Artikel Islami

Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Adab / Cara Buang Ludah / Dahak Ketika Shalat
Atsar.id
Atsar.id

Adab / Cara Buang Ludah / Dahak Ketika Shalat

ADAB BUANG LUDAH ATAU DAHAK DALAM SHOLAT Berikut ini bimbingan syariat dalam membuang ludah atau dahak ketika sedang sholat. Adab Pertama: Tidak boleh membuang ludah atau dahak tersebut ke arah kiblat atau sebelah kanan. Adab Kedua: Hendaklah Ia membuang ludah atau dahak ke bawah kaki kirinya, baju sebelah kiri, atau selendangnya. Dua hal ini berdasarkan hadits &nbsp.Jabir bin Abdillah  rodhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلاَ يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلاَ عَنْ يَمِيْنِهِ. وَلِيَبْصُقْ عَنْ يَسَـارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى، فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هكَذَا. ثُمَّ طَوَى ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ. ”Sesungguhnya salah seorang di antara kalian; apabila sedang berdiri mengerjakan sholat; Allah -tabaroka wata’ala- ada di hadapannya. Oleh karena itu, Janganlah ia meludah ke depan (ke arah kiblat, pen.) atau ke sebelah kanannya. Hendaklah ia meludah ke sebelah kiri; di bawah kaki kirinya. Apabila ia harus segera mengeluarkannya, hendaklah ia tumpahkan ke atas bajunya seperti ini.” Kemudian beliau melipat bajunya, bagian yang bersih menutupi bagian yang lain (yang terkena ludahnya, pen). [ HR Muslim no.3008 dan Abu Dawud no.485 ] Derajat Hadits: Shohih. Di dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, Disebutkan; “Beliau meludah pada ujung selempangnya (📌) , kemudian menggosok bagian yang satu (yang kotor terkena ludah, pen) dengan bagian yang lain (yang bersih, pen).” [ HR. Ahmad no. 13066 dan Al-Bukhori no.405 ] Derajat Hadits: Shohih. (📌) Selempang adalah suatu kain yang disandangkan di bahu, bisa di sebelah kanan atau sebelah kiri. Adab Ketiga: Membersihkan ludah atau dahak yang mengenai lantai masjid atau bagian lainnya. Jika lantai masjid dari tanah maka dengan menguburnya. Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu , bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: «البُزَاقُ فِي المَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا» ”Meludah di dalam masjid adalah sebuah dosa, penghapusnya adalah; (dengan) menguburnya.” 📚 [ HR. Al-Bukhori no.415, Muslim no. 552-(55), dan Abu Dawud no.474. ] Derajat Hadits: Shohih. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani  rohimahullah menukilkan penjelasan Ibnu Abi Jamroh; “Mengapa dikubur bukan ditutupi (atau ditimbuni sesuatu)?”, Alasannya: ”Karena dengan sekadar menutupi masih belum menjadikan ludah itu aman bagi orang yang duduk di atasnya; karena masih bisa mengganggu. Lain halnya dengan mengubur. Sehingga dari lafadz itu ipahami; bahwa ludah dikubur di bawah tanah.” (selesai). [ Lihat Fathul Bari (1/513) ] Wallahu a’lamu bisshowab  (AH) #Fikih #Ludah #Dahak #Sholat https://pixabay.com/en/drip-water-drop-of-water-close-351619/ Sumber: YOOK NGAJI YANG ILMIAH (Memfasilitasi Kajian Islam secara Ilmiah) 🌐🔻 Blog: https://Yookngaji.blogspot.com 🚀🌐🔻 Gabung Saluran Telegram: https://t.me/yookngaji

Fiqih
Feb 20, 20173 min read
Ayo, Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?
Atsar.id
Atsar.id

Ayo, Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?

Ayo, Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi? Sungguh menyedihkan, pemandangan yang penulis temui malam itu. Sekian banyak penumpang bus hanya satu dua orang saja tergerak menuju ke mushalla untuk menjalankan kewajiban shalat. Yang lainnya, ada yang sibuk menelepon, makan malam atau tak sedikit sekadar nongkrong sambil merokok menunggu bus melanjutkan perjalanan. Saya yakin sebagian besar penumpang adalah kaum muslimin. Yakin pula bahwa mereka pasti sudah tahu kewajiban shalat lima waktu. Sobat muda, kenyataan ini rupanya bukan hanya terjadi pada para penumpang bus malam. Bahkan, inilah gambaran umum yang biasa kita jumpai di sekitar kita. Demikianlah realita kaum muslimin di masa ini. Ribuan mushalla serta masjid, tidak sedikit yang megah di antaranya, begitu lenggang dan sepi dari kaum muslimin. Walaupun pada saat jam shalat. Terlebih waktu shalat subuh, dhuhur, dan Ashar. Ironis memang, di waktu waktu shalat, justru kaum muslimin begitu padat dan ramai di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Tempat ibadah hanyalah sebagai simbol, atau berfungsi waktu-waktu tertentu yang sangat jarang. Selebihnya, ia adalah tempat orang-orang khusus saja. Adzan, sekedar penanda waktu bangun tidur, makan siang, atau selesainya jam kerja. Sobat muda, seandainya kewajiban Allah yang merupakan rukun Islam saja banyak yang telah meninggalkannya, bagaimana pula dengan kewajiban lainnya? Dimanakah pelaksanaan sunah-sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? Alangkah jauhnya kaum muslimin kewajiban agama mereka. mengejar bunga kehidupan dunia kewajiban dilalaikan. Larangan Allah pun dilanggar. Sinar Islam pun tertutupi maksiat oleh para pemeluknya. Hidayah dan pembelanya seakan tenggelam di kegelapan dosa. Kaum tua dihantui oleh kecintaan terhadap dunia. Yang muda dikerumuni godaan syahwat. Hanya kepada Allah kita mohon pertolongan. Kaca Mata Sumber:&nbsp.https://pixabay.com/en/glasses-reading-eyeglasses-eyewear-983947/ Singsingkan Lengan Baju! Ya kita hidup dalam kenyataan ini. Agar Islam tidak hilang dari tengah kita, harus ada yang segera merubahnya. Kalau bukan kita, siapa lagi? Mengikuti arus kebanyakan pemuda yang hanya tahu musik, lirik, dan lagu masa ini hanyalah sebuah kesia-siaan. Tidak akan menyelamatkan kita dari murka Allah. Hanya sibuk memikirkan kesuksesan dunia yang menipu, bukan jalan keluar bagi kesuksesan hidup yang sebenarnya. Atau kita hanya bisa berdiam diri tanpa mau merubah buruknya diri. Sobat muda, Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum, sampai kaum itu sendiri yang mau merubah dirinya sendiri." (Q.S.  Ar Ra'du:11]. Dalam penggalan ayat yang mulia ini Allah subhanahu wa ta'ala mengumumkan bahwa perubahan keadaan pada suatu kaum tidak datang dengan sendirinya. Namun, perubahan tersebut membutuhkan usaha dari kaum itu sendiri, sampai nanti Allah akan menakdirkan perubahan itu terjadi. Sobat muda demikian pula dalam hal perbaikan kaum muslimin. Mereka sendirilah yang harus berusaha merubahnya. Di sinilah nilai usaha seorang muslim. Semakin kuat tekad dan usahanya dalam memperbaiki keadaan dirinya, akan semakin besar pula pahalanya. Bila dahulu waktu berlalu pada suatu yang tidak bermanfaat, cobalah mulai sisipkan kegiatan yang bernilai ibadah. Nah sobat muda,  kalau bukan kita siapa lagi?!  Kalau tidak sekarang kapan lagi?! Baca: Akhirnya Ku Temukan Manhaj Salaf   (klik) PEMUDA HARAPAN AGAMA PEMUDA TAHU AGAMA Generasi penerus tongkat estafet dari generasi tua. Kepada merekalah pula diharapkan berbagai kebaikan dan kemajuan. Sebagai generasi muda Islam, kita juga menjadi harapan buat keberlangsungan agama. Minimalnya pada diri kita. Oleh karenanya, kita butuh bekal untuk menghadapi tantangan ini. Bekal itu adalah ilmu agama. Oleh karena itu kita diwajibkan belajar ilmu agama. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya "Menuntut ilmu (agama) wajib atas setiap muslim."  (H.R. Ibnu Majah dari shahabat Anas bin Malik dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib) Lihatlah pula pemuda teladan dari kalangan shahabat, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu. Betapa beliau menjadi sumber rujukan kaum muslimin di umur yang masih belia. Beliau awali masa muda dengan dalam mencari ilmu bersungguh-sungguh. Abdullah bin Abbas pernah bercerita, "Ketika Rasulullah wafat, aku mengajak seseorang dari Anshar,  Mari,  kita bertanya kepada para shahabat Rasulullah mumpung sekarang mereka masih banyak.' "Sungguh mengherankan engkau ini wahai Ibnu Abbas!  Apakah engkau merasa bahwa kaum muslimin butuh kepadamu?  Sedangkan di tengah-tengah mereka para shahabat Rasulullah" Jawabnya. "Aku pun tinggalkan orang tersebut. Aku mulai fokus bertanya kepada para shahabat Rasulullah tentang hadits." Pernah ada sebuah hadits sampai kepadaku melalui perantara seseorang (shahabat yang lain). Aku mendatanginya. Tibalah aku depan pintunya. Sementara sedang tidur siang. Maka tidur berbantal kainku depan pintunya. menerbangkan pasir menimpaku.Ketika orang tersebut keluar dan melihatku, ia terkejut, Wahai anak paman Rasulullah! Untuk keperluan apa anda kesini? Tidakkah engkau utus seseorang agar aku yang mendatangi anda?' Aku menjawab, Tidak. Aku yang lebih berhak untuk mendatanginmu. Aku bertanya hadits kepadanya. Ketika orang Anshar tersebut melihat orang-orang berkumpu lmengelilingiku untuk bertanya tentang urusan agama, mengatakan, "Sejak dulu ia lebih cerdas dariku.' [At Thabaqat Kubra,  karya Ibnu Saad rahimahullah] Usia muda adalah masa keemasan. Apa yang dipelajari dan dialami pada masa ini akan membekas kelak di masa dewasa. Tak heran bila di kalangan pendahulu kita yang shalih, banyak kita dapati tokoh tokoh besar yang kokoh ilmunya dalam usia yang masih muda. Hal ini karena mereka awali usaha menuntut ilmu dalam usia yang masih belia. Dari kalangan shahabat, ada Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Anas Malik, dan banyak lagi, radhiyallahu 'anhum. Kalangan setelah mereka, ada Sufyan Ats Tsauri, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafii, Al-Imam Ahmad, dan yang lainnya rahimahullah. Begitulah memang. Dari sejarah kehidupan mereka kita melihat, mereka telah sibuk dengan ilmu dan adab semenjak muda. Dengan pertolongan Allah 'azza wa jalla, jadilah apa yang mereka pelajari tertanam dalam diri dan memberikan pengaruh terhadap pribadi. Bahkan, meluas kepada masyarakat, sampai saat ini. Nah sobat muda, ayo belajar agama! Ayo menjadi pemuda harapan agama! Ayo berlomba mencari keridhaan dan kecintaan Allah. Dan ayo,  kalau bukan kita siapa lagi!? Penulis: Ustadz Hammam Majalah Tashfiyah Edisi 27 Vol.03 1434-2013

dakwah
Feb 18, 20176 min read
Islam Membenci Pengangguran
Atsar.id
Atsar.id

Islam Membenci Pengangguran

KURANG KERJAAN MERUPAKAN SUMBER PENYAKIT Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah berkata, Sungguh, di antara sebab utama munculnya prilaku menyimpang pada generasi muda adalah tidak adanya aktifitas dalam kesehariannya. Kosong dari kegiatan bermanfaat merupakan penyakit berbahaya bagi pikiran, akal dan kecakapan seseorang. Jiwa ini harus memiliki aktifitas dan pekerjaan. Apabila jiwa tidak ada kerjaan yang dilakukan, maka pikiran menjadi ngelantur, akal menjadi lemah, dan malas beramal. Pada akhirnya, hati selalu diselimuti rasa cemas dan muncul lah pikiran-pikiran yang negatif. Obat semua itu adalah berupaya sekuat tenaga untuk berbuat apa saja yang pas baginya, baik menyibukkan diri dengan membaca, atau berdagang, atau pekerjaan lainnya yang membuatnya tidak menganggur. Sumber: Min Musykilatis Syabab, hal.14-15 Diterjemahkan oleh: al Ustadz Abdul Wahid bin Faiz at Tamimi #Fawaidumum #akhlak Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Channel kami https://bit.ly/warisansalaf Situs Resmi http://www.warisansalaf.com MUNGKIN INI ALASAN MENGAPA KITA MALAS ORANG YANG PALING BANYAK HISABNYA Mu’awiyyah bin Qurrah rahimahullah berkata: أكثر الناس حسابا يوم القيامة الصحيح الفارغ. "Manusia yang paling banyak hisabnya pada hari kiamat nanti adalah orang sehat yang banyak menganggur (tidak menggunakan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat di dunia atau di akhirat)." Iqtidhaul 'Ilmil 'Amal, hlm. 103 Sumber || https://twitter.com/channel_moh/status/821871983973568512 WhatsApp Salafy Indonesia Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy BOSAN MENUNTUT ILMU? COBA BACA NASEHAT INI ! ISLAM MEMBENCI PENGANGGURAN DAN KEMALASAN&nbsp. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata: ﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻳﻀﺮﺏ ﻣﻦ ﻭﺟﺪﻩ ﻗﺎﻋﺪﺍً ﻳﻀﺮﺑﻪ ﺑﺎﻟﺪﺭﺓ ﻭﻳﺄﻣﺮﻩ ﺑﺎﻟﻜﺴﺐ ﻭﻃﻠﺐ ﺍﻟﺮﺯﻕ. "Dahulu Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu biasa memukul orang yang beliau jumpai menganggur, beliau memukulnya dengan cambuk dan menyuruhnya agar berusaha dan mencari rezeki." Sumber || http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13265 WhatsApp Salafy Indonesia Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

Kata Mutiara
Feb 15, 20172 min read
«»
HomeRadioArtikelPodcast