Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Saat Dosa Kecil Berubah Menjadi Dosa Besar Satu Pembahasan yang telah kita lewati pada kesempatan lalu adalah tentang klasifikasi dosa. Kita telah ketahui bahwa dosa terbagi menjadi dua, yaitu dosa besar dan kecil. Namun demikian tidak selayaknya seorang muslim bermudah-mudahan dan mere…

MENGENAL BULAN MUHARRAM Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram dalam Islam, bulan ini berada pada urutan pertama penanggalan hijriyah sejak diresmikan oleh Khalifah Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu. Pada mulanya, terjadi silang pendapat di antara para shahabat dalam menentukan awal masuknya kalender Islam, dengan bulan apa dimulai? Sebagian mereka mengusulkan dimulai dengan bulan Rabi'ul Awwal, sebagian lagi mengusulkan dengan bulan Ramadhan. Namun, Khalifah Umar dan sejumlah shahabat lainnya lebih memilih bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Islam, dengan alasan bahwa di bulan inilah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam membulatkan tekadnya untuk berhijrah ke negeri Madinah. Oleh karena itu, penanggalan Umar ini disebut penanggalan hijriyyah. (Al-Bidayah wa An-Nihayah) BULAN MUHARRAM MENURUT ISLAM Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci dalam Islam yang tersebut dalam Al-Qur'an, . إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36) Keempat bulan itu adalah: 1. Muharram, 2. Rajab, 3. Dzulqo’dah, 4. dan Dzulhijjah, sebagaimana yang dideklarasikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat haji perpisahan (hajjatul wada'). Disebut bulan haram karena ia mengandung kemuliaan lebih (dari bulan-bulan lainnya) dan karena pada bulan-bulan ini diharamkan untuk berperang. (Tafsir As-Sa'di, hlm.192) Cukuplah menunjukkan kemuliaan bulan Muharram ini ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjulukinya sebagai bulan Allah, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda"... yaitu bulan Allah, bulan Muharram." (HR. Muslim, no.1982) Para ulama' menjelaskan, "Segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah itu memiliki kemuliaan lebih dari yang tidak disandarkan kepada-Nya, seperti baitullah (rumah Allah), rasulullah (utusan Allah), dll." Dalam Islam, bulan Muharram memiliki nilai historis (sejarah) yang luar biasa; pada bulan ini, tepatnya pada tanggal sepuluh, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Fir'aun dan bala tentaranya serta menenggelamkan mereka di laut merah. Di bulan ini juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertekad kuat untuk berhijrah ke negeri Madinah, setelah mendengar bahwa penduduknya siap berjanji setia membela dakwah beliau. Walaupun tekad kuat beliau ini baru bisa terealisasi pada bulan Shafar. Selain itu, di bulan ini terdapat ibadah puasa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai puasa terbaik setelah Ramadhan, beliau bersabda: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah berpuasa di bulan Allah, bulan Muharram." (HR. Muslim, no.1982 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda ketika ditanya tentang keutamaannya: "Menghapuskan dosa-dosa tahun yang lalu." (HR. Muslim, no.1977 dari shahabat Abu Qotadah Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu) BULAN MUHARRAM MENURUT MASYARAKAT JAWA Bagi masyarakat Jawa, bulan Muharram atau yang lebih dikenal dengan bulan suro memiliki nilai religi yang tinggi. Bulan ini dianggap sebagai bulan keramat yang tidak boleh dibuat pesta dan bersenang-senang sehingga banyak aktivitas yang ditunda atau bahkan dibatalkan. Lebih dari itu, mereka meyakini siapa yang mengadakan hajatan pada bulan ini akan ditimpa musibah dan malapetaka. Sebagai contoh adalah pernikahan, masyarakat Jawa pada umumnya, enggan menikahkan putra atau putri mereka di bulan ini karena khawatir ditimpa petaka dan kesengsaraan bagi kedua mempelai. Ketika ditanya mengenai alasan mereka menilai bulan Muharram sebagai bulan keramat nan penuh pantangan, tidak ada Jawaban berarti dari mereka selain, 'Beginilah tradisi kami' atau 'Beginilah yang diajarkan bapak-bapak kami'. Para pembaca rahimakumullah, sikap mengikuti tradisi atau leluhur tanpa bimbingan Islam adalah terlarang, bahkan sikap seperti ini termasuk sifat orang-orang jahiliyah dan penyembah berhala. Allah di dalam Al-Qur'an menyebutkan Jawaban orang-orang Quraisy ketika diajak oleh Rasulullah ` untuk meninggalkan kesyirikan, kata mereka: إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22) Demikian pula Fir'aun, ketika diajak oleh Nabi Musa 'Alaihis Salam agar beriman kepada Allah, ia malah berkata: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya." (QS. Yunus: 78) Kemudian, anggapan sial untuk melakukan aktivitas di bulan Muharram yang diyakini oleh keumuman masyarakat Jawa saat ini dalam ajaran Islam disebut Tathoyur atau Thiyaroh, yaitu meyakini suatu keburuntungan atau kesialan didasarkan pada kejadian tertentu, atau tempat tertentu. Anggapan seperti ini sebenarnya sudah ada sejak zaman jahiliyah. Setelah Islam datang, maka ia dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus ditinggalkan. Allah berfirman: "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131) Dalil yang menunjukkan bahwa Thatoyur atau Thiyaroh termasuk kesyirikan adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلاثًا "Thiyaroh adalah kesyirikan", beliau mengulangnya sebanyak tiga kali." (HR. Ahmad dan Abu Daud, dari shahabat Abdullah bin Mas'ud Radhiallahu 'anhu) Apabila kita telah tahu bahwa anggapan sial atau keberuntungan seperti itu termasuk kesyirikan, kewajiban kita selanjutnya adalah menjauhinya dan menjauhkannya dari anak dan istri kita. Sehingga kita beserta keluarga kita tidak terjerembab kedalam kobangan dosa besar yang paling besar, yaitu dosa syirik. BULAN MUHARRAM MENURUT SYI'AH Berbeda halnya dengan orang-orang syi’ah, apabila keumuman masyarakat Jawa menjadikan bulan Muharram sebagai bulan 'istirahat' dari melakukan aktivitas, justru orang-orang syi’ah menjadikannya sebagai hari belasungkawa. Pada setiap tanggal 10 Muharram, orang-orang syi'ah di Iran mengadakan pawai akbar untuk memperingati hari terbunuhnya cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Husein bin Ali Radhiallahu 'anhuma di padang Karbala. Acara rutin mereka tersebut dimulai sejak tanggal 1 sampai tanggal 10 Muharram. Pada tanggal 1 Muharram sampai tanggal 9 Muharram mereka mengadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju Al-Huseiniyah. Al-Huseiniyah adalah tempat ibadah syi'ah, kalau kaum muslimin menyebutnya masjid, tetapi biasanya Al-Huseiniyyah digunakan untuk makam Imam, bukan untuk shalat, sedang shalat dilakukan di luar bangunan. Penamaan ini diambil dari nama Imam syi'ah ke 3, yaitu Al-Imam Husein bin Ali radhiallahu 'anhuma. ‼️ Peserta pawai hanya mengenakan celana atau sarung saja sedangkan badannya terbuka. Selama pawai, mereka memukul-mukul dada dan punggungnya dengan rantai besi sehingga meninggalkan luka memar yang mencolok. Kemudian, pada acara puncak, mereka mengenakan kain berwarna putih dan ikat kepala berwarna putih pula. Setelah itu, mereka menghantamkan pedang, pisau, atau benda tajam lainnya ke kepala dan dahi mereka sehingga darah pun bercucuran. Darah yang mengalir ke kain putih membuat suasana semakin haru dan duka, bahkan tak sedikit di antara mereka yang menangis histeris. Lebih parah lagi, di Lahore, kota terbesar kedua di Pakistan, orang-orang syi'ah menutup acara mereka itu dengan 'malam gembira' berupa mut'ah (baca; zina) masal. Na'audzu billahi min dzalik. Demikianlah gambaran ringkas tentang aktivitas syi'ah di bulan Muharram. Seperti yang telah kami sebutkan, tujuan utama mereka adalah untuk mengenang terbunuhnya Husein bin Ali radhiallahu 'anhuma. ➖➖➖➖ Para pembaca rahimakumullah, sebagai seorang muslim tentu kita juga sangat bersedih dengan peristiwa tragis nan menyayat hati yang menimpa cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itu. Namun, Islam melarang pemeluknya yang tertimpa musibah untuk berucap atau berbuat sesuatu yang menunjukkan ketidak-ridhaan kepada keputusan Allah, seperti, merobek baju, menampar pipi, menjambak rambut, menangis histeris, apalagi menyayat kepala dan dahi seperti yang dilakukan orang-orang syi'ah tersebut. Bandingkanlah kelakuan mereka itu dengan perbuatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan ahlul bait (keluarga) beliau. Ingatlah ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kehilangan putranya bernama Ibrahim. Tidak ada yang beliau lakukan selain berucap, ”Sesungguhnya air mata terus mengalir dan hati ikut bersedih, tetapi kami tidak akan berucap kecuali yang diridhai Allah. Dan sesungguhnya kami, wahai Ibrahim, merasakan kesedihan dengan kepergianmu” (HR. Al-Bukhari) Demikian pula ketika beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kehilangan seorang paman yang sangat beliau cintai, yaitu Hamzah bin Abdul Muttalib radhiallahu 'anhu. Tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau dan ahlul baitnya memukul punggung-punggung mereka dengan rantai apalagi menghantamkan benda tajam ke kepala dan dahi mereka. Tidak pula cara berkabung ’ala’ syi’ah tersebut dipraktekan oleh Imam Husein radhiallahu 'anhu ketika kehilangan ayahnya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu, yang juga mati syahid secara zhalim. Tidak pula dipraktekan oleh Hasan bin Ali radhiallahu 'anhu ketika kehilangan saudara kandungnya, yaitu Husein bin Ali radhiallahu 'anhu . Perbuatan nyeleneh seperti itu sengaja mereka (kaum muslimin) hindari karena tidak ingin mendapatkan ancaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang disebutkan dalam haditsnya: "Bukan dari golongan kami barang siapa yang menampar pipi, merobek baju, atau meratap dengan ratapan jahiliyah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu) Dalam hadits lain, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengancam para wanita peratap yang mati dan belum bertaubat, yaitu akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan pakaian dari tembaga meleleh yang berbau busuk. Penutup Para pembaca rahimakumullah, itulah fenomena yang terjadi di tengah-tengah umat seputar perbedaan menyikapi bulan Muharram. Sebagai seorang muslim seharusnya kita bisa membedakan antara syari'at dan adat. Syari'at harus dikedepankan, walaupun menyelisih adat. Sebaliknya, adat harus disingkirkan ketika menyelisihi syari'at, demikianlah Islam. Karena dengan sikap inilah Islam akan jaya. Adapun jika umat masih mengedepankan adat dan tradisi, walaupun bertentangan dengan syari'at, maka pada saat itulah mereka akan ditimpa kehinaan dan kerendahan, inilah makna hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي "Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi siapa saja yang menentang syari'atku." (HR. Al-Bukhari, dari shahabat Abdullah bin 'Umar radhiallahu 'anhuma) Semoga tulisan ringkas ini bisa memberikan tambahan ilmu bagi saudara-saudaraku seiman dan semoga Allah selalu mencurahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin ya Rabbal 'alamin... selesai ... Ditulis oleh: Abu Rufaidah (Admin Warisan Salaf) Tulisan ini pernah diterbitkan oleh Buletin Al Ilmu #fawaidumum #bulanmuharram #bulanislam 〰〰➰〰〰 Update Ilmu agama bersama Warisan Salaf di: Website I Telegram I Twitter I Google Plus I Youtube I SMS Tausiyah Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

BOBOLNYA BENTENG KOKOH NAHAWAND Panglima tertinggi ada di tangan Al fairu-zan yang bergelar Dzul Hajib. Sekian kelompok, kabilah, suku, dan kumpulan prajurit persia yang datang dengan latar belakang berbeda itu dipersatukan secara semu dibawah sebuah kesepakatan dan perjanj…

BOLEHKAH MENAHAN KENTUT KETIKA SHALAT? Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan: Bolehkah menahan kentut ketika shalat? Jawaban: Ya, Dia boleh menahannya jika kentut tekanannya ringan. Adapun jika kentut tekannya kuat, maka dia hentikan shalat. Karena jika kentut tekananya ringan, dia bisa menahan kentut tanpa memberatkannya ketika dia berada dalam shalatnya, maka tidak mengapa. Seperti kencing dan buang hajat jika ringan tekanannya, maka dia sempurnakan shalatnya. Namun jika menyibukkannya dalam shalat, hendaknya dia hentikan shalat. Hendaknya dia keluarkan kentut, kencing, dan buang hajat sehingga dia shalat dengan menghadirkan hati berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: لا صلاة بحضرة طعام ولا وهو يدافعه الأخبثان “Tidak ada shalat ketika makanan sudah dihidangkan atau sambil menahan dua hadats.” (HR. Ahamd, Muslim, dan Abu Daud) Dengan demikian kentut yang kuat tekanannya yang mengganggunya, hendaknya dia hentikan shalatnya http://www.binbaz.org.sa/noor/11682 http://bit.ly/Al-Ukhuwwah هل يجوز مدافعة الريح عند الصلاة؟ هل يجوز مدافعة الريح عند الصلاة؟ نعم له أن يدافعها إذا كانت خفيفة، أما إذا كانت شديدة يقطعها، أما إذا كانت خفيفة يمكن المدافعة بدون مشقة وهو في صلاته فلا بأس، كالبول والغائط إذا كان خفيفا يكمل صلاته، أما إذا كان يشغله في الصلاة يقطعها يخرج الريح والبول والغائط حتى يصلي بقلب حاضر، لقوله صلى الله عليه وسلم: (لا صلاة بحضرة الطعام ولا وهو يدافعه الأخبثان)، وهكذا الريح الشديدة التي تؤذيه يقطع.

BOBOLNYA BENTENG KOKOH NAHAWAND *Sulit membayangkan betapa syahdu medan jihad Nahawand siang itu. Andai ikut serta hadir, tangis pecah kita pasti terjadi bersamaan isak tangis prajurit-prajurit Muslim lainnya. Hati siapa yang tak bergetar hebat bila mendengar pesan terakhir sang panglima tertinggi yang ia rangkai dalam sebingkai do'a.Suntikan moril yang amat berharga*. Komando puncak dipegang An Nu'man bin Muqarrin radhiyallahu 'anhu atas pilihan kalifah Umar radhiyallahu 'anhu.Tetapi bukan itu yang menggetarkan.Pesan terakhir yang diikuti dengan pembuktian dan Allah Ta'ala yang mengabulkan itulah yang menggetarkan. Bahkan khalifah Umar radhiyallahu 'anhu pun turut menangis di atas mimbar kota Madinah, saat memberitahukan gugurnya An Nu'man radhiyallahu 'anhu. Cobalah anda ikut bersama saya untuk membayangkan dalam ruang berfikir.Suasana perang yang mencekam namun dihadapi dengan ketenangan.Sekira tiga puluh ribu prajurit berdiri tegak, di bawah terik matahari, sedang khusyu' mengikuti setiap huruf dalam kata dari panglima mereka.Iya,disana An Nu'man radhiyallahu 'anhu menyampaikan. "Segenap umat Islam! Aku berulang kali mengikuti perang di samping Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Kalau dipagi hari tidak memulai serangan, maka beliau menunda sampai pada saat matahari tergelincir ke arah barat untuk kemudian memulai pertempuran",An Nu'man radhiyallahu 'anhu memulai pidatonya. *Ma syaa Allah! Lihatlah betapa kukuh, taguh, dan gigihnya kaum sahabat dalam meneladani tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Sampaipun pilihan waktu untuk memulai pertempuran,mereka tidak akan tenang tanpa mencontoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam*.Disuasana genting, dalam kondisi menghadapi hidup mati,An Nu'man radhiyallahu 'anhu masih berusaha mengingatkan pasukannya kepada sosok Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian An Nu'man menjatuhkan instruksi.Takbir pertama, setiap personil telah bersiap dengan menunaikan hajat dan bersuci.Takbir kedua,setiap personil telah bersiap dengan senjata (perlengkapan) masing-masing.Takbir ketiga,serangan yang dilakukan secara serentak. *Setiap personil pasukan mendengarkan seksama kata-kata An Nu'man radhiyallahu 'anhu memanjatkan do'a "Allahummar zuq An Nu'maaan syahaadatan bi nashril Muslimin waftah 'alaihim". Seluruh pasukan meng-aminkan do'anya: Ya Allah berikan rezeki untuk An Nu'maaan berupa kematian syahid dengan memberikan pertolongan untuk umat Islam dan menangkanlah mereka*. Tiap-tiap personil prajurit bergetar saat An Nu'man berucap harapan untuk gugur.Tiap-tiap personil prajurit merasakan betapa tulusnya panglima mereka bertutur.Didalam hat kecil mereka, kata-kata tersebut bisa saja benar-benar menjadi kalimat perpisahan.Apalagi tidak sedikit prajurit yang terbawa lalu kemudian menangis. Bagaimana tidak menangis? Sudah sekian banyak momen perang yang mereka lewatkan bersama sang panglima.Suka duka-nya pertempuran mereka ukir bersama.Lalu mereka mendengarkan sebuah tekad untuk gugur sebagai syahid di hari itu.Bukankah hal itu cukup menjadi alasan mereka untuk menangis. Nahawand, Berangkali tidak semua orang pernah mendengar nama ini.Padahal sejarah perjuangan Islam sulit untuk tidak dikaitkan dengan Nahawand. Berjarak tiga hari perjalanan dari wilayah Hamadzan,Nahawand adalah sebuah kota ramai diatas dataran tinggi.Nahawand masuk dalam lingkup negeri Asbahan.Nahawand juga bisa disebut Nihawand (nun difathah atau dikasrah) . Seorang ahli geografi di zaman itu menjelaskan,"Nahawand letaknya pada iklim keempat. Panjangnya 72° dengan lebar 36°" Di puncak Nahawand terdapat sebuah benteng dengan bentuknya yang mengagumkan dan sangat tinggi. Didalam benteng tersebut terdapat kubur prajurit Islam yang gugur di awal sejarahnya. Nahawand dinilai staretegis oleh imperium persia kala itu. Menaklukkan Nahawand artinya telah menguasai Asbahan.Jika Asbahan di taklukkan, Kerajaan persia hanya tinggal menghitung hari kehancurannya. Oleh sebab itu, Umar bin khaththab radhiyallahu 'anhu menerima saran hurmuzan, seorang panglima persia yang masuk Islam. Menurut hurmuzan,"Asbahan ibaratnya kepala.persia dan azerbaijan adalah kedua sayapnya. Jika anda memotong kepala,dua sayap pasti jatuh. Jika anda memotong salah satu sayap,sayap yang lain akan bergabung dengan kepala" Selain kokoh sebagai batas pertahanan,sumber mata air nahawand dikenal dengan alirannya yang deras dan melimpah. Disana ada sejenis pohon yang tidak ditemukan pada tempat lain. Kayu pohon itu dibuat menjadi tongkat dengan kekuatan dan kualitas istimewa. Dibeberapa lokasi tepi sungai nahawand ditemukan tanah hitam sebagai bahan membuat perkakas berkualitas karena sangat hitam dan liat. Menurut Penduduk setempat,tanah tersebut di keluarkan kepiting-kepiting dari dasar sungai. Di atas gunung nawahand . ditemukan dua buah batu indah berbentuk ikan dan sapi jantan. Keduanya terbuat dari es dan tidak habis meleleh dimusim dengan maupun panas. Kini nahawand masuk dalam wilayah iran. Ibnu Katsir rahimahullah pakar sejarah Islam ternama,mendeskripsikan perang nahawand dengan jelas dalam Al Bidayah wan Nihayah, tepat pada sejarah di tahun 21H. Beliau menyebut perang nahawand dengan waq'atun 'adziimatun jiddan lahaa sya'nun rafii' wa naba-un 'ajiibun. Perang yang sangat dahsyat. Penuh cerita hebat dan kisah menakjubkan. Seperti itulah Ibnu katsir menyebut perang nahawand. Apa latar belakang meletusnya perang nahawand? Kesal,jengkel, dan dendam.itu menjadi faktor terbesar perang nahawand. Raja persia dari keluarga sasania,yaz-da-jird, tidak bisa menerima kekalahan demi kekalahan yang dialami oleh pasukannya. Berita kekalahan seolah mengalir tiada henti berdatangan ketelinganya dari berbagai medan tempur di wilayah persia. Bagaimana tidak kesal dan dendam ? Negeri demi negeri terus ditaklukkan pasukan Islam. Lebih mengesalkan lagi saat Al Madain, ibukota dan pusat pemerintahan persia,tidak dapat dipertahankan. Padahal di Al Madain, simbol-simbol kejayaan dan kekuasaan mereka ada disana,termasuk Al Qash-rul Abyadh (istana putih) . Al madain artinya kumpulan kota. Sebab setiap raja yang baru berkuasa,ia mesti membangun sebuah kota untuk dirinya sendiri dan berdampingan dengan kota sebelumnya. Yas-da-jird sekeluarga mundur teratur untuk bergabung bersama kaum loyalisnya. Dengan harta yang masih tersisa ,ia terus melakukan konsolidasi. Sampai akhirnya ia memilih asbahan sebagai pusat komando dan sentral kegiatan. Yas-da-jird bersurat kepada para pemimpin dan penguasa tiap-tiap negeri disekitar asbahan untuk bersatu dibawah kendalinya untuk menyerang kaum Muslimin. Rupanya Yas-da-jird masih mempunyai pengaruh,. Di samping sejarah besar dan lama kekuasaan keluarga sasania, yas-da-jird menggunakan uang untuk menggerakkan pasukan persia. Dari berbagai penjuru negeri,jumlah pasukan yang mampu ia kumpulkan disebut-sebut sebagai yang pertama dalam sejarah. Pasukan terbesar sepanjang sejarah itu berkumpul dan di pusatkan di nahawand. Bersambung Oleh : Al Ustadz Abu Nashim Mukhtar bin Rifa'i La firlaz Ditulis dari Majallah Qudwah, Edisi.28 🌈@LilHuda🌈 🔻🔻🔻🔻🔻 📬 Telegram Ahkam, Tanya jawab 📲 tlgrm.me/LilHuda

BOLEHKAH MENGINGKARI WANITA YANG TIDAK BERCADAR ? (Penjelasan Bolehnya Mengingkari Permasalahan Khilafiyah) Pertanyaan: Fadhilatusy Syaikh, apakah wanita yang membuka wajahnya wajib diingkari? Atau karena masalah ini (menutup wajah) adalah masalah khilafiyah, sedang masalah khilafi…

KELOMPOK ALI HASAN AL HALABY YANG DENGKI TERHADAP SALAFIYYIN DAN DAKWAH SALAFIYYAH Tulisan syaikh Abu 'Ammar 'Ali Al Hudzaify حفظه اللّٰه MUQODDIMAH A. 'Ali Hasan Abdul Hamid Al Halaby, berkewarganegaraan Yordania dan berasal dari keturunan orang-orang Palestina. B. Pada masa…

Kalimat-kalimat bijak Al-Imam Ahmad rahimahullah Sumber gambar: Pixabay Rasa takut telah membuatku tidak mampu makan dan minum. Jika aku mengingat kematian, seluruh urusan dunia terasa ringan bagiku. Dunia itu hanya sebatas makan dan minum, pakaian lalu pakaian. Dunia itu hanya …

Akhlak Para Ulama - Imam Ahmad Rahimahullah Dahulu Imam Ahmad berdoa di dalam sujudnya:  . "Ya Allah, barang siapa di dalam umat ini terdapat seseorang bukan di atas al haq dan Ia menyangka Ia sedang berada di atas al haq maka kembalikanlah Ia kepada Al haq" ! Berkata Yahya bin Main رحمه الله: aku tidak pernah melihat seorangpun yang semisal Imam Ahmad bin Hambal, kami menemaninya selama lima puluh tahun. Beliau tidak pernah merasa bangga atas kami dengan sesuatu yang ada pada dirinya dari kesalehan dan kebaikan, dan beliau mengatakan: "kita adalah kaum yang miskin". Berkata para Huffadz: kami melihat Imam Ahmad turun menuju pasar Baghdad, lalu beliau membeli seikat kayu bakar dan beliau meletakkannya di atas pundaknya, tatkala manusia mengenalinya maka para pedagang dan pemilik toko meninggalkan dagangan dan toko mereka, orang-orang yang sedang lewat diberhentikan di jalan-jalan mereka, mereka mengucapkan salam atas beliau dan mereka mengatakan: "kami pikul darimu kayu bakar itu", maka beliau pun menggoyangkan tangannya dan wajahnya memerah, kedua matanya meneteskan air mata, dan beliau mengatakan: kita adalah kaum yang miskin, sekiranya Allah tidak menutup aib kita niscaya kita akan terbeberkan aib kita. Ada seseorang datang untuk memberikan pujian kepada Imam Ahmad, lalu Imam Ahmad mengatakan kepadanya: "Aku bersaksi kepada Allah sungguh aku murka kepadamu di dalam ucapan ini (karena pujian), demi Allah seandainya engkau mengetahui apa yang ada padaku berupa dosa dan kesalahan niscaya engkau taburkan tanah di atas kepalaku. Dan beliau رحمه الله mengatakan: "Duhai kiranya aku tidak mengenal popularitas ini, duhai kiranya aku berada di lereng dari lereng-lereng Mekkah niscaya manusia tidak mengenaliku". Al_hilyah, oleh Abu Nuaim (9/181) ▪️أخلاق الأكابر الكبار كان الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله تعالى يقول في سجوده : "اللهم من كان في هذه الأمة علىٰ غير الحق، ويظن أنه علىٰ الحق فردّه إلى الحق"! • قال يحيى ﺑﻦ ﻣﻌﻴﻦ: ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﺜﻞ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ، ﺻﺤﺒﻨﺎﻩ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺳﻨﺔ ... لم يفتخر ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻭ ﺍﻟﺨﻴﺮ ... ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ: ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ. • ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ: ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ أﺣﻤﺪ ﻧﺰﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻮﻕ ﺑﻐﺪﺍﺩ، ﻓاﺷﺘﺮﻯ ﺣﺰﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻄﺐ، ﻭﺟﻌﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﻔﻪ، ﻓﻠﻤﺎ ﻋﺮﻓﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﺗﺮﻙ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺘﺎﺟﺮ ﻣﺘﺎﺟﺮﻫﻢ، ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻛﺎﻛﻴﻦ ﺩﻛﺎﻛﻴﻨﻬﻢ، ﻭﺗﻮﻗﻒ ﺍﻟﻤﺎﺭﺓ ﻓﻲ ﻃﺮﻗﻬﻢ، ﻳﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ: ﻧﺤﻤﻞ ﻋﻨﻚ ﺍﻟﺤﻄﺐ، ﻓﻬز ﻳﺪﻩ، واﺣﻤﺮ ﻭﺟﻬﻪ، ﻭﺩﻣﻌﺖ ﻋﻴﻨﺎﻩ ﻭﻗﺎﻝ: ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ، ﻟﻮﻻ ﺳﺘﺮ الله ﻻﻓﺘﻀﺤﻨﺎ. • ﺃﺗﻰ ﺭﺟﻞ ﻟﻴﻤﺪﺡ ﺍﻹﻣﺎﻡ أﺣﻤﺪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ أﺣﻤﺪ : ﺃﺷﻬﺪ الله ﺇﻧﻲ ﺃﻣﻘﺘﻚ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ، والله ﻟﻮ ﻋﻠﻤﺖ ﻣﺎ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻭﺍﻟﺨﻄﺎﻳﺎ ﻟﺤﺜﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻲ ﺑﺎﻟﺘﺮﺍﺏ. • ﻭﻛﺎﻥ رحمه الله ﻳﻘﻮﻝ: ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﺍﻟﺸﻬﺮﺓ، ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻓﻲ ﺷﻌﺐ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺏ ﻣﻜﺔ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﻨﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ. 🔺اﻟﺤﻠﻴﺔ لأبي نعيم (٩/١٨١) Sumber : http://tlgrm.me/salafykolaka

BARANG SIAPA SHALAT JUMAT MAKA JANGAN DIA MENYAMBUNGNYA DENGAN SHALAT HINGGA DIA BERBICARA ATAU KELUAR Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan: Saya ingin penjelasan hadits ini, dari as Saib bin Yazid bahwasannya Muawiyah berkata: jika engkau shalat Jumat maka…

 .4 KELOMPOK MANUSIA Silsilah Tafsir Ayat Pilihan Allah Ta'ala berfirman: (تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ)* [سورة القصص 83] _"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-…

WAHAI AHLUS SUNNAH ... MARI MENDOAKAN KEBAIKAN UNTUK PEMERINTAH MUSLIMIN asy-Syaikh al-'Allamah 'Abdul 'Aziz bin Baz rahimahullah, "Termasuk nasehat : mendoakan kebaikan untuk pemerintah agar mendapatkan taufiq dan hidayah, kebaikan niat, amal, serta kebaikan teman-teman dekat. Karena d…