Artikel Islami

Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Atsar.id
Atsar.id

Kamar dan Kemah di Surga

KAMAR DAN KEMAH SURGA Kalau di dunia, kamar hotel yang mewah merupakan kenikmatan yang dicari oleh sebagian orang. Kamar yang menawarkan fasilitas super istimewa bagi orang-orang yang berduit. Dalam satu malam, biaya kamar termewah adalah 1 Milyar rupiah atau 80 ribu US Dollar pada tahun 2017. Royal Penthouse Suite, Hotel President Wilson di Jenewa, Swiss. Luasnya 1680 meter persegi, dikenal sebagai suite terbesar di Eropa pada waktu itu. Salah satu fasilitas unggulannya adalah panorama Danau Jenewa yang bisa dilihat langsung di teras. Jadi, posisinya tinggi dengan pemandangan danau yang indah. Kamar terbuat dari marmer. Dilengkapi dengan teleskop untuk melihat bintang-bintang di malam yang cerah. Standar keamanan tinggi diterapkan. Kaca anti peluru, brankas tempat menyimpan barang berharga, tombol darurat, serta lift pribadi. Itu tadi di dunia. Allah mengingatkan kita untuk jangan silau dengan gemerlap kemewahan dunia yang sangat fana dan sementara. Kemewahannya sedikit, menikmatinya tidak optimal, dan waktunya sangat terbatas. وَلاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى Dan janganlah sekali-kali kedua matamu memandang kagum (berambisi) kepada kaum yang kami beri kenikmatan bunga kehidupan dunia. Itu semua untuk menguji mereka. Sedangkan rezeki dari Rabbmu (di dunia: ilmu dan amal sholih dan akhirat berupa Surga) jauh lebih baik dan lebih kekal (Q.S Thoha ayat 131). Dalam ayat yang lain Allah mengingatkan akan nikmat yang sangat besar dengan diturunkannya al-Fatihah dan alQuran secara umum. Itu justru anugerah yang sangat besar, tidak ada bandingannya dengan kemewahan dunia. Karena itu, jangan takjub dengan kemewahan dunia dari sebagian pihak. وَلَقَدْ آَتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآَنَ الْعَظِيمَ (87) لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ Dan sungguh Kami telah memberikan kepadamu 7 ayat yang berulang (alFatihah) dan al-Quran yang agung. Janganlah kedua matamu memandang kagum (berambisi) kepada kaum yang kami beri kenikmatan (kemewahan dunia). Jangan bersedih atas mereka dan bersikap tawadhu’lah kepada kaum beriman (Q.S al-Hijr ayat 87-88) Di Surga juga terdapat kamar-kamar. Kamar di Surga jelas lebih memukau dan istimewa. Tak ada banding. Kamar Surga berada dalam posisi tinggi. Di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah Ta’ala berfirman: لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَاد Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka akan mendapatkan kamar-kamar. Di atas kamar-kamar itu terdapat kamar-kamar lain yang berupa bangunan bertingkat. Sungai-sungai mengalir di bawahnya. Itu adalah janji Allah. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya (Q.S az-Zumar ayat 20) Jika sungai atau danau di dunia bisa membunuh anda, tidak demikian dengan sungai di Surga. Danau dunia bisa menenggelamkan orang. Sedangkan sungai Surga adalah media penyempurna kenikmatan bagi penghuni Surga. Airnya bisa diminum. Alirannya bisa diatur. Penjelasan tentang sungai di Surga bisa dibaca pada bab tersendiri dalam buku ini. Kamar dunia untuk beristirahat tidur menghilangkan penat. Sedangkan kamar di Surga untuk bersenang-senang saja karena penghuni Surga tidak penat dan tidak akan pernah tidur النَّوْمُ أَخُو الْمَوْتِ وَلَا يَنَامُ أَهْلُ الْجَنَّةِ Tidur adalah saudara kematian. Dan penduduk Surga tidak tidur (hadits dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah as-Shahihah) Kamar di Surga tidak butuh kaca anti peluru, tombol alarm, atau brankas penyimpan. Karena itu semua adalah fasilitas untuk orang yang khawatir akan keselamatannya. Pada hakikatnya ia tidak tenang dan nyaman. Pemakai kamar Surga berada dalam ketentraman dan rasa aman yang sempurna. Tambahkan padanya keselamatan yang paripurna. Itulah balasan bagi orang-orang yang beriman, beramal sholih, dan bersabar di dunia. ...إِلَّا مَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آَمِنُونَ Kecuali orang yang beriman dan beramal sholih. Mereka itu akan mendapatkan balasan yang berlipat karena perbuatan mereka, dan mereka berada dalam kamar-kamar dalam perasaan aman (Q.S Saba’ ayat 37) أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا Mereka itu akan mendapatkan balasan kamar (di Surga) karena kesabaran mereka, dan mereka akan mendapatkan di dalamnya pujian dan keselamatan (Q.S al-Furqon ayat 75) Bagaimanakah bahan-bahan bangunan di Surga termasuk kamar, rumah, dan istananya? لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ Batu bata dari perak dan batu bata dari emas. Bahan perekat (semennya) dari misk (minyak kesturi yang harum). Pasirnya dari mutiara dan permata. Tanahnya dari za’faran (H.R atTirmidzi) خَلَقَ اللهُ الْجَنَّةَ، لَبِنَةً مِنْ ذَهَبٍ وَلَبِنَةً مِنْ فِضَّةٍ، وَغَرَسَهَا، وَقَالَ لَهَا: تَكَلَّمِي. فَقَالَتْ: { قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ } ، فَدَخَلَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ فَقَالَتْ: طُوْبَى لَكَ، مَنْزِلَ الْمُلُوْكِ Allah menciptakan Surga, batu batanya dari emas dan dari perak. Allah juga menanami (Surga). Allah berfirman kepada Surga: Berbicaralah. Maka Surga berbicara: Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Kemudian Malaikat memasuki Surga dan berkata: Sungguh beruntung bagimu wahai kediaman para raja (H.R al-Bazzaar dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Shahih atTarghib).&nbsp. Di tengah-tengah kebun Surga, dibuatkan kemah dari mutiara. Ukuran kemah ini tinggi dan lebarnya adalah 60 mil atau sekitar 96 km! Tiap sudut terdapat bidadari bagi pemilik kemah itu. Masing-masing bidadari tidak bisa melihat bidadari lain karena saking jauhnya. إِنَّ فِي الْجَنَّةِ خَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ عَرْضُهَا سِتُّونَ مِيلًا فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ مِنْهَا أَهْلٌ مَا يَرَوْنَ الْآخَرِينَ يَطُوفُ عَلَيْهِمْ الْمُؤْمِنُونَ Sesungguhnya di Surga terdapat kemah dari mutiara yang berongga. Lebarnya 60 mil. Pada setiap sudut ada istri (bidadari). Para bidadari itu tidak saling melihat yang lain. Orang beriman (pemilik kemah itu) berkeliling menggilir istri-istrinya (H.R al-Bukhari dan Muslim) Bagian-bagian kamar itu ada yang transparan, tembus pandang. Memikat orang yang memandangnya. Allah sediakan bagi orang-orang yang gemar berkata baik, memberi makan, berpuasa, dan sholat malam. إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَغُرَفًا يُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ إِلَيْهِ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ Sesungguhnya di Surga terdapat kamar-kamar yang bisa terlihat bagian dalamnya dari bagian luarnya, dan bagian luarnya dari bagian dalamnya. Kemudian ada seorang Arab pedalaman yang bertanya: Untuk siapakah kamar-kamar itu, wahai Rasulullah? Nabi bersabda: Itu adalah untuk orang yang baik dalam ucapannya, suka memberi makan, sering berpuasa, serta sholat malam untuk Allah pada saat manusia tidur (H.R atTirmidzi dari Ali, dihasankan al-Albaniy) Kamar-kamar yang di atas menjadi pemandangan yang indah bagi pemilik kamar di bawahnya. Bagaikan melihat bintang di langit, namun jelas lebih indah dari itu إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ الْغُرَفَ فِي الْجَنَّةِ كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ فِي السَّمَاءِ Sesungguhnya penduduk Surga benar-benar melihat kamar-kamar tinggi di Surga sebagaimana mereka melihat bintang di langit (H.R al-Bukhari dari Sahl) Disebutkan dalam sebagian hadits bahwa setelah melihat Wajah Allah, para  pemilik kamar kembali ke kamarnya yang indah dan penuh kenikmatan: وَيَرْجِعُ أَهْلُ الْغُرَفِ إِلَى غُرَفِهِمْ ، وَهِيَ دُرَّةٌ بَيْضَاءُ ، لَيْسَ فِيهَا قَصْمٌ ، وَلاَ فَصْمٌ ، أَوْ دُرَّةٌ حَمْرَاءُ ، أَوْ زَبَرْجَدَةٌ خَضْرَاءُ فِيهَا غُرَفُهَا وَأَبْوَابُهَا مَطْرُورَةٌ ، وَفِيهَا أَنْهَارُهَا وَثِمَارُهَا مُتَدَلِّيَة Dan para pemilik kamar kembali ke kamar mereka yang terbuat dari mutiara putih yang tidak ada retakan maupun cacat. Atau terbuat dari mutiara merah, atau batu permata (seperti zamrud) yang hijau.Pintu-pintunya bercahaya. Padanya terdapat sungai-sungai dan buah-buahan yang menjulur (H.R Ibnu Abi Syaibah, al-Harits, Abu Ya’la, atThobaroniy, dinyatakan sanadnya jayyid oleh al-Bushiry) (dikutip dari buku "Surga yang Dirindukan, Neraka yang Ditakutkan", Abu Utsman Kharisman, penerbit atTuqa Yogya) WA al I'tishom

akhirat
May 18, 20198 min read
Kisah : Terimakasih Telah Mengembalikan Ibuku
Atsar.id
Atsar.id

Kisah : Terimakasih Telah Mengembalikan Ibuku

"Terimakasih Telah Mengembalikan Ibuku" Dulu, aku tak mengerti kasih sayang ibuku. Kasih sayang itu aku rasakan di setiap nada bicara Ibu sebagai bentuk kecerewetan. Tapi itulah ibuku. Kini aku tahu, ibu selalu mengajarkan kami kemandirian dan segera adalah melakukan segala sesuatu. Kesannya, Ibu terkadang terburu-buru dalam mengerjakan sesuatu hal. Hal ini mungkin karena Ibu ingin cepat segera menyelesaikannya. Ibu... Dialah wanita perkasa dalam hidupku. Segala hal, berusaha beliau lakukan sendiri untuk keluarga ini. Apapun beliau lakukan demi melihat aku, kakak, dan adikku tersenyum. Dari kecil sampai dewasa, kasih sayang ibu selalu mengiringi langkah hidupku. Ibu orangnya kuat. Sakit-sakit yang pernah dideritanya selama ini seperti demam, atau yang lainnya, tak pernah Ibu rasakan sebagai suatu penyakit berat yang dapat menghambat pekerjaan beliau sebagai ibu rumah tangga sekaligus guru. Aku teringat pada peristiwa besar yang mengguncang langkah hidupku tahun 2011 lalu. Ini mungkin ujian untuk kami, untuk keluargaku. Karena sejatinya Allah tak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya dalam keadaan kesulitan. Berawal dari pernikahan kakakku di bulan maret 2010. Di tengah acara pernikahan kakakku, muka ibu pucat dan tubuhnya lemas. Berkali-kali bapak tanyakan tentang keadaan ibu. Tapi ibu selalu menjawab, "Nggak apa-apa Pak, mungkin kecapekan." Mendengar jawaban dari Ibu, bapak agak sedikit tenang meskipun mungkin dalam hatinya ada rasa khawatir tentang keadaan ibu. Kebahagiaan datang kepada keluarga kami lagi, dengan diberikan bayi mungil yang lahir dari rahim kakakku pada tanggal 25 November 2010. Senang, karena nanti aku akan di panggil 'Ammah'. Panggilan bahasa Arab yang artinya "Tante". Mungkin ini yang Allah maukan dari kita. Di sela-sela kebahagiaan yang di berikan-Nya, Allah memberikan ujian di tengah-tengah kelurgaku. Di antara hikmahnya, Allah mengingatkan hamba-Nya agar tidak lupa dengan nikmat-nikmat yang di rasakannya. Tepat tanggal 23 November 2010, ibu merasakan sakit yang luar biasa. Tapi ibu menahan rasa sakit itu, demi kakakku yang pada saat itu mengalamai proses melahirkan. Barulah menginjak bulan Desember 2010, bapak memaksa ibu untuk periksa di rumah sakit Surabaya. Hasilnya mengejutkan. Ibu mengidap tumor ganas. Kanker ibu sudah mencapai stadium 4, kata dokter. Bak tersambar petir, hatiku langsung panas mendengar berita itu. Air mata juga langsung mengucur deras di pipiku ketika kakakku menceritakan hal ini melalui telepon. Selang beberapa waktu, dokter mengatakan pertumbuhan kanker ibu yang semakin merajalela di dalam tubuh ibu, yang membuat ibu harus mejalankan sekian terapi yang dia anjurkan oleh dokter. Kanker itu berada di dekat payudara ibuku. Ukurannya kira-kira sebesar telur ayam. Benjolan itu keras. Ngeri. Aku sampai tidak tega saat memegang benjolan itu. Aku hanya ingin ibu sembuh dari penyakit itu. Penyakit yang mengerikan yang selalu membuat orang takut mendengarnya. Penyakit yang telah mengakibatkan sekian banyak orang meninggal dunia. Membuat aku tak berdaya dengan semua itu. Kuat! Kuat! Aku harus bisa kuat! Aku harus bisa menguatkan Ibuku. Aku harus ada disisi ibu. Ibu butuh dukungan kami semua. Kami akan selalu menemani Ibu. Berkali-kali aku panjatkan doa sambil menangis, "Ya Allah, jangan panggil Ibuku sekarang, aku masih butuh Ibu. Aku butuh Ibu sebagai penguat langkah hidupku. Aku butuh Ibu, karena aku ingin belajar memasak, menjahit, dan lainnya. Jangan ambil Ibuku Ya Allah. Aku belum sempat membalas kebaikan yang telah dilakukannya." Hampir setiap langkah aku selalu mengurai air mata saat tahu ibu yang selama ini sering aku bantah perintahnya terkena penyakit kanker. Ibu yang panggilannya sering aku abaikan saat dia membutuhkan, kini rapuh tidak berdaya di kasur. Ibu yang selalu berkata dengan nada yang tinggi untuk membangunkan aku pada pagi hari, kini tak terdengar lagi suaranya. Sepi tanpa Ibu, aku rasakan penuh kehampaan di rumah selama tahun 2011. Bapak yang menggantikan pekerjaan ibu, selama ibu menjalankan paket terapi dari dokter itu. Paket terapi dari dokter tersebut berisi 6 kali kemoterapi dan 1 kali operasi. Kemoterapi? Aku tidak tahu istilah asing dalam kedokteran itu. Apa yang akan dilakukan dokter untuk mematikan kanker yang ada di dalam tubuh ibu? Apa? Ternyata, kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel kanker. Terapi ini diperlukan untuk memperlambat perluasan sel kanker. Sel kanker adalah sel hidup. Sel ini dapat meluas ke bagian tubuh lainnya. Karena itu, sel kanker ini harus segera dibunuh. Sebelum menjalani enam kali kemoterapi, ibu harus menjalani scan di semua bagian-bagian yang ada dalam tubuh Ibuku. jantung, hati, dan paru-paru. Awal pemeriksaan, hasilnya tidak baik. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan Ibuku bertahan hidup hanya 4 bulan, kemungkinan hidup tinggal 40%. Banyak kerusakan yang terjadi dalam organ-organ vital Ibu. Hati ibu sudah ditumbuhi sel kanker. Jantung Ibu sudah berwarna kuning. Ibu harus segera melakukan perawatan secepatnya. Kemoterapi-kemoterapi yang dijalani Ibuku selama tahun 2011, membuat aku merasa kasihan dengan keadaan fisiknya. Kepala yang sudah mulai menggundul, alis mata yang rontok, dan tubuh yang kurus membuat tak sampai hati aku melihat itu semua. Tapi itu semua memang merupakan efek samping dari kemoterapi. Kemoterapi tidak hanya membunuh sel-sel kanker yang jahat saja, namun beberapa sel baik yang cepat membelah juga ikut terbunuh. Karena itu, orang yang menjalani kemoterapi akan mengalami kerontokan rambut, sariawan, serta muntah-muntah. Meski demikian, kemoterapi merupakan cara yang paling efektif -sementara ini- digunakan untuk menyembuhkan kanker. Di sela-sela kemoterapi, bapak juga selalu membantu proses pemulihan ibu dengan membuat jus sehat (jambu, wortel, apel, tomat), rebusan daun sirsak, susu, dan makanan yang harus dimakan Ibu setiap harinya. Kuat! Kuat! Itu yang aku katakan dalam hatiku. Selalu aku panjatkan doa kepada Allah untuk meminta kesembuhan ibuku yang berujung dengan tangisan deras yang mengguyur pipiku. Ya Allah, sembuhkan sakit ibuku. Aku tidak peduli dengan kata-kata dokter itu. Aku hanya percaya dengan ketentuan Allah saja. Karena manusia hanya bisa berikhtiar semaksimal mungkin, tetapi Allah yang menentukan segalanya. Sampai pada kemoterapi yang ke-6. Alhamdulillah, organ-organ vital ibu semakin membaik secara perlahan. Kondisi jantung, hati, dan paru-paru ibu membaik sejalannya waktu. Setelah menjalani kemoterapi, Ibu menjalani operasi pengangkatan kanker. Operasi yang dilakukan selama 10 jam, membuat aku merasa takut kehilangan Ibu. Alhamdulillah, ketika pintu kamar operasi itu dibuka, aku, adik dan bapak langsung lari mendekat kearah ibu. "Ibu..." teriakku kencang bersamaan dengan kasur ibu yang dibawa keluar dari kamar oleh beberapa perawat. Terima kasih Ya Rabb.. Terima kasih. Wajah tenang dan senyuman dari ibu membuat aku banyak bersyukur kepada Allah atas apa yang Allah berikan dibalik ujian-Nya. Sungguh terasa indah. Dari hari ke hari berikutnya Ibu semakin membaik hingga hari ini. Rambut ibu sudah mulai tumbuh dan tubuhnya sudah tidak kurus lagi. Mungkin Allah mengingatkanku karena aku sering membantah perintah ibu. Mungkin Allah mengingatkan agar aku senantiasa mengingat nikmat Allah dalam setiap hari-hariku. Dan kini, Allah berikan kepadaku kesempatan lagi agar aku bisa berbuat baik kepada Ibuku. Karena itu pembaca, jagalah orang tua kalian sebelum nikmat itu pergi dari kalian. Sungguh, kita akan merasa sangat menyesal saat nikmat itu telah hilang. Jangan tunggu penyesalan. Mulailah berbakti kepada orang tua. Terima kasih ya Rabb, terima kasih karena Engkau telah mengembalikan kesehatan Ibuku. Terima kasih telah mengembalikan ibu untuk kami, aku, adik dan kakakku. Sumber: Majalah Qudwah edisi 19 | vol 02 | tahun 2014 | hal. 103

Cerita
May 17, 20198 min read
Shalawat Bid'ah Antara Rakaat Shalat Tarawih
Atsar.id
Atsar.id

Shalawat Bid'ah Antara Rakaat Shalat Tarawih

SHALAWAT BID'AH DIANTARA SELA-SELA DUA ATAU EMPAT ROKA'AT SHALAT TARAWIH&nbsp. Dijawab oleh Al-Ustadz Zuhair Syarif Hafizhahullah [ Pertanyaan ] إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ٥٦ “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya!” (al-Ahzab: 56) Bismillah Afwan Ustadz, dalil diatas dijadikan dalil oleh mereka bahwa adanya shalawat di setiap salam 2 raka'at sholat Tarawih. Mohon penjelasannya Ustadz.. [ Jawaban ] Ayat 56 dalam surat Al-Ahzab  yang dibawakan sebagai dalil mengucapkan shalawat diantara dua raka'at salam pada shalat tarawih, tidaklah tepat atau salah penempatan. Perintah Allah terhadap orang-orang yang beriman untuk bershalawat atas Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam haruslah sesuai dengan bimbingan dan perintah beliau. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: إنَّ مِن أفضلِ أيَّامِكم يومَ الجُمعةِ فأكثِروا علَيَّ مِن الصَّلاةِ فيه فإنَّ صلاتَكم معروضةٌ علَيَّ  "Sesungguhnya hari-hari kalian yang paling mulia adalah hari Jum'at, maka perbanyaklah untuk mengucapkan shalawat atasku di hari itu, karena sesungguhnya shalawat kalian terpampang padaku". Sedangkan membaca shalawat disetiap selesai dari dua raka'at shalat tarawih tidak ada satupun hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, baik berupa perintah, contoh, anjuran ataupun taqrir dari beliau shallallahu alaihi wasallam, berarti perbuatan tersebut adalah bid'ah, karena tidak ada contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Inilah kebiasaan para Ahlul bid'ah di dalam berdalil. Memakai dalil Al- Qur'an atau Sunnah tapi salah penempatan. Seperti perbuatan orang-orang Yahudi: يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ  "Memalingkan Kalam Allah dari tempat-tempatnya". Sumber : WhatsApp Salafy Bengkulu | @qowwamussunnah

Fiqih
May 15, 20192 min read
«»
HomeRadioArtikelPodcast