Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya


Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, الالتفات في الصلاة من غير حاجة مكروه، لقول النبي ﷺ لما سئل عن الالتفات في الصلاة قال: هو اختلاس يختلسه الشيطان من صلاة العبد. خرجه البخاري في الصحيح، فدل على كراهة الالتفات من دون عذر، وهو الالتفات بالرأس الموقع الرسمي لسماحة الشيخ بن باز رحمه “Menengok ketika shalat tanpa […]

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَالَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا “Permisalan seorang mukmin yang membaca (mempelajari) al-Qur’an seperti buah limau: enak rasanya dan harum baunya. Permisalan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an seperti buah kurma: enak […]

Hadits Aziz dan Masyhur Matan al-Baiquniyyah: عَزِيزُ مَرْوِي اثْنَيْنِ أوْ ثَلاَثَهْ ... مَشْهُورُ مَرْوِي فَوْقَ مَا ثَلَاثَهْ Aziz adalah yang diriwayatkan 2 orang atau 3...sedangkan masyhur adalah yang diriwayatkan lebih dari 3 orang (tiap tingkatan)(Mandzhumah al-Baiquniyyah) Definisi Hadits Aziz dan Masyhur Penjelasan: Dalam pengelompokan hadits berdasarkan jumlah perawi pada tiap tingkatannya, terkhusus definisi aziz dan masyhur, ada perbedaan pendapat Ulama, yaitu : Pendapat Pertama: Aziz adalah tiap tingkatan jumlah perawinya minimal 2 atau 3. Sedangkan Masyhur adalah tiap tingkatan jumlah perawinya lebih dari 3 namun belum sampai derajat mutawatir. . Ini adalah pendapat dari Ibnu Mandah, Ibnus Sholah, dan al-Baiquniy. Pendapat Kedua: Aziz adalah tiap tingkatan jumlah perawinya minimal 2. Sedangkan Masyhur adalah tiap tingkatan perawinya minimal 3, namun belum sampai derajat mutawatir. Ini adalah pendapat al-Hafidz Ibnu Hajar dan as-Sakhowiy. Makna Aziz Secara Bahasa Aziz secara bahasa bisa bermakna sulit atau kuat. Sulit, jika dilihat bahwa hadits Aziz keberadaannya sedikit. Hampir sulit didapatkan. Disebut juga kuat karena ia memiliki lebih dari satu jalur periwayatan, sehingga bisa menguatkan (disarikan dari Fathul Mughits karya as-Sakhowiy). Dalam al-Quran, Allah Ta’ala berfirman: إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ Ketika Kami mengutus kepada mereka 2 Rasul, tetapi mereka mendustakannya. Kemudian kami kuatkan dengan Rasul yang ketiga dan mereka (para Rasul) berkata: Sesungguhnya kami diutus kepada kalian (Q.S Yaasin ayat 14) Contoh Hadits Aziz Dalam kitab Nuzhatun Nadzhor fii Tawdhiihi Nukhbatil Fikar, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaaniy rahimahullah menyebutkan contoh hadits Aziz adalah hadits berikut: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ Tidaklah (sempurna) iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintai olehnya dibandingkan orangtuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya (H.R al-Bukhari, Muslim, anNasaai, Ibnu Majah) Orang yang meriwayatkan hadits ini dari Nabi adalah 2 orang Sahabat, yaitu Abu Hurairah dan Anas bin Malik. Sedangkan yang meriwayatkan dari Anas bin Malik ada 2 orang, yaitu Qotadah dan Abdul Aziz bin Shuhaib. Syuaibah dan Said meriwayatkan dari Qotadah. Sedangkan Ismail bin Ulayyah dan Abdul Warits bin Said meriwayatkan dari Abdul Aziz bin Shuhaib. Definisi Masyhur Selain Istilah Ulama Hadits Masyhur juga bisa bermakna hadits yang sudah banyak dinukil di kalangan orang awam, meski tidak jelas sanad atau keshahihannya. Al-Imam as-Sakhowiy meneliti hadits-hadits yang banyak tersebar dinukil oleh orang-orang, dalam kitab beliau berjudul: الْمَقَاصِدُ الْحَسَنَةُ فِي بَيَانِ كَثِيْرٍ مِنَ اْلأَحَادِيْثِ الْمُشْتَهَرَةِ عَلَى الْأَلْسِنَةِ Yang artinya, “Maksud yang baik dalam menjelaskan kebanyakan hadits-hadits masyhur (yang banyak ternukil) oleh lisan. Perbedaan Ahlussunnah dan Mu’tazilah dalam Menyikapi Hadits Aziz Menurut Ahlussunnah, suatu hadits meski tidak sampai pada taraf aziz, jika terpenuhi syarat sebagai hadits shahih, bisa diterima dan diamalkan. Sehingga suatu hadits yang gharib pun, namun shahih, bisa diterima sebagai hujjah. Sedangkan menurut Mu’tazilah – salah satu kelompok yang menyimpang-, seperti Abu Ali al-Jubba-iy, hadits yang bisa diterima minimal pada derajat Aziz. Mereka berdalil dengan peristiwa saat Umar tidak menerima hadits dari Abu Musa al-Asy’ariy tentang meminta izin sebanyak 3 kali. Umar meminta Abu Musa untuk mencari orang lain sebagai saksi yang mendengar hadits tersebut dari Nabi. Hingga yang menjadi saksi adalah Abu Said al-Khudriy. Bantahan terhadap pendapat Mu’tazilah ini adalah sebagai berikut: Pertama: Kaidah tersebut bertentangan dengan metode Ulama Hadits seperti al-Bukhari dan Muslim. Contohnya, hadits Innamal A’maalu bin Niyaat dan Hadits 2 Kalimat yang Ringan Tapi Berat di Timbangan. Kedua hadits itu tidak masuk dalam kategori aziz, namun diterima dan dimasukkan oleh al-Bukhari maupun Muslim dalam kitab Shahih keduanya. Kedua: Dalam kasus yang disampaikan tersebut, Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu tidaklah menuduh dan meragukan ketsiqohan Abu Musa. Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu menyatakan: أَمَا إِنِّي لَمْ أَتَّهِمْكَ وَلَكِنْ خَشِيتُ أَنْ يَتَقَوَّلَ النَّاسُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Sesungguhnya aku tidaklah menuduh engkau. Namun aku khawatir orang-orang akan bermudah-mudahan berdusta atas nama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam (H.R Malik dan Abu Dawud) Hal itu menunjukkan bahwa pada dasarnya Umar menerima hal itu secara pribadi, namun beliau ingin memberi pelajaran kepada orang lain agar tidak bermudah-mudahan mengaku mendengar suatu hadits dari Nabi padahal tidak demikian. Ketiga: Pada kejadian lain, terbukti Umar menerima hadits dari satu orang. Seperti hadits dari Abdurrahman bin Auf bahwa jika terjangkit wabah pada suatu tempat jangan memasukinya. Jika kita telah berada di dalamnya jangan keluar dalam rangka lari darinya (H.R al-Bukhari dan Muslim). فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَكَانَ مُتَغَيِّبًا فِي بَعْضِ حَاجَتِهِ فَقَالَ إِنَّ عِنْدِي فِي هَذَا عِلْمًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ قَالَ فَحَمِدَ اللَّهَ عُمَرُ ثُمَّ انْصَرَفَ Kemudian Abdurrahman bin Auf datang, setelah sebelumnya beliau pergi karena suatu keperluannya. Abdurrahman bin Auf berkata: Saya memiliki ilmu tentang hal ini. Saya mendengar Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Jika kalian mendengar wabah itu terjangkit pada suatu tempat, janganlah pergi menuju ke tempat itu. Jika ia menimpa suatu tempat saat kalian berada di dalamnya, janganlah keluar dalam rangka lari darinya. Kemudian Umar memuji Allah dan pergi (H.R al-Bukhari dan Muslim). Umar juga bergantian giliran dengan tetangganya, seorang Sahabat Anshar untuk mendengar hadits Nabi. Tetangganya itu hanya satu orang saja. Jika tiba giliran tetangganya itu mendatangi majelis Nabi, yang Umar tidak hadir, Sahabat Anshar itu nantinya saat pulang akan menceritakan hadits yang didengarnya dari Nabi. Begitulah mereka bergantian. Umar tidak menyuruh seorang tetangganya itu untuk mendatangkan saksi satu orang lain. Umar menerima penyampaian hadits dari satu orang tetangganya tersebut. Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu berkata: وَكَانَ لِي جَارٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا فَيَأْتِينِي بِخَبَرِ الْوَحْيِ وَغَيْرِهِ وَآتِيهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ Aku memiliki tetangga orang Anshar. Kami bergantian datang ke (majelis) Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Ia yang datang di suatu hari, hari kemudian adalah giliranku. (Demikian bergiliran tiap hari). Ia akan menyampaikan kepadaku khabar tentang wahyu dan selainnya, aku pun (pada giliranku) akan menyampaikan seperti itu kepadanya (H.R Muslim) (dikutip dari naskah buku "MUDAH MEMAHAMI ILMU MUSTHOLAH HADITS (Syarah Mandzhumah al-Baiquniyyah, Abu Utsman Kharisman) WA al I'tishom


Al ‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin semoga Allah merahmatinya mengatakan, قال العلامة ابن عثيمين عليه رحمة رب العالمين, وتغيرات القلب تغيرات سريعة وعجيبة ، ربما ينتقل من كفر إلى إيمان ، أو من إيمان إلى كفر في لحظة نسأل الله الثبات تفسير سورة الحديد ( ٣٧٣/١ ) “Perubahan yang terjadi pada kalbu adalah perubahan yang sangat cepat […]

LAHIRNYA SANG UTUSAN Al-Ustadz Idral Harits Thalib Abrar حفظه الله تعالى Kisah Kelahiran Nabi Muhammad Berita kematian Abdullah pun sampai juga ke telinga istrinya yang sedang mengandung, Aminah bintu Wahb. Abdul Muththalib, sang kakek, juga sangat terpukul mendengar berita te…


??? BERSYUKUR DENGAN MEMBUAT MAKANAN KARENA TELAH DIKHITAN ✍ Dewan Riset Ilmu dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi : ✅ Gembira dan senang karena telah dikhitan adalah perkara yang dituntut secara syariat. Karena khitan termasuk perkara yang disyariatkan. Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman : قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ Katakanlah (Nabi […]


??? KEBERSAMAAN SETAN DENGAN SESEORANG ✍ Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata : ✅ Kebersamaan setan dengan seseorang ada dua macam : 1⃣ Kebersamaan secara langsung, yaitu ketika mengerjakan kemaksiatan. 2⃣ Kebersamaan dengan makna pengawasan, yaitu kebersamaan secara umum. Setan selalu mengawasi korbannya. Ketika ia lalai, maka setan segera menyerangnya, ia memerintahkan orang tersebut […]


? EMAS DI SURGA BERBEDA DENGAN EMAS DI DUNIA ✍ Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: ☝Akan tetapi, jangan kalian mengira bahwa emas yang ada di dalam surga sama seperti emas yang ada di dunia, karena sangat berbeda jauh antara keduanya. ✅Allah ta’ala berfirman di dalam hadits qudsi: “Aku telah mempersiapkan untuk hamba-hambaku yang sholeh apa […]

Soal: Bismillah, afwan mau tanya apa hukum membaca ayat kursi ketika hendak tidur tanpa wudhu Jawab: Membaca Ayat Kursi sebelum tidur disunnahkan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah dalam shahih Al Bukhori. Demikian pula berwudhu sebelum tidur salah satu adab dari adab yang diajarkan Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam. Seandainya anda lakukan keduanya maka sungguhlah anda telah […]

Beliau adalah seorang sahabiyah yang mulia. Namun, keadaannya sebagai seorang manusia biasa tak lepas dari kesalahan dan kekeliruan. Meski demikian, kemuliaannya yang besar sebagai seorang sahabiyah menelan habis sedikit kesalahan yang pernah dia lakukan. Terlebih, kesalahan itu membuahkan hikmah yang amat besar. Satu per satu manusia menerima seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk beriman kepada […]

PENJAGAAN DIRI DARI SYAHWAT Pembagian Penjagaan Diri Yang Pertama  .Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah berkata : Penjagaan diri ada dua jenis, yaitu penjagaan diri dari dorongan syahwat kemaluan dan penjagaan diri dari dorongan syahwat perut. Adapun penjagaan diri…


Syaikh bin Baz rahimahullah, الجواب: إذا كان المقصود شكر الله جل وعلا على نعمته فيدعو إخوانه وأحبابه وجيرانه فلا بأس. أما إن كان عن اعتقاد أنه يذبح من أجل الجن أو من أجل خوف الجن فهذا لا يجوز الموقع الرسمي لسماحة الشيخ بن باز رحمه الله “Apabila tujuannya adalah dalam rangka bersyukur kepada Allah ta’ala […]