tirmidzi) adalah sosok ulama yang mengumpulkan hadits, membukukan, menghafal, dan mengadakan diskusi dalam hal hadits.” Abu Ya’la Al Khalili menuturkan, “Muhammad bin Isa At Tirmidzi adalah seorang yang tsiqah (terpercaya keagamaan dan kemampuan hafalannya) menurut kesepakatan para ulama, terkenal dengan amanah, dan keilmuannya.” Abu Sa’ad Al Idrisi menuturkan, “Imam At Tirmidzi adalah salah seorang imam yang diikuti dalam hal ilmu hadits. Beliau telah menyusun kitab Al Jami’, Tarikh, dan ‘Ilal dengan cara yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang alim yang kapabel. Beliau adalah seorang ulama yang menjadi contoh dalam hal hafalan.” Al Hafizh Al Mizzi menuturkan, “Imam At Tirmidzi adalah salah seorang imam yang menonjol, dan termasuk orang yang Allah jadikan kaum muslimin mengambil manfaat darinya.” HASIL KARYA BELIAU Imam At Tirmizi mewariskan ilmunya, karya-karya beliau, di antara buku-buku beliau yang kita kenal adalah: Kitab Al Jami’, terkenal dengan sebutan Sunan At Tirmidzi. Kitab Al ‘Ilal Kitab Asy Syama’il An Nabawiyyah. Sekilas tentang karya beliau rahimahullah: 1. Kitab al-Jami’ Kitab ini di kalangan para ulama dikenal dengan dua nama, Jami’ at-Tirmidzi dan Sunan at-Tirmidzi. Namun penamaan pertama adalah lebih populer sebagaimana disebutkan oleh as-Sam’ani, al-Mizzi, adz-Dzahabi, Ibnu Hajar al-’Asqalani dan lain-lain. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah kitab beliau yang paling bagus dan banyak manfaatnya, paling bagus susunannya, dan paling sedikit pengulangannya. Di dalamnya terdapat sesuatu yang tidak dijumpai di dalam kitab lain, berupa penyebutan madzhab-madzhab, segi-segi pengambilan dalil (istidlal), dan macam-macam hadits dari yang shahih, hasan, dan gharib.” 2. Kitab asy-Syamail an-Nabawiyah Adapun kitab asy-Syamail an-Nabawiyah adalah sebuah kitab yang menerangkan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik secara fisik maupun akhlak. Banyak dari kalangan para ulama yang menukil dan mengambil faidah dari kitab ini seperti al-Maqdisi, al-Mundziri, al-Mizzi, adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, az-Zaila’i, Ibnu Hajar dan as-Suyuthi. Sumbangsih dalam Penelitian dan Pengembangan Ilmu Hadits 1. Dalam ilmu mushthalah hadits Sebelum munculnya al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah, klasifikasi hadits hanya terbagi menjadi hadits shahih dan hadits dha’if. Hadits shahih adalah hadits yang para perawinya memiliki hafalan yang kuat. Sementara hadits dha’if adalah hadits yang lemah disebabkan lemahnya hafalan perawinya atau sebab yang lain. Dari sini, al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah memiliki pemikiran yang jenius. Ketika suatu hadits diriwayatkan oleh perawi yang standar hafalannya di bawah perawi hadits shahih, namun masih unggul dibanding perawi hadits dha’if sehingga hafalannya dapat disebut `tidak kuat sekali, namun lemah pun tidak,` maka beliau mengkategorikan periwayatan seperti ini kepada tingkat hasan. Oleh karenanya, beliau rahimahullah adalah orang pertama yang memasyhurkan pembagian hadits menjadi shahih, hasan, dan dha’if. 2. Menyatukan paradigma hadits dan fiqih Kalau kita lihat, kitab Jami’ at-Tirmidzi selalu menampilkan perbandingan pendapat antar madzhab. Perbandingan ini selalu dibarengkan tatkala beliau menuliskan sebuah hadits. Bahkan, karena banyaknya memuat perbandingan fiqh, kitab Jami’ At-Tirmidzi ini nyaris terkesan sebagai kitab fiqh, bukan kitab hadits. Hal inilah yang menjadi keistimewaan sekaligus pembeda antara kitab Jami’ at-Tirmidzi dengan kitab-kitab hadits yang lain. Namun demikian, bukan berarti al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah merupakan figur sektarian yaitu berpegang pada salah satu madzhab tertentu. Beliau merupakan tokoh yang hanya mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seorang mujtahid yang tidak bertaklid (mengikut tanpa dalil) kepada siapapun. Ketidakberpihakan al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah pada salah satu madzhab fiqh ini dapat difahami dengan tidak adanya unsur pengunggulan pada salah satu madzhab tertentu di dalam kitabnya. BELIAU WAFAT Di akhir hidupnya, imam At Tirmidzi mengalami buta. Beberapa tahun beliau hidup bersabar tanpa penglihatan. Walaupun mata tidak bisa melihat. Namun qalbu senantiasa menerangi sisa-sisa hidupnya. Hingga pada bulan Rajab tahun 279 H beliau meninggal dalam usia 70 tahun. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati beliau, dan menempatkan beliau di surga-Nya yang luas. Sumber: Majalah Qudwah edisi 7 vol. 1 1434H/2013M, rubrik Biografi. Pemateri: Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini. Dikutip dari - http://ismailibnuisa.blogspot.co.id/2014/02/imam-at-tirmidzi.html -&nbsp.http://buletin-alilmu.com/2012/02/05/keteladanan-al-imam-at-tirmidzi-dalam-menuntut-ilmu/

Biografi
Jan 22, 20189 min read
«»
HomeRadioArtikelPodcast