Artikel Islami

Baca artikel Islami pilihan dari berbagai media terpercaya

Kebaikan dan Keburukan Dilipat Gandakan di Bulan Ramadhan
Atsar.id
Atsar.id

Kebaikan dan Keburukan Dilipat Gandakan di Bulan Ramadhan

APAKAH KEBAIKAN DAN KEJELEKAN DILIPAT GANDAKAN DI BULAN RAMADHAN Asy Syeikh Abdul Aziz Bin Baz rohimahullah: Tanya: Apakah puasa bisa menghapuskan dosa besar dan dosa kecil seorang muslim? Dan apakah dosa dosa dilipat gandakan di bulan Ramadhan? Jawab: Disyariatkan bagi seorang muslim dan yang lainnya berusaha melawan hawa nafsunya yang selalu mengajak kepada kejelekan, sampai jiwanya menjadi jiwa yang muthmainnah yang selalu mengajak kepada kebaikan dan selalu menyukai kebaikan. Dan wajib bagi dirinya untuk berusaha melawan musuh Allah yaitu iblis, sampai bisa selamat dari kejelekannya dan bisikan bisikannya. Maka seorang muslim didunia ini berada didalam JIHAD YANG BESAR dan terus menerus yaitu melawan diri (yang selalu mengajak kepada kejelekan), hawa nafsu, dan setan, dan atas dirinya untuk memperbanyak taubat dan istighfar pada setiap waktu dan kesempatan. Tetapi waktu itu berbeda sebagian dengan sebagian yang lainnya, bulan Ramadhan lebih utama daripada bulan bulan yang lainnya selama setahun, bulan Ramadhan adalah bulan ampunan, bulan rahmat, dan pembebasan dari neraka. Apabila bulan itu adalah bulan yang diutamakan dan tempat yang diutamakan maka dilipat gandakan padanya kebaikan dan menjadi lebih besar padanya dosa kejelekan. Maka kejelekan di bulan Romadho LEBIH BESAR DOSANYA daripada kejelakan diluar bulan Romadhon, sebagaimana ketaatan di bulan Romadhon lebih banyak pahalanya disisi Allah daripada ketaatan diluar bulan Romadhon. Maka bagi seorang muslim hendaknya untuk mengambil kesempatan dari bulan yang mubarok ini dengan ketaatan-ketaatan dan amal amal sholih, dan hendaknya untuk meninggalkan perkara dosa, semoga Allah Azza Wa Jalla memberikan karunia dengan menerima amalannya dan memberikan taufiq untuk istiqomah diatas al haq. Tetapi perkara kejelekan itu selalu pada keadaan yang sama yaitu TIDAK DILIPAT GANDAKAN DARI SEGI JUMLAH di bulan Romadhon dan bulan yang lainnya. Adapun kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali lipat sampai dilipat gandakan dengan kelipatan yang banyak. 📖 Sebagaimana Firman Allah didalam Surat Al An'am/160: [مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ] (الأنعام 160) "Barangsiapa yang datang dengan satu kebaikan maka baginya sepuluh kali lipatnya dan barangsiapa yang datang dengan satu kejelekan maka tidaklah fia dibalas kecuali yang semisalnya dan mereka tidak akan didzolimi". Dan ayat yang semakna dengan yang seperti banyak sekali. Dan demikian dengan tempat yang utama seperti Al Haramain Asy Syarifain maka dilipat gandakan padanya berlipat lipat yang banyak secara JUMLAH dan BENTUKNYA. Adapun kejelekan maka tidak dilipat gandakan secara jumlah tetapi dilipat gandakan bentuknya pada waktu yang diutamakan, dan tempat yang diutamakan sebagainmana yang telah diisyaratkan pada hal yang demikian itu, Wallahu Waliyyut taufiq. Sumber: Majmu' Fatawa wa maqoolat mutanawwi'ah 15/446 Telegram: https://bit.ly/Berbagiilmuagama

Ramadhan
May 31, 20173 min read
Nasehat Sebelum Memasuki Ramadhan
Atsar.id
Atsar.id

Nasehat Sebelum Memasuki Ramadhan

NASEHAT MENYAMBUT DATANGNYA BULAN RAMADHAN Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan hafizhahullah Pertanyaan: Apa nasehat anda kepada kaum muslimin terkait telah dekatnya bulan Ramadhan? Jawaban: Wajib bagi kaum muslimin untuk memohon kepada Allah agar dia bisa sampai kebulan Ramadhan, dan diberi kemampuan untuk berpuasa serta melaksanakan shalat tarawih padanya, dan juga bisa beramal saleh pada bulan Ramadhan. Dikarenakan bulan tersebut merupakan kesempatan besar dikehidupan seorang muslim. “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu ” (H.R al-Bukhari) ” Barang siapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, &nbsp.maka akan diampuni dosanya yang terdahulu. “(H.R al-Bukhari) Maka ini merupakan kesempatan besar bagi setiap muslim -untuk beramal- yang mungkin saja dia tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua setelahnya. Maka seorang muslim hendaknya bergembira dan merasa senang dengan datangnya bulan Ramadhan, menyambutnya dengan penuh kegembiraan, menggunakan kesempatan pada bulan tersebut untuk memperbanyak ketaatan. Shalat dimalam hari dan pada siang harinya berpuasa, membaca Al-qur’an dan berdzikir, yang mana ini semua merupakan ghanimah bagi setiap muslim. Adapun orang-orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mempersiapkan berbagai kegiatan-kegiatan yang negatif, seperti acara musik, acara drama yang bersambung, acara -acara lawakan atau perlombaan kuis, yang semua ini melalaikan kaum muslimin -dari ibadah-, maka mereka ini adalah bala tentara Syaithan. Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati dari mereka, dan mentahzir mereka. Bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermain-main atau perkara sia-sia seperti kuis-kuis dan semisalnya yang semua ini menyia-nyiakan waktu 🌏 Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/14849 ⚪ WhatsApp Salafy Indonesia ⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy MEMPERSIAPKAN DIRI MENYAMBUT RAMADHAN Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Adapun setelah itu, Tidak diragukan lagi, kita semua akan menyambut datangnya sebuah bulan yang mulia. Akan datang kepada kita musim kebaikan dan ketaatan. Musim itu adalah bulan Ramadhan yang diberkahi. Keutamaannya banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada musim yang akan tiba ini -dengan izin Allah-, setiap muslim dan muslimah hendaknya mempersiapkan berbagai hal untuk menyambutnya, yaitu dengan mempersiapkan jiwa (untuk bersemangat) melakukan kebaikan di bulan ini. Oleh karena itu, persiapkanlah dirimu untuk berpuasa, qiyamullail, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan amal kebaikannya lainnya. Hendaknya kita menjadikan bulan yang penuh berkah ini sebagai kunci pembuka kebaikan bagi kita. Demikian pula kita buka lembaran baru bersama Allah, Al-Qur’an, dan taubat kepada Allah. Hendaknya kita memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Demikian pula hendaknya kita menjadi orang mendapati bulan Ramadhan dalam keadaan dosa-dosa diampuni. Persiapkanlah dirimu untuk membebaskan diri dari seluruh dosa dan maksiat. Jadikanlah bulan Ramadhan sebagai pintu kebaikanmu dengan (membaca dan mentadaburi) Al-Qur’an. Betapa banyak di antara kita orang-orang yang meninggalkan Al-Qur’an, tidak mengkhatamkannya kecuali di bulan Ramadhan -Itupun jika dia benar-benar mengkhatamkannya- Setiap bulan sekali, malaikat Jibril mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga pada tahun wafatnya Nabi, Jibril mengajarkan Al-Qur’an dua kali dalam sebulan. Tidak diragukan lagi, disyariatkan qiyamullail secara berjamaah di bulan Ramadhan. Akan tetapi, seorang muslim tidak sepantasnya meninggalkannya dengan selesainya bulan Ramadhan. Rabb bulan Ramadhan, juga merupakan Rabb bulan Syawwal dan bulan-bulan lainnya. Namun, shalat malam secara berjamaah (shalat tarawih berjamaah) tidak dilakukan (secara rutin) selain pada bulan Ramadhan. Hendaknya kita menjadikan bulan ini sebagai langkah awal istiqamah kita dan bulan introspeksi diri. Kita memohon kepada Allah agar Dia mengantarkan kita semua bertemu bulan ini. Kunjungi || https://forumsalafy.net/mempersiapkan-diri-menyambut-ramadhan/ WhatsApp Salafy Indonesia Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy 💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎 NASIHAT MENYAMBUT BULAN RAMADHAN Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya : “Bagaimana keadaan para as-Salaf ash-Shalih yang Allah telah meridhai dan merahmati mereka ketika menyambut bulan yang agung ini ? Bagaimana bimbingan mereka ? Bagaimana perilaku dan tindak tanduk mereka ? Kedua : Wahai syaikh yang mulia, bagaimana persiapan seorang muslim untuk memanfaatkan hari-hari yang ia berada padanya sekarang ini ? Persiapan ilmu berupa mengenal hukum-hukum seputar puasa dan mengenal pembatal-pembatal puasa. Sebagian manusia lalai dari perkara-perkara ini sehingga tidak mendalami permasalahan puasa. Demikian juga, tidak mendalami perkara wajib pada puasa. Apakah syaikh yang semoga Allah menjaga anda dapat mengingatkan perkara ini ?” maka beliau menjawab : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Wa ‘alaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh. Semoga Allah memberkahi anda. Keadaan para salaf di bulan Ramadhan, sebagaimana tercatat di dalam buku-buku yang teriwayatkan dari orang-orang yang terpercaya, bahwasanya mereka (para salaf) memohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla agar menjadikan mereka dapat berjumpa dengan Ramadhan. Sebelum tiba Ramadhan, mereka memohon agar Allah menjadikan mereka dapat berjumpa dengan bulan tersebut. Sebab, mereka tahu bahwa di dalam bulan tersebut terdapat kebaikan yang besar dan kemanfaatan yang sempurna. Lantas jika mereka telah berjumpa dengan Ramadhan, mereka memohon kepada Allah agar menolong mereka untuk dapat beramal saleh. Lalu jika Ramadhan telah berlalu, mereka memohon kepada Allah agar menerima amal saleh mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Jalla Wa ‘Ala : وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ “Dan orang-orang yang memberi apa yang telah mereka berikan dalam keadaan hati mereka takut (karena mereka tahu bahwa mereka akan kembali kepada Rabb mereka). Mereka bersegera dalam kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperoleh kebaikan”. (Al Mu’minun : 60-61) Mereka bersungguh-sungguh dalam beramal, lalu kekhawatiran menimpa mereka usai beramal, apakah amalan mereka diterima ataukah tidak ? Hal ini karena mereka tahu tentang keagungan Allah ‘Azza Wa Jalla. Mereka tahu bahwa Allah tidak menerima amalan kecuali jika ikhlas mengharap wajah-Nya dan sesuai sunnah Rasul-Nya. Mereka tidak merekomendasi diri mereka sendiri. Mereka (justru) takut jika amalan mereka gugur. Mereka merasa lebih berat amalan itu diterima dibanding lelahnya mereka saat beramal, karena Allah Jalla Wa ‘Ala berfirman : إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ “ Hanyalah Allah itu menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa”. (Al Ma idah : 27) Mereka benar-benar menghabiskan bulan ini dengan ibadah, sebagaimana telah kami sebutkan. Mereka mengurangi aktifitas-aktifitas duniawi. Mereka memperbanyak waktu untuk duduk di masjid-masjid Allah ‘Azza Wa Jalla. Mereka berkata : “Kita jaga puasa kita. Kita jangan menggunjing seorang pun”. Mereka menghadirkan mushaf-mushaf Al Qur’an. Mereka saling mempelajari Kitab Allah ‘Azza Wa Jalla. Mereka menjaga waktu dari kesia-siaan. Mereka tidak menyia-nyiakan atau meremehkan seperti kebanyakan manusia hari ini. Akan tetapi mereka menjaga waktu malam dengan qiyamul lail dan siang dengan puasa, membaca Al Qur’an, zikrullah dan amalan-amalan kebaikan. Tidaklah mereka itu menyia-nyiakan sekalipun 1 menit atau sesaat saja, melainkan mereka manfaatkan dengan amalan saleh”. (www.alfawzan.af.org.sa) Beliau juga ditanya :  “Kami berharap arahan dari anda, syaikh yang mulia terkait datangnya bulan Ramadhan ? Apa kewajiban seorang muslim menyongsong bulan tersebut ?” Maka beliau menjawab :  “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Segala puji hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam Allah tercurahkan untuk Nabi kita Muhammad, keluarga dan segenap sahabat beliau. Selanjutnya : Sebentar lagi akan tiba bulan Ramadhan yang penuh berkah karena kebaikan dan keutamaannya bagi umat Islam. Bulan yang Allah jadikan berkah ini, telah Dia turunkan padanya Al Qur’an. Allah jadikan padanya ada Lailatul Qadr. Allah jadikan padanya ada puasa bagi kaum muslimin. Allah syariatkan puasa bagi kaum muslimin. Siangnya adalah (waktu) puasa, sedangkan malamnya adalah (waktu) Qiyamul Lail. Diantara waktu itu adalah zikrullah ‘Azza Wa Jalla, mendekatkan diri dengan beragam ketaatan. Setiap waktu bulan ini adalah berkah. Setiap waktu bulan ini adalah kebaikan. Setiap waktu bulan ini adalah keberuntungan bagi seorang muslim. Maka wajib bagi seorang muslim untuk bergembira dengan kedatangan bulan ini, karena di dalam bulan ini terdapat hal-hal yang melepaskan seseorang dari kebinasaan. Sesungguhnya bulan ini dapat mendorong seseorang untuk kebaikan yang banyak dan perkara yang menyelamatkannya, jika memang dia bersedia mengetahui kedudukan bulan ini dan dapat mengambil manfaat darinya. Adapun orang yang lalai dan tidak mengerti hak bulan ini, maka ia tidak bisa membedakan antara bulan ini dengan selainnya. Bisa jadi, dia menganggap bulan Ramadhan adalah bulan untuk bermalas-malasan, bulan untuk makan-makan dan minum-minum (di malam hari, pen), bulan untuk tidur di siang hari dan begadang di malam hari. Maka dia tidak dapat mengambil manfaat darinya. Bahkan dia berdosa, karena kejelekan di bulan Ramadhan dapat dilipatgandakan dibanding bulan lain, sebagaimana pula kebaikan di bulan ini juga diperbesar (pahalanya). Kebaikan di bulan ini akan diperbesar pahalanya di sisi Allah, lebih besar dibanding bulan lain. Demikian pula kejelekan, dosanya semakin besar. Demikian karena kemuliaan bulan ini. Maka seseorang dilewati begitu saja oleh bulan ini, keluar tanpa bisa mengambil faidah. Ini pada hakikatnya bukan manusia. Ini adalah hewan atau lebih hina dibanding hewan. Hewan tidak dikenai hukuman, sedangkan manusia itu dikenai hukuman. Hakikatnya bahwa ini adalah bulan yang agung. Semestinya bulan ini disambut dengan taubat, persiapan amalan saleh dan seorang muslim sangat bergembira dengannya. Allah berfirman : قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “ Katakanlah (wahai Nabi) : “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira” . (Yunus : 58) Seorang muslim bergembira dengan musim kebaikan, sebagaimana para pedagang dan pemilik harta yang banyak bergembira dengan (datangnya) musim jual beli. Itu adalah harta benda yang ada sekarang. Bisa jadi harta benda tersebut akan menjadi petaka bagi pemiliknya. Pecinta syahwat yang bergembira dengan syahwatnya bisa jadi syahwatnya justru akan menjadi petaka dan penghancur baginya Adapun bulan ini, maka kegembiraan dengannya adalah kegembiraan atas karunia Allah dan rahmat-Nya. Tidaklah bergembira dengan bulan ini, kecuali orang-orang yang beriman. Adapun orang-orang munafik dan lemah imannya, maka bulan ini menjadi sebuah beban berat bagi mereka. Hal ini dikarenakan bulan ini menghalangi mereka dari kejelekan dan syahwat. Mereka tidak leluasa di bulan ini sebagaimana bulan lainnya. Maka bulan ini menjadi beban berat bagi mereka. Oleh karena itu salah seorang penyair yang tidak memiliki rasa malu berkata : Maka kiranya malam itu lamanya satu bulan Dan siang itu lewat seperti lewatnya awan Penyair tanpa malu ini bermaksud menggunakan waktu malamnya dengan syahwat dan kelalaiannya. Adapun siang, ia ingin agar lewat seperti lewatnya awan karena tidak ada syahwat dan dorongan. Ini adalah perasaan orang-orang munafik dan lemah imannya. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah menyadari dosa-dosanya dan takut atas kesalahan-kesalahannya. Dirinya bergembira dengan bulan ini untuk bertaubat kepada Allah, beristighfar dan menambah ketaatan. Dirinya sibuk menambah (kebaikan) untuk usianya di bulan ini. Sesungguhnya usia itu pendek, sedangkan akhirat adalah negeri kekal dan abadi. Usia manusia itu pendek. Tiba-tiba bulan ini telah melewatinya. Di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Maka dirinya mengambil faidah dari malam ini. Ini adalah kebaikan yang agung. Mengingat usianya yang pendek, maka usianya dapat menjadi panjang dengan sebab amalan saleh. Diantara rahmat Allah terhadap umat ini bahwasanya Dia telah menetapkan bulan ini untuk mereka, mengingat usia mereka yang pendek. Allah menetapkan malam ini untuk mereka dalam rangka memanjangkan usia mereka dan menambah amal saleh. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kami dan kalian sebagai orang yang diberi kesempatan oleh Allah untuk berjumpa dengan bulan ini, memberikan taufik untuk beramal saleh dan dapat mengambil faidah dari bulan ini. Dan jangan Dia jadikan kami dan kalian termasuk orang-orang yang lalai dan merugi”. (www.ajurry.com) Beliau juga ditanya : “Apa faktor terpenting untuk membantu wanita melaksanakan ketaatan di bulan Ramadhan ?” Beliau pun menjawab : “Faktor yang dapat membantu seorang muslim, baik pria maupun wanita untuk melakukan ketaatan di Ramadhan adalah : 1) Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan yakin bahwa Dia senantiasa mengawasi segenap perbuatan, ucapan dan niat hamba. Dia akan memperhitungkan hal itu. Jika seorang muslim merasakan hal ini, maka dia akan menyibukkan diri dengan ketaatan, meninggalkan dosa dan bersegera bertaubat dari kemaksiatan. 2) Memperbanyak zikrullah dan membaca Al Qur’an, karena hal itu akan melembutkan hati. Allah Ta’ala berfirman : الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Orang-orang yang beriman dan hati mereka tentram karena zikrullah. Ketahuilah, dengan zikrullah hati itu akan menjadi tentram”. (Ar Ra’du : 28) Allah juga berfirman : إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ “…orang-orang yang jika disebut nama Allah, maka hati mereka menjadi gemetar”. (Al Anfal : 2) 3) Menjauhi penghalang-penghalang ketaatan yang akan mengeraskan hati dan menjauhkan hati tersebut dari Allah. Penghalang-penghalang itu adalah seluruh kemaksiatan, pergaulan dengan orang-orang buruk, makan yang haram, lalai dari zikrullah ‘Azza Wa Jalla dan menyaksikan film-film amoral. 4) Menetapnya wanita di dalam rumah dan tidak keluar, kecuali untuk kebutuhan seiring segera pulang ke rumah jika kebutuhannya telah selesai. 5) Tidur di malam hari, karena akan membantu Qiyamul Lail segera di akhir malam,  mengurangi tidur di siang hari hingga sanggup melaksanakan shalat pada waktu-waktunya dan menyibukkan waktunya dengan ketaatan. 6) Menjaga lisan dari menggunjing orang lain, adu domba, ucapan batil, perkataan yang haram dan menyibukkan diri dengan zikir”. (www.alfawzan.af.org.sa)   Demikian sedikit untaian nasihat dari seorang ulama besar masa ini untuk kita semuanya. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi kesempatan untuk kita memperbaiki amal saleh dan menjauhi dosa-dosa. Selain itu, kita pun bersyukur pemerintah memberikan perhatian besar terhadap pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan di setiap tahunnya. Alhamdulillah keadaan kita tidak seperti saudara-saudara kita muslimin di Xinjiang Cina yang setiap tahunnya dilarang berpuasa Ramadhan oleh rezim komunis Cina. Ini salah satu bukti bahwa komunis yang anti agama sangat memusuhi agama, terkhusus Islam. Hendaknya kita sadar bahwa kaum komunis yang kini semakin berani di negeri yang mayoritas muslimin ini akan berteriak menuntut HAM kala mereka minoritas. Namun manakala berkuasa, mereka akan benar-benar menginjak-injak HAM pihak lain (dalam hal ini muslimin). Jangan sekali-kali percaya terhadap tuntutan kaum komunis yang perjuangannya tak pernah lepas dari kekerasan dan teror ! Wallahu a’lamu bish-Shawab Sumber:  http://daarulihsan.com/nasihat-menyambut-bulan-ramadhan/

fadhilah
May 23, 201713 min read
Hukum Membaca Kitab Ulama' Sebelum Menyimpang
Atsar.id
Atsar.id

Hukum Membaca Kitab Ulama' Sebelum Menyimpang

Hukum Membaca Kitab Ulama' Sebelum Menyimpang Bismillah.., Ustadz, apakah boleh seseorang merujuk kepada kitab Ibrahim Ar-Ruhaily sebelum dia menyimpang? Dijawab oleh: Al Ustadz Abu Abdirrahman Sofyan Hafidzahullah. Yang didapatkan dari bimbingan ulama dan masyayaikh dalam hal ini secara umum baik terhadap Ibrahim arRuhaili atau yang semisalnya. bahwa menyikapi karya mereka yang dulu pernah berjalan di atas sunnah namun kemudian menyimpang adalah dengan tidak membacanya.  Penjabarannya dalam poin-poin panduan berikut, _wallahulMuwaffiq_: 1. Harus jelas yang akan mengambil faidah dari karya tersebut. Syaikh Ubaid alJabiri hafidzahullah dalam salah satu fatwa pada situs Miraath secara makna beliau memberikan kelonggaran bagi (ahli ilmu atau penuntut ilmu tingkat tinggi) yang bisa memilah mana yang salah dari yang benarnya. Adapun untuk tingkat menengah apalagi pemula, tidak diperbolehkan membaca/mengkajinya. Dikhawatirkan apa yang disangka kebenaran justru merupakan cikal-bakal penyimpangan. 2. Penting untuk disadari bahwa banyak pihak yang menyimpang, ternyata memang sudah memiliki pemahaman yang salah dan berbahaya sejak dulu. Dan sebagiannya ada pada karya-karya mereka yang belum/tidak dikoreksi para ulama. Selama potensi semacam ini ada, maka sangat berbahaya membaca karya mereka, walaupun ditulis saat mereka dikenali masih berjalan bersama manhaj para ulama. 3. Kalaupun apa yang ada pada karya tulis pihak yang telah menyimpang tersebut memang ada kebaikan secara ilmiah, maka *kita meninggalkan dia dan karya-karyanya bukan semata karena isinya namun sebagai konsekwensi hukuman (sekaligus pelajaran) hajr (boikot) yang disyariatkan terhadap pengusung pemikiran bid'ah*. Sebagaimana dinukilkan dari kitab _alLubab min Nashoih asySyaikh Robi'_ (alMadkholi hafidzahullah) _'ala asySyabab_: ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻧﺘﺸﺮ ﺷﺮﻩ ﻭﺍﺳﺘﻔﺤﻞ ﻭﻋﺎﻧﺪ ﻭﺍﺳﺘﻜﺒﺮ ﻭﺃﺑﻰ ﺃﻥ ﻳﻌﻮﺩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﻓﻬﺬﺍ ﻣﻦ ﻋﻘﻮﺑﺎﺗﻪ ﺃﻻ ﻳُﻘﺒَﻞ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﺤﻖ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺴﻠﻒ : ﻣﻦ ﻋﻘﻮﺑﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺃﻥ ﻻ ﻳُﻘﺒَﻞ ﻣﻨﻬﻢ ﺍﻟﺼﺪﻕ "Dan apabila telah tersebar keburukannya dan telah meruncing, dan (justru) dia berkeras kepala (menentang nasehat) serta bersikap arogan dan tidak sudi kembali kepada yang benar, maka yang seperti ini sebagai hukuman baginya *tidak diterima kebenaran darinya* sebagaimana dikatakan sebagian (ulama) salaf: " *_termasuk hukuman bagi ahli bid'ah adalah tidak (lagi) diterima kejujurannya_* "." - selesai penukilan - Jadi ditegaskan bahwa *kita tidak membaca karya mereka (walaupun mungkin berupa kebenaran), bukan karena kebencian kita terhadap isi karyanya, namun sebagai pelaksanaan prinsip hajr (boikot) terhadap mereka*. Ini bersumber dari prinsip _alwala' dan albaro'_ yang jelas merupakan tali keimanan yang paling kuat. Bagaimana mungkin prinsip dasar ini akan tegak jika kita membaca karya mereka? Sangat dikhawatirkan akan muncul perasaan kagum, syukur dan akhirnya simpati, _allahulmusta'an_. 4.  Maksud tahdzir (peringatan) adalah agar dijauhi. Maka membaca karya pihak yang telah ditahdzir oleh para ulama, sama saja dengan mengabaikan peringatan itu. Relakah kita menjadi kalangan yang mengabaikan bimbingan pewaris para nabi? Tentu tidak. 5. Kaidah " menghindari bahaya lebih dikedepankan daripada upaya meraih kebaikan " perlu diterapkan dalam hal ini. Betapa banyak kasus, berawal membaca berujung simpati dan akhirnya membela. 6. Apabila kegiatan membaca dari karya mereka tersebut diketahui oleh pihak lain, maka bahayanya lebih besar. Bisa jadi kita tetap terpatri kebencian kepada penulis, namun apakah ada jaminan orang lain yang mengetahuinya juga memiliki sikap yang sama dengan kita? Jangan menjerat pihak lain dengan sikap gegabah kita. Pelajaran terkait poin 5 & 6 ini: Syaikh Muhammad Umar bazmul mengingatkan kita dengan cuplikan nasehat beliau: ... ﻭﺗﺬﻛﺮ ﺃﻥ ﺳﺒﺐ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺃﺑﻲ ﺫﺭ ﺍﻟﻬﺮﻭﻱ ﻟﻸﺷﻌﺮﻳﺔ ﺃﻧﻪ ﺷﺎﻫﺪ ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺪﺍﺭﻗﻄﻨﻲ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺎﻗﻼﻧﻲ ﻭﻳﻌﻈﻤﻪ . "... dan ingatlah oleh anda, bahwa sebab Abu Dzar alHarowi mengikuti (baca: menyeberang manhaj) Asy'ariyyah adalah karena dia pernah melihat gurunya, adDaruquthni menyampaikan salam kepada alBaqilaniy dan menghormatinya." 7. Para ulama meyakinkan kita, bahwa *karya ahlussunnah adalah lebih baik dan sangat mencukupi bagi kita, sehingga tidak lagi membutuhkan karya pihak yang telah menyimpang*. Semoga kita semua senantiasa dikokohkan di atas manhaj yang benar. _Wallahu a'lam_. sumber bacaan: https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=143439. ======================= http://telegram.me/alistiqomah Sumber: t.me/pencari

Manhaj
May 5, 20174 min read
Kesalahan Fatal dalam Takbiratul Ihram
Atsar.id
Atsar.id

Kesalahan Fatal dalam Takbiratul Ihram

KESALAHAN FATAL DALAM MEMBACA TAKBIR Penting bagi imam, mu'adzdzin maupun kita yang sholat sendiri maupun sebagai makmum untuk memperhatikan bacaan takbir. Terutama takbir pembuka sholat yang diistilahkan dengan takbirotul ihrom, sangat perlu berhati-hati dari kesalahan bacaan yang bisa mengubah makna. Akibat salah dalam bacaan yang mengubah makna disebutkan ulama dapat menjadikan sholat seseorang tidak sah. Alhafidz Abu Zakariyya Yahya bin Syarof anNawawi rahimahullah menjelaskan dalam kitab alAdzkar juz 1 hal 66: ﻭﻟﻴﺤﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﺗﺼﺤﻴﺢ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ، ﻓﻼ ﻳﻤﺪّ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﻮﺿﻌﻪ، ﻓﺈﻥ ﻣﺪّ ﺍﻟﻬﻤﺰﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻠّﻪ، ﺃﻭ ﺃﺷﺒﻊ ﻓﺘﺤﺔ ﺍﻟﺒﺎﺀ ﻣﻦ ﺃﻛﺒﺮ ﺑﺤﻴﺚ ﺻﺎﺭﺕ ﻋﻠﻰ ﻟﻔﻆ ﺃﻛﺒﺎﺭ ﻟﻢ ﺗﺼﺢّ ﺻﻼﺗﻪ "Dan hendaklah bersungguh-sungguh dalam mengucapkan takbir secara benar, dengan tidak memanjangkan (bacaan) pada selain tempatnya. Karena sesungguhnya memanjangkan hamzah pada lafadz (jalalah) الله (hingga terbaca آلله, atau memanjangkan fathah pada huruf ba' dari أَكْبَر sehingga menjadi lafad أَكْبَار tidaklah sah sholatnya." Link cuplikan: http://islamic-books.org/cached-version.aspx?id=2836-1-66 Beliau kembali menjelaskan dalam Majmu' Syarah alMuhadzdzab 3/292 : ... ﻭَﻳَﺠِﺐُ ﺍﻟِﺎﺣْﺘِﺮَﺍﺯُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮِ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻮَﻗْﻔَﺔِ ﺑَﻴْﻦَ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻦْ ﺯِﻳَﺎﺩَﺓٍ ﺗُﻐَﻴِّﺮُ ﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻰ ﻓَﺈِﻥْ ﻭَﻗَﻒَ ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺑِﻤَﺪِّ ﻫَﻤْﺰَﺓِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻭْ ﺑِﻬَﻤْﺰَﺗَﻴْﻦِ ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺎﺭُ ﺃَﻭْ ﺯَﺍﺩَ ﻭَﺍﻭًﺍ ﺳَﺎﻛِﻨَﺔً ﺃَﻭْ ﻣُﺘَﺤَﺮِّﻛَﺔً ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻜَﻠِﻤَﺘَﻴْﻦِ ﻟَﻢْ ﻳَﺼِﺢَّ ﺗَﻜْﺒِﻴﺮُﻩُ &nbsp.... "... dan wajib selalu menjaga dalam (pengucapan) takbir agar tidak: - terjadi jeda antara dua kata yang diucapkannya, dan dari - penambahan yang mengubah makna. Sehingga jika dia berhenti (jeda) atau mengucapkan dengan memanjangkan hamzah pada أٰلله atau membaca dua hamzah (أألله) atau membaca الله أكبار atau menambahkan wau sukun maupun wau berharakat (الله وأكبر) di antara kedua kata, tidaklah sah takbirnya..." Link nukilan: https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=155479 روى ﻣﺴﻠﻢ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : " ﻣﻦ ﺩﻝّ ﻋﻠﻰ ﺧﻴﺮ ﻓﻠﻪ ﻣﺜﻞ ﺃﺟﺮ ﻓﺎﻋﻠﻪ ." Imam Muslim bersama ahli hadits lainnya meriwayatkan dari hadits Abu Mas'ud alAnshoriy, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: [[Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan dia berhak memperoleh pahala sebagaimana pelakunya]] Mari tebarkan kebaikan ilmu, agar kebaikannya bermanfaat bagi diri kita dan orang-orang yang diharapkan kebaikan bagi mereka. t.me/hikmahfatwaislam

Fiqih
May 2, 20172 min read
Keutamaan & Amalan-amalan di Bulan Sya'ban
Atsar.id
Atsar.id

Keutamaan & Amalan-amalan di Bulan Sya'ban

WAHAI AHLI IBADAH MENDEKATLAH, BULAN SYA'BAN TELAH TIBA بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولاه، أما بعد Alhamdulillah, senantiasa seorang mukmin dipertemukan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dengan musim kebaikan dan berkah. Ini merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk melipatgandakan pahala hamba-hamba-Nya, dan menambahkan kebaikan bagi orang-orang yang beribadah dan bersyukur. Sekarang kita berada di salah satu musim kebaikan dan berkah tersebut, yaitu bulan Sya'ban.&nbsp. Jika kita melihat kepada pendahulu kita, kita akan mendapati bahwa mereka benar-benar memanfaatkan bulan Sya'ban (sebelum datangnya bulan Ramadhan) untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa tala'a. ✅ SHOUM (PUASA) Di antara ibadah yang giat dilakukan oleh salaf kita di bulan ini adalah berpuasa. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memperbanyak puasa di bulan ini melebihi puasa di bulan lainnya selain Ramadhan.  Saking banyaknya puasa beliau, sampai-sampai sebagian periwayat hadits mengibaratkannya dengan puasa selama sebulan penuh (padahal tidak sebulan penuh), لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah berpuasa dalam satu bulan lebih banyak dari (puasa di) bulan Sya'ban. Sesungguhnya beliau berpuasa Sya'ban seutuhnya."  (HR. al-Bukhari no.1970 dari 'Aisyah radhiallahu 'anha)   Tentu saja yang dimaksud "seutuhnya" bukanlah satu bulan penuh, tetapi karena banyaknya puasa yang beliau lakukan di bulan Sya'ban maka digunakan istilah tersebut.  Hal ini diterangkan oleh 'Aisyah radhiallahu 'anha dalam riwayat lain,  فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ "Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyempurnakan puasa selama satu bulan kecuali pada puasa Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya'ban."   (HR. al-Bukhari no.1969 dan Muslim no.1156)   Dipertegas lagi dalam riwayat muslim no.1156 كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا " "Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa di bulan Sya'ban kecuali hanya beberapa hari saja (beliau tidak berpuasa)." Oleh karenanya, sudah sepantasnya bagi seorang mukmin untuk meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mari kita gunakan musim kebaikan ini dengan sebaik-baiknya... ✅ TATACARA PUASA SYA'BAN Tidak ada hadits yang shahih yang menerangkan tatacaranya. Sebagai gambaran seseorang bisa melakukannya dengan cara berikut: ☑️ Satu hari puasa dan satu hari berbuka, seperti puasa Nabi Daud. ☑️ Berpuasa beberapa hari lalu berbuka beberapa hari. ☑️ atau berpuasa terus menerus hingga satu atau dua hari menjelang Ramadhan lalu berbuka. Puasa di bulan Sya'ban memiliki keutamaan yang agung disebabkan waktunya yang berdekatan dengan puasa Ramadhan. Para ulama' menyebutnya sebagai puasa rowatib bagi Ramadhan Ibadah rowatib adalah ibadah sunnah yang dilakukan sebelum dan setelah ibadah fardhu. Fungsinya adalah menyempurnakan kekurangan yang ada pada ibadah wajib tersebut.  Tidak dipungkiri, ketika berpuasa Ramadhan sering kali seseorang terjatuh ke dalam perbuatan yang mengurangi nilai pahalanya, sehingga dengan berpuasa di bulan Sya'ban maka kekurangan-kekurangan tersebut akan tertutupi.  Sebagian ulama' berpendapat, bahwasanya ibadah sunnah rowatib (yang mengiringi ibadah fardhu) lebih afdhal daripada ibadah sunnah yang waktunya berjauhan dengan ibadah fardhu. Sebagai contoh, shalat sunnah rowatib (shalat sunnah yang dilakukan sebelum dan setelah shalat fardhu, pen) lebih afdhal daripada shalat sunnah lainnya yang waktunya berjauhan dengan shalat fardhu.  Demikian pula dengan puasa Sya'ban, karena kedudukannya sebagai ibadah rowatib bagi Ramadhan, maka ia lebih afdhal ketimbang puasa sunnah lainnya. Bahkan sebagian Ulama' mengutamakannya daripada puasa di bulan Muharram (dan dalam masalah ini ada khilaf di antara ulama',pen). WAKTU MANUSIA LALAI BERIBADAH Di antara yang membuat lebih istimewanya puasa Sya'ban adalah karena di bulan ini banyak manusia yang lalai dari ibadah. Dan beribadah di waktu manusia lalai lebih utama daripada melakukannya di saat manusia giat beribadah. Sebagai contoh shalat tahajjud di akhir malam, ia memiliki keistemawaan yang luar biasa disebabkan waktu pelaksanaannya di saat banyak manusia tertidur lelap (lalai dari ibadah).  Dari Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhu, "Aku bertanya (kepada Rasulullah), 'Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau (banyak) berpuasa di bulan-bulan yang lain seperti (banyaknya) puasa engkau di bulan Sya'ban?' Beliau menjawab, 'Ini adalah bulan yang banyak manusia lalai darinya, yaitu (bulan sya'ban) yang terletak antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. di bulan ini pula amalan manusia diangkat (dihadapkan,pen) kepada Rabbul 'alamin, dan aku senang amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa."  (HR. an-Nasaa'i no.2357, dihasankan Syaikh al-Albani rahimahulla)  MEMBIASAKAN DIRI SEBELUM RAMADHAN Di antara tujuan puasa di bulan Sya'ban untuk melatih dan membiasakan diri dengan puasa, agar ketika memasuki bulan Ramadhan tidak merasa berat dengan puasa selama sebulan penuh.  Di saat jiwa terbiasa dengan puasa di bulan Sya'ban, maka bila tiba Ramadhan, ia dalam keadaan kuat dan bersemangat, sehingga ia benar-benar merasakan manisnya ibadah Ramadhan. Oleh karena itu, bulan Sya'ban ini seperti pendahuluan (muqoddimah) bagi Ramadhan. Akan Tetapi tidak disukai berpuasa satu atau dua hari menjelang Ramadhan bagi orang yang tidak biasa berpuasa sebelumnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, «لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا، فَلْيَصُمْهُ» "Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu hari atau dua hari (sebelumnya), kecuali seseorang yang berpuasa sebelum itu, maka hendaknya ia melanjutkan puasanya."  (HR. al-Bukhari no. 1914 dan Muslim no.1082)  BULAN MEMBACA AL-QUR'AN Sebagian salaf, sebagaimana disebutkan Ibnu Rajab rahimahullah, menyebut bulan Sya'ban sebagai bulannya para pembaca al-Qur'an. Karena di bulan ini, selain berpuasa, mereka juga menyibukkan diri dengan membaca al-Qur'anul karim. Salamah bin Kuhail (wafat 121H) rahimahullah berkata, كان يقال شهر شعبان شهر القراء "Dahulu dikatakan, bulan Sya'ban adalah bulannya Qurro' (para pembaca al-Qur'an)." dan Habib bin Abi Tsabit (wafat tahun 119H) rahimahullah, apabila memasuki bulan Sya'ban beliau mengatakan, "Ini adalah bulannya para pembaca al-Qur'an." Disebutkan bahwasanya Qois bin Amr al-Mula'i (wafat tahun 146 H) rahimahullah  apabila memasuki bulan Sya'ban, beliau mengunci tokonya dan menyibukkan diri dengan membaca al-Qur'an. Maka di bulan Sya'ban yang mulia ini sudah sepatutnya kita menyibukkan diri dengan ibadah. Dunia adalah tempat bagi seorang mukmin untuk menanam benih-benih ibadah. Jika seseorang berhasil dalam cocok tanam ini maka ia akan memanennya di akhirat dengan laba yang berlipat ganda, akan tetapi jika gagal, dia akan celaka dan merugi. Wallahul musta'an wallahu a'lam bish showab... MENGQADHA' PUASA RAMADHAN Perkara yang juga wajib diperhatikan di bulan Sya'ban ini adalah melunasi hutang puasa Ramadhan sebelumnya.  Bagi kaum muslimin dan muslimat yang masih memiliki tanggungan puasa hendaknya bersegera melunasi hutangnya sebelum bulan Ramadhan tiba. Karena banyak dari kaum muslimin yang bermudah-mudahan dalam perkara ini, dimana mereka tidak bersegera melunasi hutang puasanya hingga masuk Ramadhan berikutnya. Abu Salamah berkata,  سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، تَقُولُ: «كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ» "Aku mendengar 'Aisyah radhiallahu 'anha berkata, 'dahulu aku memiliki hutang puasa Ramadhan, dan aku tidak mampu melunasinya melainkan di bulan Sya'ban."  ▶️ (HR. al-Bukhari no.1950 dan Muslim no.1146)  Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,  وَيُؤْخَذُ مِنْ حِرْصِهَا عَلَى ذَلِكَ فِي شَعْبَانَ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ تَأْخِيرُ الْقَضَاءِ حَتَّى يَدْخُلَ رَمَضَانُ آخَرُ "Diambil faedah dari semangat beliau yang mengqodho' puasanya di bulan Sya'ban, yaitu tidak bolehnya menunda qodho' (melunasi hutang puasa) hingga memasuki Ramadhan berikutnya."  (Fathul Baari 4/191)  Sebagai penutup... Kaum muslimin rahimakumullah.... Kesempatan hidup hanya sesaat, sedangkan hari berlalu begitu cepat. Setiap kali berlalu satu hari maka bertambah dekat ajal menyapa.  Orang yang beruntung adalah orang yang mampu memanfaatkan waktu dengan melakukan kebaikan... Sedangkan orang yang lalai adalah yang melupakan dzikrullah dan menyibukkan diri dengan perkara yang sia-sia.. Usia adalah tempat bercocok tanam, jika yang ditanam adalah kebaikan maka yang dipanen juga kebaikan... Namun jika yang ditanam adalah kejelekan maka jangan menyalahkan melainkan dirimu sendiri... Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang taat dan bersyukur, dan bantulah kami untuk selalu berdzikir mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.. Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.. Ya Allah, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan, dan jadikanlah kami pada bulan tersebut termasuk hamba-Mu yang diterima amalannya.... Amin ya Rabbal 'alamin Wallahu a'lam bish showab.. -SELESAI- 🌍 Sumber Panduan: Khutbah Syaikh Khalid azh-Zhafiri yang berjudul شعبان أقبل فأين العابدون؟  📝 Oleh: Tim Warisan Salaf Telegram : bit.ly/warisansalaf Web : www.warisansalaf.com HUKUM MENGKHUSUSKAN MALAM NISHFU SYA'BAN DENGAN SHALAT DAN PUASA Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah الاحتفال بليلة النصف من شعبان بالصلاة أو غيرها, وتخصيص يومها بالصيام بدعة منكرة عند أكثر أهل العلم, وليس له أصل في الشرع المطهر, بل هو مما حدث في الإسلام بعد عصر الصحابة رضي الله عنهم . Perayaan malam nishfu Sya’ban dengan shalat dan selainnya, mengkhususkan siang harinya dengan puasa itu adalah bid'ah yang mungkar menurut kebanyakan ulama dan tidak memiliki dasar dalam syariat yang suci ini. Bahkan ini termasuk perkara yang diada-adakan dalam Islam setelah zaman sahabat radhiyallahu ’anhum. (Majmu’ Fatawa 1-191) Sumber || Channel al-Mahrah ad-Da'wiyah as-Salafiyah ⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia ⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy Semangat para Salaf pada Bulan Sya'ban Dahulu 'Amr bin Qais –rahimahullah–, apabila masuk bulan Sya'ban, menutup dagangannya dan meluangkan waktunya untuk membaca al-Qur'an. Dan dia mengatakan, “Bergembiralah bagi siapa-siapa yang memperbaiki dirinya sebelum (bulan) Ramadhan.” [Lathaif Al-Ma'arif, 138] ➖➖➖➖➖➖➖➖➖ ✍️‏ كان عمرو بن قيس رحمه الله: إذا دخل شعبان أغلق تجارته وتفرغ لقراءة القرآن، وكان يقول: طوبى لمن أصلح نفسه قبل رمضان. 📜 لطائف المعارف: (١٣٨) Join Telegram http://telegram.me/buletinalhaq Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net ______________

fadhilah
May 2, 201712 min read
Jauhilah Sikap Pamer
Atsar.id
Atsar.id

Jauhilah Sikap Pamer

Pamer, Lagi-Lagi Pamer Rasanya, sifat satu ini sudah kadung tersohor bagi bangsa manusia. Bukan tersohor karena sesuatu positif yang menakjubkan, namun karena manusia sudah tahu akan tercelanya sikap pamer. Baik yang tua maupun yang muda, semuanya pasti menyadari jeleknya sikap pamer. Terlebih, di bangku pendidikan tingkat dasar pun, buruknya sifat ini sudah dikenal dan dipelajari. Jadi tema pamer bukanlah tema baru dan asing buat kita. Mayoritas telah tahu akan jeleknya sikap ini, tetapi anehnya mayoritas manusia sering terjatuh dalam sikap ini, kok aneh ya? Sobat muda, suka pamer hakikatnya bisa dilakukan dengan ragam macam sikap dan perbuatan. Bisa diaplikasikan pada harta, kedudukan, nasab (garis keturunan), bisa pula pada ibadah dan seluruh amalan saleh. Jadi, semua perkara bisa dipamerkan. Jangankan yang berharta banyak, orang miskinpun bisa juga pamer. Jangankan yang beramal saleh, yang nggak saleh bisa pula pamer dengan kemaksiatannya. Oleh karenanya dari segala sisi kehidupan, manusia bisa tertimpa sikap suka pamer. Jadi, masing-masing kita jangan merasa aman dari sikap pamer ini ya. Sifat pamer ini, sudah ada sejak jaman dulu, bahkan sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalian ingat bukan salah seorang kaya raya yang Allah subhanahu wata’ala tenggelamkan dirinya dan hartanya karena sikap sombong, bangga diri dan kufur nikmat. Ya, dialah Qarun yang ditenggelamkan ke bumi, dirinya dan semua hartanya. Lihatlah sikap pamernya yang Allah subhanahu wata’ala cela dalam Al Quran,&nbsp. “Ia (Qarun) berkata, ‘Aku diberikan (harta itu) semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’ Tidakkah ia tahu bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat darinya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah (Qarun) kepada kaumnya dengan segala perhiasan miliknya. Berkatalah orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia, ‘Aduhai seandainya aku memiliki seperti apa yang dimiliki Qarun sesungguhnya ia benar-benar memiliki keuntungan yang besar.’” [Q.S. Al Qashash:78-79] Lihatlah bagaimana Allah menceritakan kepada kita tercelanya sikap Qarun yang sengaja memamerkan perbendaharaan dunia miliknya. Lihatlah pula sikap sombong berbalut sikap pamer dengan ilmu yang ia miliki sehingga menyandarkan hasil kerjanya kepada dirinya, tidak kepada Allah. Harta yang harusnya dipakai untuk ketaatan, justru ia pakai sebagai sarana pamer, bangga diri, takabur, dan merendahkan orang lain. Allah pun murka kepadanya dan Allah subhanahu wata’ala tenggelamkan dia beserta seluruh hartanya. Demikianlah, nggak berguna harta yang melimpah yang dipamerkan bila itu justru membuat Allah murka. Kecanggihan Teknologi, Wasilah kepada Sikap Pamer Sobat muda, di zaman serba canggih ini, rupanya sifat pamer menempati ruang yang luas nan nyaman untuk dilakukan. Kok bisa? Ya, orang jadi mudah berbuat pamer karena ada faktor teknologi yang mendukungnya. Parahnya, dia bisa pamer bukan cuma ke satu dua orang loh, bahkan ke semua orang di seluruh pelosok dunia. “BB lagi rusak nih, untung masih ada iPhone” atau “Akhirnya punya moge (motor gedhe) juga.” Yah, pamer nih, terasa nggak sih kalau ente lagi pamer? Punya perasaan dong dengan orang yang nggak sepertimu. Selain model pamer tadi, ada lagi lo bentuk pamer lainnya: pamer jabatan, kepandaian, bahkan pamer tampang. Kacau kan kalo gitu, bisa membikin lawan jenis tergoda dong lihat tampangmu di pampangin di medsos. Sobat muda, walau terkadang pamernya berupa gambar foto, tanpa kata dan ucapan, tetap saja ini adalah sikap pamer, ya kan? Kalau kita nggak bisa mengendalikan hati sedangkan fasilitas pamer ini banyak dan mudah didapat, bahaya ‘kan buat agama kita. Ancaman Terhadap Perilaku Pamer dalam Ibadah Sobat muda, sikap pamer hakikatnya bukan hanya menimpa orang yang jahil tentang agamanya, bahkan pamer juga banyak menimpa kaum berilmu. Ya kalau orang-orang umum biasa membanggakan kemewahan, kepandaian, tampang, dan sebagainya, maka ahli ilmu dan ibadah akan berbangga dan memamerkan ilmu serta ibadahnya. Seorang akan memperbaiki dan memperindah salatnya ketika dilihat manusia, membaguskan suara saat membaca Al Quran, bahkan bersikap dan berbuat layaknya seorang yang zuhud terhadap dunia dan hanya mementingkan akhirat. Semua dilakonin dalam rangka pamer ketaatan dan ibadah. Sobat muda, inilah riya’ yang sesungguhnya. Riya yang dicela dan merupakan bentuk syirik kecil yang haram hukumnya.  Allah subhanahu wata’ala berfirman menceritakan keadaan kaum munafikin yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan jika mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ (dengan salat itu) dihadapan manusia, dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” [ Q.S. An Nisa:142] Ya, ibadah yang dilakukannya tidak lain tidak bukan hanya untuk dilihat oleh manusia, tiada niatan untuk taat kepada Allah atau ikhlas karena-Nya. Atau ia beribadah tujuannya Lillah wa lighairihi, ia niatkan untuk Allah subhanahu wata’ala sekaligus untuk selainnya. Allah tidak menerima ibadah dari seorang yang riya’, terlebih Allah mencela dan mengancam mereka para tukang pamer ibadah,  “Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, (yaitu) orang-orang yang berbuat riya.” [Q.S. Al Ma’un: 4-6] “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan sadaqah-sadaqah kalian dengan cara mengungkit-ungkit (pemberian) serta menyakiti (yang menerimanya), layaknya seorang yang menginfaqkan hartanya karena pamer di hadapan manusia sedangkan mereka tidak beriman dengan Allah dan hari akhir. Permisalannya seperti batu yang licin di atasnya ada tanah. Tatkala tertimpa hujan lebat jadilah batu itu licin kembali. Mereka tiada memeroleh sesuatu apapun dari apa yang mereka kerjaan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” [Q.S. Al Baqarah:264] Dalam dua ayat yang mulia tersebut, nyatalah akan celaan orang yang suka pamer dalam ibadahnya. Yang pertama Allah subhanahu wata’ala sebutkan dengan konteks “kecelakaan (Wail), yang kedua Allah sebutkan dalam konteks larangan dan penyerupaan dengan seorang yang membatalkan sedekah mereka. Sobat muda, meskipun riya sangat berbahaya, tidak sedikit di antara kita yang teperdaya oleh penyakit hati ini. Tidak mudah untuk menemukan orang yang benar-benar ikhlas beribadah kepada Allah tanpa adanya pamrih dari manusia atau tujuan lainnya, baik dalam masalah ibadah, muamalah, ataupun perjuangan. Meskipun kadarnya berbeda-beda antara satu dan lainnya, tujuannya tetap sama: ingin menunjukkan amal, ibadah, dan segala aktivitasnya di hadapan manusia. Sobat muda, sikap pamer tentu akan membuat pelakunya tercela dihadapan Allah dan manusia. baik pamer yang sifatnya duniawi, ataupun pamer dalam hal-hal yang bersifat ukhrawi. Kita memohon kepada Allah untuk menjaga hati kita, amalan kita dari sifat pamer ini. Wallahul mustaan. [Ustadz Hammam] Majalah Tashfiyah Edisi 52

Adab & Akhlak
Apr 25, 20178 min read
«»
HomeRadioArtikelPodcast