Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

HUKUM TUKAR CINCIN TUNANGAN DALAM ISLAM Tukar cincin sudah biasa kita saksikan di saat-saat pernikahan, saat tunangan atau lamaran. Padahal kalau kita mau melihat asal muasal budaya ini, tidaklah lain merupakan budaya orang-orang kafir yang masuk ketengah-tengah kaum muslimin. Ini merupakan salah s…

FIQIH SHALAT SUNNAH SEBELUM DAN SESUDAH SHALAT FARDHU Shalat-shalat sunnah yang dikerjakan sebelum dan setelah shalat fardhu adalah sebagai berikut: 1. SUNNAH RAWATIB Shalat sunnah rawatib adalah shalat yang dilakukan sebelum dan setelah shalat fardhu, jumlahnya 12 raka’at, yaitu: ➖ Empat raka'at sebelum dzuhur (salam setiap dua raka’at). ➖ Dua raka'at setelah zhuhur ➖ Dua raka'at setelah maghrib ➖ Dua raka'at setelah Isya' ➖ Dua raka'at sebelum shalat shubuh. Dalil yang menunjukkan shalat sunnah rawatib sebelum zhuhur 4 raka’at adalah sebagai berikut, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الغَدَاةِ “Bahsawanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan shalat empat raka’at sebelum zhuhur dan dua raka’at sebelum subuh.”  .(HR. Al Bukhari no.1182) أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا لَمْ يُصَلِّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ صَلَّاهُنَّ بَعْدَهَا “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila belum shalat empat raka’at sebelum zhuhur, beliau mengerjakannya setelah zhuhur.” (HR. Tirmidzi no.426, hadits ini dihasankan Syaikh al Albani) Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baaz (11/380) WAKTUNYA Waktu shalat rawatib mengikuti waktu shalat fardhu. Sunnah qobliyah dilakukan sejak masuknya waktu shalat hingga shalat fardhu dikerjakan, dan sunnah ba’diyah dikerjakan setelah shalat fardhu hingga akhir waktu shalat. Lihat Fatawa Arkanil Islam (hal.357) MENGERJAKAN SUNNAH RAWATIB DI LUAR WAKTU Tidak boleh mengerjakan shalat rawatib diluar waktu yang telah ditentukan. 🚫 Apabila seseorang melakukannya maka shalatnya tidak akan diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena ibadah yang telah ditentukan waktu pelaksanaannya, apabila dikerjakan di luar waktunya tanpa udzur maka tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah. Lihat Fatawa Arkanil Islam (hal.358) MENGAQADHA’ SUNNAH RAWATIB Boleh mengerjakan (qadha’) shalat sunnah qobliyah setelah shalat fardhu jika ada udzur. Sebagaimana dahulu Rasulullah Shallalalhu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakan sunnah qobliyah zhuhur setelah shalat zhuhur. Adapun jika tidak ada udzur maka tidak boleh. Termasuk dalam kategori udzur adalah waktu shalat yang sempit, hanya cukup untuk berwudhu’ dan shalat fardhu saja; seperti seseorang yang baru pulang dari safar atau baru sembuh dari sakit. Maka cara pelaksanaannya adalah mendahulukan sunnah ba’diyah dua raka’at kemudian salam, setelah itu sunnah qobliyah (yaitu: yang dikerjakan lebih dahulu adalah sunnah ba’diyah). Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibni Utsaimin (14/278-280) MENGQADHA’ SUNNAH RAWATIB PADA WAKTU TERLARANG Waktu terlarang yang dimaksud pada bab ini adalah: ➖ Setelah shalat shubuh ➖ Ketika matahari terbit hingga 15 menit kemudian, ➖ dan setelah ashar hingga matahari terbenam sempurna. Menurut pendapat yang kuat, mengaqadha’ sunnah rawatib boleh dilakukan pada waktu-waktu terlarang. Sehingga boleh mengerjakan sunnah qobliyah shubuh setelah shalat shubuh. Walaupun yang lebih utama adalah menunggu hingga masuk waktu dhuha. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu Utsaimin (14/280) KEUTAMAANNYA Keutamaannya telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya, مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الجَنَّةِ: أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ صَلَاةِ الْغَدَاةِ “Barangsiapa mengerjakan shalat dua belas raka’at dalam sehari semalam, akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga, (shalat-shalat tersebut) iaitu: empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya’, dan dua raka’at sebelum shalat fajar.” (HR. At Tirmidzi no. 598 dari Ummu Habibah radhiallahu ‘anha, hadits ini dishahihkan Syaikh al Albani) Shalat dua belas raka’at di atas adalah sunnah rawatib yang sempurna, jika seseorang mencukupkan dengan sepuluh raka’at karena mengamalkan hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, yang menerangkan shalat rawatib sebelum zhuhur hanya dua raka’at maka tidak mengapa. Selain sunnah rawatib, ada beberapa shalat yang sunnah dikerjakan sebelum dan setelah shalat fardhu, di antaranya adalah: EMPAT RAKA’AT SETELAH ZHUHUR Sunnah rawatib setelah zhuhur dua raka’at, namun jika seseorang menambah dua raka'at sehingga menjadi empat raka’at maka lebih utama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, مَنْ صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ “Barangsiapa yang shalat empat raka’at sebelum zhuhur dan empat raka’at setelahnya, Allah haramkan neraka baginya.” (HR. Tirmidzi no.427 dan Ibnu Majah no.1160, disahihkan Syaikh al-Albani rahimahullah. Lihat Shahihul Jami’ no.6364) Keutamaan ini berlaku bagi seorang yang menjaga shalat tersebut; tidak hanya melakukannya sekali atau dua kali dalam hidupnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ “Barangsiapa menjaga shalat empat raka’at sebelum zhuhur dan empat raka’at setelahnya, Allah haramkan neraka baginya.” (HR. Tirmidzi no.428, dishahihkan Syaikh al-Albani) Adapun tatacara pelaksanaannya adalah dipisah dengan salam pada dua raka’atnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى “(cara pelaksanaan) shalat (sunnah) malam dan siang hari adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Abu Daud no.1297 dan Tirmidzi no.597, dishahihkan Syaikh al-Albani) EMPAT RAKA’AT SEBELUM ASHAR Disunnahkan juga mengerjakan shalat empat raka'at sebelum ashar. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ العَصْرِ أَرْبَعًا "Allah merahmati seseorang yang shalat empat raka'at sebelum ashar." (HR. Abu Daud no.1271 dan Tirmidzi no.430, dihasankan Syaikh al-Albani) Dalam riwayat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ العَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى المَلَائِكَةِ المُقَرَّبِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُؤْمِنِينَ “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat empat raka’at sebelum ashar, beliau memisahkan antara (dua raka'at)nya dengan taslim (salam) kepada malaikat yang dekat dan kaum muslimin dan mukminin yang mengikuti mereka.” (HR. Tirmidzi no.429) Ishaq bin Ibrahim bin Rahawaih rahimahullah menjelaskan bahwa makna taslim pada hadits ini adalah duduk tasyahud. Sehingga shalat empat raka’at dilakukan dengan duduk tasyahud pada raka’at kedua. Adapun Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal lebih condong memisahkan setiap dua raka’at dengan salam, karena berdalil dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى “(cara pelaksanaan) shalat (sunnah) malam dan siang hari adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Abu Daud no.1297 dan Tirmidzi no.597, dishahihkan Syaikh al-Albani) Jika seseorang melakukan shalat dua raka’at saja maka tidak mengapa. Al-Lajnah ad-Daimah lil Ifta’ (Komite fatwa Arab Saudi) dalam fatwanya ketika ditanya hukum shalat sunnah sebelum ashar, menjelaskan, “Shalat (sunnah) disyari’atkan untuk dikerjakan setelah adzan, berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, بين كل أذانين صلاة “Di antara dua adzan (iaitu adzan dan iqomat,pen) itu ada shalat” Dan berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, رحم الله امرأ صلى أربعا قبل العصر “Allah merahmati seseorang yang melakukan shalat empat raka’at sebelum ashar.” Sehingga disunnahkan setelah adzan melakukan shalat dua raka’at atau empat raka’at berdasarkan dua hadits tersebut, dan shalat itu tidak wajib atasnya. ➖ Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ➖ Wakil Ketua: Syaikh Abdurrazaq ‘Afifi ➖ Anggota: Syaikh Abdullah Ghudayyan BACA JUGA : TUNTUNAN SHALAT TAHIYATUL MASJID hyacinth-flower-blossom-bloom by Pixabay Bersambung insyaallah.... Dirangkum oleh: Tim Warisan Salaf #Fawaidumum #fikihshalat #sholatsunnah 🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah 🍏 Channel kami https://t.me/warisansalaf ☀️ Twitter: https://twitter.com/warisansalaf 💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Pembahasan Sifat-sifat Allah Bukan Tempatnya Logika Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu'alaihiwasallam bersabda, ينزل رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَ…

BAGAIMANA CARA SHALAT MAGHRIB BAGI ORANG YANG DATANG KE MASJID KETIKA ORANG-ORANG SEDANG SHALAT ISYA Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah Pertanyaan: Seorang musafir yang datang lalu mendapati orang lain sedang shalat Isya' dengan qashar. Apakah dia bergabung be…

DISUKAINYA MENGIKUTI SHALAT BERJAMAAH DI MASJID DENGAN NIAT SHALAT SUNNAH BAGI ORANG YANG TELAH SHALAT BERJAMAAH Macro carpet textiles By Pixabay Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah Pertanyaan : Syaikh, Para pria sudah shalat di masjid mere…

Masuk Islam ketika masih kecil, tumbuh besar dengan bimbingan Rasulullah serta bapaknya yang mulia. Dia ikut hijrah meninggalkan negeri yang dicintai menuju negeri hijrahnya Nabi di usianya yang masih belia. Usia baligh pun belum dicapainya. Berhijrah bersama bapaknya. Memecahkan keheningan malam dengan langkahnya. Menerjang pekatnya malam gulita. Lalu menembus teriknya siang. Demi tujuan yang mulia, 'tuk menggapai ridha Allah'. Dialah Abdullah bin Umar buah hati dari seorang figur mulia, Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khathtab radhiyallahu 'anhuma. mushroom-autumn-tree-fungus-moss By Pixabay Semangat Ibnu Umar dalam Mengikuti Sunnah Ditulis oleh Ustadz Abu Abdurrahman Huda hafizhahullah Abdullah Umar Khaththab bin Nufail Abdil 'Uzza bin Riyakh itulah nama dan nasabnya. Kuniah nya Abu Abdirrahman. Lahir tahun kedua atau ketiga setelah Nabi Muhammad diutus sebagai Rasulullah. . Seorang ahli ibadah yang senantiasa mengisi waktu-waktunya dengan dzikir, shalat puasa, dan ibadah lainnya. Seorang yang dikenal sebagai ulama dari kalangan shahabat. Tidaklah mengherankan dengan semangat serta ketekunannya dan perhatiannya kepada ilmu agama beliau termasuk orang yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits dan termasuk fuqaha' Rasulullah di kalangan shahabat. Ketika sampai di Madinah, Ibnu Umar tumbuh dengan bimbingan Nabawi. Tumbuh dalam ketaatan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan larangan-Nya. Menimba ilmu dari Rasulullah. Ditambah dengan bimbingan sang ayah yang shalih dan gagah berani membela agama Allah. Ayah yang cemburu kalau larangan larangan-Nya dilanggar. Dengan kehidupannya yang demikian elok, terpatrilah keimanan yang menyatu dengan darah daging, tak tergoyahkan dengan godaan setan sang musuh abadi. Semenjak bergaul dengan Rasulullah matanglah kepribadiannya. Di saat kaum muslimin bergabung untuk persiapan perang melawan musuh Allah,Ibnu Umar pun tidak ketinggalan ingin mendapatkan keutamaan jihad. Dalam lubuk hatinya, dia sangat merindukan pertempuran di medan Uhud. Berjuang bersama kaum muslimin menghadapi gempuran Quraisy Namun sayang, usianya yang masih belia menjadi sebab Rasulullah menolaknya untuk bergabung dengan mujahidin. Walau tidak dapat mengikuti peperangan itu, semangatnya untuk membela Islam tidaklah diragukan. Pemuda ini harus menunggu waktu yang tepat bagi dirinya untuk ikut berjihad di medan laga. Sambil mengisi waktu-waktunya untuk beribadah dengan ketekunan dan menimba ilmu dari bimbingan Rasulullah serta mengamalkannya. Perang Khandaq. Abdullah bin Umar belum surut keinginannya untuk berjuang. Perang Khandaq menjadi momen yang tepat untuk merealisasikannya. Tibalah waktunya untuk berlaga bersama dengan singa singa Allah, bersama bala tentara Allah membela kemuliaan agama. Akhirnya, beliau pun diizinkan bergabung dengan kaum muslimin di medan laga. Ya, perang Khandaq itulah peperangan yang pertama kalinya beliau terjuni. Baca : Penuh Faedah dari Kisah Julaibib Keutamaan yang dimiliki Abdullah bin Umar sangatlah banyak. Beliau pernah bercerita, "Aku bermimpi seakan-akan adasepotong kain sutra tebalditanganku dan tidaklah ada tempat yang aku inginkan di surga melainkan aku terbang sana. Aku pun menceritakannya kepada Hafshah. Kemudian Hafshah bercerita kepada Rasulullah. Rasulullah pun bersabda yang artinya, "Aku melihat Abdullah adalah seorang yang shalih." (H.R. Muslim) Sebuah rekomendasi dari manusia terbaik. Artinya, orang yang diberi rekomendasi adalah seorang yang menegakkan hak-hak Allah dan hak-hak hamba. Inilah persaksian seorang Nabi dan Rasul yang tidak muncul dari hawa nafsu. Tidak berkata melainkan dari bimbingan wahyu. Nabi juga pernah berkata tentang Abdullah bin Umar. "Sebaik-baik orang adalah Abdullah andai kata dia shalat malam," (HR Bukhari Muslim] Maka sabda Rasulullah menjadi lecutan bagi Ibnu Umar untuk menambah ketataan kepada Alla Beliau hanya menyisakan sedikit waktu malam untuk tidurnya. Kebanyakan waktunya di malam hari untuk beribadah. Sampai sampai Nafi' menjawab saat ditanya tentang Abdullah ibadah bin Umar, "Kalian tidak akan mampu melaksanakannya, Beliau berwudhu pada setiap shalat, dan membaca Al-Quran di antara keduanya (wudhu dan shalat). Apabila beliau tertinggal shalat Isya secara berjamaah, beliau akan menjadikan seluruh malamnya untuk beribadah. Semangat ibadah yang luar biasa. Jika dipraktikkan pada diri-diri kita, maka kita tidak akan sanggup mengerjakannya. Begitulah shalat dan ibadah beliau yang amat sangat menunjukkan kuat yang keshalihan dan keimanan yang kuat pula pada diri beliau. Tidak jarang, beliau habiskan malam hari untuk shalat. Beliau bertanya kepada Nafi, "Apakah kita sudah masuk waktu sahur?. Bila muridnya Nafi' menjawab "Belum" , maka beliau melanjutkan shalatnya. Apabila jawaban muridnya "Ya" sudah sampai waktu sahur, maka beliau pun duduk meminta ampun dan berdoa sampai waktu Subuh. Beliau juga mudah meneteskan air mata ketika membaca ayat-ayat Allah.Ini menunjukkan lembutnya qalbu Ibnu Umar tercermin pula kuatnya darinya iman yang terpatri di dalam dada. Muridnya pernah mengisahkan, apabila beliau membaca ayat : أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ "Apakah belum tiba saatnya orang-orang yang beriman khusyu hati-hati mereka karena mengingat Allah" [Qs, Al Hadid : 16] Inilah kehidupan malam Abdullah bin Umar. Namun bukan berarti amalan di siang hari kalah daripada malamnya. Beliau berpuasa siang harinya baik pada saat beliau safar ataupun tidak. Wara' dan zuhud menghiasi diri beliau meninggalkan yang dikhawatirkan membahayakan akhirat, bahkan yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Ibnu Mas'ud pernah mengatakan, "Sesungguhnya salah pemuda Quraisy menguas ketika menghadapi dunia adalah Abdullah bin Umar" Thawus,seorang ulama generasi tabiin, juga pernah mengatakan, "Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih wara' dari Ibnu Umar" Beliau juga seorang yang dermawan. Ketika dunia menghampirinya, maka segera beliau gunakan di jalan Allah. Dunia yang sangat indah pada hawa nafsu manusia. Dunia yang mampu memikat hati hati manusia yang disetiap harinya mereka kejar, walaupun tanpa mendapatkan dorongan dan anjuran. Tapi sungguh Abdullah Umar mampu bin menundukkan dunia di hati beliau. Pernah suatu hari Abdullah bin Umar datang membawa dua puluh sekian ribu dirham. Tidaklah beliau menggunakannya. Beliau justru membagi bagikan uang tersebut seluruhnya. Salah satu teladan Ibnu Umar adalah dalam hal semangat beliau dalam mengikuti sunnah Rasulullah Dan demikianlah wasiat dari Rasulullah, Beliau telah bersabda, "Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang apabila kalan berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat setelahnya, Kitabullah dan sunahku" Sejarah telah mencatat bagaimana Ibnu Umar mengagungkan sunah dan mengamalkannya. Sungguh- sungguh berupaya mengikuti sunah Nabinya. Bahkan, sebagian muridnya merasa takjub terhadap semangat Ibnu Umar ini. Sampai-sampai, Nafi, muridnya sendiri mengatakan "Andaikata engkau melihat Ibnu Umar ketika mengikuti Rasulullah niscaya engkau akan mengatakan'Ini gila'". I nibukanlah celaan, namun sekadar ungkapan Nafi' melihat bagaimana gurunya mengikuti Rasulullah Pantaslah Nafi mengatakan seperti itu. Lihatlah bagaimana beliau mengikuti Rasulullah. Ibnu Umar senantiasa mengikuti jejak-jejak Rasulullah pada tempat yang Rasulullah shalat padanya. Nabipernah turun di bawah suatu pohon, Ibnu Umar pun menjaga pohon tersebut. Beliau menuangkan pada akar pohon tersebut supaya tidak kering. (Hilyatul Auliya 1/310) Mungkin sudah terbayang dan tebersit pada di kita setelah melihat penjelasan di atas. Beliau memiliki semangat yang luar biasa dalam mengikuti sunah Nabi. Dalam perkara yang dianggap remeh saja beliau tetap sangat kuat semangatnya. Apalagi dalam hal-hal yang lebih besar, tentunya beliau lebih semangat melaksanakannya. Tidak tanggung-tanggung, Ummul Mukminin Aisyah sendiri telah mempersaksikan semangat beliau dalam mengikuti sunah Nabi. Aku tidak pernah melihat ada orang yang lebih berpegang teguh dengan urusan yang pertama(sunnah Nabi) daripada Abdullah bin Umar" Karena getolnya Ibnu Umar dalam mengerjakan sunnah Nabi, Said Ibnul Musayyib pun menyimpulkan," Andaikata aku boleh mempersaksikan bagi seseorang dengan maka niscaya aku mempersaksikan untuk Abdullah bin Umar (Siyar A'laminnubala 2/212). Hanya saja, kita tidak boleh gegabah dalam menghukum seseorang masuk surga ataupun masuk neraka. Karena kita hanya mengetahui keadaan lahiriah orang tersebut. Hanya Allah lah yang mengetahui kondisi sebenarnya. Sebab itu, tidak boleh kita sebenarnya, mengatakan seseorang masuk surga atau neraka kecuali ada dalil dari Al Quran ataupun hadits yang menjelaskanya. Baca : Kaidah Mempersaksikan Orang Masuk Surga / Neraka Mudah-mudahan Allah selalu mencurahkan rahmat kepada beliau. Ibnu Umar tutup usia di Makkah tepatnya di al Fakhkh, sebuah lembah yang ada di Makkah, pada tahun 79 H dengan umur 84 tahun, Wallahu a'am bish shawab. Disalin dari Majalah Qudwah Edisi 14 Vol 2 2014 Oleh Happy Islam

Terkait aksi pengeboman gereja di Mesir PENGEBOMAN GEREJA ‼️ Asy-Syaikh Doktor Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan حفظه الله ورعاه . Anggota Badan Persatuan Ulama Besar Saudi Arabia dan Anggota Komisi Tetap Untuk Penelitian Ilmiah & Fatwa Pertanyaan : Mudah…

Derajat Hamba, Ada Pada Kekuasaan Allah Ditulis oleh: Ustadz Abu Nashim Mukhtar hafizhahullah Seorang guru sedang memegang sekeping uang koin telapak tangannya. Di hadapan muridnya, uang koin senilai 10 keping itu diangkat dan diturunkan. Setelah selesai, sang guru bertanya, "Berapakah nilai uang koin ini saat aku mengangkatnya tadi?" "10 keping" ,  .jawab muridnya. "Saat Aku menurunkannya, berapakah nilai uang koin ini?", s ang guru bertanya untuk yang kedua kalinya. Muridnya menjawab dengan penuh keheranan, "Bukankah tetap senilai 10 keping, wahai guru??" Gurunya lalu menerangkan, " Itulah manusia, wahai muridku. Ia tidak mampu meninggikan atau merendahkan apapun!!!" Subhanallah! Benar-benar kalimat bijak! Kejadian di atas pun benar-benar nyata dan benar-benar ada. Pelajaran berharga telah ditanamkan oleh sang guru kepada muridnya untuk tidak mengharapkan kemuliaan dan derajat dari manusia. Ia ingin menegaskan kepada muridnya untuk tidak takut dihinakan oleh orang, hanya karena ingin menegakkan syariat Allah. Sebab, hanya Allah yang mampu memuliakan atau menghinakan. "Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang mampu memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." [Q.s. Al Hajj:18]. Saudara Pembaca, jika seorang manusia tidak memiliki kemampuan untuk meninggikan atau merendahkan, bukankah aneh dan ganjil jika ia : Masih memelihara sikap ujub dan sombong di dalam dirinya? Mengapa ia sombong dan takabur? Kenapa ia tidak merendahkan dirinya di hadapan Allah yang Maha Tinggi? Mengapa ia meremehkan saudaranya? Mengapa ia menganggap dirinya serba bisa, padahal untuk mengobati sebuah luka di punggungnya, ia masih membutuhkan bantuan orang lain? Rasulullah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah riwayat Muslim, "Dan tidak ada seorang pun hamba yang mau tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya. Imam Ibnu Hazm bertutur dalam kalimat kalimat bijak, "Barangsiapa diserang oleh penyakit ujub, hendaknya ia segera merenungi aib-aib yang ada pada dirinya. Jika ia diserang penyakit ujub dengan merasa memiliki budi pekerti yang baik, hendaknya ia segera memeriksa kembali bentuk perilaku buruknya. Apabila ia tidak mampu menemukan di manakah letak perilaku perilaku buruknya, sampai akhirnya ia merasa tidak memiliki perilaku buruk, hendaknya ia menyadari jika musibah itu berlaku untuk selamanya. Berarti dia adalah manusia yang paling lengkap kekurangannya, aib yang ada pada dirinya terlalu besar, sementara sangat lemah tamyiznya (kemampuan untuk memilah dan memilih serta mengetahui aibnya)," (Mudaawaat hal 88l) Wahai hamba yang lemah, jika engkau tidak mampu menemukan di manakah aib dan kesalahan pada sendiri, maka ucapkanlah selamat tinggal untuk kelezatan taubat. Hamba yang cerdas adalah yang mampu menentukan secara rinci, di manakah letak aib aib dan kesalahannya. Sebab, setelah itu, ia berusaha untuk mencabutnya dari dalam dirinya. Wahai hamba yang lemah, tak perlu ujub dan tak usah sombong! Di dalam dirimu tersembunyi aib dan cacat yang tak terbilang. Jangan mudah menghinakan orang lain! Terimalah kebenaran dengan dada yang lapang Banyak-banyaklah merenungi firman Nya قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imran:26) forest-mushrooms-nature-autumn by Pixabay Sumber : Qudwah Edisi 5 Vol 01 2013 Disalin oleh Happy Islam

Malik bin Anas rahimahullah adalah salah seorang empat imam mazhab yang tentu tidak asing lagi. Banyak kisah tentang ketauladanan beliau. Kisah menawan sebagai panutan untuk muslimin. IMAM MALIK BIN ANAS SANG IMAM DI NEGERI HIJRAH NABI Oleh:Ustadz Abu Hafiz Abdllah b…

S yukur dan sabar adalah sikap yang harus dimiliki seorang muslim. Kedua sikap itu pula yang membuat perkara seorang muslim menjadi istimewa. Namun kini, sangat jarang kita dapati orang yang mengamalkannya dengan kesungguhan. Sering berkeluh kesah, mudah putus asa lebih banyak kita dapati. Nampakny…

SIAPAKAH MUKMIN YANG SEBENARNYA? Al-Hasan al-Bashri رحمه الله تعالى ditanya:  ."Wahai Abu Sa'id, apakah anda seorang mukmin?" Maka beliau menjawab: "Iman itu ada dua. Kalau engkau bertanya padaku tentang iman: 1. Kepada Allah سبحانه وتعالي 2. Kepada malaikat-malaikat-Nya …

BUAH-BUAH KEIKHLASAN DALAM MENUNTUT ILMU Berkata Ibrahim bin Adham _رحمه الله تعالى_ , “Barang siapa yang ikhlash di dalam menuntut ilmu, niscaya (ilmu tersebut) akan bermanfaat bagi hamba-hamba Allah, dan dirinya. Alkhumul_ (ketidaktenaran) lebih ia cintai dari _attathaawul_ (ketenaran). …