Artikel Islami

Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

BERHIAS DENGAN SIFAT JUJUR
Atsar.id
Atsar.id

BERHIAS DENGAN SIFAT JUJUR

BERHIAS DENGAN SIFAT JUJUR Jujur adalah sebuah berita (khabar) yang sesuai dengan kenyataan.. Bila seseorang mengkhabarkan tentang sesuatu yang sesuai dengan kenyataan maka dia telah berkata jujur, jika ternyata tidak sesuai maka dia berdusta. Kejujuran bisa terwujud dalam bentuk ucapan dan berbuatan.. Jujur dalam perbuatan ialah berlarasannya hati dengan pelaksanaan. Dimana perbuatan yang dilakukan oleh seseorang mencocoki apa yang ada di dalam batinnya. Sehingga, Orang yang riya bukan orang yang jujur, karena dia menampakkan kepada manusia sebagai ahli ibadah padahal batinnya tidak.. Pelaku kesyirikan bukan orang yang jujur, karena dia menampakkan sebagai orang yang bertauhid nyatanya tidak. Orang munafik bukan orang yang jujur, karena ia menampakkan keimanan ternyata tidak. Pelaku bid'ah juga bukan orang yang jujur, karena ia menampakkan mengikuti Rasul Shallallahu 'alaihi wa Sallam padahal tidak... Jujur merupakan ciri khas seorang mukmin, dan dusta adalah ciri orang munafik. Maka berhiaslah dengan sifat jujur walaupun itu berat. Allah Subhanahu wa Ta'al.a berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah. dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur." (QS. At-Taubah:119) Sumber Panduan: Syarah Riyadhus Shalihin (1/290) Disajikan oleh Tim Warisan Salaf Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Channel kami https://bit.ly/warisansalaf Situs Resmi http://www.warisansalaf.com Tambahan Faedah: Al Imam AdZ-Dzahabi rahimahullohu ta'ala mengatakan: Orang yang jujur akan sedikit bicara, sedikit makan, jarang tidur, dan bergaul, Dan memperbanyak wirid (dzikir), tawadhu' (rendah hati), (banyak) mengingat kematian dan mengucapkan: لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰه Siyar A'lamu An-Nubala (14/534). Ibnu Taimiyah rahimahullohu ta'ala mengatakan : "Berdusta adalah asal dari kejelekan, dan yang paling besar kejelekannya adalah berdusta atas nama Allah Azza wa Jalla, Adapun kejujuran adalah asal dari kebaikan , dan kejujuran yang paling mulia adalah kejujuran kepada Allah tabaroka wa ta'ala. Al Jawabu As Shohih (1/128) Sumber: Mutiara ASK https://telegram.me/MutiaraASK

Adab & Akhlak
May 3, 20162 min read
Faedah Mengucapkan In sya Allah
Atsar.id
Atsar.id

Faedah Mengucapkan In sya Allah

UCAPAKANLAH IN SYA ALLAH Al-'Allamah Muhammad bin Shaleh al-'Utsaimin rahimahullah berkata: Aku ingin menunjukkan kepada kalian sebuah perkara penting yaitu bila engkau bersumpah atas sesuatu hal, maka ucapkanlah setelahnya: "In sya Allah" walaupun temanmu tidak mendengarnya. Karena bila engkau mengucapkan "In sya Allah", maka Allah akan memudahkan urusanmu hingga engkau menepati sumpahmu. Namun bila ditakdirkan bahwa apa yang engkau inginkan tidak terwujud, maka tidak ada kaffarah bagimu. Dan ini merupakan faedah yang besar. Andai engkau berkata kepada seseorang misalnya: "Demi Allah, kamu tidak akan menyembelih untukku," kemudian ia mengatakan "in sya Allah" antara ia dan dirinya (dengan suara pelan), ternyata orang itu kemudian menyembelih untukmu, maka tidak ada kewajiban apapun bagimu, juga tidak ada kaffarah sumpah atasmu. Demikian juga sebaliknya. Andai engkau berkata: "Demi Allah, saya benar-benar akan menyembelih." Lalu ia mengatakan "in sya Allah" antara ia dan dirinya, dimana temannya tidak mendengarnya. Kemudian ternyata ia tidak menyembelih, maka tidak ada kafarah sumpah atasnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi was salam: من حلف على يمين فقال إن شاء الله لم يحنث "Barang siapa bersumpah atas sesuatu hal kemudian ia mengatakan insya Allah, maka ia tidak melanggar sumpahnya. Dan ini merupakan faedah yang besar. Karena itu jadikanlah senantiasa ada pada lisanmu sehingga engkau akan beroleh dua faedah padanya: Faedah pertama: urusanmu akan dimudahkan &nbsp.Faedah kedua: Bila engkau melanggarnya, maka tidak mengharuskanmu untuk membayar kaffarah. Sumber: Syarah Riyadhush Shaalihin Juz 2/612 Kunjungi || http://forumsalafy.net/ucapakanlah-in-sya-allah/ WhatsApp Salafy Indonesia Channel Telegram || http://bit.ly/forumsalafy

Nasehat
May 1, 20162 min read
Mengambil Ilmu dari Ahlussunnah
Atsar.id
Atsar.id

Mengambil Ilmu dari Ahlussunnah

MENGAMBIL ILMU DARI AHLUSSUNNAH Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, "Akan muncul pada akhir jaman sekelompok manusia yang akan menceritakan hadits kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian mendengarnya demikian juga bapak-bapak kalian. Maka berhati-hatilah kalian dari mereka." (HR. Muslim dalam muqoddimah shahihnya hal.6) Al-Imam Al-Baghawi Rahimahullah menyebutkan kesepakatan ulama salaf dalam memboikot ahlul bid'ah, beliau berkata, "dan telah berlalu para shahabat, tabi'in, dan pengikut mereka, serta ulama sunnah atas perkara ini, yaitu mereka bersepakat untuk memusuhi ahlul bid'ah dan memboikot mereka." (Syarhus Sunnah 1/227) Al-Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata, "Tiga (jenis manusia) yang tidak diambil (ilmunya) dari mereka, yaitu: 1. Orang yang tertuduh melakukan kedustaan 2. Pelaku kebid'ahan yang menyeruh kepada bid'ahnya 3. dan seseorang yang cenderung keliru dan salah &nbsp.Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, "Semoga Allah menghinakan al-Karobisi, tidak boleh dijadikan teman duduk, tidak boleh diajak bicara, tidak boleh disalin kitab-kitabnya, dan kami tidak duduk bersama orang yang duduk dengannya." Abdul Wahhab Al-Khaffaf rahimahullah berkata, "Aku melewati Amr bin Ubaid (tokoh mu'tazilah,pen) sedang duduk sendirian. Maka aku bertanya kepadanya, 'apa yang terjadi denganmu sehingga manusia meninggalkanmu?' Ia menjawab, 'Ibnu 'Aun (ulama sunnah,pen) telah melarang manusia dariku, maka mereka pun pergi (meninggalkanku)." (Mizanul I'tidal 3/274) Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata, "Barangsiapa mendengar dari ahli bid'ah, maka Allah tidak akan memberi manfaat dengan apa yang ia dengar. dan barangsiapa berjabatan tangan dengannya, maka sungguh ia telah melepas Islam seutas demi seutas." (Al-Jami' Li AKhlaqi Ar-Rawi 1/138 hal.163) Al-Qahthani berkata dalam baitnya, 🔸 Tidaklah berteman dengan ahli bid'ah kecuali orang yang sepertinya ... 🔸 di bawah asap ada api yang berkobar.. Oleh karena itu, janganlah mengambil ilmu dari ahli bid'ah dan orang-orang yang menyimpang atau memiliki penyakit di dalam hatinya. Karena mengambil ilmu dari mereka akan mewariskan penyimpangan dari al-haq baik disadari ataupun tidak. Bundar Ibnul Husein rahimahullah berkata, "Berteman dengan ahli bid'ah akan mewariskan berpalingnya dari kebenaran." (As-Siyar 16/106) Sehingga, jangan pedulikan orang yang mengatakan "aku akan mengambil ilmu dari siapa pun" atau "aku akan mengambil yang baiknya saja, adapun yang jelek aku tinggalkan" Sebenarnya, mereka sedang mempertaruhkan hidayah yang telah Allah berikan kepada mereka.. Allahul musta'an - Semoga bermanfaat - Referensi: An-Nubadz fi Adabi Thalabil ilmi  (hal.24-28) Dikumpulkan oleh Tim Warisan Salaf Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Channel kami https://bit.ly/warisansalaf Situs Resmi http://www.warisansalaf.com Sumber gambar: lifeasananomaly.files.wordpress.com

Manhaj
Apr 30, 20163 min read
«»
HomeRadioArtikelPodcast